7cloud.asia – Gelombang panas yang melanda sejumlah negara Eropa pada bulan Juni lalu, telah mengakibatkan ribuan orang meninggal.
Laporan resmi dari The Guardian dan WHO menyatakan bahwa setidaknya telah terjadi 1.300 kematian berlebih di seluruh Eropa sejak gelombang panas ekstrem ini melanda pada akhir Juni.
Dalam tulisan ini akan diulas bagaimana gelombang panas terjadi dan mengapa semakin ganas dalam beberapa tahun terakhir.
Dilansir Earth.org, gelombang panas biasanya dipicu oleh keberadaan sistem tekanan tinggi, yang juga dikenal sebagai antisiklon.
Kondisi atmosfer ini menyebabkan udara di atas suatu wilayah –dalam hal ini daratan Eropa– menumpuk dan terkompresi, mengakibatkan peningkatan suhu dan penurunan kadar air.
Udara yang turun bertindak sebagai kubah panas, memerangkap panas yang diserap di dalam lanskap. Secara bersamaan, sistem tekanan tinggi menggeser udara yang lebih dingin dan menyebarkan awan, memungkinkan sinar matahari tanpa hambatan mencapai tanah.
Baca: Perubahan Iklim Akibatkan Jumlah Kematian Akibat Gelombang Panas Naik Tiga Kali Lipat
Akibatnya, udara di permukaan dan dekat tanah dipanaskan secara terus-menerus hingga melampaui suhu rata-rata.
Keberadaan kelembapan di dalam tanah dapat mengurangi dampak panas, seperti halnya keringat yang mendinginkan tubuh melalui penguapan.
Namun, ketika tanah, perairan, dan vegetasi menyimpan air dalam jumlah terbatas, kapasitasnya untuk menyerap panas pun berkurang secara signifikan, sehingga udara menjadi media utama untuk retensi panas.
Perubahan iklim memperparah gelombang panas
Dalam 11 tahun terakhir tercatat sebagai tahun-tahun terpanas yang terjadi. Tahun 2026 dan 2027 diprediksi akan menjadi lima tahun terpanas, karena adanya fenomena El Niño.
Peningkatan panas ekstrem ini merupakan akibat langsung dari perubahan iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia yang secara boros menghasilkan emisi karbon.
Karena emisi gas rumah kaca memerangkap lebih banyak panas di atmosfer, gelombang panas – jenis peristiwa cuaca ekstrem yang paling mematikan – menjadi lebih lama dan lebih panas.
Baca: El Niño Dikhawatirkan Akan Memicu Terciptanya Rekor Panas Baru
Studi atribusi, yang menyelidiki hubungan antara peristiwa cuaca ekstrem tertentu dan pemanasan global sebagai akibat dari tindakan manusia, berulang kali menemukan bahwa perubahan iklim membuat gelombang panas lebih sering dan lebih intens.
Hal itu terjadi pada gelombang panas baru-baru ini di Australia, yang sekitar 1,6°C lebih panas karena perubahan iklim, serta gelombang panas di negara-negara Nordik Eropa tahun lalu, yang kemungkinannya setidaknya 10 kali lebih besar akibat perubahan iklim buatan manusia.
Di India dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, suhu yang sangat panas menjadi hal yang biasa sebagai konsekuensi dari pemanasan planet Bumi.
Ilmuwan Iklim di Cabot Institute Universitas Bristol, Vikki Thompson mengatakan bahwaperubahan iklim membuat gelombang panas menjadi lebih panas dan berlangsung lebih lama di seluruh dunia.
Para ilmuwan telah menunjukkan bahwa banyak gelombang panas tertentu menjadi lebih intens karena perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia. Sinyal perubahan iklim bahkan dapat dideteksi dalam jumlah kematian yang disebabkan oleh gelombang panas.”
Penjelasan ini sejalan dengan Laporan Penilaian Keenam dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) yang menunjukkan bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia telah meningkatkan frekuensi dan intensitas gelombang panas sejak tahun 1950-an.
Kondisi akan terus berlanjut seiring dengan pemanasan planet Bumi, jika manusia tidak segera mengambil langkah nyata.
Baca: Otoritas Prancis Catat Hampir 9.000 Kematian Akibat Gelombang Panas Sepanjang Juni

Leave a Reply