Tag: bencana

  • La Nina Berpotensi Terjadi Hingga Maret 2025, Begini Dampaknya di Indonesia

    La Nina Berpotensi Terjadi Hingga Maret 2025, Begini Dampaknya di Indonesia

    7cloud.asia – Fenomena La Nina berpotensi muncul hingga Maret 2025 dan berdampak pada curah hujan yang tinggi. Hal ini diungkapkan oleh Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) dalam laman resminya.

    “La Nina diperkirakan akan muncul pada bulan September-November (peluang 60%) dan diperkirakan akan bertahan hingga Januari-Maret 2025,” demikian NOAA dalam laman resminya.

    La Nina sendiri  merupakan kebalikan dari fenomena El Nino yaitu kondisi naiknya suhu permukaan laut yang dapat berakibat pada kekeringan ekstrem seperti yang terjadi di Indonesia pada tahun lalu.

    Baca: BMKG ajak masyarakat waspada potensi banjir

    Berdasarkan laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), La Nina merupakan keadaan suhu permukaan laut (SPL) atau sea surface temperature (SST) di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur yang lebih dingin dibandingkan suhu normalnya.

    Kondisi ini biasanya diikuti dengan berubahnya pola sirkulasi Walker (sirkulasi atmosfer arah timur barat yang terjadi di sekitar ekuator) di atmosfer yang berada di atasnya dan dapat mempengaruhi pola iklim dan cuaca global.

    Kondisi La Nina ini dapat berulang dalam beberapa tahun sekali dan setiap kejadian dapat bertahan sekitar beberapa bulan hingga dua tahun.

    Baca: Akibat pemanasan global, El Nino dan La Nina sulit diprediksi

    Sementara itu Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan dari data BMKG suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah cenderung mendingin dan hampir menyentuh batas La Nina.

    Kondisi ini terjadi selama Agustus hingga awal Oktober 2024. Ardhasena mengungkapkan suhu permukaan laut akan terus mendingin dan diperkirakan akan berlanjut hingga Maret 2025.

    “Fenomena La Nina terjadi di Samudra Pasifik, tapi akan berdampak secara global, termasuk di Indonesia,” kata Ardhasena seperti yang dilansir Kompas.com.

    Baca: Transisi cepat El Nino ke La Nina memicu musim badai

    La Nina memberikan dampak yang beragam di wilayah Indonesia, terutama dampak terhadap curah hujan bulanan dan musiman. 

    Jika terjadi pada bulan Juni-Juli-Agustus (JJA), La Niña menyebabkan peningkatan curah hujan di hampir di sebagian besar wilayah Indonesia.

    Kemudian jika terjadi pada bulan September-Oktober-November (SON), La Niña berpengaruh pada meningkatnya curah hujan di wilayah tengah hingga timur Indonesia.

    Sedangkan pada Desember-Januari-Februari (DJF), dan Maret-April-Mei (MAM), La Niña berpengaruh pada meningkatnya curah hujan di wilayah Indonesia bagian timur.

    Baca: Indonesia harus bersiap dengan fenomena La Nina

    Peningkatan curah hujan saat La Niña umumnya berkisar 20-40% lebih tinggi dibandingkan curah hujan saat tahun Netral. Namun, terdapat juga beberapa wilayah yang mengalami peningkatan curah hujan lebih dari 40%.

    Pada periode puncak musim hujan (DJF), La Nina tidak memberikan dampak peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia bagian tengah dan barat sebagai akibat interaksinya dengan sistem monsun.

    Dengan adanya fenomena La Nina ini, peningkatan curah hujan berpotensi menimbulkan banyak bencana hidrometeorologi, air dan atmosfer. Misalnya banjir, longsor, angin putting beliung, dan lain-lain.

  • Cuaca Hari Ini: Waspada Bencana, Curah Hujan Tinggi Berpotensi Landa Jawa Tengah

    Cuaca Hari Ini: Waspada Bencana, Curah Hujan Tinggi Berpotensi Landa Jawa Tengah

    7cloud.asia – Curah hujan yang tinggi berpotensi melanda sembilan kabupaten di Jawa Tengah hingga 10 November mendatang. Masyarakat diimbau waspada bencana hidrometeorologi.

