Tag: kekeringan

  • Atasi Kemarau Dampak El Nino: 60 Persen Embung Masih Aman

    Atasi Kemarau Dampak El Nino: 60 Persen Embung Masih Aman

     

     

    7cloud.asia – Menghadapi kemarau panjang dampak El Nino, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengidentifikasi 60 hingga 80 persen embung, danau dan sumber-sumber air masih aman.

    Hal ini disampaikan dalam Rapat Terbatas tentang Mitigasi Dampak Fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang, dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo Selasa (03/10/29023) , di Istana Merdeka, Jakarta.

    Presiden Jokowi meminta jajarannya untuk melakukan pemetaan secara komprehensif persoalan yang terkait dengan dampak kemarau panjang akibat fenomena El Nino di tanah air.

    Baca: Sebagian wilayah Indonesia sudah masuk musim hujan

    Kamarau panjang yang dipicu El Nino mengakibatkan kekeringan, kekurangan air bersih, gagal panen, hingga kebakaran hutan dan lahan.

    Menteri PUPR Basuki Hadimuljono melaporkan bahwa dari kurang lebih 114 danau, kemudian 323 situ/ranu, maupun embung, itu kira-kira antara 60 sampai 80 persen masih efektif.

    “Jadi masih bisa teratasi untuk menyuplai air terutama untuk lahan pertanian selama musim kemarau panjang akibat El Nino” ujar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya dalam keterangan pers, usai mengikuti Ratas.

    Baca: BRIN sebut El Nino akan berlansgung hingga Mei 2024

    Siti menambahkan, intinya arahan yang disampaikan Presiden ada tiga hal, yaitu pertama, pemetaan persoalan secara komprehensif; yang kedua, fokus untuk strategi tersedianya air;

    “Dan yang ketiga, daerah sentra produksi pangan agar dicek terus-menerus untuk kecukupan air,” ujar Menteri Siti. 

    Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Harvick Hasnul Qolbi mengatakan bahwa saat ini persediaan pangan di tanah air masih dalam kondisi cukup stabil.

    Baca: BMKG ingatkan potensi kebakaran lahan di sejumlah wilayah

    Mennurutnya, ada beberapa penurunan produksi utamanya di sektor tanaman pangan yang sangat terdampak sekali dengan adanya El Nino dan musim kemarau yang lebih panjang dari perkiraan sebelumnya.

    “Cuma situasi peternakan, perkebunan kita, pertanian kita, baik itu tanaman pangan maupun hortikultura sementara ini cukup baik,” ujar Harvick.

    Untuk mengantisipasi dampak dari penurunan produksi beras, kata Harvick, pemerintah telah melakukan sejumlah upaya di antaranya dengan melakukan impor beras untuk cadangan beras pemerintah (CBP).

    Baca: Pemanasan global mengakibatkan separuh danau di dunia mengering

    Jadi, ujarnya, untuk menekan harga di pasar kita coba siasati dengan membanjiri produk, mudah-mudahan ini cukup efektif menjaga agar harga beras tidak melonjak.

    “Kita lakukan bersinergi dengan kementerian/lembaga lain, utamanya Kemendag [Kementerian Perdagangan] juga dengan Bapanas [Badan Pangan Nasional],” tandas Harvick.

  • BRIN Perkirakan Bulan Oktober Puncak Suhu Panas Ekstrim  

    BRIN Perkirakan Bulan Oktober Puncak Suhu Panas Ekstrim  

     

    7cloud.asia – Musim kemarau masih melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Diperkirakan suhu panas ekstrim mencapai puncaknya pada Oktober ini.

    Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer pada BRIN (Badan Riset dan Inovesi Nasional), Eddy Hermawan menjelaskan normalnya musim kemarau terjadi pada Juni sampai Agustus.

    Tetapi adanya pengaruh fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) bergeser ke Oktober.

    “Sekarang El Nino positif dan IOD juga positif, keduanya mencapai puncak sekitar Oktober 2023,” kata Eddy seperti dikutip Antaranews.

    Baca: Warga diminta waspada, kamarau panjang bisa picu kebakaran hutan

    Kedua fenomena osilasi suhu air permukaan laut–El Nino di Samudera Pasifik dan IOD di sebelah barat Samudera Hindia—berdampak cukup masif pada Indonesia dan negara lainnya di garis khatulistiwa.

    Karena itu, lanjut Eddy, beberapa daerah di Indonesia diprediksi mengalami suhu panas ekstrem, di antaranya Kota Surabaya dengan suhu tertinggi diprediksi mencapai 43 derajat Celcius.

    Suhu panas ekstrem juga diperkirakan terjadi di Kota Semarang mencapai 40 derajat Celcius, dan Jakarta dengan suku udara maksimum 37 derajat Celcius pada pertengahan Oktober 2023.

