Tag: lingkungan

  • Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Kabupaten Banyuwangi Galakkan Penanaman Cemara Laut, Ini Alasannya

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Kabupaten Banyuwangi Galakkan Penanaman Cemara Laut, Ini Alasannya

    7cloud.asia – Pohon cemara laut atau Casuarina equisetifolia sering menjadi pilihan untuk menghijaukan kawasan pesisir pantai.

    Berdasarkan penelitian, pohon cemara laut dewasa mampu menyerap karbon hingga 394 kilogram karbondioksida per pohon per tahun.

    Sehingga penanaman pohon cemara ini bisa mendukung upaya pengurangan emisi untuk mencapai target nol emisi pada 2050.

    Selain itu penanaman pohon cemara laut di pinggir pantai juga dapat mencegah terjadinya abrasi semakin meluas.

    Pohon cemara laut juga menjadi pilihan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk menghijaukan kawasan Pantai Grand Watu Dodol, pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024 Rabu (5/6/2024).

    Baca: PLN gandeng komunitas bersihkan Sungai Ciliwung di Hari Lingkungan Hidup Sedunia

    Dalam kesempatan itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani bersama seratusan pelajar dan pegiat lingkungan hidup melakukan aksi penanaman pohon cemara laut

    “Semoga peringatan ini menjadi momentum bagi kita semua untuk memulai perilaku dan gaya hidup yang lebih memperhatikan lingkungan, kita hanya punya satu bumi, maka bersama-sama harus kita jaga bumi ini dan mulai dari diri kita dan menularkan ke sekeliling kita,” katanya sebelum memulai menanam ratusan pohon cemara laut.

    Ipuk berharap, momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini bisa meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kelestarian lingkungan, mulai bijak mengelola sampah hingga isu perubahan iklim.

    Salah satu tindakan menjaga lingkungan yang dilakukan Banyuwangi, yakni dengan melakukan pengolahan sampah berbasis sirkular.

    “Kami terus menggalakkan berdirinya tempat pengolahan sampah terpadu (3R) seiring dengan tumbuhnya perilaku masyarakat untuk memilah sampah. Bahkan ada 3 TPST di Banyuwangi yang akan mengolah sampah menjadi bahan RDF untuk bahan bakar industri semen,” katanya.

    Baca: Pesan Save The Children di Hari Lingkungan Hidup Sedunia

    Kabupaten Banyuwangi ditunjuk Pemerintah Provinsi Jatim menjadi tuan rumah peringatan Hari Lingkungan Hidup 2024 se-Jawa Timur.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemprov Jawa Timur, Jempin Marbun mengatakan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Indonesia diperingati secara serentak di seluruh daerah.

    “Di wilayah Jawa Timur kami pilih Banyuwangi sebagai tuan rumah dengan berbagai pertimbangan program-program yang telah dimilikinya. Hari ini kami menanam 250 pohon cemara laut,” ujarnya.

    Berdasarkan konferensi Paris 2015, kata Marbun, seluruh negara di dunia sepakat mencapai nol emisi. Indonesia menargetkan bisa mencapai nol emisi pada 2050.

    “Untuk mendukung hal ini, banyak yang dilakukan di wilayah Jatim, mulai reboisasi di lahan gundul, penanaman pohon di pesisir pantai dan sebagainya,” katanya.

    Dalam kesempatan itu, juga digelar pelatihan budi daya terumbu karang dan lobster yang diikuti ratusan warga yang tergabung dalam sejumlah kelompok sadar wisata atau pokdarwis.

    Sumber:Antaranews.com

  • Lokalogi, Komunitas Mahasiswa UGM Peduli Lingkungan

    Lokalogi, Komunitas Mahasiswa UGM Peduli Lingkungan

    7cloud.asia – Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day 2024 pada 5 juni, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pramuka UGM mendirikan komunitas peduli sampah bernama LokaLogi.

    Komunitas Lokalogi merupakan salah satu upaya untuk merespon isu lingkungan dan pengelolaan sampah sesuai dengan kapasitas mahasiswa.

    Ketua komunitas LokaLogi UGM, Yudhistira Wiranusa Sumantri mengatakan, LokaLogi dibentuk tidak hanya sebagai komunitas saja, melainkan juga sebagai wadah bagi komunitas lainnya untuk menyelesaikan masalah pengelolaan sampah

    Lokalogi ini berembrio dari unit kegiatan mahasiswa (UKM) pramuka yang telah ada sebelumnya.

    “UKM Pramuka UGM menyadari bahwa mahasiswa turut berperan besar dalam memunculkan inovasi dan aksi nyata untuk isu sampah,” katanya dalam keterangan yang dikirim ke wartawan, Selasa (11/6/2024).

    Baca Juga: Aksi Keren Anak Muda Bandung Bernama Pandawara: Nyebur Sungai Angkut Sampah

    Ia menerangkan bahwa kegiatan utama LokaLogi dalam rangka ikut mensosialisasikan dan memberikan solusi pengelolaan sampah kepada masyarakat, seperti reuse dan recycle untuk menunda penumpukan sampah dan melakukan pengelolaan sampah secara lebih baik.

    Selain itu, Lokalogi membuka kerja sama dan kolaborasi aktif dengan organisasi lainnya dalam kampanye isu sampah dan lingkungan.

    Yudhistira menyebutkan, nilai-nilai yang diterapkan dalam organisasi sebenarnya cukup sederhana.

    Dijelaskan oleh Yudhistira, anggota komunitas LokaLogi setidaknya akan hadir dalam tiga hal. Pertama, storytelling atau penceritaan dari praktik internal.

    Kedua, memberikan layanan event waste management atau pengelolaan sampah di suatu acara, di lingkungan UGM dan kepramukaan.

    Baca Juga: Kampanye Kurangi Sampah The Rising Tide Kembali Hadir, Tempuh Jarak 3.141 Kilometer Secara Quadrathlon

    Terakhir, LokaLogi sebagai kanal media edukasi pada isu”lingkungan, serta penjangkauan kolaborasi.

