Tag: banjir

  • Cuaca Hari Ini: Hampir Seluruh Wilayah Sumatera Berpotensi Hujan

    Cuaca Hari Ini: Hampir Seluruh Wilayah Sumatera Berpotensi Hujan

    7cloud.asia – Kondisi cuaca hujan dengan intensitas ringan hingga hujan disertai petir bepotensi mengguyur hampir seluruh wilayah Sumatera pada Rabu (26/11/2025).

    Melalui kanal youtuhbe resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan berintensitas ringan berpotensi terjadi di Kota Padang, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Jambi, Bengkulu, Palembang, Semarang, Surabaya.

    Kondisi cuaca serupa berpotensi pula terjadi di Kota Pontianak, Samarinda, Banjarmasin, Makassar, Palu, Gorontalo, Manado, Ternate, Ambon, Sorong, Manokwari, Jayapura dan Jayawijaya.

    Kemudian hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Banda Aceh, Medan, Palangkaraya dan Nabire. Sedangkan hujan disertai petir Kota Tanjung Selor, Mamuju, Kendari dan Merauke.

    Untuk masyarakat yang berada di wilayah Aceh dan Sumatera Utara waspada adanya potensi angin kencang di wilayah ini.

    BMKG juga mengajak masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir agar mewaspadai potensi banjir rob di sejumlah wilayah pesisir. Seperti pesisir Kepulauan Bangka Belitung, pesisir Banten, pesisir utara Jakarta, pesisir selatan Jawa Barat, pesisir utara Jawa Tengah.

    Pesisir Nusa Tenggara Barat, pesisir Kalimantan Selatan, pesisir Kalimantan Barat dan pesisir Kalimantan Tengah  juga berpotensi terjadi banjir rob.

     

     

  • Banjir dan Tanah Longsor di Sumatra Utara Akibatkan 13 Orang Meninggal dan Ribuan Warga Mengungsi

    Banjir dan Tanah Longsor di Sumatra Utara Akibatkan 13 Orang Meninggal dan Ribuan Warga Mengungsi

    7cloud.asia – Curah hujan tinggi pada Sabtu hingga Selasa (22-25/11/2025), mengakibatkan bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah di Sumatera Utara.

    Sejumlah sungai meluap menyebabkan banjir, dan tanah longsor melanda tujuh kabupaten/kota di Sumatera Utara, yakni Tapanuli Tengah, Sibolga, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Nias Selatan, dan Padangsidimpuan.

    Dilansir Antaranews.com, Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Sumut menyebutkan, bencana banjir dan tanah longsor ini mengakibatkan 13 orang meninggal dan puluhan lainnya luka-luka.

    “Hingga pukul 08.00 WIB pagi ini terdapat 13 orang dinyatakan meninggal dunia di tujuh kabupaten/kota,” ucap Kabid Penanganan Darurat, Peralatan dan Logistik BPBD Provinsi Sumut Sri Wahyuni Pancasilawati lewat sambungan telepon dari Medan, Rabu (26/11/2025)

    Sri Wahyuni yang sedang menjalankan tugasnya di Kabupaten Tapanuli Utara ini melanjutkan, belasan korban meninggal dunia berasal dari dua kabupaten di Sumatera Utara.

    Sebanyak 9 orang meninggal berasal dari Kabupaten Tapanuli Selatan, 6 orang di Kecamatan Batangtoru, satu orang di Kecamatan Sipirok, dan satu orang di Kecamatan Angkola Barat.

    Baca: Dua bibit siklon tropis bisa picu hujan lebat di Indonesia bagian utara

    Kemudian, 4 korban meninggal dunia yang merupakan warga Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, akibat tertimbun material longsor di dalam rumahnya.

    “Korban yang mengalami luka-luka ada 37 orang, dan tiga orang masih dinyatakan hilang di Tapanuli Selatan. Di Tapanuli Tengah masih dalam pendataan,” kata dia.

    BPBD Sumut juga mengungkapkan, total 330 unit rumah rusak di Tapanuli Selatan terdiri atas 12 rusak berat, enam rusak sedang, dan 312 rusak ringan, serta satu unit sekolah rusak.

    Sedangkan di Mandailing Natal, sebanyak 561 kepala keluarga atau 2.244 jiwa harus mengungsi karena rumah mereka terendam, 13 unit rumah rusak berat, satu unit sekolah rusak, dan banjir merendam 85 hektare lahan pertanian warga.

