Tag: BRIN

  • Indonesia Berkomitmen Serahkan Tinjauan Berkala 7 Cagar Biosfer Sesuai Jadwal

    Indonesia Berkomitmen Serahkan Tinjauan Berkala 7 Cagar Biosfer Sesuai Jadwal

    7cloud.asia – Indonesia memiliki 20 cagar biosfer yang telah dikukuhkan dan diakui oleh Man and Biosphere (MAB) UNESCO.

    Pada tahun ini terdapat tujuh cagar biosfer yang memiliki kewajiban untuk melaporkan tinjauan berkala 10 tahun.

    Deputi Kebijakan Pembangunan BRIN Mego Pinandito mengatakan, ketujuh cagar biosfer tersebut antara lain Leuser, Siberut, Bromo Tengger-Semeru-Arjuno, Tanjung Putting, Takabonerate, Lore Lindu, dan Komodo.

    “Dalam program ini BRIN berupaya untuk melihat bagaimana sebetulnya fungsi yang ada di cagar biosfer dalam mempertahankan kelestarian lingkungan. Mempertahankan keseimbangan antara menjaga hutan, dan menjaga lingkungan,” jelasnya saat membuka kegiatan Finalisasi Dokumen Tinjauan Berkala (Periodic Review) Tahun 2024 Tujuh Cagar Biosfer Indonesia di Gedung BJ. Habibie Jakarta, Rabu (18/9/2024).

    Dia menambahkan, Indonesia sebuah negara yang terus berkembang, membutuhkan lahan-lahan baru untuk pemukiman, membutuhkan lahan-lahan baru untuk membangun jalan, jembatan.

    Program-program dan proyek-proyek nasional yang cukup besar, dan ini membutuhkan satu tatanan yang luar biasa.

    “Nah konsep inilah yang kemudian bersama-sama antara bagaimana upaya kita agar pembangunan bisa berjalan dengan baik. Kemudian kelestarian hutan dan penjagaan cagar biosphere itu menjadi sesuatu yang sinergi,” tambahnya.

    Menurutnya, kegiatan ini adalah langkah strategis untuk memastikan bahwa pengelolaan cagar biosfer di Indonesia dapat berjalan sesuai standar internasional.

    Baca: BRIN sedang merampungkan tinjauan berkala terhadap tujuh biosfer di Indonesia

    Mego melanjutkan, cagar biosfer merupakan laboratorium alami yang sangat penting, tidak hanya untuk konservasi keanekaragaman hayati tetapi juga sebagai model untuk pembangunan berkelanjutan.

    BRIN akan terus mendukung upaya ini melalui pendekatan riset yang berkelanjutan dan inovasi dalam tata kelola lingkungan.

    BRIN, ujarnya, akan siap bersedia membantu, memberikan solusi-solusi, mungkin juga dengan bagaimana kita bisa mencari berbagai terobosan yang terkait dengan vegetasinya, dengan masalah pengelolaan tanahnya dan sebagainya.

    ”Hal yang penting juga adalah bagaimana kita bisa membantu masyarakat di sekitarnya untuk bisa mendapatkan tambahan ataupun memberdayakan masyarakat, terlebih lagi dikaitkan dengan keberadaan dari sebuah cagar biosfer ini,” jelasnya.

    Sementara Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) Itje Chodidjah memaparkan, KNIU bertugas menjalankan fungsi sebagai penghubung antara Pemerintah Indonesia dengan UNESCO maupun membawa berita dari UNESCO ke Indonesia.

    Selain itu juga memiliki peran untuk memastikan tujuan dari pemerintah Indonesia di dunia internasional, dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan khususnya pada partisipasi Indonesia di UNESCO.

    “Tentunya harapan kita semua melalui kegiatan-kegiatan yang terkait dengan kegiatan UNESCO, kita akan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi-diplomasi internasional,” urainya.

    Dia melanjutkan, setelah pengajuan tersebut disetujui, UNESCO kemudian memasukkan kawasan-kawasan ini ke dalam daftar cagar biosfer melalui program Man and the Biosphere atau MAB ini.

    Baca: Mengenal tujuh biosfer yang ada di Indonesia

    Sebagai bagian dari komitmen ini, UNESCO memiliki hak dan menerima laporan berkala dari semua negara yang memiliki cagar biosfer dalam bagian program MAB tersebut.

    “Kami sangat berharap agar cagar biosfer Indonesia dapat menjadi sarana melaksanakan komitmen bangsa Indonesia. Dalam melaksanakan program UNESCO terkait dengan lingkungan hidup, keanekaragaman hayat, dan perubahan iklim,” ungkapnya.

    Dalam berbagai pertemuan, lanjut Itje, hal ini selalu didengungkan terkait dengan perubahan iklim yang mengakibatkan kerentanan kehidupan sosial di atas bumi.

    Tentunya menjadi cagar biosfer yang mendorong keselarasan antara manusia dan alam untuk pembangunan berkelanjutan, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan kesejahteraan manusia.

    “Di samping itu juga sebagai penghormatan terhadap nilai-nilai budaya dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi perubahan sesuai dengan tujuan program UNESCO. Kami berharap laporan periodik review 7 cagar biosfer dapat selesai dengan baik, sehingga laporan tersebut dapat kami kirimkan dan diteruskan kepada UNESCO tepat waktu,” harapnya.

