Tag: jepang

  • Minimalisme: Delapan Cara Orang Jepang Mengusir Overthinking

    Minimalisme: Delapan Cara Orang Jepang Mengusir Overthinking

    7cloud.asia – Terlalu banyak berpikir atau overthinking dapat menarik aliran pikiran dan terus-menerus menarik kehidupan kita menjauh dari kenyataan,

    Seperti dikatakan banyak pakar, overthinking berdampak tidak baik untuk kesehatan mental yang kemudian akan memengaruhi kesehatan fisik dan kehidupan Anda.

    Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah kita berlarut-laut tenggelam dalam siklus overthinking, salah satunya adalah metode zen yang berasal dari Jepang.

    Metode dari Jepang ini berfokus pada kesederhanaan, perhatian penuh, dan penerimaan terhadap ketidaksempurnaan hidup dengan cara mengatur ulang pikiran dan menemukan kejernihan di tengah kekacauan.

    Berikut delapan metode mengatur pikiran dari Jepang sebagaimana dilansir indiatimes.com:

    1. Ikigai: temukan tujuan hidup
    Ikigai adalah menemukan apa yang memberi makna pada hidup. Ini adalah konsep Jepang yang membantu mengidentifikasi apa yang Anda sukai, apa yang Anda kuasai, apa yang dibutuhkan dunia, dan untuk apa Anda dibayar.

    Ketika Anda menemukan tujuan hidup, siklus berpikir berlebihan akan mulai mereda. Anda akan merasa lebih damai dan jelas tentang apa yang harus difokuskan.

    Baca: Buang stress dengan meditasi 5 menit sehari

    2. Wabi-sabi: menerima ketidaksempurnaan
    Wabi-sabi adalah filosofi Jepang yang merayakan ketidaksempurnaan dan sifat kehidupan yang sementara.

    Filosofi ini mendorong kita untuk menerima hal-hal yang tidak lengkap, usang, atau bahkan rusak.

    Alih-alih mengejar kesempurnaan, filosofi ini mengajarkan manusia untuk menghargai alur alami kehidupan yang tidak dapat diprediksi dan selalu berubah. Ketidaksempurnaan inilah yang membuat hidup menjadi kaya dan bermakna.

    3. Shinrin-yoku: mandi di hutan
    Bukan sekadar berjalan-jalan di hutan, Shinrin-yoku atau mandi di hutan adalah upaya menyatu sepenuhnya dengan alam.

    Saat menelusuri setapak, tarik napas dalam-dalam, dan nikmati pemandangan, suara, dan aroma di sekitar Anda.

    Penelitian menunjukkan bahwa menghabiskan waktu di alam dapat mengurangi stres, meredakan kecemasan, dan menjernihkan pikiran. Melangkah keluar memberi pikiran istirahat yang sangat dibutuhkan.

    4. Zazen: seni meditasi duduk
    Zazen, suatu bentuk meditasi duduk, adalah landasan dari kesadaran Jepang. Zazen berfokus pada duduk diam, menarik napas dalam-dalam, dan membiarkan pikiran datang dan pergi tanpa menghakimi.

    Latihan ini mengajarkan cara mengamati pikiran Anda tanpa melekat padanya. Ketika Anda terlalu banyak berpikir, Anda akan mudah termakan oleh pikiran.

    Zazen memungkinkan Anda untuk menjauhkan diri dari pikiran Anda, menciptakan ruang mental di mana kedamaian dan kejernihan dapat muncul.

    Baca: Lima cara murah untuk membuang stress

    5. Kintsugi: seni memperbaiki
    Kintsugi adalah seni memperbaiki tembikar yang pecah dengan emas atau perak, menyoroti retakan dan bukan menyembunyikannya.

    Hal ini mengingatkan kita bahwa perjuangan dan kekurangan kita tidak mengurangi diri kita, tetapi justru membuat kita menjadi diri kita sendiri, unik dan tangguh.

    Ketika kesalahan di masa lalu muncul di benak kita, ingatlah bahwa seperti tembikar, ketidaksempurnaan kita menambah nilai dan keindahan dalam perjalanan kita.

    6. Kaizen: Melakukan perbaikan kecil setiap hari
    Kaizen adalah praktik melakukan perbaikan kecil dan bertahap setiap hari. Ini adalah filosofi yang mendorong kemajuan daripada kesempurnaan.

    Ketika overthinking menjebak Anda dalam siklus “apa selanjutnya?”, kaizen mengingatkan bahwa Anda tidak perlu memikirkan semuanya.

    Dengan berfokus pada perbaikan kecil daripada rencana besar, Anda dapat mengurangi kecemasan dan membuat kemajuan yang stabil, selangkah demi selangkah.

