Energi Terbarukan Gencar Dikampanyekan, Ini Dampak Sosialnya

Written by

in

7cloud.asia – Industri energi terbarukan telah mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam dekade terakhir, terutama didorong oleh kemajuan infrastruktur tenaga angin dan surya.

Peningkatan energi terbarukan ini tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan tetapi juga meningkatkan ketahanan jaringan listrik dan mendukung pembangunan ekonomi terbarukan di masa depan.

Pengembangan energi terbarukan ideal dilakukan di negara-negara dengan tarif listrik rendah, yang cenderung memiliki jam sinar matahari tinggi seperti Indonesia.

Negara dengan sinar matahari melimpah merupakan kandidat sempurna untuk pengembangan jaringan energi bertenaga surya yang terdesentralisasi.

Pengembangan energi terbarukan juga dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

Baca Juga: Mengenal Hidrogen Hijau: Manfaatnya untuk Transisi Energi yang Ramah Lingkungan

Inisiatif energi terbarukan menawarkan kesempatan kerja yang memprioritaskan kesejahteraan masyarakat dan membekali pekerja dengan keterampilan yang dapat ditransfer ke pasar tenaga kerja yang berkelanjutan.

Pemanfaatan energi terbarukan telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2022, masyarakat menghasilkan lebih dari 8.000 terawatt jam energi terbarukan.

Hal ini menunjukkan peningkatan energi terbarukan hingga 198 persen sejak tahun 2000 dan sebagian besar disebabkan oleh perbaikan infrastruktur energi terbarukan, yang telah meningkatkan jumlah energi terbarukan.

Inisiatif untuk meningkatkan efisiensi energi dan beralih ke energi terbarukan bukan hanya kabar baik untuk planet Bumi, tapi juga mempunyai fungsi sosial yang penting.

Jika dimanfaatkan dengan benar, energi terbarukan akan meningkatkan ketahanan jaringan listrik dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Ini yang Harus Dilakukan Indonesia Jika Ingin Maksimal Manfaatkan Energi Surya

Inisiatif energi terbarukan akan menciptakan lapangan kerja tanpa mengganggu kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di masa depan.

Hal ini merupakan kuncinya, karena banyak bentuk ekstraksi energi tradisional yang dapat merugikan ekosistem lokal sekaligus merusak kesehatan jangka panjang.

Sebut saja, para penambang dan pekerja minyak yang tidak berkarir di bidang energi terbarukan energi mempersiapkan pekerja untuk masa depan.

Pengembangan energi terbarukan juga menghasilkan keterampilan yang dapat diterapkan yang akan bermanfaat bagi mereka di pasar tenaga kerja yang lebih luas.

Pengembangan energi terbarukan juga akan menciptakan kesetaraan akses ke energi listrik yang selama ini timpang.

Baca Juga: Mengenal Sistem RDF, Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan

Abad yang lalu didominasi oleh isu-isu seputar ketimpangan energi. Secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut, negara-negara dengan akses energi yang dapat diandalkan telah menjadi makmur.

Sementara negara-negara yang belum memiliki masa depan energi yang terjamin harus menanggung kesulitan yang terkait dengan pemadaman listrik dan akses yang tak memadai terhadap listrik.

Hal ini dikuatkan oleh data yang dihimun Laporan Kemajuan Energi Bank Dunia tahun 2023, yang menunjukkan bahwa negara-negara dengan produk domestik bruto (PDB) per kapita rendah, seperti Burundi, Chad, dan Niger, memiliki akses yang buruk terhadap listrik.

Energi terbarukan dapat membantu mengatasi kesetaraan energi dengan memfasilitasi penciptaan sistem energi yang terdesentralisasi.

Baca Juga: Fakta Emisi CO2 Global: Emisi dari Energi Fosil Cetak Rekor Tapi Banyak Negara Sukses Turunkan Emisi

Desentralisasi sistem energi berarti produsen energi menempatkan fasilitas mereka lebih dekat dengan lokasi di mana energi akan digunakan dan biasanya berhubungan dengan sumber energi terbarukan.

Hal ini ideal bagi negara-negara dengan tarif listrik rendah, yang cenderung memiliki jam sinar matahari tinggi dan merupakan kandidat sempurna untuk jaringan energi bertenaga surya yang terdesentralisasi.

Pendekatan ini juga dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

Artikel ini telah terbit di earth.org, Penulis: Charlie Fletcher, penulis freelance yang aktif dalam berbagai aktifitas sosial.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *