Tag: lingkungan

  • Mungkinkah Membangun Waduk yang Ramah Lingkungan? Sulit Tapi Sangat Dimungkinkan

    Mungkinkah Membangun Waduk yang Ramah Lingkungan? Sulit Tapi Sangat Dimungkinkan

    7cloud.asia – Di masa lalu bendungan menjadi harapan banyak negara untuk ekonominya. Selain untuk pembangkit listrik bendungan juga bisa untuk irigasi dan juga berpotensi menggerakkan industri perikanan darat. 

    Namun, seiring waktu, dunia menyadari bahwa dalam jangka panjang mudarat yang timbul akibat bendungan bisa jauh lebih besar ketimbang manfaatnya.

    Walhasil, beberapa negara di Amerika dan Asia kini tengah melakukan perubahan struktur dan bahkan menghancurkan bendungan demi lingkungan.

    Di Eropa, setidaknya ada 239 bendung (peninggian air sungai untuk irigasi) dan bendungan (penahan air di waduk) yang dirobohkan karena berbagai alasan.

    Lantas, mungkinkah membangun  bendungan lebih ramah lingkungan?
    Usaha membuat bendungan yang ramah lingkungan merupakan hal sulit, tapi tidak mustahil.

    Baca: Pembangunan bendungan menyimpan sederet masalah untuk lingkungan

    Pemerintah juga mesti memastikan pembangun melakukan analisis dampak lingkungan secara memadai dan pemantauan dampaknya setelah bendungan beroperasi.

    Sementara, pembangun bendungan dapat mengupayakan beberapa teknik rekayasa dengan memperhatikan aspek lingkungan seperti aliran sungai dan pola migrasi ikan.

    Salah satu contohnya adalah pengurangan ketinggian bendungan agar ikan dari hulu bisa lewat.

    Sementara, untuk ikan yang bermigrasi ke hulu sungai, pembangun bisa menyiapkan infrastruktur tangga ikan.

    Pembangun juga perlu mendesain turbin bendungan lebih efisien dan fleksibel. Harapannya, produksi listrik dapat dihentikan sementara, selama periode migrasi ikan berlangsung.

    Baca: Ratusan rumah di Lebak ditenggelamkan demi pembangunan Waduk Karian  

    Untuk memantau penerapan hal ini, sistem kecerdasan buatan geospasial dapat membantu pemantauan secara akurat perubahan detail pada setiap aktivitas bendungan.

    Solusi lainnya adalah pengutamaan gerakan turbin secara alami dengan memanfaatkan arus sungai tanpa harus membangun bendungan yang mengganggu arus sungai.

    Metode seperti ini acap dikenal sebagai tenaga mikrohidro.

    Pemerintah juga dapat bercermin dari proyek bendungan yang diklaim ramah lingkungan di beberapa negara.

    Bendungan Nam Theun di Laos, dan Bendungan Glen Canyon di Amerika serikat dapat menjadi contoh bagaimana pembangunan bendungan yang ramah lingkungan.

    Baca: Pemanasan global akibatkan separuh danau di dunia mengering 

    Pembangunan bendungan ini dapat dilaksanakan dengan risiko yang rendah terhadap aliran sungai dan ekosistem di sekitarnya, serta pola migrasi ikan.

    Terakhir, pemerintah dan pembangun juga harus memastikan pelibatan masyarakat dalam perencanaan bendungan.

    Masyarakat harus mendapatkan informasi yang memadai sejak bendungan dalam tahap perencanaan lokasi, terlibat dalam berbagai keputusan, dan mendapatkan kompensasi yang memadai demi meredam risiko konflik sosial.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Rian Mantasa Salve Prastica, PhD student studying urban stormwater management, Environmental Engineering research group, School of Civil Engineering, The University of Queensland

  • Indonesia Terdampak Masalah Lingkungan Laut di Laut Cina Selatan

    Indonesia Terdampak Masalah Lingkungan Laut di Laut Cina Selatan

    7cloud.asia – Sejumlah peneliti menyatakan bahwa masalah lingkungan yang terjadi di Laut Cina Selatan akan berdampak ke Indonesia meskipun hanya sedikit kawasan lautnya yang bersinggungan di Laut Natuna Utara.

    Peneliti dan Wakil Direktur Asia Maritime Transparency Initiative CSIS Harrison Prétat mengatakan kerusakan ekosistem akibat penangkapan ikan yang berlebihan dan matinya spesies laut akan menyebabkan penurunan kualitas ekosistem kelautan Indonesia, khususnya di kawasan dekat Laut China Selatan.

    “Bahkan jika Indonesia tidak mengklaim pulau apapun di Laut China Selatan, kegiatan dan apapun yang terjadi di kawasan tersebut akan berdampak pada kualitas laut Indonesia,” ucap Prétat dalam konferensi pers Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI) di Jakarta, Jumat.