    7. Furo, atau pemandian air panas Jepang
    Ini bukan hanya tentang membersihkan tubuh, Furo merupakan ritual relaksasi yang sakral.

    Pengalaman berendam dalam air hangat memungkinkan untuk melepaskan diri dari dunia dan fokus pada saat ini.

    Entah itu kehangatannya yang lembut atau suasananya yang tenang, berendam air panas dapat menenangkan pikiran, mengurangi stres, dan menawarkan jeda sejenak dari pusaran pikiran yang dapat menyebabkan terlalu banyak berpikir.

    8. Hanami: menghargai keindahan hidup yang sekilas
    Hanami adalah tradisi Jepang untuk mengagumi bunga sakura yang sedang mekar. Bunga-bunga yang indah ini hanya bertahan dalam waktu singkat, mengingatkan kita akan sifat kehidupan yang fana.

    Terlalu banyak berpikir sering kali muncul dari rasa takut akan hal yang tidak diketahui atau mengkhawatirkan hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan.

    Hanami mengajarkan kita untuk merangkul momen, menghargai keindahan hidup yang cepat berlalu, dan melepaskan kebutuhan untuk mengendalikan segalanya.

  • Jepang Hadapi Kebakaran Lahan Terbesar Sejak Beberapa Dekade

    Jepang Hadapi Kebakaran Lahan Terbesar Sejak Beberapa Dekade

    7cloud.asia – Jepang menghadapi kebakaran hutan terbesarnya dalam lebih dari tiga dekade pada Sabtu (1/3/2025), yang merenggut satu nyawa dan memaksa lebih dari seribu orang untuk dievakuasi.

    Badan Penanggulangan Bencana dan Kebakaran memperkirakan api telah menghanguskan sekitar 1.200 hektare di hutan Ofunato, wilayah utara Iwate, sejak kebakaran terjadi pada Rabu (26/2/2025).

    “Kami masih memeriksa ukuran area yang terkena dampak, tetapi ini adalah yang terbesar sejak kebakaran hutan tahun 1992 di Kushiro, Hokkaido,” kata seorang juru bicara badan tersebut.

    Kebakaran itu membakar 1.030 hektare lahan yang merupakan rekor sebelumnya. Sekitar 1.700 petugas pemadam kebakaran dikerahkan dari seluruh negeri, kata badan tersebut.

    Baca: Perubahan iklim pengaruhi kebakaran hebat di Los Angeles

    Rekaman udara dari lembaga penyiaran publik NHK menunjukkan asap putih yang mengepul dan menutupi seluruh gunung.

    Polisi setempat menemukan jasad satu orang yang terbakar pada Kamis (28/2/2025). Penyebab kebakaran masih belum diketahui.

    hingga Jumat (28/2/2025), pemerintah kota Ofunato melaporkan lebih dari 1.000 penduduk sekitar telah dievakuasi dan terdapat lebih dari 80 bangunan yang rusak

    Dua kebakaran lainnya juga terjadi pada Sabtu (1/3/2025), satu di Yamanashi dan satu lagi di tempat lain di Iwate.

    Baca: Suhu Bumi makin panas dan dampaknya semakin nyata

    Pada 2023, tercatat sekitar 1.300 kebakaran hutan di seluruh Jepang, yang sebagian besar terjadi antara Februari hingga April ketika udara mengering dan angin bertiup kencang.

    Menurut data pemerintah, jumlah kebakaran hutan di Jepang telah menurun sejak mencapai puncaknya pada era 1970-an.

    Ofunato hanya mengalami curah hujan sebesar 2,5 milimeter pada bulan ini, dan diperkirakan akan turun jauh di bawah rekor terendah sebelumnya, yaitu 4,4 milimeter yang dicatat pada Februari 1967.

    Tahun lalu merupakan tahun terpanas di Jepang sejak pencatatan suhu dimulai. Hal ini mengikuti tren negara-negara lain akibat emisi gas rumah kaca yang terus meningkat dan memicu perubahan iklim.

  • Mengintip Bagaimana Kota-kota di Jepang Mengelola Sampah

    Mengintip Bagaimana Kota-kota di Jepang Mengelola Sampah

    7cloud.asia – Aturan soal sampah berbeda di masing-masing negara dan wilayah. Di Jepang, pembuangan sampah merupakan hal yang dianggap sangat serius.

    Sejak tahun 1990-an, pemerintah Jepang mematok target nasional untuk tidak menumpuk sampah di tempat pembuangan akhir. Saat itu mereka juga berambisi mengurangi sampah dan mempromosikan daur ulang.

