Tag: lingkungan

  • Mengenal Kearifan Lokal Warga Papua Dalam Menjaga Lingkungan Lewat Budaya Sasi

    Mengenal Kearifan Lokal Warga Papua Dalam Menjaga Lingkungan Lewat Budaya Sasi

    7cloud.asia – Warga Papua, terutama mereka yang tinggal di daerah pesisir Kabupaten Jayapura, Papua punya tradisi unik yang ramah lingkungan, yakni budaya sasi.

    Antropolog Universitas Cenderawasih Frederik Sokoy mengatakan, budaya ‘Sasi’ hingga kini masih dipertahankan masyarakat

    “Sebagian besar masyarakat pesisir seperti yang berada di Depapre atau Demta saat ini masih menerapkan budaya ‘Sasi’ untuk meningkatkan produksi perikanan di wilayah itu,” kata Sokoy dikutip Antaranews.com Rabu (8/5/2024)

    Sokoy yang juga dosen di Universitas Cenderawasih di Jayapura ini menjelaskan, Sasi adalah tradisi yang ada di tengah masyarakat Papua dan memiliki nilai hukum.

     

    Baca Juga: Mengenal Tradisi Seren Taun, Sensus Penduduk ala Masyarakat Baduy

    Hal ini karena dalam budaya Sasi ada larangan sementara untuk tidak mengambil hasil laut di waktu tertentu.

    Bila ada yang melanggar maka yang bersangkutan akan dikenakan sanksi hukum sesuai ketentuan yang berlaku di wilayah itu.

    Dilansir indonesianoceanpride.org, budaya Sasi bisa dibedakan menjadi dua, yakni Sasi Laut dan Sasi Darat.

    Sasi Laut adalah tradisi adat yang dilakukan oleh masyarakat lokal di Papua dan Maluku. Tradisi sasi ini dilakukan sebagai tanda untuk memulai atau menyelesaikan masa panen hasil laut.

    Baca Juga: Pengelola Enam Warisan Budaya Dunia Sepakat Bentuk Wadah Bersama

    Selain itu, tradisi ini pun dilakukan guna untuk mendapat hasil yang melimpah saat masa panen, dengan cara menutup daerah tersebut hingga waktu yang ditentukan.

    Masyarakat Papua percaya bahwa ketika mereka pergi ke laut, kesuksesan mereka akan hasil panen tergantung dari tradisi Sasi Laut yang dilakukan.

    Untuk lokasi dan lama pelaksanaannya tergantung kesepakatan tokoh agama dan tokoh adat serta masyarakat setempat.

    Selain ‘Sasi’ adalah budaya yang masih dipegang oleh masyarakat Papua hingga saat ini adalah saat pelantikan ondofolo atau ondoafi atau kepala suku dimana ritual pelantikan masih tetap dilaksanakan.

    Baca Juga: UNESCO Akui Jamu Jadi Warisan Budaya Dunia

    “Untuk pengobatan ondofolo sebutan bagi Kepala Suku di Kabupaten Jayapura berbeda apakah dia ondofolo besar atau tidak karena itu berbeda dalam perayaan yang akan digelar,” kata Frederik Sokoy.

  • Energi Terbarukan Gencar Dikampanyekan, Ini Dampak Sosialnya

    Energi Terbarukan Gencar Dikampanyekan, Ini Dampak Sosialnya

    7cloud.asia – Industri energi terbarukan telah mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam dekade terakhir, terutama didorong oleh kemajuan infrastruktur tenaga angin dan surya.

    Peningkatan energi terbarukan ini tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan tetapi juga meningkatkan ketahanan jaringan listrik dan mendukung pembangunan ekonomi terbarukan di masa depan.

    Pengembangan energi terbarukan ideal dilakukan di negara-negara dengan tarif listrik rendah, yang cenderung memiliki jam sinar matahari tinggi seperti Indonesia.

    Negara dengan sinar matahari melimpah merupakan kandidat sempurna untuk pengembangan jaringan energi bertenaga surya yang terdesentralisasi.

    Pengembangan energi terbarukan juga dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

    Baca Juga: Mengenal Hidrogen Hijau: Manfaatnya untuk Transisi Energi yang Ramah Lingkungan

    Inisiatif energi terbarukan menawarkan kesempatan kerja yang memprioritaskan kesejahteraan masyarakat dan membekali pekerja dengan keterampilan yang dapat ditransfer ke pasar tenaga kerja yang berkelanjutan.

    Pemanfaatan energi terbarukan telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2022, masyarakat menghasilkan lebih dari 8.000 terawatt jam energi terbarukan.

    Hal ini menunjukkan peningkatan energi terbarukan hingga 198 persen sejak tahun 2000 dan sebagian besar disebabkan oleh perbaikan infrastruktur energi terbarukan, yang telah meningkatkan jumlah energi terbarukan.

    Inisiatif untuk meningkatkan efisiensi energi dan beralih ke energi terbarukan bukan hanya kabar baik untuk planet Bumi, tapi juga mempunyai fungsi sosial yang penting.

    Jika dimanfaatkan dengan benar, energi terbarukan akan meningkatkan ketahanan jaringan listrik dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

    Baca Juga: Ini yang Harus Dilakukan Indonesia Jika Ingin Maksimal Manfaatkan Energi Surya

    Inisiatif energi terbarukan akan menciptakan lapangan kerja tanpa mengganggu kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di masa depan.

    Hal ini merupakan kuncinya, karena banyak bentuk ekstraksi energi tradisional yang dapat merugikan ekosistem lokal sekaligus merusak kesehatan jangka panjang.