    Sementara di Tapanuli Utara ada 19 kepala keluarga yang tidur di pengungsian, lima unit rumah rusak berat, 64 unit rumah rusak ringan, dam empat titik ruas jalan rusak, serta satu jembatan terputus.

    “Kalau di Nias Selatan satu rumah rusak berat, dan satu ruas jalan terganggu. Di Padangsidimpuan satu korban dinyatakan hilang, dan 220 jiwa tinggal di pengungsian,” tutur Sri Wahyuni.

    Baca: Bencana alam makin sering terjadi akibat perubahan iklim

    Pada Rabu siang aparat kepolisian diturunkan di sekitar 65 titik terdampak dalam menangani bencana alam di delapan kabupaten/kota di wilayah tersebut.

    Kepala Bidang Humas Polda Sumut Kombes Pol Ferry Walintukan mengatakan, aparat yang diturunkan bertugas memberikan update perkembangan situasi secara berkala.

    Ferry menambahkan tercatat delapan titik longsor dan 10 titik banjir di Kabupaten Tapanuli Tengah, dengan empat warga meninggal dunia serta tiga orang masih tertimbun material longsor.

    Sementara di Kota Sibolga, longsor melanda enam titik dengan korban lima meninggal dunia, tiga luka-luka, dan empat dalam pencarian.

    Wilayah lain seperti Tapanuli Utara, Mandailing Natal, Humbang Hasundutan, Tapanuli Selatan, Gunungsitoli, dan Pakpak Bharat juga mengalami longsor, banjir, maupun pohon tumbang yang mengakibatkan penutupan badan jalan, kerusakan rumah, dan gangguan lalu lintas.

    Untuk itu, Polda Sumut bersama pemerintah daerah dan BPBD telah menyusun langkah lanjutan untuk mengantisipasi situasi di antaranya pemulihan dan pembukaan akses jalan yang tertutup longsor.

    “Ditambah dengan melakukan koordinasi kepada pihak pemda setempat untuk penyediaan pengungsian yang representatif, pengiriman logistik, makanan, pakaian, dan selimut kepada warga terdampak,” tuturnya.

  • 9 Kabupaten di Aceh Tetapkan Status Darurat Bencana Banjir

    9 Kabupaten di Aceh Tetapkan Status Darurat Bencana Banjir

    7cloud.asia – Sebanyak sembilan kabupaten di Aceh menetapkan status darurat bencana banjir setelah hujan dengan intensitas tinggi melanda wilayah itu sejak sepekan terakhir.

    Dilansir Antaranews.com, daerah yang berstatus darurat bencana banjir yaitu Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Singkil, Aceh Barat Daya, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, dan Aceh Barat.

    Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Fadmi Ridwan mengatakan penetapan status tersebut dikeluarkan oleh masing-masing kepala daerah berdasarkan kondisi terkini yang melanda wilayah setempat.

    “Daerah yang telah menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi yaitu Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Singkil, Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh Tengah, Aceh Tenggara, dan Aceh Barat,” kata Fadmi kepada wartawan, Rabu (26/11/2025).

    Fadmi menambahkan, banjir dan longsor yang melanda sembilan kabupaten/kota di Aceh ini telah membuat 455 kepala keluarga (KK) atau 1.497 orang mengungsi.

    Banjir juga memutuskan jaringan listrik. Dua warga Aceh Utara dilaporkan meninggal akibat hanyut dan tersengat aliran listrik.

     

    Baca: Banjir dan longsor di Sumatra Utara akibatkan 13 orang meninggal

    “Kondisi banjir di Aceh telah merendam sembilan kabupaten, berdampak pada 14.235 KK atau 46.893 jiwa, dan 1.497 jiwa mengungsi,” katanya

    Ditambahkan, kejadian banjir dan tanah longsor ini dipicu oleh curah hujan tinggi secara terus menerus, angin kencang, dan kondisi geologi labil yang berdampak banjir, tanah bergerak, serta longsor.

    Adapun sembilan daerah yang terendam banjir tersebut yakni tujuh kecamatan di Kabupaten Bireuen, hingga saat terakhir air belum surut.

    Kemudian di Kota Lhokseumawe, Aceh Utara terjadi banjir dan longsor akibat hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang, menyebabkan genangan, banjir dan tanah longsor di empat kecamatan.

    “Kemudian Aceh Timur, banjir luapan dan longsor merendam 11 kecamatan, kondisi terakhir airnya masih belum surut,” ujarnya.

    Berdasarkan laporan Pusdalops BPBA, lanjut Fadmi, banjir yang terjadi di lima kecamatan daLam wilayah Kota Langsa, Aceh Timur merupakan air kiriman dari lahan perkebunan kelapa sawit PTPN 1 Langsa.