    “Hal itu diketahui berdasarkan lampiran Surat Peringatan Dini Cuaca dan Iklim Provinsi Jawa Tengah Periode Dasarian I November 2024 yang ditandatangani Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah II,” ungkap Kepala Kelompok Teknisi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo.

    Melansir Antaranews, kesembilan kabupaten tersebut berstatus siaga curah hujan tinggi dengan 200-300 milimeter per dasarian.

    Kesembilan kabupaten tersebut meliputi Banjarnegara, Banyumas, Cilacap, Kebumen, Pekalongan, Pemalang, Purbalingga, Purworejo, dan Wonosobo.

    “Oleh karena itu, kami mengimbau masyarakat di sembilan kabupaten tersebut, khususnya yang bermukim di daerah rawan bencana untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor,” jelas Teguh.

    Sedangkan wilayah di Jawa Tengah yang berstatus waspada dengan prakiraan curah hujan berkisar 150-200 milimeter per dasarian yaitu Kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Grobogan, Karanganyar, Kendal, Magelang, Semarang, Sragen, Tegal, Temanggung, dan Magelang.

    “Curah hujan 150-200 milimeter per dasarian juga masuk kategori tinggi, sehingga masyarakat diimbau untuk tetap waspada terutama ketika terjadi hujan lebat dalam jangka waktu lama,” ujarnya.

    Sementara sebagian besar wilayah Indonesia pada Senin (04/11/2024) diperkirakan hujan dengan intensitas ringan hingga hujan disertai petir, termasuk wilayah DKI Jakarta.

    Pada pagi hari seluruh wilayah DKI Jakarta diperkirakan berawan. Peluang hujan dengan intensitas ringan terjadi pada siang hari di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur dan Jakarta Utara

    Hujan dengan intensitas ringan berpeluang terjadi pada malam hari di wilayah Jakarta Selatan dan Kepulauan Seribu. Wilayah lainnya diperkirakan berawan.

  • BMKG: Awas! Cuaca Ekstrem dan Bencana Hidrometeorologi Mengintai di Musim Hujan

    BMKG: Awas! Cuaca Ekstrem dan Bencana Hidrometeorologi Mengintai di Musim Hujan

    7cloud.asia – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati meminta masyarakat dan seluruh pihak mewaspadai serta siaga menghadapi cuaca ekstrem dan potensi bencana hidrometeorologi.

    “Pemerintah Daerah dan masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan. Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim penghujan. Adanya fenomena La Nina mengakibatkan potensi penambahan curah hujan hingga 20 persen sampai awal 2025. Situasi ini juga berpotensi meningkatkan frekuensi bencana hidrometeorologi,” jelas Dwikorita dalam siaran persnya.

    Baca: BMKG ajak masyarakat waspada banjir

    Untuk itu, lanjut Dwikorita, pemerintah harus mengoptimalkan fungsi infrastruktur sumber daya air pada wilayah urban atau yang rentan terhadap banjir, seperti penyiapan kapasitas pada sistem drainase, sistem peresapan dan tampungan air.

    Hal ini dilakukan agar pemerintah dapat mencegah terjadinya banjir secara optimal. Tak hanya itu, Dwikorita mengatakan pemerintah perlu memastikan keandalan operasional waduk, embung, kolam retensi, dan penyimpanan air buatan lainnya.

    Dengan demikian curah hujan yang tinggi dapat dikelola dengan baik dan penggunaannya dapat maksimal di saat musim kemarau.

    Baca: 14 orang meninggal akibat banjir bandang di Ternate

    Sementara itu, Deputi Meteorologi BMKG, Guswanto mengungkapkan saat ini sejumlah wilayah Indonesia khususnya di Sumatera, sebagian Kalimantan dan sebagian Jawa bagian tengah hingga barat telah memasuki musim hujan.

    Sedangkan wilayah Pulau Jawa lainnya diprediksi akan memasuki musim hujan pada dasarian II November 2024.

    “Baru saja masuk musim penghujan, tapi beberapa kejadian bencana hidrometeorologi sudah terjadi seperti banjir dan tanah longsor yang terjadi di Bogor dan Sukabumi Jawa Barat. Karenanya, kami menghimbau kepada seluruh masyarakat dan stakeholder terkait untuk waspada, jangan lengah,” terang Guswanto.