    Sebut saja, para penambang dan pekerja minyak yang tidak berkarir di bidang energi terbarukan energi mempersiapkan pekerja untuk masa depan.

    Pengembangan energi terbarukan juga menghasilkan keterampilan yang dapat diterapkan yang akan bermanfaat bagi mereka di pasar tenaga kerja yang lebih luas.

    Pengembangan energi terbarukan juga akan menciptakan kesetaraan akses ke energi listrik yang selama ini timpang.

    Baca Juga: Mengenal Sistem RDF, Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan

    Abad yang lalu didominasi oleh isu-isu seputar ketimpangan energi. Secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut, negara-negara dengan akses energi yang dapat diandalkan telah menjadi makmur.

    Sementara negara-negara yang belum memiliki masa depan energi yang terjamin harus menanggung kesulitan yang terkait dengan pemadaman listrik dan akses yang tak memadai terhadap listrik.

    Hal ini dikuatkan oleh data yang dihimun Laporan Kemajuan Energi Bank Dunia tahun 2023, yang menunjukkan bahwa negara-negara dengan produk domestik bruto (PDB) per kapita rendah, seperti Burundi, Chad, dan Niger, memiliki akses yang buruk terhadap listrik.

    Energi terbarukan dapat membantu mengatasi kesetaraan energi dengan memfasilitasi penciptaan sistem energi yang terdesentralisasi.

    Baca Juga: Fakta Emisi CO2 Global: Emisi dari Energi Fosil Cetak Rekor Tapi Banyak Negara Sukses Turunkan Emisi

    Desentralisasi sistem energi berarti produsen energi menempatkan fasilitas mereka lebih dekat dengan lokasi di mana energi akan digunakan dan biasanya berhubungan dengan sumber energi terbarukan.

    Hal ini ideal bagi negara-negara dengan tarif listrik rendah, yang cenderung memiliki jam sinar matahari tinggi dan merupakan kandidat sempurna untuk jaringan energi bertenaga surya yang terdesentralisasi.

    Pendekatan ini juga dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

    Artikel ini telah terbit di earth.org, Penulis: Charlie Fletcher, penulis freelance yang aktif dalam berbagai aktifitas sosial.

  • Film Dokumenter “Before You Eat” Director’s Cut: Ironi Pelanggaran HAM dan Kerusakan Lingkungan Akibat Industri Perikanan

    Film Dokumenter “Before You Eat” Director’s Cut: Ironi Pelanggaran HAM dan Kerusakan Lingkungan Akibat Industri Perikanan

    7cloud.asia – Hari Buruh Internasional tanggal 1 Mei dan Hari Tuna Sedunia tanggal 2 Mei tahun ini menjadi momen penting bagi Greenpeace Indonesia untuk mendukung publikasi film dokumenter “Before You Eat” Director’s Cut.

    Film dokumenter “Before You Eat” Director’s Cut ini diproduksi oleh Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) dan didukung oleh Greenpeace Indonesia dalam distribusi melalui beragam kegiatan kampanye publik.

    Film dokumenter “Before You Eat” Director’s Cut telah diluncurkan secara global melalui landing page-nya, www.beforeyoueat.id.

    Setelah sukses menjangkau lebih dari 5.000 penonton melalui rangkaian nobar luring di Indonesia sepanjang 2022 dengan film “Before You Eat” (BYE) versi original, versi director’s cut ini dibuat untuk menjangkau lebih banyak penonton di seluruh dunia.

    Versi director’s cut adalah versi pendek dari versi asli yang semula 97 menit menjadi 47 menit.

    Baca Juga: Memotret Pengabdian Para Nakes, Film Dokumenter Ininnawa: An Island Calling Bisa Disaksikan di Bioskop Online

    Namun, keduanya punya tujuan sama yakni meningkatkan kesadaran publik tentang pelanggaran HAM dan kerusakan lingkungan di laut lepas akibat aktivitas para pelaku industri perikanan global.

    Before You Eat Director’s Cut memotret kisah pengalaman bekerja di kapal penangkap ikan asing yang dituturkan langsung oleh para awak kapal perikanan atau ABK migran Indonesia.

    Sebagai organisasi lingkungan yang salah satunya bergerak dalam upaya pelindungan laut, Greenpeace Indonesia juga memiliki perhatian yang tinggi terhadap isu pelindungan ABK dan memperjuangkan keadilan di industri perikanan.

    Sebab, praktik pelanggaran HAM terhadap ABK hampir selalu terjadi di kapal-kapal penangkap ikan jarak jauh yang juga melakukan praktik perikanan ilegal, tidak diatur dan tidak dilaporkan (IUU fishing) yang merusak lingkungan.

    Baca Juga: Sutradara dan Produser Film Oppenheimer Dianugerahi Gelar Kehormatan oleh Kerajaan Inggris

    Sejak rampung diproduksi pada Oktober 2023, film ini sudah ditayangkan secara luring di sejumlah kegiatan nobar di Indonesia, Taiwan dan Amerika Serikat–melalui kegiatan yang diinisiasi dan diselenggarakan secara kolaboratif oleh SBMI, Greenpeace Indonesia, Greenpeace Taiwan dan Greenpeace USA.

    Sutradara Kasan Kurdi mengaku, dirinya terinspirasi membuat film ini karena ‘terganggu’ oleh sebuah ironi dari kisah para awak kapal ikan migran yang bekerja di laut.

    Di satu sisi, ujarnya, mereka bekerja untuk ‘memberi makan’ konsumen seafood dunia, di sisi lain mereka juga harus memberi makan keluarga mereka.

