Tag: bencana

  • Ini Alasan Mengapa Perempuan dan Kelompok Rentan Harus Dilibatkan dalam Mitigasi Bencana

    Ini Alasan Mengapa Perempuan dan Kelompok Rentan Harus Dilibatkan dalam Mitigasi Bencana

     

    7cloud.asia – Satu sore di bulan Desember 2022 lalu, hujan deras yang mengguyur Samigaluh, Kulonprogo mengakibatkan bencana tanah longsor.

    Sebuah rumah yang ditinggali 4 orang, 3 orang perempuan yang salah satu di antaranya telah berusia 70 tahun tertimbun tanah longsor tersebut.

    Saat berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya dari bencana tanah longsor itu, Ning yang menjadi kepala keluarga di rumah itu sempat terjepit di antara reruntuhan. 

    Ning dan keluarganya selamat, tapi akibat kejadian tanah longsor itu mereka kehilangan tempat tinggal.

    Oleh warga dan aparat desa setempat, keluarga ini kemudian dibuatkan tenda seadanya sebagai tempat tinggal sementara. Namun, hingga Februari 2023 keluarga ini masih tinggal di tenda sementara itu. 

    Baca: Dampak El Nio mulai dirasakan di sejumlah daerah

    Lain lagi yang dialami Rahmia, dari Desa Ahu Majene, Sulawesi Barat. Saat terjadi bencana longsor, para perempuan harus tinggal di tenda terbuka yang bercampur antara laki-laki dan perempuan. 

    “Sehingga ketika harus ganti baju kami agak sungkan,” ujarnya.

    Saat bantuan diterima, lagi-lagi muncul masalah. Ketiadaan data terpilah membuat anak-anak dan kelompok rentan seperti lansia, anak-anak dan disabilitas tidak mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.

    Kisah Ning dan Rahmia ini terungkap dalam diskusi bertajuk “Kondisi dan Pemenuhan Hak Perempuan Dalam Situasi Bencana di Indonesia, Kamis (3/8/2023) yang diikuti secara daring.

    Baca: Bencana kekeringan di Papua sering terjadi, perlu solusi jangka panjang

    Seperti itulah kondisi perempuan dan kelompok rentan di Indonesia saat terjadi bencana alam.

    Kasus Ning dan Rahmia ini adalah sedikit contoh dari ribuan kasus di Indonesia yang memang rawan bencana.  

    Indonesia rawan bencana, baik tanah longsor, banjir, angin kencang, cuaca ekstrim, kekeringan, gempa bumi, gunung meletus, tsunami dan sebagainya. Ada banyak program dan upaya untuk penanggulangan bencana.

    “Tetapi catatan kritisnya adalah bagaimana perempuan dilibatkan dalam kelompok-kelompok tersebut, ” ujar Joko Sulistyo, staf Kalyanamitra yang mendampingi warga desa rawan bencana di Kulonprogo. 

    Baca: Kelompok rentan justru ditinggalkan dalam penanganan perubahan iklim

    Joko menyebutkan, dalam rencana penanggulangan bencana di desa, perempuan disebutkan telah dilibatkan tetapi sering sekadar menjalankan perintah dari koordinator daerah setempat. 

    Bukan menjalankan apa yang seharusnya dibutuhkan perempuan saat bencana. Perempuan lebih sering ditempatkan di sektor domestik.

    Joko menegaskan, seharusnya saat terjadi bencana perempuan dan kelompok rentan seperti anak, lansia dan kelompok disabilitas harus dilihat secara interseksionalitas.

    Hal ini karena dampak bencana yang dirasakan perempuan dan kelompok rentan ini lebih besar dibanding para pengambil keputusan.

    Baca: Pentingnya pelibatan kelompok rentan dalam mitigasi perubahan iklim

    “Ada pengalaman perempuan yang tidak akan pernah dirasakan laki-laki. Dan bagaimana pengalaman itu disuarakan dan dipenuhi itu penting,” tegas Joko.

    Jika perempuan dan kelompok rentan tidak diberi kesempatan dan dilibatkan sejak awal, ujarnya, maka bagaimana kebutuhan mereka bisa dipenuhi. 