    Dilansir BBC Indonesia, masing-masing pemerintah daerah menyelaraskan target nasional Jepang tersebut dengan cara mereka berbeda.

    Di Fukushima, kantong sampah harus diletakkan di tempat pengumpulan setiap pagi pukul 08.30. Namun, warga dilarang mengumpulkan sebelum waktu yang ditentukan.

    Berbagai jenis sampah dipilah berdasarkan jenisnya—mudah terbakar, tidak mudah terbakar, dan dapat didaur ulang.

    Baca: Kamikatsu kota di Jepang yang dikenal minim sampah

    Masing-masing jenis sampah dikumpulkan pada waktu yang berbeda. Warga yang ingin membuang sampah barang-barang dengan ukuran melebihi ketentuan—seperti peralatan rumah tangga dan mebel—wajib membuat jadwal khusus untuk membuang sampah-sampah tersebut.

    Salah satu kota di Jepang yang paling ambisius dalam mengelola sampah adalah Kota Kamikatsu. Warga di kota itu merasa bangga karena mereka memilah sampah menurut 45 kategori.

    Sementara itu, pemerintah Prefektur Kagoshima mewajibkan penduduk menulis nama di kantong sampah mereka.

    Dua tahun lalu kota Chiba menguji coba sistem berbasis kecerdasan buatan guna membantu warga membuang sampah dengan benar.

    Terakhir Kota Fukushima menerapkan sanksi yang ketat kepada warganya yang tidak tertib mengelola sampahnya.

    Baca: Cara mudah memilah sampah dari rumah

    Kota Fukushima bakal menerapkan kebijakan yang lebih ketat dengan mengumumkan nama pelanggar aturan soal sampah di situs pemerintah kota.

    Mulai Maret 2025, petugas kebersihan di Fukushima akan memeriksa kantong-kantong sampah yang dinilai melanggar aturan—seperti sampah yang belum disortir dengan benar, atau ukuran sampah yang melebihi batas—dan dalam beberapa kasus mengungkap pemiliknya secara publik.

    Tahun lalu, Fukushima melaporkan lebih dari 9.000 kasus sampah yang tidak sesuai peraturan.

    Menurut media setempat, Fukushima diyakini sebagai kota pertama di Jepang yang berencana untuk mengungkap nama individu dan pelaku usaha yang melanggar ketentuan soal sampah.

  • Penjelasan KBRI Tokyo Terkait Isu Indonesia Masuk Daftar Hitam Pengiriman Pekerja ke Jepang

    Penjelasan KBRI Tokyo Terkait Isu Indonesia Masuk Daftar Hitam Pengiriman Pekerja ke Jepang

    7cloud.asia – Kedutaan Besar Republik Indonesia atau KBRI Tokyo menyatakan bahwa informasi yang menyebutkan tahun 2026 akan menjadi tahun terakhir pengiriman pekerja Warga Negara Indonesia (WNI) ke Jepang adalah tidak benar.

    Pernyataan KBRI Tokyo itu dilontarkan untuk menanggapi informasi yang beredar di media sosial yang menyebutkan bahwa pengiriman pekerja WNI ke Jepang akan disetop

    Isu Indonesia akan masuk ke daftar hitam itu diduga muncul akibat kasus kriminal dan tindakan mengganggu yang dilakukan oleh pekerja WNI di Jepang.

    “Pemerintah Jepang tidak pernah menyampaikan hal tersebut, dan isu ini bukan bagian dari pembahasan resmi antara Pemerintah Indonesia dan Jepang,” mengutip pernyataan siaran pers KBRI Tokyo yang diterima di Jakarta, Selasa (15/7/2025).

    Baca: Peran tenaga kerja asing kian penting di Jepang

    Pihak KBRI Tokyo menjelaskan bahwa para WNI aktif berkolaborasi dengan KBRI Tokyo dan KJRI Osaka dalam kegiatan yang mempererat hubungan antar masyarakat serta mendukung program Pemerintah Jepang.

    Salah satunya adalah “Inisiatif Penerimaan Warga Asing dan Terwujudnya Masyarakat yang Hidup Berdampingan dan Harmonis.”

    KBRI Tokyo pun mengimbau WNI di Jepang untuk terus bekerja, belajar dan berkarya dengan baik sesuai bidang masing-masing, menjaga kerukunan antar sesama, membina hubungan yang baik dengan masyarakat Jepang, serta aktif memperkenalkan budaya Indonesia.

    “Dalam setiap aktivitas, WNI diharapkan tetap menjunjung tinggi norma, etika, budaya, serta menaati hukum yang berlaku di Jepang,” demikian KBRI Tokyo.