    Baca: Kualitas air Indonesia meningkat

    Sementara itu, sejawat peneliti Asia Maritime Transparency Initiative CSIS Monica Sato menyatakan berdasarkan penghitungan pihaknya, sudah sekitar 21 persen terumbu karang di Laut China Selatan rusak akibat tindakan manusia.

    Penelitian CSIS sebelumnya menyimpulkan bahwa pengerukan dasar laut untuk pembangunan pulau baru serta penangkapan masif kerang raksasa menjadi faktor utama yang memperburuk kerusakan Laut China Selatan.

    Sementara Penasihat Senior Keamanan Maritim IOJI Andreas Aditya Salim mengatakan bahwa persoalan lingkungan di Laut China Selatan akan berdampak ke Indonesia karena ekosistem laut tidak mengenal batasan laut antarnegara.

    Baca: Penjualan hasil laut Jepang dan Korea anjlok

    “Apapun yang terjadi di sana pasti ada dampaknya di sini, hanya persoalan waktu saja sebelum terjadi,” kata Andreas.

    Meski demikian, selain dampak ekosistem, masalah sengketa wilayah dan dinamika politik di Laut China Selatan juga akan berdampak bagi Indonesia, ucapnya.

    Peneliti IOJI itu mencontohkan pos terluar negara yang menduduki terumbu karang Laut China Selatan, apabila dibangun terlalu dekat dengan batas laut Indonesia, dapat menjadi ancaman terhadap kedaulatan negara.

    “Jika kita tidak berhati-hati terhadap pola tekanan negara asing (di Laut China Selatan) dan hal tersebut masih terus berlanjut, hal itu juga dapat mengancam kita,” ucap dia.

    Sumber: Antaranews

  • Berdampak Positif untuk Lingkungan, DPR Minta KLHK Siapkan Stimulus Fiskal di Sektor Daur Ulang Sampah

    Berdampak Positif untuk Lingkungan, DPR Minta KLHK Siapkan Stimulus Fiskal di Sektor Daur Ulang Sampah

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memperkirakan investasi daur ulang sampah dan kehutanan termasuk wisata alam pada tahun 2024 sebesar Rp17,91 triliun.

    Hal ini tertuang dalam perkiraan target ekonomi KLHK 2024 yang disampaikan oleh Menteri KLHK saat rapat kerja Komisi IV DPR pada Kamis (14/3/2023) di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta.

    Anggota Komisi IV DPR, Suhardi Duka meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk mendorong investasi pada sektor pengelolaan sampah, terutama di sektor daur ulang.

    Baca: Teknologi pengelolaan sampah Masaro mampu mengubah sampah menjadi nol limbah 

    Suhardi menilai, meski nilai yang disampaikan cukup besar namun di lapangan, nilai ekonomi pada sektor daur ulang sampah ini terbilang masih cukup rendah.

    Hal didasarkan temuan di lapangan, dari peninjauan beberapa unit daur ulang sampah di sejumlah daerah ternyata nilai ekonominya sangat rendah.

    ”Oleh karenanya perlu didorong untuk diberikan stimulus (fiskal), apakah kredit dengan bunga rendah atau subsidi (untuk sektor daur ulang sampah, red),” kata Suhardi dalam rapat.

    Baca: Kenali jenis sampah plastik dan nilai ekonominya  

    Legislator Dapil Sulawesi Barat itu menegaskan, meski nilai ekonomi pada sektor daur ulang belum bisa mengalahkan sektor lainnya, sektor ini memberikan keuntungan lain dari sisi lingkungan.

    Ia meyakini bahwa banyak persoalan lingkungan dapat teratasi apabila sektor ini dapat berkembang dengan baik.

    Dia meminta agar sektor ini tak hanya dilihat dari nilai ekonominya tapi ada di pelestarian lingkungan dan sanitasi kota.

    Baca: Butuh tindakan kolektif untuk tangani sampah plastik

    ”Jadi kalau ini terdorong terus saya yakin persoalan-persoalan lingkungan kita bisa teratasi dengan baik,” katanya.

    Pada kesempatan tersebut, Suhardi juga memberikan apresiasi terhadap perkiraan nilai transaksi keuangan kelompok tani hutan dari produksi barang dan hasil hutan bukan kayu di tahun 2024.

    Diperkirakan pendapatan di sektor ini mencapai Rp2 triliun pada tahun 2024.

    Menurutnya perlu adanya dorongan dan dukungan kepada kelompok madu, kelompok pengelola wisata dan dan kelompok lain yang berkegiatan di kawasan kehutanan agar bisa menggenjot transaksi hingga mencapai nilai tersebut. 

    Baca: Beragam teknologi dikembangkan untuk tangani sampah plastik

     

  • WWF Serukan Earth Hour Secara Serentak pada 23 Maret 2024

    WWF Serukan Earth Hour Secara Serentak pada 23 Maret 2024

    7cloud.asia – Organisasi lingkungan internasional, World Wide Fund for Nature (WWF) mengajak masyarakat dunia untuk melakukan Earth Hour atau Jam Bumi pada Sabtu, 23 Maret 2024 mendatang.

