Tag: iran

  • WSJ: Iran Akan Serang Israel dalam Waktu Dekat

    WSJ: Iran Akan Serang Israel dalam Waktu Dekat

    7cloud.asia – Iran sedang mempersiapkan serangan terhadap Israel dalam beberapa hari mendatang, kata surat kabar The Wall Street Journal (WSJ), Selasa (6/8/2024), mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat (AS).

    WSJ melaporkan bahwa potensi serangan diketahui dengan pergerakan sistem rudal. Realitas ini mengindikasikan serangan bisa jadi dilakukan dalam beberapa hari mendatang.

    Sejak akhir pekan lalu, para pejabat AS mengatakan mereka telah mengamati Iran memindahkan peluncur rudal dan melakukan latihan militer.

    Para pejabat tinggi AS berupaya menyerukan kepada Teheran untuk menghindari eskalasi konflik.

    Mereka juga mencari dukungan negara-negara Arab mengenai masalah ini, kata WSF dalam laporannya.

    Baca: Iran akan membalas kematian Haniyeh

    Gedung Putih pun dilaporkan khawatir bahwa serangan Iran yang diperkirakan akan terjadi itu mungkin disertai dengan serangan dari gerakan Syiah Lebanon, Hizbullah.

    Pada hari yang sama, Selasa (6/8/2024) Hamas mengumumkan penunjukkan Yahya Sinwar sebagai kepala biro politiknya yang baru, menggantikan almarhum Ismail Haniyeh yang tewas terbunuh di Teheran pekan lalu.

    “Kami mengumumkan pengangkatan Yahya Sinwar sebagai kepala biro politik gerakan ini, menggantikan Ismail Haniyeh,” kata Hamas dalam sebuah pernyataan.

    Sinwar (61) telah menjadi pemimpin Hamas di Jalur Gaza sejak 2017. Dia ditahan selama lebih dari 20 tahun di penjara Israel dan dibebaskan di bawah kesepakatan pertukaran tahanan dengan Israel pada 2011.

    Sinwar dianggap Israel sebagai salah satu otak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel

    Baca: Iran sebut pembunuhan Haniyeh dilakukan Israel

    Sebelumnya pada Senin (5/8/2024) malam, suara ledakan dilaporkan terdengar di kota Isfahan di wilayah tengah Iran.

    Suara-suara ledakan itu terkait dengan latihan militer yang dilakukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), kata Wakil Gubernur Isfahan Mohammad Reza Jannesar.

    Pekan lalu, Israel telah melakukan pembunuhan ganda terhadap pemimpin Hizbullah dan Hamas di Beirut dan Teheran.

    Sebagai tanggapan, Iran dan Hizbullah diperkirakan akan melancarkan serangan balasan terhadap Israel.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-OANA

  • Iran Syaratkan Gencatan Senjata sebagai Cara Tunda Respons Iran terhadap Israel

    Iran Syaratkan Gencatan Senjata sebagai Cara Tunda Respons Iran terhadap Israel

    7cloud.asia – Tiga pejabat senior Iran mengatakan bahwa hanya kesepakatan gencatan senjata di Gaza yang dapat mencegah Iran melakukan pembalasan langsung terhadap Israel.

    Mereka mengaitkan potensi respons dengan kematian pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di wilayah tersebut. Gencatan senjata di Gaza diharapkan berlangsung pada pekan ini.

    Iran bertekad untuk memberikan respons tegas terhadap pembunuhan Haniyeh, yang terjadi saat kunjungannya ke Teheran akhir bulan lalu. Israel dituding berada di balik pembunuhan itu.

    Namun, Israel belum mengonfirmasi atau membantah mengenai keterlibatannya. Untuk memperkuat pertahanan Israel, Angkatan Laut AS telah mengerahkan kapal perang dan kapal selam ke Timur Tengah.