    Baca: Sebagian wilayah di Indonesia sudah masuki musim hujan

    Eddy menjelaskan semua uap air dan awan hujan ditarik ke arah utara dan barat karena pusat tekanan rendah berada di Samudera Pasifik dan sebelah barat Samudera Hindia tempat terjadinya El Nino dan IOD.

    Kondisi itu membuat Indonesia yang terletak di antara kedua fenomena tersebut mengalami musim kering yang cenderung panjang.

    “Saya berharap Oktober 2023 adalah akhir dari cerita kemarau terik. El Nino dan IOD diprediksi menuju fase netral pada akhir Februari atau awal Maret 2024,” harapnya.

    Baca: BRIN sebut El Nino akan berlangsung hingga Mei 2024

    Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan Cilacap adalah daerah yang saat ini mengalami kekeringan ekstrem karena lebih dari 60 hari tidak hujan.

    Sejumlah kecamatan di Cilacap yang mengalami kekeringan ekstrem diantaranya Kecamatan Majenang, Wanareja, Cimanggu, Cipari, dan Karangpucung.

    Sedangkan wilayah lainnya masuk kategori menengah hingga sangat panjang atau 11-60 hari tidak hujan.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Dampak El Nino, 267 Ribu Hektar Lahan Hangus Terbakar

    Dampak El Nino, 267 Ribu Hektar Lahan Hangus Terbakar

    7cloud.asia – Kebakaran hutan dan lahan masih terus terjadi. Hingga 2 Oktober kemarin, tercatat 267 ribu hektar lahan terbakar. Diperkirakan jumlah ini akan bertambah.

    Hal ini disampaikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, di Komplek Istana Kepresidenan Jakarta, usai mengikuti rapat terbatas (ratas) di istana presiden, Selasa (03/10/2023).

    “Areal yang terbakar sudah terekam 267 ribu hektare dan perkiraan saya dengan situasi bulan September kemarin dan Oktober, kelihatannya masih akan bertambah,” urai Siti.

    Selanjutnya Siti memaparkan berdasarkan data per 2 Oktober 2023, terdapat 6.659 titik panas (hot spot) dengan peluang 80 persen menjadi titik api atau fire spot.

    Karena itu, pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Diantaranya pemadaman dan teknik modifikasi cuaca (TMC) di sejumlah provinsi yang menjadi titik rawan terjadinya karhutla tersebut.

    “Kita sekarang ini sejak tanggal 28 September sedang berjibaku di Sumatra Selatan, di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, sambil juga memonitor yang di Riau, Jambi dan lain-lain,” jelasnya.

    Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto mengatakan pihaknya ikut melaksanakan operasi darat maupun udara dalam mengatasi karhutla.

    Operasi pemadaman lewat udara pihaknya mengerahkan 35 helikopter terdiri 13 helikopter patroli dan 22 helikopter water bombing.

    “Jadi ada enam provinsi prioritas yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Riau, dan Jambi. Itu menjadi enam provinsi prioritas kebakaran hutan dan lahan,” jelas Suharyanto.

    Upaya lainnya adalah melakukan TMC sebanyak 244 kali dengan jumlah garam yang disebar mencapai 341.580 kilogram.

    Selanjutnya Suharyanto menjelaska pihaknya melakukan TMC di beberapa provinsi diantaranya Riau, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, Jambi, DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, dan Sumatra Selatan.

    Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menjelaskan puncak El Nino masih akan bertahan hingga akhir Oktober.

    Masa transisi dari kemarau ke musim hujan diperkirakan terjadi di bulan November.

    Menurutnya, El Nino diprediksi moderat hingga akhir tahun, melemah di Februari-Maret hingga berakhir di bulan Maret.

    “Namun, alhamdulillah karena adanya angin monsun dari arah Asia sudah masuk ini mulai November, jadi kita akan insyaallah mulai turun hujan di bulan November,” jelasnya.

    Artinya lanjut Dwikorita, pengaruh El Nino mulai tersapu hujan. Dengan demikian kemarau kering secara bertahap akan berakhir.

    “Ada yang sebelum November tapi sebagian besar mulai November, ada yang lebih mundur lagi,” kata Dwikorita. 

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

     

     

  • Kekeringan Berlanjut, Pemprov Bali Tetapkan Siaga Darurat

    Kekeringan Berlanjut, Pemprov Bali Tetapkan Siaga Darurat

    7cloud.asia – Kekeringan masih melanda sejumlah wilayah di Indonesia, salah satunya terjadi di Bali.

    Akibat kekeringan yang berkepanjangan ini, Pemprov Bali menetapkan status siaga darurat kekeringan selama 14 hari ke depan.

    Status darurta kekeriangan di Bali ini dikatakan oleh Penjabat (Pj) Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya seperti dikutip Antaranews.