    Itje menyatakan, Indonesia berkomitmen untuk memastikan bahwa laporan tersebut mencerminkan capaian dan tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan cagar biosfer, sehingga dapat terus meningkatkan kontribusi Indonesia dalam inisiatif global.

    “Tentunya ini semua adalah upaya kita bersama meningkatkan martabat bangsa Indonesia di forum internasional,” pungkasnya.

    Sumber:brin.go.id

  • Belajar dari Jepang, BRIN Kembangkan Sistem Pendidikan Lingkungan Mutakhir

    Belajar dari Jepang, BRIN Kembangkan Sistem Pendidikan Lingkungan Mutakhir

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset (PR) Pendidikan berkolaborasi dengan Indonesian Education Promoting Foundation (IEPF) untuk menerapkan pendidikan lingkungan melalui bahan ajar digital.

    Kolaborasi itu ditandai dengan seminar bertajuk “Transformasi Pendidikan Lingkungan dalam Pencapaian SDGs di Indonesia: Digitalisasi Bahan Ajar dan Lesson Study” di Kampus BRIN Kawasan Sains Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, Selasa (12/11/2024).

    Seminar tentang pendidikan lingkungan ini diadakan dalam kerangka kerja sama IEPF dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) yang sudah bermitra dengan Dinas Pendidikan di Kota Kupang, Kabupaten Manggarai Barat, dan Kabupaten Tabanan.

    Pendidikan lingkungan sebelumnya telah diterapkan di Kota Tangerang Selatan melalui proyek “Proyek untuk Mendukung Pendidikan Lingkungan SDGs di Pulau-Pulau Terpencil Menggunakan Bahan Ajar Digital dan Lesson Study Ala Jepang.”

    Sistem pendidikan lingkungan yang akan diterapkan mengajak anak-anak berpikir kritis dan memahami bagaimana tindakan mereka memengaruhi lingkungan.

    Baca: Ketimpangan akses membuat pendidikan tereksklusi

    Guru akan berperan sebagai fasilitator dan teladan, mengajarkan metode berbasis kondisi nyata di lingkungan sekitar peserta didik melalui proses pembudayaan dan pembelajaran mandiri.

    Melalui pendidikan lingkungan, anak-anak juga dapat mempelajari STEAM (Sains, Teknologi, Art/Seni, dan Matematika) serta aspek sosial budaya.

    Selain pengetahuan dan sikap, anak-anak akan dilatih keterampilan yang berguna, seperti pengelolaan sampah, menyelamatkan diri dari bencana, dan upaya lain dalam mengatasi masalah lingkungan.

    Kepala Pusat Riset Pendidikan BRIN, Trina Fizzant, menyoroti pentingnya belajar dari Jepang, yang dikenal sebagai bangsa dengan kesadaran lingkungan yang sangat tinggi.

    Di Jepang, kesadaran dan tanggung jawab terhadap lingkungan, seperti pengelolaan sampah, air, tanah, dan energi, dipupuk sejak dini, baik di keluarga maupun sekolah.

    Baca: Pendidikan lingkungan pada anak bantu cegah penyakit menular

    “Kita harus mempelajari cara mereka merawat lingkungan dan menanamkan nilai-nilai ini kepada anak-anak,” ujar Trina.

    Trina menambahkan, Indonesia masih menghadapi berbagai masalah lingkungan, seperti sampah yang menumpuk dan pencemaran air serta tanah.

    Ia menekankan bahwa pendidikan lingkungan sejak dini adalah kunci untuk mengatasi persoalan ini, dan upaya tersebut memerlukan dukungan dari keluarga, masyarakat, tokoh agama, dan pemerintah.

    Seminar itu menghadirkan pembicara dari IEPF dan PR Pendidikan BRIN, dengan peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, seperti sekolah, perguruan tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, komunitas lingkungan, lembaga penelitian, dan lainnya.

    Kegiatan itu merupakan awal dari kerja sama antara IEPF dan PR Pendidikan BRIN yang akan dikembangkan dengan implementasi pendidikan lingkungan lebih luas.

    Kolaborasi ini diharapkan membuka peluang kerja sama baru dengan lembaga-lembaga lain, memperkuat upaya kolektif dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) di Indonesia.

  • BRIN Temukan 98 Taksa Baru Sepanjang 2024, Didominasi Kelompok Flora

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nsional (BRIN) berhasil mengidentifikasi 98 kelompok makhluk hidup yang memiliki kesamaan, dan diberi nama ilmiah sama atau taksa baru sepanjang tahun 2024.

    Dari 98 taksa baru temuan BRIN tersebut, 62 persen merupakan spesimen asal Indonesia, di antaranya merupakan spesies endemik flora dan fauna Indonesia.

    Kepala Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN Arif Nurkanto merinci, 50 taksa baru berasal dari kelompok tanaman (flora), yang terdiri atas 11 spesies baru, 1 subspesies baru, 1 varietas baru, dan 37 rekaman baru.

    Sementara dari kelompok fauna atau dunia hewan ditemukan 39 taksa baru, meliputi 26 spesies baru dan 13 rekaman baru.

    Adapun dari kelompok mikroorganisme, ditemukan 9 taksa baru, yang mencakup 6 spesies baru dan 3 rekaman baru.

