Tag: gelombang panas

  • Ketika Kota Semakin Panas, Warga Miskin Semakin Menderita

    Ketika Kota Semakin Panas, Warga Miskin Semakin Menderita

    7cloud.asia – Sejak awal bulan Juli lalu, sejumlah negara di Eropa disibukkan dengan adanya gelombang panas ekstrem.

    Gelombang panas ini bahan memaksa pemerintah Prancis mengeluarkan peringatan tingkat merah saat suhu mencapai 36-40°C. Sejumlah sekolah ditutup, begitu pula kunjungan ke puncak Menara Eiffel di Paris disetop sementara demi keselamatan pengunjung.

    Di Brussels, Belgia, Atomium, landmark ikonik kota tersebut juga menyesuaikan jam operasional sebagai respons terhadap suhu panas yang menyengat.

    Sementara itu, di Indonesia yang beriklim tropis, suhu panas sering kali dianggap sebagai hal biasa. Pemerintah cenderung tidak menanggapinya dengan serius.

    Warga dibiarkan tetap beraktivitas seperti biasa meski suhu panas di atas 36°C. Para siswa tetap bersekolah meski banyak ruangan kelas tidak punya pendingin udara yang memadai.

    Padahal, gelombang panas bukan hal sepele. Paparan suhu tinggi dalam jangka waktu lama bisa berdampak serius terhadap produktivitas dan kesehatan manusia, bahkan bisa meningkatkan risiko kematian.

    Baca: Gelombang panas melanda negara-negara Eropa

    Jika dibiarkan, efek jangka panjangnya bisa mengganggu stabilitas ekonomi. Di kota-kota besar, risiko ini lebih tinggi akibat fenomena urban heat island—kondisi ketika suhu di area perkotaan lebih panas dibanding wilayah sekitarnya.

    Hal ini disebabkan oleh kepungan permukaan keras seperti beton, aspal, serta minimnya pepohonan di perkotaan.

    Polusi dari berbagai kegiatan manusia seperti lalu lintas transportasi dan industri makin memperburuk efek urban heat island ini. Akibatnya, orang miskin menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.

    Dampak suhu panas
    Banyak anggapan bahwa tubuh manusia mampu beradaptasi dengan peningkatan suhu panas. Tapi faktanya, tubuh manusia punya ambang batas biologis untuk menahan panas.

    Saat kombinasi suhu udara dan kelembapan mencapai 35°C, tubuh kehilangan kemampuan mendinginkan diri, bahkan saat berkeringat. Kondisi ini berpotensi menyebabkan hipertemia dan bisa berujung pada kematian.

    Panas ekstrem juga memberi tekanan besar pada organ tubuh, terutama jantung dan ginjal. Hal ini bisa memperburuk kondisi kesehatan dan meningkatkan risiko penyakit jantung, gangguan pernapasan, diabetes, dan kerusakan ginjal akut.

    Baca: Pembangunan ruang terbuka hijau mikro di kawasan kumuh Jakarta

    Selain itu, suhu panas juga menyebabkan gangguan tidur dan ketidaknyaman saat bekerja. Akibatnya, performa kerja berisiko menurun.

    Jika berasal dari keluarga mampu atau orang kaya, mungkin kita bisa berlindung di rumah ber-AC, bepergian nyaman dengan mobil, ‘ngadem’ di kantor atau kafe.

    Tapi bagi orang miskin, pilihan yang mereka punya mungkin hanya tetap bertahan di cuaca sepanas apa pun, terutama bagi mereka yang harus bekerja di luar ruangan (outdoor).

    Masyarakat miskin yang tinggal di kawasan padat penduduk biasanya menempati rumah dari bahan bangunan seadanya, tanpa AC, dan minim ventilasi. Akses ke taman hijau pun sangat terbatas. Padahal ruang terbuka seperti taman bisa menjadi pendingin alami.

    Ironisnya, sebaran taman justru lebih banyak di sekitar kawasan elite.

    Baca: Alam menawarkan cara berkelanjutan untuk meredam panas perkotaan

    Pemerintah tidak serius
    Selama ini, pemerintah belum menjadikan urban heat island sebagai agenda kebijakan yang perlu ditangani secara serius.

    Tidak seperti bencana alam seperti banjir, gempa, atau tanah longsor yang memiliki regulasi khusus, fenomena ini belum mendapat pengaturan jelas dalam kebijakan penanggulangan bencana.

    Penanganan urban heat island masih sekadar disisipkan dalam program ketahanan iklim, seperti rencana pengembangan bangunan hijau atau penambahan ruang terbuka hijau.

    Akibatnya, tak ada institusi penanggung jawab, anggaran, atau sistem pemantauan yang jelas.

    Lebih buruk lagi, tidak ada identifikasi wilayah prioritas sehingga mitigasi dan penyediaan ruang hijau untuk masyarakat rentan terus terabaikan.

    Artinya, masyarakat miskin perkotaan akan terus terjebak ‘kepanasan’ tanpa adanya bantuan nyata. Apa yang harus dilakukan pemerintah, akan diulas di tulisan selanjutnya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Nimas Maninggar (Peneliti bidang kebijakan inovasi/inovasi wilayah, Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN)

  • Perubahan Iklim Akibatkan Jumlah Kematian Akibat Gelombang Panas Meningkat Tiga Kali Lipat

    Perubahan Iklim Akibatkan Jumlah Kematian Akibat Gelombang Panas Meningkat Tiga Kali Lipat

    7cloud.asia – Gelombang panas yang memecahkan rekor baru-baru ini di Eropa menyebabkan 1.500 kematian. Angka ini lebih banyak daripada yang seharusnya terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim, demikian sebuah studi baru menyimpulkan.