    Seorang pejabat keamanan senior Iran mengungkapkan bahwa Iran, bersama sekutunya seperti Hizbullah, akan melancarkan serangan langsung jika pembicaraan tentang Gaza gagal atau jika Israel dianggap menunda negosiasi.

    Pejabat tersebut tidak menyebutkan berapa lama Iran akan menunggu sebelum mengambil tindakan.

    Baca: Balasan Iran ke Israel diperkirakan akan segera dilakukan

    Dengan meningkatnya risiko konflik yang lebih luas di Timur Tengah setelah pembunuhan Haniyeh dan komandan Hizbullah Fuad Shukr, Iran terlibat dalam dialog intensif dengan negara-negara Barat dan Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir mengenai cara mengatur pembalasan.

    Sumber-sumber tersebut, yang berbicara secara anonim karena sensitivitas masalah ini, mengungkapkan informasi itu.

    Duta besar AS untuk Turki mengonfirmasi lewat pernyataan pada Selasa bahwa Washington telah meminta sekutunya untuk membantu meyakinkan Iran untuk meredakan ketegangan di kawasan.

    Tiga sumber pemerintah regional menjelaskan bahwa percakapan dengan Teheran dilakukan untuk menghindari eskalasi menjelang perundingan gencatan senjata Gaza yang dijadwalkan mulai Kamis di Mesir atau Qatar.

    “Kami berharap respons kami akan dilakukan tepat waktu dan dengan cara yang tidak mengancam kemungkinan gencatan senjata,” kata misi Iran untuk PBB dalam sebuah pernyataan pada Jumat.

    Kementerian Luar Negeri Iran pada Selasa menyatakan bahwa seruan untuk menahan diri “bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum internasional.”

    Baca: Iran bertekad membalas pembunuhan Ismail Haniyeh

    Kementerian Luar Negeri Iran dan Korps Garda Revolusi tidak segera menanggapi pertanyaan untuk berita ini. Kantor Perdana Menteri Israel dan Departemen Luar Negeri AS tidak menanggapi pertanyaan.

    “Sesuatu dapat terjadi minggu ini oleh Iran dan proksinya… Itu adalah evaluasi AS dan juga Israel,” kata juru bicara Gedung Putih John Kirby kepada wartawan pada Senin.

    “Jika ada kejadian pada minggu ini, hal tersebut bisa mempengaruhi pembicaraan yang kami rencanakan digelar pada Kamis,” tambahnya.

    Pada akhir pekan lalu, Hamas meragukan apakah pembicaraan akan dilanjutkan. Israel dan Hamas telah melakukan beberapa putaran pembicaraan dalam beberapa bulan terakhir tanpa berhasil mencapai kesepakatan gencatan senjata.

    Banyak pengamat Israel yang percaya bahwa Iran akan memberikan responsnya segera setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menyatakan bahwa Iran akan “memberi hukuman berat” kepada Israel atas serangan di Teheran.

    Kebijakan regional Iran diputuskan oleh Garda Revolusi yang elite, yang langsung melapor kepada Khamenei, pemimpin tertinggi negara tersebut.

    Baca: Ini syarat yang diajukan Hamas untuk perundingan gencatan senjata

    Sejak dilantik bulan lalu, presiden baru Iran yang relatif moderat, Masoud Pezeshkian, terus menegaskan sikap anti-Israel dan dukungannya terhadap gerakan perlawanan di seluruh wilayah.

    Menurut dua sumber, Iran sedang mempertimbangkan untuk mengirimkan seorang perwakilan ke perundingan gencatan senjata, yang akan menjadi yang pertama sejak perang dimulai di Gaza.

    Perwakilan tersebut tidak akan hadir secara langsung dalam pertemuan, tetapi akan terlibat dalam diskusi di balik layar “untuk menjaga jalur komunikasi diplomatik” dengan Amerika Serikat selama negosiasi berlangsung.

    Pejabat di Washington, Qatar, dan Mesir belum memberikan tanggapan mengenai apakah Iran akan memainkan peran tidak langsung dalam perundingan.