    Baca: BNPB kembangkan sistem peringatan dini bencana longsor

    Berdasarkan hasil analisa mingguan BMKG, terdapat potensi terjadinya cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir atau angin kencang selama sepekan ke depan (7 – 12 November 2024).

    Kondisi ini, kata dia, terjadi karena beberapa faktor yang mempengaruhi dinamika atmosfer di Indonesia yang berdampak pada potensi peningkatan intensitas hujan di sejumlah wilayah.

    Dampak peningkatan hujan ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat dalam menjalani aktivitas sehari-hari, namun juga berpengaruh pada aktivitas penerbangan dan pelayaran.

    Baca: Ini penyebab banjir dan longsor kerap melanda Pulau Jawa

    Dengan kondisi cuaca seperti ini, pihaknya mengimbau kepada pengguna, penyedia jasa transportasi, dan operator transportasi, terutama laut dan udara untuk juga mewaspadai kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem ini.

    “Maka dari itu, dalam sepekan ke depan, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi dini terhadap potensi cuaca ekstrem dan dampak ikutannya berupa bencana hidrometeorologi yang berpotensi terjadi di seluruh wilayah Indonesia,” katanya.

    “Juga kepada nelayan untuk tidak memaksakan diri melaut jika cuaca sedang buruk. Pantau terus kondisi cuaca, angin dan tinggi gelombang melalui aplikasi InfoBMKG,” tambahnya.

     

  • Fenomena La Nina Landa Indonesia, Ini Dampak Positifnya

    Fenomena La Nina Landa Indonesia, Ini Dampak Positifnya

    7cloud.asia – Fenomena La Nina yang sedang terjadi berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi. Namun, sebenarnya fenomena ini dapat berdampak positif untuk masyarakat.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menjelaskan peluang positif akibat La Nina dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.

    Menurutnya, melimpahnya air hujan akibat La Nina dapat dimanfaatkan secara optimal guna mendukung ketahanan pangan dan air serta energi.

    Di sektor pertanian, papar Dwikorita, petani memiliki peluang percepatan tanam, perluasan area tanam padi baik di lahan sawah irigasi, tadah hujan, maupun ladang.

    Baca: Waspada La Nina yang picu bencana hidrometeorologi hingga April 2025

    Selain itu, Dwikorita mengatakan dengan langkah mitigasi yang tepat, tingginya curah hujan akibat La Nina juga bermanfaat dalam meningkatkan kapasitas tampungan air di bendungan dan waduk.

    Hal ini akan mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air secara maksimum sehingga menjamin pasokan energi listrik.

    Masyarakat, tambah dia, dapat memanen air hujan atau rainwater harvesting dan digunakan saat musim kemarau tiba guna mengantisipasi kekeringan.

    “Untuk itu, penting untuk terus menjaga kualitas infrastruktur seperti bendungan dan waduk agar siap digunakan sepanjang tahun. Selain itu, optimalisasi drainase dan tampungan air harus disiapkan guna menghadapi musim kemarau berikutnya,” jelas Dwikorita.

    Baca: Kapan La Nina melanda Indonesia

    La Nina merupakan fenomena anomali iklim global yang diakibatkan oleh suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang mendingin, lebih dingin dibandingkan biasanya.

    Fenomena ini berlangsung mulai November atau akhir tahun 2024 hingga setidaknya Maret atau April 2025. 

    Sebelumnya BMKG telah menjelaskan meski lemah, fenomena La Nina ini mengakibatkan potensi penambahan curah hujan antara 20 hingga 40 persen.

    Dampaknya adalah bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang dan lain-lain. 

  • BNPB Sebut Pulau Jawa Waspada Bencana Alam Hingga April 2025

    BNPB Sebut Pulau Jawa Waspada Bencana Alam Hingga April 2025

    7cloud.asia – Bencana alam akibat cuaca ekstrem masih terus terjadi di sejumlah wilayah. Kondisi ini berpotensi berlanjut di Pulau Jawa hingga Maret atau April 2025. Masyarakat diimbau waspada.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari menjelaskan bencana alam berpotensi terjadi seiring dengan meningkatnya intensitas hujan di Pulau Jawa.

    “Ini baru awal ya, tapi kita masih harus waspada sampai awal 2025 bahkan sampai medio Maret sampai April,” kata Muhari dalam konferensi pers bertajuk “Disaster Briefing”  pada Senin (09/12/2024).