    Joko mencontohkan, pelatihan penyelamatan dan mitigasi bencana sering tidak melibatkan perempuan.

    Padahal sering perempuan menjadi yang terdepan saat terjadi bencana. Mereka akan berusaha menyelamatkan anaknya ketimbang dirinya sendiri.

    Sehingga dalam kesempatan itu, Joko menegaskan pentingnya pelibatan yang partisipatoris dalam upaya mitigasi dan penanggulangan bencana, sehingga jika terjadi bencana semua kebutuhan kelompok rentan bisa dipenuhi.

    Baca: Kelompok disabilitas paling rentan merasakan dampak perubahan iklim

     

     

  • Angin Puting Beliung Terjang Sukabumi, Ratusan Orang Terdampak

    Angin Puting Beliung Terjang Sukabumi, Ratusan Orang Terdampak

    7cloud.asia – Sebanyak 312 orang terdampak bencana angin puting beliung yang terjadi di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pada Sabtu (21/10/2023).

    Melansir Antaranews, mereka berasal dari empat desa pada dua kecamatan, yaitu Desa Jampang Tengah di Kecamatan Jampang Tengah dan Desa Tegalpanjang, Desa Cipurut, serta Desa Cireunghas di Kecamatan Cireunghas.

    “Menurut data yang dihimpun, angin kencang ini menyebabkan 70 unit rumah rusak ringan dan tujuh rumah lainnya mengalami rusak sedang dengan kondisi atap rumah terbuka,” jelas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari.

    baca juga: intensitas hujan tinggi waspada banjir dan longsor di wilayah ini

    Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB, bencana tersebut dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi dan disertai dengan angin kencang.

    “Saat ini tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi bersama perangkat desa tengah melakukan pendataan lebih lanjut. Hal tersebut dilakukan untuk melakukan percepatan penanganan bersama tim gabungan di lokasi terdampak,” ungkapnya.

    Sementara itu, Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sukabumi, Eko mengatakan kejadian tersebut terjadi pada Sabtu (21/10) sekitar pukul 13.00 sampai 15.00 WIB.

    baca juga: Awas! Sejumlah Wilayah Ini Berpotensi Diguyur Hujan Lebat dan Angin Kencang

    Pada Minggu (22/10/2023) tim BPBD kembali ke lapangan melakukan pendataan ulang korban terdampak untuk mempermudah penanganan.

    Selain itu, BPBD juga membersihkan puing puing pohon yang tumbang dan pembersihan yang lainnya.

    Pada kesempatan itu BNPB mengimbau agar masyarakat maupun pemerintah daerah (pemda) untuk selalu waspada terhadap bencana yang disebabkan oleh cuaca ekstrem, seperti angin puting beliung maupun angin kencang.

    Karena itu, masyarakat dapat menghindari mobilitas di tengah hujan lebat dan tidak berteduh di bawah pohon, baliho, dan bangunan yang rapuh, serta memangkas ranting pohon yang lapuk.

    Reporter: Nurakhmayani

  • WMO: Kenaikan Suhu Global Picu Bencana Akan Lebih Sering Terjadi

    WMO: Kenaikan Suhu Global Picu Bencana Akan Lebih Sering Terjadi

    7cloud.asia – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengeluarkan peringatan dini bencana banjir, kebakaran hutan, pencairan gletser dan gelombang panas akan menjadi lebih umum dan intens di masa depan.

    Peringatan dini ini dilakukan seiring dengan naiknya suhu global hingga bertahun-tahun ke depan.

    Data dari WMO, suhu rata-rata global pada 2023 telah meningkat sekitar 1,4 derajat celsius dibandingkan masa pra-industri.

    Melansir Antaranews, kenaikan suhu global saat ini hanya 0,1 derajat di bawah batas 1,5 derajat celcius yang ditetapkan oleh Perjanjian Iklim Paris pada 2015.

    Baca: Pemanasan global picu masalah serius bagi lingkungan

    Perjanjian Paris merupakan perjanjian internasional yang ditandatangani oleh hampir 200 negara yang bertujuan mencegah supaya kenaikan suhu global tidak lebih dari 1,5 derajat celcius pada akhir abad ini.