    KBRI Tokyo menegaskan bahwa seluruh WNI di Jepang wajib mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku. Aparat penegak hukum Jepang memiliki kewenangan penuh untuk menangani pelanggaran hukum yang dilakukan oleh warga negara asing.

    Baca: Puluhan juta lapangan kerja bakal hilang akibat digitalisasi

    KBRI Tokyo pun mengatakan bahwa Indonesia dan Jepang memiliki hubungan yang sangat baik yang telah terjalin selama 67 tahun.

    Pernyataan itu juga menegaskan bahwa hubungan tersebut perlu terus dijaga dan diperkuat oleh semua pihak terkait, baik pemerintah maupun masyarakat kedua negara.

    Berdasarkan data Kantor Imigrasi Jepang per Desember 2024, jumlah WNI di Jepang mencapai 199.824 orang, meningkat lebih dari 15 persen dalam enam bulan terakhir.

    Jumlah WNI ini mencapai sekitar 5 persen dari total warga asing dan 0,16 persen dari total penduduk Jepang.

    Menurut KBRI Tokyo, mayoritas WNI di Jepang merupakan pekerja di berbagai sektor, disertai sekitar 7.000 pelajar dan mahasiswa yang menempuh pendidikan di berbagai institusi di seluruh wilayah Jepang.

  • Refleksi Spritual dalam Pameran Seni Merangkai Bunga Ikebana

    Refleksi Spritual dalam Pameran Seni Merangkai Bunga Ikebana

    7cloud.asia – Pameran seni merangkai bunga asal Jepang, Ikebana akan dihadirkan Ikebana International Chapter 224 bekerja sama dengan The Japan Foundation di Jakarta pada 27-29 Agustus 2025.

    Ikebana yang juga dikenal sebagai kadō, yang berarti “jalan bunga” bukan hanya sekadar merangkai bunga, tetapi bertujuan menciptakan harmoni dalam bentuk linier, ritme, dan warna, dengan tiga titik utama yang melambangkan langit, bumi, dan manusia.

    Berbeda dengan rangkaian bunga gaya Barat, ikebana berfokus pada pengaturan garis dan bentuk, serta sering kali menampilkan keindahan alam dalam bentuk yang sederhana dan minimalis.

    Bagi masyarakat Jepang, proses merangkai bunga dianggap sebagai bentuk meditasi, ketenangan batin, dan refleksi spiritual, menghubungkan perangkai dengan alam dan kehidupan.

    Bahan yang biasa digunakan dalam Ikebana antara lain bunga, rumput, daun, ranting, dan kadang-kadang bahkan logam, plastik, dan batu dalam gaya modern.

    Baca: Kokedama, seni tanaman hias dari Jepang

    Prinsip Ikebana didasarkan pada tiga elemen utama yang mewakili langit (shin), bumi (soe), dan manusia (hikae), yang menunjukkan keseimbangan dan harmoni.
    Gaya dan Teknik

    Ada beberapa gaya utama dalam ikebana. Yang pertama adalah Rikka, yakni gaya tradisional yang sangat formal, fokus pada lanskap tanaman dan digunakan untuk perayaan keagamaan.

    Lantas ada Ikebana Shoka, yang kurang formal namun tetap tradisional, menyoroti bentuk asli tumbuhan.

    Selain itu ada juga Jiyuka yang lebih bebas dan modern, berkembang setelah Perang Dunia II, memungkinkan penggunaan kreativitas bebas dan bahan-bahan non-konvensional.

    Baca: Cara orang Jepang mengusir overthinking

    Publication Officer Communication Team Japan Foundation, Abdul Barry Sutan Pulungan menjelaskan pameran tahun ini akan menampilkan 60 karya ikebana dari enam aliran besar yang berkembang di Indonesia, yakni Ikenobo, Mishoryu, Ohara, Sogetsu, Ichiyo dan Shofukadokai.

    Setidaknya ada sebanyak 50 perangkai bunga akan tampil di pameran tersebut.

    Menurut dia, para perangkai akan menampilkan ragam ikebana yang harmoni baik dari linier, ritme, maupun warna dari tanaman-tanaman yang khususnya ada di Indonesia tanpa meninggalkan pakem ciri khas Jepang.

    Pakem Jepang, ujarnya, seringkali menampilkan ketidaksempurnaan sebagai bentuk keindahan.

    Pameran Ikebana akan diselenggarakan di The Japan Foundation, Jakarta, dan dibuka oleh Direktur Informasi dan Kebudayaan Kedubes Jepang di Indonesia Hoshino Daisuke dan Director General The Japan Foundation Jakarta Inami Kazumi.