    Praktik-praktik waste management, ujar Yudhistira, bakal dirancang sesederhana mungkin agar mudah dimengerti oleh siapa saja, termasuk masyarakat.

    ”Nantinya, komunitas ini menjadi wadah bagi mahasiswa dalam berperan aktif merespons isu sampah,” ujarnya.

    Peluncuran komunitas LokaLogi pada Rabu, 5 Mei lalu di Balairung Gedung Pusat UGM dihadiri sejumlah sivitas akademika UGM dan wakil organisasi lingkungan di Kota Yogyakarta.

  • Tur Rumah Ibadah Greenfaith di Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Agama Ajarkan Cintai Lingkungan dan Muliakan Bumi

    Tur Rumah Ibadah Greenfaith di Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Agama Ajarkan Cintai Lingkungan dan Muliakan Bumi

    7cloud.asia – Dalam rangkaian Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2024, GreenFaith Indonesia melaksanakan kegiatan Tur Rumah Ibadah dengan berkunjung dan berdialog ke Rumah Ibadah enam agama di Indonesia.

    Dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia, Tur Rumah Ibadah ini bertujuan untuk menghadirkan model dan inovasi bagaimana agama-agama di Indonesia berkontribusi dalam krisis iklim dengan aksi nyata bagi lingkungan.

    Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, Hening Parlan mengatakan bahwa rumah ibadah merupakan potret sebuah agama dalam merawat lingkungan.

    “Di dalamnya bukan hanya digunakan sebagai rumah untuk berkomunikasi dengan Tuhan dengan ritual ibadah, namun juga sebagai pusat atau sumber pengetahuan serta contoh baik dari aksi agama dalam melaksanakan perintah Tuhan,“ ujarnya.

    Melalui Tur Rumah Ibadah ini, Hening berharap, para peserta dapat saling bertukar pengetahuan tentang bagaimana agama mengajarkan mencintai lingkungan dan memuliakan bumi.

    Baca Juga: Greenfaith Ajak Anak Muda Lakukan Aksi Nyata Atasi Krisis Iklim

    Juga bagaimana agama bisa memberikan pengetahuan untuk umatnya melakukan tindakan menyelamatkan bumi.

    Merespon krisis iklim saat ini, GreenFaith Indonesia sebagai sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang lingkungan dan bekerja sama dengan lintas agama dan kepercayaan melakukan berbagai kegiatan dengan merujuk pada nilai-nilai dan perintah agama sebagai upaya untuk menjaga dan merawat lingkungan.

    Nilai-nilai yang terkandung pada ayat-ayat di dalam kitab suci bukan untuk sekedar bacaan dengan lantunan indah tapi harus dimaknai dan diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan sehari–hari.

    Kegiatan Tur Rumah Ibadah dilaksanakan selama 2 hari, yakni pada Sabtu-Minggu, 8-9 Juni 2024.

    Hari pertama lokasi kunjungan Tur ini, dimulai dari kunjungan ke Pura Adhitya Jaya – Rawamangun, kemudian ke GIPB Paulus – Taman Sunda Kelapa, dan diakhiri dengan kunjungan ke Yayasan Buddha Tzu Chi – Pantai Indah Kapuk.

    Baca Juga: Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Sekjen PBB Ingatkan Dunia Menjauh dari Penurunan Emisi

    Hari kedua, rute Tur dimulai dari kunjungan ke Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah – Menteng Raya, kemudian ke Masjid Istiqlal – Jakarta Pusat, kemudian ditutup dengan doa bersama di Klenteng Hok Tek Tjeng Sin – Jakarta Selatan.

    Pinandita Pengayah Pura Adhitya Jaya, I Gde Wiyadnya, mengatakan bagi umat Hindu, alam semesta adalah refleksi manusia itu sendiri.

    Ia memaparkan, semua yang ada di alam semesta terdiri dari 5 elemen atau yang disebut dengan Panca Mahabhuta.

    ”Yakni elemen pertiwi, udara, cairan, ruang, dan panas. Kalau kelima elemen tersebut di alam semesta ada yang terganggu maka akan berpengaruh ke diri kita, begitu pun sebaliknya,” ungkapnya.

    Untuk menjaga keseimbangan elemen Panca Mahabhuta, urai Gde, dibutuhkan Tri Hita Karana, di mana manusia perlu menjaga hubungan baik dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam.

    Baca Juga: Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024: Upaya Dunia untuk Merestorasi Lahan dan Melawan Penggurunan

    Konsep Tri Hita Karana kemudian diadopsi ketika membangun rumah ibadah.

    “Kita menjaga tempat ibadah kita sebisa mungkin mendekati alam semesta. Oleh sebab itu bangunan Pura terbuka, kita tanam pohon, dan umumnya memiliki sumber air,” imbuhnya.

    Bangunan Pura, jelas Gde, terdiri dari 3 zona, Nista atau teras yang berada di luar, Madya atau ruang tengah, dan Utama atau ruang khusus peribadatan.

    Selain difungsikan secara vertikal, atau hanya untuk peribadatan kepada Tuhan, Pura juga dapat berfungsi secara horizontal atau untuk kegiatan sosial antar sesama,

    “Seperti kunjungan GreenFaith saat ini kita menggunakan Pura di zona bagian madya,” terangnya.

  • Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Konsep Mencintai Lingkungan yang Diterapkan Enam Agama di Indonesia

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Konsep Mencintai Lingkungan yang Diterapkan Enam Agama di Indonesia


    7cloud.asia – Dalam rangkaian Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2024, GreenFaith Indonesia melaksanakan kegiatan Tur Rumah Ibadah dengan berkunjung dan berdialog ke Rumah Ibadah enam agama di Indonesia.

    Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, Hening Parlan mengatakanToleransi umat beragama di Indonesia tidak cukup hanya dipelajari melalui buku dan dialog panjang di media, tetapi pengalaman belajar langsung dalam rumah ibadah tentang iklim menjadi salah satu kunci mempererat umat lintas agama.

    Krisis iklim tidak mengenal perbedaan agama, karena itulah tanggung jawab untuk mencegah semakin buruknya dampak, menjadi milik semua umat.