    Dua sumber senior yang dekat dengan Hizbullah Lebanon mengatakan bahwa Teheran akan memberi kesempatan pada negosiasi tersebut, tetapi tetap akan melanjutkan niatnya untuk membalas.

    Menurut salah satu sumber, gencatan senjata di Gaza akan memberi Iran alasan untuk merespons dengan cara yang lebih terbatas dan bersifat “simbolis.”

    Sumber: VOA Indonesia

  • Disanksi Karena Pasok Rudal Balistik ke Rusia, Iran Siap Negosiasi Tapi Tolak Tekanan dari AS dan Uni Eropa

    Disanksi Karena Pasok Rudal Balistik ke Rusia, Iran Siap Negosiasi Tapi Tolak Tekanan dari AS dan Uni Eropa

    7cloud.asia – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi mengatakan Teheran terbuka untuk diplomasi untuk menyelesaikan sengketa, tetapi menolak “ancaman dan tekanan.”

    Dilansir media pemerintah Iran Sabtu (14/9/2024), Abbas Araqchi melontarkan pernyataan itu setelah Amerika Serikat (AS) dan tiga negara Eropa menerapkan sanksi terhadap sektor penerbangan negara itu.

    Pernyataan Abbas Araqchi muncul satu hari setelah kepala diplomat Uni Eropa mengatakan blok itu mempertimbangkan pengenaan sanksi baru yang menarget sektor penerbangan AS.

    Rencana sanksi baru itu merupakan tanggapan atas laporan bahwa Teheran memasok rudal-rudal balistik ke Rusia dalam perang melawan Ukraina.

    Baca: Presiden terpilih Iran lanjutkan kebijakan antiIsrael

    “Iran melanjutkan jalannya sendiri dengna kekuatan, meski kami selalu terbuka untuk pembicaraan untuk menyelesaikan sengketa…tetapi dialog harus berlandaskan saling menghormati, bukan berdasarkan ancaman dan tekanan,” kata Araqchi, seperti dikutip oleh kantor berita IRNA.

    Araqchi mengatakan pada Rabu (11/9/2024) bahwa Teheran tidak mengirimkan rudal-rudal balistik apa pun ke Rusia.

    Dia menambahkan bahwa sanksi-sanksi yang diterapkan terhadap Iran oleh Amerika Serikat dan tiga negara kuat Eropa tidak akan menyelesaikan persoalan apa pun di antara mereka.

    Amerika Serikat, Jerman, Inggris dan Prancis pada Selasa (10/9/2024) menerapkan sejumlah sanksi terhadap Iran, termasuk beberapa sanksi terhadap maskapai penerbangan nasional, Iran Air.

    Baca: Aktivis Iran Narges Mohammadi raih Nobel Perdamaian 2023

    Selain itu Iran juga dikenai sanksi karena pengayaan nuklirnya. Iran dinilai gagal menjelaskan jejak uranium yang ditemukan di lokasi yang tidak diumumkan.

    Namun, Iran telah meningkatkan pengayaan nuklir sejak 2019, setelah Presiden AS kala itu Donald Trump membatalkan perjanjian yang dicapai di bawah pendahulunya Barack Obama di mana Iran setuju untuk membatasi kegiatan nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi internasional.

    Diplomat-diplomat Barat mengatakan ada rencana untuk melakukan pembicaraan mengenai pembatasan baru jika calon presiden dari Partai Demokrat Kamala Harris memenangkan pemilu.

    Sumber:VOA Indonesia

  • Iran Tak Akan Kirim Pasukan ke Lebanon maupun Gaza

    Iran Tak Akan Kirim Pasukan ke Lebanon maupun Gaza

    7cloud.asia – Iran tidak akan menerjunkan pasukan ke Lebanon ataupun Gaza untuk menghadapi Israel, kata kementerian luar negeri Iran pada Senin (30/9), di saat serangan Israel menyasar sekutu-sekutunya di kawasan.