    Baca: Jakarta berpotensi banjir besar seperti tahun 2020

    Karena itu, pihaknya mengajak masyarakat dan pemerintah daerah memperhatikan peringatan tersebut agar dapat meminimalisasi dampak buruk yang akan ditimbulkan.

    Dia mencontohkan salah satunya mengintensifkan pengecekan pada kawasan aliran sungai, perbukitan, tebing curam, mempersiapkan peralatan, anggaran dan termasuk menetapkan status tanggap darurat bencana.

    “Kalau daerah sudah langganan bencana segeralah menetapkan status tanggap darurat sehingga pemerintah pusat dalam hal ini BNPB bisa memberi pendampingan kepada daerah,” jelasnya.

    Berdasarkan data BNPB, sepanjang tahun 2024 tercatat sebanyak 1999 kasus bencana di Indonesia yang didominasi oleh bencana banjir dan cuaca ekstrem.

    Selanjutnya Muhari memaparkan saat ini musim hujan mulai merata di seluruh Indonesia. Namun, bagian tengah pesisir barat Sumatera dan bagian barat Jawa mendominasi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang.

    Baca: Waspada cuaca ekstrem beberapa pekan kedepan

    “Ini yang memicu tingginya intensitas bencana hidrometeorologi basah di Banten dan Jawa Barat,” ujarnya.

    Hasil analisa Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Pulau Jawa, dan 60 persen zona musim di Indonesia lainnya saat ini sudah berada pada musim penghujan dan puncaknya berlangsung sampai kuartal pertama 2025.

    Peningkatan intensitas hujan sebesar 20 persen dibandingkan kondisi normal. Hal ini disebabkan oleh sejumlah fenomena atmosfer seperti Madden Julian Osciliation (MJO), gelombang ekuatorial Rossby, gelombang Kelvin, La Nina lemah dan dapat diperkuat dengan adanya siklon tropis atau bibit siklon tropis.

     

  • Refleksi 20 tahun Gempa dan Tsunami Aceh: Picu Berkembangnya Riset dan Mitigasi Bencana

    Refleksi 20 tahun Gempa dan Tsunami Aceh: Picu Berkembangnya Riset dan Mitigasi Bencana

    7cloud.asia – Kondisi geografis Indonesia yang sangat rawan bencana membuat banyak peneliti dari berbagai penjuru dunia datang untuk mempelajari katastrofe negeri ini, terutama setelah Tsunami Aceh 2004.

    Berdasarkan data platform Google Scholar, terdapat lebih dari seribu makalah ilmiah seputar gempa dan tsunami Indonesia yang telah terbit sejak 2005 hingga 2024.

    Penelitian-penelitian ini sangat membantu pemahaman kita seputar sumber dan pola gempa di Indonesia. Riset tentang Tsunami Palu dan Selat Sunda pada 2018, misalnya, menjadi catatan yang sangat penting.

    Kedua kejadian tsunami ini tidak disebabkan oleh gempa secara langsung. Tsunami Palu dipicu oleh longsor bawah laut akibat gempa 7,5 skala magnitudo (Mw) pada 28 September 2018.

    Sementara itu, kejadian Tsunami Selat Sunda dipicu oleh runtuhan sisi dinding Gunung Anak Krakatau (volcanic flank failures).

    Baca: 15 segmen ini berpotensi diguncang gempa megathrust

    Peneliti dalam negeri juga tidak ketinggalan mengkaji sumber-sumber gempa besar dan gempa susulan (rangkaian gempa setelah gempa besar).

    Di antaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengenai Gempa Lombok 2018 dan Gempa Cianjur 2022.

    Analisis terhadap gempa-gempa susulan yang terjadi setelah gempa utama memberikan gambaran tentang pola seismisitas yang dapat dijadikan acuan mempelajari sumber dan mekanisme gempa serta mitigasi dan pengurangan risiko yang terjadi akibat gempa.

    Melalui Indonesia Tsunami Early Warning System (INATEWS)-jaringan seismik yang dikelola BMKG, ruang kolaborasi riset kegempaan di Indonesia terus berkembang.

    Hingga 2024, sistem ini telah memiliki 521 stasiun seismik yang tersebar di seluruh Indonesia untuk mendeteksi gempa dengan cepat.

