Tag: kota

  • Sejarah Panjang Palembang sebagai Kota Tertua di Indonesia

    Sejarah Panjang Palembang sebagai Kota Tertua di Indonesia

    7cloud.asia – Berdasarkan sejarahnya, kota Palembang yang saat ini menjadi ibu kota Provinsi Sumatera Selatan dan pernah jadi ibu kota Sriwijaya bisa dikatakan sebagai kota tertua di Indonesia.

    Berdasarkan perhitungan dari prasasti Sriwijaya yang dikenal sebagai prasasti Kedudukan Bukit, kota Palembang telah berumur setidaknya 1341 tahun.

    Menurut Prasasti Sriwijaya yang berangka tahun 16 Juni 682, saat itu oleh penguasa Sriwijaya didirikan Wanua di daerah yang sekarang dikenal sebagai kota Palembang.

    Nama kota Palembang tak lepas dari kondisi topografinya yang dikelilingi oleh air, bahkan terendam oleh air, baik yang bersumber dari sungai maupun rawa, juga air hujan.

    Baca: Mengenal Salatiga, salah satu kota tertua di Indonesia

    Nama Palembang berasal dari gabungan kata Pa/Pe dan kata lembang/lembeng. Dalam bahasa Melayu, Pa atau Pe sebagai kata tunjuk suatu tempat atau keadaan.

    Sedangkan lembang atau lembeng artinya tanah yang rendah, lembah akar yang membengkak karena lama terendam air (menurut kamus melayu).

    Sedangkan kalau menurut bahasa Melayu-Palembang, lembang atau lembeng adalah genangan air. Jadi Palembang adalah suatu tempat yang digenangi oleh air.

    Kondisi alam ini bagi nenek moyang masyarakat Palembang menjadi modal mereka dalam menghidupkan kota.

    Baca: Perjalanan Jakarta, berawal dari Pangeran Jayakarta

    Air menjadi sarana transportasi yang sangat vital, ekonomis, efisien dan punya daya jangkau dan punya kecepatan yang tinggi.

    Selain kondisi alam, letak strategis kota Palembang yang berada dalam satu jaringan yang mampu mengendalikan lalu lintas antara tiga kesatuan wilayah.

    Yakni dataran tinggi Bukit Barisan di sisi barat, daerah kaki bukit atau piedmont dan pertemuan anak-anak sungai sewaktu memasuki dataran rendah dan daerah pesisir timur laut.

    Ketiga kesatuan wilayah ini merupakan faktor yang sangat mementukan dalam pembentukan pola kebudayaan dan peradaban masyarakat Palembang.

    Baca: Mengenal Kota Kupang, dari Lou Kopan yang diperebutkan Belanda dan Portugis

    Faktor setempat yang berupa jaringan dan komoditi dengan frekuensi tinggi sudah terbentuk lebih dulu dan berhasil mendorong warga setempat melahirkan kebudayaan tinggi di Sumatera Selatan.

    Faktor setempat inilah yang membuat Palembang menjadi ibukota Sriwijaya, yang merupakan kekuatan politik dan ekonomi di Asia pada waktu itu. Tak hanya menjadi ‘kiblat’ penganut Budha, Sriwijaya juga menjadi pusat perniagaan terkemuka. 

    George Coedes dalam buku “The Indianized States of Southeast Asia. trans.  ” menyebut, pada paruh kedua abad ke-9, Jawa dan Sumatra disatukan di bawah kekuasaan Sailendra yang memerintah di Jawa … pusatnya di Palembang.”[9]:92

    Sebagai ibu kota kerajaan Sriwijaya, kota tertua kedua di Asia Tenggara ini telah menjadi pusat perdagangan penting di Asia Tenggara maritim selama lebih dari satu millenium.

    Baca: Manado, kota di negeri jauh yang cantik

    Kerajaan Sriwijaya berkembang dan mengendalikan perdagangan internasional melalui Selat Malaka dari abad ke-7 hingga abad ke-13, mengukuhkan hegemoni atas negara-negara di Sumatra dan Semenanjung Malaya.

    Prasasti Sanskerta dan catatan perjalanan Tiongkok melaporkan bahwa kerajaan ini menjadi makmur karena menjadi perantara dalam perdagangan internasional antara Tiongkok dan India.

    Karena angin muson yang terjadi dua kali setahun, setelah sampai di Sriwijaya, para pedagang dari Tiongkok atau India harus tinggal di sana selama beberapa bulan menunggu perubahan arah angin, atau harus kembali ke Tiongkok atau India.

    Oleh karena itu, Sriwijaya tumbuh menjadi pusat perdagangan internasional terbesar, dan tidak hanya pasarnya, tetapi juga infrastruktur untuk para pedagang seperti penginapan dan hiburan juga dikembangkan.

    Baca: Mengenal uniknya tradisi Seba masyarakat adat Badui

    Saat itu Sriwijaya juga berfungsi sebagai sebuah pusat budaya di Asia Tenggara. Yijing, seorang pengelana Buddhis Tiongkok yang tinggal di Palembang dan Jambi pada tahun 671, mencatat bahwa terdapat lebih dari seribu biksu dan sarjana terpelajar.

    Mereka didukung oleh kerajaan untuk belajar agama di Palembang. Dia juga mencatat bahwa terdapat banyak “negara” di bawah kerajaan yang disebut Sriwijaya (Shili Foshi).

    Sebuah rupaka Buddha, ditemukan di situs arkeologi Bukit Seguntang, kini dipajang di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.

    Setelah mengalami kejayaan di abad ke-7 dan 9, maka kurun abad ke-12 Sriwijaya perlahan mengalami penurunan. 

    Baca: Peran sumbu filosofi dalam penataan Kota Yogyakarta

    Sriwijaya turun selain karena persaingan dengan kerajaan di Jawa, juga dipicu pertempuran dengan kerajaan Cola dari India. Kejatuhan Sriwijaya tak terelakkan setelah bangkitnya bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara.

    Kejayaan Sriwijaya diambil oleh Kesultanan Palembang Darusallam pada abad pertengahan atau tahun 1600an. Sriwijaya kemudian menjadi kesultanan Palembang yang disegani di kawasan Nusantara.

     

    Pamor kesultanan Palembang meredup karena kedatangan Kompeni ke Nusantara, hingga akhirnya Kesultanan Palembang dihapus oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1825.

    Pada awal abad 20, tepatnya tahun 1920-an, Palembang dikembangkan menjadi layaknya kota di Eropa di bawah bimbingan Thomas Karsten yang saat itu dikenal sebagai arsitek banyak kota di Hindia Belanda. 

