Tag: lingkungan

  • 5 Kabar Baik untuk Lingkungan Pada Tahun 2023

    5 Kabar Baik untuk Lingkungan Pada Tahun 2023

    7cloud.asia – Tahun 2023 tercatat sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah dengan tingkat emisi gas rumah kaca yang memecahkan rekor dua tahun berturut-turut.

    Bencana terkait perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca, datang silih berganti bak tidak berkesudahan.

    Emisi gas rumah kaca secara tidak langsung telah memicu kekeringan parah di kawasan Tanduk Afrika (Djibouti, Eritrea, Ethiopia, dan Somalia).

    Banjir ekstrem di Libya, hingga kebakaran belasan juta hektare lahan di Kanada. Indonesia turut mengalami kebakaran hutan dan lahan terhebat sejak pandemi, dengan luas area terbakar per Oktober 2023 mencapai hampir sejuta hektare.

    Di tengah sering dan hebatnya bencana yang melanda Bumi kita, cukup menantang bagi saya untuk menuliskan ulasan kabar baik seputar perubahan iklim dan lingkungan.

    Kendati demikian, saya merasa kita perlu mengingat hal-hal positif yang sudah dicapai umat manusia tahun ini. Harapannya, optimisme kita dalam melestarikan kehidupan di Bumi dapat terjaga.

    Baca: COP 28 tanpa mandat tegas pengurangan penggunaan energi fosil

    Berikut ini lima kabar baik seputar perubahan iklim dan lingkungan pada 2023.

    1. COP28: awal dari akhir energi fosil
    Konferensi iklim tahunan Perserikatan Bangsa Bangsa ke-28 (COP 28) di Uni Emirat Arab selama 30 November – 12 Desember menyepakati bahwa bahan bakar fosil merupakan biang keladi perubahan iklim.

    Ini adalah pertama kalinya energi fosil secara tegas disebutkan dalam COP.

    Para delegasi COP 28 kemudian menyepakati pentingnya “bertransisi dari bahan bakar fosil dalam sistem energi, dengan cara yang adil, teratur, dan merata, mempercepat tindakan dalam dekade kritis ini, untuk mencapai net zero pada 2050 sesuai ilmu pengetahuan”.

    Kesepakatan tersebut adalah buah perdebatan yang panjang, antara negara-negara yang menginginkan “penghentian” ataupun “pengurangan” energi fosil secara bertahap.

    Baca: Pro kontra konservasi ex situ

     

    2. Target ambisius konservasi global
    Tahun 2023 menjadi pembuka bagi pelaksanaan target konservasi global yang disahkan pada penghujung 2022.

    Pertama kalinya, dalam konferensi biodiversitas PBB ke-15 di Kunming, Cina; dan Montreal, Kanada, perwakilan dunia mengamini perlunya kawasan lindung (protected areas) minimum 30% masing-masing dari total wilayah daratan, perairan darat, laut dan pesisir di setiap negara pada 2030.

    Pemenuhan target juga diikuti komitmen bersama untuk mengakhiri subsidi senilai US$500 miliar(Rp7.801 triliun) per tahun yang merusak lingkungan.

    Kesepakatan ini bukan pekerjaan gampang, mengingat dunia hanya memiliki waktu enam tahun untuk memenuhi target tersebut.

    Apalagi, setiap negara berkepentingan menjaga kelangsungan ekonomi mereka sehingga risiko kehilangan biodiversitas masih menghantui.

    Baca: Mengungkap masalah plastik di Asia

    3. Babak lanjutan antipolusi plastik
    Persoalan pencemaran udara, air, dan kawasan lainnya sudah banyak menjadi agenda global.

    Pada 2022, dunia menyepakati penerbitan kesepakatan global untuk mengakhiri polusi plastik pada 2040.

    Tahun 2023 merupakan waktu penentuan karena di tahun inilah PBB menerbitkan zero draft yang berisikan gagasan dan target dunia untuk dituangkan dalam Perjanjian Plastik Global (The Global Plastics Treaty).

    Harapannya, perjanjian tersebut dapat disepakati dan berlaku tahun 2024 ini. Sehingga polusi plastik menurun drastis.

    Baca: Dunia sedang kembangkan energi hidrogen

    4. Pertumbuhan moncer kendaraan listrik
    Sejak 2019, pemerintah berupaya mempercepat adopsi kendaraan listrik di masyarakat dengan mengguyur insentif bea masuk hingga insentif biaya pembelian maupun konversi.

    Pada 2023, usaha tersebut mulai membuahkan hasil. Penjualan mobil listrik naik pesat hingga 237% dibandingkan 2022. Tren ini diperkirakan berlanjut pada 2024.

    Kenaikan tersebut menjadi kabar baik karena jejak emisi kendaraan listrik sebagian besar berada di proses produksi dan pengadaan.

    Studi juga menyatakan kebijakan pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia berdampak positif bagi perekonomian kita.

    Kabar baik lainnya dari sektor ekonomi adalah pengesahan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan ASEAN pada tahun lalu.

    Baca: Pengembangan energi terbarukan di Indonesia

    Kebijakan ini kemudian memicu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merumuskan kembali Taksonomi Hijau.

    Taksonomi berguna sebagai panduan lembaga keuangan untuk lebih banyak mengucurkan uangnya ke sektor yang benar-benar ramah lingkungan.

    5. Tren positif teknologi ramah Bumi
    Teknologi hijau merupakan salah satu penopang dunia untuk bertransisi ke kehidupan yang berkelanjutan.

    Ini mencakup teknologi pemantauan cuaca, pemantauan kualitas udara dan air, bangunan hijau, pengelolaan air, dan sebagainya.

    Pada 2023 pasar teknologi hijau terus naik. Kawasan Asia-Pasifik merupakan region tercepat yang mengadopsi teknologi ramah lingkungan.

    Indonesia juga merasakan tumbuhnya minat pasar terhadap teknologi hijau. Saya kerap bertemu pengusaha yang lebih memilih menggunakan peralatan ramah lingkungan meskipun ongkosnya lebih mahal, misalnya motor listrik.

    Contoh penggunaan teknologi hijau lainnya di Indonesia adalah produksi listrik tenaga surya dari fasilitas terapung di Waduk Cirata, Jawa Barat, yang dimulai November 2023 lalu.