  • Ketatnya Aturan Bersepeda di Jepang, Simak Denda dan Sanksi bagi Pesepeda yang Melanggar Aturan

    Ketatnya Aturan Bersepeda di Jepang, Simak Denda dan Sanksi bagi Pesepeda yang Melanggar Aturan

    7cloud.asia – Baru-baru ini pihak Kepolisian Jepang telah merilis buku panduan tentang denda dan sanksi bagi pesepeda yang melanggar aturan lalu lintas.

    Mulai 1 April 2026, pesepeda berusia 16 tahun ke atas akan mendapat “tilang biru” jika melakukan pelanggaran yang berpotensi menimbulkan kecelakaan, misalnya menggunakan ponsel saat bersepeda.

    Jika denda tidak dibayar sesuai waktu yang ditetapkan, maka pelanggar akan menghadapi tuntutan hukum.

    Panduan yang dirilis 4 September itu juga menjelaskan bahwa sanksi untuk pelanggaran ringan tetap mengacu pada kebijakan lama, yakni peringatan. Namun, denda bisa diberlakukan jika pesepeda dianggap membahayakan orang lain.

    Contoh pelanggaran ringan adalah bersepeda di trotoar yang dilarang, membawa payung saat bersepeda, atau tidak menyalakan lampu saat bersepeda pada malam hari.

    Baca: Daftar kota ramah bersepeda di dunia

    Penjelasan soal larangan bersepeda di trotoar muncul setelah pemerintah meminta pendapat publik, yang sebagian besar menolak rencana awal mengenakan denda 6.000 yen (sekitar Rp667.000) untuk pelanggaran tersebut.

    Tilang biru akan diberikan untuk pelanggaran seperti menggunakan ponsel saat bersepeda (denda 12.000 yen), menerobos palang pintu kereta api yang tertutup (7.000 yen), atau bersepeda tanpa rem (5.000 yen).

    Sementara itu, pelanggaran berat seperti bersepeda dalam kondisi mabuk tetap akan dikenai “tilang merah,” yang diancam dengan hukuman pidana.

    Jepang menerapkan aturan yang ketat bagi pesepeda. Dan, bersepeda menjadi salah satu moda transportasi yang jamak ditemukan di kota-kota besar di Jepang.

    Baca: Kota-kota di Afrika berlomba kembangkan jalur pesepeda dan pejalan kaki

    Berikut sejumlah aturan bersepeda di Jepang sebagaimana kami kutip dari matcha-jp.com:

    1. Dilarang melakukan kegiatan lain saat bersepeda
    Aturan ini termasuk melakukan kegiatan “sambilan” seperti menggunakan ponsel, menggunakan payung dan mendengarkan musik dengan earphone atau headphone adalah hal yang dilarang.

    2. Mematuhi aturan dan etika
    Jalur sepeda di Jepang berada di sisi kiri jalan. Selain itu, beberapa jalan memiliki jalur khusus sepeda. Akan tetapi, jika tidak ada, pada dasarnya sepeda melaju di jalur mobil.

    3. Dilarang berboncengan
    Jika ingin menaikkan anak di sepeda sendiri, wajib memasang kursi balita pada bagian depan atau belakang sepeda. Orang dewasa yang berusia lebih dari 16 tahun, diperbolehkan menaikkan hingga maksimal 2 orang balita berusia kurang dari 6 tahun.

    4. Dilarang bersepeda dalam kondisi mabuk
    Sama dengan larangan keras menyetir mobil dalam kondisi mabuk, kepolisian Jepang juga melarang bersepeda setelah minum alkohol. Ini diterapkan juga untuk menjaga keselamatan orang di sekitar.

    Baca: Sepeda, moda transportasi sehat dan ramah lingkungan

    5. Wajib menyalakan lampu saat bersepeda di malam hari
    Lampu sepeda tidak hanya berfungsi untuk menerangi arah jalan, tetapi juga sebagai penanda orang sekitar dan mobil jika ada sepeda yang sedang melaju.

    6. Dilarang parkir sembarangan!
    Jika memarkir sepeda di tempat yang bukan merupakan parkir, maka sepeda Anda akan disita oleh otoritas setempat. Dibutuhkan waktu dan biaya untuk mengambilnya karena tempat penyitaan sepeda ini terletak jauh dari stasiun.

    7. Parkir wajib tempat yang disediakan
    Di Jepang juga ada tempat untuk memarkir sepeda yang disebut “churinjo” yang biasanya terdapat di depan stasiun dan supermarket. Sejumlah tempat wisata seperti Kuil Nanzenji di Kyoto, Nagato, dan lainnya juga menyediakan parkir sepeda gratis.

    Jika tidak menemukan tempat parkir sepeda gratis, pesepeda biasanya menggunakan tempat parkir berbayar. Biasanya terpasang mesin kasir otomatis dan biayanya berbeda bergantung daerah.