    Baca: Metamorfosa Jakarta dengan penataan fasilitas transportasi publik

    Setelah Indonesia merdeka pada Agustus  1945, sejumlah pembangunan dilakukan di Palembang.

    Pada 1962 dibangun Jembatan Ampera yang membentang di atas Sungai Musi. Hingga saat ini, Jembatan Ampera menjadi salah satu kebanggaan warga Kota Palembang.

    Penunjukan Sumatera Selatan sebagai tuan rumah PON turut mengubah wajah kota Palembang. Penetapan Palembang menjadi Kota Wisata Air dan tuan rumah bersama ASIAN Games 2018 melengkapi sejarah panjang kota Palembang. 

    Esti Utami, dari berbagai sumber. 

     

  • Tak Hanya di Senayan hingga Monas, Berikut Sejumlah Lokasi CFD di Jakarta

    Tak Hanya di Senayan hingga Monas, Berikut Sejumlah Lokasi CFD di Jakarta

    7cloud.asia – Car Free Day atau hari bebas kendaraan yang kemudian lebih dikenal dengan CFD hingga kini menjadi momen yang ditunggu warga Jakarta dan sekitarnya.

    CFD yang mulai dilakukan pada 2002 di Jakarta ini dipercaya mampu mengurangi emisi di kota-kota besar. Itu sebabnya CFD kini jamak dilakukan di sejumlah kota di Indonesia.

    Dari awalnya digelar sebulan sekali, kini CFD di Jakarta telah memiliki jadwal rutin mingguan, yakni setiap hari Minggu dari pukul 06:00 hingga pukul 11:00 waktu Indonesia Barat.

    Setiap kali CFD digelar, Jl. Jenderal Sudirman – Jl. M.H. Thamrin yang membentang dari  Bundaran Senayan ke Bundaran HI bahkan ke Monas yang biasanya padat kendaraan, disesaki oleh pejalan kaki. 

    Baca: Polusi udara di Jakarta semakin parah, saatnya beralih ke kendaraan listrik

    Saat 7cloud.asia berkesempatan mengikuti CFD akhir Juli lalu, berbagai kegiatan dilakukan warga. Ada yang menjadikan momen CFD ini untuk rekreasi, untuk olah raga ataupun kampanye. 

    Saat itu ada kampanye menolak plastik sekali pakai yang dilakukan oleh Koalisi Pawai Bebas Plastik. 

    Pemprov DKI Jakarta terlihat mendukung sepenuhnya gelaran CFD ini, namun tetap menjaganya untuk tidak menjadi ajang kampanye politik.

    Di sejumlah titik, saya menemukan spot sunscreen gratis yang bisa dimanfaatkan para pengguna CFD. 

    Baca: Ini yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta atasi polusi udara

    Tak hanya di Sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin, CFD ternyata juga dihelat di sejumlah kawasan lain di Jakarta. Berikut daftarnya sebagaimana dilansir di jakarta.go.id: 

    Jakarta Barat

    Jl. Gajah Mada dan Jl. Hayam Wuruk (dari persimpangan antara Zainul Arifin dan Gajah Mada/Hayam Wuruk dan Sukarjo Wiryopranoto sampai dengan persimpangan antara Gajah Mada/Hayam Wuruk dan Mangga Besar Raya, minggu kedua setiap bulan)

    Jakarta Pusat

    Jl. Suryopranoto (setiap hari Minggu ketiga setiap bulan, 06:00-11:00 WIB)

    Jakarta Timur

    Jl. Pemuda (dari persimpangan Pemuda dan Velodrome dan persimpangan Pemuda dan Bekasi Raya, minggu kedua dan keempat setiap bulan), Jl. R.A. Fadillah

    Baca: Jakarta sudah punya peta bersepeda loh!

    Jakarta Utara

    Jl. Danau Sunter Selatan (dari persimpangan Danau Sunter Selatan/Danau Permai Timur sampai dengan persimpangan Danau Sunter Selatan/Danau Sunter Utara, minggu ketiga setiap bulan)

    Jakarta Selatan

    Jalan layang non-tol Pangeran Antasari (setiap hari Minggu dalam setahun, 06:00-11:00 WIB)

    Jalan Dr. Saharjo dan jalan Minangkabau (dari U-turn kedua jalan s.d. persimpangan antara jalan Minangkabau/Dr. Saharjo dan jalan Sultan Agung (setiap hari Minggu pertama setiap bulan, 06:00-09:00 WIB)

    Baca: Bersepeda tak hanya ramah lingkungan tapi juga bisa jadi sarana mengenali kota

    Di Jakarta Selatan, CFD juga digelar di setiap kecamatan dengan lokasi sebagai berikut: 

    Kecamatan Pasar Minggu: Jalan Warung Jati Barat (dari persimpangan Jl. Pejaten Raya dan Jl. Warung Jati Barat s.d. persimpangan Jl. Warung Jati Barat dan Jl. Raya Ragunan), setiap hari Minggu pertama setiap bulan pukul 06:00-11:00 WIB.

    Kecamatan Jagakarsa: Jalan Lenteng Agung Timur (dari stasiun Lenteng Agung s.d. Jl. Lenteng Agung dan Jl. Komjen Polisi H. Jasin (kota Depok)), setiap hari Minggu pertama setiap bulan pukul 06:00-10:00 WIB.

    Kecamatan Cilandak: Sepanjang jalan Cipete Raya, setiap hari Minggu pertama setiap bulan pukul 06:00-10:00 WIB.

    Kecamatan Pancoran: Jalan TMP Kalibata (dari persimpangan antara Jl. Pasar Minggu Raya dan Jl. TMP Kalibata s.d. U-turn overpass Kalibata), setiap hari Minggu kedua setiap bulan pukul 06:00-11:00 WIB.

    Baca: Cara Pemkot Yogyakarta jadikan Malioboro kawasan rendah emisi

    Kecamatan Setiabudi: Sepanjang jalan Karet Pedurenan, setiap hari Minggu ketiga setiap bulan pukul 06:00-10:00 WIB.

    Kecamatan Kebayoran Lama: Jalan Sultan Iskandar Muda (dari persimpangan antara jalan K.H. Sya’fi Hadzami dan jalan Sultan Iskandar Muda s.d. persimpangan antara jalan Sultan Iskandar Muda dan jalan Cendrawasih Raya/Darma Putra Raya), setiap hari Minggu keempat setiap bulan pukul 06:00-10:00 WIB.

    Kecamatan Kebayoran Baru: Sepanjang jalan Petogogan I dan II, setiap hari Minggu keempat setiap bulan pukul 06:00-10:00 WIB.

    Kecamatan Pesanggrahan: Sepanjang jalan Kesehatan Raya, setiap hari Minggu keempat setiap bulan pukul 06:00-10:00 WIB.