    WMO menyebut tingkat karbon dioksida atau CO2 di atmosfer telah melonjak hingga 50 persen di atas level yang pernah tercatat pada era pra-industri.

    Peningkatan ini menunjukkan bahwa suhu akan terus meningkat dalam jangka waktu lama, bahkan jika langkah-langkah pengurangan emisi drastis diterapkan.

    Menurut WMO periode 2015 hingga 2023 merupakan periode paling hangat yang pernah tercatat.

    Baca: November 2022 hingga Oktober 2023 periode dengan suhu terpanas sepanjang sejarah

    Temuan ini memang berdasarkan data hingga Oktober 2023.

    Namun, WMO menegaskan bahwa dua bulan terakhir tahun ini tidak mungkin cukup untuk mencegah tahun 2023 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah.

    Karena itu, WMO menekankan perlunya tindakan segera untuk mengatasi perubahan iklim.

    Sebelumnya lembaga pemerhati perubahan iklim Climate Central Bulan menganalisis November 2022 hingga Oktober 2023 merupakan periode terpanas sepanjang sejarah.

    Baca: Pemanasan suhu bumi capai 2derajat celcius,apayang terjadi pada planet bumi

    WMO menyebut rata-rata temperatur global 1,3 derajat diatas temperatur pada masa pra industri.

    Demikian hasil analisis yang disampaikan oleh Wakil Presiden Bidang Sains Climate Central, Andrew Pershing.

    “Rekor akan terus terjadi pada tahun depan, terutama ketika El Nino semakin meningkat, dampaknya menyebabkan panas yang tidak biasa,” ungkap Andrew.

    Lebih lanjut Andrew menjelaskan dampak iklim parah terjadi di negara-negara berkembang di khatulistiwa dan gelombang panas ekstrem yang dipicu oleh perubahan iklim melanda Amerika Serikat, India, Jepang, dan Eropa.

    Baca: Emisi karbon cetak rekor pada 2023

    Artinya tidak ada negara yang aman dari dampak perubahan iklim. Termasuk Indonesia sebagai salah satu negara Asia yang beriklim tropis mengalami kenaikan suhu dalam setahun terakhir.

    Sementara Prof Edvin Aldrian, peneliti BRIN yang menjadi penulis Laporan Intergovernmental Panel on Climate Changemengungkapkan kekhawatirannya.

    Kenaikan suhu sebesar 1,5 derajat celcius dikhawatirkan lebih cepat terjadi dari yang diperkirakan pada 2030 dengan kondisi kenaikan suhu saat ini.

    “Memang ada faktor-faktor alam seperti fenomena El Nino, atau posisi matahari yang mendekati Bumi, tetapi aktivitas manusialah yang paling banyak memengaruhi kenaikan suhu global ini,” kata Edvin.

    Reporter: Nurakhmayani

  • BMKG Perkirakan Hujan Lebat Hingga 20 Desember di Wilayah Ini, Masyarakat Diimbau Waspada Bencana

    BMKG Perkirakan Hujan Lebat Hingga 20 Desember di Wilayah Ini, Masyarakat Diimbau Waspada Bencana

     

    7cloud.asia – Hujan lebat mengguyur beberapa wilayah sejak November lalu. Namun ada pula hujan lebat yang baru terjadi di bulan Desember. Diantaranya di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur. Wilayah ini berpotensi hujan lebat hingga 20 Desember

    Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Sti Nenotek menjelaskan dengan kondisi cuaca seperti itu, masyarakat diimbau mewaspdai potensi bencana hidrometerologi seperti banjir, banjir bandang, longsor, dll.

    “Waspada dampak hujan lebat seperti banjir dan tanah longsor hingga 20 Desember 2023 ini,” ujarnya seperti yang dilansir Antaranews pada Rabu (13/12/2023).

    Menurutnya hal ini terjadi karena sebagian wilayah NTT berada pada musim hujan dengan kondisi suhu muka laut yang hangat dan kelembapan yang cukup basah di tiap lapisan atmosfer.

    Hal lain yang juga ikut mempengaruhi adalah adanya sirkulasi siklonik di laut Timor.

    Kondisi ini menyebabkan sebagian besar wilayah NTT berpotensi hujan intensitas sedang hingga lebat, yang disertai petir dan angin kencang.