     

    Baca: BRIN sebut kapan gempa Megathrust akan terjadi tak bisa dipastikan

    Dengan data dari stasiun seismik tersebut, BMKG bisa lebih cepat memberikan informasi parameter gempa kepada masyarakat, terutama peringatan dini tsunami, yang bisa terjadi setelah gempa besar.

    Mitigasi butuh kolaborasi
    Para ilmuwan terus mempelajari pergerakan kerak bumi. Namun, sampai saat ini, kejadian gempa atau tsunami belum dapat terprediksi secara pasti.

    Untuk itu, langkah penting yang dapat dilakukan adalah melakukan mitigasi dan mengurangi risiko yang dapat timbul karena bencana tersebut.

    Selain memahami sumber dan pola gempa, mitigasi bencana mencakup berbagai hal, termasuk edukasi masyarakat hingga penerapan konstruksi bangunan yang tahan gempa. Semua upaya ini memerlukan dukungan dari berbagai pihak.

    Tiga tahun setelah Tsunami Aceh, Indonesia membuat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang mengatur berbagai upaya mengurangi risiko bencana, termasuk mitigasi.

    Jika mengacu pada undang-undang ini, maka prinsip utama dalam penanggulangan bencana adalah koordinasi dan keterpaduan antar berbagai pihak atau pentahelix. Koordinasi pentahelix melibatkan lima elemen penting: pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media.

    Baca: BMKG diminta siapkan mitigasi antisipasi gempa megathrust

    Setiap elemen memiliki peran yang saling melengkapi. Pemerintah bertugas sebagai regulator, media berperan menyebarluaskan informasi, dunia usaha memberikan dukungan finansial dan teknologi.

    Masyarakat bertindak sebagai pelaksana di lapangan, sementara akademisi dan pakar berfokus pada konsepsi serta inovasi.

    Kolaborasi antar elemen adalah kunci keberhasilan mitigasi bencana. Mungkin ini dianggap klise, tapi kenyataannya tanpa kerja sama yang solid, upaya mitigasi tidak akan efektif.

    Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah menghilangkan ego sektoral yang sering kali menghambat. Contoh sederhananya adalah keengganan berbagi data dan informasi antar lembaga. Padahal, ini penting untuk memperkuat penelitian dan mitigasi kegempaan di Indonesia.

    Pada akhirnya, pengurangan risiko bencana adalah tanggung jawab bersama. Penguatan koordinasi dan komunikasi antar lembaga menjadi elemen esensial dalam menciptakan sistem mitigasi bencana yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

    Artikel ini diterbitkan The Conversation Indonesia bersama para akademisi sebagai edisi khusus 20 Tahun Pemulihan Aceh selama Desember 2024. Edisi ini menjadi upaya merawat ingatan bersama, sekaligus memantik refleksi atas langkah pemulihan dan perdamaian di negeri Serambi Makkah.

    Penulis: Zulfakriza Z, Associate Professor, Global Geophysics Research Group, Institut Teknologi Bandung

  • Operasi Modifikasi Cuaca Berhasil Menekan Potensi Bencana di Jawa Tengah dan Jawa Barat

    Operasi Modifikasi Cuaca Berhasil Menekan Potensi Bencana di Jawa Tengah dan Jawa Barat

    7cloud.asia – Mengantisipasi dampak cuaca ekstrem pada puncak musim hujan tahun ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah.

    Operasi modifikasi cuaca ini bertujuan untuk mengurangi potensi bencana banjir, longsor, dan cuaca ekstrem lainnya dengan memanfaatkan teknologi penyemaian garam di awan comulonimbus untuk mengendalikan curah hujan.

    Dengan modifikasi cuaca diharapkan intensitas hujan dapat dikendalikan sehingga banjir serta tanah longsor bisa dicegah.

    Indikator keberhasilan operasi modifikasi cuaca ini bisa dilihat dari adanya pengurangan curah hujan yang signifikan di wilayah target pada 11 Desember hingga 14 Desember 2024.

    Sebelumnya, BNPB bersama dengan BMKG dan BPBD telah mengadakan briefing mendalam untuk memastikan langkah-langkah yang diambil tepat sasaran.

    Baca: BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Jawa Tengah

    Berdasarkan prediksi Global Forecast System (GFS), wilayah Jawa Tengah, khususnya daerah seperti Demak, Blora, Salatiga, dan Banjarnegara, diperkirakan akan mengalami hujan dengan intensitas 14-32 milimeter per hari.