    “Dengan melihat perkembangan situasi yang ada, untuk perlindungan masyarakat dan meningkatkan kesiapsiagaan, serta memudahkan akses, kami sepakat menetapkan 14 hari ke depan status siaga darurat, mulai hari ini,” katanya, Kamis (19/10/2023).

    Baca: Pejelasan BMKG mengapa cuaca terasa begitu terik beberapa hari ini

    Selanjutnya Sang Made menjelaskan dalam kurun waktu 14 hari tersebut pihaknya akan berupaya mengintesifkan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan yang saat ini sedang terjadi di sejumlah wilayah di Bali.

    Termasuk menyalurkan bantuan kepada daerah-daerah yang dalam kondisi krisis air bersih atau kekeringan.

    Menurut Sang Made, status siaga darurat kekeringan ini eskalasi yang paling rendah ya menurut undang-undang.

    “Sehingga nanti kita gerakan dan aksesnya (dalam menangani bencana) lebih mudah, baik melakukan berbagai kegiatan termasuk memberi ruang dukungan,” jelasnya.

    Baca: 5 kota yang paling nyaman dikunjungi

    Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Bali, I Made Rentin dalam rapat koordinasi penanganan darurat bencana bersama mengatakan ada dua permohonan dalam situasi ini.

    Pertama, permohonan kelengkapan alat untuk penanganan kedaruratan kekeringan di seluruh Bali.

    Kedua, penerapan teknologi modifikasi cuaca (TMC) mengingat berdasarkan data BMKG Wilayah III Denpasar terdapat tiga kecamatan di Provinsi Bali yang lebih dari 94 hari berstatus hari tanpa hujan (HTH).

    “Pertama Kecamatan Kubu, Karangasem, kedua Kubutambahan, Buleleng, ketiga Gerokgak, Buleleng. Oleh karena itu menjadi urgen dan mendesak bagi kami di Bali untuk menerapkan TMC,” kata Rentin.

    Baca: 8 kota pilihan untuk menghabiskan masa pensiun

    Menanggapi hal ini, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto meminta agar daerah segera mengajukan peralatan yang dibutuhkan.

    Selain itu, Suharyanto berjanji menurunkan armada dan peralatan penyemaian untuk melakukan modifikasi cuaca.

    Sebagai informasi BNPB ini sudah melaksanakan TMC 3 bulan terakhir terus menerus, permasalahannya itu di sarana prasarananya, jadi per hari ini kita hanya punya lima pesawat, itu pun lima dari swasta.

    “Lima pesawat itu fokus ke Kalimantan dan Sumatera, sekarang kita fokus ke Riau dan Sumatera Selatan. Setelah reda kita laksanakan di Bali ya,” papar Suharyanto.

    Baca: Mengenal kota ramah lansia, ini kriterianya

    “Satu pesawat ini bisa untuk Bali lah, karena Bali banyak event-event internasional, kalau kondisinya kurang baik malu juga sebagai negara. Pasti itu ya TMC, tapi juga kita lihat prediksi BMKG,” sambungnya.

    Sementara itu, Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah III, I Nyoman Gede Wiryajaya untuk melalukan TMC pihaknya harus memastikan posisi dan keberadaan awan.

    Jika telah disetujui, maka BMKG akan melakukan pemantauan posisi dan arah pergerakan awan ke Bali, baik melalui arah Banyuwangi, ataupun Lombok.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Imbas Kekeringan, Petani di Bogor Dapat Asuransi Rp 6 Juta.

    Imbas Kekeringan, Petani di Bogor Dapat Asuransi Rp 6 Juta.

    7cloud.asia – Bencana kekeringan membawa dampak buruk bagi para petani. Seperti yang dialami petani di Kota Bogor, Jawa Barat, banyak mengalami gagal panen. Pemerintah setempat memberikan asuransi untuk petani.

    Bupati Bogor, Iwan Setiawan mengatakan, pihaknya menyiapkan asuransi untuk 25 ribu hektare sawah petani yang terkena dampak kekeringan.

    “Tahun lalu, di 2022, kita menargetkan hanya 10 ribu hektare sawah yang diasuransikan. Nah tahun ini sebagai bagian dari antisipasi, kita naikkan jadi 25 ribu hektare. Karena sejak jauh hari juga BMKG telah memprediksi dampak kekeringan ini, jadi kita juga sosialisasikan ke para petani,” papar Iwan seperti yang dikutip Detik.com.

    baca juga: atasi kemarau dampak el-nino 60 persen embung masih aman

    Selanjutnya Iwan menjelaskan, upaya ini merupakan langkah jangka pendek untuk meminimalisasi dampak kekeringan. Klaim asuransi yang bisa diterima sebesar Rp 6 juta per hektare.