    Sumber: Antaranews.com/Kyodo

  • Kasus Bunuh Diri di Jepang Cetak Rekor Tertinggi pada Tahun 2024

    Kasus Bunuh Diri di Jepang Cetak Rekor Tertinggi pada Tahun 2024

    7cloud.asia – Sebanyak 529 pelajar di Jepang mengakhiri hidupnya sendiri sepanjang tahun 2024, jumlah kasus bunuh diri ini meningkat 16 kasus dibanding tahun sebelumnya

    Menurut Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang kasus bunuh diri pada 2024 ini menjadi angka tertinggi sejak data mulai tersedia pada 1980.

    Total kasus bunuh diri pada siswa pada 2024 itu mencakup 15 pelajar sekolah dasar (SD), 163 siswa sekolah menengah pertama (SMP), dan 351 murid sekolah menengah atas (SMA).

    Adapun angka siswa SMP yang melakukan bunuh diri tercatat sebagai yang tertinggi dalam sejarah, menurut Buku Putih tentang Pencegahan Bunuh Diri (White Paper on Suicide Countermeasures) edisi 2025 yang diadopsi dalam sebuah rapat kabinet pada Jumat (24/10/2025).

    Baca: Jumlah penduduk Jepang terus turun dan makin tua

    Menurut laporan itu, isu-isu terkait sekolah menjadi penyebab paling umum dalam kasus bunuh diri di kalangan siswa berusia 19 tahun ke bawah, disusul oleh isu kesehatan dan keluarga.

    Laporan itu juga menemukan banyak mahasiswa yang meninggal akibat bunuh diri berusia 21 tahun. 

    Angka ini mencerminkan berbagai kekhawatiran terkait mencari pekerjaan atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

    Baca: Cara orang Jepang mengusir overthinking

    Angka bunuh diri masih tinggi di kalangan pemuda berusia 15 hingga 29 tahun, dengan lebih dari 3.000 kematian terjadi setiap tahunnya sejak 2020, ungkap laporan tersebut.

    Laporan itu menyatakan bahwa angka bunuh diri di kalangan perempuan muda terus meningkat, dengan 40 persen dari mereka yang berusia 20-an tahun yang meninggal akibat bunuh diri sebelumnya pernah berupaya melakukannya.

    Selain itu, total kasus bunuh diri secara keseluruhan di Jepang mencapai 20.320 pada 2024, turun 1.517 dibandingkan tahun sebelumnya sekaligus jumlah terendah kedua sejak pencatatan statistik dimulai pada 1978.

    Pewarta: Antaranews.com/Xinhua

  • Sanae Takaichi: Perempuan Pertama yang Terpilih Menjadi Perdana Menteri Jepang

    Sanae Takaichi: Perempuan Pertama yang Terpilih Menjadi Perdana Menteri Jepang

    7cloud.asia – Dalam pemungutan suara yang bersejarah di parlemen pada 21 Oktober, Sanae Takaichi mencatatkan diri sebagai perempuan pertama yang menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang.

    Sebelumnya, pada 4 Oktober lalu, Sanae Takaichi terpilih sebagai pemimpin Partai Demokrat Liberal (LDP), partai yang berkuasa di Jepang, bertepatan dengan ulang tahun ke-70 partai tersebut.

    Sosok Sanae Takaichi dikenal cukup kontroversial karena pandangannya soal kebijakan terkait perempuan serta imigrasi. Sejak memilih bergabung dengan partai konservatif, Takaichi menunjukkan dirinya berhaluan konservatif.

    Dilansir BBC Indonesia, Takaichi tidak berhenti menentang undang-undang yang memungkinkan perempuan yang sudah menikah untuk mempertahankan nama gadis mereka. Alasannya, hal itu merusak tradisi. Takaichi juga menentang pernikahan sesama jenis.

    Ia juga aktif menyuarakan agar perempuan menikah dan memiliki anak sesuai tradisi. Apalagi angka pernikahan dan kelahiran menurun drastis di Jepang.

    Baca: Perempuan adat ini dipercaya jadi Menteri Lingkungan Hidup Brasil

    Namun baru-baru ini, Sanae Takaichi melunakkan sikapnya. Selama kampanye, ia berjanji biaya pengasuh anak dapat dikurangi dengan mengambil dari porsi pajak.

    Ia juga mengusulkan potongan pajak korporasi bagi perusahaan yang menyediakan layanan penitipan anak di dalam perusahaan.