    Kecamatan Tebet: Jalan Tebet Barat Dalam (dari persimpangan jalan Tebet Barat Dalam dan jalan Tebet Barat IX s.d. persimpangan jalan Prof. Dr. Soepomo dan jalan Tebet Barat Dalam), setiap hari Minggu keempat setiap bulan pukul 06:00-10:00 WIB.

    Baca: Kontroversi pengembangan kawasan rendah emisi di Inggris

     

  • Kota Surabaya Pernah Jadi Kota dengan Udara Terbersih di Asia Tenggara, Ini Resepnya

    Kota Surabaya Pernah Jadi Kota dengan Udara Terbersih di Asia Tenggara, Ini Resepnya

    7cloud.asia – Pada Oktober 2021 lalu Kota Surabaya meraih penghargaan sebagai kota besar dengan udara terbersih se Asia Tenggara.

    Seusai menerima penghargaan itu, Walikota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan penghargaan udara terbersih di tingkat ASEAN ini merupakan pertama kalinya dalam sejarah.

    Sebab, selama ini Surabaya belum pernah mendapatkan penghargaan sebagai kota dengan udara terbersih apalagi di tingkat ASEAN.

    Penobatan Surabaya sebagai kota besar dengan udara terbersih diterima pada akhir 2021. Lantas bagaimana kondisinya saat ini?

    Baca: Tiga kota di Indonesia masuk kategori ramah lingkungan di Asia Tenggara

    Saat 7cloud.asia mengecek kualitas udara Surabaya di IQAir, indeks PM 2,5 tercatat di angka 160, atau hanya 1 poin di bawah Jakarta. Artinya kualitas udara Surabaya juga tergolong tidak sehat.

    Tapi sejenak kita lupakan kondisi buruknya kualitas udara kota Surabaya saat ini. Menengok lebih jauh ke belakang, Surabaya bisa disebut sebagai salah satu kota di Indonesia yang sukses menata lingkungannya.

    Surabaya yang memiliki luas sekitar 333,063 kilometer ini sejak tahun 1990 dikenal sebagai salah satu kota terbersih di Indonesia.

    Tak hanya itu taman-taman kota yang rindang dapat ditemukan di hampir setiap sudut kota Surabaya.

    Baca: Polusi udara di Jabotabek sudah membahayakan, pemerintah diminta segera bertindak

    Taman yang ada di kota Surabaya di antaranya Taman Mundu, Taman Bungkul, Taman Undaan, Taman Surya, Taman Pelangi, Taman Jayengrono dan sebagainya.

    Bahkan,  pada tahun 2013 Taman Bungkul meraih penghargaan The Asian Townscape Award 2013 dari Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai taman terbaik di Asia.

    Penobatan Taman Bungkul sebagai taman terbaik di Asia tak lepas dari  fasilitasnya yang sangat lengkap.

    Tak hanya tanaman, Taman Bungkul juga dilengkapi kawasan ekonomi (sentra PKL), kawasan terbuka hijau, taman, kawasan disabilitas, internet (Wi-Fi) gratis, serta penataan taman yang baik.

    Baca: Polusi udara di Jakarta sudah mengkhawatirkan

    Memperbanyak taman kota atau ruang terbuka hijau, diakui Eri menjadi salah satu resep Kota Surabaya menekan polusi udara. 

    Eri juga menyebut, pengembangan kawasan mangrove yang tersebar di beberapa titik di Kota Surabaya menjadi cara lain untuk mengatasi polusi udara.

    Hutan mangrove itu, ujarnya, terus dikembangkan menjadi tempat wisata, sehingga dapat mengurangi polusi udara, sekaligus memperbaiki fungsi tanah dan air.

    Kini hutan mangrove di Kota Surabaya itu telah ditetapkan enjaid Kebun raya Mangrove pertama di Indonesia atau bahkan di dunia. 

    Baca: Mengenal manfaat ekologis dan manfaat ekonomi hutan mangrove

    Berdasarkan data Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DK RTH) Surabaya  luasan ruang terbuka hijau di Kota Pahlawan selalu bertambah.

    Pada 2009, luasan ruang terbuka hijau publik yakni 6.676,55 hektare atau 20,2 persen dari luas wilayah Surabaya. Sedangkan pada 2018 lalu, luasan RTH publik sudah mencapai 21,79% atau sama dengan 7.290,53 hektare.

    Sesuai Peraturan Menteri (Permen) PU nomor 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan diamanatkan bahwa proporsi RTH pada kawasan perkotaan minimal 30%.

    luasan RTH ini terdiri dari 20% ruang terbuka hijau publik dan 10% ruang terbuka hijau privat.

    Baca: 8 tanaman ini efektif menyerap polusi udara

    Saat masih menjabat menjadi Kepala Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau
    Eri mengatakan, kunci sukses Kota Surabaya dalam mengembangkan ruang terbuka hijau terletak pada mekanisme perawatannya.

    Dalam merawat taman, Pemkot Surabaya membentuk satgas yang dibagi tiap rayon. Ada rayon pusat, timur, barat, utara dan selatan.

    Setiap rayon memiliki tim masing-masing yang tugasnya menjaga dan merawat setiap taman. Tim inilah yang biasanya mengganti tanaman jika ada yang mati.

    “Biasanya satgas menyiram tanaman itu 1-2 kali kalau musim hujan. Tapi kalau musim panas, penyiraman dilakukan 3-4 kali. Mereka pun rutin melakukan pemupukan dengan memberikan kompos yang diolah sendiri,” kata Eri seperti dikutip detik.com.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

     

     

  • Yuk, Jalan-jalan ke Taman Bungkul di Kota Surabaya! Salah Satu Taman Terbaik di Asia

    Yuk, Jalan-jalan ke Taman Bungkul di Kota Surabaya! Salah Satu Taman Terbaik di Asia

    7cloud.asia – Taman Bungkul telah lama menjadi salah satu ikon dan kebanggaan masyarakat Kota Surabaya, Jawa Timur.

    Taman Bungkul juga kerap dijuluki sebagai oasisnya Kota Surabaya karena lokasinya strategis dekat hiruk pikuk lalu lintas dan aktivitas warga.

    Taman Bungkul yang terletak di Darmo, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya ini banyak wisatawan yang berkunjung ke Surabaya. 

    Dari Stasiun Surabaya Gubeng, misalnya, jaraknya 4 kilometer yang bisa dicapai dalam waktu 10 menit. 

    Tak hanya itu, kita bisa berkunjung ke Tamang Bungkul kapanpun, karena taman yang pernah dinobatkan sebagai taman terbaik di Asia ini buka 24 jam. Plus tidak ada tiket yang harus dibayar untuk berkunjung ke sana.