    Baca: IUCN sebut sekitar 46.300 spesies terancam punah

    Penemuan taksa baru ini tidak hanya memperkaya wawasan tentang keanekaragaman hayati Indonesia, tetapi juga berperan penting dalam upaya konservasi.

    “Dengan memahami dan mendokumentasikan spesies yang ada, langkah-langkah konservasi yang lebih efektif dapat dirancang, seperti rehabilitasi dan peningkatan populasi spesies yang terancam punah, eksplorasi dan konservasi ex situ, serta studi ekologi dan restorasi habitat,” kata Arif.

    Dilansir di laman resmi BRIN, Arif menegaskan, keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi dengan berbagai lembaga penelitian dan ilmuwan dari dalam maupun luar negeri.

    Menurutnya, publikasi hasil penelitian dalam berbagai jurnal ilmiah tidak hanya memperkaya referensi global tentang biodiversitas Indonesia,

    ”Tetapi juga menegaskan pentingnya perlindungan dan pengelolaan sumber daya hayati secara berkelanjutan demi kelestarian ekosistem dan kesejahteraan generasi mendatang,” tegas Arif.

    Baca: BRIN temukan spesies anggrek baru endemik Sulawesi

    Sementara Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN Andes Hamuraby Rozak mengungkapkan, upaya pengungkapan dan pemanfaatan biodiversitas telah menjadi fokus utama rencana kerja Organisasi Riset.

    Dua program utama yang saat ini berjalan yaitu kegiatan riset melakui skema rumah program biota yang terkonservasi, dan kegiatan platform kolaborasi ekspedisi biodiversitas terestrial.

    “Melalui dua skema riset yang dilaksanakan, diharapkan akan lebih berkontribusi signifikan dalam pengungkapan biodiversitas yang merupakan langkah awal dari kegiatan pemanfaatan biodiversitas yang berkelanjutan,” terangnya.

    Berikut tautan foto-foto temuan taksa baru 2024: https://bit.ly/TemuanTaksaBaruPRBE2024 

  • Anggarannya Dipangkas Hampir 25 Persen, BRIN Tetap Prioritaskan Program Swasembada Pangan

    Anggarannya Dipangkas Hampir 25 Persen, BRIN Tetap Prioritaskan Program Swasembada Pangan

    7cloud.asia – Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko menegaskan bahwa efisiensi anggaran yang diterapkan untuk tahun anggaran 2025 tidak akan mengganggu kegiatan riset dan inovasi nasional.

    Laksana Tri Handoko menekankan bahwa meskipun terjadi efisiensi anggaran sebesar Rp 1,429 triliun atau 24,46 persen dari total pagu anggaran BRIN yang berjumlah Rp 5,842 triliun, berbagai langkah strategis telah diambil agar program prioritas tetap berjalan.

    Handoko menjelaskan bahwa BRIN telah melakukan penyisiran dan simulasi anggaran untuk memastikan bahwa efisiensi anggaran ini tidak berdampak pada beberapa sektor penting.

    Dia menyebutkan, registrasi kekayaan intelektual (patent), operasional laboratorium, program riset strategis, serta akuisisi talenta unggul nasional termasuk diaspora.

    BRIN akan tetap memprioritaskan program swasembada pangan, swasembada energi, kemandirian kesehatan, serta ekonomi berbasis pengetahuan, yang merupakan bagian dari agenda nasional.

    Baca: Efisiensi anggaran di sejumlah negara

    “Anggaran riset di 12 organisasi riset BRIN tidak terkena pemotongan untuk memastikan kelangsungan inovasi yang telah direncanakan,” ujar Handoko pada Rapat Dengar Pendapat antara BRIN dengan Komisi X DPR di Jakarta, Kamis (13/2/2025).

    Selain itu, BRIN memastikan bahwa operasional fasilitas riset kritikal, seperti reaktor nuklir, laboratorium infeksius, dan koleksi spesimen, tetap terjaga agar keamanan dan fungsi riset dapat berjalan dengan baik.

    Handoko juga menegaskan bahwa efisiensi tidak akan berdampak pada gaji pegawai, termasuk gaji ke-13 dan ke-14, serta tetap menjaga keberlanjutan program mobilitas talenta riset, khususnya bagi diaspora yang berkontribusi dalam ekosistem riset nasional.

    Sebagai bagian dari langkah efisiensi, BRIN menghapus beberapa kegiatan yang tidak berdampak langsung pada riset, seperti perjalanan dinas luar negeri kecuali atas pembiayaan pengundang dan/atau untuk mobillitas talenta riset dan inovasi secara selektif.

    Juga perjalanan dinas dalam negeri kecuali atas pembiayaan pengundang, fasilitas bagi pimpinan, paket meeting dan konsumsi rapat, serta kegiatan seremonial yang tidak dibiayai mitra kerja sama.

    Baca: Indonesia bisa unggul jika fokus pada riset tumbuhan

    Selain itu, BRIN juga akan melakukan penyesuaian biaya operasional dan mengoptimalkan pendanaan eksternal dari kerja sama dengan industri, pelaku usaha, dan lembaga pendanaan internasional.

    BRIN juga melakukan penyesuaian Standar Biaya Masukan internal untuk seluruh aktivitas di BRIN, dan menghapus seluruh kegiatan survei nasional.