    BMKG mengidentifikasi potensi curah hujan yang tinggi di wilayah Jawa Tengah, dengan intensitas yang bisa mencapai 50-120 mm per hari.

    Untuk menanggulangi hal ini, OMC difokuskan di wilayah laut utara Jawa Tengah untuk mempengaruhi awan yang bergerak ke arah daratan, menghindari hujan lebat yang bisa meningkatkan risiko bencana banjir dan longsor.

    Pada Sabtu (14/12/2024), tim OMC melakukan lima sorti penerbangan dengan pesawat Cessna Caravan 208B yang berangkat dari Bandar Udara Jenderal Ahmad Yani, Semarang (Posko OMC di Jawa Tengah).

    Penyemaian awan ini berhasil mengurangi risiko hujan intens di daerah-daerah seperti Jepara, Pati, Kudus, Demak, dan Semarang, yang semula diprediksi akan mengalami curah hujan hingga 50-120 mm/hari.

    Baca: Cuaca Ekstrem picu bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah 

    Berkat modifikasi cuaca, curah hujan di wilayah tersebut turun menjadi hanya 5-20 mm/hari, yang berarti pengurangan curah hujan sekitar 70 persen.

    Dampak positif ini diharapkan dapat menurunkan potensi bencana banjir dan longsor di wilayah tersebut.

    Modifikasi cuaca juga dilaksanakan di wilayah Jawa Barat pada Sabtu (14/12/2024) untuk menangani potensi bencana hidrometeorologi yang meliputi banjir, gelombang ekstrem, dan tanah longsor.

    Operasi ini berhasil mengurangi intensitas hujan di wilayah rawan bencana seperti Sukabumi dan Cianjur. Berdasarkan analisis BMKG, curah hujan yang diprediksi di wilayah tersebut awalnya 70 hingga 150 mm/hari, berkurang menjadi 5 hingga 30 mm/hari.

    Operasi Modifikasi Cuaca di Jawa Barat ini difokuskan di wilayah selatan Sukabumi dan daerah rawan bencana lainnya, dengan tujuan mengurangi intensitas curah hujan yang dapat memicu bencana.

    Operasi modifikasi cuaca terbukti efektif dalam mengurangi curah hujan yang berisiko menyebabkan bencana banjir dan longsor.

  • Cuaca Hari Ini: Waspada, Cuaca Ekstrem Dapat Memicu Bencana di Jawa Timur Hingga Januari 2025

    Cuaca Hari Ini: Waspada, Cuaca Ekstrem Dapat Memicu Bencana di Jawa Timur Hingga Januari 2025

    7cloud.asia – Sejumlah wilayah di Jawa Timur berpotensi mengalami cuaca ekstrem yang dapat memicu terjadinya bencana pada Desember 2024 hingga Januari 2025. Masyarakat diimbau waspada.

    Dalam keterangan resminya, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menjelaskan cuaca ekstrem tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor.

    Fenomena La Nina, yang ditandai dengan pendinginan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, memicu peningkatan pembentukan awan hujan.

    Kondisi ini berkontribusi pada tingginya intensitas curah hujan di berbagai wilayah di Jawa Timur.

    Baca: BMKG ingatkan cuaca ekstrem di Jawa Tengah

    Selain itu, adanya pengaruh Monsoon Asia, gelombang Madden-Julian Oscillation (MJO), serta gelombang Kelvin dan Rossby ekuator.

    Fenomena-fenomena ini meningkatkan intensitas curah hujan di kawasan Laut Natuna, Jabodetabek, Jawa Barat, hingga Jawa Timur.

    “Intensitas hujan diprediksi akan meningkat signifikan pada 21 Desember, kemudian sedikit menurun di 22-23 Desember sebelum kembali meningkat pada 24 Desember,” jelas Dwikorita.

    BMKG memperkirakan cuaca ekstrem mencapai puncaknya pada Desember 2024 hingga Januari 2025, dengan intensitas hujan yang terus meningkat menjelang libur Natal dan Tahun Baru terutama di wilayah Jawa Timur.