    Earth hour ini dilakukan dengan mematikan lampu selama 60 menit mulai pukul 20.30 hingga 21.30 waktu setempat.

    Earth hour kali ini mengusung tema “Momen Terbesar untuk Bumi” dengan tujuan untuk mendukung dan merayakan pentingnya Bumi.

    Earth hour yang sering disebut sebagai gerakan lingkungan akar rumput terbesar di dunia ini kembali dilakukan untuk ke-18 kalinya. 

    “Lebih banyak orang yang perlu bergabung dalam Earth Hour tahun ini untuk memanfaatkan kekuatan kolektif individu dan komunitas,” kata Direktur Jenderal WWF Internasional Kirsten Schuijt dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (19/3/2024).

    Baca: 17 cara gaya hidup ramah lingkungan

    Kirsten mengatakan keterlibatan manusia dalam menyelamatkan bumi mendesak dilakukan, jika ingin meningkatkan kesadaran mengenai tantangan lingkungan hidup dan membengkokkan kurva hilangnya keanekaragaman hayati pada tahun 2030 mendatang.

    Untuk benar-benar menyatukan jutaan orang di seluruh dunia, kata dia, penting bagi Earth Hour untuk memperluas jangkauannya melampaui jumlah pendukung yang sudah sangat besar dan melibatkan individu-individu yang belum terlibat.

    “Melindungi planet kita adalah tanggung jawab bersama dan memerlukan tindakan kolektif dari seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.

    WWF, lanjutnya, juga meluncurkan Hour Bank, alat daring interaktif untuk menemukan cara paling menyenangkan dalam memberikan satu jam untuk bumi.

    Beragam cara dilakukan dalam hour bank ini seperti berjalan-jalan di hutan untuk menikmati aroma udara, merasakan bumi, dan mendengarkan suara, atau melakukan pemilahan di rumah untuk mengidentifikasi

    Baca: Gaya hidup konsumtif berdampak buruk pada lingkungan

    Atau pun menukar produk yang tidak ramah lingkungan dengan produk alternatif yang ramah lingkungan.

    Pada tahun 2023 lebih dari 410.000 jam telah diberikan kepada bumi oleh para pendukung di 190 negara dan wilayah, yang mewakili 90 persen penduduk bumi.

    Sejak pertama kali dilakukan pada tahun 2009 di Indonesia, Earth Hour dikenal dengan momen “mematikan lampu”.

    Selain Ikon-ikon kota, para pendukung Earth Hour di seluruh dunia juga diajak secara simbolis mematikan alat elektronik yang tidak digunakan.

    Earth hour juga bisa diwujudkan dengan memberikan satu jam untuk bumi dengan memanfaatkan 60 menit untuk melakukan apapun yang positif bagi bumi.

    Baca: Ciri produk ramah lingkungan

    CEO Yayasan WWF-Indonesia Aditya Bayunanda mengatakan Earth Hour mengingatkan manusia untuk mengembalikan sebagian dari apa yang telah dinikmati dari alam ini kepada alam.

    “Cara yang paling mudah adalah dengan simbolis mematikan lampu dan alat elektronik yang tidak terpakai, karena lampu menyimbolkan bagaimana manusia seharusnya memanfaatkan sumber daya alam secara lestari dan berkelanjutan,” ujarnya.

    Untuk itu ia mengajak seluruh masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini dengan berbagai aktivitas yang dapat dilihat di laman web resmi wwf.id serta media sosial @wwf_id.

  • KLHK Tetapkan Empat Tersangka Perusak Lingkungan di Taman Nasional Karimunjawa

    KLHK Tetapkan Empat Tersangka Perusak Lingkungan di Taman Nasional Karimunjawa

    7cloud.asia – Penyidik Penegakkan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menetapkan empat orang tersangkan perusak lingkungan di Taman Nasional (TN) Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah.

    Keempat tersangka tersebut, adalah SL (50 tahun) warga Tambaksari, Kota Surabaya, Jawa Timur; S (50 tahun) warga Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

    TS (43 tahun) warga Karimunjawa Kabupaten Jepara, Jawa Tengah; dan MSD (47 tahun) warga Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

    Penetapan status tersangka ini terkait dengan aktifitas ilegal yang mereka lakukan sebagai penambak udang.

    Dalam rilis yang diterima Ruangkota.com pada Kamis (21/03/2024), para tersangka mengambil air dari perairan TN Karimunjawa yang disalurkan melalui pipa ke tambak udang.

    Kemudian membuang limbah tambak udang ke wilayah perairan TN Karimunjawa tanpa izin.

    Baca: Kejanggalan proses hukum Daniel Frits, penolak tambak udang

    Akibatnya terjadi kerusakan terhadap terumbu karang dan menyebabkan gatal-gatal terhadap wisatawan yang melakukan aktivitas wisata di pantai dan perairan TN Karimunjawa.