    ”Kondisi itu ternyata tidak banyak berubah setelah 2-3 tahun sejak film BYE versi asli diproduksi. Dan saya yakin inti pesan dari film BYE dan BYE Director’s Cut ini akan selalu relevan hingga waktu yang sangat lama.” ujarnya sebagaimana dilansir di laman resmi Greenpeace.

    Baca Juga: 21 Film Soal Lingkungan yang Wajib Ditonton (2)

    Pimpinan Global Kampanye Beyond Seafood, Greenpeace Asia Tenggara, Arifsyah Nasution mengatakan, peluncuran film ini adalah babak baru bagi kerja kampanye strategis dan kolaboratif kami dengan SBMI untuk mendesak keadilan, keberlanjutan dan transparansi dalam industri makanan laut global.

    Sejak menjalin kerja sama dengan SBMI hampir sedekade silam, Greenpeace Asia Tenggara khususnya Indonesia telah mendukung menyuarakan kisah-kisah para ABK migran, sementara SBMI melakukan kerja-kerja advokasi bagi mereka di lapangan.

    ”Kami terinspirasi oleh keberanian para nelayan migran untuk bersuara serta komitmen SBMI yang terus mendorong film ini agar ditonton semakin banyak orang di dunia,” ujarnya.

    Dia berharap, film ini mampu menginspirasi lebih banyak penonton dan gerakan-gerakan nelayan demi membuat perubahan nyata untuk menghentikan perbudakan di laut dan perikanan ilegal secara global.”

  • Simak Daftar Lapangan Kerja yang Tercipta dari Pengembangan Energi Terbarukan

    Simak Daftar Lapangan Kerja yang Tercipta dari Pengembangan Energi Terbarukan

    7cloud.asia – Pengembangan energi terbarukan kini sudah sangat mendesak. Selain alasan lingkungan, pengembangan energi terbarukan yang ramah lingkungan juga untuk alasan keberlanjutan.

    Sumber energi terbarukan cukup beragam, seperti tenaga angin, tenaga surya, dan tenaga air.yang berasal dari tenaga angin, tenaga surya, tenaga air, biomasa maupun sampah.

    Pengembangan energi terbarukan bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.

    Pengembangan listrik bertenaga surya yang terdesentralisasi misalnya, cocok dikembangkan di negara-negara dengan tarif listrik rendah, yang cenderung memiliki jam sinar matahari berlimpah.

    Baca Juga: Energi Terbarukan Gencar Dikampanyekan, Ini Dampak Sosialnya

    Pengembangan energi terbarukan tak hanya bagus untuk lingkungan, tapi juga dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

    Saat ini, masih banyak pengkritik energi terbarukan yang khawatir akan hilangnya lapangan pekerjaan akibat peralihan ke jaringan listrik yang lebih terbarukan.

    Namun, pada kenyataannya, kebangkitan energi terbarukan akan menciptakan peluang kerja baru dan berpotensi memberikan karir yang menarik bagi ratusan ribu orang.

    Energi terbarukan mewakili industri yang sangat besar yang diproyeksi akan mempekerjakan jutaan orang.

    Baca Juga: Mengarah ke Ekonomi Hijau Indonesia Membutuhkan Banyak Green Jobs

    Permintaan akan pekerja terampil di sektor energi terbarukan hanya akan meningkat seiring dengan semakin banyaknya sumber energi yang berasal dari tenaga angin, tenaga surya, dan tenaga air.

    Lapangan kerja baru ini juga merupakan pekerjaan dengan gaji besar dan membutuhkan keterampilan yang dapat ditransfer.

    Contoh karir di bidang energi terbarukan meliputi:

    1. Pemasang Fotovoltaik Surya
    Pemasang yang berkualifikasi diperlukan untuk memasok dan memasang panel surya di dunia.

    Pekerjaan ini sangat penting, karena pemasangan yang tepat memastikan bahwa panel tersebut seefektif mungkin.

    Data BLS melaporkan bahwa pemasang di AS memperoleh gaji sebesar $45.230 per tahun dan akan melakukannya mengalami lonjakan permintaan sebesar 22% hingga tahun 2032.

    Baca Juga: Yang Bisa Dilakukan Dunia Pendidikan untuk Penuhi Permintaan Green Jobs

    2. Teknisi Turbin Angin
    Tenaga angin telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini memicu permintaan akan teknisi yang dapat memasang, memperbaiki, dan melakukan perawatan rutin pada komponen mekanis menara.

    3.Insinyur Listrik
    Insinyur listrik bertanggung jawab atas berbagai tugas yang berkaitan dengan energi terbarukan, jaringan listrik, dan perangkat energi rumah.

    Mereka juga memperoleh pendapatan rata-rata 103,320 dolar AS dan saat ini banyak diminati.

    4. Ilmuwan Data
    Jaringan energi terbarukan bergantung pada pengumpulan dan analisis data yang akurat.

    Oleh karena itu, ilmuwan data merupakan bagian integral dari kelancaran fungsi sistem energi terbarukan sumber energi.

    Artikel ini telah terbit di earth.org, Penulis: Charlie Fletcher, penulis freelance yang aktif dalam berbagai aktifitas sosial.

  • Dear Penggemar Sepak Bola, Ini Cara Menikmati Pertandingan Secara Ramah Lingkungan

    Dear Penggemar Sepak Bola, Ini Cara Menikmati Pertandingan Secara Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Sepak bola menjadi olahraga paling populer dengan jumlah penggemar global sebanyak 3,5 miliar orang.

    Sayangnya, jumlah penggemar yang besar dengan jangkauan internasional membuat sepakbola memiliki sisi buruk bagi lingkungan yakni jejak karbon yang signifikan

    Jejak karbon itu mulai dari stadion dan konsumsi energi hingga emisi dan produksi limbah yang terkait dengan perjalanan dan pertandingan.