    “Tidak perlu mengirim pasukan tambahan atau sukarelawan dari Republik Islam Iran,” kata juru bicara kementerian luar negeri Iran, Nasser Kanani.

    Ia menambahkan, Lebanon dan para petempur di wilayah Palestina “memiliki kemampuan dan kekuatan untuk mempertahankan diri dari agresi.”

    Selama beberapa hari terakhir, Israel telah melancarkan serangan udara besar-besaran ke Lebanon untuk melawan apa yang disebutnya “poros perlawanan”,

    Yaitu jaringan kelompok militan yang berpihak pada Iran di kawasan, termasuk di Suriah, Yaman dan Irak.

    Baca Juga: Satu Juta Warga Lebanon Mengungsi Hindari Serangan Israel

    Sebuah serangan Israel ke Beirut pada Jumat (27/9) lalu menewaskan Hassan Nasrallah, pemimpin kelompok militan Lebanon, Hizbullah, yang dipersenjatai dan didanai Republik Islam Iran selama bertahun-tahun.

    “Kami belum menerima permintaan apa pun terkait hal ini dari pihak mana pun, sebaliknya, kami terlah diberi tahu dan yakin bahwa mereka tidak membutuhkan bantuan pasukan kami,” kata Kanani kepada wartawan di Teheran.

    Meski demikian, Kanani tetap bersumpah bahwa Israel “tidak akan dibiarkan tanpa teguran dan hukuman atas kejahatan yang telah dilakukannya terhadap rakyat, personel militer dan pasukan perlawanan Iran.”

    Pada hari yang sama, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengunjungi kantor Hizbullah di Teheran “untuk memberikan penghormatan” kepada Nasrallah, menurut situs web pemerintah Iran.

    Baca Juga: Hizbullah Mengonfirmasi Kematian Hassan Nasrallah, Perjuangan Melawan Israel Tetap Dilanjutkan

    Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, pembuat keputusan utama dalam semua urusan negara, telah bersumpah bahwa kematian Nasrallah “tidak akan sia-sia,”

    Sementara, Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref mengatakan negaranya akan membawa “kehancuran” Israel.

    Iran juga telah bersumpah untuk membalas kematian Abbas Nilforushan, komandan tinggi Pasukan Quds, sayap operasi luar negeri Korps Garda Revolusi Islam, yang tewas bersama pemimpin Hizbullah.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Serangan Israel Langgar Piagam PBB, Iran Berhak Membalas

    Serangan Israel Langgar Piagam PBB, Iran Berhak Membalas

    7cloud.asia – Serangan Israel terhadap Iran merupakan pelanggaran Piagam PBB, dan Teheran berhak untuk menanggapinya, demikian Kementerian Luar Negeri Iran pada Jumat (13/6/2025)

    Serangan Israel terhadap Iran merupakan pelanggaran Pasal 4, paragraf 2 Piagam PBB dan agresi terbuka terhadap Republik Islam.

    “Teheran memiliki hak yang sah untuk menanggapi agresi ini sesuai dengan Pasal 51 Piagam PBB, dan angkatan bersenjata Iran tidak akan ragu untuk membela bangsa Iran dengan sekuat tenaga dan dengan cara yang mereka pilih,” kata kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan di Telegram.

    Teheran menganggap Amerika Serikat bertanggung jawab atas serangan Israel terhadap Iran.

    “Agresi rezim Zionis terhadap Iran tidak dapat dilakukan tanpa koordinasi dan izin Amerika Serikat. Dalam hal ini, otoritas AS … juga bertanggung jawab atas konsekuensi berbahaya dari tindakan gegabah ini,” bunyi pernyataan itu.

    Baca: Majelis Umum PBB rilis resolusi mendesak gencatan senjata di Gaza

    Iran menuntut “tindakan segera” dari sekretaris jenderal PBB untuk melawan gangguan perdamaian dan keamanan internasional karena agresi Israel, demikian pernyataan tersebut.