    World Weather Attribution, sebuah kolaborasi akademis yang mempelajari atribusi peristiwa ekstrem, menemukan bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia melipatgandakan jumlah kematian terkait panas

    Studi itu menyebut, perubahan iklim telah meningkatkan suhu gelombang panas hingga 4°C lebih tinggi di belasan kota.

    Para peneliti dari Imperial College London dan London School of Hygiene & Tropical Medicine berfokus pada data dari 23 Juni hingga 2 Juli 2025, dan 12 kota di Eropa di Italia, Spanyol, Portugal, Prancis, Inggris, Yunani, Kroasia, dan Hongaria.

    2.300 kematian terkait panas tercatat selama periode 10 hari tersebut. Dari jumlah tersebut, 1.500 – atau 65 persem – tidak akan terjadi jika perubahan iklim tidak memperparah gelombang panas, mereka menyimpulkan.

    Baca: Waktu yang tersedia untuk atasi dampak buruk perubahan iklim makin terbatas

    ‘Pembunuh Senyap’
    Panas sangat berbahaya bagi manusia karena mengganggu proses fisiologis yang seharusnya menjaga tubuh tetap dingin.

    Tekanan pada tubuh manusia akibat panas mencegah aktivitas sehari-hari yang normal dan kemampuan kita untuk mendinginkan diri dengan baik. Area yang umumnya memiliki kelembapan lebih tinggi juga dapat membahayakan nyawa.

    Keringat membantu tubuh kita mendinginkan diri, tetapi kelembapan mengubah cara keringat menguap dari tubuh.

    Tidak dapat mendinginkan diri membahayakan kesehatan, dan dapat menyebabkan peningkatan komplikasi kardiovaskular dan pernapasan, dehidrasi, sengatan panas, tekanan darah tinggi, dan kurang tidur. Beberapa kondisi ini dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

    Baca: Perubahan iklim akan menyebabkan bencana lebih sering terjadi

    Meskipun tidak ada yang benar-benar kebal terhadap panas ekstrem, faktor-faktor seperti usia dan kondisi kesehatan, serta variabel paparan termasuk pekerjaan dan keadaan sosial ekonomi, dapat meningkatkan kerentanan seseorang.

    Studi menunjukkan bahwa perempuan – terutama perempuan hamil, anak-anak, dan lansia – sangat berisiko mengalami gejala parah terkait panas.

    Gelombang panas bulan lalu secara tidak proporsional memengaruhi kelompok rentan ini, menurut studi World Weather Attribution, dengan penduduk berusia 65 tahun ke atas menyumbang sekitar 88 persen dari kematian berlebih.

    Gelombang panas membunuh hampir setengah juta orang setiap tahun di seluruh dunia, menjadikannya peristiwa cuaca ekstrem yang paling mematikan.

    Baca: Banjir besar di Eropa adalah bukti dampak buruk perubahan iklim

    Panas sering disebut sebagai “pembunuh diam-diam”, karena pemantauan akurat terhadap kematian akibat panas merupakan tantangan dan banyak negara masih kekurangan sistem pencatatan yang memadai.

    Asisten Profesor di London School of Hygiene & Tropical Medicine, Malcolm Mistry mengatakan kondisi ini mengakibatkan jumlah kematian akibat panas yang terdokumentasi seringkali jauh lebih rendah daripada jumlah sebenarnya.

    “Meskipun beberapa kematian telah dilaporkan di Spanyol, Prancis, dan Italia, ribuan orang lainnya diperkirakan meninggal akibat suhu yang sangat tinggi dan kematian mereka tidak akan tercatat sebagai kematian akibat panas,” kata Malcolm yang juga salah satu penulis studi ini.

    “Kebanyakan orang yang meninggal akibat gelombang panas meninggal di rumah atau di rumah sakit karena tubuh mereka kewalahan dan menyerah pada kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya,” tambahnya.

     

  • El Niño Makin Menguat: Dikhawatirkan Akan Memicu Terciptanya Rekor Panas Baru

    El Niño Makin Menguat: Dikhawatirkan Akan Memicu Terciptanya Rekor Panas Baru

    7cloud.asia – Dalam pernyataannya pada Kamis (18/6/2026) Badan Kelautan dan Atmosfer AS (NOAA) menyebut El Niño terus menguat di Pasifik dan diprediksi akan meningkat ke status “sedang atau kuat” pada musim gugur ini.

    El Niño terjadi ketika suhu di Pasifik khatulistiwa 0,5°C di atas rata-rata selama beberapa bulan berturut-turut. Jika suhu permukaan laut di wilayah Pasifik yang dipantau El Niño melebihi 2°C, maka peristiwa tersebut dianggap “sangat kuat.”

    Saat ini, NOAA memprediksi peluang terjadi fenomena El Nino mencapai 63 persen.
    Fenomena iklim global ini, yang terjadi setiap dua hingga tujuh tahun rata-rata, dikaitkan dengan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur.

    Ketika ini terjadi, angin pasat timur-barat mereda, menjaga udara lebih hangat dari biasanya di bagian timur dan tengah Pasifik tropis, yang akibatnya meningkatkan suhu rata-rata global.

    Ketika dikombinasikan dengan perubahan iklim jangka panjang yang disebabkan oleh aktivitas manusia, El Nino seringkali mendorong suhu global ke rekor tertinggi.

    Gelombang panas yang berkepanjangan dan intensif selanjutnya dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan di beberapa wilayah.