    Pada tahun 2016, Perserikatan Bangsa-Bangsa meluncurkan Kerangka Aksi Olahraga untuk Iklim, yang menyerukan para penandatangan untuk mengurangi emisi di sektor ini guna mencapai nol emisi pada tahun 2040.

    Buat Anda, para penggemar sepak bola perlu diketahui ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membuat kegemaran Anda lebih ramah lingkungan.

    Penelitian yang dilakukan oleh Rising Ballers, agensi dan platform media digital sepak bola yang berbasis di Inggris, menemukan bahwa 72persen penggemar sepak bola Gen Z peduli terhadap lingkungan.

    Baca Juga: Mengungkap Jejak Karbon Sepak Bola; Sisi Gelap Olahraga Terpopuler Sejagad

    Selain itu 61persen penggemar sepak bola percaya bahwa sepak bola harus lebih ramah lingkungan.

    Temuan ini juga menunjukkan bahwa 40,2persen penggemar sepak bola muda menduga produksi sampah berkontribusi paling besar terhadap tingginya jejak karbon sepak bola (32,5% transportasi, 18,1% stadion, 9,2% makanan dan minuman).

    Kesadaran dan pendidikan lebih lanjut, termasuk mengenai transportasi ramah lingkungan saat bepergian ke dan dari pertandingan, merupakan cara untuk mendorong upaya kolektif dalam mengurangi jejak karbon sepak bola.

    Penelitian ini juga menunjukkan bahwa ada peluang sponsorship baru bagi merek-merek di lanskap sepak bola yang sadar lingkungan dan terus berkembang:

    54persen penggemar sepak bola muda akan mempertimbangkan untuk membeli merek yang lebih ramah lingkungan dibandingkan pilihan yang umum.

    Baca Juga: Kerja Keras Coldplay untuk Wujudkan Tur yang Ramah Lingkungan

    Hal ini memberikan banyak ruang bagi sponsor untuk memanfaatkan sepak bola konvergensi dengan budaya lain, termasuk keberlanjutan.

    Penggemar sepak bola lebih dari sekadar apa yang terlihat – mereka adalah konsumen yang kompleks dengan banyak kebiasaan dan minat yang melampaui olahraga.

    Memanfaatkan minat ini memberikan portal aktivasi yang menarik bagi merek untuk melibatkan komunitas global yang besar ini.

    Tinjauan masa depan
    Generasi muda membentuk sebagian besar fungsi sepak bola saat ini – mulai dari sponsor merek hingga pengambilan keputusan industri dan konsumsi konten pada hari pertandingan.

    Dengan mempromosikan aktivitas ramah lingkungan dan meningkatkan kesadaran terhadap perubahan iklim kepada penggemar muda, sepak bola memiliki kekuatan untuk mengurangi emisi karbon.

    Baca Juga: Mengenal Konsep Masjid Ramah Lingkungan yang Dikembangkan PP Muhammadiyah

    Langkah ini sekaligus mendorong pencapaian kemajuan menuju target nol emisi dan menjadi lebih ramah lingkungan dalam jangka panjang.

    Lingkungan mempengaruhi sepak bola dengan menyediakan kondisi cuaca dan sumber daya alam yang sesuai seperti lapangan untuk bermain.

    Dampak lingkungan dari sepak bola akan mempengaruhi kemampuannya untuk berfungsi dengan baik di masa depan, jika badan-badan pemerintahan gagal memperhitungkan emisi karbon

    Bagaimana kita bisa menikmati permainan yang indah jika kita tidak peduli terhadap lingkungan yang memungkinkannya berkembang?

    Sumber: earth.org baca artikel asli di sini

  • Kenali 3 Indikator Green Jobs: Tak Hanya Ramah Lingkungan dan Bisa Mencakup Pekerjaan yang Telah Ada Saat Ini

    Kenali 3 Indikator Green Jobs: Tak Hanya Ramah Lingkungan dan Bisa Mencakup Pekerjaan yang Telah Ada Saat Ini

    7cloud.asia – Istilah green jobs semakin populer di Indonesia belakangan ini, masih banyak yang salah mengartikan istilah ini.

    Research and Knowledge Management Manager Coaction Indonesia, Ridwan Arif mengatakan, saat ini masyarakat Indonesia sudah semakin memahami dan tertarik terhadap tren green job.

    Namun, belum semuanya memahami bahwa pekerjaan tradisional pun bisa menjadi green jobs. Menurutnya, green jobs adalah jenis pekerjaan yang ramah lingkungan sekaligus berkelanjutan.

    Menurut organisasi non-profit Coaction Indonesia, ada sedikitnya tiga indikator yang membuat sebuah pekerjaan masuk kategori green jobs.

    “Pertama, melestarikan lingkungan atau mengurangi dampak lingkungan,” ujar Arif dalam paparannya di Festival Energi Terbarukan 2024 yang digelar beberapa waktu lalu.

    Baca Juga: Mengarah ke Ekonomi Hijau Indonesia Membutuhkan Banyak Green Jobs

    Kedua, pekerjaan tersebut layak secara ekonomi. Artinya, dalam menjalankannya seseorang memperoleh pendapatan yang sesuai dengan pekerjaannya, dan cukup untuk menghidupi diri sendiri.

    Ketiga, lantaran green jobs merupakan hasil dari praktik ekonomi hijau (green economy), maka pekerjaan ini juga harus inklusif secara sosial.

    “Green jobs tidak hanya untuk pekerjaan berlatar teknik atau yang mengandalkan energi terbarukan. Jenis pekerjaan apa pun bisa diadaptasi menjadi green job,” imbuh Arif.