    GreenFaith Indonesia, sebagai organisasi nirlaba internasional bekerja dengan kelompok multi agama dengan fokus pada pendidikan tentang keadilan iklim dari perspektif agama berbeda dan melakukan kampanye agar umat melakukan aksi nyata merawat alam.

    Kegiatan Tur Rumah Ibadah dilaksanakan selama 2 hari, yakni pada Sabtu-Minggu, 8-9 Juni 2024.

    Hari pertama lokasi kunjungan Tur ini, dimulai dari kunjungan ke Pura Adhitya Jaya – Rawamangun, kemudian ke GIPB Paulus – Taman Sunda Kelapa, dan diakhiri dengan kunjungan ke Yayasan Buddha Tzu Chi – Pantai Indah Kapuk.

    Baca: Tur Rumah Ibadah Hari Lingkungan Hidup Sedunia, agama ajarkan mencintai Bumi

    Hari kedua, rute Tur dimulai dari kunjungan ke Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah – Menteng Raya, kemudian ke Masjid Istiqlal – Jakarta Pusat, kemudian ditutup dengan doa bersama di Klenteng Hok Tek Tjeng Sin – Jakarta Selatan.

    Pinandita Pengayah Pura Adhitya Jaya, I Gde Wiyadnya, mengatakan bagi umat Hindu, alam semesta adalah refleksi manusia itu sendiri.

    “Semua yang ada di alam semesta terdiri dari 5 elemen atau kami sebut Panca Mahabhuta, yakni elemen pertiwi, udara, cairan, ruang, dan panas. Kalau kelima elemen tersebut di alam semesta ada yang terganggu maka akan berpengaruh ke diri kita, begitu pun sebaliknya,” ungkapnya.

    Untuk menjaga keseimbangan elemen Panca Mahabhuta, urai Gde, dibutuhkan Tri Hita Karana, di mana manusia perlu menjaga hubungan baik dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam.

    Konsep Tri Hita Karana kemudian diadopsi ketika membangun rumah ibadah umat Hindu.

    Baca: Greenfaith Indonesia ajak anak muda aktif dalam aksi lingkungan

    Di GPIB Paulus, Rommi Matheos selaku Pendeta GPIB Paulus, menjelaskan iman Kristen meyakini bahwa dunia ini adalah ciptaan Tuhan, yang diciptakan selama 6 hari.

    Di mana hari ke 7 manusia diminta untuk istirahat, atau tidak bekerja atau disebut dengan hari Sabat.

    “Tuhan ingin supaya manusia tidak hanya bekerja tetapi juga harus mengistirahatkan diri dan memperhatikan bumi, di sinilah tumbuh kesadaran untuk kita menyelamatkan lingkungan,” ungkapnya.

    Terkait konsep ajaran keselamatan itu sendiri, lanjut Pendeta Mattheos, Tuhan memerintahkan upaya memelihara ciptaanNya, adalah untuk keselamatan dunia dan alam.

    Sebagai langkah nyata dari ajaran Iman Kristen, Gereja GPIB Paulus menjalankan program layanan Gerakan Masyarakat dan Lingkungan atau Germasa sebagaimana diputuskan di persidangan Sinode yang diselenggarakan tiap tahun.

    “Di GPIB Paulus kami ketika beribadah sudah tidak lagi pakai kertas, namun mulai paperless, dan kami sediakan tempat sampah pilah agar jemaat mampu memilah sampah sesuai jenisnya,” ungkap Pendeta Mattheos.

    Baca: Mengenl konsep masjid ramah lingkungan yang dikembangkan Muhammadiyah

    Di Gedung Yayasan Buddha Tzu Chi, Juny Leong Min Wu, Relawan insan Buddha Tzu Chi, menceritakan sejarah, nilai ajaran, serta kiprah Madzhab Tzu Chi di Indonesia dalam bidang pendidikan, sosial, kemanusiaan, hingga lingkungan hidup.

    Tokoh penggerak Madzhab Tzu Chi yakni Master Cheng Yen, merupakan seorang Bhikkhuni atau pemimpin agama Buddha perempuan asal Taiwan.

    Inspirasi ‘Hidup berdampingan dengan bumi’ menjadi nilai ajaran Master Cheng Yen terkait pelestarian lingkungan.

    Sudah sejak 1990, insan Tzu Chi melakukan pemilahan dan mengelola sampah menjadi barang berguna.

    “Mengubah sampah menjadi emas, dan emas menjadi cinta kasih, adalah semangat yang diajarkan Master Cheng Yen,” kata Juny.

    Persoalan sampah harus diatasi bersama dan menjadi tanggung jawab setiap orang dan relawan Tzu Chi aktif aktif mengedukasi masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah dan daur ulang di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi.

    Baca: Hari lingkungan hidup sedunia: upaya dunia melawan penggurunan

    Di hari kedua kegiatan Tur Rumah Ibadah, peserta belajar tentang aksi nyata mewujudkan keadilan iklim lewat energi terbarukan di Gedung Dakwah Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang sudah menggunakan solar atap sebagai sumber energi alternatifnya.

    “Langkah nyata ini mampu mengurangi biaya pemakaian listrik dari fosil. Jika solar panelnya berfungsi secara maksimal, biaya pengeluaran listrik per bulannya bisa lebih hemat Rp15 juta, dari yang biasanya lebih dari Rp40 juta per bulan,” ungkap Hening, Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

    Gerakan Muhammadiyah dilandasi oleh spirit yang termaktub dalam Al Maun termasuk dalam gerakan melestarikan lingkungan.

    Al Maun, ujar Hening, adalah salah satu surat di dalam Al Quran yang menjadi spirit gerakan Muhammadiyah untuk memperhatikan dan menyantuni saudara-saudara kita yang fakir, miskin, dan yatim.

    Kini berkembang menjadi ‘Green Al Maun’, di mana Muhammadiyah melihat fakir, miskin, dan yatim akibat terdampak krisis iklim,” kata Hening.