    Berdasarkan hasil pengumpulan barang bukti, termasuk keterangan para ahli bahwa kegiatan tambak budidaya udang yang dilakukan oleh para tersangka telah menyebabkan kerusakan terumbu karang di TN Karimunjawa.

    Para tersangka ini dijerat dengan Pasal 98 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

    Ancaman hukumannya adalah kurungan penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling sedikit Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).

    Baca: Gen Z desak transisi ke ekonomi hijau

    Sementara itu, Direktur Jenderal Penegakan Hukum KLHK, Rasio Ridho Sani menegaskan kegiatan perusakan lingkungan yang dilakukan para tersangka di TN Karimunjawa merupakan tindak kejahatan serius.

    Menurutnya kejahatan ini telah merusak ekosistem, merugikan masyarakat dan negara. Para pelaku harus dihukum maksimal, agar terwujudnya keadilan.

    “Kita sudah peringatkan untuk menghentikan kegiatan tapi mereka tetap tidak mematuhinya. Untuk itu dilakukan tindakan tegas. Penetapan tersangka kepada 4 (empat) pelaku ini agar ada efek jera dan menjadi perhatian bagi pelaku lainnya, serta melindungi TN Karimunjawa,” jelas Rasio.

    Para tersangkat tak hanya dijerat pasal pidana, tetapi juga akan dijerat secara perdata untuk mengganti kerugian lingkungan dan pemulihan lingkungan.

    Baca: Siti Nurbaya ajak gen y dan z tanam pohon

    Tim hukum KLHK sedang menganalisis besaran kerugian lingkungan yang diakibatkan oleh para pelaku pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan akibat limbah tambak budidaya udang di Karimunjawa.

    Penegakan hukum dengan multi instrument dilakukan agar adanya efek jera mengingat seriusnya dampak kerusakan dan kerugian lingkungan yang ditimbulkan, serta kerusakan di TN Nasional harus dipulihkan.

    Ia menegaskan dalam penegakan hukum pidana, pihaknya telah memerintahkan penyidik KLHK untuk segera menyelesaikan penyidikan kasus ini.

    Baca: Kualitas air di Indonesia meningkat

    Pihaknya juga akan menerapkan pidana berlapis (multidoor) baik terkait dengan pidana lingkungan hidup, pidana kehutanan/konservasi sumberdaya hayati dan ekosistem, serta menelusuri aliran dana hasil dari tindak kejahatan bidang lingkungan hidup.

    Hal ini harus dilakukan agar ada efek jera dan pelaku dapat dikenakan tindak pidana pencucian uang.

    “Langkah penegakan hukum multidoor/pidana berlapis dan multi instrument termasuk gugatan perdata dilakukan agar para pelaku perusakan mendapatkan hukuman yang maksimal dan ada efek jera. Penindakan ini harus menjadi pembelajaran bagi pelaku lainnya,” tegas Rasio.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Penolak Tambak Udang Daniel Frits Dituntut 10 Bulan Penjara, Aktivis Lingkungan Anggap Mengada-ada

    Penolak Tambak Udang Daniel Frits Dituntut 10 Bulan Penjara, Aktivis Lingkungan Anggap Mengada-ada

    7cloud.asia – Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut 10 bulan penjara dan denda 5 juta rupiah dalam sidang kasus kriminalisasi terhadap Daniel Frits Maurits Tangkilisan pada Selasa (19/03/2024) lalu.

    Sejumlah aktivis lingkungan menganggap tuntutan ini mengada-ada.

    Dalam rilis yang diterima 7cloud.asia pada Kamis (21/03/2024) Koalisi Nasional Save Karimunjawa mendesak agar Daniel dapat dibebaskan dari segala tuntutan karena banyak hal yang tak sesuai fakta.

    Koalisi menilai berdasarkan pada surat tuntutan yang dibacakan oleh JPU, tuntutan ini jauh dari objektif, sebab didasarkan pada ketidaksukaan dan bukan pada pertimbangan hukum yang relevan.

    Baca: Proses hukum terhadap Daniel Frits dianggap janggal

    Menurut koalisi, jaksa terus memaksakan narasi yang berbasiskan asumsi semata.

    “Bahkan ahli yang dihadirkan dari JPU maupun dari Penasihat Hukum semua menguatkan bahwa tidak ada pelanggaran UU ITE dalam perkara ini,” kata Gita Paulina, penasihat hukum Daniel.

    “Selain itu, banyak kejanggalan dalam proses persidangan Daniel, salah satunya persidangan yang dibuat maraton oleh majelis hakim” lanjutnya.

    JPU tidak bisa membuktikan adanya unsur meangajak, mempengaruhi, menggerakkan, maupun mengadu domba yang dilakukan Daniel.

    Padahal, unsur-unsur tersebut harus terpenuhi berdasarkan SKB Menteri Komunikasi dan Informatika, Jaksa Agung, dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia tentang Pedoman Implementasi UU ITE.