    Pembangkit listrik ini merupakan fasilitas terapung terbesar di Asia Tenggara.

    Baca: Keren! Jerman catat rekor terendah emisi gas rumah kaca

    Melangkah lebih cepat
    Tahun 2023 menjadi landasan bagi banyak kebijakan yang menentukan masa depan Bumi.

    Perubahan kita ke arah yang lebih baik sangat tergantung bagaimana kebijakan ini dilaksanakan secara cepat, mengingat waktu kita tidak banyak.

    Dunia membutuhkan partisipasi semua pihak untuk bergerak ke masa depan yang lebih ramah lingkungan.

    Pada tahun ini kita mungkin akan menyaksikan kabar-kabar buruk seputar perubahan iklim dan kondisi lingkungan.

    Namun, di sela persoalan tersebut, kita masih berpeluang melihat tren-tren positif, atau mungkin menjadi bagian di dalamnya.

    Sumber: The Conversation, ditulis Mahawan Karuniasa, Dosen Program Studi Ilmu Lingkungan, Universitas Indonesia

     

  • Festival Pemilu 2024 Ungkap Pendukung Belum Pahami Visi Misi Lingkungan Capres Cawapres yang Didukungnyaa

    Festival Pemilu 2024 Ungkap Pendukung Belum Pahami Visi Misi Lingkungan Capres Cawapres yang Didukungnyaa

    7cloud.asia – Festival Pemilu 2024 yang diinisiasi oleh Bijak Memilih dan didukung oleh pilahpilih.id mengangkat isu lingkungan.

    Festival Pemilu 2024 ini diisi dengan diskusi yang menghadirkan perwakilan dari tiga pasangan capres dan cawapres.

    Project Lead pilahpilih.id Elok F. Mutia mengungkapkan dalam panel tanya jawab Festival Pemilu 2024 terkait isu lingkungan dan transisi energi, perwakilan capres/cawapres belum mampu menunjukkan pemahaman yang mendalam.

    Dalam tanya jawab FestivalPemilu 202 ini mereka juga tak mampu menjawab keresahan pemilih muda tentang berbagai permasalahan lingkungan di Indonesia.

    Bahkan dalam dokumen visi misi para kandidat ada yang sudah menyebut penggunaan geothermal atau dengan panel surya, namun belum menyebutkan target yang jelas.

    “Kami ingin mereka menyebutkan target, iya transisi tetapi berapa jumlahnya,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (29/1/2024). 

    Baca: Riset Populix ungkap anak muda ingin pemimpin serius tangani isu lingkungan 

    Elok menyayangkan, visi misi lingkungan itu belum sepenuhnya dipahami oleh para juru bicara yang hadir.

    Masing-masing perwakilan partai pendukung capres-cawapres merupakan calon anggota legislatif dari partai pendukung.

    Dalam panel diskusi tersebut, mereka tidak menjabarkan secara mendalam agenda visi misi dari calon yang diusung terkait isu lingkungan.

    Elok mengatakan, hal ini membuktikan mengapa legislatif dan pemerintah jadi sering tidak sejalan dengan kebijakan lingkungan atau antar sektor.

    “Karena kadang ketika berbicara tidak selaras, karena agenda dan visi misi mereka tidak disampaikan dengan tepat kepada pendukungnya,” ungkapnya.

    Baca: Banyakan gimmick, isu lingkungan justru luput dibahas di debat capres

    Hadir dalam panel diskusi ini, Jazilul Fawaid dari PKB yang mendukung pasangan calon (paslon) nomor urut 01, Ade Armando dari PSI pendukung paslon nomor urut 02.

    Sedangkan  Masinton Pasaribu dari PDIP yang mendukung paslon nomor urut 03.

    Gus Jazil mengatakan pihaknya menempatkan isu lingkungan sebagai isu yang penting.

    Hal itu terlihat dari berbagai kegiatan terkait kesadaran lingkungan yang telah digelar selama ini.

    “Dalam visi misi kami Keadilan Ekologis menjadi prioritas ketiga yang diusung. Debat kemarin Pak Muhaimin juga mengajak taubat ekologis untuk Indonesia yang mensuplai karbon, alam kita rusak,” ungkapnya.

    Sementara itu Ade Armando dalam kesempatan yang sama mengaku tidak bisa menjabarkan terkait dengan visi misi yang diusung khusus tentang isu lingkungan.

    Baca: Cawapres 02 dinilai abai terhadap akar masalah krisis iklim

    Namun, ia meyakinkan dari partainya ada sejumlah pihak yang merancang peraturan mengenai polusi, transisi energi, dan lingkungan hidup.

    “Ternyata buat anak muda isu lingkungan itu sangat penting dibandingkan ketika memperjuangkan korupsi, teman-teman lebih mendalam menghadapi masalah
    lingkungan, saya minta maaf tapi saya yakin PSI punya programnya,” katanya.

    Selanjutnya, Masinton menyebut bahwa mengatasi persoalan lingkungan hidup adalah tentang ideologi dan keberpihakan terhadap alam dan masa depan generasi.

    Ia mencontohkan di DPR ada Undang-undang Energi Baru Terbarukan, UU Minerba, UU Lingkungan hidup.

    “Ini harus dibedah sampai sejauh mana keberpihakan UU tersebut dalam melindungi lingkungan kita, sejauh mana UU itu berpihak kepada kepentingan hijau industri kita,” katanya.

    Baca: Sudahkah para capres dan pendukungnya peduli keadilan iklim

    Sebelumnya, survei daring yang dilakukan oleh pilahpilih.id terhadap ribuan pemilih muda dari seluruh provinsi mengungkap, 90 persen responden khawatir terhadap masa depan lingkungan.

    Survei yang sama juga menemukan bahwa isu lingkungan akan menjadi faktor kunci yang mempengaruhi pilihan anak muda dalam pemilu mendatang.

    Temuan di survei pilahpilih.id juga menunjukkan bahwa 87 persen pemilih muda merasa bahwa isu lingkungan belum cukup dibahas secara mendalam di berbagai diskusi politik menjelang pemilihan umum.