    “Kami memastikan bahwa efisiensi ini dilakukan secara selektif dan berupaya untuk tidak menghambat agenda riset strategis. Fokus utama kami tetap pada upaya peningkatan kualitas inovasi nasional melalui kolaborasi riset dan peningkatan daya saing ilmiah Indonesia,” tegas Handoko.

    BRIN berharap dengan langkah ini, riset nasional tetap berjalan optimal, bahkan dengan dukungan pendanaan yang lebih efisien dan efektif.

    Kolaborasi dengan mitra eksternal, baik dari dalam maupun luar negeri, juga menjadi kunci dalam memastikan riset tetap relevan dan bermanfaat bagi pembangunan nasional.

    Baca: BRIN temukan 98 taksa baru sepanjang 2024

  • Indonesia Menjadi Salah Satu Negara Pilot Project Pengolahan Limbah Plastik dengan Teknologi Radiasi

    Indonesia Menjadi Salah Satu Negara Pilot Project Pengolahan Limbah Plastik dengan Teknologi Radiasi

    7cloud.asia – Indonesia melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ditunjuk Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) menjadi salah satu pilot country program NUTEC Plastics.

    NUTEC Plastics adalah pengolahan limbah plastik dengan menggunakan teknologi radiasi atau reaksi atom.

    BRIN mengambil peran sentral dalam pengembangan teknologi radiasi untuk menangani limbah plastik serta potensi pemanfaatannya pada sektor industri.

    Capaian terkini riset di Indonesia yang dilakukan BRIN bersama mitra industri telah menunjukkan potensi teknologi yang dapat ditingkatkan uji cobanya pada skala komersial.

    Hal ini akan sangat berharga sebagai referensi negara lain dalam pengelolaan limbah plastik dan pemanfaatannya sebagai bahan baku industri.

    Baca: Posisi Indonesia mewujudkan perjanjian plastik global

    Plt. Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN Anugerah Widiyanto menyampaikan, Indonesia dan banyak negara lain di kawasan menghadapi permasalahan serius dalam penanganan limbah plastik.

    Limbah plastik telah menimbulkan dampak signifikan terhadap kondisi lingkungan dan memengaruhi kesehatan manusia.

    “Pengembangan teknologi untuk mendukung pengelolaan limbah plastik serta pemanfaatannya sebagai bahan baku industri adalah sebuah keniscayaan yang perlu terus didorong,” kata Anugerah.

    Teknologi radiasi, ujarnya, menawarkan solusi yang dapat mengatasi permasalahan limbah plastik dan menjadikan limbah sebagai bahan baku potensial bagi industri, mendukung pengembangan ekonomi sirkuler.

    Baca: Jalan panjang menuju lahirnya perjanjian plastik global

    “Kolaborasi riset dan inovasi teknologi radiasi untuk modifikasi polimer perlu terus didorong. Indonesia dapat memainkan peran sentral dalam kolaborasi ini di bawah payung kerja sama teknis IAEA, khususnya dalam kerangka inisiatif NUTEC Plastics,” ungkap Anugerah.

    Menurutnya, dengan memanfaatkan teknologi radiasi yang telah dikuasai ilmuwan Indonesia, serta aplikasinya untuk mengubah limbah plastik menjadi bahan baku industri plastik nasional.

    Langkah ini dapat dijadikan contoh bagi negara lain, khususnya dalam mendorong pengembangan ekonomi sirkular.

    “Pengalaman riset modifikasi polimer dengan menggunakan radiasi, serta kerja sama aplikasinya bersama sektor industri di Indonesia menjadi aset penting untuk mendorong kepemimpinan Indonesia dalam kolaborasi ke depan bersama banyak negara di bawah kerangka kerja sama teknis IAEA, khususnya proyek NUTEC Plastics,” tambah Anugerah.

  • BRIN Dorong Pemuliaan Pisang Liar sebagai Pilar Ketahanan Pangan

    BRIN Dorong Pemuliaan Pisang Liar sebagai Pilar Ketahanan Pangan

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menetapkan program pemuliaan untuk 16 jenis pisang liar (Musa acuminata).

    Terkait hal ini, BRIN melakukan riset eksplorasi, karakterisasi, dan pra-pemuliaan pisang liar Indonesia guna mendukung ketahanan pangan. Indonesia dikenal sebagai salah satu hotspot spesies pisang liar.

    Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (OR HL) BRIN, Andes Hamuraby Razak menjelaskan, bahwa BRIN telah melakukan ekspedisi pengumpulan pisang liar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

    Upaya ini bertujuan melestarikan sumber daya genetik khususnya tanaman pisang dari ancaman perubahan iklim, serta serangan hama dan penyakit.

    Pra-pemuliaan sangat penting untuk mengidentifikasi gen bermanfaat dari spesies liar, membuka peluang bagi pengembangan pisang baru yang lebih produktif dan bergizi.

    Baca: Indonesia punya lebih dari 300 jenis pisang lokal

    Hal tersebut disampaikan Andes dalam kegiatan The First Annual Banana Meeting bertajuk Innovating the Future of Bananas: Sustainability, Disease Resistance, and Global Food Security, pada Selasa (11/2/2025).

    Acara ini menandai satu tahun kerja sama BRIN dengan Gates Foundation dan LPDP dalam platform kolaborasi internasional riset pisang.