    Baca Juga: Kota Surabaya Pernah Jadi Kota dengan Udara Terbersih di Asia Tenggara, Ini Resepnya

    Keberadaan Taman Bungkul telah diakui dunia internasional melalui perolehan penghargaan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) berupa The Asian 2013 Townscape Sector Award.

    Pemberian penghargaan tersebut didukung oleh empat organisasi dunia, yaitu UN Habitat Regional Office for The Asia and The Pacific, Asia Habitat Society, Asia Townscape Design Society, dan Fukuoka Asia Urban Research Center.

    Penghargaan itu diterima oleh Walikota Surabaya saat itu Risma Triharini dalam sebuah resepsi di Fukuoka, Jepang.

    Dilansir dari laman Badan Perencana Pembangunan Kota Surabaya, fasilitas di Taman Bungkul cukup lengkap yakni jalur untuk papan seluncur (skateboard), plaza (panggung untuk pertunjukan atau kegiatan lainnya), WiFi gratis, penjual makanan, dan area bermain bagi anak-anak.

    Baca Juga: Kenali Beragam Jenis Tanaman Bakau di Kebun Raya Mangrove Surabaya

    Wisatawan juga bisa berfoto di beberapa spot Instagramable, salah satunya tulisan “Taman Bungkul” berukuran besar dan bercat putih.

    Usai menghabiskan waktu di taman Bungkul, kita bisa lanjut ke tempat wisata lainnya, di antaranya Patung Sura dan Baya dan Kebun Binatang Surabaya.

    Taman Bungkul melalui tahapan revitalisasi besar-besaran selama lebih dari dua tahun sebelum diresmikan pada 21 Maret 2007. Dana revitalisasi sebesar 1,3 miliar rupiah diperoleh dari bujet Corporate Social Responsibility (CSR) Telkom.

    Serah terima ke Pemkot Surabaya dilakukan oleh Direktur SDM Telkom kepada Wali Kota Surabaya (Bambang D.H.) dan ditandai dengan penandatanganan prasasti Taman Bungkul serta penanaman pohon sawo kecik sebagai simbol pohon langka.

    Baca Juga: Sejarah Panjang Palembang sebagai Kota Tertua di Indonesia

    Pada tahun 2014, Taman Bungkul kembali melalui proses revitalisasi akibat insiden pembagian es krim gratis yang mengakibatkan ribuan tanaman yang berasal dari 35 spesies rusak dan mati diinjak-injak massa. 

    Proses revitalisasi Taman Bungkul pada tahun 2014 dilakukan dengan menanam kembali spesies tanaman yang mati serta menambah spesies tanaman baru lainnya.

    Di samping itu, proses revitalisasi juga disertai dengan penambahan lubang biopori (resapan air) di sepanjang taman pada sisi Jalan Darmo.

    Dibandingkan dengan taman Lainnya Taman Bungkul memiliki beberapa kelebihan yang tidak ada pada taman-taman lain di Indonesia. Kelebihan tersebut antara lain:

    Amphitheater
    Amphitheater merupakan salah satu fasilitas unik dan bermanfaat yang ada di Taman Bungkul. Fasilitas yang satu ini terletak tepat di bagian tengah taman dengan bentuk melingkar dan berdiameter 33 m.

    Bagian tepinya dilengkapi pilar-pilar batu yang berfungsi sebagai tempat duduk penonton. Amphitheater sering dimanfaatkan untuk menggelar acara musik dan beragam kesenian lain yang berasal dari dalam dan luar negeri.

    Ketika tidak sedang digunakan, amphitheater dapat difungsikan sebagai wahana bermain anak-anak. Diameternya yang lebar membuat anak-anak leluasa bermain dan berlari-lari sambil menikmati suasana asri Taman Bungkul.

    Baca Juga: Taman Toga di Desa Sidomulyo Boyolali Ini Diharapkan Jadi Pusat Komunitas

    Akses WI-Fi Gratis
    Kita juga bisa memanfaatkan akses wi-fi gratis berkecepatan tinggi saat berada di Taman Bungkul. Urusan pekerjaan atau sekadar berselancar di dunia maya pun akan berlangsung lancar dengan dukungan fasilitas yang satu ini.

    Jogging Track yang Teduh
    Keistimewaan lain yang dimiliki Taman Bungkul adalah keberadaan jogging track dengan jalur yang cukup panjang. Jalur jogging track tertata rapi sehingga membuat para pengunjung taman leluasa berolahraga.

    Di sepanjang jalur tersebut, terdapat pepohonan yang membuat suasana jogging track semakin rindang. Jogging track Taman Bungkul juga bersisian langsung dengan makam Mbah Bungkul yang dikelola sebagai destinasi wisata religi.

    Area Bermain Anak (Playground Area)
    Ketersediaan area bermain anak membuat Taman Bungkul menjadi RTH yang ramah anak. Lokasi area bermain anak terletak di sebelah kiri taman.

    Ada beberapa fasilitas bermain anak seperti perosotan, ayunan, dan jungkat-jungkit yang berwarna cerah dan menarik perhatian. Suasana yang teduh membuat anak-anak betah bermain lama di taman yang satu ini.

    Baca Juga: Mengenal Kota Salatiga, Salah Satu Kota Terindah dan Tertua di Indonesia

    Sentra Pedagang Kaki Lima (PKL) yang Tertata Rapi
    PKL di Taman Bungkul sudah ditempatkan di sentra khusus dengan kondisi tempat yang tertata rapi dan nyaman dikunjungi.

    Tak sedikit karyawan kantoran, para remaja, dan masyarakat kelas ekonomi menengah ke atas yang sering singgah ke sentra PKL Taman Bungkul karena lokasinya strategis, bersih, dan sangat nyaman.

    Penataan PKL ala taman populer ini membuktikan bahwa PKL tak selalu identik dengan masyarakat kelas menengah ke bawah.

    Para PKL yang dikelola Taman Bungkul dapat meraup keuntungan besar dari hasil dagangannya, terutama pada akhir pekan dan hari libur.

    Skate dan BMX Track
    Taman Bungkul juga memiliki fasilitas berupa skate dan BMX track. Fasilitas tersebut sering dimanfaatkan oleh anak muda Surabaya untuk berlatih atau sekadar bermain sambil bersantai bersama teman-teman.

    Baca Juga: Mengenal Kota Kupang, dari Lai Kopan yang Diperebutkan Belanda dan Portugis

    Fasilitas Keran Air Siap Minum (KASM)
    Keberadaan fasilitas ini membuat masyarakat dan wisatawan yang sedang mengunjungi Taman Bungkul tidak perlu repot membeli air minum.