     

  • Kayn Label, Produk Fesyen Ramah Lingkungan Pilihan Gen Z

    7cloud.asia – Kayn Label menjadi salah satu jenama lokal yang ramah lingkungan tampil menonjol dalam kegiatan pasar kreatif Semasaqu beberapa waktu lalu.

    Kayn Label mengusung produk busana batik yang menyasar pengguna muda dengan menawarkan pakaian ramah lingkungan untuk digunakan sehari-hari.

    Strategi branding yang dilakukan Kayn Label mempertimbangkan dampak lingkungan dan mengajak konsumen lebih peduli terhadap lingkungan atau dalam pandangan kurator bisnis disebut dengan sustainable branding.

    Strategi pemasaran yang menyasar anak muda sebagai audiens utama, dilakukan Kayn Label melalui pendekatan tersebut.

    Para kurator bisnis Semasaqu menilai strategi yang dilakukan Kayn Label tersebut sebuah langkah yang tepat.

    Baca: Chitra Soebyakto dan busana ramah lingkungan

    Berlandaskan pada data bahwa 94 persen Gen Z setuju bahwa Pemerintah dan pelaku bisnis harus menerapkan perubahan struktural atau sistemik untuk mengurangi perubahan iklim.

    Data itu menunjukkan bahwa Gen Z Indonesia melihat perubahan iklim sebagai tantangan kolektif yang memerlukan tindakan lebih luas di luar tanggung jawab individu.

    Selain itu, 82 persen responden menyatakan kesiapan untuk membayar lebih untuk produk ramah lingkungan atau berkelanjutan.

    Maka sustainable branding, sebagai strategi pemasaran, memang mampu mengakomodir aspirasi konsumen terkait lingkungan sehingga membangun koneksi yang lebih kuat.

    Baca: Sustainable fesyen ala ControlNew

    Co-Founder jenama fesyen Kayn Label, Maria Utami Sekar, mengatakan pendekatan pemasaran yang mempertimbangkan dampak lingkungan bukan hanya menjadi sekadar gimik semata bagi para pelaku bisnis saat ini.

    Pendekatan tersebut diperlukan mengingat tren konsumen yang saat ini sudah memiliki pola konsumsi yang lebih sadar untuk menjaga lingkungan.

    “Para pelaku bisnis harus bisa menangkap tren tersebut sebagai peluang bisnis dari segi pemasaran, di mana bisa menjadi praktik bisnis yang berkomitmen terhadap keberlanjutan lingkungan, selain memanfaatkan keuntungan,” kata Sekar.

    Sekar menambahkan, kegiatan Semasaqu yang diselenggarakan oleh Semasa dan Bank Saqu, ini menjadi wadah bagi kami untuk meningkatkan visibilitas merek.

    Baca: DemiBumi ajarkan keseharian yang ramah lingkungan

    “Sehingga orang makin mengenal Kayn Label sebagai produk lokal yang berkualitas,” kata dia.

    Berikut tiga kiat sukses menjalankan strategi sustainable branding dari Sekar untuk para pelaku bisnis di Indonesia:

    1. Bentuk nilai bersama
    Melalui penekanan pada nilai-nilai lingkungan dan sosial yang sama, sustainable branding menciptakan rasa keselarasan.

    Ini bukan hanya tentang produk, tetapi juga tentang bagaimana merek mencerminkan prinsip-prinsip yang diyakini oleh konsumen.

    Mereka merasa bahwa mendukung merek bukan hanya tindakan konsumsi, melainkan juga manifestasi dari prinsip-prinsip pribadi mereka yang dihargai.

    Kayn Label mendorong kebanggaan akan melestarikan kebudayaan lokal dengan menggunakan batik yang ramah lingkungan.

    Baca: Sistem isi ulang yang ramah lingkungan

    2. Membangun kepercayaan melalui transparansi
    Komunikasi terbuka mengenai praktik-praktik berkelanjutan adalah landasan kepercayaan.

    Saat konsumen memahami komitmen merek terhadap inisiatif ramah lingkungan, hubungan terbangun atas dasar kepercayaan.

    Transparansi menciptakan jendela yang mengungkap bagaimana suatu produk atau layanan dihasilkan.

    Hal ini akan memberikan konsumen pemahaman yang lebih baik dan rasa terlibat dalam pilihan mereka.

    Salah satu upaya yang dilakukan oleh Kayn Label adalah mengkomunikasikan proses penggunaan batik cap dengan pewarna alami yang diekstrak dari berbagai tanaman

    Baca: 6 Gaya hidup tak ramah lingkungan yang layak ditinggalkan

    3. Konten edukasi yang menyenangkan

    Sustainable branding bukan hanya tentang penjualan, tetapi juga edukasi konsumen. Melibatkan konsumen dalam pemahaman dampak pilihan mereka pada lingkungan menciptakan kesadaran bersama.

    Menurut Sekar, konsumen akan menghargai setiap informasi yang memungkinkan mereka membuat keputusan yang lebih sadar lingkungan.

    Keterlibatan yang dimaksud bukan hanya soal transaksi, melainkan upaya bersama menuju pemahaman dan tindakan yang lebih berkelanjutan.

    Kayn Label menjaga keterlibatan konsumen melalui berbagai konten yang diunggah di media sosialnya seperti konten outfit of the day (OOTD) dan mix and match yang mampu menarik atensi anak muda.

    Dengan menerapkan kiat-kiat tersebut, Sekar optimistis sustainable branding yang dijalankan pelaku bisnis nantinya tidak hanya meningkatkan penjualan, namun juga menghadirkan jenama fesyennya dalam setiap percakapan sehari-hari para konsumen produknya.

    Sumber: Antaranews.com 

  • Lingkungan Jadi Perhatian, Gen Z Desak Segera Transisi ke Ekonomi Hijau

    Lingkungan Jadi Perhatian, Gen Z Desak Segera Transisi ke Ekonomi Hijau

    7cloud.asia – Tingginya perhatian terhadap isu lingkungan dan kesejahteraan ekonomi dan sosial mendorong mayoritas anak muda Indonesia untuk mendesak pemerintah segera beralih ke ekonomi hijau.

    Peralihan ke ekonomi hijau dianggap mampu menyelesaikan masalah lingkungan yang dihadapi masyarakat, serta menjamin kesejahteraan dan pembukaan lapangan kerja baru.