    “Kami fokus pada ketahanan terhadap penyakit, toleransi lingkungan, kandungan nutrisi, dan pemilihan sifat unggul pisang liar untuk mendukung ketahanan pangan nasional,’’ ujar Andes.

    Kepala Pusat Riset Rekayasa Genetika sekaligus manajer program, Ratih Asmana Ningrum, menuturkan bahwa pertemuan ini bertujuan mengeksplorasi inovasi, tantangan, dan masa depan budidaya pisang.

    BRIN menyediakan berbagai skema pendukung, seperti pendanaan eksplorasi terestrial dan program mobilitas periset berupa beasiswa pascasarjana, pendanaan post-doctoral, dan visiting researcher.

    Baca: Petani di Kaltim ekspor pisang kepok ke Singapura

    Saat ini, tercatat ada 35 mahasiswa telah lulus seleksi beasiswa untuk studi magister dan doktor.

    “Tahun ini, BRIN akan menjadi tuan rumah ASEAN Ministerial Meeting on Science, Technology and Innovation (AMMSTI), memperkenalkan platform ini ke negara-negara ASEAN untuk memperluas kolaborasi riset pisang,“’ ungkap Ratih.

    Perwakilan Gates Foundation, Jim Lorenzen, mengapresiasi inisiatif BRIN sebagai contoh kemitraan riset yang kuat.

    “Kolaborasi ini melengkapi tujuan kami dalam mendukung riset pertanian yang inovatif. Riset ini mencakup karakterisasi dan pra-pemuliaan, termasuk penyuntingan gen dengan teknologi CRISPR,“ jelas Lorenzen.

    Sementara itu Profesor Riset BRIN, Enny Sudarmonowati berharap upaya ini menarik minat sektor swasta dan industri untuk memperkuat serta memperluas kolaborasi riset pisang di Indonesia.

    Dengan kolaborasi ilmuwan, akademisi, dan sektor industri, riset pisang diharapkan memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan pangan global.

    Salah satu contohnya dilakukan Muhammad Dylan Lawrie dengan meneliti karakterisasi gen GRF pada pisang liar Indonesia untuk meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan.

    Timnya mengidentifikasi gen yang dapat membantu tanaman menghadapi perubahan iklim.

  • Dampak Pemangkasan Anggaran terhadap Riset dan Inovasi di Indonesia

    Dampak Pemangkasan Anggaran terhadap Riset dan Inovasi di Indonesia

    7cloud.asia – Salah satu langkah besar yang tengah diambil oleh pemerintahan Prabowo Subianto adalah efisiensi anggaran.

    Namun, sejumlah kalangan menilai apa yang dilakukan rezim Prabowo-Gibran ini bukan efisiensi anggaran tetapi pemangkasan anggaran.

    Pasalnya, pemotongan anggaran lebih banyak ditujukan pada anggaran layanan publik, sementara anggaran untuk birokrasi dan pos-pos tertentu tidak mengalami pengurangan atau bahkan ditambah.

    Di waktu yang nyaris bersamaan, Vietnam juga melakukan hal serupa. Namun Vietnam melakukan efisiensi dengan memangkas birokrasi, dan tetap memprioritaskan riset dan peningkatan sumber daya manusia.

    Bagaimana perbedaan efisiensi yang dilakukan Vietnam dengan efisiensi anggaran oleh rezim Prabowo-Gibran, berikut ulasan para peneliti BRIN yang telah terbit di The Conversation.

    Nasib riset dan inovasi di Indonesia
    Berbanding terbalik dengan Vietnam, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai lembaga pemerintah yang berfokus pada kegiatan penelitian dan inovasi teknologi justru jadi korban pemotongan anggaran yang signifikan.

    Awalnya, BRIN mengajukan skema pemotongan sekitar Rp2 triliun dari total ajuan anggaran sekitar Rp5,8 triliun.

    Dengan skema tersebut, maka anggaran BRIN hanya dapat mencakup gaji pegawai (sekitar Rp3 triliun) dan menyisakan hanya sekitar Rp8 miliar untuk kegiatan penelitian dan pendukungnya.

    Artinya, banyak kegiatan penelitian—yang sedang atau akan berjalan—terpaksa dihentikan atau dibatasi pelaksanaannya. Setelah negosiasi, akhirnya pemotongan anggaran untuk BRIN diketok palu oleh komisi X DPR pada tanggal 13 Februari 2025 sekitar Rp1,4 T.

    Lantas, apa dampaknya pemotongan anggaran riset dan inovasi untuk Indonesia?

    1. Penurunan kualitas kesejahteraan
    Pemotongan sebesar kurang lebih 24 persen dari anggaran yang diajukan, membawa dampak yang cukup signifikan baik untuk pegawai maupun kepada pengguna hasil penelitian.

    Dampak pertama yang banyak dirasakan di tataran individu adalah penurunan kualitas kesejahteraan, yaitu hilangnya subsidi BBM untuk bus jemputan karyawan.

    Salah seorang pegawai BRIN yang biasa menggunakan bus jemputan BRIN rute BRIN Gatot Subroto-Depok, mengatakan bahwa subsidi BBM untuk bus jemputan akan dihapuskan mulai bulan Maret 2025.