    Selain mendukung upaya penghematan, KASM juga efektif mengurangi jumlah sampah botol plastik.

    Itulah sebabnya KASM tersebut harus dikelola secara serius supaya tidak rusak dalam waktu lama dan dapat melatih masyarakat untuk disiplin menggunakan fasilitas umum.

    Sistem Keamanan Canggih
    Dari sisi keamanan, Taman Bungkul dilengkapi CCTV yang memadai.

    Sistem keamanan yang canggih dan ketat tersebut membuat masyarakat dan wisatawan leluasa beraktivitas di taman tanpa mengkhawatirkan risiko tindak kriminalitas.

    Baca Juga: Makna Sumbu Filosofi dalam Tata Kota Yogyakarta

    Pengelolaan Sampah yang Tertata Rapi
    Taman Bungkul juga dikenal unggul dalam hal sistem pengelolaan sampah. Hal ini dapat dilihat dari keberadaan empat jenis tempat sampah di sudut-sudut taman.

    Empat warna tempat sampah yang berbeda bertujuan untuk mengklasifikasikan jenis sampah dengan ketentuan sebagai berikut:

    Merah: khusus sampah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) seperti obat nyamuk, bekas deterjen, bahan beling, dan jenis sampah bahan kimia lainnya.

    Kuning: khusus sampah non organik seperti botol plastik, plastik kemasan makanan, gelas bekas air mineral, dan lainnya. Sampah non organik dapat diolah menjadi produk daur ulang.

    Hijau: khusus sampah organik seperti sisa makanan, dedaunan kering, dan sayuran. Jenis sampah ini bisa diolah menjadi pupuk kompos.

    Biru: khusus sampah berbahan kertas.

    Baca Juga: Prinsip Alon-alon Waton Kelakon, Yogyakarta Layak Jadi Slow City

    Car Free Day
    Setiap Minggu pagi, kawasan di sekitar Taman Bungkul dijadikan area car free day pada pukul 06.00-09.00.

    Rutinitas car free day membuat masyarakat Surabaya leluasa berolahraga, jalan santai, atau sekadar menikmati keindahan Taman Bungkul.

    Biasanya momen car free day tersebut juga sering dimanfaatkan untuk menggelar acara senam atau olahraga ringan bersama.

     

  • Jika Pembatasan Kendaraan Bermotor Sukses, Jakarta Bisa Ucapkan Bye-bye Kemacetan dan Polusi Udara

    Jika Pembatasan Kendaraan Bermotor Sukses, Jakarta Bisa Ucapkan Bye-bye Kemacetan dan Polusi Udara

    7cloud.asia – Memburuknya polusi udara di Jakarta dan sekitarnya membuat sejumlah pihak menyoal kebijakan pemerintah dalam membatasi kepemilikan kendaraan bermotor.

    Meski bukan sumber utama, kemacetan akibat tingginya penggunaan kendaraan bermotor juga menjadi penyumbang tingginya polusi udara di Jakarta dan sekitarnya. 

    Pemerintah dinilai masih gamang dalam terkait kebijakan pembatasan kepemilikan kendaraan bermotor sehingga kemacetan dan polusi udara di Jakarta tak kunjung teratasi.

     

    Kebijakan yang dimunculkan pemerintah untuk atasi kemacetan yang kemudian memicu polusi udara di Jakarta seolah berjalan sendiri-sendiri dan sering tidak berlangsung lama.

    Baca: Kebijakan pembatasan kendaraan bermotor dipertanyakan

    Kebijakan jalan berbayar atau electronic road pricing (ERP) misalnya, hingga kini belum diterapkan, meski sebenarnya kebijakan ini sangat penting untuk mengatasi kemacetan dan polusi udara di Jakarta.

    Selain ERP, Pemprov DKI Jakarta juga menerapkan sistem ganjil genap, tarif parkir mahal di lokasi-lokasi tertentu.

    Namun pelaksanaan ini masih belum efektif mengurangi kemacetan dan polusi udara di Jakarta.

    Rahmad Wandi Putra, Transport Associate ITDP Indonesia dalam tulisannya “Manajemen Pengendalian Lalu Lintas: Pendekatan Terpadu Mengatasi Kemacetan” menyebut, harus ada pergeseran paradigma terkait masalah ini.

    Baca: Transisi ke kendaraan listrik dinilai tak selesaikan akar masalah

    Paradigma itu adalah dengan intervensi yang berorientasi pada pengendalian dan pembatasan penggunaan kendaraan bermotor atau TDM. 

    “Beberapa kota telah menerapkan strategi TDM yang komprehensif untuk mengatasi masalah kemacetan, seperti Singapura dan Stockholm, Swedia,” ,” tulis Rahmad dalam artikel yang dirilis di laman resmi ITDP tersebut.

    Pada tahun 2007, Stockholm, Swedia, memperkenalkan pajak kemacetan (yang merupakan push strategy) di pusat kota.

    Saat pertama diterapkan, kebijakan ini mendapatkan penolakan besar-besaran dari masyarakat setempat.

    Baca: Kota ini sukses terapkan konsep TOD, dan ini manfaat yang dirasakan warganya

    Namun pemerintah memitigasi masalah tersebut dengan meningkatkan layanan bus untuk mengakomodasi para pengemudi yang terkena dampak (pull strategy).

    “Hasilnya, terjadi peningkatan 10-15% jumlah penumpang bus ke pusat kota Stockholm dan volume lalu lintas secara keseluruhan menurun sebesar 20%,” terang Rahmad.

    Dari kebijakan ini, pemerintah Swedia mendapatkan sumber pendapatan baru yang kemudian dialokasikan untuk meningkatkan infrastruktur transportasi Stockholm.

    Contoh lain dari keberhasilan implementasi kebijakan TDM dapat dilihat di Singapura. 

    Baca: Kontroversi kebijakan menurunkan penggunaan kendaraan bermotor di Inggris

    Bahkan sebelum skema Electronic Road Pricing (ERP) diterapkan pada tahun 1998, Singapura telah menerapkan beberapa push and pull strategy untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di kotanya.

    Skema Lisensi Area/Area License Scheme (ALS) dan Sistem Kuota Kendaraan/Vehicle Quota System yang push strategy lainnya diterapkan masing-masing pada tahun 1975 dan 1990 untuk membatasi penggunaan dan pertumbuhan kendaraan bermotor.

    Di sisi pull strategy, selain memperluas sistem bus dan kereta (sistem MRT dan LRT), Singapura juga berhasil menerapkan sistem pembayaran transportasi publik massal yang terintegrasi untuk menghindari kerumitan saat berpindah dari bus, MRT, dan LRT.