    Tuntutan ini tertangkap dari hasil survei tentang pentingnya bertransisi ke ekonomi hijau yang dilakukan Greenpeace Indonesia.

    Dilansir di laman resmi Greenpeace, survei diadakan secara daring pada 9 Januari – 1 Februari 2024 terhadap 600 responden di seluruh Indonesia.

    Sebagian besar atau sekitar 49% dari total responden berasal dari generasi Z dengan rentang usia 18-26 tahun, disusul oleh generasi milenial (39%) yang berusia 27-42 tahun.

    Hasil survei tersebut turut menangkap berbagai isu lingkungan, sosial dan ekonomi yang dianggap krusial oleh mayoritas generasi muda, serta desakan untuk beralih ke ekonomi hijau.

    Baca: Kiat agar transisi ke ekonomi hijau berjalan lebih cepat

    Beberapa isu lingkungan yang menjadi perhatian generasi muda diantaranya isu pengelolaan sampah rumah tangga (80%), cuaca ekstrem akibat krisis iklim (79%), pengelolaan limbah industri (78%) dan polusi udara (76%).

    Selain itu deforestasi yang masih terus terjadi serta kerusakan lingkungan di wilayah-wilayah pertambangan juga menjadi perhatian anak-anak muda, terutama di luar jawa].

    Tak hanya menyoroti isu lingkungan, anak muda yang berpartisipasi dalam survei ini pun menyoroti berbagai isu sosial dan ekonomi yang terjadi saat ini.

    Masalah utama yang disoroti adalah soal keterbatasan lapangan kerja, yang menjadi perhatian bagi 74% responden survei, ketimpangan ekonomi yang disoroti oleh 62% responden, serta ketidakmerataan akses kesehatan dan pendidikan yang dianggap penting oleh masing-masing 57% responden.

    Hasil pengamatan dan pengalaman para anak muda yang mengisi survei ini juga menunjukkan perhatian mereka terhadap isu kesejahteraan, terutama bagi pekerja serta masalah ke akses pendidikan dan kesehatan yang memadai.

    Di isu kesejahteraan pekerja, responden menilai banyak kasus gaji yang tidak seimbang dengan jam kerja yang berlebihan.

    Baca: Manfaat yang dipetik jika transisi ke ekonomi hijau segera dilakukan

    Masalah upah rendah bagi pekerja di luar Jabodetabek serta tidak adanya jaminan pensiun bagi karyawan kontrak.

    Anak muda juga menilai terbatasnya akses pendidikan yang layak di pedesaan. Hal ini mengakibatkan adanya ketimpangan wawasan antara masyarakat di kota dan desa.

    Padahal, akses pendidikan yang baik dapat membuka kesempatan kerja yang lebih besar untuk mengurangi kemiskinan dan ketimpangan ekonomi.

    Ketimpangan kualitas layanan dasar antara desa dan kota pun kembali menjadi perhatian utama bagi anak muda.

    Mereka menyoroti soal kurangnya akses ke perawatan kesehatan, termasuk kesehatan mental, di daerah terpencil lantaran langkanya layanan, lokasi dan biaya yang belum terjangkau.

    Dalam survei ini sejumlah responden juga telah melakukan beberapa upaya pribadi untuk mengatasi masalah-masalah ekonomi, sosial dan lingkungan yang terjadi di sekeliling mereka.

    Baca: Ekonomi hijau janjikan pendapatan yang lebih berkelanjutan

    Meski demikian, sebagian besar responden menyebut adalah tanggung jawab pemerintah untuk menghadirkan aturan hukum yang dapat mengatasi masalah ekonomi, sosial, dan lingkungan.

    Kepala Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak menyebut perlu upaya yang lebih kuat untuk mengatasi masalah ketimpangan ekonomi dan kerusakan lingkungan di Indonesia, demi menjamin kehidupan yang lebih layak bagi anak muda serta generasi mendatang.

    “Berbagai solusi yang dilakukan anak muda untuk mengatasi masalah ketimpangan ekonomi dan kerusakan lingkungan saat ini perlu didukung oleh upaya yang lebih kuat dari pemerintah,” ujarnya.

    “Transisi ke ekonomi hijau bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketimpangan sosial dan ekonomi, sekaligus menjaga Bumi kita dari dampak krisis iklim yang semakin parah.”

    Leonard menambahkan, para pasangan calon presiden dan wakil presiden yang saat ini maju dalam Pemilu 2024 harus mampu menghasilkan terobosan kebijakan agar Indonesia bisa segera beralih dari ketergantungan terhadap industri ekstraktif.

    “Perlu komitmen yang lebih ambisius dari para pasangan capres dan cawapres untuk bisa mewujudkan ekonomi hijau, bukan sekadar janji politik untuk menjamin kesejahteraan serta kesehatan generasi muda,” tutupnya.

  • Pemerintahan Jokowi Akan Segera Berganti, Bagaimana Kelanjutan Program Penurunan Emisi?

    Pemerintahan Jokowi Akan Segera Berganti, Bagaimana Kelanjutan Program Penurunan Emisi?

    7cloud.asia – Upaya pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) yang sudah tertuang dalam rencana Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 dapat terus berjalan secara sistematis meski terjadi pergantian menteri.

    Ikhwal kelanjutan upaya penurunan emisi gas rumah kaca itu diungkapkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya kepada media di Kantor Kementerian LHK di Jakarta, Senin (12/2/2024).

    Siti Nurbaya mengatakan, pihaknya telah menyiapkan sistem kerja untuk menurunkan emisi sudah disiapkan sehingga tinggal dilanjutkan.

    “Sistematika kerjanya kayak sistem FOLU Net Sink, Forestry and other Land Use Net Sink 2030 itu sudah ada SK-nya, sudah ada pola kerjanya, blue print sudah tersedia,” ujarnya dikutip Antaranews.com

    Baca: Sektor kehutanan jadi penyeimbang emisi sektor energi

    FOLU Net Sink 2030 adalah satu kondisi yang ingin dicapai di mana serapan emisi GRK untuk sektor kehutanan dan penggunaan lahan setara atau lebih tinggi dengan tingkat emisi yang dihasilkan

    Kondisi ini diharapkan dapat dicapai pada tahun 2030  dengan berbagai cara dilakukan. Komitmen Indonesia itu ingin mendorong tercapainya tingkat emisi GRK sebesar -140 juta ton setara karbon dioksida.