    Baca: Dua bibit siklon tropis berpotensi picu hujan lebat dan angin kencang

    Sementara dari Bener Meriah, dilaporkan terjadi longsor di Desa Pantai Kemuning, Kecamatan Timang Gajah serta banjir yang menggenangi 10 kecamatan.

    Berikutnya di Kabupaten Gayo Lues, banjir di sana telah membuat 11 kecamatan terdampak. Informasi terakhir dari Pusdalops BPBA banjir masih belum surut.

    Intensitas hujan tinggi di Kabupaten Aceh Singkil, juga mengakibatkan meluapnya Sungai Lae Cinedang, banjir di sana telah merendam 10 kecamatan dengan ketinggian air sekitar 50-80 centimeter.

    Banjir juga terjadi di Aceh Utara dengan ketinggian air sekitar 30-50 centimeter, bencana hidrometeorologi ini merendam 26 kecamatan di kabupaten setempat.

    Selanjutnya, rumah dan lahan kebun warga juga terendam banjir di Kabupaten Aceh Selatan. Tetapi, kondisi terakhir air di sana telah berangsur surut.

    Terkait kondisi ini, Fadmi menyampaikan bahwa pemerintah daerah harus mengaktifkan posko siaga darurat BPBD, evakuasi masyarakat, siapkan logistik darurat dan layanan kesehatan darurat.

    “Kemudian, pantau data cuaca dan debit air sungai, koordinasi dengan lembaga terkait, lakukan kaji cepat di daerah yang terdampak dan tetapkan status tanggap darurat (banjir),” demikian Ridwan Fadmi.

    Baca: Bencana alam makin intens akibat perubahan iklim

  • Selama Dua Dekade, Desa Ini Diterjang Banjir 20-30 Kali dalam Setahun

    Selama Dua Dekade, Desa Ini Diterjang Banjir 20-30 Kali dalam Setahun

    7cloud.asia – Selama lebih dari dua dekade warga Desa Karangligar, Kecamatan Teluk Jambe Barat, Karawang, Jawa Barat harus bergulat dengan bencana banjir di daerahnya,

    Menghimpun informasi dari media, banjir di Desa Karangligar bisa terjadi 20-30 kali dalam setahun. Parahnya lagi, saat musim hujan, desa seluas 4 kilometer persegi (km²) dengan jumlah penduduk 5.861 jiwa (2022) ini bisa kebanjiran hingga 4-5 kali dalam sebulan.

    Wilayah Desa Karangligar merupakan bagian dari satuan dataran rendah yang mencakup sebagian besar Kecamatan Telukjambe Barat dan dicirikan dengan topografi sangat datar serta kemiringan lereng yang kecil.  

    Secara geografis, Desa Karangligar memang rentan banjir. Berada di dataran rendah dengan relief sangat datar dan ketinggian elevasi sekitar 12 hingga 18 meter di atas permukaan laut.

    Di desa ini juga terdapat sungai dengan pola meander (sungai bercabang-cabang) yang merupakan percabangan dari aliran Sungai Citarum dan Cibeet.

    Baca: Banjir Jabodetabek jadi bukti nyata ancaman krisis iklim

    Dalam pertemuan dengan Wakil Ketua DPR, Saan Mustopa yang kembali melakukan kunjungan kerja, Pemerintah Kabupaten Karawang pun melaporkan kondisi yang dialami warga Desa Karangligar

    Warga berharap solusi konkret dari Saan karena terus menerus menghadapi banjir selama 20 tahun terakhir, tak hanya mengganggu keseharian mereka tetapi juga sering memicu gagal panen.

    Bersama jajaran Kementerian Pekerjaan Umum dan beberapa anggota Komisi V DPR RI, Saan turut meninjau bakal tempat pembangunan berbagai infrastruktur pengendali banjir di area itu.

    Mulai dari pintu air hingga tanggul yang diyakininya akan menjadi solusi dari akar masalah banjir abadi di Karangligar dan sekitarnya.

    Saan mengatakan, sebenarnya sudah tahun yang lalu pihaknya mencari solusi. BBWS Citarum dan Kementerian PU akhirnya melihat lapangan untuk menyusun langkah yang diambil

    Baca: Banjir Jabodetabek juga dipicu tata ruang yang amburadul

    “Kita berkomitmen membikin yang namanya pengendali banjir yang mulai tahun ini sudah mulai dikerjakan. Sehingga tahun depan bisa terselesaikan akar masalah dari banjir ini,” ujarnya kepada Parlementaria, usai peninjauan, Kamis (20/11/2025) lalu

    Saan mengatakan, banjir yang merendam sawah warga sekitar juga menjadi kerugian nasional. Pasalnya kata dia, Kabupaten Karawang menjadi daerah andalan dalam menghasilkan berbagai produk pertanian utamanya beras.