    “Kita koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat untuk menangani dampak kekeringan ini,” katanya.

    Sementara itu, Plt Kepala Distanhorbun (Dinas Ketahanan Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan) Kabupaten Bogor, Tatang Mulyadi, mengatakan asuransi tersebut ditanggung pemerintah kabupaten bersama pemerintah pusat.

    Hingga kini sebanyak 41 kelompok tani (poktan) yang mengajukan klaim asuransi, dengan luas sawah mencapai 221 hektare yang tersebar di 11 kecamatan.

    “Sejauh ini yang mengajukan asuransi itu sudah sekitar 16.800 hektare, kami terus mendorong agar mereka yang belum mengasuransikan lahannya bisa segera masuk. Ini menjadi bukti pemerintah hadir melindungi para petani,” ucap Tatang.

    baca juga: bmkg dampak el-nino 2023 masih terkendali

    Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia sejak beberapa bulan yang lalu merupakan dampak dari fenomena El Nino.

    El Nino merupakan fenomena cuaca yang terjadi akibat peningkatan suhu permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur yang menjadi lebih hangat dari biasanya.

    Biasanya terjadi setiap 5 atau 7 tahun sekali. Fenomena alami ini menyebabkan perubahan pola cuaca global, yang berdampak signifikan pada iklim di berbagai wilayah di dunia, termasuk di Indonesia.

    baca juga: dampak el nino kekeringan di bali meluas

    Di sektor pertanian, El Nino sangat berpengaruh bagi para petani. Tidak hanya mengalami kekeringan, tetapi petani juga harus menghadapi berbagai penyakit padi dan hama.

    El Nino menyebabkan penyebaran penyakit yang lebih cepat dan merusak tanaman serta mengurangi hasil panen.    

    Reporter: Nurakhmayani

  • Kekeringan di Bali Meluas Hingga 35 Kecamatan, BBMKG Rilis Peringatan Dini

    Kekeringan di Bali Meluas Hingga 35 Kecamatan, BBMKG Rilis Peringatan Dini

    7cloud.asia – Meski beberapa wilayah di Indonesia sudah mulai diguyur hujan, tetapi kekeringan masih melanda. Diantaranya Bali, kekeringan meluas hingga 35 kecamatan di Pulau Dewata ini.

    Berdasarkan data dari Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, sebelumnya kekeringan di Bali melanda 26 kecamatan.

    Kemudian pada minggu ketiga Oktober hingga memasuki November 2023 kekeringan yang melanda menjadi 35 kecamatan di Bali.

    “Daerah tanpa hujan berturut-turut di wilayah itu hingga 121 hari,” ucap Koordinator Bidang Data dan Informasi BBMKG Wilayah III Denpasar, I Nyoman Gede Wiryajaya yang dikutip Antaranews.

    baca: dampak el nino kekeringan di bali meluas

    BBMKG wilayah III Denpasar mengeluarkan peringatan dini kekeringan untuk Kabupaten Buleleng yaitu di Buleleng, Gerokgak, Kubutambahan, Sawan, Seririt, dan Tejakula.
     
    Kemudian di Kabupaten Jembrana di Melaya, Pekutatan dan Mendoyo, Kabupaten Tabanan di Kediri, Marga, Penebel, Kerambitan, dan Tabanan.

    Selain itu, peringatan dini kekeringan juga berlaku untuk Kabupaten Bangli di Bangli, Tembuku dan Kintamani, kemudian di Kabupaten Karangasem di Abang, Karangasem dan Kubu.
     
    Peringatan dini kekeringan juga untuk Kabupaten Badung di Kuta, Kuta Utara, Kuta Selatan, Mengwi, serta di Kabupaten Klungkung di Dawan, dan Nusa Penida.
     
    Wilayah lain yang mengalami kekeringan yakni di Kabupaten Gianyar meliputi Payangan, Sukawati, Blahbatuh, Tampaksiring dan Ubud serta di Kota Denpasar yakni di Denpasar Timur, Denpasar Barat, Denpasat Utara dan Denpasar Selatan.

    baca: kekeringan berlanjut pemprov bali tetapkan siaga darurat

    Selanjutnya Wiryajaya menjelaskan kecamatan dengan hari tanpa hujan paling banyak berturut-turut yakni di Kecamatan Kubu selama 121 hari, Kubutambahan selama 120 hari dan Gerokgak selama 115 hari.

    Namun, BBMKG Denpasar memprediksi hujan masih berpotensi turun di sejumlah kawasan di Bali selama periode 1-10 November 2023 yakni di Kabupaten Tabanan, Kecamatan Pekutatan, Busungbiu, Seririt.
     
    Hujan juga diperkirakan turun di Sukasada, Banjar, Petang, Abiansemal, Mengwi, Payangan, Tegalalang, Tampaksiring, Susut, Tembuku, Bangli, Selat, Sidemen dan Rendang.
     