    Selain itu, ia juga memperluas layanan rumah sakit untuk kesehatan perempuan, memberikan pengakuan yang lebih besar bagi pekerja rumah tangga, dan meningkatkan opsi perawatan bagi lansia. Usulan kebijakan ini muncul berlandaskan pengalamannya.

    “Secara pribadi, saya telah melalui masa-masa pengasuhan. Itulah mengapa saya bertekad untuk mengurangi jumlah orang yang terpaksa meninggalkan pekerjaan mereka karena mengasuh anak,” ucap Takaichi.

    “Saya ingin menciptakan masyarakat di mana orang tidak perlu mengorbankan karier mereka.”

    Baca: Amber Valletta dinobatkan menjadi Duta Program Lingkungan PBB

    Pandangan kontroversial Takaichi lainnya adalah mengenai etos kerja. Dia menyatakan bahwa masyarakat Jepang seharusnya “bekerja bagai kuda”.

    Pada kesempatan lain, dia menegaskan dirinya akan “kerja, kerja, kerja” untuk mengubah “kecemasan masyarakat mengenai kehidupan mereka dan demi masa depan yang penuh harapan”.

    Pandangannya itu menuai kritik lantaran dianggap menggelorakan fenomena karoshi di Jepang, yaitu para pegawai yang bekerja hingga meninggal dunia.

    Takaichi juga dikenal sebagai murid mendiang Shinzo Abe. Untuk itu, ia berjanji untuk menghidupkan kembali visi ekonomi “Abenomics” yang mencakup pengeluaran publik yang tinggi dan pinjaman murah.

    Hal lainnya yang dianggap kontroversi adalah rutinitasnya mengunjungi Kuil Yasukuni. Kuil tersebut berdiri untuk menghormati korban perang Jepang termasuk pelaku kejahatan perang yang dihukum.

    Baca: Aktivisme sosial Taylor Swift dan emisi karbonnya yang cemari lingkungan

    Apa alasan terpilihnya Takaichi?
    Sejak didirikan pada 1955, LDP telah mendominasi politik Jepang. Belakangan, partai ini kehilangan dukungan di tengah kekecewaan terhadap perekonomian yang lesu, penurunan populasi, dan ketidakpuasan sosial.

    Takaichi yang berasal dari sayap kanan LDP diharapkan dapat menarik kembali pemilih konservatif yang telah beralih ke partai Sanseito yang ekstrem kanan.

    Sanseito, yang mengusung slogan “Jepang yang Utama”, berhasil menarik pemilih konservatif. Ini terlihat dari lonjakan kursi yang awalnya hanya satu menjadi 15 kursi.

    Takaichi sendiri mengakui masalah tersebut dalam pidatonya setelah memenangkan putaran pertama pemungutan suara: “Kami telah menerima kritik yang sangat keras dari pendukung inti kami, pemilih konservatif, dan anggota partai.”

    “LDP harus berubah demi masa kini dan masa depan Jepang. Kami akan selalu mengutamakan kepentingan nasional dan mengelola negara dengan rasa keseimbangan.”

  • Permasalahan WNA Terus Meningkat di Jepang, Pemerintahan Takaichi Akan Buat Kebijakan Baru

    Permasalahan WNA Terus Meningkat di Jepang, Pemerintahan Takaichi Akan Buat Kebijakan Baru

    7cloud.asia – Pemerintah Jepang akan menyusun langkah-langkah komprehensif untuk menangani isu terkait warga negara asing (WNA) dan wisatawan mancanegara.

    Dalam konferensi pers pada Selasa (4/11/2025), Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara mengatakan bahwa para menteri bertemu untuk membahas kebijakan terkait WNA untuk pertama kalinya di bawah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi.

    Kihara menyatakan pertemuan itu digelar untuk memperkuat pengawasan pemerintah pusat terhadap isu WNA dan “membangun masyarakat yang aman, tertib, serta inklusif bagi warga Jepang dan pendatang asing.”

    Isu WNA menjadi sorotan di Jepang menyusul munculnya laporan media mengenai pelanggaran izin tinggal dan dugaan penyalahgunaan layanan publik oleh beberapa WNA.

    Dalam rapat tersebut, Takaichi dari kelompok konservatif garis keras yang menjadi perdana menteri perempuan pertama Jepang pada 21 Oktober, mengatakan bahwa masyarakat merasa “khawatir dan tidak adil” atas pelanggaran hukum oleh sebagian WNA.

    Baca: Jumlah penduduk Jepang terus turun dan makin tua

    “Tanpa terjebak dalam xenofobia, pemerintah akan menanggapi isu tersebut dengan tegas,” kata Takaichi.