    Saan berharap, lewat infrastruktur pengendali banjir yang akan dibangun di Karangligar masyarakat bisa terbebas banjir. Dengan demikian masyarakat bisa melaksanakan segala aktivitasnya dengan tenang.

    “Harapannya tentu masyarakat terbebas banjir sehingga mereka punya kepastian menjalankan kehidupannya. Dia ada rasa tenang, nyaman, tidak ada kekhawatiran tiba-tiba banjir. Yang dimiliki mereka hasil kerja kerasnya hilang hanyut dibawa banjir,” ucap Politisi Partai NasDem ini.

    Baca: Tren bencana banjir di Indonesia semakin mengkhawatirkan

  • DPR Dorong Presiden Tetapkan Banjir Sumatera Sebagai Bencana Nasional

    DPR Dorong Presiden Tetapkan Banjir Sumatera Sebagai Bencana Nasional

    7cloud.asia – Anggota DPR M. Nasir Djamil berharap Presiden Prabowo Subianto segera menetapkan status bencana nasional atas musibah banjir besar yang melanda sejumlah provinsi di Pulau Sumatera.

    Menurutnya, langkah ini sangat dinantikan oleh masyarakat, khususnya ratusan ribu korban banjir yang kini menghadapi kondisi yang semakin parah dan memprihatinkan.

    Wakil rakyat dari Dapil Aceh ini menjelaskan, banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan beberapa daerah lain, telah menyebabkan akses darat terputus, dan distribusi bantuan tak bisa menjangkau seluruh titik terdampak.

    Dilansir Antaranews.com, banjir yang melanda wilayah utara Pulau Sumatera ini dipicu Siklon Tropis Senyar yang berkembang sejak 21 November 2025 di perairan timur Aceh, Selat Malaka.

    Siklon Tropis Senyar mengakibatkan peningkatan intensitas dan memicu potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat hingga ekstrem, gelombang tinggi serta angin kencang di wilayah utara Sumatera.

    Dari Aceh dilaporkan hampir semua kabupaten/kota dilanda banjir, sehingga pemprov menetapkan status tanggap darurat.

    Baca: Aceh tetapkan status darurat bencana banjir

    Berdasarkan data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Aceh yang dirangkum Kompas.com, hingga saat ini jumlah warga yang meninggal dunia berjumlah 30 orang, per Kamis (27/11/2025).

    Sedangkan di Sumatera Utara, data kepolisian dan BNPB mencatat total ada 48 korban tewas dan 88 hilang akibat banjir dan longsor yang melanda sejumlah kabupaten/kota di sana selama empat hari terakhir.

    Sedangkan di Sumatera Barat, tercatat sembilan orang warga Sumbar yang tewas akibat bencana banjir dan longsor per Kamis (27/11/2025).

    Rincian korban meninggal ini, lima orang akibat banjir di Padang, tiga orang karena banjir bandang di Agam, dan satu orang akibat tertimbun longsor di Agam.

    “Banjir besar ini telah menelan korban jiwa, memicu penyakit, memadamkan arus listrik di berbagai wilayah, dan mengakibatkan kerugian material serta immaterial yang tidak terhitung. Di Aceh, banjir akhir tahun ini merusak banyak barang elektronik dan kendaraan bermotor warga,” ujar Nasir dikutip Parlementaria di Jakarta, Kamis (27/11/2025).

    Nasir menekankan kondisi banjir kali ini telah memenuhi indikator bencana nasional yang diatur dalam regulasi kebencanaan Indonesia.

    Baca: Banjir dan tanah longsor di Sumatra Utara

    Regulasi itu adalah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, serta Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana dalam Keadaan Tertentu.

    Dalam dua aturan itu disebutkan penetapan bencana nasional dapat dilakukan apabila terdapat korban dalam jumlah besar, kerugian material yang signifikan, cakupan wilayah terdampak yang luas lintas daerah, terganggunya fungsi pelayanan publik dan pemerintahan, serta menurunnya kemampuan daerah dalam menangani bencana.

    Nasir khawatir, jika tidak segera ditetapkan sebagai bencana nasional, saya khawatir jumlah korban akan terus bertambah.