    Pada Jumat, Israel melakukan serangkaian serangan besar-besaran ke sejumlah target militer di Iran, termasuk ke beberapa individu yang dikabarkan memiliki koneksi dengan program nuklir negara tersebut.

    Serangan Israel itu juga menargetkan sejumlah pemimpin militer Iran, demikian laporan RIA Novosti mengutip sejumlah sumber.

    Media siaran Iran Press TV melaporkan bahwa adanya korban jiwa, termasuk sejumlah perempuan dan anak-anak, yang tewas dalam serangan tersebut, meskipun tidak merinci berapa jumlahnya.

    Otoritas Iran membatalkan seluruh penerbangan di bandara Imam Khomeini di Tehran menyusul serangan tersebut, lapor kantor berita ISNA mengutip juru bicara bandara.

    Baca: Iran pernah tunda respons terhadap serangan Israel

    Tentara Israel menyatakan bahwa jet-jet tempur mereka telah menyelesaikan tahap pertama dari operasi serangan mereka.

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan pertemuan dengan kabinetnya untuk membahas situasi di Iran menyusul serangan Israel ke Tehran.

    Sementara itu, portal berita Israel Ynet, mengutip sumber dari pihak berwenang, mengklaim pemimpin militer Iran, termasuk kepala staf umum, juga sejumlah ilmuwan nuklir kemungkinan tewas karena serangan Israel tersebut.

    Laporan lembaga penyiaran negara Iran IRIB pada Jumat (13/6/2025) menyebut dua gedung tempat tinggal sejumlah pemimpin militer Iran tinggal hancur karena serangan tersebut.

    Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Hussein Salami, komandan Markas Pusat Khatam al-Anbiya IRGC Gholamali Rashid kemungkinan tewas akibat serangan Israel di Teheran.

    Baca: Israel culik aktivis yang akan bantu warga Gaza

    Pun demikian dengan fisikawan Mohammad Mehdi Tehranchi dan mantan kepala Organisasi Energi Atom Iran, Fereydoon Abbasi.

    Pada saat yang sama, kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Salami, Tehranchi dan Abbasi tewas dalam serangan Israel.

    Selain melakukan serangan udara, Israel melakukan sejumlah operasi sabotase lebih dalam ke Iran, dengan tujuan merusak lokasi-lokasi peluncuran rudal dan pertahanan udara, lapor reporter Axios Barak Ravid, yang mengutip pejabat senior Israel.

    Bersamaan dengan serangan udara besar-besaran oleh Angkatan Udara Israel, Mossad memimpin serangkaian operasi sabotase rahasia jauh di dalam wilayah Iran.

    “Operasi-operasi ini ditujukan untuk merusak situs-situs rudal strategis Iran dan kemampuan pertahanan udaranya,” kata Ravid di X.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-OANA

  • Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Israel

    Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Israel

    7cloud.asia – Iran pada Sabtu (14/6/2025) meluncurkan rangkaian serangan rudal balistik balasan dari Teheran ke wilayah yang diduduki Israel.

    Rudal-rudal juga diluncurkan dari kota Kermanshah yang berada di provinsi Iran bagian barat, yang berbatasan dengan Irak, lapor Nour News.

    Serangan rudal balistik itu sebagai jawaban atas operasi Rising Lion Israel pada Jumat (13/6/2025) pagi, yang menargetkan fasilitas militer dan lokasi program nuklir milik Iran.

    Sejumlah petinggi militer Iran dan ilmuwan nuklir Iran tewas akibat serangan Israel tersebut.

    Baca: Serangan Israel ke Iran langgar piagam PBB

    Perwakilan Tetap Iran di PBB Amir Saeid Iravan menyatakan bahwa lebih dari 70 orang tewas dan sedikitnya 320 orang terluka karena serangan Israel tersebut.