    Koalisi menilai, JPU secara nyata telah mengabaikan pedoman ini.

    “Yang dilakukan Daniel itu bukan upaya untuk menghasut ataupun bukan upaya untuk mengujarkan kebencian untuk membuat seseorang atau sebagian kelompok jadi celaka, tapi itu adalah bagian dari ekspresi yang sah yang seharusnya dilindungi,” kata Direktur Eksekutif SAFEnet, Nenden Sekar Arum.

    Baca: Pemkot Jember aksi tukar sampah dengan bibit pohon

    Tak hanya itu, Kolaisi juga menilai kekeliruan dalam konstruksi analisis yang dibangun karena didasarkan pada fakta-fakta yang salah, subjektif, sangat tendensius dan menggiring pada isu SARA.

    Dalam analisa JPU, tidak disinggung masalah utama yang terjadi di masyarakat Karimunjawa, yakni kerusakan lingkungan hidup akibat tambak udang.

    Hal ini diungkapkan oleh Yarhan Ambon, salah satu warga Karimunjawa yang juga bagian dari Lingkar Juang Karimunjawa.

    “Kami melihat JPU seolah membelokkan ini ke arah SARA, meninggalkan substansinya terkait masalah tambak udang ilegal. Padahal warga yang terdampak nyata adanya, nelayan harus semakin dalam bila ingin mencari ikan karena pencemaran akibat tambak udang,” ungkap Yarhan.

    Tuntutan jaksa kepada Daniel Frits dianggap hanya akan melanggengkan praktik bisnis yang merusak lingkungan dan tidak berperspektif hak asasi manusia.

    Baca: Pemkot Bandung rekrut warga kelola sampah

    “Kriminalisasi dan penuntutan yang terjadi pada Daniel semakin menunjukkan bahwa perlindungan terhadap pembela HAM, dalam kasus ini pejuang lingkungan, masih sangat minim,” ujar Wakil Koordinator Bidang Eksternal KontraS, Andi Rezaldy.

    Padahal, lanjut Andi, pembela HAM selalu berada pada garis depan atas represi dan penganiayaan terhadap aktivitasnya dalam memperjuangkan hak.

    Berdasarkan catatan KontraS ada 25 kasus kriminalisasi yang dialami oleh pembela HAM.

    Menurutnya hal ini menunjukkan ada peran dari aparat penegak hukum yang membatasi ruang gerak pembela HAM untuk melakukan advokasi lingkungan dan advokasi HAM.

    Baca: Memilah sampah sendiri di Sukaluyu, Bandung

    “Kami nilai ini adalah persoalan yang serius, salah satunya dialami Daniel yang memberikan kritik terkait keadaan atau kondisi di Taman Nasional Karimunjawa,” kata Andi.

    Karena itu Koalisi yang menyayangkan proses penyelidikan, penyidikan, hingga persidangan karena tidak mencerminkan penegakkan standar-standar HAM, baik secara nasional maupun internasional.

    Berbagai peraturan perundang-undangan yang ada di Indonesia juga sebenarnya memberikan panduan bagi sistem peradilan untuk tidak mengkriminalisasi pejuang lingkungan, tapi nyatanya pejuang lingkungan terus menjadi korban UU ITE seperti Daniel.

    Ini menunjukkan bahwa UU ITE tidak hanya berbahaya bagi kebebasan berekspresi, namun juga menjadi “alat memperluas” kerusakan ekologis–sebab trennya makin kerap digunakan untuk membungkam pejuang lingkungan.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Satu Jam Penuh Makna dalam Earth Hour yang Terbesar dalam Sejarah

    Satu Jam Penuh Makna dalam Earth Hour yang Terbesar dalam Sejarah

    7cloud.asia – Organisasi lingkungan dunia WWF menyebut kegiatan Earth Hour pada Sabtu (23/3/2024)  berlangsung sukses.

    Lewat akun X (dulu twitter, red) resminya @earthhour, WWF menyebut kegiatan Earth Hour yang ke-18 ini menyumbang 1,4 juta jam untuk Bumi.

    Tagar #earthhour dan juga #BiggestHourForEarth yang diusung sebagai tema Earth Hour tahun ini trending di 25 negara.  

    “Terima kasih kepada semua pendukung kami di seluruh dunia – dari lebih dari 180 negara dan wilayah – yang secara kolektif memberikan lebih dari 1,4 juta jam (dan terus bertambah!) untuk planet kita, sehingga menciptakan #BiggestHourForEarth,” tulis WWF.

    Baca: WWF serukan earth hour pada 23 Maret 

    Earth hour yang sering disebut sebagai gerakan lingkungan akar rumput terbesar di dunia dilakukan dengan mematikan lampu selama 60 menit mulai pukul 20.30 hingga 21.30 waktu setempat.

    Earth hour kali ini mengusung tema “Momen Terbesar untuk Bumi” dengan tujuan untuk mendukung dan merayakan pentingnya menjaga planet Bumi dari kerusakan.