    Arif mengatakan, green jobs bisa mencakup banyak bidang. Adapun Coaction Indonesia atau Koaksi Indonesia menyerap definisi green jobs berdasarkan definisi dari organisasi buruh dunia (ILO) pada 2007.

    “Mereka (ILO) mendefinisikan green jobs sebagai pekerjaan yang layak, dan berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan,” ujar Arif.

    Baca Juga: Riset SUMA UI: Mayoritas Mahasiswa Tertarik pada Green Jobs demi Lestarikan Lingkungan

    Dengan definisi itu, green jobs tidak hanya berkutat pada sektor manufaktur, konstruksi, dan energi hijau, seperti energi terbarukan dan transisi energi, namun juga bisa dilakukan oleh pekerja di semua sektor.

    Pada intinya, yang memenuhi sebagai pekerjaan layak, atau tidak eksploitatif secara fiskal dan tidak diskriminatif secara sosial. Selain itu, pekerjaannya berkontribusi untuk kebaikan lingkungan.

    “Misalnya bekerja sebagai desainer pakaian atau desain grafis, ketika produk-produknya menggunakan limbah atau berkampanye tentang lingkungan, mendapatkan bayaran cukup, itu bisa masuk kategori green jobs,” paparnya.

    Seperti yang sudah ditetapkan oleh ILO, green jobs memiliki lima tujuan, yakni melindungi dan memulihkan ekosistem, meningkatkan efisiensi energi dan bahan baku.

    Green jobs juga meminimalkan limbah dan polusi dari proses produksi, membatasi emisi gas rumah kaca, dan mendukung adaptasi terhadap perubahan iklim.

    Baca Juga: Yang Bisa Dilakukan Dunia Pendidikan untuk Penuhi Permintaan Green Jobs

    Selama memenuhi salah satu tujuan dari green jobs yang sudah ditetapkan ILO, berarti suatu sektor atau pekerjaan termasuk dalam kategori green jobs.

    Tren geen jobs.
    Berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), Koaksi Indonesia menghitung akan tercipta setidaknya 432.000 tenaga kerja langsung pada 2030 dan lebih dari 1,12 juta pada 2050.

    Angka tersebut belum termasuk tenaga kerja tidak langsung dan terinduksi. Bappenas dan United Nations Development Programme (UNDP) juga memproyeksikan pekerjaan yang membutuhkan green skills akan membuka peluang hingga 4,4 juta pekerja pada 2030.

    “Kami, Koaksi Indonesia, melihat potensi green jobs dalam bidang energi terbarukan (EBT) cukup besar. Di Indonesia kita punya RUEN, kurang lebih potensi green jobs yang dihasilkan dari EBT tadi 1,1 juta pekerja,” papar Arif.

    Sementara, dari target dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021- 2030, 51,6 persen energi terbarukan setara 20,9 GW menciptakan lebih dari 140.000 tenaga kerja.

    Baca Juga: Mengungkap Jejak Karbon Sepak Bola; Sisi Gelap Olahraga Terpopuler Sejagad

    Sedangkan 48,4 persen energi fosil setara 19,6 GW menciptakan 10.000 tenaga kerja. Artinya, energi terbarukan menciptakan lebih banyak tenaga kerja dibandingkan energi fosil dengan jumlah kapasitas yang hampir sama.

    “Para pekerja di sektor formal dan nonformal bisa beralih menjadi pekerja ramah lingkungan atau green job agar bisa turut serta menanggulangi dampak krisis iklim,” ujar Arif.

    Adapun dengan gencarnya upaya mitigasi perubahan iklim, green jobs bisa menjadi bagian dari upaya tersebut. Ia pun terus mendorong lebih banyak masyarakat untuk beralih ke green jobs.

    Misalnya dengan membuat peta jalan pengembangan keterampilan green job, hingga menginformasikan peluang dan contoh nyata green jobs di berbagai sektor.

    “Sambil mencari peluang untuk menekuni green jobs, penting untuk mempelajari green skills, emisi, atau keterampilan yang mendukung pelestarian lingkungan,” pungkasnya.

    Sumber:Kompas.com

  • Koalisi Masyarakat Sipil: Bencana Ekologis di Sulawesi Selatan Dipicu Kerusakan Hutan di Gunung Latimojong Akibat Konsesi Tambang

    Koalisi Masyarakat Sipil: Bencana Ekologis di Sulawesi Selatan Dipicu Kerusakan Hutan di Gunung Latimojong Akibat Konsesi Tambang

    7cloud.asia – Koalisi Masyarakat Sipil Sulsel Untuk Keadilan Agraria dan Sumber Daya Alam menilai, bencana ekologis yang menelan korban jiwa di Sulawesi Selatan baru-baru ini dipicu kerusakan hutan di area Gunung Latimojong.

    Sementara kerusakan hutan di area Gunung Latimojong berawal dari konsesi tambang yang masuk area Gunung Latimojong.

    “Kondisi inilah yang kemudian memicu bencana ekologis di lima kabupaten di Sulsel dengan bencana banjir dan longsor,” kata Koordinator Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Sulsel, Rizki Angriani Arimbi dikutip Antaranews.com, Rabu (15/5/2024).

    Pekan pertama Mei 2024, banjir dan longsor menerjang beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan yaitu di Kabupaten Luwu, Wajo, Sidrap, Soppeng, Enrekang, Pinrang, Toraja dan Bulukumba.

    Banjir dan longsor terjadi pada hari yang bersamaan di Kabupaten Luwu, Sidrap, Wajo, Enrekang dan Pinrang akibat kerusakan hutan yang terjadi di area Gunung Latimojong.