    “Dengan kerendahan hati, saya mendorong Presiden Prabowo Subianto untuk menetapkan status tersebut. Negara dan pemerintah pusat harus hadir, turun tangan, dan menyalurkan bantuan yang lebih besar serta terkoordinasi,” pungkas Politisi PKS itu.

  • Kepala BNPB Pimpin Langsung Penanganan Bencana Banjir di Sumatera

    Kepala BNPB Pimpin Langsung Penanganan Bencana Banjir di Sumatera

    7cloud.asia – Merespons peningkatan risiko bencana hidrometeorologi yang kini tengah dihadapi tiga provinsi di Pulau Sumatera yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, BNPB memulai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara serentak.

    Operasi lintas kementerian dan lembaga ini sebagai dukungan mitigasi dan penanganan darurat bencana dengan tujuan utama mengurangi potensi curah hujan di kawasan rawan bencana melalui rekayasa pengalihan awan hujan ke wilayah yang lebih aman.

    Intervensi Modifikasi Cuaca ini menjadi sangat krusial mengingat kondisi darurat terkini, di mana intensitas hujan ekstrem telah memicu banjir meluas, meningkatkan ancaman longsor dan banjir bandang di sebagian besar Sumatera Utara, serta menimbulkan dampak serius pada infrastruktur dan pemukiman di Sumatera Barat.

    “Kami melaksanakan OMC di masing-masing provinsi,” jelas Kepala BNPB, Suharyanto saat menyampaikan perkembangan penanganan bencana hidrometeorologi yang melanda Provinsi Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat dari Bandara Silangit, Tapanuli Utara, Sumatra Utara, Jumat (28/11/2025).

    Dalam keterangannya, Suharyanto menyebutkan banjir dan tanah longsor yang dipicu badai tropis Senyar ini telah mengakibatkan 174 orang meninggal dunia, 79 hilang dan 12 luka-luka.

    Di Aceh, OMC baru resmi dimulai hari Jumat (28/11/2025), dengan menggunakan pesawat PK-SNP dari Posko Bandara Sultan Iskandar Muda.

    Sementara itu, di Sumatera Utara, operasi telah dimulai lebih awal, yakni pada Kamis (27/11/2025) dari Posko Bandara Kualanamu. Di mana hingga saat ini telah diselesaikan empat sortie penerbangan dengan total 3.200 kilogram bahan semai Natrium Klorida (NaCl) dan Kalsium Oksida (CaO).

    Adapun operasi di Sumatera Barat dijadwalkan akan mulai beroperasi Sabtu (29/11/2025), dengan mengerahkan pesawat PK-DPI dan PK-SNK dari Posko Bandara Internasional Minangkabau.

    Kepala BNPB hingga saat ini memimpin seluruh penanganan darurat bencana tiga provinsi dari Silangit-Tapanuli Utara bersama Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Mayjen TNI Budi Irawan.

    Dalam waktu dekat, Suharyanto juga akan mendatangi lokasi terdampak di Aceh, yang saat ini dipimpin oleh Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB, Jarwansyah.

    Sementara untuk penanganan darurat akibat banjir di wilayah Sumatra Barat, telah ditugaskan Sekretaris Utama BNPB, Rustian untuk memimpin.

    Infrastruktur
    Banjir dan tanah longsor telah menyebabkan akses jalan dari Sumatera Utara (Sumut) menuju Aceh terganggu. Material longsor dan limpasan banjir menutup beberapa ruas jalan.

    Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB Jarwansah mengatakan, dirinya telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengerahkan alat berat untuk membuka akses jalan.

    Selain pembukaan akses jalan yang terputus, tim BNPB juga berupaya membangun jalur komunikasi. Salah-satunya dengan membawa penyedia internet satelit yang memungkinkan internet broadband di lokasi terdampak.

    Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, info sementara akses jalan terputus yakni:
    – Batas Sumut – Aceh masih terputus sampai Jumat (28/11/2025), akibat longsor di beberapa titik jalan nasional. Saat ini dalam proses tindaklanjut pendataan oleh pihak BPJN Wilayah Aceh Kementerian PU.

    – Banda Aceh – Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, Aceh Tamiang terputus. Terputus akibat runtuhnya jembatan di Meuredu yaitu perbatasan Kab. Bireuen dan Pidie Jaya. Upaya pemda saat ini untuk ruas jalan Bireuen – Pidie Jaya menggunakan jalan Alternatif dari Samalangan – tringgadeng Pidie Jaya.