    Sedangkan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, mengatakan rezim Israel telah menetapkan takdir yang pahit dan menyakitkan bagi dirinya sendiri melalui serangan udara terhadap Iran pada Jumat dini hari waktu setempat.

    Sementara itu otoritas militer Israel menyatakan, dalam satu jam puluhan rudal Israel diluncurkan ke sejumlah target Israel.

    Sejumlah rudal balistik Iran dicegat sistem pertahanan Israel. Sejumlah tentara Israel terluka dalam serangan Iran ke Pangkalan Udara Nevatim sebagai bagian dari operasi balasannya atas tindakan zionis ke Teheran, kantor berita Iran Fars melaporkan.

    Baca: Resolusi PBB desakkan gencatan senjata di Gaza

    Iran meluncurkan Operasi True Promise 3 terhadap target-target fasilitas militer Israel pada Jumat.

    Fars, mengutip sumber-sumber Israel pada Jumat melaporkan bahwa beberapa tentara Israel terluka dalam serangan rudal Iran di Pangkalan Udara Nevatim, salah satu yang terbesar di wilayah pendudukan Israel di selatan.

    Pihak pasukan Israel yang mengutip seorang komandan distrik mengatakan bahwa hanya sedikit korban terluka, mengingat “kehancuran besar-besaran” yang disebabkan oleh serangan balasan Iran.

    Laporan portal berita Ynet menyebut sedikitnya sembilan orang terluka akibat serangan Iran.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik – RIA Novosti

  • Iran Sebut Berhasil Lumpuhkan Pertahanan Israel

    Iran Sebut Berhasil Lumpuhkan Pertahanan Israel

    7cloud.asia – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim bahwa selama gelombang serangan rudal terbaru di Israel, mereka sukses dalam menggunakan “metode baru” untuk memaksa sistem pertahanan udara Israel saling menyerang.

    “Selama operasi ini, berkat penggunaan metode dan kemampuan baru dalam intelijen dan peralatan, sistem komando dan kontrol pertahanan multi-level musuh gagal dan mulai saling menyerang,” kata IRGC, seperti dikutip kantor berita Tasnim.

    Sebelumnya pada malam 13 Juni, angkatan bersenjata Israel (IDF) meluncurkan operasi skala besar yang dijuluki Rising Lion, di mana Angkatan Udara Negeri Zionis itu menyerang sejumlah target dan fasilitas militer program nuklir yang dimiliki Iran.

    Angkatan Udara Israel melancarkan beberapa gelombang serangan di berbagai bagian Iran, termasuk Teheran, di mana beberapa pejabat militer senior Iran tewas

    Baca: Iran lancarkan serangan balasan ke Israel

    Di antara yang tewas termasuk kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran dan komandan IRGC, serta beberapa ilmuwan nuklir.

    Beberapa fasilitas nuklir, termasuk Natanz dan Fordow, dan posisi militer Iran di berbagai bagian negara itu juga terkena serangan.

    Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam pidato kepada para warga negaranya, menyebut bahwa serangan terhadap Iran sebagai bentuk kejahatan, seraya mengatakan bahwa Israel akan menghadapi “nasib yang pahit dan mengerikan.”

    IRGC menyatakan Republik Islam Iran telah meluncurkan Operasi True Promise III terhadap target militer di Israel sebagai tanggapan atas serangan pasukan Zionis tersebut.

    Sebelumnya, Kementerian Intelijen Iran pada Selasa (10/6/2025) menyatakan telah memperoleh akses ke program rudal Israel dan berencana untuk berbagi beberapa data tersebut dengan kelompok-kelompok anti-Israel.

    Baca: Serangan Israel ke Iran langgar piagam PBB

    Menteri Intelijen Iran, Esmaeil Khatib menggambarkan dokumen-dokumen tersebut sebagai “harta karun informasi intelijen” yang akan memperkuat potensi daya serang Negeri Para Mullah itu.