    Akibatnya, para pegawai BRIN yang biasa menggunakan bus jemputan mulai bulan depan harus mengeluarkan uang ekstra untuk iuran BBM bus, dari semula Rp70.000/orang per bulan akan naik menjadi sekitar Rp175.000/penumpang setiap bulannya.

    Selain itu, penghapusan perjalanan dinas luar negeri serta penyesuaian standar biaya masukan juga membatasi ruang gerak peneliti untuk melakukan riset.

    Ini membuat banyak periset terpaksa mengeluarkan dana pribadi untuk menghadiri seminar atau workshop di luar negeri.

    2. Fungsi rekomendasi tidak berjalan
    Salah satu fungsi BRIN adalah melaksanakan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan serta reka cipta dan inovasi dalam rangka penyusunan rekomendasi perencanaan pembangunan nasional berdasarkan hasil kajian ilmiah dengan berpedoman pada nilai Pancasila.

    Dengan adanya pemotongan anggaran di hampir semua kementerian dan lembaga di Indonesia, maka riset tidak lagi menjadi prioritas dalam penyusunan kebijakan.

    Salah seorang pegawai BRIN dari Direktorat Kebijakan Ekonomi, Ketenagakerjaan, dan Pengembangan Regional menyebutkan bahwa pada tahun 2025 ini direktoratnya menurunkan target penyusunan naskah kebijakan dari 25 naskah menjadi 3 naskah saja.

    Hal senada juga datang dari staf Direktorat Kebijakan Politik, Hukum, Pertahanan, dan Keamanan BRIN yang menjelaskan bahwa target penyusunan naskah kebijakan turun dari 15 ke 2 naskah—angka yang jauh dari kata ideal bagi lembaga riset negara sebesar Indonesia.

    Berkaca dari Vietnam, dan juga negara-negara yang punya visi jangka panjang, seperti Singapura, efisiensi tidak berarti mengesampingkan sektor riset dan teknologi.

    Efisiensi akan berdampak positif jika visi jangka panjang negara jelas dan anggaran digunakan tepat untuk mendukung prioritas pembangunan.

    Sektor riset dan teknologi adalah tulang punggung kemajuan bangsa. Ini yang tampaknya gagal disadari oleh pemerintah saat ini.

    Jika terus berlanjut, bukan tidak mungkin daya saing Indonesia semakin tertinggal, bahkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Vietnam.

    Penulis:
    Amorisa Wiratri (Researcher, Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN)
    Betti Rosita Sari (peneliti, Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN)
    Lamijo (Peneliti Pusat Riset Kewilayahan, Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN)

  • Peneliti BRIN Temukan Dua Spesies Baru Kumbang Kura-Kura dari Sulawesi

    Peneliti BRIN Temukan Dua Spesies Baru Kumbang Kura-Kura dari Sulawesi

    7cloud.asia – Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menemukan dua spesies baru kumbang kura-kura dari genus Thlaspidula di Sulawesi, Indonesia.

    Spesies yang diberi nama Thlaspidula gandangdewata dan Thlaspidula sarinoi ini menambah keanekaragaman hayati serangga di wilayah tersebut serta memberikan wawasan baru dalam studi taksonomi kumbang kura-kura (Chrysomelidae: Cassidinae).

    Koleksi spesimen dilakukan oleh Tim Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN dari dua lokasi berbeda, yaitu Gunung Gandangdewata dan Gunung Torompupu di Sulawesi Tengah.

    Dilansir di laman resmi brin.go.id, penelitian ini mencakup deskripsi morfologi secara mendetail serta kunci identifikasi terbaru untuk semua anggota genus Thlaspidula.

    Menurut Anang Setyo Budi, Peneliti Ahli Pertama Pusar Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, kedua spesies baru ini memiliki ciri khas yang membedakannya dari spesies Thlaspidula lainnya.

    Baca: BRIN temukan 98 taksa baru sepanjang 2024

    Thlaspidula gandangdewata, T. sarinoi, dan T. boisduvali tergabung dalam grup spesies dari genus Thlaspidula yang memiliki bintik hitam lebar di bagian posterolateral pelebaran batas elytra saja.

    Namun ketiganya memiliki pola bintik hitam di elytra dan pronotum yang berbeda. Selain itu, perbedaan terletak pada bentuk morfologi cakar, mandibel, pronotum, dan tonjolan elytra.

    “Karakter lain yang juga dapat membantu membedakan spesies tersebut adalah panjang dan warna segmen pada antena,” jelas Anang.

    Kumbang dari genus Thlaspidula memiliki karakter umum seperti kumbang kura-kura lain yaitu elytra dan pronotum yang melebar (explanate) dan sering kali membentuk perisai yang menutupi kepala dan kaki.

    Namun, Thlaspidula memiliki bentuk labrum, proporsi tubuh, segmen antena, baris titik pada elytra, dan tekstur elytra yang khas. Hingga saat ini, baru delapan spesies yang tercatat dalam genus ini, tersebar dari Semenanjung Malaya hingga Papua.

    Baca: IUCN sebut sekitar 46.300 spesies terancam punah

    Spesimen yang diteliti dalam studi ini disimpan di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Indonesia. Material dikoleksi menggunakan jaring sapu dari Gunung Gandangdewata dan Gunung Torompupu di Sulawesi.