    – Kab. Gayo Lues sampai saat ini belum bisa terakses jalur darat dikarenakan ruas jalan Nasional (Gayo lues-Aceh Tenggara putus total di 4 titik) terputus, yaitu jalan Nasional (Gayo Lues-Aceh Tengah), jalan Provinsi (Gayo Lues – Aceh Barat Daya putus), jalan Provinsi (Gayo Lues-Aceh Timur).
    Salah satu alternatif jalur udara tersedia melalui Bandara Perintis di Gayo lues. Saat ini dalam proses tindaklanjut pendataan oleh tim BPJN Aceh Kementerian PU.

    – Kab. Aceh Tengah untuk saat ini belum bisa diakses via Darat dikarenakan Ruas jalan Nasional Bireuen – Takengon putus total dan jembatan tepin mane Bireuen putus, akses jalan Nasional (Aceh Tengah – Nagan Raya jembatan putus total). Akses jalan Nasional (Takengon-Ise ise-Gayo Lues putus total).

    – Kab. Bener Meriah akses jalan putus total akses ruas jalan Nasional putus (Bener Meriah-Aceh tengah dan Bener Meriah – bireuen) sementara Akses Jalan Provinsi Bener meriah – lhokseumawe Eks jalan KKA putus total.
    Salah satu alternatif via udara melalui Bandara Rembele Bener meriah yg bisa mengcover kabupaten Bener meriah dan Aceh tengah.

  • Banjir di Thailand Selatan Mulai Surut, Jumlah Korban Meninggal Capai 78 Orang

    Banjir di Thailand Selatan Mulai Surut, Jumlah Korban Meninggal Capai 78 Orang

    7cloud.asia – Ketinggian air di berbagai wilayah Songkhla, Thailand selatan yang sebelumnya terendam mulai surut. Sementara beberapa area kini telah benar-benar kering setelah banjir melanda sejak akhir pekan lalu.

    Seiring surutnya air, tim penyelamat terus melakukan penyisiran dan evakuasi jenazah dari rumah-rumah, kendaraan, serta daerah terpencil yang sebelumnya sulit diakses.

    Hingga Jumat (28/11/2025) jumlah korban tewas akibat banjir di Songkhla, meningkat menjadi 87 orang, sebut laporan Thai PBS, mengutip data Rumah Sakit Songklanagarind.

    Jenazah para korban dibawa ke Rumah Sakit Songklanagarind, fasilitas kesehatan publik terbesar di provinsi itu, untuk proses identifikasi dan pencatatan resmi kematian oleh otoritas setempat.

    Saat ini rumah sakit tersebut menampung 110 jenazah, termasuk 23 jenazah yang dipindahkan dari rumah sakit lain di wilayah itu akibat keterbatasan ruang penyimpanan jenazah.

    Polisi setempat telah mengirim enam kontainer berpendingin ke rumah sakit guna menampung tambahan jenazah, karena kamar mayat rumah sakit tidak mampu menampung lonjakan korban.

    Pada Kamis (27/11/2025) pihak Rumah Sakit Songklanagarind menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan meminta pengertian karena proses penyerahan jenazah membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya.

    Rumah sakit menyatakan antrean administrasi sangat panjang, sehingga identifikasi dan verifikasi dokumen memerlukan waktu tambahan sebelum jenazah dapat diserahkan kepada keluarga.

    Banjir dan tanah longsor terjadi di sejumlah provinsi Thailand selatan, terutama Songkhla, setelah hujan lebat terus-menerus mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari.

    Kenaikan permukaan air yang tajam tercatat pada akhir pekan lalu hingga awal pekan ini, menyebabkan ratusan desa terputus dan ribuan warga mengungsi ke pusat-pusat darurat.

    Para ahli Thailand mengatakan curah hujan ekstrem pada November ini merupakan yang paling deras dalam 300 tahun berdasarkan catatan historis negara tersebut.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-OANA

  • Soroti Banjir Sumatera: Saatnya Mengubah Paradigma Pembangunan dan Lakukan Pertaubatan Ekologis

    Soroti Banjir Sumatera: Saatnya Mengubah Paradigma Pembangunan dan Lakukan Pertaubatan Ekologis

    7cloud.asia – Anggota Komisi XII DPR Meitri Citra Wardani menyatakan bencana banjir bandang dan longsor yang melanda berbagai wilayah di Sumatera dalam beberapa hari terakhir mengingatkan bahwa Indonesia tengah berada dalam situasi krisis ekologis.

    Kondisi ini menurutnya, menuntut perubahan cara pandang dan tata kelola lingkungan secara menyeluruh.