    Muhammadiyah memiliki Majelis Lingkungan Hidup sejak 18 tahun lalu, dengan harapan Muhammadiyah berkontribusi menyadarkan umatnya untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

    Baca: Hari Lingkungan Hidup Sedunia, dunia diingatkan dampak perubahan iklim pada anak-anak

    Tidak hanya solar atap, gedung ini juga memiliki saluran pengelolaan air limbah yang digunakan kembali untuk menyiram tanaman dan kendaraan.

    Pengetahuan tentang energi peserta semakin bertambah dari kunjungan ke Masjid Istiqlal. Masjid terbesar di Asia Tenggara ini dilengkapi dengan solar atap berkekuatan lebih dari 15 kilowatt peak yang memasok 16% kebutuhan listrik masjid.

    Pemanfaatan solar atap di gedung Masjid Istiqlal ini sudah berlangsung sejak 2019 lalu dengan sistem on grid atau terhubung dengan saluran listrik dari PLN.

    Saparwadi, Kepala Humas dan Protokol Badan Pengelola Masjid Istiqlal menyampaikan bahwa pada tahun 2022, Masjid Istiqlal telah mendapatkan penghargaan Green Mosque pertama di dunia dari International Finance Corporation (IFC).

    “Bangunan Masjid Istiqlal Jakarta yang memiliki luas 4 hektar dan tanah 9,6 hektar ini, kini sudah menggunakan 504 solar panel yang alhamdulillah telah membantu menghemat anggaran hingga 100 juta rupiah dari total rata-rata 200 juta rupiah perbulannya,” ungkap Saparwadi.

    Selain pemanfaatan energi matahari, Masjid Istiqlal juga melakukan konservasi air dengan cara menghemat jumlah debit air wudhu yang keluar dan mengolahnya kembali untuk digunakan menyiram pohon dan tanaman di area masjid.

    Dari Masjid Istiqlal, peserta bertemu Romo Pandita Mettiko, di Klenteng Hok Tek Tjeng Sin / Wihara Amarvabhumi.

    Klenteng yang sudah berusia lebih dari 100 tahun ini bertahan di tengah gedung-gedung pencakar langit di tengah kota Jakarta. Sebuah bukti nyata bagaimana kehidupan duniawi harus diimbangi hubungan manusia dengan Tian / Tuhan dan alam sekitar yang terus menerus berubah.

    “Manusia yang memelihara bumi, ia menyediakan jalan ke surga. Lingkungan yang bersih dan lestari akan nyaman ditinggali bagi semua, namun jika rusak maka kita semua terkena dampaknya,“ ungkap Romo Pandita Mettiko.

    “Kalau kita tidak bersaudara dalam iman, kita masih bisa bersaudara dalam kemanusiaan, mari bersama-sama kita rawat lingkungan hidup kita,” imbuhnya.

  • Agar Lebih Ramah Lingkungan, Warga Tangerang Diimbau Hindari Penggunaan Kantong Plastik Sekali Pakai Tuk Bungkus Daging Kurban

    Agar Lebih Ramah Lingkungan, Warga Tangerang Diimbau Hindari Penggunaan Kantong Plastik Sekali Pakai Tuk Bungkus Daging Kurban

    7cloud.asia – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang, Banten, mengimbau panitia kurban dan masyarakat tidak menggunakan kantong plastik sekali pakai sebagai wadah daging kurban.

    Selain mencemari lingkungan, kantong plastik sekali pakai juga bisa mengontaminasi daging kurban yang dibagikan.

    Alasannya, kantong plastik sekali pakai mengandung zat karsinogen dan berbahaya bagi kesehatan.

    “Masyarakat dapat menggunakan alternatif pembungkus daging ramah lingkungan atau membawa wadah sendiri yang terbuat dari bahan ramah lingkungan saat mengambil atau mengantarkan hak atas hewan kurban,” kata Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinkes Kota Tangerang Mugiya Wardhany di Tangerang, Jumat (14/6/2024).

    Baca: Potensi ekonomi di balik ibadah kurban

    Ia menjelaskan kantong plastik sekali pakai bukan jenis kemasan food grade, tidak memenuhi standardisasi material yang layak digunakan untuk memproduksi perlengkapan makan.

    Tak hanya itu, lanjut dia, sebagian besar kantong plastik rata-rata mengandung logam berat timbal (Pb) yang melebihi batas yang ditentukan.

    “Timbal dapat masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, maupun tangan atau makanan,“ ujarnya.

    Selain masalah kesehatan, penggunaan kantong plastik sekali pakai juga menjadi masalah lingkungan sebab limbah tersebut tidak mudah terurai, bahkan hingga ratusan tahun,” ujarnya.

    Baca: Memahami makna wukuf dalam ibadah haji

    Sebagai alternatif, kata dia, masyarakat dapat menggunakan wadah pembungkus daging kurban seperti besek bambu yang sifatnya ramah lingkungan.

    Selain itu adanya rongga di antara anyaman besek bambu membuat pengemasan makanan menjadi lebih segar.

    Selain wadah makanan, bisa juga dengan memakai daun pisang atau daun jati sebagai wadah daging kurban.

    “Ataupun bisa juga menggunakan tas purun sebagai wadah saat membawa daging kurban dari tempat pemotongan hewan kurban ke rumah, sehingga ramah lingkungan dan higienis,” kata Mugiya Wardhany.

    Sumber:Antaranews.com

  • Sekolah Alam Pacitan Masuk 10 Besar Aksi Lingkungan Terbaik Dunia, Ini Metode yang Diterapkan

    Sekolah Alam Pacitan Masuk 10 Besar Aksi Lingkungan Terbaik Dunia, Ini Metode yang Diterapkan

    7cloud.asia – Sekolah Alam Pacitan dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Indonesia meraih 10 besar World’s Best School Prizes for Environmental Action Category.

    Sekolah Alam Pacitan adalah sebuah sekolah dasar swasta di Pacitan, Jawa Timur yang berkomitmen mengubah tantangan lingkungan menjadi peluang pendidikan melalui Green Laboratory.