    Penemuan ini menjadi langkah penting dalam dokumentasi keanekaragaman hayati Indonesia, terutama di kawasan pegunungan Sulawesi yang merupakan salah satu pusat endemisme fauna.

    Studi lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami ekologi, distribusi, serta upaya konservasi spesies baru ini.

    Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Zootaxa (https://mapress.com/zt/article/view/zootaxa.5566.2.9) pada edisi bulan Januari 2025 dan dapat menjadi referensi bagi para taksonomis serta konservasionis dalam memahami dan melindungi keanekaragaman hayati Indonesia.

  • BRIN Temukan Spesies Baru Cecak Jarilengkung di Madiun

    BRIN Temukan Spesies Baru Cecak Jarilengkung di Madiun

    7cloud.asia – Tim Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali berhasil mengidentifikasi dan mendeskripsi spesies baru cecak jarilengkung (genus Cyrtodactylus) dari Jawa Timur.

    Cecak tersebut diberi nama C. pecelmadiun yang terinspirasi dari kuliner khas Jawa Timur “pecel madiun”, karena spesies ini ditemukan di sekitar Madiun, yakni di Maospati dan Mojokerto.

    Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Awal Riyanto mengungkapkan bahwa spesies ini ditemukan di lingkungan urban seperti tanggul jembatan, tumpukan genteng, dan kebun di permukiman desa.

    “Para peneliti ingin mengenalkan ragam kuliner Nusantara melalui dunia sains, sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya dalam deskripsi C. papeda dari Pulau Obi dan C. tehetehe dari Kepulauan Derawan,” Awal menjelaskan alasan menamakan jenis cecak jarilengkung itu dengan nama kuliner khas nusantara.

    Secara morfologi, C. pecelmadiun memiliki warna dasar cokelat kehitaman. Cecak berjenis kelamin jantan dewasa memiliki panjang tubuh (Snout-Vent Length/SVL) hingga 67,2 mm, sementara betina mencapai 59,0 mm.

    Spesies ini memiliki 18–20 baris tuberkular dorsal yang tidak teratur di bagian tengah tubuh, yaitu 26–28 baris tuberkular antara ketiak dan selangkangan, serta 28–34 baris sisik perut.

    Baca: Peneliti BRIN temukan spesies baru kumbang kura-kura dari Sulawesi

    Pada individu jantan, terdapat ceruk precloacal dengan 32–37 pori precloacofemoral, sementara bagian subkaudalnya tidak memiliki sisik lebar.

    “Kami mengamati bahwa C. pecelmadiun cenderung sebagai spesies generalis dalam hal habitat. Spesies ini ditemukan tidak lebih dari 40 cm di atas permukaan tanah, di berbagai lingkungan yang dekat dengan aktivitas manusia,” ujarnya.

    Sebagaimana diketahui, Cecak jarilengkung Jawa atau Cyrtodactylus marmoratus merupakan spesies yang pertama yang telah dideskripsi oleh Gray (1831), berdasarkan spesimen yang dikoleksi Heinrich Kuhl dan Johan Conrad van Hasselt.

    Saat ini, cecak jarilengkung itu tersimpan di Museum Naturalis, Belanda. Setelah 84 tahun berselang, de Rooij (1915) melaporkan keberadaan C. fumosus yang dideskripsi oleh Müller (1895), dan kemudian dikonfirmasi oleh Brongersma (1934).

    Seiring perkembangan penelitian, beberapa spesies baru dari Jawa telah dideskripsi, antara lain C. semiadii (2014), C. petani (2015), C. klakahensis (2016), dan C. belanegara (2024).

    Baca: Peneliti BRIN temukan 98 taksa baru sepanjang 2024

    Namun, Mecke et al. (2016) menemukan bahwa populasi C. fumosus di Jawa sebenarnya merupakan variasi dari C. marmoratus. Riyanto et al. (2020) juga mensinonimkan C. klakahensis sebagai C. petani berdasarkan taksonomi integratif.

    Secara filogenetik, C. pecelmadiun berkerabat dekat dengan C. petani, dengan jarak genetik 0,1–1,6%. Spesies ini menjadi bukti kedua keberadaan grup darmandvillei di Jawa setelah C. petani, grup ini melimpah di kawasan Sunda Kecil.

    Secara keseluruhan, Cyrtodactylus di Jawa terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu grup darmandvillei dan marmoratus, yang keduanya merupakan kompleks spesies. Kondisi ini semakin mendorong eksplorasi lebih lanjut untuk mengungkap keragaman tersembunyi (hidden diversity) dari Cyrtodactylus di Jawa.

    Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Zootaxa (https://mapress.com/zt/article/view/zootaxa.5570.1.3) pada edisi 16 Januari 2025 dan menjadi referensi penting dalam studi taksonomi serta konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia.

    “Penemuan ini semakin mendorong eksplorasi lebih lanjut untuk mengungkap keragaman tersembunyi (hidden diversity) dari Cyrtodactylus di Jawa, mengingat masih banyak spesies yang belum teridentifikasi secara menyeluruh,” pungkas Awal.