    Baca Juga: Pengamat Lingkungan Menyayangkan Pemerintah Tak Antisipasi Bencana Ekologis

    Dia mengatakan, dalam kondisi krisis dan kritis, Pemerintah Pusat hingga Provinsi Sulawesi Selatan terus mengoleksi dan mengeluarkan konsesi pengelolaan hutan di wilayah penyangga, termasuk Pegunungan Latimojong.

    Berkurangnya tutupan hutan di bentang Pegunungan Latimojong akibat aktivitas tambang tidak lepas dari keterlibatan pemerintah daerah.

    Rizki kemudian menyebut peristiwa tahun 2015 saat ditangkapnya Kepala Dinas Kehutanan Luwu dan mantan Kepala Desa Mappetajang Kecamatan Bassesangtempe (Bastem).

    Sebagian besar masyarakat, ujarnya, kemungkinan masih mengingat penangkapan orang yang terlibat kasus pemberian izin dan pembalakan hutan lindung tahun 2013.

    Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Sulsel menyebut Kabupaten Luwu, Sidrap, Wajo, Enrekang dan Pinrang memiliki bentangan penyangga yang sama yaitu Pegunungan Latimojong.

    Baca Juga: BNPB Kembangkan Sistem Peringatan Dini Bencana Tanah Longsor Skala Nasional

    Pegunungan Latimojong merupakan gugusan pegunungan Verbeek dengan berbagai keunikan di dalamnya.

    Longsor dan banjir yang terjadi di sejumlah kabupaten dalam bentangan Pegunungan Verbeek Latimojong bukanlah hal yang baru terjadi. Begitu juga di Kabupaten Luwu.

    Tidak ada yang menduga hujan pada malam itu berujung banjir, yang dengan seketika memorakporandakan puluhan desa di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, tepat pukul 01.17 WITA.

    Setidaknya 13 kecamatan terdampak bencana ini, yakni kecamatan Suli, Latimojong, Suli Barat, Ponrang Selatan, Ponrang, Bupon, Larompong, Larompong Selatan, Bajo, Bajo Barat, Kamanre, Belopa, dan Belopa Utara.

    Banjir setinggi 3 meter merendam 3.268 rumah, menghanyutkan 211 rumah, dan empat jembatan, merusak empat ruas jalan penghubung, merobohkan talut sungai sepanjang 50 meter dengan kondisi rusak berat.

    Baca Juga: BRIN: Cuaca Ekstrem Meningkat Signifikan Ini Dampak yang Dirasakan Indonesia

    Dampak kerusakan ribuan unit rumah dan fasilitas publik dengan klasifikasi ringan hingga berat itu melanda 56 desa di 13 kecamatan.

    Tercatat 13 orang meninggal dunia yang mayoritas lansia dan balita warga dari Kecamatan Latimojong dan Suli Barat.

    Sebanyak 3.479 keluarga yang terdampak, 155 jiwa di antaranya terpaksa mengungsi memanfaatkan bangunan masjid dan gedung sekolah terdekat.

    Padamnya jaringan listrik dan telekomunikasi makin menambah penderitaan bagi warga yang masih terisolasi akibat bencana sejak 3 Mei 2024.

    Tragedi di awal Mei 2024 menjadi salah satu bencana yang terbesar dan memilukan. Alam mengingatkan eksplorasi tanpa mengindahkan kelestarian lingkungan akan memicu bencana.

    Sumber: Antaranews.com

  • Seperti Ini Peran Kupu-kupu dan Burung bagi Kelestarian Lingkungan

    Seperti Ini Peran Kupu-kupu dan Burung bagi Kelestarian Lingkungan

    7cloud.asia – Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna mengatakan, keberadaan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan dapat dijadikan sebagai laboratorium alam, tempat menimba ilmu bagi pelajar khususnya bidang biologi.

    Ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan tak hanya menyerap karbon, tapi juga bisa menciptakan ruang atau tempat hidup satwa liar seperti burung dan kupu-kupu. 

    Selanjutnya, satwa liar seperti kupu-kupu dan burung memiliki peran yang sangat penting bagi kelangsungan ekosistem.

    Misalnya, kupu-kupu berperan penting sebagai pollinator, yaitu agen penyerbuk alami bagi bunga shingga terjadi pembuahan.

    Sedangan, burung dapat membantu dalam penyebaran biji (seeds dispersal) dan pengendali hama (biokontrol).

    Selain itu, kupu-kupu dan burung dapat menjadi indikator baik atau tidaknya kualitas lingkungan (bioindikator).

    Baca: Kelas Biodiversitas Belantara Foundation

    Seiring pesatnya pembangunan, kupu-kupu dan burung menghadapi ancaman seperti kehilangan habitat, perburuan dan perdagangan secara ilegal

    “Pencemaran lingkungan, perubahan iklim global, serta kerusakan ekosistem yang berdampak pada produktivitas dan kesehatan habitat mereka,“ ujar Dolly saat membuka Kelas Biodiversitas yang diselenggarakan Belantara Foundation pada Sabtu (18/5/2024) lalu.

    Dalam kesempatan sama, Pendiri komunitas KupuKita, Nurul L. Winarni mengatakan pihaknya terus mengajak dan mendorong masyarakat terutama generasi muda untuk terlibat dalam pendataan kupu-kupu yang ada di sekitar mereka.

    “Kami terus mendorong gerakan citizen science kupu-kupu, Sebuah kegiatan kerja ilmiah yang dilakukan masyarakat secara menyenangkan dengan dampingan ilmuwan profesional atau lembaga ilmiah” kata Nurul yang juga sebagai Head of Service and Development/Research Scientist Research Center for Climate Change Universitas Indonesia.