    Program Green Laborator yang menjadi inti pendekatan pendidikan Sekolah Alam Pacitan melibatkan siswa dalam kegiatan seperti pertanian organik dan pengelolaan sampah berkelanjutan.

    Pembelajaran langsung di alam ini, akan memastikan bahwa siswa tidak hanya memahami teori tapi juga menerapkan prinsip-prinsip ekologi sehari-hari.

    “Ini sangat menginspirasi dan menjadi tantangan tersendiri bagi kami,“ demikian keterangan resmi dari Sekolah Alam Pacitan yang diterima 7cloud.asia, Sabtu (15/6/2024)

    Baca Juga: Wujudkan Sekolah dan Kurikulum Hijau, UNESCO Luncurkan Pedoman Menghijaukan Sekolah

    Sekolah Alam Pacitan mengelola sampah organik dan anorganik secara efektif dengan pengurangan penggunaan kertas sebesar 72% sejak tahun 2011.

    Sekolah ini juga melakukan penghematan energi yang signifikan melalui pencahayaan alami dan sistem daur ulang air.

    Inisiatif-inisiatif ini secara kolektif mengurangi jejak karbon sekolah, sekaligus meningkatkan lingkungan belajar siswa.

    Selain itu, penjangkauan dan inklusi komunitas lokal dan pemangku kepentingan regional yang lebih luas memperkuat dampak inisiatif Sekolah Alam Pacitan.

    Kolaborasi dengan pemerintah dan lembaga-lembaga lingkungan hidup telah memperluas jangkauan program-programnya,dengan melibatkan orang tua dan sekolah-sekolah setempat dalam aksi-aksi keberlanjutan.

    Baca Juga: Pemerintah Kota Mojokerto Kampanyekan Bersepeda ke Sekolah untuk Kurangi Polusi Udara

    Langkah ini memperkuat peran sekolah sebagai pemimpin regional dalam pendidikan
    lingkungan hidup.

    World’s Best School Prizes didirikan oleh T4 Education yang bekerja sama dengan Accenture, American Express, dan Lemann Foundation, merupakan penghargaan pendidikan paling bergengsi di dunia.

    Jill Huntley, Managing Director – Global Corporate Citizenship, di Accenture, mengapresiasi keberhasilan Sekolah Alam Pacitan ini.

    “Selamat kepada Sekolah Alam Pacitan di Indonesia yang masuk dalam 10 besar finalis Penghargaan Sekolah Terbaik Dunia untuk Aksi Lingkungan tahun 2024,“ ujarnya.

    Jill menambahkan, kerja keras Sekolah Alam Pacitan membawa harapan bahwa solusi dapat ditemukan untuk beberapa tantangan terbesar yang kita hadapi saat ini.

    Baca Juga: Yayasan Plan Internasional: Perubahan Iklim Akibatkan Jutaan Anak Putus Sekolah

    Melalui platform Penghargaan Sekolah Terbaik Dunia, ujar Jill, solusi yang ditawarkan Sekolah Alam Pacitan akan menginspirasi banyak orang di seluruh dunia mulai dari ruang kelas hingga administrasi.

    “Accenture bangga menjadi bagian dari inisiatif T4 Education dalam memberdayakan
    generasi berikutnya untuk mengatasi tantangan keberlanjutan global dengan meningkatkan akses dan penggunaan teknologi terbaru dan praktik inovatif.”

    Tiga finalis teratas untuk masing-masing lima Penghargaan Sekolah Terbaik Dunia akan diumumkan pada bulan September 2024, diikuti oleh pemenangnya pada bulan November.

    Pemenang setiap kategori akan dipilih berdasarkan kriteria yang ketat oleh Judging Academy yang terdiri dari para pemimpin terkemuka di seluruh dunia termasuk akademisi, pendidik, LSM, wirausaha sosial, pemerintah, masyarakat sipil, dan sektor swasta.

  • SOS untuk Lingkungan! Banyak Warga yang Belum Tahu Batu Bara Adalah Salah Satu Penyebab Utama Krisis Iklim

    SOS untuk Lingkungan! Banyak Warga yang Belum Tahu Batu Bara Adalah Salah Satu Penyebab Utama Krisis Iklim

    7cloud.asia – Kanopi Hijau Indonesia mengatakan batu bara sebagai salah satu penyebab krisis iklim harus masuk dalam kurikulum belajar lingkungan di sekolah dan kampus di Bengkulu.

    “Akibat kurikulum belum update, tidak semua pelajar dan mahasiswa di Kota Bengkulu tahu batu bara penyebab krisis iklim,” kata Manajer Sekolah Energi Bersih Kanopi Hijau Indonesia Hosani di Bengkulu, Sabtu (15/6/2024).

    Sedangkan, lanjut dia, batu bara nyata sebagai salah satu penyebab krisis iklim yang berdampak buruk bagi planet Bumi.

    Hosani menyampaikan data tersebut dihimpun berdasarkan hasil kuesioner yang disebarkan terhadap 187 siswa SMP St Carolus Bengkulu dan 37 mahasiswa jurusan Sosiologi Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) dalam kegiatan Sekolah Energi Bersih #2 di lokasi masing-masing pada beberapa waktu lalu.

    “Sebanyak 70 persen atau 131 siswa SMP Sint Carolus Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu tidak mengetahui bahwa batu bara sebagai salah satu penyebab krisis iklim yang berdampak buruk bagi planet bumi,” kata dia.

    Baca Juga: Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Save The Children Ingatkan Dampak Krisis Iklim pada Anak

    Hosani mengatakan hanya 30 persen saja atau 56 siswa yang mengetahui bahwa batu bara sebagai salah satu penyebab krisis iklim.

    Menurut dia, sebanyak 32,4 persen mahasiswa jurusan Sosiologi UMB tidak mengetahui bahwa batu bara sebagai salah satu penyebab krisis iklim yang berdampak buruk bagi bumi.

    Kemudian, sebanyak 64,8 persen mahasiswa mengetahui batu bara menjadi salah satu penyebab krisis iklim di bumi, dan 2,7 persen mahasiswa tak memberikan jawaban.