    Sistem pembayaran itu saat ini telah ditingkatkan beberapa kali, dari pembayaran luring berbasis kartu pada tahun 2000-an menjadi daring berbasis akun yang dimulai pada tahun 2017.

    Baca: Pengembangan kawasan berkonsep TOD di Jakarta

     

     

    Di Jakarta, pendekatan TDM telah diterapkan untuk mengatasi kemacetan lalu lintas melalui beberapa kebijakan yang bersifat push dan pull.

    Pada tahun 2003, pemerintah memperkenalkan skema “3-in-1“, sebuah push strategy di mana hanya kendaraan berpenumpang banyak (High Occupancy Vehicle/HOV) yang diisi setidaknya tiga orang, termasuk pengemudi, diizinkan untuk melewati koridor-koridor tertentu.

    Namun, kebijakan ini tidak efektif karena munculnya fenomena joki 3-in-1. Kebijakan ini kemudian diubah menjadi Pembatasan Plat Nomor Ganjil-Genap pada tahun 2016.

    Pembatasan ini masih berlaku hingga sekarang, namun penelitian menunjukkan bahwa kebijakan ini memicu peningkatan jumlah kepemilikan kendaraan dalam satu rumah tangga. 

    Baca: Metamorfosa Jakarta melalui penataan transportasi publik

    Saat ini, Pemprov DKI Jakarta sedang merumuskan kebijakan mengenai jalan berbayar melalui skema ERP sebagai perbaikan dari kebijakan pembatasan ganjil-genap.

    “Di sisi pull strategy, pemerintah mulai mengoperasikan jalur Bus Rapid Transit (BRT) pertama pada tahun 2004 yang telah diperluas menjadi 251 kilometer,” ujar Rahmad. 

    Jalur MRT pertama beroperasi pada tahun 2019 dan akan diperluas untuk mencakup perpanjangan koridor Utara-Selatan dan penambahan koridor Timur-Barat.

    Pada tahun 2020, Pemerintah Jakarta menerapkan sistem integrasi tarif di bawah JakLingko yang menawarkan insentif bagi warga untuk melakukan perjalanan ke kantor atau berkeliling Jakarta dengan menggunakan transportasi umum.

    Baca: Stasiun Manggarai bakal jadi stasiun sentral Jakarta

    Ada pula upaya lain seperti perluasan trotoar dan infrastruktur bersepeda untuk mempromosikan koneksi first-last mile transportasi tidak bermotor dari dan ke titik transit transportasi publik.

    Menurut Rahmad, penerapan TDM tidak hanya relevan untuk Jakarta, namun juga untuk kota-kota lain di Indonesia karena kemacetan lalu lintas semakin menjadi masalah perkotaan yang umum.

    Belajar dari Jakarta, kota-kota di Indonesia harus mulai menyadari bahwa perluasan jalan, termasuk pembangunan jalan tol dalam kota, bukanlah pendekatan yang efektif dan tepat untuk mengatasi atau mencegah kemacetan.

    Pemkot lebih baik mengalokasikan lebih banyak investasi untuk transportasi publik dan peningkatan aksesibilitas transportasi tidak bermotor.

    Pemkot juga perlu mulai menerapkan langkah-langkah untuk memberikan disinsentif bagi penggunaan kendaraan bermotor pribadi, misalnya dengan meningkatkan manajemen ruang dan tarif parkir.

    Baca: Kota Surabaya pernah jadi kota dengan udara erbersih di Asia Tenggara

     

  • Pemprov DKI Jakarta Akan Tambah 800 Ruang Terbuka Hijau untuk Atasi Polusi Udara

    Pemprov DKI Jakarta Akan Tambah 800 Ruang Terbuka Hijau untuk Atasi Polusi Udara

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan menambah 800 titik ruang terbuka hijau (RTH) guna mengatasi polusi udara yang sudah mengkhawatirkan.

    Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono mengatakan penambahan ruang terbuka hijau (RTH) ini untuk tahap pertama akan dilakukan di setiap kelurahan di seluruh Kota.

    “DKI Jakarta juga menambah ruang terbuka hijau (RTH) sekitar 800-an titik. Jadi, tahap pertama itu 256 titik di tiap kelurahan, kemudian itu terus berlanjut,” jelas Budi usai kegiatan penanaman pohon di kolong Tol Becakayu, Duren Sawit, Jakarta Timur, Sabtu (19/08/2023).

    Baca: Ini kiat Kota Surabaya jadi kota dengan udara terbersih

    Sejak bulan Juli, lanjut Heru, pihaknya konsisten menanam pohon untuk menghijaukan Jakarta. Hal sekaligus upaya menambah ruang terbuka hijau (RTH)

    Dalam kurun waktu satu bulan tersebut, sebanyak 25.000 pohon setinggi tiga meter telah ditanam, seperti Ketapang Cendana dan Tabebuya.

    Di Kolong Tol Becakayu ini Pemprov DKI Jakarta menanam 1000 pohon Ketapang Kencana di kolong Tol Becakayu sepanjang 4,2 kilometer. Penanaman pohon ini bekerjasama dengan pihak swasta yaitu Maybank.

    Baca: Tiga kota di Indonesia masuk sebagai kota ramah lingkungan

    Pada kesempatan itu, Heru juga menjelaskan untuk memperbaiki kualitas udara di Jakarta perlu kerjasama yang masif dari semua pihak.

    Karena itu ia mengimbau seluruh stakeholder yang ada di Jakarta untuk ikut mengampanyekan gerakan memperbaiki kualitas udara.

    “Khusus di kawasan Tol Becakayu, ada penghijauan yang dilakukan sepanjang 5,2 kilometer yang sudah dan akan terus dilakukan. Jadi, bisa dihitung bahwa kita sudah menyumbang nilai positif untuk menurunkan suhu. Karena, sudah banyak pohon yang kita tanam di sini,” papar Heru.

    Baca: Lokasi CFD di Jakarta yang tersebar di lima wilayah

    Sebelum ditanam pohon Ketapang, kawasan kolong Tol Becakayu juga telah ditanam tanaman produktif, seperti bayam, kangkung, cabai, dan sawi.

    “Dengan demikian, warga sekitar juga dapat memanfaatkan tanaman-tanaman tersebut, selain dapat menurunkan suhu minimal dua derajat,” ujar Budi.

    Seperti diketahui polusi udara di Jakarta sudah mengkhawatirkan. Dalam beberapa bulan terakhir udara di Jakarta tergolong tidak sehat. Bahkan Jakarta termasuk sebagai kota terpolusi di dunia.