    “Lebih banyak orang yang perlu bergabung dalam Earth Hour tahun ini untuk memanfaatkan kekuatan kolektif individu dan komunitas,” kata Direktur Jenderal WWF Internasional Kirsten Schuijt dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (19/3/2024).

    Baca: 17 langkah yang bisa kamu lakukan untuk Bumi

    Earth Hour pertama kali dilakukan pada Sabtu, 31 Maret 2007 di Sydney, Australia.

    Saat itu Earth Hour diikuti lebih dari 2,2 juta warga Sydney dengan mematikan lampu selama satu jam untuk menunjukkan kepada pemerintah setempat yang skeptis terhadap perubahan iklim.

    Aksi ini untuk menunjukkan bahwa masyarakat Sydney peduli terhadap perubahan iklim. Dengan mematikan lampu selama satu jam mereka berkontribusi nyata dalam mengurangi emisi karbon.

    Langkah kecil mematikan lampu selama satu jam yang dilakukan oleh ratusan juta orang akan memberikan sumbangan yang luar biasa bagi Bumi. 

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif pada lingkungan

     

    Ditegaskan, Earth Hour bukan sekadar gerakan simbolis, namun merupakan katalisator perubahan nyata dalam kebijakan lingkungan dunia.

    “Earth hour diikuti sederet pencapaian dan kemenangan besar yang berhasil kami capai selama bertahun-tahun,” demikian ditulis di laman resmi earthhour.org.

    Aksi ini kemudian terus meluas dan kini diikuti di hampir semua kota besar di dunia. Tak hanya itu aksi simbolik ini berhasil mendorong berbagai kebijakan iklim di banyak negara di dunia.  

    Salah satunya, kampanye #Connect2Earth terus meningkatkan kesadaran akan pentingnya alam bagi kesehatan, kesejahteraan, dan kelangsungan hidup kita. 

    Secara global, para pendukungnya diminta untuk menyuarakan kepedulian mereka terhadap alam dan menyuarakan Suara untuk Planet Bumi dalam sebuah petisi online yang mendesak para pemimpin dunia untuk segera mengambil tindakan untuk melindungi dan memulihkan alam.

  • Keren! Mahasiswa Ini Bikin Sabun Cuci Piring dari Kulit Nanas yang Ramah Lingkungan

    Keren! Mahasiswa Ini Bikin Sabun Cuci Piring dari Kulit Nanas yang Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Mahasiswa Program Studi (Prodi) Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jambi (Unja) Diah Fajar Ayu menciptakan inovasi sabun cuci piring dari kulit nanas untuk mengurangi limbah.

    Diah Fajar Ayu di Jambi, Selasa, mengatakan sabun cuci piring berbahan dasar kulit nanas ini diberi nama Dishnas.

    Pembuatan sabun cuci piring Dishnas dari limbah kulit nanas  ini dilatarbelakangi ketertarikannya terhadap lingkungan serta kebutuhan sabun pada saat COVID-19.

    Kemudian inovasi tersebut mulai terealisasikan saat Diah mengikuti lomba inovasi daerah dengan tema nanas.

    Baca: Inovasi briket bakar dari ampas kopi

    Menurutnya, kulit nanas sering dianggap sebagai limbah oleh masyarakat. Lebih buruk, kulit nanas yang dibuang begitu saja bisa memicu masalah serius bagi lingkungan.

    Namun melalui teknik dan formulasi khusus, kata dia, kulit nanas ini diubah menjadi bahan utama yang berkualitas untuk sabun.

    Dishnas ini, ujar Diah  bukan hanya sekadar sabun cuci piring biasa, tetapi merupakan upaya untuk memanfaatkan limbah kulit nanas dengan cara yang bermanfaat bagi masyarakat.

    ”Saya berharap inovasi ini dapat menjadi inspirasi untuk menciptakan produk ramah lingkungan dan bermanfaat bagi banyak orang,” katanya. 

    Baca: Pertamax 95 berbahan tetes tebu

    Inovasi yang dilakukan Diah telah mendapat apresiasi luas dari berbagai pihak, termasuk kalangan industri dan akademisi.

    Produknya pernah diikutsertakan dalam berbagai kompetisi sehingga meraih Juara 3 Inovasi Produk Provinsi Jambi 2022 dan Juara 1 Business Innovation Plan Provinsi Jambi 2023.

    Selain itu karyanya menjadi Top 10 Nasional Lomba Business Innovation Plan LPDP Rl bersama Presiden Joko Widodo, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim, di Jakarta pada Agustus 2023.

    Dosen pembimbing Unja Nurida Isnaeni mengapresiasi Diah dalam membuat inovasi sabun cuci piring dari kulit nanas.

    Diketahui saat ini produk sabun cuci piring ini juga sudah dipasarkan lebih luas ke masyarakat.