    ‘’Sebagian besar pelajar dan mahasiswa mengetahui bahwa hanya sampah yang menjadi penyebab krisis iklim di bumi sesuai dengan materi pelajaran yang mereka terima,’’ kata Hosani.

    Tidak hanya siswa SMP, mayoritas dari 881 anak muda yang dijangkau oleh Sekolah Energi Bersih tidak mengetahui terjadinya krisis iklim adalah akibat penggunaan batubara.

    Baca Juga: Warga Rusunawa Marunda Keluhkan Debu Batubara Picu Masalah Kesehatan

    Situasi itu kata dia bisa menjadi sebuah refleksi bahwa anak muda di tempat lain juga mengalami keterbatasan informasi.

    Ketua Kanopi Hijau Indonesia Ali Akbar menjelaskan situasi tidak sampainya informasi krisis iklim kepada anak muda di Bengkulu menjadi potret perlunya materi pendidikan yang lebih komprehensif terkait krisis iklim.

    Dibutuhkan sosialisasi penyebab dan langkah pencegahan krisis iklim masuk sebagai bagian dari kurikulum belajar.

    Menurut data Badan Energi Internasional (IEA) yang dikutip oleh Greenpeace menyampaikan bahan bakar fosil batu bara menyumbang 44 persen dari total emisi CO2 global.

    Pembakaran batu bara adalah sumber terbesar emisi gas GHG (greenhouse gas), yang memicu perubahan iklim.

    Baca Juga: Menimbang Keseriusan Negara-negara di Dunia Kurangi Konsumsi Batu bara

    Diikuti, penyebab lainnya seperti sektor pertanian (12persen), dari proses industri(6.6persen), sampah (3,5persen) dan dari penggunaan lahan dan sektor kehutanan(2,9persen).

    Kemudian, laju krisis iklim saat ini telah mencapai pada titik kritis akibat dari emisi terus yang terus meningkat. Akibatnya, bumi sekarang 1,1 derajat Celcius lebih hangat daripada di akhir tahun 1800-an.

    Beberapa ilmuwan mengatakan jika terus menggunakan energi batu bara, ambang batas suhu bumi di 1,5 derajat Celcius akan terlampaui di 2030.

    Hosani menjelaskan situasi tersebut didukung pernyataan Sekretaris Jendral Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Antonio Guterres bahwa saat ini dunia telah memasuki era pendidihan global.

    Sumber:Antaranews.com

     

  • Catat! Hari Ini Diperingati sebagai Hari Memerangi Penggurunan dan Kekeringan

    Catat! Hari Ini Diperingati sebagai Hari Memerangi Penggurunan dan Kekeringan

    7cloud.asia – Sejak 1994, masyarakat dunia menetapkan 17 Juni sebagai Hari Memerangi Penggurunan dan Kekeringan.

    Hari Memerangi Penggurunan dan Kekeringan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap upaya internasional dalam memerangi penggurunan.

    Mengutip laman resmi PBB, penetapan Hari Memerangi Penggurunan dan Kekeringan dilakukan untuk memperingati perjanjian lingkungan hidup multilateral Konvensi PBB untuk Memerangi Penggurunan dua dekade silam.

    Baca: Upaya dunia untuk merestorasi lahan dan melawan penggurunan

    Tema Hari Memerangi Penggurunan dan Kekeringan tahun ini adalah Bersatu untuk Tanah, Warisan Kami, Masa Depan Kita.

    Agenda ini menyoroti masa depan pengelolaan lahan dan sumber daya yang paling berharga untuk menjamin stabilitas dan kesejahteraan miliaran orang penghuni Planet Bumi.

    Dalam pernyataannya, PBB menyebut penggurunan, degradasi lahan, dan kekeringan merupakan salah satu tantangan lingkungan yang paling mendesak saat ini.

    Baca: WMO ingatkan pemanasan global akan picu lebih banyak bencana

    Sebanyak 40 persen lahan di seluruh dunia sudah terdegradasi. Hal ini tak bisa dibiarkan karena akan mengancam kelangsungan hidup penghuni planet Bumi.

    Sedikitnya 10 miliar manusia diproyeksikan akan menghuni planet Bumi pada tahun 2050. Saat ini jumlah penduduk Bumi diperkirakan mencapai 8 miliar orang.

    Jumlah penduduk yang semakin padat tentu membutuhkan lahan yang sehat untuk penghidupan mereka.

    Baca: WMO ingatkan Bumi kembali catatkan suhu terpanas

    Populasi yang terus bertambah, plus pola produksi dan konsumsi yang tidak berkelanjutan memicu permintaan akan sumber daya alam. Ini akan memberikan tekanan yang berlebihan pada lahan hingga ke titik degradasi. 

    Penggurunan dan kekeringan mendorong migrasi paksa, yang menempatkan puluhan juta orang setiap tahun pada risiko pengungsian.

    Sebaliknya, lahan yang sehat tidak hanya menyediakan hampir 95 persen makanan bagi umat manusia, namun memberi pakaian dan tempat berlindung, menyediakan lapangan kerja dan penghidupan.

     

    Baca: Fakta deforestasi yang patut diwaspadai

    Lahan yang sehat juga melindungi manusia dari ancaman kekeringan, banjir, dan kebakaran hutan yang kian parah.

    Dari 8 miliar penduduk dunia, lebih dari satu miliar anak muda di bawah usia 25 tahun tinggal di negara berkembang.

    Khususnya di wilayah yang secara langsung bergantung pada lahan dan sumber daya alam untuk bertahan hidup. 

    Karena itu dunia harus menciptakan prospek pekerjaan bagi penduduk pedesaan ini dan memberi kaum muda akses ke peluang kewirausahaan ekologi

    Esti Utami, dari berbagai sumber

     

     

     

  • Begini Cara Pengolahan Limbah Kurban yang Ramah Lingkungan di Masjid Istiqlal

    Begini Cara Pengolahan Limbah Kurban yang Ramah Lingkungan di Masjid Istiqlal

    ruagkota.com – Proses pembuangan limbah hewan kurban di Masjid Istiqlal tak seperti biasanya. Kali ini proses pembuangan limbah tersebut lebih ramah lingkungan.