    Baca: El Nino Bisa Memicu Kekeringan di Indonesia

    Gelombang panas juga meningkatkan permintaan akan pendingin udara, yang dapat mengakibatkan lebih banyak pembakaran bahan bakar fosil yang menyebabkan pemanasan global untuk memenuhi peningkatan permintaan listrik.

    Panas ekstrem juga sangat berbahaya bagi tubuh manusia dan dapat berakibat fatal jika gejalanya tidak segera diobati. Pekerja di luar ruangan, anak-anak dan lansia, wanita hamil, mereka yang tinggal di permukiman informal, dan tunawisma sangat berisiko.

    Dua peristiwa serupa di masa lalu –pada tahun 2014-16 dan 2023-24– mengakibatkan rekor panas di seluruh dunia yang memicu peningkatan suhu global lebih lanjut.

    Tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah karena kombinasi perubahan iklim jangka panjang yang disebabkan oleh manusia dan pola cuaca El Niño yang kuat.

    Kembalinya El Niño meningkatkan peluang terjadinya tahun terpanas yang memecahkan rekor – kemungkinan besar pada tahun 2027.

    Pergeseran kuat pada angin Pasifik dan suhu air biasanya juga mengakibatkan pola cuaca yang tidak menentu secara global.

    Baca: Tanda-tanda Godzilla El Niño Semakin Nyata

    Dilansir Earth.org, hal ini antara lain peningkatan kemungkinan kekeringan parah di Australia, Afrika sub-Sahara, dan Asia Tenggara, serta banjir besar di beberapa bagian selatan AS, Amerika Selatan, Tanduk Afrika, dan Asia Tengah.

    Kekeringan berpotensi menghancurkan tanaman, terutama jagung, beras, dan gandum, yang memengaruhi rantai pasokan pangan global yang sudah menderita krisis pupuk akibat penutupan Selat Hormuz.

    Namun, di Amerika Serikat, kondisi basah diperkirakan akan meningkatkan produksi kedelai global.

    El Niño juga memengaruhi siklon tropis. Di cekungan Atlantik, angin yang lebih kuat biasanya menekan perkembangan badai, sementara angin yang lebih lemah dapat meningkatkan perkembangan badai di cekungan Pasifik timur dan tengah.

    Dalam prakiraan musim badai Atlantik dan Pasifik timur dan tengah yang dirilis bulan lalu, NOAA memperkirakan peluang 55 persen aktivitas badai di bawah rata-rata di Atlantik dan peluang 70 persen aktivitas di atas rata-rata di Pasifik tengah.

    Baca: Kencangkan Suara untuk Pelestarian Lingkungan

    Kondisi El Niño juga biasanya meningkatkan badai di Pasifik barat laut. Topan menempuh jalur yang lebih panjang di atas perairan selama tahun-tahun El Niño, menurut Yale Climate Connections.

    Hal ini karena air laut yang lebih hangat bergeser ke arah Pasifik Tengah, menyebabkan badai tropis terbentuk jauh lebih ke timur daripada biasanya.

    Jalur yang memanjang ini memberi lebih banyak waktu bagi badai untuk menyerap panas dan kelembapan, secara drastis meningkatkan peluangnya untuk berkembang menjadi badai besar dan dahsyat.

    El Niño cenderung menguat saat belahan bumi utara sedang menghadapi musim dingin, dengan dampak globalnya biasanya paling signifikan di musim dingin

    “Setiap El Nino tidak sama; masing-masing unik dengan jejaknya sendiri pada cuaca kita,” kata Ken Graham, Direktur Layanan Cuaca Nasional (NWS) NOAA.

    “Pemantauan tingkat lanjut dan pemahaman yang lebih baik tentang pola El Nino memungkinkan NWS untuk memprediksi dan mempersiapkan masyarakat serta mitra inti kami dengan lebih baik untuk menghadapi apa yang akan datang.”

  • Prancis Siaga Hadapi Potensi Gelombang Panas Ekstrem

    Prancis Siaga Hadapi Potensi Gelombang Panas Ekstrem

    7cloud.asia – Prancis memberlakukan peringatan gelombang panas merah tertinggi di 35 wilayah, Minggu (21/6/2026), sementara 45 wilayah lainnya tetap berada pada peringatan oranye.

    Dilansir RTL, pihak berwenang memperingatkan bahwa suhu dapat mendekati rekor tertinggi dalam beberapa hari mendatang.

    Badan cuaca nasional Meteo-France mengatakan suhu lokal dapat mencapai 41 derajat Celsius pada Minggu dan memperingatkan bahwa pada Senin diperkirakan akan lebih panas lagi.

    Badan tersebut mengatakan suhu rata-rata nasional dapat menyamai tingkat harian tertinggi yang pernah tercatat di Prancis, terlepas dari musimnya.

    Suhu maksimum diperkirakan berkisar antara 40 hingga 42 derajat Celsius di daerah yang berada di bawah peringatan merah.

    Meteo-France mengatakan gelombang panas diperkirakan akan berlanjut hingga minggu depan, dengan suhu siang dan malam yang sangat tinggi yang kemungkinan akan berlanjut setidaknya hingga Kamis (25/6/2026)

    Mereka juga menempatkan empat wilayah di bawah peringatan risiko kebakaran hutan tinggi pada Minggu dan mengatakan jumlahnya akan meningkat menjadi 11 pada Senin (22/6/2026) karena kondisi panas dan kering terus berlanjut di beberapa bagian negara.

    Pihak berwenang belum mengesampingkan kemungkinan memperluas status siaga merah ke wilayah tambahan pada Senin.

    Cuaca ekstrem telah mendorong diberlakukannya langkah-langkah khusus menjelang Festival Musik tahunan Prancis (Fete de la Musique) pada Minggu malam.