    “Distribusi curah hujan di Bali secara umum antara nol hingga 86,5 milimeter per 10 hari,” katanya.
     
    Puncak musim hujan di Bali diperkirakan terjadi pada Januari 2024 dengan curah hujan antara 500-600 milimeter per bulan.

    baca: imbas kekeringan petani di bogor dapat asuransi rp 6 juta

    Hanya satu zona musim, yakni di Karangasem bagian selatan yang diperkirakan puncak musim hujannya terjadi pada Februari 2024.

    Saat puncak musim hujan ini, BMKG mengimbau masyarakat agar mewaspadai dampak bencana hidrometeorologi di antaranya banjir dan tanah longsor.
     
    Sementara itu, BBMKG Denpasar akan memperbarui pemantauan potensi kekeringan dan musim hujan di Bali per dasarian atau per 10 hari.
     
    Reporter: Nurakhmayani

  • El Nino Belum Berakhir: Kekeringan dan Kebakaran Berisiko Makin Besar Tahun 2024

    El Nino Belum Berakhir: Kekeringan dan Kebakaran Berisiko Makin Besar Tahun 2024

    7cloud.asia – Fenomena El Nino yang dimulai pada Juni 2023 membuat cuaca di banyak wilayah Indonesia lebih kering dan mengalami panas menyiksa.

    Sejak beberapa bulan lalu, beberapa pihak memprediksi puncak El Nino terjadi pada Agustus-September, dengan intensitas yang lemah-moderat.

    Ada juga yang menaksir fenomena anomali cuaca yang disebut El Nino ini memuncak pada Oktober, lalu kemudian menurun.

    Walau begitu, dengan pengalaman meneliti El Nino lebih dari 15 tahun, saya menyaksikan bagaimana pergerakan El Nino, termasuk puncaknya, semakin sulit diprediksi.

    Misalnya, pada 2015 silam, banyak ilmuwan meramalkan El Nino yang terjadi saat itu hanya berlangsung lemah, alias pemanasannya rata-rata per bulan tak melebihi 1,5°C dibandingkan kondisi non-El Nino.

    Durasinya pun tak melebihi sembilan bulan. Nyatanya, El Nino 2015 berlangsung kuat dengan pemanasan tertingginya mencapai 3°C.

    Baca: Kekeringan dampak El Nino pengaruhi kelestarian satwa liar

    Durasinya pun dua kali lipat lebih panjang dari El Nino lemah, yakni 18 bulan.

    Dampaknya luar biasa. El Nino saat itu menyebabkan suhu bumi mencetak rekor terpanasnya. Kebakaran hutan dan lahan menggila, mencapai 2,6 juta ha dengan angka kematian dini akibat paparan asap mencapai 100 ribu jiwa.

    Lantas, bagaimana dengan El Nino tahun ini? Berdasarkan pengamatan saya, El Nino 2023 memiliki perilaku senada dengan El Nino kuat pada 2015-2016 dan 1997-1998.

    Indonesia harus mewaspadai risiko ini. Maraknya kekeringan dan kebakaran hutan tahun ini kemungkinan bakal lebih parah lagi saat El Nino mencapai puncaknya pada 2024.

    El Nino akan menguat pada 2024. Pada mulanya, El Nino memanaskan suhu permukaan laut dari Samudra Pasifik sebelah timur, dekat Peru.

    Panas lalu membesar dan menjalar ke arah barat sampai perairan selatan Hawaii, hingga kepulauan di Pasifik barat dekat pulau Papua.

    Baca: El Nino percepat lelehnya es abadi di Puncak Jaya

    Per 29 Oktober lalu, Biro Meteorologi Australia mencatat pemanasan rata-rata bulanan di sekitar titik pantau El Nino di perairan di selatan Hawai (dikenal dengan area Nino 3.4) baru mencapai 1,66°C.

    Pemanasan tersebut berpotensi tinggi menguat sampai tahun depan. Pasalnya, pemanasan parah El Nino 2023 baru berada di dekat Peru (area Nino 2) sebesar 2,42°C di atas normal.

    Butuh waktu setidaknya dua bulan hingga panas tersebut menyebar ke titik pantau Nino 3.4.

    Karena itulah, per 21 Oktober 2023, Biro Meteorologi Australia menaksir puncak El Nino baru terjadi tiga bulan lagi, yakni Januari 2024.

    Saat itu, suhu terpanas permukaan rata-rata bulanan dapat mencapai 2,7°C di atas normal di area Nino 3.4.

    Saya menganggap pemodelan oleh Biro Meteorologi Australia cukup valid karena berbasiskan data klimatologis lama, dari 1960-2010.