    Panitia kurban Masjid Istiqlal memang berkomitmen untuk tidak mencemari sungai maupun pinggir sungai Ciliwung yang tepat berada di sebelah Masjid Istiqlal dengan limbah pemotongan hewan kurban.

    Ketua Panitia Idul Adha Masjid Istiqlal, Abu Hurairah menjelaskan pihaknya memang telah menyediakan tempat pembuangan kotoran dan darah yang tak jauh dari lokasi penyembelihan hewan kurban.

    Baca: Bungkus daging kurban, Masjid Cut Meutia dan Masjid Agung Sunda Kelapa pakai plastik biodegradable

    Panitia kurban pastikan darah dan kotoran tidak setetes pun yang masuk ke dalam sungai, tapi masuk ke penampungan sini (samping RPH).

    “Ini mobilnya sudah standby di sana, begitu penuh, disedot. Nah, begitulah yang kami lakukan,” jelas Abu seperti yang dilansir detik.com.

    Selain itu, beberapa panitia juga panitia tampak melakukan penyemprotan darah secara berkala. Plastik yang digunakan untuk membagikan daging kurban juga menggunakan plastik ramah lingkungan.

    “Itu bahan bakunya dari ubi, ada yang dari bambu. Jadi, sehari sudah terurai dia,” katanya.

    Baca: KLHK perkirakan timbunan sampah plastik saat Idul Adha lebih dari 600 ton

    Tak hanya proses pembuangan limbah kurban yang ramah lingkungan. Abu menjelaskan Masjid Istiqlal sudah menerapkan proses pembuangan ramah lingkungan, termasuk pembuangan air wudu, yang dimanfaatkan untuk menyiram tanaman.

    “Kemudian sistem air wudu. Itu juga air wudhu yang bekas di Istiqlal itu kami masuk ke mesin, itu recycle. Nanti, setelah itu keluar, bersih, kemudian kami pakai untuk menyiram tanaman,” terangnya.

    Selain itu, salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara ini juga menggunakan panel surya sebagai salah satu pembangkit listrik. Dengan cara ini, pihaknya dapat meminimalisir pembiayaan PLN.

    “Jadi Istiqlal ini kan mendapatkan penghargaan masjid ramah lingkungan tingkat dunia, diberikan oleh salah satu lembaga dunia, mulai dari penggunaan listrik, kami sudah mulai menggunakan panel surya ya teknologi itu sehingga kami membayar listrik PLN itu lumayan terbantu,” urainya.

    Baca: Warga Tangerang diimbau tak gunakan plastik untuk bungkus daging kurban

    Pada kesempatan itu, Abu juga menjelaskan pendistribusian daging kurban tidak lagi menggunakan kupon.

    Daging kurban akan didistribusikan sesuai dengan proposal yang masuk ke pengelola Masjid Istiqlal sebelum pelaksaan kurban.

    Proposal yang masuk dari berbagai pihak tersebut kemudian di seleksi dan diprioritaskan dari rumah tahfidz Al Qur’an serta rumah anak yatim yang tersebar di berbagai wilayah Jabodetabek.

    Pada Idul Adha kali ini, Masjid Istiqlal menyembelih 55 sapi dan 12 kambing. Sedangkan lima ekor sapi telah didistribusikan kepada sejumlah lokasi dalam kondisi hidup.

     

     

  • Upaya Mencegah Kematian Jutaan Umat Manusia Akibat Perubahan Iklim

    Upaya Mencegah Kematian Jutaan Umat Manusia Akibat Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Perubahan iklim akibat ulah manusia telah—dan akan terus—membunuh banyak manusia akibat kerusakan yang ditimbulkannya.

    Kematian disebabkan oleh jaringan kompleks mekanisme langsung, menengah, dan tidak langsung dari gangguan iklim bumi.

    Dampak mematikan langsung dari perubahan iklim termasuk gelombang panas, yang menyebabkan kematian ribuan orang karena kombinasi panas dan kelembapan. Gelombang panas bahkan mengancam bayi.

    Penyebab kematian menengah antara lain adalah kegagalan panen, kekeringan, banjir, cuaca ekstrem, kebakaran hutan, dan naiknya permukaan air laut. Kegagalan panen, khususnya, dapat memperburuk kekurangan makanan dan kelaparan global.

    Kekeringan yang lebih sering dan parah dapat menyebabkan lebih banyak kebakaran hutan yang juga menyebabkan kematian manusia. Situasi ini terjadi di Hawaii.

    Kekeringan juga dapat membuat air terkontaminasi, lebih seringnya penyakit, dan kematian akibat dehidrasi.

    Baca Juga: SOS! Satu Miliar Orang Bisa Terbunuh Akibat Perubahan Iklim

    Laporan Panel antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) 2022 memperkirakan bahwa kekeringan akan menyebabkan 700 juta orang di Afrika mengungsi pada 2030.

    Di sisi lain, perubahan iklim juga dapat menyebabkan banjir (dan kegagalan panen karena terlalu banyak air), yang juga memicu kelaparan dan penyakit.

    Perubahan iklim mendorong kenaikan permukaan laut serta mengakibatkan tenggelamnya wilayah pesisir.

    Gelombang badai memperburuk risiko banjir, yang mengancam jiwa miliaran orang masyarakat di kota-kota pesisir. Mereka menghadapi kemungkinan migrasi paksa.

    Perubahan iklim turut meningkatkan kejadian cuaca ekstrem, yang mematikan dan menyebabkan kerusakan besar pada layanan penting seperti jaringan listrik dan fasilitas medis.

    Intrusi air laut juga mengancam pertanian pesisir, sehingga kian mengurangi pasokan makanan. Terakhir, perubahan iklim juga secara tidak langsung meningkatkan kemungkinan konflik dan perang.