    Pemerintah mengumumkan larangan konsumsi alkohol di tempat umum di wilayah yang berada di bawah status siaga merah, sementara polisi Paris mengerahkan patroli sungai tambahan untuk mencegah insiden tenggelam dan melarang pertemuan yang tidak diumumkan di sepanjang beberapa bagian Sungai Seine.

    Menurut pihak kepolisian, 4.800 petugas polisi dan polisi militer, bersama dengan 2.500 petugas pemadam kebakaran, dimobilisasi di Paris dan wilayah sekitarnya untuk acara tersebut.

    Gelombang panas juga dikaitkan dengan beberapa kematian akibat tenggelam.

    Seorang anak lelaki berusia 17 tahun meninggal setelah terseret arus di Sungai Dordogne di barat daya Prancis pada Sabtu malam, kata layanan darurat.

    Secara terpisah, seorang anak lelaki berusia 16 tahun tenggelam di pantai Dunkirk di utara Prancis pada Sabtu, sementara dua remaja lainnya meninggal di timur Prancis pada Jumat setelah tenggelam di Sungai Doubs.

    Operator kereta api Prancis SNCF mengatakan telah mengaktifkan langkah-langkah darurat untuk mempertahankan layanan meski suhu ekstrem.

    “Kami sepenuhnya siap untuk menghadapi peristiwa ini dan memastikan lalu lintas tetap senormal mungkin dalam kondisi ekstrem ini,” kata kepala eksekutif SNCF, Jean Castex.

    Menteri Transportasi Prancis Philippe Tabarot mengatakan kepada BFMTV bahwa jaringan kereta api negara itu “sudah tua” dan menyerukan investasi tambahan untuk mempercepat pembaruan infrastruktur.

    Dia mengatakan pihak berwenang telah mengambil langkah-langkah untuk mempersiapkan gelombang panas, tetapi memperingatkan bahwa intensitas dan kedatangannya yang lebih awal mendorong para pejabat untuk membuat kebijakan untuk mencegah layanan publik, khususnya sistem perawatan kesehatan, kewalahan.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • El Niño Memicu Gelombang Panas, Simak Cara untuk Tetap Dingin yang Lebih Ramah Lingkungan

    El Niño Memicu Gelombang Panas, Simak Cara untuk Tetap Dingin yang Lebih Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Perubahan iklim dan pemanasan global mengakibatkan gelombang panas semakin sering terjadi dan semakin intens.

    Dilansir unep.org, gelombang panas sudah menyebabkan hampir 500.000 kematian setiap tahunnya, semakin sering terjadi, semakin intens, dan semakin berbahaya.

    Gelombang panas ini sangat dirasakan di Eropa, di mana suhu minggu ini melonjak mendekati 40°C, memicu peringatan panas di 26 negara, menurut laporan media.

    Panas dapat dengan cepat menjadi risiko kesehatan yang serius, terutama bagi lansia, anak-anak, pekerja luar ruangan, perempuan hamil, dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

    Itulah mengapa para ahli mengatakan penting untuk bersiap-siap, selain tentunya menurunkan emisi karbon agar pemanasan ini bisa ditekan

    Untuk membantu, staf di Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menawarkan beberapa kiat tentang cara mendinginkan rumah dan lingkungan Anda, ketika suhu melonjak.

    Baca: Kencangkan Suara untuk Mendesak Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

    1. Siapkan rumah untuk suhu tinggi
    Panas ekstrem lebih mudah dikelola jika Anda merencanakannya terlebih dahulu. Periksa prakiraan cuaca dan peringatan panas agar Anda tahu kapan kondisi berbahaya diperkirakan akan terjadi.

    Pastikan kipas angin, lemari es, dan peralatan pendingin lainnya berfungsi dengan baik.

    Siapkan persediaan air minum dan obat-obatan penting, dan identifikasi tempat-tempat sejuk yang dapat Anda kunjungi jika rumah Anda terlalu panas.

    2. Halangi sinar matahari
    Tutup tirai, kerai, dan penutup jendela yang menghadap matahari di siang hari.

    Peneduh eksternal seperti tenda, tirai bambu, atau vegetasi bekerja lebih baik lagi dengan menghalangi panas matahari sebelum mencapai kaca.

    Setelah suhu luar ruangan turun di malam hari, buka jendela di sisi berlawanan rumah Anda untuk mengeluarkan panas yang tersimpan. Tutup semuanya kembali sebelum pagi untuk menjaga udara yang lebih dingin di dalam.

    Baca: Tanda-tanda Godzilla El Niño Semakin Nyata

    3. Cobalah untuk tetap sejuk tanpa AC
    AC dapat menyelamatkan nyawa selama cuaca panas ekstrem, tetapi ketergantungan yang luas pada pendinginan yang tidak efisien dapat meningkatkan permintaan energi dan berkontribusi pada perubahan iklim.

    Jika memungkinkan, kombinasikan pendinginan yang efisien dengan tindakan pasif yang menjaga bangunan tetap lebih dingin secara alami.

    Kipas angin menggunakan energi jauh lebih sedikit daripada AC dan membantu orang merasa lebih sejuk dengan meningkatkan aliran udara di kulit.

    Teknik pendinginan tradisional dapat membantu lebih banyak lagi. Di beberapa bagian Asia Selatan, tirai dari rumput vetiver (khus) yang dibasahi telah lama ditempatkan di atas jendela sehingga udara yang masuk didinginkan secara alami saat air menguap.

    Peneduh, ventilasi silang, penutup jendela, atap dingin, dan bangunan yang dirancang dengan baik juga dapat mencegah panas masuk, mengurangi kebutuhan akan pendingin ruangan.