    “Bagian lain dari dokumen yang diterima terkait dengan program militer dan rudal (Israel), serta dokumentasi teknis yang terkait dengan proyek-proyek ilmiah dan teknis penggunaan ganda,” kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.

    Kementerian itu mengatakan pula bahwa sebagian besar dokumen tersebut akan digunakan oleh angkatan bersenjata Iran.

    Sementara bagian lainnya akan dibagikan dengan negara-negara sahabat atau akan diberikan kepada organisasi-organisasi dan kelompok-kelompok anti-Israel.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-OANA

  • Iran-Israel Saling Serang, Amerika Serikat Tutup Kedutaannya di Tel Aviv

    Iran-Israel Saling Serang, Amerika Serikat Tutup Kedutaannya di Tel Aviv

    7cloud.asia – Kedutaan Besar Amerika Serikat di Israel akan ditutup mulai Rabu hingga Jumat (18-20/6/2025) “karena situasi keamanan,” menurut Kementerian Luar Negeri AS pada Selasa.

    “Ini termasuk Bagian Konsuler di Yerusalem dan Tel Aviv, ” tulis kementerian itu di platform X.

    Kedubes AS juga meminta para pegawai pemerintah dan keluarga mereka untuk tetap berada di dan dekat kediaman mereka “hingga pemberitahuan lebih lanjut.”

    Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat sejak Jumat (13/6/2025), ketika Israel meluncurkan serangan udara ke beberapa lokasi di Iran, termasuk fasilitas militer dan nuklir mereka Iran.

    Iran kemudian meluncurkan serangan balasan yang menyasar sejumlah fasilitas vital milik Israel

    Sumber: Anadolu

  • Mayoritas Warga Amerika Serikat Tidak Ingin Negaranya Terlibat dalam Perang Iran-Israel

    Mayoritas Warga Amerika Serikat Tidak Ingin Negaranya Terlibat dalam Perang Iran-Israel

    7cloud.asia – Mayoritas (60 persen) warga Amerika Serikat (AS) menolak campur tangan negara itu dalam konflik antara Israel dan Iran yang telah memasuki hari ke-6.

    Demikian hasil jajak pendapat yang dilakukan YouGov dan The Economist. Pada Selasa, portal berita Axios melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan secara serius kemungkinan AS terlibat dalam konflik di Timur Tengah itu.

    Salah satunya, melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, khususnya pusat pengayaan uranium bawah tanah di Fordow.

    Baca: Amerika Serikat tutup kedutaannya di Tel Aviv

    Hanya 16 persen responden dalam jajak pendapat itu yang mendukung keterlibatan militer Amerika, sedangkan 24 persen lainnya mengaku tidak tahu atau belum menentukan sikap.

    Di sisi lain, mayoritas responden (56 persen) mendukung keterlibatan AS dalam perundingan dengan Iran terkait program nuklir di negara itu, sedangkan 18 persen responden lainnya menentang.

    Survei tersebut dilakukan pada 13–16 Juni dengan melibatkan lebih dari 1.500 responden dari seluruh AS.

    Baca: Iran lancarkan serangan balasan ke Israel

    Sebelumnya, Amerika Serikat dilaporkan mengerahkan lebih banyak jet tempur ke Timur Tengah di tengah meningkatnya konflik antara Israel dan Iran, Fox News melaporkan pada Selasa (17/6/2025).

    Mengutip seorang pejabat AS, media itu menyebutkan bahwa Washington juga memperpanjang masa tugas pasukan udara yang sudah ditempatkan di kawasan itu.

    Menurut sang pejabat, pengerahan itu mencakup kekuatan udara defensif, yang melibatkan jet-jet tempur seperti F-16, F-22, dan F-35.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-OANA

  • Iran Tidak Akan Menyerah dan Mengecam Standar Ganda Amerika Serikat dan Sekutunya

    Iran Tidak Akan Menyerah dan Mengecam Standar Ganda Amerika Serikat dan Sekutunya

    7cloud.asia – Iran tidak akan memenuhi tuntutan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menyerah tanpa syarat di tengah konflik dengan Israel, kata Duta Besar Iran untuk Prancis Mohammad Amin-Nejad pada Rabu (18/6/2025).