    Persoalan WNA ini, termasuk meningkatnya pembelian lahan oleh individu dan perusahaan non-Jepang, mencuat selama pemilu Majelis Tinggi pada Juli, ketika Partai Demokrat Liberal (LDP) pimpinan Shigeru Ishiba mengalami kekalahan besar.

    Ishiba kemudian mengundurkan diri pada September. Dalam pemilu itu, beberapa partai menyerukan pengetatan aturan terhadap WNA untuk melindungi hak-hak warga Jepang.

    Sejak kampanye pemilihan ketua LDP pada 4 Oktober untuk menggantikan Ishiba, Takaichi berjanji memperkuat peran pemerintah dalam menangani isu terkait WNA dan turis asing.

    Dalam kesempatan terpisah, Menteri Kesehatan Kenichiro Ueno mengatakan pemerintah berencana menerapkan kebijakan mulai Juni 2027 untuk menangani tunggakan pembayaran premi asuransi oleh WNA.

    Baca: Kasus bunuh diri di Jepang cetak rekor tertinggi

    Bekerja sama dengan pihak imigrasi, rencana itu akan menolak pembaruan atau perubahan status izin tinggal bagi WNA yang belum membayar premi asuransi.

    WNA yang terdaftar dan tinggal di Jepang lebih dari tiga bulan wajib mengikuti program Asuransi Kesehatan Nasional, kecuali telah tercakup oleh asuransi publik lainnya.

    Ueno juga menyebutkan bahwa pemerintah akan memperketat pemeriksaan izin tinggal jangka menengah dan panjang dengan meninjau tagihan medis yang belum dibayar oleh wisatawan asing yang menjalani perawatan selama tinggal di Jepang.

    Menurut Kihara, pemerintah akan melanjutkan pembahasan berbagai isu lain, termasuk penerimaan pekerja asing dengan tingkat keahlian tertentu.

    Sumber: Antaranews.com/Kyodo

  • Gempa Magnitudo 7,5 Guncang Jepang, 20 Luka-luka

    Gempa Magnitudo 7,5 Guncang Jepang, 20 Luka-luka

    7cloud.asiaPerdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, Selasa (9/12/2025) menyampaikan bahwa 30 orang terluka akibat gempa bermagnitudo 7,5 yang mengguncang wilayah timur laut Jepang pada malam sebelumnya.

    Ia memperingatkan kemungkinan munculnya gempa serupa atau bahkan lebih kuat di sepanjang pesisir Pasifik, pasca gempa ini.

    Menurut Badan Meteorologi Jepang, gempa terjadi pada Senin (8/12/2025) pukul 23.15 waktu setempat, dengan pusat gempa di lepas pantai Pasifik Prefektur Aomori pada kedalaman 54 kilometer.

    Badan tersebut juga memperingatkan potensi gempa dengan magnitudo serupa atau lebih besar di wilayah yang sama dalam beberapa hari mendatang.

    Baca Juga: Gempa 7 Magnitudo Guncang Alaska, AS

    Peringatan khusus itu menjadi yang pertama bagi pesisir Hokkaido dan pantai Sanriku, kawasan yang membentang dari Aomori hingga Iwate dan Prefektur Miyagi.

    Kantor Kabinet meminta masyarakat untuk tetap dalam kondisi waspada setidaknya selama satu minggu, termasuk menyiapkan perlengkapan darurat guna memudahkan evakuasi bila diperlukan.

    Gempa tersebut terjadi di sepanjang palung di lepas pantai Hokkaido dan timur laut Jepang, wilayah yang selama ini diwaspadai pemerintah sebagai sumber potensi gempa besar akibat pergerakan Lempeng Pasifik yang menunjam ke bawah Pulau Honshu.

    Badan Meteorologi Jepang merevisi magnitudo dari laporan awal 7,2 dan mengeluarkan peringatan tsunami dengan potensi ketinggian hingga tiga meter.

    Baca Juga: Pemprov Sumatera Barat Perpanjang Masa Tanggap Darurat Bencana hingga 22 Desember

    Namun, tsunami tertinggi yang tercatat hanya sekitar 70 sentimeter di Iwate, tiga setengah jam setelah gempa, peringatan tsunami diturunkan menjadi peringatan waspada, dan seluruh peringatan dicabut pada Selasa pukul 06.20 waktu setempat.

    Gempa itu tercatat mencapai intensitas 6 atas pada skala intensitas seismik Jepang, yang memiliki kekuatan maksimum 7, di beberapa bagian Aomori. Getaran akibat gempa itu terasa hingga pusat Tokyo.

    Sementara itu, Kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI) di Jepang menyebut tidak ada WNI yang jadi korban dan meminta mereka mewaspadai potensi gempa susulan.

    Sumber: Antaranews.com/Kyodo-OANA