    Dengan demikian, Sti mengingatkan masyarakat pada enam kabupaten/kota yang berada di Pulau Timor yakni Belu, Malaka, Timor Tengah Selatan (TTS) mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi.

    Wilayah lain yang juga harus mewaspadai potensi bencana adalah Timor Tengah Utara (TTU), Kabupaten Kupang, dan Kota Kupang.

    Beberapa potensi bencana itu seperti pohon tumbang, jalanan licin, banjir, banjir bandang, tanah longsor, serta kerusakan atap bangunan maupun fasilitas umum.

    Bagi masyarakat yang tinggal di daerah dengan topografi curam atau tebing, Sti mengingatkan agar waspada terhadap potensi longsor.

    “Waspada potensi banjir bandang dan longsor saat hujan dengan durasi panjang,” kata Sti.

    Pihaknya, lanjut Sti, terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di setiap kabupaten/kota untuk meneruskan informasi peringatan dini maupun prakiraan cuaca kepada masyarakat.

    Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Timor Tengah Selatan, Yerry Otte Nakamnanu menjelaskan pihaknya telah melakukan mitigasi bencana di beberapa titik yang rawan banjir dan longsor.

    Salah satunya dengan melakukan pengerukan saluran air menggunakan alat berat.

    Upaya lainnya adalah dengan melakukan pengalihan dan pembuatan tanggul empangan aliran air di kali yang akan mengarah ke pemukiman penduduk pada saat curah hujan tinggi.

    “Ini dilakukan untuk mengurangi risiko bencana banjir dan longsor,” kata Yerry.

     

    Reporter: Nurakhmayani

  • Hindari Banyak Korban, Ahli Geologi Imbau Masyarakat Patuhi Kawasan Rawan Bencana

    Hindari Banyak Korban, Ahli Geologi Imbau Masyarakat Patuhi Kawasan Rawan Bencana

    7cloud.asia – Letusan Gunung Marapi di Sumatera Barat beberapa waktu lalu memakan korban jiwa 23 orang. Masyarakat seharusnya mematuhi peta kawasan rawan bencana (KRB) agar peristiwa ini tak terulang.

    Hal ini dikatakan oleh ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Sumatra Barat, Dian Hadiyansyah pada Selasa (12/12/2023).

    “Terkait mitigasi, masyarakat harus mengikuti peta KRB yang sudah dikeluarkan pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi,” ujar Dian seperti yang dilansir Antaranews.

    Menurutnya ancaman letusan gunung api yang dapat terjadi kapan saja, seperti yang terjadi pada Gunung Marapi.

    Peta KRB yang dikeluarkan Kementerian ESDM sudah jelas menggambarkan daerah mana saja yang berpotensi dilewati lahar dingin.

    Baca: Gunung Marapi meletus 11 orang tewas

    Berdasarkan peta KRB yang diterbitkan pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi, terdapat dua zona aliran lahar dingin, yakni zona berbentuk lingkaran dan zona berbentuk aliran.

    “Artinya, masyarakat harus menghindari zona-zona yang memungkinkan dilewati lahar dingin seperti sepanjang sungai dan lembah,” jelasnya.

    Selanjutnya Dian memaparkan Gunung Marapi yang tiba-tiba meletus pada Minggu (3/12/2023) lalu akibat adanya kontak air tanah dengan dapur magma di dalam perut bumi yang memicu ledakan.

    Hal ini karena Gunung Marapi merupakan jenis eksplosif dengan karakter freatik yang memungkinkan gunung meletus secara tiba-tiba.

    Pada umumnya letusan gunung api di Indonesia bersifat eksplosif dan diiringi gempa vulkanik.

    “Khusus letusan Gunung Marapi dengan karakter freatik lebih banyak dipengaruhi oleh keberadaan air tanah yang kontak dengan dapur magma,” katanya 

    Baca: Seharian Gunung Api ile Lewotolok Meletus 35 kali

    Seperti yang diberitakan sebelumnya Gunung Marapi pada 3 Desember 2023 pukul 14.54 WIB lalu meletus dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 3000 meter di atas puncak (5891 m di atas permukaan laut).

    Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah timur. Letusan ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 30 mm dan durasi 4 menit 41 detik.