    Rencana itu juga dilakukan untuk mencapai target pengurangan emisi GRK secara nasional yaitu sebesar 31,89 persen dengan kemampuan sendiri dan 43,20 persen dengan dukungan internasional.

    Baca: Menelaah misi kehutanan para capres, mana yang paling berkomitmen

    Komitmen masing-masing negara untuk menurunkan emisi ini tertuang dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) yang diserahkan kepada sekretariat UNFCCC.   

    Siti menjelaskan, selain sektor kehutanan yang sudah memiliki peta jalan dalam FOLU Net Sink 2030, terdapat pula sektor pengolahan sampah dan limbah.

    Dari sektor ini ditargetkan mengalami penurunan emisi hingga 40 megaton setara CO2 (MtCO2e) dengan berbagai langkah yang sudah disiapkan.

    Baca: Hilirisasi nikel membuat indeks emisi Indonesia terpuruk

    “Jadi saya kira untuk sektor kehutanan dan sampah yang jumlahnya mungkin bisa 60 persen plus dua atau tiga, 64 persen lah, itu sudah bisa dijaga secara sistematis,” jelasnya.

    Siti mengatakan, langkah-langkah pengurangan emisi dari sektor kehutanan dan pengolahan sampah yang dilakukan KLHK dapat dijalankan oleh birokrasi yang terus bergerak.

    Sehingga meski terjadi pergantian menteri sebagai dampak dari Pemilu tahun ini upaya di lapangan masih akan terus berjalan.

    Baca: Negara miskin paling terdampak perubahan iklim

  • Bandung dan Sumedang Dilanda Angin Puting Beliung Hebat, Dampak Perubahan Iklim?

    Bandung dan Sumedang Dilanda Angin Puting Beliung Hebat, Dampak Perubahan Iklim?

    7cloud.asia – Pada Rabu (21/2/2024) terjadi kejadian ekstrem yang ditandai dengan pusaran angin kencang yang disertai hujan di Rancaekek, Bandung, Jawa Barat,

    Angin puting beliung ini memicu kerusakan hingga ke Jatinangor, Kabupaten Sumedang, itu terjadi sekitar pukul 16.00 waktu Indonesia barat (WIB).

    Angin puting beliung ini mengakibatkan sejumlah bangunan seperti toko, pabrik dan rumah warga di dua daerah itu mengalami kerusakan dari ringan hingga berat.

    BPBD Jabar melaporkan di Kabupaten Sumedang ada sekitar 12 warga yang mengalami luka dan 413 KK terdampak bencana angin puting beliung itu. 
     
     
    Sedangkan di Kabupaten Bandung terdapat 21 orang yang terluka dan 422 kepalakeluarga yang terdampak karena rumahnya rusak sedang hingga berat.

    Pemerintah Kabupaten Bandung telah menetapkan status tanggap darurat bencana angin puting beliung selama 14 hari terhitung mulai tanggal 22 Februari sampai 6 Maret 2024.

    Menanggapi kejadian ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan fenomena puting beliung yang terjadi di Rancaekek ini terjadi karena faktor-faktor yang bersifat lokal.

    Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Eddy Hermawan mengatakan hal ini untuk meluruskan dugaan awal publik terkait pemicu puting beliung ini. 

    Baca: Pemanasan global picu masalah serius bagi lingkungan

    Saat ini marak beredar di berbagai platform media sosial, bahwa angin puting beliung ini dipicu perubahan iklim.

    “Fenomena itu hanya local effect, bukan global effect,” ujarnya melalui sambungan telpon di Jakarta, Jumat (23/2/2024).

    Eddy mengatakan hipotesis terbentuknya puting beliung akibat perubahan tata guna lahan di Rancaekek.

    Dahulu kawasan itu adalah perkebunan jati yang hijau yang membuat lingkungan relatif sejuk dan bersih.

    Baca: Kebakaran lahan akibat El Nino harus dibayar mahal

    Sekarang daerah itu telah berubah menjadi kawasan industri dan pemukiman padat dan minim pepohonan.

    Menurutnya, industri banyak menghasilkan emisi gas rumah kaca yang mengurung panas matahari.

    Kondisi itu membuat Rancaekek menjadi kawasan bertekanan rendah yang mengisap uap air dari daerah sekeliling dan membentuk awan-awan besar cumulonimbus.

    Pertemuan dua massa uap air dari arah timur dan barat, kemudian diperkuat dari arah selatan Samudera Hindia.

    Baca: BNPB ingatkan potensi bencana hidrometeorologi

    Ketiga massa uap air tersebut berkumpul di Rancaekek dan menciptakan puting beliung.

    Perubahan iklim adalah frekuensi kejadian ekstrem meningkat, misalnya di Rancaekek yang dahulu setahun ada tiga kali bencana menjadi enam kali bencana.

    “Sifat perubahan iklim tidak lokal, tetapi global dengan cakupan wilayah yang sangat luas,” kata Eddy.

    “Kalau puting beliung di Rancaekek dibangkitkan oleh perubahan iklim, maka bukan hanya Rancaekek saja yang mengalami bencana itu, tetapi Pantai Utara Pulau Jawa juga,” imbuhnya.

    Sumber: Antaranews.com

     

  • Dukung Pencapaian SDGs, Penerima LPDP Tanam 1000 Bibit Mangrove di Pantai Samas Bantul

    Dukung Pencapaian SDGs, Penerima LPDP Tanam 1000 Bibit Mangrove di Pantai Samas Bantul

    7cloud.asia –  “Kita Jaga Alam Masa Depan Dalam Genggaman”. Demikian slogan yang diusung para penerima beasiswa (awardee) Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang tergabung dalam angkatan “Jagat Nirmala”.

    Dengan slogan ini, para awarde LPDP aktif melakukan berbagai kegiatan sosial yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan di Yogyakarta.

    Pada Minggu (25/2/2024) kemarin misalnya puluhan awarde LPDP menanam 1.000 bibit mangrove di Pantai Samas, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. 