    Baca: Mitigasi dampak El Nino terhadap kehidupan satwa liar

    Meskipun terpaut 13 tahun, data lama penting untuk membandingkan perilaku El Nino saat ini dengan kejadian pada 1997-1998 dan 2015-2016.

    Prediksi Australia juga senada dengan Badan Ilmu dan Teknologi Laut-Bumi Jepang (Jamstec) yang mengatakan bahwa El Nino pada puncak pemanasannya akan melampaui 2°C.

    Anomali cuaca Indonesia karena El Nino?
    Cuaca panas Indonesia yang terjadi beberapa bulan belakangan memang turut dipengaruhi El Nino. Namun, dampaknya masih kecil.

    Sejauh ini, kondisi panas di Indonesia masih lebih banyak dipengaruhi oleh cuaca di Samudra India. Karena itulah masih ada awan-awan di atas langit Papua, diikuti oleh hujan.

    Saat El Nino mencengkeram, Papua akan lebih panas dan kering, begitu juga dengan daerah-daerah di sekitarnya hingga menjalar ke banyak wilayah di Indonesia.

    Sementara itu, hujan lebat disertai angin kencang yang terjadi di beberapa wilayah barat Indonesia saat ini, termasuk Jabodetabek pada sepekan terakhir, lebih dipengaruhi fenomena pemanasan dari Laut Cina Selatan.

    Baca: Mengapa Hari Terancam Punah harus diperingati

    Pemanasan kali ini tergolong anomali cuaca karena seharusnya, pada periode Oktober cuaca di kawasan tersebut cenderung lebih dingin akibat siklus monsun dingin (winter monsoon) dari November-Maret.

    Musim hujan mengakhiri El Nino? Tahun ini Indonesia mengalami musim hujan secara bertahap sejak Oktober 2023 hingga Februari 2024.

    Apakah munculnya hujan menjadi pertanda berakhirnya El Nino? Sayangnya tidak. Musim hujan hanya meredam dampaknya sehingga Indonesia mungkin tidak akan sepanas saat ini.

    Mungkin ini bisa memberikan kita waktu untuk ‘beristirahat’ dari panas dan kekeringan.

    Namun, hal ini tak berlangsung lama. Pada Maret 2024, ketika musim pancaroba melanda sebagian Indonesia, El Nino akan kembali mencengkeram.

    Saat itu, pemanasan suhu rata-rata memang menurun, tapi masih di atas 2,3°C.

    Baca: Pendidikan yang memberi solusi bagi perubahan iklim

    Saat ini ilmuwan-ilmuwan dunia sedang harap-harap cemas, mengkhawatirkan El Nino bisa menguat seperti ‘gorila’ yang mengamuk melampaui perkiraan.

    Indonesia harus mempertimbangkan cuaca panas akibat El Nino dapat berkepanjangan.

    Panasnya bisa begitu kuat, bahkan bisa melebihi kejadian-kejadian sebelumnya.

    Ini dipengaruhi dengan kenaikan suhu rata-rata permukaan Bumi. Saat El Nino 2015-2016, kenaikan suhu permukaan Bumi belum mencapai 1°C.

    Saat ini, suhu terpanas Bumi sudah mencapai 1,2°C. Kita harus bersiap dengan El Nino yang semakin mencengkeram.

    Selalu ada kemungkinan pemanasan ekstrem akibat El Nino terus bertahan dan tidak mudah meluruh.

    Baca: Polusi udara yang kemudian memicu pemanasan global jadi masalah serius bagi lingkungan

    Perhatian Indonesia sampai sekarang masih terbagi karena adanya Pemilihan Presiden-Wakil Presiden 2024.

    Perhelatan akbar ini biarlah berjalan, tapi jangan mengurangi fokus kita untuk mencegah dan menanggulangi dampak terburuk El Nino tahun depan.

    Tahun ini, kita menyaksikan kebakaran hutan dan lahan telah melebihi 600 ribu hektare–tertinggi sejak pandemi.

    Kekeringan sudah terjadi di ratusan wilayah, diikuti dengan kenaikan harga pahan pokok. Bendungan mengering sehingga listrik di beberapa wilayah byar-pet.

    Kita membutuhkan usaha ekstra dari semua kalangan untuk mencegah agar beragam dampak tersebut tidak meluas pada tahun depan.

    Penulis: Erma Yulihastin, Researcher, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

     

  • Kekeringan Akibat El Nino Picu Kematian Gajah Liar di Zimbabwe

    Kekeringan Akibat El Nino Picu Kematian Gajah Liar di Zimbabwe

    7cloud.asia – Puluhan gajah ditemukan mati kehausan di Taman Nasional Hwange yang populer di Zimbabwe ketika negara itu dilanda kekeringan akibat fenomena El Nino dan perubahan iklim.