    Letusan itu disertai dengan adanya aliran piroklasik ke arah utara dengan jarak luncur 3 km.

    Berdasarkan pengamatan instrumental Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) letusan ini tidak didahului oleh peningkatan gempa vulkanik yang signifikan.

    Korban meninggal sebanyak 23 orang dan mayoritas adalah mahasiswa. Banyaknya korban meninggal ini karena jalur pendakian tidak ditutup pada saat kejadian tersebut.

    Baca: Gunung Dukono meletus warga diimbau waspada

    Padahal ada batas larangan yang jelas terpasang di jalur pendakian gunung yang terletak di wilayah Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat tersebut.

    Pengurus pusat Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia(APGI), Ruslan Budiarto, menjelaskan  pihaknya selalu memberi pengertian kepada para pendaki untuk mematuhi segala peraturan di gunung yang akan didaki.

    Jika ada yang memaksa naik, atau melewati batas larangan, maka segala risiko tidak ditanggung oleh pemandu itu.

    “Jadi kalau ada yang memaksa naik ke puncak maka itu bukan tanggung jawab kami. Itu seperti yang berlaku di Gunung Semeru. Kami akan sarankan hingga Kalimati saja,” katanya.

    Memang dijalur pendakian terdapat papan peringatan berikut dengan logo PVMBG dan BKSDA yang tertulis: ‘Tingkat aktivitas Gunung Marapi Waspada (Level II). DILARANG MENDEKATI KAWAH AKTIF. Radius 3 km dari kawah sangat berbahaya saat terjadi erupsi (letusan).’

    Reporter: Nurakhmayani

  • Intensitas Hujan Tinggi, Riau Tetapkan Status Siaga Darurat Bencana

    Intensitas Hujan Tinggi, Riau Tetapkan Status Siaga Darurat Bencana

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi Riau menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi yakni bencana banjir, tanah longsor dan puting beliung sejak 22 Desember 2023 hingga 31 Januari 2024.

    Penetapan status berdasarkan surat keputusan Gubernur Riau Nomor: Kpts. 7743/XII/2023 tentang Status Siaga Darurat Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi Provinsi Riau tahun 2023.

    “Penetapan status tersebut dengan pertimbangan Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Kampar dan Kota Pekanbaru sudah menetapkan status siaga darurat banjir, tanah longsor dan angin puting beliung,” kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, M Edy Afrizal.

    Baca: Intensitas hujan tinggi, banjir landa Kota Padang

    Menurut Edy Afrizal, seperti Rohul mungkin akan meningkat status dari siaga menjadi tanggap darurat. Kemudian Kampar juga mau menaikkan status dari siaga ke tanggap darurat.

    Dengan demikian, kata Edy, menyebutkan berdasarkan pertimbangan tersebut maka sudah cukup untuk tingkat provinsi menetapkan status siaga darurat hidrometeorologi.

    “Penetapan status siaga hidrometeorologi juga mempertimbangkan Badan Meteorologi dan Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru melihat kondisi cuaca akhir-akhir ini curah hujan cukup tinggi di Riau,” katanya.

    Baca: Banjir di Malang diduga karena sampah

    Selain itu, Riau juga mempertimbangkan curah hujan di provinsi tetangga yakni Sumatera Barat yang cukup tinggi.

    Karena ini akan sangat berdampak terhadap pembukaan pintu waduk PLTA Koto Panjang Kampar, seperti Selasa (26/12) pukul 14.00 WIB, yang sudah melakukan penambahan pembukaan pintu waduk 50×60 Cm.

    Untuk mendukung upaya tanggap darurat, kata Edy, pihaknya juga sudah mendirikan posko siaga darurat bencana di kantor BPBD Riau.

    Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru memprediksi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang dapat disertai petir dan angin kencang masih berpotensi mengguyur di sejumlah wilayah setempat.

    Baca: Banjir bandang di Kudus

    “Pada malam hari potensi hujan terjadi di sebagian besar wilayah Provinsi Riau dan pada dini hari sebagian wilayah Kabupaten Rokan Hulu, Rokan Hilir, Kampar, Kuantan Singingi, Siak, Pelalawan, Bengkalis, Kepulauan Meranti, Indragiri Hilir, Kota Pekanbaru dan Kota Dumai berpotensi hujan,” kata Forecaster on Duty BMKG stasiun Pekanbaru, Anggun.