    Kelas Biodiversitas ini diselenggarakan di Taman Heulang Bogor, Jawa Barat dan diikuti siswa dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi.

    Baca: Upaya memetakan populasi kupu-kupu di Jakarta

    Dolly yang juga​ anggota Commission on Ecosystem Management IUCN mengatakan,  Taman Heulang dipilih menjadi lokasi kegiatan karena merupakan taman terluas yang ada di Kota Bogor.

    Taman Heulang memiliki luas lebih kurang 2,8 hektare yang awalnya hanya dijadikan sebagai lapangan bola dan tidak terurus.

    Pemerintah Kota Bogor merevitalisasi lapangan tersebut menjadi sebuah taman pada 2015 sehingga menjadi salah satu ruang terbuka hijau di kota Bogor.

    ”Sangat penting dilakukan pendataan potensi biodiversitas seperti jenis-jenis tumbuhan, burung dan kupu-kupu sebagai bahan monitoring dan evaluasi untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di taman tersebut” ujar Dolly, yang juga pengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan.

    Baca: Sensus burung di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat

    Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni, dkk. pada 2018,  terdapat setidaknya 17 jenis burung yang berhasil dijumpai di Taman Heulang.

    Data tersebut perlu dilakukan pemutakhiran setiap waktu untuk mengetahui apakah terjadi perubahan terhadap keberadaan jumlah jenis burung tersebut.

    Sementara berdasarkan hasil pengamatan pada Sabtu lalu, didapatkan 15 jenis burung dan 16 jenis kupu-kupu.

    Dari 15 jenis burung yang berhasil diidentifikasi, terdapat satu jenis burung, yaitu burung kipasan belang (Rhipidura javanica) yang masuk ke dalam kategori burung yang dilindungi oleh Permen LHK No.106 tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

    Berdasarkan status keterancaman, terdapat satu jenis burung, yaitu burung kacamata biasa (Zosterops melanurus) masuk ke dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) yang berstatus rentan terhadap kepunahan atau Vulnerable (VU).

    Baca: Sensus burung di Ancol, Jakarta Utara

     

  • Kebijakan Transisi Energi Setengah Hati Pemerintahan Jokowi: Target Bauran Energi Terbarukan Justru Diturunkan

    Kebijakan Transisi Energi Setengah Hati Pemerintahan Jokowi: Target Bauran Energi Terbarukan Justru Diturunkan

    7cloud.asia – Menjelang berakhirnya masa pemerintahannya pada Oktober 2024, program transisi energi Presiden Joko Widodo belum mencapai target ditetapkan.

    Target bauran energi baru-terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025 diperkirakan tidak akan tercapai. Pasalnya pada 2023 lalu, bauran energi terbarukan baru mencapai 12,8 persen.

    Sayang bukannya menggeber pencapaian, Pemerintah justru menurunkan target energi terbarukan menjadi 17 persen pada 2025.

    Kendati diturunkan, target energi terbarukan itupun dinilai sulit tercapai mengingat masa kerja efektif pemerintah tinggal lima bulan lagi.

    Pengamat Ekonomi Energi UGM, Dr. Fahmy Radhi, M.B.A., salah satu penyebab tidak tercapainya target energi terbarukan karena kebijakan transisi energi setengah hati.

    Bahkan kebijakan tersebut cenderung kontradiktif dengan percepatan program transisi energi menuju energi terbarukan.

    Baca: Mengapa transisi energi di Indonesia berjalan lamban

    “Salah satunya, Pemerintah masih menoleransi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara,” katanya di Kampus UGM, Senin (13/5/2024) seperti dikutip ugm.ac.id

    Data pada akhir 2020 menunjukkan bauran energi primer untuk Pembangkit Listrik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) masih didominasi oleh batu bara yakni sebesar 57,22 persen.

    Kemudian disusul energi gas 24,82 persen, dan BBM 5,81 persen. Sementara itu, porsi energi baru-terbarukan baru mencapai sebesar 12,15 persen.

    Untuk mempercepat program transisi energi tersebut, kata Fahmy, PT Pertamina dan PLN sesungguhnya sudah melakukan berbagai upaya pengembangan energi baru-terbarukan.

    Sayang, hasil pengembangan proyek ini masih sangat minim.

    Baca: Ini yang harus dilakukan Indonesia untuk mempercepat transisi energi

    Program bio-diesel dan gasifikasi batu bara Pertamina mengalami kegagalan setelah partner dari Italia dan USA hengkang dari Indonesia.

    Pengembangan bio-diesel merupakan program energi baru-terbarukan berbasis sawit juga berpotensi bertabrakan dengan program pangan untuk menghasilkan minyak goreng.

    Berbeda dengan Pertamina, Program PLN dalam pengembangan EBT relatif berhasil.

    PLN telah menyelesaikan 28 pembangkit energi baru-terbarukan baru, program dedieselisasi dengan pembangunan jaringan transmisi dan jaringan distribusi.

    PLN juga telah mengembangkan hidrogen hijau pada tahun 2023.

    Baca: PLN diminta tak halangi pengembangan pembangkit tenaga surya

    Salah satu upaya transisi energi yang paling fenomenal yakni diresmikannya proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung Cirata dengan kapasitas 192 megawatt peak (MWp).

    “Meski begitu program pensiun dini PLTU batu bara belum tuntas lantaran kesulitan penyediaan dana dan teknologi,” terangnya.

    Sebagai pengamat, Fahmy berharap Presiden terpilih Prabowo Subianto harus berani merombak kebijakan transisi energi Jokowi setengah hati yang kontradiktif dengan percepatan program transisi energi.