    Untuk jangka panjang, UNEP telah lama menyerukan untuk menekan penggunaan energi fosil, memperbanyak menanam pohon, memperbanyak ruang terbuka hijau untuk kota dan lingkungan yang lebih tahan pada gelombang panas.

    Pohon, taman, atap hijau, dan vegetasi lainnya membantu mendinginkan lingkungan dengan memberikan naungan dan melepaskan kelembapan ke udara. 

    Baca: Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca dari Isi Piring Kamu

  • Lima Cara untuk Tetap Sehat Saat Cuaca Sangat Panas

    Lima Cara untuk Tetap Sehat Saat Cuaca Sangat Panas

    7cloud.asia – Perubahan iklim dan pemanasan global mengakibatkan gelombang panas semakin sering terjadi dan semakin intens.

    Dilansir unep.org, gelombang panas sudah menyebabkan hampir 500.000 kematian setiap tahun di seluruh dunia.

    Gelombang panas dapat dengan cepat menjadi risiko kesehatan yang serius, terutama bagi lansia, anak-anak, pekerja luar ruangan, perempuan hamil, dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

    Itulah mengapa para ahli mengatakan penting untuk bersiap-siap, selain tentunya menurunkan emisi karbon agar laju pemanasan ini bisa ditekan

    Untuk membantu, staf di Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menawarkan beberapa kiat tentang cara mendinginkan rumah dan lingkungan Anda, ketika suhu melonjak.

    1. Minum air secara teratur dan makan makanan ringan
    Minumlah air sedikit demi sedikit sepanjang hari, bahkan sebelum rasa haus muncul. Dalam cuaca panas ekstrem, Anda akan mengalami dehidrasi lebih cepat daripada yang Anda sadari. Hindari alkohol.

    Ganti makanan berat yang dimasak dengan makanan dingin dan lebih kecil seperti salad; Memasak di dalam ruangan meningkatkan suhu rumah Anda, dan mencerna makanan besar menghasilkan panas tubuh.

    Baca: Prancis Siaga Hadapi Potensi Gelombang Panas Ekstrem

    2. Lindungi diri saat panas tak terhindarkan
    Kenakan pakaian ringan, berwarna terang, longgar, dengan topi bertepi lebar dan kacamata hitam.

    Jika memungkinkan, tetaplah di dalam ruangan atau di tempat teduh selama jam-jam puncak panas dan jadwalkan olahraga dan tugas di luar ruangan untuk bagian hari yang lebih sejuk.

    Bagi pekerja luar ruangan, istirahat teratur, akses ke tempat teduh, hidrasi yang sering, dan penyesuaian jam kerja sangat penting untuk melindungi diri dari penyakit yang berhubungan dengan panas.

    3. Kenali tanda-tanda penyakit yang berhubungan dengan panas
    Pusing, sakit kepala, mual, kram otot, dan keringat berlebihan dapat menandakan kelelahan akibat cuaca panas.

    Jika Anda mengalaminya, pindahlah ke tempat yang lebih sejuk, istirahat, dan minum air segera.

    Kebingungan, kehilangan kesadaran, pernapasan cepat, kejang, atau suhu tubuh yang sangat tinggi dapat mengindikasikan serangan panas, suatu keadaan darurat medis. Segera hubungi layanan darurat.

    4. Turunkan suhu tubuh dengan cepat
    Saat suhu melonjak, mendinginkan tubuh Anda secara langsung dapat memberikan bantuan cepat.

    Mandi air dingin, kain lembap di leher dan pergelangan tangan, atau kaki yang direndam dalam air dingin dapat membantu menurunkan suhu tubuh.

    Letakkan kompres dingin yang dibungkus handuk pada titik-titik nadi seperti leher, ketiak, dan selangkangan, di mana pembuluh darah dekat dengan kulit.

    Baca: Upaya Kota-kota di Dunia Mengatasi Panas Ekstrem

    Teknik sederhana ini bekerja cepat, membutuhkan sedikit atau tanpa peralatan, dan dapat membantu mencegah penyakit yang berhubungan dengan panas.

    5. Cari tempat berlindung yang sejuk saat rumah terlalu panas
    Perpustakaan, pusat perbelanjaan, pusat komunitas, bioskop, dan taman yang teduh semuanya dapat memberikan kelegaan selama periode panas ekstrem.

    Banyak kota menjalankan pusat pendinginan khusus selama keadaan darurat panas — periksa dewan kota atau otoritas kesehatan setempat untuk mengetahui yang terdekat.

    Keluar rumah di pagi hari atau sore hari umumnya lebih aman daripada selama jam-jam terpanas di siang hari.

    Pohon, taman, atap hijau, dan vegetasi lainnya membantu mendinginkan lingkungan dengan memberikan naungan dan melepaskan kelembapan ke udara.

    Jika memungkinkan, pilih rute jalan kaki yang teduh, habiskan waktu di ruang hijau, dan dukung upaya untuk memperluas tutupan pohon perkotaan dan solusi pendinginan berbasis alam.

    6. Perhatikan orang lain dan persiapkan diri sebelum cuaca panas tiba
    Lansia, anak-anak kecil, wanita hamil, penderita penyakit kronis, mereka yang tinggal sendirian, dan pekerja di luar ruangan paling berisiko.

    Panggilan telepon atau kunjungan selama gelombang panas dapat menyelamatkan nyawa.

    Seiring suhu terus meningkat, persiapan menghadapi cuaca panas ekstrem menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

    Tindakan kecil yang dilakukan sebelum dan selama cuaca panas dapat melindungi kesehatan Anda, mengurangi risiko, dan membantu Anda tetap aman saat suhu melonjak.