    Dalam proyek sosial Persiapan Keberangkatan (PK-225), penanaman mangrove itu dilakukan para penerima beasiswa dengan menggandeng Lembaga Manajemen Infaq (LMI) Perwakilan Jateng-DIY.

    Baca: KLHK targetkan penghijauan 600.000 lahan mangrove

    “Karena kami ini penerima beasiswa dan itu pendanaannya berasal dari masyarakat, kami ingin memberikan dampak juga ke masyarakat serta menjaga kelestarian lingkungan,” kata Ketua Perwakilan Angkatan PK-225 LPDP M Irfan Nurdiansyah.

    Menurut Irfan, penanaman mangrove sejalan dengan upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan ke-14 yakni menekankan pentingnya menjaga sumber daya laut.

    Aksi tersebut digelar di Pantai Samas mengingat pantai yang dikenal dengan ekowisatanya tersebut hingga kini masih menjadi lokasi konservasi penyu.

    Dengan semakin banyak tumbuhan mangrove, Irfan berharap mampu menjaga habitat penyu serta menjaga ekosistem laut di kawasan Pantai Samas.

    Baca: Mengenal beragam jenis mangrove di kebun raya mangrove Surabaya

    “Sehingga itu bisa menarik minat wisatawan yang juga bisa menarik dampak ekonomi di kawasan Pantai Samas,” ujar penerima beasiswa LPDP Magister Manajemen Bencana UGM itu.

    Ketua Lembaga Manajemen Infaq (LMI) Perwakilan Jateng-DIY Satria Nova menuturkan penanaman mangrove memiliki dampak besar bagi ekosistem di bawah laut.

    Ia mencontohkan ekosistem bawah laut itu seperti kepiting, udang, ikan yang selama ini menjadi sumber mata pencarian para nelayan Samas.

    Dengan menjaga ekosistemnya, dia berharap keberlanjutan perekonomian masyarakat di kawasan pantai bisa terus terjaga.

    Baca: Manfaat ekologi dan ekonomi tanaman mangrove

    Tumbuhan mangrove, kata Satria, juga mampu meredam gelombang laut di Pantai Samas sehingga diharapkan tidak membahayakan kehidupan masyarakat di daratan.

    “Apabila ada tsunami maka bisa gelombang tingginya bisa dikurangi apabila ada mangrove yang menahan,” ujar dia.

    Tak kalah penting, lanjut Satria, mangrove memiliki kemampuan menyerap karbon dalam jumlah besar sehingga penanaman tumbuhan itu turut berkontribusi mengatasi laju krisis iklim.

    “Krisis iklim sedang terjadi dan semakin parah salah satunya karena karbon yang dilepaskan terus menerus ke udara. Mangrove ini tanaman yang bisa menyerap karbon dalam jumlah besar,” tutur Satria.

    Baca: Apa itu habitat lamun?

    Selain menanam mangrove, penerima beasiswa LPDP angkatan PK-225 juga mewujudkan proyek sosialnya dengan menggelar sosialisasi dan lokakarya bagi masyarakat terkait pembuatan “eco enzym”

    Lokakarya ini dilakukan dengan memanfaatkan sampah rumah tangga di area Embung Langensari, Kota Yogyakarta pada Sabtu (24/2/2024).

  • Di Hari Peduli Sampah Nasional, ASDP Gandeng Komunitas Bersihkan Sungai Ciliwung

    Di Hari Peduli Sampah Nasional, ASDP Gandeng Komunitas Bersihkan Sungai Ciliwung

    7cloud.asia – Memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2024 PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) melakukan kegiatan pembersihan Sungai Ciliwung, kampanye bebas sampah, dan pelepasan ikan khas Ciliwung.

    Dalam kegiatan pembersihan Sungai Ciliwung yang diberi tajuk Bebenah Ciliwung ini PT ASDP Indonesia Ferry berkolaborasi dengan Komunitas Ciliwung Depok.

    Corporate Secretary ASDP Shelvy Arifin melalui keterangan tertulis pada Minggu (3/3/2024) mengatakan kegiatan bebersih Sungai Ciliwung ini merupakan wujud kepedulian terhadap lingkungan.

    “Pelaksanaan kegiatan Bebenah Ciliwung ini merupakan salah satu giat Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sebagai wujud kepedulian ASDP terhadap lingkungan melalui penanggulangan sampah,” katanya.

    Baca:  Bioplastik dari sampah bonggol jagung

    Kegiatan Bebenah Ciliwung ini merupakan wujud aksi nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan kota dengan menanggulangi sampah di Jakarta, khususnya di Sungai Ciliwung

    Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional KLHK, terdapat sekitar 17,7 juta ton sampah per tahun di 123 kabupaten/kota se-Indonesia pada tahun 2023.

    Adapun total sampah yang belum terkelola sebanyak 5,8 juta ton atau setara dengan 33,1 persen dari timbunan sampah yang ada.

    Dengan konsumsi sampah plastik sehari-hari yang terus meningkat, maka langkah bebersih Sungai Ciliwung ini ini sejalan dengan komitmen ASDP untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

    Baca: Kiat yang harus dilakukan agar transisi ke ekonomi hijau berlangsung lbih cepat

    Tujuan SDGs yang hendak dicapai dengan kegiatan ini terutama pada poin-poin yang berkaitan dengan Lingkungan dan Penggunaan Plastik.

    Dikatakan Shelvy, bagi pihaknya, HPSN bukan hanya peringatan tahunan semata namun juga sebagai momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang praktik pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

    Pada kegiatan kali ini, ASDP melibatkan komunitas serta relawan yang merupakan karyawan ASDP (Ferizyan) untuk membersihkan bantaran Sungai Ciliwung.

    “Kami juga melakukan edukasi langsung dengan menyebarluaskan poster-poster ramah lingkungan. Kami juga melepaskan ikan-ikan khas Ciliwung untuk menjaga kelestarian fauna di Sungai Ciliwung,” tambah Shelvy.

    Baca: Ekonomi hijau janjikan pendapatan lebih besar lagi berkelanjutan

    Dalam kegiatan bersih-bersih tersebut, ASDP bersama dengan komunitas Ciliwung berhasil mengumpulkan sebanyak 1.214,5 kg atau sama dengan 114 kantong yang dilakukan selama kurang lebih 45 menit.

