7cloud.asia – Banjir merupakan bencana alam yang paling umum dan mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Dan, perubahan iklim telah mengakibatkan bencana banjir makin sering dan intens terjadi.
Antara tahun 2000 hingga 2019, banjir menyumbang 44 persen dari semua bencana yang tercatat di seluruh dunia.
Seperti peristiwa ekstrem lainnya seperti kekeringan dan badai, perubahan iklim membuat banjir lebih sering terjadi dan lebih parah.
Sayangnya, sebagian besar kota di dunia tidak dirancang dengan baik untuk ketahanan banjir.
Salah satu contohnya adalah sistem drainase yang burukdi ibu kota Uni Emirat Arab, Dubai membuatnya sangat rentan terhadap banjir, seperti yang terjadi pada tahun 2024.
Baca: Teknologi CFD bangun ketahanan kota terhadap udara panas
Kabar baiknya, pengembangan teknologi komputasi dinamika fluida (Computational Fluid Dinamics/CFD) dapat mensimulasikan bagaimana air akan mengalir melalui kota selama hujan ekstrem atau pasang surut.
Simulasi ini sangat penting untuk merancang pertahanan banjir, sistem air hujan hijau, dan apa yang disebut infrastruktur “kota spons”, yang menyerap air alih-alih mengalirkannya ke laut
Ambil contoh Rotterdam; beberapa bagian kota berada 7 meter di bawah permukaan laut, sehingga rentan terhadap banjir dan kenaikan permukaan laut.
Dilansir earth.org, kota terbesar kedua di Belanda ini telah menggunakan teknologi komputasi dinamika fluida (CFD) untuk mensimulasikan aliran air dan risiko banjir.
Baca: Bangunan hijau jadi solusi untuk kota yang berkelanjutan
Berbekal pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana banjir dapat dan akan merembes ke kota, para perencana kota Rotterdam telah membangun koridor “hijau biru” – aliran air dan area yang dibuat untuk menampung kelebihan air.
Mereka telah merancang tempat parkir bawah tanah yang dapat menampung curah hujan, dan bahkan merekayasa struktur terapung yang dirancang agar tangguh jika terjadi banjir.
Struktur ini menggunakan platform yang dapat mengapung dan sistem penahan yang fleksibel agar tetap stabil di atas air. Misalnya, beberapa rumah dirancang untuk mengapung di atas lambung beton yang dipasang di pantai.
Dengan semakin meluasnya kota ke wilayah pesisir, teknologi komputasi dinamika fluida atau CFD akan terbukti menjadi alat yang sangat berharga untuk merancang kota yang tahan banjir di masa mendatang.
Baca: Upaya sektor konstruksi temukan solusi atasi perubahan iklim

Leave a Reply