    “Bencana ini harus menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan, yakni pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, serta masyarakat untuk melakukan taubat ekologis sebagai wujud komitmen moral sekaligus langkah awal untuk menghentikan kerusakan lingkungan yang terus berulang dan semakin memperparah dampak bencana hidrometeorologi,” jelasnya.

    Meitri ini menjelaskan, banjir bandang di Sumatera bukan semata-mata bencana alam, melainkan alarm keras bahwa kerusakan lingkungan, deforestasi, perubahan fungsi lahan, dan tata ruang yang tidak berpihak pada keselamatan rakyat telah mencapai titik yang mengkhawatirkan.

    “Taubat ekologis perlu segera kita lakukan, yakni dengan mengubah cara berpikir, cara hidup, dan cara kita mengelola alam,” tegas Meitri.

    Baca: Banjir Sumatera cermin kegagalan Negara kendalikan kerusakan lingkungan

    Meitri menjelaskan, curah hujan ekstrem bukan satu-satunya penyebab banjir bandang dan tanah longsor di tiga provinsi di Sumatera.

    Dia menyebut menurunnya daya dukung lingkungan akibat pembabatan hutan, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, serta lemahnya pengawasan terhadap operasi industri dan pertambangan telah memperbesar tingkat risiko kerentanan masyarakat.

    “Hujan tidak bisa kita kendalikan, tetapi kerusakan hutan dan sungai adalah akibat dari tangan kita sendiri. Taubat ekologis berarti jujur mengakui kesalahan kolektif dan memperbaikinya dengan tindakan nyata,” lanjutnya.

    Meitri mendorong pemerintah untuk segera melakukan evaluasi izin pemanfaatan ruang di wilayah rawan bencana, melaksanakan audit lingkungan secara menyeluruh terhadap kegiatan industri, pertambangan, dan perkebunan, serta memperkuat penegakan hukum yang tegas dan konsisten terhadap pelaku perusakan lingkungan.

    Ia juga menekankan pentingnya pemulihan kawasan Daerah Aliran Sungai melalui reforestasi dan rehabilitasi lahan, disertai penguatan sistem peringatan dini dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.

    Baca: Presiden didorong tetapkan banjir Sumatera jadi Bencana Nasional

    Lebih jauh, Meitri mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan taubat ekologis sebagai gerakan moral bersama. Baginya, perubahan perilaku sehari-hari seperti menjaga kebersihan sungai, mengurangi sampah, dan menghentikan kebiasaan merusak alam adalah bagian dari tanggung jawab kolektif.

    ”Kita harus kembali pada prinsip keseimbangan. Setiap sampah yang dibuang sembarangan, setiap hutan yang ditebang tanpa reboisasi, dan setiap sungai yang dicemari adalah bom waktu. Taubat ekologis mengajak kita memperbaiki perilaku sehari-hari, mencintai alam sebagai amanah, bukan komoditas semata,” terangnya.

    Meitri menambahkan, bencana yang terjadi di beberapa wilayah di Sumatera harus menjadi titik balik untuk mengubah arah pembangunan ekonomi yang lebih memihak pada kelestarian alam yang berkelanjutan.

    “Alam sudah sering mengingatkan kita, maka sepatutnya kita harus berubah. Perubahan itu bisa dimulai dengan pertaubatan kita dan mengawal secara serius pembangunan ekonomi yang harmonis dan selaras dengan pelestarian lingkungan alam,” pungkas Anggota DPR Dapil Jawa Timur VIII ini.

    Sebagaimana diberitakan, bencana tersebut telah menelan ratusan korban jiwa dan menyebabkan kerusakan luas pada permukiman, fasilitas publik, dan infrastruktur di Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara

  • Delapan Hari Sebelum Bencana Terjadi, BMKG Berkali-kali Keluarkan Peringatan Dini

    Delapan Hari Sebelum Bencana Terjadi, BMKG Berkali-kali Keluarkan Peringatan Dini

    7cloud.asia – Sebelum terjadinya banjir bandang dan tanah longsor, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berkali-kali mengeluarkan peringatan dini Siklon Tropis Senyar. Bahkan peringatan dini ini dikeluarkan sejak delapan hari sebelumnya.

    Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani dalam rapat bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menjelaskan Siklon Tropis tersebut menyebabkan cuaca ekstrem di wilayah Sumatera hingga memicu terjadinya banjir dan longsor.

    “Siklon Tropis Senyar itu sudah bisa kita prediksi sekitar delapan hari sebelum proses pembentukan siklon. Jadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, Kepala Balai Besar BMKG wilayah 1 sudah memberikan warning (peringatan) delapan hari sebelumnya, diulang lagi empat hari sebelumnya, dan dua hari sebelumnya,” jelas Faisal seperti yang dikutip Antaranews.

