7cloud.asia – Di masa lalu bendungan menjadi harapan banyak negara untuk ekonominya. Selain untuk pembangkit listrik bendungan juga bisa untuk irigasi dan juga berpotensi menggerakkan industri perikanan darat.
Namun, seiring waktu, dunia menyadari bahwa dalam jangka panjang mudarat yang timbul akibat bendungan bisa jauh lebih besar ketimbang manfaatnya.
Walhasil, beberapa negara di Amerika dan Asia kini tengah melakukan perubahan struktur dan bahkan menghancurkan bendungan demi lingkungan.
Di Eropa, setidaknya ada 239 bendung (peninggian air sungai untuk irigasi) dan bendungan (penahan air di waduk) yang dirobohkan karena berbagai alasan.
Lantas, mungkinkah membangun bendungan lebih ramah lingkungan?
Usaha membuat bendungan yang ramah lingkungan merupakan hal sulit, tapi tidak mustahil.
Baca: Pembangunan bendungan menyimpan sederet masalah untuk lingkungan
Pemerintah juga mesti memastikan pembangun melakukan analisis dampak lingkungan secara memadai dan pemantauan dampaknya setelah bendungan beroperasi.
Sementara, pembangun bendungan dapat mengupayakan beberapa teknik rekayasa dengan memperhatikan aspek lingkungan seperti aliran sungai dan pola migrasi ikan.
Salah satu contohnya adalah pengurangan ketinggian bendungan agar ikan dari hulu bisa lewat.
Sementara, untuk ikan yang bermigrasi ke hulu sungai, pembangun bisa menyiapkan infrastruktur tangga ikan.
Pembangun juga perlu mendesain turbin bendungan lebih efisien dan fleksibel. Harapannya, produksi listrik dapat dihentikan sementara, selama periode migrasi ikan berlangsung.
Baca: Ratusan rumah di Lebak ditenggelamkan demi pembangunan Waduk Karian
Untuk memantau penerapan hal ini, sistem kecerdasan buatan geospasial dapat membantu pemantauan secara akurat perubahan detail pada setiap aktivitas bendungan.
Solusi lainnya adalah pengutamaan gerakan turbin secara alami dengan memanfaatkan arus sungai tanpa harus membangun bendungan yang mengganggu arus sungai.
Metode seperti ini acap dikenal sebagai tenaga mikrohidro.
Pemerintah juga dapat bercermin dari proyek bendungan yang diklaim ramah lingkungan di beberapa negara.
Bendungan Nam Theun di Laos, dan Bendungan Glen Canyon di Amerika serikat dapat menjadi contoh bagaimana pembangunan bendungan yang ramah lingkungan.
Baca: Pemanasan global akibatkan separuh danau di dunia mengering
Pembangunan bendungan ini dapat dilaksanakan dengan risiko yang rendah terhadap aliran sungai dan ekosistem di sekitarnya, serta pola migrasi ikan.
Terakhir, pemerintah dan pembangun juga harus memastikan pelibatan masyarakat dalam perencanaan bendungan.
Masyarakat harus mendapatkan informasi yang memadai sejak bendungan dalam tahap perencanaan lokasi, terlibat dalam berbagai keputusan, dan mendapatkan kompensasi yang memadai demi meredam risiko konflik sosial.
Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Rian Mantasa Salve Prastica, PhD student studying urban stormwater management, Environmental Engineering research group, School of Civil Engineering, The University of Queensland

Leave a Reply