  • Peneliti BRIN Temukan Anggrek Akar Tak Berdaun Endemik Pulau Sumatra

    Peneliti BRIN Temukan Anggrek Akar Tak Berdaun Endemik Pulau Sumatra

    7cloud.asia – Banyak eksplorasi botani yang dilakukan selama ini lebih berfokus pada genus-genus anggrek yang populer, seperti Dendrobium, Phalaenopsis, dan Bulbophyllum. Sementara kelompok anggrek tak berdaun (leafless orchid) seringkali kurang mendapat perhatian.

    Peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Destario Metusala menjelaskan, pada 2019, dalam sebuah survei botani di Aceh, beberapa individu anggrek Chiloschista ditemukan tumbuh epifit pada pepohonan di perkebunan semi-terbuka yang berdekatan dengan hutan.

    Dilansir di laman resmi brin.go.id, penampakan anggrek ini didominasi oleh tumpukan akar fotosintetik yang warnanya menyerupai warna kulit batang pepohonan sehingga membuatnya sulit terlihat.

    Oleh karena itu, lanjut Destario, kemunculan organ bunganya yang kecil namun berwarna kuning cerah menjadi sangat penting untuk mendeteksi keberadaannya.

    Spesimen berbunga yang telah dikoleksi dan diobservasi lebih lanjut menunjukkan ciri khas morfologi bunga yang berbeda dengan spesies Chiloschista lainnya, terutama C. javanica dan C. sweelimii.

    Penelitian lebih lanjut mengonfirmasi bahwa anggrek dari Aceh tersebut merupakan spesies baru yang belum pernah dideskripsikan sebelumnya, sekaligus menjadi catatan pertama keberadaan anggrek Chiloschista di Pulau Sumatra.

    Baca: Anggrek spesies baru Aerides Obyrneana jadi buruan kolektor

    Nama Chiloschista tjiasmantoi disematkan sebagai penghargaan kepada filantropis lingkungan Wewin Tjiasmanto atas dukungannya terhadap upaya pelestarian flora di Indonesia, khususnya Aceh.

    Destario menyebutkan bahwa anggrek C. Tjiasmantoi masuk dalam kategori Genting (Endangered) menurut kriteria IUCN Redlist. Hal itu karena diperkirakan luas area sebaran dan jumlah populasi yang terbatas, serta ancaman ekspansi perkebunan dan perubahan iklim.

    “Perluasan kawasan lindung di Aceh perlu segera dilakukan untuk melestarikan berbagai spesies tumbuhan yang terancam kepunahan, terutama spesies unik yang hanya ada di Propinsi Aceh,” tandasnya.

    Destario menjelaskan bahwa anggrek C. tjiasmantoi memiliki kuntum bunga dengan lebar 1-1.2 cm dan berwarna kuning dengan pola bintik jingga atau kemerahan. Dalam satu tangkai perbungaan yang panjang, dapat menghasilkan hingga 30 kuntum bunga yang mekar secara simultan.

    Spesies ini umumnya ditemukan pada ketinggian 700–1000 m dpl, tumbuh menempel di batang pepohonan yang tua pada habitat semi-terbuka, berangin, dan lembap. Musim berbunga biasanya terjadi pada pertengahan Juli serta awal November hingga akhir Desember.

    “Anggrek spesies baru ini telah berevolusi secara unik dengan mereduksi organ daunnya secara ekstrim sehingga proses fisiologi penting seperti fotosintesis dilakukan pada organ akarnya. Keunikan ini membuka peluang riset lanjutan untuk menelisik berbagai aspek biologinya” ungkap Destario.

    Baca: Peneliti BRIN mulai mengeksplorasi anggrek di Menoreh dan Nglanggeran

    Chiloschista tjiasmantoi Metusala, sp. nov., spesies baru anggrek endemik Aceh dari genus Chiloschista (Orchidaceae), merupakan kelompok anggrek epifit tak berdaun yang ditemukan di Aceh, Pulau Sumatra.

    Secara morfologi, bunga spesies baru ini menyerupai anggrek Chiloschista javanica yang endemik Jawa, tetapi memiliki beberapa perbedaan mencolok, seperti petal yang berbentuk oblong-obovate serta bentuk bibir bunga yang khas.

    Lebih lanjut, Destario mengungkapkan penyebutan anggrek tak berdaun, dikarenakan sepanjang daur hidupnya, anggrek tersebut dalam kondisi tanpa organ daun. “Semisal pun ditemukan daun, ukurannya amat sangat kecil, itupun hanya 1-2 helai saja dan akan segera gugur,” ucapnya.

    Dikatakan Destario salah satu genus yang ada di dalam kelompok anggrek tak berdaun adalah genus Chiloschista. Genus ini pertama kali dideskripsikan pada tahun 1832 dan kini mencakup 30 spesies yang tersebar dari Asia Selatan, Asia Tenggara, hingga Australia.

    Anggrek ini lebih dikenal oleh para hobiis di Indonesia dengan nama anggrek akar, mengingat penampakannya seperti sekumpulan akar-akar berwarna kehijauan.

    Sebelumnya, Indonesia diketahui hanya memiliki 4 spesies yang dapat ditemukan di Jawa, Kepulauan Sunda Kecil, Sulawesi, dan Kepulauan Maluku. Hingga kini, belum ada catatan keberadaan anggrek Chiloschista dari Pulau Sumatra, Kalimantan, dan Papua.

    Baca: Potensi eksplorasi anggrek di tanah Papua