    Baca: Banjir besar di Jakarta tahun 2020 berpotensi terulang kembali

    Dalam tujuh hari kedepan sejumlah wilayah di Jawa Timur yang berpotensi hujan deras disertai angin kencang terjadi di Kabupaten di Jawa Timur dalam tujuh hari ke depan, yakni di Bangkalan, Bondowoso, Gresik, dan Banyuwangi

    Selain itu lebih dari 70 persen wilayah Jawa Timur berpotensi terjadi curah hujan sedang (51-150 mm) dan lebih dari 60 persen untuk curah hujan lebat (151-300 mm).

    Kondisi ini dapat mengakibatkan banjir. Berikut wilayah rawan banjir menurut BMKG:

    – Blitar: Kecamatan Gandusari, Nglegok

    – Gresik: Kecamatan Sangkapura, Tambak

    – Jember: Kecamatan Bangsalsari, Panti, Sumberbaru, Tanggul

    – Malang: Kecamatan Ngantang

    – Pacitan: Kecamatan Kebonagung, Pacitan, Pringkuku

    – Probolinggo: Kecamatan Krucil, Tiris

    Baca: Waspada, cuaca ekstrem saat libur Nataru

    Tak hanya banjir, gelombang tinggi di perairan selatan Jawa Timur juga diperkirakan mengalami gelombang tinggi dengan ketinggian mencapai 1,25-2,5 meter.

    Kawasan yang berpotensi terdampak meliputi Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, hingga Banyuwangi.

     

  • BNPB Mencatat Ada 2.107 Bencana Sepanjang 2024, Paling Fatal Banjir Lahar dan Banjir Bandang

    BNPB Mencatat Ada 2.107 Bencana Sepanjang 2024, Paling Fatal Banjir Lahar dan Banjir Bandang

    7cloud.asia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sepanjang 2024, terdapat 2.107 kejadian bencana yang terjadi di Indonesia.

    Menurut Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan 2023 yang mencapai 5.400 kejadian bencana.

    Beberapa daerah yang memiliki frekuensi kejadian bencana paling tinggi terjadi di Sumatra Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Barat.

    Berbicara di acara Kaleidoskop Bencana 2024 dan Outlook Potensi Bencana 2025, Selasa, (7/1/2025) yang dipantau secara daring, Muhari menjelaskan karakter bencana yang terjadi pada 2024 sangat berbeda dengan karakter bencana 2023.

     

    Baca: Rencana pembukaan 20 juta hektare lahan bisa memicu bencana ekologis

    Pada 2023 faktor utama regional yang berdampak pada bencana di Indonesia adalah El Nino sehingga kejadian bencana yang paling tinggi frekuensi atau jumlahnya adalah kebakaran hutan dan lahan.

    “Sementara pada 2024 Indonesia kembali pada kondisi La Nina, di mana curah hujan lebih tinggi dari rata-rata biasanya yang membawa implikasi langsung kepada bencana yang sering terjadi di Indonesia yaitu banjir, cuaca ekstrem dan kebakaran hutan dan lahan,“ ujar Muhari

    Dalam pemaparannya, jenis bencana yang paling signifikan dan fatal yang banyak memakan korban meninggal dunia adalah banjir lahar dan banjir bandang yang terjadi di sejumlah daerah.

    Banjir lahar dingin seperti yang terjadi di gunung Marapi ini, menurut Muhari, menjadi perhatian serius BNPB.

    Baca: Cuaca ekstrem picu bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah

    Pasalnya, hingga saat ini BNPB belum memiliki sistem peringatan dini yang ditujukan untuk banjir lahar seperti kondisi yang sangat masif di Gunung Marapi, Sumatra Barat.

    Dijelaskan, banjir lahar dingin di kaki gunung Marapi Sumatra Barat ini mengakibatkan 56 orang meninggal dan 10 hilang dan diasumsikan meninggal dunia sehingga mencapai 66 jiwa.

    Muhari juga menyebut sejumlah bencana hidrometeorologi basah pada November 2024 terjadi bencana tanah longsor, cuaca ekstrem, dan banjir lahar yang mengakibatkan 62 orang meninggal.

    “Hal lain yang sangat penting untuk kita perhatikan, terjadi kenaikan jumlah korban jiwa meninggal dunia jika dibandingkan frekuensi kejadian bencana di 2024. Kita lihat korban jiwa meninggal dunia di 2023 masih di sekitar 200 tapi di 2024 mencapai sekitar 400,” ujar Muhari.