    Salah satunya mewajibkan pengolahan batu bara yang merupakan energi kotor menjadi energi bersih.

    “Selain itu, Pemerintah harus memberikan kemudahan dan insentif bagi investor dalam pengembangan EBT di Indonesia. Tanpa perubahan kebijakan itu, jangan harap target zero carbon pada 2060 dapat dicapai,” paparnya.

  • Demi Lindungi Kadal Langka, Penambangan Migas di Texas Barat Ditangguhkan

    Demi Lindungi Kadal Langka, Penambangan Migas di Texas Barat Ditangguhkan

    Foto:endangered.org

    7cloud.asia – Pejabat federal Amerika Serikat (AS) bidang satwa liar pada Jumat (17/5/2024) menetapkan kadal langka di bagian tenggara New Mexico dan Texas Barat sebagai spesies yang terancam punah.

    Mereka juga menyebut pengembangan energi di masa depan, penambangan pasir dan perubahan iklim, sebagai ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup spesies reptil yang hidup di salah satu cekungan minyak dan gas alam yang paling menguntungkan di dunia.

    “Kami telah menetapkan bahwa kadal semak-semak bukit pasir berada dalam bahaya kepunahan di seluruh wilayah jelajahnya,” kata Dinas Perikanan dan Margasatwa AS.

    Dinas itu menyimpulkan bahwa kadal langka tersebut sudah “punah secara fungsional” di 47 persen wilayah jelajahnya.

    Menurut para ahli biologi, sebagian besar habitat kadal berwarna coklat muda berduri berukuran 6,5 sentimeter, yang tersisa telah terfragmentasi, sehingga menghalangi spesies tersebut untuk menemukan pasangan selain yang sudah tinggal di dekatnya.

    Baca Juga: Jelang Hari Keanekaragaman Hayati: Lebih dari 44.000 Spesies Terancam Punah dari Muka Bumi.

    “Bahkan jika tidak ada perluasan lebih lanjut dari industri pertambangan minyak dan gas atau pasir, jejak yang ada dari operasi ini akan terus memberikan dampak negatif terhadap kadal bukit pasir di masa depan,” kata badan tersebut dalam keputusan akhirnya, yang diterbitkan di Daftar Federal.

    Keputusan tersebut mengakhiri perselisihan hukum dan peraturan selama dua dekade antara pemerintah AS, aktivis lingkungan hidup, dan industri minyak dan gas (migas).

    Para pemerhati lingkungan menyambut baik langkah tersebut, sedangkan para pemimpin industri mengecam tindakan tersebut sebagai ancaman terhadap produksi bahan bakar fosil di masa depan.

    Keputusan ini memberikan “nyawa untuk bertahan hidup” bagi spesies unik yang “satu-satunya kesalahannya adalah menempati habitat yang selama ini ingin dihilangkan oleh industri bahan bakar fosil,” kata Bryan Bird, direktur Pembela Margasatwa Southwest.

    “Kadal semak belukar bukit pasir menghabiskan waktu terlalu lama mendekam di kotak Pandora yang penuh dengan politik dan administrasi, bahkan ketika populasinya terjun bebas menuju kepunahan,” kata Bird dalam sebuah pernyataan.

     

    Baca Juga: Hari Spesies Terancam Punah, Kapan dan Mengapa Diperingati?

    Asosiasi Minyak Cekungan Permian (Permian Basin Petroleum Association/PEPA) dan Asosiasi Minyak dan Gas New Mexico (New Mexico Oil & Gas Association/NMOGA) menyatakan kekecewaannya.

    Kedua asoasiai itu mengatakan bahwa penetapan itu tidak sejalan dengan ilmu pengetahuan yang tersedia dan mengabaikan upaya konservasi yang telah lama disponsori negara di lahan seluas ratusan ribu hektar dan komitmen jutaan dolar di kedua negara bagian tersebut.

    “Penetapan itu tidak akan memberikan manfaat tambahan bagi spesies dan habitatnya, tetapi dapat merugikan mereka yang tinggal dan bekerja di wilayah tersebut,” Presiden PBPA Ben Shepperd dan Presiden dan CEO NMOGA Missi Currier mengatakan dalam pernyataan bersama.

    Shepperd menambahkan bahwa mereka memandang tindakan pemerintah federal itu melampaui batas yang dapat merugikan masyarakat.

    Para ilmuwan mengatakan kadal ini hanya ditemukan di Cekungan Permian, wilayah terkecil kedua di antara kadal di Amerika Utara.

    Baca Juga: Ilmuwan AS Gunakan Tanaman dan Jamur untuk Membersihkan Polusi Tanah

    Reptil ini hidup di bukit pasir dan di antara pohon ek, tempat mereka memakan serangga dan laba-laba, dan bersembunyi di pasir untuk perlindungan dari suhu ekstrem.

    Dinas Perikanan dan Margasatwa mengatakan dalam keputusan pada Jumat bahwa perjanjian tersebut “telah memberikan, dan terus memberikan, banyak manfaat konservasi” bagi kadal.

    Namun “berdasarkan informasi yang kami ulas dalam penilaian kami, kami menyimpulkan bahwa risiko kepunahan bagi kadal bukit pasir tetap tinggi meskipun ada upaya ini.”

    Antara lain, jaringan jalan akan terus membatasi pergerakan dan memfasilitasi tingkat kematian langsung kadal semak belukar di bukit pasir akibat lalu lintas, tambahnya.

    Di sisi lain, pembangunan industri “akan terus memberikan dampak buruk terhadap habitat di sekitarnya dan melemahkan struktur formasi bukit pasir. “

    Sumber: VOA Indonesia