    Penulis: Nurakhmayani

  • Temukan Sanctuary untuk Sesi Slow Living di Tengah Kota yang Sibuk

    Temukan Sanctuary untuk Sesi Slow Living di Tengah Kota yang Sibuk

    7cloud.asia – Menjalani slow living memang lebih mudah dilakukan di kota kecil atau daerah pedesaan. 

    Namun hal ini bukan berarti konsep slow living tidak bisa diterapkan di kota besar yang sibuk. Karena sejatinya slow living adalah cara kita berpikir, jaid selama kita berpikir bisa maka slow living pun bakal terlaksana dengan sendirinya

    Jadi, kita tetap saja bisa menjalankan slow living di keseharian kota yang padat. Jika kamu bertanya bagaimana caranya, berikut salah satu jawaban yang diberikan vanillapapers.net

    Baca: Memulai hari ala penganut slow living

    Kita bisa mulai menyisipkan sesi slow living di kota besar dengan menemukan tempat yang tenang di sudut kota dan menjadikannya sebagai sanctuary untuk menikmati me time.

    Baik itu kafe lingkungan atau taman sudut, temukan beberapa tempat sepi di kota untuk istirahat makan siang dan berjalan-jalan di akhir pekan.

    Yakini tempat-tempat ini akan menjadi cara efektif untuk mulai menyisipkan sesi slow living dalam hidup kamu.

    Baca: Salah kaprah soal konsep slow living

    Mulai sekarang mulailah berburu tempat tujuan di kota tempat kamu tinggal, di mana kamu dapat beristirahat, membuat jurnal, atau piknik keluarga di akhir pekan.

    Jika kamu tinggal di kota dekat air, masukkan kawasan itu itu ke dalam rencana perjalanan Anda. Studi menunjukkan bahwa air membuat orang lebih bahagia dan lebih tenang.

    Dan air adalah oasis yang sangat dibutuhkan dari kota metropolitan yang dipenuhi beton.

     

    Baca: Mulai jalani slow living dan rasakan beragam manfaat ini

    Cara lainnya adalah dengan menjadikan liburan ini di kalender kamu, dan lanta smenjadikannya sebagai dating dengan dirimu sendiri.

    “Jadikan ini sebagai hal penting, sama pentingnya dengan rapat kerja apa pun,” demikian vanillapapers.net menulis.

    Berikut adalah beberapa tempat tenang untuk bersantai di kota yang sibuk:

    1. Taman lingkungan, beruntung kini sejumlah kota di Indonesia mulai tergerak membangun taman atau ruang terbuka hijau yang nyaman.

    Baca: Cara menerapkan konsep slow living di dunia kerja

    2. Lingkungan perumahan yang tenang di mana kita dapat berjalan-jalan santai (jika kotamu sangat sibuk, pergilah ke sana di pagi hari atau akhir pekan saat belum terlalu ramai)

    3. Perpustakaan dengan ruang baca yang luas tempat kita dapat membaca novel atau menulis jurnal

    4. Kebun raya atau museum unik yang nggak biasa

    5. Kafe yang tenang atau lounge luar ruangan dengan pemandangan indah

    Baca: Mengapa multitasing tak selaras dengan slow living

  • Temukan Suasana Malioboro di Jalan Cihideung Tasikmalaya

    Temukan Suasana Malioboro di Jalan Cihideung Tasikmalaya

    7cloud.asia – Orang bilang, Jalan Haji Zaenal Mustofa dan Jalan Cihideung Tasikmalaya, Jawa Barat kini mirip dengan kawasan Malioboro, Yogyakarta.

    Pedestrian di Jalan Cihideung Tasikmalaya ini kini telah ditata rapi sehingga nyaman bagi pengunjung. Trotoarnya dilebarkan, sejumlah tempat duduk ditambahkan, dan sejumlah fasilitas akan ditambahkan kemudian.

    Jalan Cihideung Tasikmalaya ini memang cukup ikonik bagi masyarakat setempat. Bahkan sejak dulu ada istilah belum ke kota Tasikmalaya kalau belum ke Jalan Cihideung.

    Kini Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Tasikmalaya terus mengampanyekan nama Jalan Cihideung Tasikmalaya ini menjadi tujuan wisata Tasikmalaya.

    Jalan Cihideung Tasikmalaya dalam ejaan lama atau Tjihideung dipromosikan menjadi merek kawasan ini.

    Baca: Jalan Malioboro ditata sesuai posisinya di sumbu filosofi

    Untuk tujuan itu Disporabudpar Tasikmalaya terus menata Jalan Cihideung Tasikmalaya ini. PKL ditata, selain mengatur jumlah pedagang, juga mengatur komoditas yang dijual.

    Tempat berjualan juga ditata lebih rapi, tidak sekadar tenda-tenda. Dinas Pariwisata Tasikmalaya juga menentukan spot-spot bagi musisi yang mau tampil di akhir pekan.

    Selain itu pedestrian Jalan Cihideung Tasikmalaya juga dilengkapi fasilitas pendukung. Mulai dari tempat duduk, toilet dan fasilitas lainnya.

    Pihak Disporabudpar juga berusaha melakukan promosi dan branding Jalan  Cihideung Tasikmalaya menjadi destinasi wisata Tasikmalaya.

    Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta

    “Walaupun memang konsepnya mirip Malioboro, tapi selama ini kami berusaha mem-branding kawasan ini dengan nama Tjihideung, bukan Malioboro Tasik,” ujar Kepala Disporabudpar Kota Tasikmalaya Deddy Mulyana seperti dikutip detik.com.

    Deddy optimistis koordinasi lintas dinas dalam melakukan penataan HZ Mustofa dan Jalan Cihideung ini akan terwujud. 

    Sebelumnya banyak warga pengunjung kawasan pedestrian Jalan Cihideung Tasikmalaya menyesalkan kawasan ini penuh oleh PKL.

    Kawasan Jalan Cihideung yang berdekatan dengan Masjid Agung Tasikmalaya ini dulunya semrawut dan kumuh.

    Baca: Penataan Terowongan Stasiun Tugu Yogyakarta

    Saat 7cloud.asia mengunjungi kawasan ini pada Senin (21/8/2023) sudah tampak lebih rapih.

    Beberapa bangku berbentuk sepatu raksasa kelom geulis khas Tasikmalaya nan cantik tampak menghiasi tempat ini.

    Pemandangan ini juga dipercantik dengan ratusan payung kecil berwarna warni
    serta dihiasi lampu yang tergantung. Ada pula payung kuncup emas dan bola-bola berwarna warni.

    Suasana seperti di Malioboro tambah terasa dengan adanya tiang-tiang berserta
    lampunya yang khas. Tak heran tempat ini menjadi spot favorit pengunjung untuk
    berfoto.