    Baca: Sisa Siklon Senyar Menjauhi Indonesia, tapi Masih Ada Pengaruh

    Seharusnya, lanjut Faisal, peringatan dini ini dapat segera direspons oleh kepala daerah agar dapat menyampaikan langsung kepada jajaran untuk bergerak dan mengingatkan masyarakat agar waspada.

    Lebih jauh Faisal menjelaskan Indonesia sebenarnya bukan daerah rawan siklon. Namun, terjadi anomali atmosfer pada kasus yang terjadi di wilayah Sumatera.

    Hal ini menyebabkan Siklon Senyar di Selat Malaka memicu hujan lebat dan bencana besar di Aceh, Sumatera Utara, sampai Sumatera Barat.

    Anomali atmosfer, cuaca, seruakan dingin dan berbagai faktor lainnya menyebabkan Siklon Senyar di Selat Malaka, dan pada saat yang sama suhunya sangat hangat sehingga menyebabkan awan hujan terbentuk cukup banyak.

    Baca: BMKG Keluarkan Peringatan Dini Hujan Lebat Selama 2 Hari

    Oleh karena itu, walaupun siklon Senyar berkategori rendah (1-5), dapat menimbulkan bencana yang besar.

    Kondisi diperparah dengan adanya tabrakan antara Siklon Senyar dan Siklon Koto yang menyebabkan hujan lebat yang terjebak di antara dataran Sumatera dan Semenanjung Malaysia, sehingga berputar-putar hujan lebat lebih dari dua hingga tiga hari.

    “Di Pos Langsa (Aceh), tercatat (curah hujan) 380 mm, itu hujan satu bulan dijatuhkan dalam satu hari, jadi bisa kita bayangkan dahsyatnya bencana akibat Siklon Senyar,” ungkap kepala BMKG yang baru dilantik ini.

    Baca: Banjir dan Longsor di Sumatera, Korban Meninggal Capai 442 Orang

    Menurutnya Indonesia harus segera melakukan mitigasi akan siklon tropis yang berulang kali melanda beberapa wilayah.

    Dia mengungkapkan mulai ada bibit siklon yang berkembang menjadi dewasa menjadi siklon tropis, walaupun hal tersebut tidak lazim terjadi di ekuator.

    “Kita harus bersiap-siap bahwa Indonesia tidak lagi menjadi negara yang aman terhadap siklon tropis. Sejak beberapa tahun terakhir, BMKG sudah membentuk pusat peringatan siklon tropis (tropical cyclone warning centre), karena bagaimanapun kita harus waspada dengan ini,” urainya. 

  • Korban Meninggal Akibat Banjir Besar di Aceh Capai 102 Orang, 116 Masih Hilang

    Korban Meninggal Akibat Banjir Besar di Aceh Capai 102 Orang, 116 Masih Hilang

     

    7cloud.asia – Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, Senin (1/12/2025) menyampaikan Laporan Pantauan Data Penanggulangan Bencana Alam Hidrometeorologi di Posko Terpadu Pemerintah Aceh.

    Dalam laporan itu disebutkan banjir melanda 18 Kabupaten/Kota di Aceh

    Setidaknya 1.652 Gampong atau kampung yang tersebar di 224 kecamatan di Aceh tak luput dari bencana banjir yang dipicu badai Senyar sejak 21 November lalu

    Adapun jumlah korban meninggal 102 orang dan 116 lainnya dilaporkan hilang dan masih dalam pencarian.

    Total warga yang terdampak banjir mencapai 104.901 kepala keluarga atau 526.098 jiwa. Sebanyak 1.286 orang mengalami luka ringan dan 326 orang lainnya luka berat.

    Saat ini tercatat ada 292.806 jiwa dari 62.141 KK yang mengungsi di 403 titik pengungsian yang tersebar di berbagai kota/kabupate

    Adapun kerusakan fasilitas umum, dilaporkan sebagai berikut

    – Perkantoran: 132 unit

    – Tempat Ibadah: 46 unit

    – Sekolah: 157 unit

    – Pondok Pesantren: 2 unit

    Sementara jerusakan infrastruktur jalan dan jembatan akibat banjir:

    – Kerusakan Jalan: 275 titik

    – Kerusakan Jembatan: 146 unit

    Data rinci per kabupaten/kota dapat diakses pada tautan berikut: ???? https://bit.ly/LAP_TDA2025