    Baca: Kematian Terkait Cuaca Panas Ekstrem di Negara Miskin Jauh Lebih Tinggi

     

  • Dampak Lanjutan Gelombang Panas Masih Mengancam Sejumlah Wilayah di Prancis

    Dampak Lanjutan Gelombang Panas Masih Mengancam Sejumlah Wilayah di Prancis

    7cloud.asia – Pemerintah Prancis memperingatkan bahwa dampak kesehatan akibat gelombang panas berkepanjangan masih akan berlanjut meski suhu udara mulai menurun secara bertahap.

    Sebagian besar wilayah Prancis sudah mengalami penurunan suhu setelah badai petir melanda pada Sabtu (27/6/2026) malam. Meski demikian, dua departemen di timur laut negara itu masih berstatus peringatan merah gelombang panas pada Minggu.

    Selain itu, 34 departemen berada dalam status peringatan oranye gelombang panas dan 14 departemen lainnya mendapat peringatan oranye akibat badai petir.

    Menurut otoritas setempat dan operator jaringan listrik Enedis, badai tersebut menyebabkan sedikitnya tujuh orang mengalami luka ringan dan memutus aliran listrik ke sekitar 63.000 rumah tangga.

    Cuaca ekstrem tersebut juga mengganggu sejumlah ajang olahraga.

    Baca: El Nino Dikhawatirkan Akan Memicu Rekor Panas Baru

    Penyelenggara kejuaraan balap sepeda jalan raya Prancis terpaksa memangkas jarak balapan putra pada hari Minggu sebanyak satu putaran, lantaran suhu udara sudah mencapai sekitar 35 derajat Celsius saat garis start.

    Dalam pernyataan yang dirilis pada Minggu (28/6/2026), disebutkan bahwa rumah sakit dan layanan darurat disebut masih menghadapi volume pasien yang tinggi akibat cuaca ekstrem.

    Dilansir Antaranews.com, Menteri Kesehatan Prancis Stephanie Rist meminta masyarakat tetap waspada karena jumlah kematian yang dikaitkan dengan gelombang panas tercatat lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.

    “Kemungkinan situasi kesehatan saat ini tidak sama seperti pada 2003,” kata Rist kepada BFMTV, merujuk pada gelombang panas mematikan yang melanda Prancis pada tahun tersebut.

    Namun ia mengatakan data sementara dari Badan Kesehatan Masyarakat Prancis menunjukkan sekitar 1.000 kematian lebih banyak dari biasanya sejak Rabu.

    Baca: Prancis Siaga Hadapi Potensi Gelombang Panas Ekstrem

    Rist menegaskan angka tersebut masih bersifat sementara dan memperkirakan tekanan terhadap sistem layanan kesehatan akan terus berlangsung selama beberapa hari ke depan.

    Kantor Perdana Menteri Sebastien Lecornu juga menyatakan bahwa meski gelombang panas mulai mereda, dampaknya terhadap kesehatan masih akan terus dirasakan.

    Dampak kesehatan itu seperti dehidrasi, keterlambatan penanganan pasien di rumah sakit, dan memburuknya kondisi kelompok rentan.

    Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengatakan layanan darurat mengalami lonjakan signifikan dalam penanganan insiden terkait cuaca panas.

    Menurut dia, petugas pemadam kebakaran telah menangani sekitar 122.000 operasi selama periode cuaca ekstrem tersebut.

    Nunez memperkirakan aktivitas layanan darurat tetap berada pada tingkat yang sangat tinggi meski suhu mulai menurun, serta mengimbau masyarakat tetap berhati-hati, terutama saat berolahraga.

     

  • WHO: Lebih dari 1300 Orang Meninggal Akibat Cuaca Panas Ekstrem di Eropa

    WHO: Lebih dari 1300 Orang Meninggal Akibat Cuaca Panas Ekstrem di Eropa

    7cloud.asia – Lebih dari 1.300 kematian tercatat di seluruh Eropa sejak 21 Juni yang terkait dengan cucaca panas dan gelombang panas

    Demikian diungkapkan Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus di platform media sosial X pada Minggu (28/6/2026).

    Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyerukan kepada negara-negara Eropa untuk “menerapkan rencana aksi kesehatan terkait gelombang panas” sebagai bagian dari agenda yang lebih luas untuk melindungi kesehatan dari perubahan iklim.

    “Saat ini 150 juta orang hidup di bawah suhu panas ekstrem, ratusan orang telah meninggal, sekolah-sekolah ditutup, jaringan listrik mengalami tekanan berat,” kata Tedros di X.

    Dia memperingatkan bahwa stres panas (heat stress) sering disebut sebagai pembunuh senyap, dan rumah, tempat kerja, serta sekolah di Eropa tidak dibangun untuk suhu seperti ini”.

    Eropa adalah benua yang mengalami pemanasan tercepat di Bumi, dengan laju pemanasan dua kali lipat dari rata-rata global, kata Tedros.

    Baca: Dampak Lanjutan Gelombang Panas Masih Mengancam Sejumlah Wilayah di Prancis

    “Didorong oleh perubahan iklim dan pemanasan global, fenomena gelombang panas ‘sekali dalam satu generasi’ kini terjadi hampir setiap tahun,” ujarnya.

    WHO bekerja sama dengan para anggota dan mitranya untuk mengatasi ancaman kesehatan yang ditimbulkan oleh panas ekstrem dengan berfokus pada kesiapan, pencegahan, dan respons sistem kesehatan yang lebih kuat.