    Sumber: Antaranews

  • Greenfaith Ajak Anak Muda Lakukan Aksi Nyata Atasi Krisis Iklim

    Greenfaith Ajak Anak Muda Lakukan Aksi Nyata Atasi Krisis Iklim

    7cloud.asia – Perempuan dan kelompok rentan menjadi korban yang paling merasakan dampak krisis iklim.

    Untuk memberdayakan perempuan dan kelompok rentan lain dalam menghadapi krisis iklim, United Evangelical Mission (UEM) dan GreenFaith Indonesia menegaskan kembali komitmennya untuk mendukung berbagai aksi iklim.

    Komitmen untuk menguatkan perempuan dalam menghadapi krisis iklim ini disampaikan Advocacy Officer UEM, Irma Riana Simanjutak, di sela training Keadilan Gender dan Iklim yang berlangsung 21-22 Maret 2024 di Pematang Siantar, Sumatera Utara.

    “UEM telah mendukung dan membantu korban kerusakan lingkungan akibat krisis iklim, salah satunya masyarakat adat untuk dapat mempertahankan hak ulayatnya,” ujarnya 

    Training ini diselenggarakan bersama oleh United Evangelical Mission (UEM) Region Asia, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dan GreenFaith Indonesia,

    Baca: Milenial dan Gen Z bisa jadi kelompok penekan industri agar lebih ramah lingkungan

    Dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia, disebutkan setidaknya 50 orang mahasiswa dan pemuda asal Pematang Siantar, Balige dan Laguboti mengikuti pelatihan ini.

    Tak terkecuali perwakilan organisasi Islam setempat.

    Pendeta Debora Sinaga, Kepala Departemen Diakonia HKBP menyampaikan pihaknya berkomitmen untuk menahan laju krisis iklim.

    Komitmen ini tercantum dalam konfesi atau dokumen pengakuan untuk melawan kerusakan lingkungan sebagai bagian dari suara kenabian gereja.

    “HKBP bersama dengan lembaga lintas iman telah lama berjuang untuk menyelamatkan lingkungan melalui kampanye, pendidikan lingkungan dan bahkan ikut dalam aksi penutupan PT.IIU beberapa puluh tahun lalu,” ungkapnya..

    Lebih lanjut, Pdt. Debora menyebutkan tantangan yang dihadapi akan semakin berat. Karena itu dibutuhkan kerjasama dan networking, agar berjuang bersama menghadapi kerusakan lingkungan demi mewujudkan keadilan iklim dan gender. 

    Baca: Antusiasme Gen Z untuk ikut terlibat dalam aksi iklim masih rendah

    Dalam pelatihan ini peserta mendapatkan materi tentang lingkungan, sejak era kolonial hingga era industri yang mengksploitasi sumber daya alam sehingga berdampak pada keadilan gender.

    Dalam kesempatan itu juga disampaikan bagaimana agama meletakkan isu lingkungan, dalam tajuk Faith and Climate Justice: Pandangan Islam dan Kristen.

    Sementara di hari kedua, peserta berlatih membangun pemikiran untuk gerakan
    berbasis agama dan contoh yang dapat dilakukan, membangun pesan atau strategi komunikasi aksi iklim. 

     

    David Effendi, fasilitator dari GreenFaith Indonesia menemukan ekspresi antar generasi, keadilan
    gender, komitmen, dan kolaborasi lintas usia terjalin dengan baik dalam pelatihan ini.

     

    Pelatihan ini memotivasi peserta untuk terlibat langsung dalam aksi nyata untuk mengantisipasi krisis iklim seperti yang diungkapkan Ruth Sianipar  dan Yogi Siahaan

    Baca: Riset mengungkap anak muda sadar akan ancaman krisis iklim tapi enggan beraksi

    “Setelah mempelajari Climate and Gender Justice, saya semakin yakin bahwa perubahan yang kita butuhkan ada di tangan kita sendiri, dan kita memiliki kekuatan untuk menciptakan perubahan yang berarti,” kata Ruth, mahasiwa dari Sekolah Tinggi Bilblevrouw.

    Hal serupa diungkapkan oleh Yogi peserta dari Persekutuan Naposobulung Distrik V Sumatera Timur.

    “Training ini sangat membuka wawasan baru bagi saya, terima kasih kepada para narasumber yang telah membagikan ilmunya,” ujarnya .

    Sebagai penutup, Koordinator Greenfaith Indonesia, Hening Parlan mengapresiasi
    antusiasme dari para peserta yang hadir dari kalangan kampus teologi dan aktivis lingkungan di organisasi keagamaan.

    “Yang paling menarik, para peserta pelatihan sangat cepat untuk merespon apa yang akan dilakukan di kemudian hari, dan EUM juga siap memberikan support untuk project kecil mereka yang akan kita bawa untuk kampanye Faith for Climate Justice pada Mei 2024 mendatang,” ujarnya.

     

    Baca: Seperti ini media memotret aksi lingkungan anak muda

    Hening juga berharap kampanye ini tidak hanya membawa dampak pada masyarakat lokal tetapi gaungnya bisa dampak hingga tingkat internasional.