    Selain itu, kata Anggun, BMKG mengeluarkan peringatan dini untuk mewaspadai potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang.

    Suhu udara Riau hari ini berada di angka 22.0-31.0 °C dengan kelembapan udara 60-99 persen. Sementara arah angin berhembus ke barat laut-timur laut dengan kecepatan 10-30 Km/jam.

    “Prakiraan tinggi gelombang di perairan Provinsi Riau berkisar antara 0.01-0.50 meter,” demikian Anggun.

    Sumber: Antaranews

  • Cuaca Hari Ini: Waspada Bencana Akibat Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Ini

    Cuaca Hari Ini: Waspada Bencana Akibat Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Ini

     

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan status waspada terhadap bencana hidrometeorologi sebagai dampak dari potensi hujan lebat di sejumlah daerah pada Minggu (18/02/2024).

    “Waspada terhadap bencana hidrometeorologi dampak dari potensi hujan lebat yang berlaku mulai pukul 07.00 WIB,” kata Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG Eko Prasetyo melalui Instagram @infobmkg.

    Bencana hidrometeorologi tersebut dapat berupa banjir, longsor, banjir bandang, pohon tumbang, dan lain-lain.

    Wilayah yang berpotensi terjadi bencana hidrometeorologi akibat hujan lebat adalah Kabupaten Solok Selatan dan Dharmasraya di Provinsi Sumatera Barat, Belitung Timur di Kepulauan Bangka Belitung.

    Selain itu, wilayah Karanganyar, Sragen, Semarang, Kota Salatiga, Brebes, dan Tegal di Provinsi Jawa Tengah juga berpotensi terjadi bencana hidrometeorologi.

    Wilayah Jawa Timur bencana hidrometeorologi berpeluang melanda Ngawi, Kediri, Jombang, Malang, Pasuruan, dan Mojokerto.

    Potensi yang sama juga terjadi di Propinsi Kalimantan Barat yaitu Sanggau, Landak, Sekadau, Melawi, Ketapang, Sintang, dan Kapuas Hulu.

    Status waspada juga berlaku di Kalimantan Tengah yaitu wilayah Lamandau, Kota Waringin Timur, dan Katingan.

    Di Propinsi Sulawesi Tenggara status waspada berlaku di Konawe Selatan, Konawe Utara, Konawe, dan Kolaka Timur.

    Untuk wilayah timur Indonesia status waspada berlaku di Manokwari Selatan, Teluk Bintuni, dan Fakfak Papua Barat, serta Merauke, Pegunungan Bintang, Yahukimo, Jayapura, Keerom, Mimika.

    Kemudian di wilayah Tolikara Puncak Jaya, Mamberamo Raya, Asmat, Nduga, Puncak, Boven Digoel, Yalimo, Jayawijaya, dan Mappi di Papua juga berlaku status waspada.

    Sementara itu cuaca di seluruh wilayah DKI Jakarta diprediksi berawan dan cerah dari pagi hingga malam hari.

    Suhu udara berkisar antara 25 hingga 31 derajat celsius dengan tingkat kelembaban antara 75 hingga 95 persen.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Curah Hujan Tinggi, BMKG Minta Warga Waspada Bencana di Wilayah Ini

    Curah Hujan Tinggi, BMKG Minta Warga Waspada Bencana di Wilayah Ini

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang, longsor, pohon tumbang di sejumlah wilayah pada Jumat (23/02/2024).

    Wilayah tersebut adalah sebagian wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Lampung, Bangka Belitung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta.

    Selain itu, sebagian wilayah Jawa Timur, Bali, NTB, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku, Papua Barat dan Papua juga berpotensi mengalami bencana yang sama.

    BMKG memperkirakan bencana tersebut sebagai dampak dari hujan dengan intensitas lebat diatas 50 mm/hari yang berpotensi mengguyur wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Jambi.

    Wilayah Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat juga berpeluang terjadi hujan lebat.

    Kondisi cuaca serupa diperkirakan terjadi di wilayah Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua.