    Para relawan yang merupakan Ferizyan tersebut juga turut berkontribusi dalam tiap program TJSL guna meningkatkan kesadaran serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar dan masyarakat.

    Sebagai operator kapal dan pelabuhan, ASDP memiliki komitmen untuk berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan.

    Selain melakukan aksi langsung seperti yang dilakukan hari ini, ASDP juga telah mengimplementasikan sejumlah program TJSL lainnya.

    Baca: Aksi bebersih Sungai Ledug

    Langkah ramah lingkungan itu antara lain penyediaan Reverse Vending Machine (RVM), penanaman pohon di seluruh cabang, dan Ocean Clean Up Day.

    Shelvy mengatakan, ASDP yakin dalam menjaga kelestarian lingkungan bukan hanya bentuk tanggung jawab perusahaan.

    Langkah ini juga bagian dari wujud nyata ASDP untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan melindungi warisan alam bagi generasi mendatang.

    Dengan terus berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk komunitas lokal dan pemerintah, ASDP yakin dapat mencapai tujuan ini serta memberikan dampak positif yang signifikan bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

  • Benarkah Penguasaan Kebun Sawit di Indonesia Sangat Timpang?

    Benarkah Penguasaan Kebun Sawit di Indonesia Sangat Timpang?

    7cloud.asia – Cawapres nomor urut 3, Mahfud Md saat debat capres beberapa waktu lalu menyebut, reforma agraria sangat penting agar penguasaan lahan di Indonesia lebih berpihak pada petani kecil.

    Dia mencontohkan dalam pertanian kelapa sawit, rata-rata petani kecil di Indonesia hanya menguasai setengah hektare (ha).

    The Conversation Indonesia menghubungi kandidat doktor di Global Development Institute, University of Manchester; Sandy Nofyanza, untuk memeriksa pernyataan Mahfud.

    Berkit hasil analisinya. Mahfud mengatakan bahwa ada sekitar 39 hektere (Ha) lahan yang dikuasai segelintir orang di bisnis perkebunan kelapa sawit.

    Faktanya, angka dan data 39 ha kebun sawit yang disebut Mahfud tersebut tidak dapat ditemukan.

    Baca: Mitos efisiensikebn sawit rugikan petani kecil

    Namun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perusahaan perkebunan sawit menguasai sekitar 8,58 juta ha atau sekitar 56 persen dari total luas lahan sawit di Indonesia.

    Berapa orang yang menguasai jutaan hektare lahan tersebut? 

    Menurut data Komisi Pengawas Persaingan Usaha, jumlah perusahaan sawit swasta hanya 0,07 persen dari total pelaku usaha, tetapi mereka menguasai lahan sebesar 54,52 persen.

    Lain halnya dengan pekebun sawit kecil. Jumlah mereka mencapai 99,92 prsendari total pelaku usaha perkebunan sawit. Pekebun kecil—yang menggarap lahan hingga maksimal 25 ha—mengelola 41,35% total kebun sawit di Indonesia.

    Adapun sisa lahan sawit, sebesar 0,55 juta ha atau 3,57%, dikuasai badan usaha milik negara.

    Baca: Minyak sawit, antara ketahanan pangan dan masalah lingkungan  

    Berdasarkan hasil Sensus Pertanian BPS 2023, ada 2,52 juta Usaha Pertanian Perorangan (UTP) yang menggarap sawit. UTP memiliki tanggung jawab teknis, hukum, dan ekonomi suatu unit pertanian yang mereka kelola.

    Orang tersebut dapat melakukan semua tanggung jawab secara langsung, atau mendelegasikan yang terkait dengan pengelolaan kerja sehari-hari kepada seorang manajer (tidak berbadan hukum).

    Dari hasil sensus tersebut, jika dipukul rata, satu UTP menggarap sekitar 2,5 ha lahan perkebunan sawit.

    Kesimpulan: Mahfud benar, tapi tidak akurat
    Pernyataan Mahfud seputar adanya ketimpangan lahan penguasaan sawit benar. Namun, angkanya tidak akurat.

    Baca: Insentif untuk daerah penghasil oksigen dan penyerap emisi karbon

    Mahfud mengatakan pelaku bisnis menguasai 39 ha lahan. Sementara itu, menurut BPS, penguasaan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit mencapai 8,58 juta ha.

    Menurut data KPPU, porsi perusahaan sawit hanya 0,07% dari total pelaku usaha perkebunan sawit.

    Pekebun kecil sawit, menurut Mahfud, menguasai rata-rata 0,5 ha. Sementara, berdasarkan sensus BPS, mereka rata-rata menguasai 2,5 ha.

    Kendati demikian, secara total pekebun kecil menguasai 41,35% lahan sawit di Indonesia, dengan porsi pelaku perorangan mencapai 99,92% dari total pelaku usaha perkebunan sawit.

    Artikel ini merupakan hasil kolaborasi program Panel Ahli Cek Fakta The Conversation Indonesia bersama Kompas.com dan Tempo.co, didukung oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

  • Pembangunan Bendungan Menyimpan Segudang Ancaman bagi Lingkungan

    7cloud.asia – Sejak ribuan tahun silam, bendungan menjadi infrastruktur yang bermanfaat untuk memastikan pasokan air bagi masyarakat, mengendalikan banjir, ataupun menjadi sumber pembangkit listrik yang ramah lingkungan.

    Namun, seiring waktu, dunia menyadari bahwa dalam jangka panjang mudarat yang timbul akibat bendungan bisa jauh lebih besar ketimbang manfaatnya.

    Walhasil, beberapa negara di Amerika dan Asia kini tengah melakukan perubahan struktur dan bahkan menghancurkan bendungan demi lingkungan.

    Di Eropa, setidaknya ada 239 bendung (peninggian air sungai untuk irigasi) dan bendungan (penahan air di waduk) yang dirobohkan karena berbagai alasan.

    Beberapa di antaranya adalah biaya pemeliharaan yang tinggi, risiko bencana akibat kegagalan struktur, dan dorongan kuat untuk memulihkan lingkungan, terutama ekosistem sungai.

    Baca: Demi bendungan Karian, ratusan rumah di Lebak ditenggelamkan

    Manfaat penghancuran bendungan ini bahkan turut ditonjolkan dalam produk budaya populer yakni film Frozen 2.