    “(Ultimatum Trump) ini adalah keinginan yang sama seperti (pemimpin otoritas Israel) Benjamin Netanyahu … Itu tidak akan dilaksanakan sama sekali. Rakyat Iran bersatu dalam menghadapi agresi,” kata Amin-Nejad kepada lembaga penyiaran BFMTV.

    Serangan terhadap fasilitas militer Iran tidak akan memengaruhi kemampuan pertahanan negara Iran, tambah Amin-Nejad.

    Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa kesabarannya terhadap Iran “kian menipis”. Dia menyebut AS bisa saja dengan mudah menghabisi pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, tetapi memilih untuk tidak melakukannya saat ini.

    “Kami tahu persis di mana ‘Pemimpin Tertinggi’ itu bersembunyi. Dia adalah target yang mudah, tetapi aman di sana – Kami tidak akan menghabisinya (membunuhnya!), setidaknya tidak untuk saat ini,” tulis Trump di Truth Social.

    Baca: Iran berhasil lumpuhkan pertahanan anti-rudal Israel

    “Namun, kami tidak ingin rudal ditembakkan ke warga sipil, atau tentara Amerika. Kesabaran kami semakin tipis,” katanya lagi.

    “MENYERAHLAH TANPA SYARAT!” tulis Trump di unggahan berikutnya.

    Sebelumnya, Wakil Tetap Republik Islam Iran untuk Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Amir-Sa’eed Iravani menegaskan bahwa rezim Zionis Israel, bukan Iran, adalah pihak yang memicu perang setelah mendapat persetujuan dari Amerika Serikat.

    Dalam pernyataan yang disampaikan dalam rapat Dewan Keamanan PBB terkait Asia Barat yang berfokus pada isu Suriah, Iravani memperingatkan bahwa agresi Israel terhadap Iran tak boleh dibiarkan berlarut-larut.

    Ia menegaskan bahwa Teheran tak akan ragu dalam membela kedaulatan, keutuhan wilayah, dan rakyatnya.

    Baca: Iran luncurkan serangan balasan ke Israel

    Wakil Iran untuk PBB itu menyebut agresi Israel sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap Piagam PBB dan nilai-nilai dasar hukum internasional.

    Serangan teror tersebut telah berdampak pada infrastruktur sipil dan fasilitas pengembangan nuklir untuk tujuan damai yang diawasi Badan Energi Atom Internasional (IAEA), kata Iravani

    Dia lantas memperingatkan bahwa keberlanjutan serangan Israel akan membawa konsekuensi yang besar.

    Iravani bersikukuh bahwa Iran memiliki hak yang sah untuk membela diri berdasarkan Pasal 5 Piagam PBB.

    Ia menambahkan bahwa respons Iran terhadap serangan Israel sepenuhnya bersifat membela pertahanan diri, terbatas, proporsional, serta hanya mengincar fasilitas militer dan ekonomi.

    Baca: Serangan Israel ke Iran langgar piagam PBB

    Sembari menepis argumen Israel bahwa mereka sekadar membela diri, Iravani memperingatkan toleransi terhadap dalih tersebut akan mencoreng prinsip dasar Piagam PBB terkait larangan penggunaan ancaman atau kekerasan dalam hubungan internasional.

    “Pengalaman pahit di Gaza, Lebanon, Suriah, dan Yaman sekali lagi menunjukkan bahwa DK PBB telah gagal menjalankan tugasnya yang paling mendasar dan gagal menahan pihak penyerang,” kata Iravani saat mengecam standar ganda beberapa negara Barat, seperti AS, Inggris, dan Prancis.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-IRNA-OANA