    Insiden itu membuat khawatir para pegiat konservasi lingkungan. Jumlah gajah yang mati dikhawatirkan akan terus bertambah karena kekeringan yang masih berlangsung

    Kematian massal gajah liar ini tak lepas dari fenomena cuaca El Nino ​​​​​​yang ​mengakibatkan cadangan air menipis dan lubang air mengering.

    El Nino memicu cuaca yang lebih panas dan lebih kering sepanjang tahun, kata ahli cuaca setempat.

    Baca: Kemarau panjang akibat El Nino ancam kehidupan satwa liar

    Antaranews.com mengutip reuters menyebut, fenomena cuaca global musiman itu menjadi sorotan pada forum COP 28 tentang aksi penanganan iklim di Dubai.

    Hwange tidak dilintasi aliran sungai yang besar dan hewan-hewan bergantung pada sumur bor bertenaga surya, kata pejabat Otoritas Taman dan Satwa Liar Zimbabwe (Zimparks).

    “Kami mengandalkan lubang air buatan karena air permukaan menyusut. Karena gajah sangat bergantung pada air, kami terus mencatat kematian akibat kekeringan ini,” kata ahli ekologi Taman Nasional Hwange, Daphine Madhlamoto, 

    Populasi gajah di Hwange mencapai 45.000 ekor dan gajah-gajah dewasa membutuhkan 200 liter air per hari.

    Baca: El Nino percepat melelehnya salju abadi di Puncak Jaya

    Namun, karena sumber air semakin berkurang, pompa air bertenaga surya di 104 sumur bor tidak sanggup menyediakan air yang cukup.

    Reuters melihat puluhan bangkai gajah bergelimpangan di dekat lubang air. Pejabat taman nasional itu mengatakan ada gajah yang mati di semak-semak sehingga menjadi santapan singa dan burung pemakan bangkai.

    “Taman ini telah menyaksikan dampak dari perubahan iklim. Curah hujan semakin berkurang,” kata Madhlamoto.

    Musim hujan di Zimbabwe berlangsung dari November hingga Maret, tetapi tahun ini hampir tidak ada hujan.

    Baca: Mengenal Hari Terancam Punah Sedunia

    Kemarau di sana diperkirakan akan berlanjut hingga 2024, menurut badan meteorologi setempat.

    Zimparks mengatakan para hewan terpaksa berjalan jauh untuk mencari air dan makanan, dan beberapa kawanan menyeberang ke Botswana.

    Kelompok-kelompok konservasi berusaha menyediakan tambahan air dengan mengeruk lubang dan memompa lebih banyak air melalui sumur bertenaga surya.

    Zimbabwe menjadi habitat bagi hampir 100.000 ekor gajah, tetapi kapasitas air di negara itu hanya cukup memberi minum sekitar 50.000 gajah sehingga taman-taman nasional di sana kewalahan.

    Sumber: Antaranewscom

  • BRIN: Cuaca Ekstrem Meningkat Signifikan Ini Dampak yang Dirasakan Indonesia

    BRIN: Cuaca Ekstrem Meningkat Signifikan Ini Dampak yang Dirasakan Indonesia

    7cloud.asia – Kajian dengan menggunakan teknik dynamic downscaling resolusi tinggi dari tim periset BRIN mengugkap, cuaca ekstrem berupa kekeringan dan hujan ekstrem meningkat signifikan.

    Untuk memberikan pemahaman kepada publik dalam menghadapi cuaca ekstrem, pada akhir Januari lalu BRIN menggelar Media Lounge Discussion (MELODI). 

    Peneliti Ahli Utama Klimatologi dan Perubahan Iklim, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer-BRIN Erma Yulihastin sebagai salah satu narasumber utama mengatakan, cuaca ektrem berdampak di wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan.

    Dilansir dari laman resmi BRIN, cuaca ekstrem berupa kekeringan ekstrem di masa mendatang diperkirakan juga akan berdampak pada wilayah Kalimantan bagian tengah, timur dan selatan (termasuk IKN).

    Baca: BRIN usul dibentuk tim khusus untuk antisipasi cuaca ekstrem yang makin sering terjadi

    Sedangkan wilayah Kalimantan bagian barat diproyeksikan mengalami hari-hari yang lebih basah.

    “Untuk Pulau Jawa, sebagian besar wilayah terancam mengalami suhu maksimum yang lebih tinggi dan suhu minimum yang lebih rendah khususnya untuk pantura Jawa Timur,” sebut Erma.

    Selain kajian proyeksi perubahan iklim tersebut, lanjut Erma, kajian klimatologis terkini mengenai karakteristik hujan tahunan dan musiman di Indonesia juga diperlukan.