    Di Indonesia, pemerintah Jokowi malah jor-joran membangun bendungan. Presiden Jokowi merencanakan setidaknya sudah menuntaskan pembangunan 60 bendungan hingga tahun depan.

    Bendungan-benduagan ini tersebar dari Aceh hingga Nusa Tenggara Timur.

    Sebagian di antaranya bahkan sudah memunculkan masalah seperti konflik sosial, misalnya proyek Bendungan Bener di Jawa Tengah, hingga kerusakan lingkungan dan kehidupan satwa liar seperti Bendungan Aek Batang Toru di Sumatra Utara.

    Mengingat besarnya risiko dampak lingkungan yang ditimbulkan, Indonesia seharusnya berpikir dua – tiga kali sebelum merencanakan pembangunan bendungan.

    Baca: Pemanasan global akibatkan separuh danau di dunia mengering

    Mudarat berlipat proyek bendungan
    Bendungan dapat merusak aspek sosial dan lingkungan di sekitar kehidupan manusia. Ini bermula dari konflik sosial yang timbul pada awal pembangunannya.

    Misalnya, paksaan migrasi bagi penduduk sekitar sungai yang terimbas proyek bendungan.

    Salah satu contohnya adalah keberadaan bendungan-bendungan di Norwegia yang menghancurkan ruang hidup masyarakat adat Saami di Eropa barat laut.

    Penulis India Arundhati Roy dalam bukunya, The Greater Common Good menceritakan dampak pembangunan bendungan di India, yaitu orang-orang tergusur beserta kehidupannya dihancurkan dan ditinggalkan.

    Kasus pembangunan bendungan dan Waduk Jatigede, Jawa Barat, misalnya. Warga setempat pernah menggugat Peraturan Presiden No. 1 tahun 2015.

    Baca: Peringatan akan perubahan iklim sudah mucul sejak 70 tahun silam

    Penanganan Dampak Sosial Kemasyarakatan Pembangunan

    Waduk Jatigede karena menganggap pemerintah melakukan diskriminasi dan mengabaikan hak asasi manusia dalam proyek ini.

    Penggunaan material bendungan juga bisa bermasalah. Sebagai contoh, pembangunan Bendungan Bener di Jawa Tengah memerlukan material batuan andesit yang didapatkan dengan cara penambangan di Desa Wadas.

    Penambangan batu dengan cara dibor, dikeruk, dan diledakkan dengan 5.300 ton dinamit hingga kedalaman 40 meter.

    Penambangan ini berisiko menyebabkan kerusakan sumber mata air yang dapat mengeringkan lahan pertanian sehingga petani berisiko kehilangan mata pencaharian. Selain itu, penambangan juga meningkatkan risiko tanah longsor.

    Kedua, bendungan memblokade aliran alami air. Gangguan ini dapat mengurangi populasi ikan di suatu ekosistem, bahkan menghilangkannya.

    Baca: Perubahan iklim bikin salju abadi Puncak Jaya mencair lebih cepat 

    Sebab, ikan tidak dapat bermigrasi dengan baik ke arah hulu. Habitat ikan dan makhluk perairannya juga dapat terganggu karena terjadi perubahan debit air dan kecepatannya di daerah sungai sekitar bendungan.

    Endapan di waduk bendungan pun bisa membuat sedimen di waduk menumpuk sehingga kualitas air di sekitarnya menurun.

    Kita bisa melihat contohnya di Waduk Sermo di Kulonprogo, DI Yogyakarta, yang mengganggu populasi ikan sidat di Daerah Aliran Sungai Ngrancah.

    Di Amerika Serikat, bendungan di Sungai Corsica menyebabkan kawasan perairan di sekitarnya mengalami eutrofikasi alias peningkatan konsentrasi unsur hara, terutama nitrogen dan fosfor, di kawasan perairan.

    Eutrofikasi berisiko menyebabkan punahnya spesies akuatik, kehilangan vegetasi, penurunan kualitas air, dan peningkatan hipoksia, yakni rendahnya kandungan oksigen dalam air sehingga menyebabkan kematian massal ikan.

    Baca: Danau Sentarum mengering ini dampak yang dirasakan masyarakat

    Bendungan juga dapat meningkatkan ketinggian muka air di hulu sungai sehingga menenggelamkan daerah vegetasi, terutama akar-akar di sekitarnya.

    Tanah yang tergenang air menjadi anoksik, yaitu kehabisan oksigen terlarut yang dapat merusak akar tumbuhan.

    Beberapa tanaman sebenarnya dapat beradaptasi secara sementara untuk mengatasi kurangnya oksigen dalam tanah.

    Namun, tetap saja, dalam jangka panjang ada beberapa spesies yang akan berhenti tumbuh dan mati jika tanaman terus tergenang.

    Dalam kasus lainnya, bendungan bisa berkontribusi terhadap pelepasan gas rumah kaca ke atmosfer. Contohnya proyek Bendungan Tucuruỉ di sungai Amazon, Amerika Selatan.

    Baca: Indonesia bakal jadi tuan rumah forum air dunia

    Bendungan Tucuruỉ merendam 20 juta kubik kayu yang membutuhkan waktu lama untuk terurai. Nah, dalam proses penguraian ini dapat melepaskan gas karbondioksida (CO2) dan metana (CH4) yang ke atmosfer.

    Pelapukan kayu juga dapat melepaskan metil merkuri yang beracun bagi ikan-ikan.

    Proses dekomposisi material tanah yang tergenang air waduk juga melepaskan nitrogen dan fosfor. Kedua material ini menjadi nutrisi yang meningkatkan pertumbuhan tanaman terapung raksasa seperti kiambang (Salvinia molesta), enceng gondok (Eichhornia crassipes), dan selada air (Pistia stratiotes).

    Pertumbuhan tanaman akuatik yang relatif cepat bisa berbahaya. Pasalnya, penumpukan tanaman ini dapat menyulitkan masyarakat mengakses air waduk.

    Juga mengurangi volume waduk, dan menurunkan fungsi pompa pada intake atau saluran air masuk bendungan.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Rian Mantasa Salve Prastica, PhD student studying urban stormwater management, Environmental Engineering research group, School of Civil Engineering, The University of Queensland