    BMKG memperkirakan hujan disertai kilat/petir atau hujan badai berpotensi melanda wilayah Aceh, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung.

    Potensi cuaca seperti ini berpeluang juga melanda wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat.

    Untuk wilayah Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku dan Papua Barat berpeluang terjadi hujan badai.

    Tak hanya hujan, masyarakat diimbau mewaspadai peluang angin kencang dengan kecepatan diatas 45 km/jam yang terjadi di wilayah Aceh, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Papua.

    Sementara seluruh wilayah Jakarta diperkirakan cerah berawan pada pagi hingga sore hari.

    Peluang hujan dengan intensitas ringan terjadi pada malam hari di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

    Suhu udara berkisar antara 24 hingga 32 deraajat celsius dengan tingkat kelembaban antara 70 hingga 95 persen.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Bandung dan Sumedang Dilanda Angin Puting Beliung Hebat, Dampak Perubahan Iklim?

    Bandung dan Sumedang Dilanda Angin Puting Beliung Hebat, Dampak Perubahan Iklim?

    7cloud.asia – Pada Rabu (21/2/2024) terjadi kejadian ekstrem yang ditandai dengan pusaran angin kencang yang disertai hujan di Rancaekek, Bandung, Jawa Barat,

    Angin puting beliung ini memicu kerusakan hingga ke Jatinangor, Kabupaten Sumedang, itu terjadi sekitar pukul 16.00 waktu Indonesia barat (WIB).

    Angin puting beliung ini mengakibatkan sejumlah bangunan seperti toko, pabrik dan rumah warga di dua daerah itu mengalami kerusakan dari ringan hingga berat.

    BPBD Jabar melaporkan di Kabupaten Sumedang ada sekitar 12 warga yang mengalami luka dan 413 KK terdampak bencana angin puting beliung itu. 
     
     
    Sedangkan di Kabupaten Bandung terdapat 21 orang yang terluka dan 422 kepalakeluarga yang terdampak karena rumahnya rusak sedang hingga berat.

    Pemerintah Kabupaten Bandung telah menetapkan status tanggap darurat bencana angin puting beliung selama 14 hari terhitung mulai tanggal 22 Februari sampai 6 Maret 2024.

    Menanggapi kejadian ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan fenomena puting beliung yang terjadi di Rancaekek ini terjadi karena faktor-faktor yang bersifat lokal.

    Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Eddy Hermawan mengatakan hal ini untuk meluruskan dugaan awal publik terkait pemicu puting beliung ini. 

    Baca: Pemanasan global picu masalah serius bagi lingkungan

    Saat ini marak beredar di berbagai platform media sosial, bahwa angin puting beliung ini dipicu perubahan iklim.

    “Fenomena itu hanya local effect, bukan global effect,” ujarnya melalui sambungan telpon di Jakarta, Jumat (23/2/2024).

    Eddy mengatakan hipotesis terbentuknya puting beliung akibat perubahan tata guna lahan di Rancaekek.

    Dahulu kawasan itu adalah perkebunan jati yang hijau yang membuat lingkungan relatif sejuk dan bersih.

    Baca: Kebakaran lahan akibat El Nino harus dibayar mahal

    Sekarang daerah itu telah berubah menjadi kawasan industri dan pemukiman padat dan minim pepohonan.

    Menurutnya, industri banyak menghasilkan emisi gas rumah kaca yang mengurung panas matahari.

    Kondisi itu membuat Rancaekek menjadi kawasan bertekanan rendah yang mengisap uap air dari daerah sekeliling dan membentuk awan-awan besar cumulonimbus.

    Pertemuan dua massa uap air dari arah timur dan barat, kemudian diperkuat dari arah selatan Samudera Hindia.

    Baca: BNPB ingatkan potensi bencana hidrometeorologi

    Ketiga massa uap air tersebut berkumpul di Rancaekek dan menciptakan puting beliung.

    Perubahan iklim adalah frekuensi kejadian ekstrem meningkat, misalnya di Rancaekek yang dahulu setahun ada tiga kali bencana menjadi enam kali bencana.

    “Sifat perubahan iklim tidak lokal, tetapi global dengan cakupan wilayah yang sangat luas,” kata Eddy.