  • Cuaca Hari Ini: Waspada! Cuaca Ekstrem Dapat Memiicu Bencana di Sejumlah Wilayah

    Cuaca Hari Ini: Waspada! Cuaca Ekstrem Dapat Memiicu Bencana di Sejumlah Wilayah

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan cuaca ekstrem berpotensi terjadi di sejumlah wilayah hingga memicu terjadinya bencana hidrometeorologi pada Rabu (19/02/2025).

    Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado, menyebutkan sebanyak 13 kabupaten dan kota di Sulawesi Utara perlu mewaspadai potensi bencana tersebut.

    “Kondisi ini diperkirakan terjadi hingga sepekan ke depan,” ujar Kepala Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado, Dhira Utama seperti yang dilansir Antaranews. .

    Wilayah tersebut adalah Kota Manado, Kota Bitung, Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur.

    Baca: Sampai kapan musim hujan? Ini kata BMKG

    Selain itu  Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Talaud juga berpotensi terjadinya bencana.

    “Kami mengimbau masyarakat dan pemerintah di Sulawesi Utara agar tetap waspada terhadap hujan dengan intensitas sedang-lebat disertai kilat/petir dan angin kencang,” jelasnya.

    Dhira menjelaskan hasil analisa kondisi dinamika atmosfer, nilai anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) menunjukkan anomali negatif dan spasial gelombang Low Frequency dan Kelvin yang bergerak melintasi wilayah Sulawesi Utara turut memperkuat peningkatan aktivitas konvektif.

    Faktor penunjang lain, menurut dia, yaitu potensi terbentuknya pola belokan angin (shearline) dan pertemuan massa udara (konvergensi), kondisi lokal akibat labilitas atmosfer dalam kondisi labil dan kelembaban udara yang tinggi hingga lapisan atas mendukung pertumbuhan awan-awan hujan semakin intens.

    Baca: Waspada bencana di Pulau Jawa alam hingga April 2025

    Kombinasi dari fenomena-fenomena tersebut membentuk kondisi atmosfer yang mendukung terjadinya hujan dengan intensitas sedang-lebat dalam durasi yang lama disertai kilat/petir dan angin kencang di wilayah-wilayah tersebut.

    Kondisi cuaca yang sama berpotensi pula terjadi di sejumlah wilayah Sumatera Barat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Minangkabau Padang Pariaman mengeluarkan peringatan dini hingga dua hari mendatang.

    BMKG memprediksi masih berpotensi terjadi hujan sedang-lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang pada sore hingga malam hari pada sejumlah wilayah di Sumbar.

    Wilayah tersebut diantaranya Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Solok, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, Kabupaten Lima Puluh Kota.

    Baca: Cuaca ekstrem di Jakarta dan beberapa wilayah hingga Februari 2025

    Selain itu, wilayah Kabupaten Pasaman, Kabupaten Dharmasraya, Solok Selatan, Kabupaten Pasaman Barat dan Kota Padang juga berpotensi terjadi cuaca ekstrem.

    BMKG Stasiun Minangkabau Padang Pariaman juga mengingatkan cuaca ekstrem itu dapat meluas ke beberapa daerah lain di Sumbar.

    Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton mengajak masyarakat agar berhati-hati dan mewaspadai potensi bencana, terutama yang tinggal di wilayah rawan longsor.

    “Kami mengingatkan warga Kota Padang untuk selalu berhati-hati, terutama bagi yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor. Jika terjadi hujan lebat dalam waktu lama, segera mengamankan diri ke tempat yang lebih aman,” jelas Hendri.

    Baca: Cuaca ekstrem picu banjir dan tanah longsor di sejumlah daerah

    Sementara untuk wilayah Jakarta, hujan disertai petir berpotensi melanda seluruh wilayah pada pagi hari. Selanjutnya pada siang hari hampir seluruh wilayah di Jakarta akan diguyur hujan ringan.

    Di waktu yang sama wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur yang berpotensi hujan disertai petir. Sorenya hujan ringan berpotensi terjadi di wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Wilayah lainnya diprediksi berawan.

    Malam harinya, hujan dengan intensitas ringan terjadi di wilayah Jakarta Timur. Sedangkan wilayah lainnya diperkirakan cerah berawan tebal.