    Pelatihan Keadilan Gender dan Iklim ini adalah kegiatan ketujuh yang diadakan GreenFaith Indonesia bekerja sama dengan sejumlah organisasi keagamaan dalam serial pelatihan Keadilan Iklim yang sebelumnya berlangsung di Jakarta, Tangerang, dan Salatiga.

    Kegiatan ini memadukan metode materi pengetahuan, diskusi dan penyusunan rencana aksi, yang disampaikan secara hybrid, di luar dan dalam jaringan sepanjang Januari – Maret 2024.

    Rencana aksi dari seluruh kegiatan ini akan serentak dilakukan pada pekan kampanye Faith for Climate Justice pada Mei 2024 secara global bersama jaringan GreenFaith.

    Baca: Bumi butuh aksi nyata untuk mencegah kerusakan lingkungan  

  • Fakta Mengerikan Soal Sampah Plastik, Tak Ada Lagi Alasan Menunda Gaya Hidup Berkelanjutan

    Fakta Mengerikan Soal Sampah Plastik, Tak Ada Lagi Alasan Menunda Gaya Hidup Berkelanjutan

    7cloud.asia – United Nations Environment Programme (UNEP) memperkirakan sebanyak 23 hingga 37 juta metrik ton sampah plastik mengalir ke laut setiap tahunnya pada tahun 2040.

    Jumlah ini setara dengan 50 kilogram sampah plastik per meter dari garis pantai di seluruh dunia atau dengan berat yang setara dengan 178 Kapal Symphony of the Seas, kapal pesiar terbesar di dunia.

    Sampah plastik tersebut sebagian besar berasal dari sumber polusi darat yang tidak tertangani dengan baik.

    Di Indonesia, data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat pada tahun 2023, terjadi peningkatan timbunan sampah sebesar 20% di bulan Ramadan.

    “Komposisi sampah tertinggi di Indonesia didominasi oleh sampah organik berupa sisa makanan, yaitu mencapai 41,2% dan diikuti oleh sampah plastik 18,2%,” ujar Ketua KFLHK yang juga Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia beberapa waktu lalu. 

    Baca: Mencari solusi penanganan sampah plastik di Indonesia 

    Sementara sampah rumah tangga menyumbang terbesar jumlah sampah nasional  yakni hingga
    39,2%.  

    Dolly menambahkan, sampah plastik merupakan salah satu jenis sampah yang mengancam kesehatan dan lingkungan.

    Dampak yang ditimbulkan dari sampah plastik, antara lain jika dibakar secara terbuka, dapat menyebabkan polusi udara yang dapat memicu penyakit kanker.

    Mikroplastik dan nanoplastik bahkan sudah mencemari berbagai ekosistem, dan sudah dapat ditemukan di dalam darah manusia yang dapat meningkatkan risiko terkena penyakit jantung dan stroke.

    Pada dosis yang lebih besar, mikroplastik dapat mengakibatkan sakit kulit yang serius yang disebut chloracne.

    “Selain itu, sampah plastik juga dapat mencemari air dan tanah, mengganggu rantai makanan dan ekosistem,” imbuh Dolly.

    Baca: Pengembangan teknologi untuk tangani sampah plastik

    Dalam jumlah tertentu, sampah plastik dapat menyumbat saluran atau sungai yang dapat mengakibatkan banjir.

    Salah satu aksi yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak tersebut yaitu dengan menerapkan gaya hidup berkelanjutan.

    Gaya hidup berkelanjutan merupakan gaya hidup yang memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan manusia dengan kelestarian dan keberlanjutan lingkungan.

    Gaya hidup tersebut mengacu pada pola hidup yang mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan, sosial, dan ekonomi untuk mendukung kesejahteraan jangka panjang agar lingkungan juga dapat dihuni oleh generasi mendatang.

    Gaya hidup berkelanjutan penting dilakukan dalam kehidupan sehari-hari karena memiliki berbagai manfaat bagi lingkungan.

    Baca: Empat model yang bisa diterapkan untuk pengembangan sistem guna ulang

    Antara lain berkontribusi besar dalam pelestarian keanekaragaman hayati, peningkatan kualitas udara dan air, pengurangan emisi gas rumah cara, pemberdayaan ekonomi lokal dan peningkatan kesehatan individu.

    Contoh gaya hidup berkelanjutan yang dapat dilakukan pada kehidupan sehari-hari, antara lain membawa tas belanja dan botol minum serta alat makan ramah lingkungan.

    “Kita juga bisa melakukan 3R (Reduce, Reuse, Recycle), menggunakan transportasi umum, menghemat air dan listrik, menanam pohon dan mendukung produk lokal ramah lingkungan,” pungkas Dolly.

    Nah, setelah membaca fakta di atas masih kah kamu tak tergerak untuk bersikap lebih ramah lingkungan? Jangan ditunda lagi ya.