    “Kalau puting beliung di Rancaekek dibangkitkan oleh perubahan iklim, maka bukan hanya Rancaekek saja yang mengalami bencana itu, tetapi Pantai Utara Pulau Jawa juga,” imbuhnya.

    Sumber: Antaranews.com

     

  • BRIN: Pengetahuan dan Kearifan Lokal Terbukti Mampu Antisipasi Bencana

    BRIN: Pengetahuan dan Kearifan Lokal Terbukti Mampu Antisipasi Bencana

    7cloud.asia – Pengetahuan dan kearifan lokal yang terdapat di dalam Masyarakat Indonesia telah terbukti mampu mendorong masyarakat untuk mengantisipasi bencana.

    Hal itu disampaikan Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Itje Chodijah saat berbicara dalam diskusi Kick Off MOST UNESCO 2024 yang bertema “Pemanfaatan Pengetahuan Lokal untuk Pengurangan Risiko Bencana bagi Kelompok Rentan dengan Menggunakan Teknologi Informasi” Februari lalu

    Itje menyebut sejumlah contoh nyata dari masyarakat Indonesia telah memperlihatkan efektivitas pengetahuan dan kearifan lokal dalam mengurangi dampak bencana.

    Contohnya, strategi “Smong” di Aceh dalam menghadapi tsunami, atau contoh lain bagaimana Masyarakat Baduy menyiasati gempa bumi dengan konstruksi bangunan rumah mereka.

    “Sementara masyarakat Minangkabau yang membangun Rumah Gadang tanpa paku guna meminimalisir dampak gempa bumi; dan Masyarakat Tasikmalaya dalam menjaga kampungnya dari ancaman banjir dan longsor,” ungkap Itje.

    Baca: Mengenal masyarakat adat

    Dikatakan Itje, Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO memberikan dukungan penuh terhadap Program MOST UNESCO Indonesia yang memprioritaskan kelompok rentan berbasis pengetahuan lokal atau kearifan tradisional.

    Indonesia yang kaya akan tradisi menemukan keselarasan antara pengetahuan lokal dan teknologi informasi dalam menghadapi bencana alam.

    Menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007, kelompok rentan mencakup berbagai elemen masyarakat, seperti penyandang disabilitas, anak-anak, perempuan, dan lanjut usia. Program ini berfokus pada kelompok rentan tersebut untuk meningkatkan kesiapsiagaan mereka terhadap bencana.

    Selain itu, Itje mengatakan pengetahuan lokal menjadi kunci dalam pengurangan risiko bencana.

    Melalui teknologi informasi, pemetaan risiko lokal dapat dilakukan dengan menggunakan sistem informasi geografis (SIG).

    Baca: Peran masyarakat adat dalam menghadapi bencana akibat perubahan iklim 

    Sedangkan, aplikasi seluler dapat digunakan untuk pengumpulan informasi darurat, pendidikan masyarakat tentang tindakan kesiapsiagaan, dan sistem komunikasi darurat.

    “Pemanfaatan pengetahuan lokal dalam pengurangan risiko bencana bagi kelompok rentan dengan memanfaatkan teknologi informasi dapat mendukung transformasi kebijakan dan implementasi kebijakan inklusif,” jelas Itje.

    Menurutnya, pemanfaatan teknologi informasi ini juga sesuai dengan agenda global, seperti Sustainable Development Goals (SDGs) yang digagas oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

    “Dalam hal ini, Program MOST UNESCO Indonesia mendukung tujuan-tujuan SDGs terkait kesehatan, pendidikan berkualitas, kesetaraan gender, dan perubahan iklim,” tandas Itje.

    Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO menegaskan pentingnya kerjasama antara pemangku kepentingan untuk mengimplementasikan program ini.

    Baca: Masih ada pengabaian masyarakat adat

    Maka dari itu, Itje mengatakan hasil dari kegiatan ini diharapkan memberikan dampak positif bagi seluruh masyarakat Indonesia, khususnya kelompok rentan, dalam mencapai pembangunan yang berkelanjutan dan menyeluruh.

    Dengan demikian, upaya pengurangan risiko bencana melalui pemanfaatan pengetahuan lokal dan teknologi informasi menjadi langkah penting dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.

    Sumber: brin.go.id