    Baca Juga: ILO: Perlindungan Pekerja Perlu Ditingkatkan Seiring Meningkatnya Bahaya Kesehatan Terkait Perubahan Iklim

    Meskipun konsensus akademis mengenai perang akibat perubahan iklim masih jauh dari pasti, ada sedikit keraguan bahwa perubahan iklim memperbesar stres dan dapat menyebabkan konflik di tingkat lokal.

    Ketika jumlah pengungsi akibat perubahan iklim meningkat, negara-negara yang terletak jauh dari garis khatulistiwa mungkin akan semakin menolak memberikan suaka.

    Dalam skenario terburuk, keruntuhan sosial mungkin terjadi. Artikel dari jurnal Proceeding of the National Academy of Science melaporkan bahwa hal ini bisa sangat merusak masyarakat kita.

    Masih ada waktu
    Kematian satu miliar orang merupakan prospek yang menakutkan, tapi tidak semuanya terjadi sekaligus. Faktanya, banyak orang sudah sekarat akibat perubahan iklim.

    Namun, masih ada waktu untuk melindungi mereka yang tersisa dari dampak perubahan iklim dengan segera beralih ke sumber energi bersih.

    Kita perlu menerapkan kebijakan energi yang agresif saat ini untuk menghilangkan emisi karbon. Kita bisa menerapkan konservasi energi, mendorong energi terbarukan, dan mengelola limbah karbon.

    Baca Juga: Korban Meninggal Akibat Banjir Bandang di Afghanistan 315 Orang, PBB Kaitkan dengan Perubahan Iklim

    Kita sudah melakukan banyak hal. Kita hanya perlu melakukannya lebih cepat.

    Dekarbonisasi bertahap tidak dapat diterima jika mengorbankan banyak nyawa manusia. Masing-masing usulan di atas pada awalnya tampak mengejutkan.

    Namun, jika kita bertanya pada diri sendiri, “apakah saya akan menerima kebijakan ini untuk menyelamatkan satu miliar nyawa manusia?” maka saya merasa jawabannya menjadi lebih jelas.

    Kita harus bertindak untuk mencegah kematian jutaan umat manusia.

    Tidak terlalu radikal
    Kita harus mewajibkan semua rencana konstruksi baru menjadi bangunan net zero atau bangunan berenergi positif.

    Dari kewajiban ini, pemilik berpeluang meraup bonus berupa pengembalian investasi yang positif dan bahkan mungkin untuk membuatnya tanpa biaya tambahan.

    Mengharuskan pembelian teknologi konservasi energi atau energi terbarukan secara massal dan menjadikannya tersedia secara gratis bagi semua orang dengan pinjaman tanpa bunga yang mudah dibayar kembali melalui penghematan energi.

    Misalnya, pemerintah dapat membangun pabrik baru untuk menyediakan insulasi atau panel surya gratis bagi siapa saja yang mau menggunakannya.

    Baca Juga: Riset: Pemanasan Global Akibatkan Separuh Danau di Dunia Mengering

    Sebagai bonusnya, tenaga surya akan menghemat ongkos listrik pemilik rumah serta melakukan penghematan besar dalam langkah-langkah konservasi energi selama masa pakainya.

    Segera mengakhiri penjualan kendaraan berbahan bakar fosil yang akan menghemat banyak karbon dan uang karena kendaraan listrik memiliki lifetime cost yang lebih rendah daripada kendaraan BBM).

    Mencabut akta pendirian perusahaan bahan bakar fosil dan membubarkan aset mereka jika sebuah perusahaan atau industri bertanggung jawab atas kematian lebih banyak orang akibat emisi dibandingkan dengan jumlah pekerja mereka.

    Ada fakta yang menyedihkan bahwa industri batu bara di Amerika Serikat telah membunuh lebih banyak orang per tahun akibat polusi udara daripada jumlah pekerjanya. Angka tersebut pun belum termasuk kematian akibat perubahan iklim.

    Segera berhenti berinvestasi pada lebih banyak bahan bakar fosil dan penerapan pajak besar terhadap semua investasi terkait bahan bakar fosil, dan/atau menahan penghasil emisi serta investor yang bertanggung jawab secara ekonomi atas kerugian yang disebabkan oleh emisi karbon di masa depan.

    Melatih kembali pekerja bahan bakar fosil secara massal untuk pekerjaan di bidang energi terbarukan yang akan membantu masyarakat dan pekerja yang rata-rata bisa mendapatkan kenaikan gaji sebesar 7% untuk industri tenaga surya.

    Baca Juga: Riset: Perubahan Iklim Memangkas Seperlima Pendapatan Global

    Segera melarang ekstraksi bahan bakar fosil dengan pemberlakuan moratorium.

    Masing-masing dari tujuh kebijakan ini akan mencegah peningkatan jumlah karbon memasuki atmosfer, mencegah perubahan iklim yang terjadi bersamaan, dan miliaran kematian dini yang disebabkan oleh status quo.

    Bergerak ke depan
    Kebijakan-kebijakan di atas dapat dicapai dengan menargetkan tiga tindakan pertama yang juga selaras dengan penghematan perekonomian.

    Seiring dengan semakin besarnya skala teknologi pengganti, kebutuhan akan investasi bahan bakar fosil akan terus menurun. Walhasil, dorongan untuk penurunan tersebut lebih akan jauh akan lebih menguntungkan secara politik.

    Ketika hal ini terjadi, maka masuk akal untuk melindungi pekerja bahan bakar fosil dengan melatih kembali mereka.

    Harapannya, para pekerja dapat membantu mempercepat transisi hingga semua sumber daya fosil yang mengeluarkan karbon penggunaan bahan bakar dihentikan untuk menciptakan iklim yang stabil.

    Hal ini jelas tidak akan mudah, tapi saya percaya bahwa sebagian besar umat manusia adalah orang-orang baik yang akan menerima ketidaknyamanan sementara dalam transisi ke sistem energi yang akan mencegah satu miliar kematian dini.

    Perlindungan dan bukannya pengorbanan kehidupan sepatutnya menjadi hasil dari COP 28 untuk menunjukkan kepemimpinan yang nyata.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Joshua M. Pearce, Chair in Information Technology and Innovation and Professor, Western University