7cloud.asia – Dalam pemungutan suara yang bersejarah di parlemen pada 21 Oktober, Sanae Takaichi mencatatkan diri sebagai perempuan pertama yang menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang.
Sebelumnya, pada 4 Oktober lalu, Sanae Takaichi terpilih sebagai pemimpin Partai Demokrat Liberal (LDP), partai yang berkuasa di Jepang, bertepatan dengan ulang tahun ke-70 partai tersebut.
Sosok Sanae Takaichi dikenal cukup kontroversial karena pandangannya soal kebijakan terkait perempuan serta imigrasi. Sejak memilih bergabung dengan partai konservatif, Takaichi menunjukkan dirinya berhaluan konservatif.
Dilansir BBC Indonesia, Takaichi tidak berhenti menentang undang-undang yang memungkinkan perempuan yang sudah menikah untuk mempertahankan nama gadis mereka. Alasannya, hal itu merusak tradisi. Takaichi juga menentang pernikahan sesama jenis.
Ia juga aktif menyuarakan agar perempuan menikah dan memiliki anak sesuai tradisi. Apalagi angka pernikahan dan kelahiran menurun drastis di Jepang.
Baca: Perempuan adat ini dipercaya jadi Menteri Lingkungan Hidup Brasil
Namun baru-baru ini, Sanae Takaichi melunakkan sikapnya. Selama kampanye, ia berjanji biaya pengasuh anak dapat dikurangi dengan mengambil dari porsi pajak.
Ia juga mengusulkan potongan pajak korporasi bagi perusahaan yang menyediakan layanan penitipan anak di dalam perusahaan.
Selain itu, ia juga memperluas layanan rumah sakit untuk kesehatan perempuan, memberikan pengakuan yang lebih besar bagi pekerja rumah tangga, dan meningkatkan opsi perawatan bagi lansia. Usulan kebijakan ini muncul berlandaskan pengalamannya.
“Secara pribadi, saya telah melalui masa-masa pengasuhan. Itulah mengapa saya bertekad untuk mengurangi jumlah orang yang terpaksa meninggalkan pekerjaan mereka karena mengasuh anak,” ucap Takaichi.
“Saya ingin menciptakan masyarakat di mana orang tidak perlu mengorbankan karier mereka.”
Baca: Amber Valletta dinobatkan menjadi Duta Program Lingkungan PBB
Pandangan kontroversial Takaichi lainnya adalah mengenai etos kerja. Dia menyatakan bahwa masyarakat Jepang seharusnya “bekerja bagai kuda”.
Pada kesempatan lain, dia menegaskan dirinya akan “kerja, kerja, kerja” untuk mengubah “kecemasan masyarakat mengenai kehidupan mereka dan demi masa depan yang penuh harapan”.
Pandangannya itu menuai kritik lantaran dianggap menggelorakan fenomena karoshi di Jepang, yaitu para pegawai yang bekerja hingga meninggal dunia.
Takaichi juga dikenal sebagai murid mendiang Shinzo Abe. Untuk itu, ia berjanji untuk menghidupkan kembali visi ekonomi “Abenomics” yang mencakup pengeluaran publik yang tinggi dan pinjaman murah.
Hal lainnya yang dianggap kontroversi adalah rutinitasnya mengunjungi Kuil Yasukuni. Kuil tersebut berdiri untuk menghormati korban perang Jepang termasuk pelaku kejahatan perang yang dihukum.
Baca: Aktivisme sosial Taylor Swift dan emisi karbonnya yang cemari lingkungan
Apa alasan terpilihnya Takaichi?
Sejak didirikan pada 1955, LDP telah mendominasi politik Jepang. Belakangan, partai ini kehilangan dukungan di tengah kekecewaan terhadap perekonomian yang lesu, penurunan populasi, dan ketidakpuasan sosial.
Takaichi yang berasal dari sayap kanan LDP diharapkan dapat menarik kembali pemilih konservatif yang telah beralih ke partai Sanseito yang ekstrem kanan.
Sanseito, yang mengusung slogan “Jepang yang Utama”, berhasil menarik pemilih konservatif. Ini terlihat dari lonjakan kursi yang awalnya hanya satu menjadi 15 kursi.
Takaichi sendiri mengakui masalah tersebut dalam pidatonya setelah memenangkan putaran pertama pemungutan suara: “Kami telah menerima kritik yang sangat keras dari pendukung inti kami, pemilih konservatif, dan anggota partai.”
“LDP harus berubah demi masa kini dan masa depan Jepang. Kami akan selalu mengutamakan kepentingan nasional dan mengelola negara dengan rasa keseimbangan.”

Leave a Reply