    Hal ini untuk memastikan  agar indikasi perubahan iklim yang terjadi secara aktual saat ini di Indonesia dapat dipetakan dengan lebih baik, khususnya dalam hal perubahan pada pola musim dan cuaca ekstrem.

    Baca: Tiga jenis cuaca ekstrem yang merusak

    Erma mengatakan bahwa kajian mengenai indikasi perubahan hujan diurnal (pola yang terulang karena rotasi bumi) menjadi kunci penting.

    Perubahan hujan diurnal ini penting untuk memahami pola cuaca ekstrem yang terjadi di BMI selama dekade terkini sebagai dampak dari pemanasan global.

    Pada dasarnya, pola hujan diurnal di BMI mengikuti pola umum hujan di darat yang dipengaruhi oleh angin darat-laut dan gelombang gravitasi sehingga fase kejadian hujan adalah sore hari di atas darat dan pagi hari di atas laut.

    Namun demikian, lanjut Erma, terdapat variasi fase hujan diurnal sehingga hujan maksimum di darat terjadi pada dinihari dengan frekuensi yang signifikan (sekitar 20%) untuk wilayah di utara Jawa bagian barat termasuk DKI Jakarta.

    Baca: Perubahan iklim membuat bencana hidrometeorologi makin sering terjadi

    Hujan dinihari yang turun dengan intensitas tinggi atau ekstrem (P99th) tersebut bahkan telah dibuktikan merupakan penyebab banjir besar di Jakarta pada 2007, 2013, 2014, 2020.

    Hasil kajian BRIN menunjukkan karakteristik utama hujan dinihari yang terjadi di utara Jawa bagian barat dalam beberapa tahun terakhir, yaitu:

    (1) hujan mengalami propagasi (merambat/bergerak) yang kuat dari laut menuju darat maupun sebaliknya,

    (2) keacakan dalam hal fase terjadinya hujan pada rentang waktu dinihari (01.00–04.00 WIB),

    (3) hujan dinihari memiliki keterkaitan yang kuat dengan hujan ekstrem yang memicu banjir besar di Jakarta.

     

  • Sejumlah Daerah Berpotensi Mengalami Kekeringan, Pemerintah Harus Antisipasi

    Sejumlah Daerah Berpotensi Mengalami Kekeringan, Pemerintah Harus Antisipasi

    7cloud.asia – Sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi mengalami kekeringan meteorologis pada musim kemarau.

    Pemerintah pusat dan pemerintah daerah diminta siaga guna mengantisipasi dampak kekeringan ini.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati memperkirakan kekeringan meteorologis tersebut berlangsung selama 21 hingga 30 hari atau bisa lebih panjang.

    “Laporan kepada Presiden perihal kondisi iklim dan kesiap-siagaan kekeringan 2024 sudah kami sampaikan agar mendapat atensi khusus pemerintah sehingga risiko dan dampak yang ditimbulkan dapat diantisipasi dan diminimalisir sekecil mungkin,” jelas Dwikorita dalam rilis yang dimuat pada laman resmi BMKG.

    Baca: Cuaca ekstrem makin sering terjadi

    Bahkan beberapa daerah seperti mayoritas wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara kini sudah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH).

    Berdasarkan analisis curah hujan dan sifat hujan yang dilakukan BMKG, menunjukkan bahwa kondisi kering sudah mulai memasuki wilayah Indonesia, khususnya di bagian Selatan Khatulistiwa.

    Sebagian wilayah Indonesia, sebanyak 19% dari Zona Musim sudah masuk Musim Kemarau, dan diprediksi sebagian besar wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara segera menyusul memasuki musim kemarau dalam tiga dasarian ke depan.

    “Kondisi kekeringan ini saat musim kemarau akan mendominasi wilayah Indonesia sampai akhir bulan September,” jelasnya.

    Baca: 60 hari tak turun hujan di 4 kabupaten NTT

    Karena itu, Dwikorita merekomendasikan agar daerah yang masih mengalami hujan atau transisi dari musim hujan ke musim kemarau agar dapat mengoptimalkan secara lebih masif upaya memanen air hujan.

    Pemanenan dapat dilakukan melalui tandon-tandon/ tampungan-tampungan air, embung-embung, kolam-kolam retensi, sumur-sumur resapan, dan lain sebagainya seiring dengan upaya mitigasi dampak kejadian ekstrem hidrometeorologi basah yang sedang dilakukan.

    “Terkait pertanian, maka pola dan waktu tanam untuk iklim kering pada wilayah terdampak dapat menyesuaikan. Karenanya, BMKG akan melakukan koordinasi lebih lanjut dengan Menteri Pertanian dan Gubernur Provinsi terdampak,” urainya.

    Dia berharap agar peringatan dini kesiap-siagaan musim kemarau tersebut dapat dimanfaatkan secara efektif oleh pemerintah pusat dan daerah.