    Tedros menyerukan kepada negara-negara Eropa untuk menerapkan rencana aksi kesehatan terkait gelombang panas sebagai bagian dari agenda yang lebih luas untuk melindungi kesehatan dari perubahan iklim.

    Pedoman tersebut juga memperingatkan bahwa kipas angin listrik sebaiknya hanya digunakan saat suhu di bawah 40 derajat Celsius. Pada suhu di atas itu, kipas angin justru akan memanaskan tubuh.

    Jika menggunakan penyejuk ruangan (air conditioner/AC), WHO merekomendasikan untuk mengatur termostat pada 27 derajat Celsius serta menyalakan kipas angin listrik, yang akan membuat ruangan terasa 4 derajat Celsius lebih sejuk dan dapat menghemat hingga 70 persen tagihan listrik untuk pendinginan.

    Secara terpisah, WHO telah menerbitkan kiat-kiat praktis untuk tetap sejuk selama cuaca panas ekstrem di situs webnya.

    Panduan tersebut merekomendasikan untuk menghindari panas dengan tidak beraktivitas di luar ruangan saat waktu terpanas dalam sehari, tetap berada di tempat teduh, dan menghabiskan dua hingga tiga jam setiap hari di tempat yang sejuk.

    Baca: El Nino Akan Memicu Terciptanya Rekor Panas Baru

    Untuk menjaga agar rumah tetap sejuk, WHO menyarankan menggunakan udara malam untuk mendinginkan rumah setelah gelap.

    Warga diminta menutup jendela dan menutupinya dengan tirai pada siang hari ketika suhu luar ruangan lebih tinggi daripada di dalam ruangan, serta mematikan sebanyak mungkin perangkat listrik.

    Pedoman tersebut juga memperingatkan bahwa kipas angin listrik sebaiknya hanya digunakan saat suhu di bawah 40 derajat Celsius. Pada suhu di atas itu, kipas angin justru akan memanaskan tubuh.

    Jika menggunakan penyejuk ruangan (air conditioner/AC), WHO merekomendasikan untuk mengatur termostat pada 27 derajat Celsius serta menyalakan kipas angin listrik, yang akan membuat ruangan terasa 4 derajat Celsius lebih sejuk dan dapat menghemat hingga 70 persen tagihan listrik untuk pendinginan.

    Pedoman tersebut juga menekankan pentingnya melakukan pengecekan secara berkala terhadap orang-orang yang rentan, terutama mereka yang berusia di atas 65 tahun dan mereka yang memiliki kondisi jantung, paru-paru, atau ginjal, disabilitas, atau yang tinggal sendirian.

    Demi menjaga tubuh tetap sejuk dan terhidrasi, WHO menyarankan untuk mengenakan pakaian yang ringan dan longgar, mandi dengan air dingin, membasahi kulit dengan kain lembap atau semprotan, serta minum air secara teratur setidaknya satu cangkir per jam dan 2-3 liter per hari.

  • Otoritas Prancis Catat Hampir 9.000 Kematian Akibat Gelombang Panas Sepanjang Juni

    Otoritas Prancis Catat Hampir 9.000 Kematian Akibat Gelombang Panas Sepanjang Juni

    7cloud.asia – Otoritas Prancis menyatakan telah mencatat peningkatan lebih dari 2.000 kematian selama minggu terakhir gelombang panas di Eropa yang memecahkan rekor pada bulan Juni 20206.

    Sementara para pengamat cuaca memperingatkan potensi terjadinya gelombang panas ekstrem lebih lanjut di Eropa dalam beberapa hari mendatang.

    Otoritas Prancis telah mencatat 2.025 kematian tambahan akibat gelombang panas hebat yang melanda negara itu pada akhir Juni 2026.

    Data awal Institut Statistik dan Studi Ekonomi Nasional (INSEE) ini dilaporkan Stasiun Televisi BFM TV pada Jumat (3/7/2026). Data itu juga menunjukkan hampir 9.000 kematian terjadi di Prancis yang tercatat secara digital antara 22 Juni dan 28 Juni 2026.

    Peningkatan itu bertepatan dengan puncak gelombang panas ekstrem yang mempengaruhi sebagian besar negara itu.

    Menteri Kesehatan Prancis Stephanie Rist mengatakan jumlah tersebut masih bersifat sementara karena sertifikat kematian elektronik tidak mencakup semua kematian yang tercatat di Prancis.

    Baca: Prancis Siaga Hadapi Potensi Gelombang Panas Ekstrem

    Pihak berwenang memperingatkan bahwa data saat ini harus ditafsirkan dengan hati-hati dan mungkin meremehkan dampak besar akibat gelombang panas tersebut.

    Sertifikat kematian elektronik mencakup sekitar 60 persen dari seluruh kematian di Prancis, meskipun cakupannya sangat bervariasi di berbagai wilayah, jelas pejabat terkait.

    Prancis telah mengalami beberapa hari dengan suhu yang sangat tinggi, dan banyak wilayah mencatat suhu di atas 35 derajat Celsius.

    Sementara BBC.com melaporkan, kematian meningkat 29 persen pada minggu terakhir bulan Juni dibandingkan dengan minggu sebelumnya.

    Menteri Kesehatan Prancis Stéphanie Rist dalam pernyataannya mengatakan bahwa telah terjadi “peningkatan yang jelas” dalam kematian di antara mereka yang berusia di atas 45 tahun.

    Prancis mengalami hari terpanas rata-rata di seluruh negeri pada tanggal 24 Juni, dengan suhu mencapai hampir 41°C di Paris dan setengah dari negara itu berada di bawah peringatan darurat panas.

    Baca: El Niño Dikhawatirkan Akan Memicu Terciptanya Rekor Panas Baru

    Kabar tentang jumlah korban jiwa ini muncul ketika beberapa bagian Eropa, termasuk Inggris, yang sedang bersiap menghadapi suhu yang lebih panas mulai akhir pekan ini.

    BBC Weather mengatakan bahwa area tekanan tinggi yang luas saat ini sedang terbentuk dari Azores menuju Portugal dan Spanyol, dan pada akhir pekan, suhu diperkirakan akan meningkat di seluruh Prancis dan Inggris selatan.

    Dan saat Eropa bersiap menghadapi kondisi yang sangat panas, jutaan warga Amerika yang merayakan liburan akhir pekan Hari Kemerdekaan 4 Juli sudah terpengaruh oleh panas ekstrem yang berkepanjangan dan kelembapan tinggi di sebagian wilayah tengah dan timur AS.

    Perubahan iklim mendorong peningkatan suhu di seluruh dunia, dengan panas ekstrem sangat dirasakan di Eropa.

    Ini adalah benua yang paling cepat memanas, memanas dua kali lebih cepat daripada rata-rata global, menurut layanan iklim Copernicus.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Peringatan yang Dibawa Gelombang Panas Berkepanjangan di Eropa

    Peringatan yang Dibawa Gelombang Panas Berkepanjangan di Eropa

    7cloud.asia – Gelombang panas yang melanda sejumlah negara Eropa pada bulan Juni lalu, telah mengakibatkan ribuan orang meninggal.

    Laporan resmi dari The Guardian dan WHO menyatakan bahwa setidaknya telah terjadi 1.300 kematian berlebih di seluruh Eropa sejak gelombang panas ekstrem ini melanda pada akhir Juni.

    Dalam tulisan ini akan diulas bagaimana gelombang panas terjadi dan mengapa semakin ganas dalam beberapa tahun terakhir.

    Dilansir Earth.org, gelombang panas biasanya dipicu oleh keberadaan sistem tekanan tinggi, yang juga dikenal sebagai antisiklon.

    Kondisi atmosfer ini menyebabkan udara di atas suatu wilayah –dalam hal ini daratan Eropa– menumpuk dan terkompresi, mengakibatkan peningkatan suhu dan penurunan kadar air.

    Udara yang turun bertindak sebagai kubah panas, memerangkap panas yang diserap di dalam lanskap. Secara bersamaan, sistem tekanan tinggi menggeser udara yang lebih dingin dan menyebarkan awan, memungkinkan sinar matahari tanpa hambatan mencapai tanah.

    Baca: Perubahan Iklim Akibatkan Jumlah Kematian Akibat Gelombang Panas Naik Tiga Kali Lipat

    Akibatnya, udara di permukaan dan dekat tanah dipanaskan secara terus-menerus hingga melampaui suhu rata-rata.

    Keberadaan kelembapan di dalam tanah dapat mengurangi dampak panas, seperti halnya keringat yang mendinginkan tubuh melalui penguapan.

    Namun, ketika tanah, perairan, dan vegetasi menyimpan air dalam jumlah terbatas, kapasitasnya untuk menyerap panas pun berkurang secara signifikan, sehingga udara menjadi media utama untuk retensi panas.

    Perubahan iklim memperparah gelombang panas
    Dalam 11 tahun terakhir tercatat sebagai tahun-tahun terpanas yang terjadi. Tahun 2026 dan 2027 diprediksi akan menjadi lima tahun terpanas, karena adanya fenomena El Niño.

    Peningkatan panas ekstrem ini merupakan akibat langsung dari perubahan iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia yang secara boros menghasilkan emisi karbon.

    Karena emisi gas rumah kaca memerangkap lebih banyak panas di atmosfer, gelombang panas – jenis peristiwa cuaca ekstrem yang paling mematikan – menjadi lebih lama dan lebih panas.

    Baca: El Niño Dikhawatirkan Akan Memicu Terciptanya Rekor Panas Baru

    Studi atribusi, yang menyelidiki hubungan antara peristiwa cuaca ekstrem tertentu dan pemanasan global sebagai akibat dari tindakan manusia, berulang kali menemukan bahwa perubahan iklim membuat gelombang panas lebih sering dan lebih intens.

    Hal itu terjadi pada gelombang panas baru-baru ini di Australia, yang sekitar 1,6°C lebih panas karena perubahan iklim, serta gelombang panas di negara-negara Nordik Eropa tahun lalu, yang kemungkinannya setidaknya 10 kali lebih besar akibat perubahan iklim buatan manusia.

    Di India dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, suhu yang sangat panas menjadi hal yang biasa sebagai konsekuensi dari pemanasan planet Bumi.

    Ilmuwan Iklim di Cabot Institute Universitas Bristol, Vikki Thompson mengatakan bahwaperubahan iklim membuat gelombang panas menjadi lebih panas dan berlangsung lebih lama di seluruh dunia.

    Para ilmuwan telah menunjukkan bahwa banyak gelombang panas tertentu menjadi lebih intens karena perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia. Sinyal perubahan iklim bahkan dapat dideteksi dalam jumlah kematian yang disebabkan oleh gelombang panas.”

    Penjelasan ini sejalan dengan Laporan Penilaian Keenam dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) yang menunjukkan bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia telah meningkatkan frekuensi dan intensitas gelombang panas sejak tahun 1950-an.

    Kondisi akan terus berlanjut seiring dengan pemanasan planet Bumi, jika manusia tidak segera mengambil langkah nyata.

    Baca: Otoritas Prancis Catat Hampir 9.000 Kematian Akibat Gelombang Panas Sepanjang Juni