    Baca: Cerita Kota Palembang, kota tertua di Indonesia

    Sembari ber-selfi ria, para pengunjung dapat leluasa menikmati aneka
    kuliner yang ditawarkan sepanjang jalan.

    Beraneka macam minuman, makanan tradisional maupun makanan barat, aneka
    macam toko yang menjajakan berbagai jenis baju, sepatu, tas, perhiasan, dll
    memenuhi sepanjang jalan ini.

    Pedagang kaki lima juga tampak menjajakan dagangannya ke pengunjung.

    Meski banyak pengunjung yang berlalu lalang di kawasan ini, tetapi bukan berarti
    para pedagang dapat meraup untung berlebih.

    Baca: Cerita Kota Salatiga, tentang kesalahan yang ketiga kalinya

    Seperti Endang, salah seorang pedagang perabotan rumah tangga. Kepada 7cloud.asia Endang mengaku hanya bisa mengantongi Rp100ribu hingga Rp200 ribu saja sehari.

    Padahal dahulu, sebelum penataan kawasan ini, ia bisa mendapat hingga 600 ribu sehari.

    “Jauh beda, Neng. Sekarang mah susah. Dapet 200 ribu aja dah bagus. Karena orang mau parkir susah sekarang. Harus jauh jalannya,” kata Endang, Senin (21/08/2023).

    Meski demikian, Endang masih mensyukuri dirinya tidak diusir oleh petugas satpol PP karena menjajakan dagangannya di pinggir Jalan Cihideung Tasikmalaya

    Baca: Sejarah Jakarta tercipta sejak dulu kala

    Laki-laki berusia 60 tahun ini selanjutnya menjelaskan pengunjung yang datang
    umumnya hanya berjalan-jalan dan sibuk ber-selfie. Apalagi saat malam atau malam minggu. Kawasan ini tampak begitu cantik untuk jadi spot foto.

    Sebelumnya, pemerintah daerah setempat sudah melakukan pembenahan
    trotoar untuk pedestrian di Jalan Cihideung Tasikmalaya ini

    Pembenahan trotoar ini memakan waktu 3 bulan sejak Juli 2022 dan dengan dibiayai APBD Tasikmalaya sebesar Rp 11 Miliar.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Polusi Udara di Jakarta Masih Juara Dunia, Warga Diminta Mengenakan Masker Saat Berada di Luar Ruangan

    Polusi Udara di Jakarta Masih Juara Dunia, Warga Diminta Mengenakan Masker Saat Berada di Luar Ruangan

    7cloud.asia – Kualitas udara sebagai imbas polusi udara di Jakarta belum kunjung membaik.

    Jakarta masih tercatat sebagai ibukota dengan polusi udara terburuk di dunia.

    Dipantau dari situs IQAir pada Rabu (23/8/2023) pukul 15.23 WIB kemarin, Jakarta menempati posisi pertama dengan indeks kualitas udara terburuk dengan indeks PM 2,5 sebesar 178. Ini artinya polusi udara di Jakarta masih tinggi.

    Baca: WFH tidak berdampak signifikan kurangi polusi udara di Jakarta

    Dengan status tersebut udara Jakarta masuk kategori tidak sehat, karena nilai konsentrasi polutan PM 2,5 di Jakarta 21.4 kali panduan kualitas udara tahunan WHO.

    Sementara posisi kedua ditempati oleh Kuwait City dengan indeks kualitas udara
    163 dan urutan ketiga adalah Dubai dengan indeks kualitas udara 157.

    Dipantau pagi ini, kualitas udara Jakarta sedikit membaik dengan indeks PM 2,5 sebesar 162, dan berada di posisi kedua setelah Dubai yang indeks PMS 2,5 tercatat 166.

    Baca: Kebijakan WFH di Jakarta harus didukung dengan kebijakan lainnya

    Dengan kualitas udara seperti itu, IQAir menyarankan agar membatasi aktivitas di luar ruangan. Apalagi untuk kelompok usia rentan seperti anak-anak, ibu hamil dan orangtua.

    Jika memang harus melakukan aktivitas di luar ruangan, masyarakat diimbau mengenakan masker saat berada di luar ruangan.

    Selain itu, jika memiliki penyaring udara maka dapat menyalakan penyaring udara agar udara dapat jernih kembali.

    Baca: Pembatasan jumlah kendaraan sudah mendesak dilakukan

    Masyarakat juga dihimbau untuk menutup jendela guna menghindari polusi udara
    dari luar.

    Terpisah, Guru Besar Bidang Pulmonologi dan Respirasi Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp. P(K), FISR, FAPSR menyebut polusi udara di Jakarta ini mengancam kesehatan.

    Karena itu. ia mengajak masyarakat untuk mengenakan masker kain yang dilapisi filter untuk particulate matter (PM) 2.5 saat polusi udara sangat tinggi seperti sekarang.

    Baca: Langkah pemerintah atasi polusi udara di Jakarta

    “Ini bisa jadi solusi murah, yakni masker kain ditambah filter untuk PM 2.5. Ini banyak di toko daring jual filter untuk PM 2.5 harganya Rp10 ribu,” ujar Agus dalam konferensi pers yang diikuti secara daring di Jakarta, Rabu (23/08/2023).

    Cara ini disebut sefektif menyaring 95 – 99 persen partikulat. Selain itu,
    masyarakat juga bisa menggunakan N95, KF94 dan masker bedah.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Polusi Udara Hari Ini: Kualitas Udara Kota Depok Masih Sangat Tidak Sehat

    Polusi Udara Hari Ini: Kualitas Udara Kota Depok Masih Sangat Tidak Sehat

    7cloud.asia – Polusi udara di sejumlah kota di Indonesia masih belum sepenuhnya teratasi.

    Tak hanya Jakarta, tercatat ada 10 kota dengan kualitas udara tidak sehat pada Jumat (25/8/2023) karena polusi udara yang sangat tinggi. 

    Baca: berbagai opsi jangka pendek untuk atasi polusi udara di Jakarta

    Setelah kemarin sempat turun ke posisi ke-9 dengan indeks PM 2,5 tercatat sebesar 163 poin, hari ini polusi udara di Jakarta kembali memburuk sehingga kadar PM 2,5 naik menjadi 166.

    Kota Depok, Jawa Barat masih berada di peringkat pertama terkait polusi udara ini dengan kadar PM 2,5 tercatat sebesar 218 atau masuk kategori sangat tidak sehat. 

    Baca: KLHK segel empat perusahaan yang diduga biang polusi udara di Jakarta

    Berikut daftar 10 kota dengan polusi udara terburuk di Indonesia seperti dilansir  IQAir pada pukul 09.13 waktu Indonesia barat.

    1. Kota Depok, Jawa Barat dengan kadar PM 2,5 sebesar 218

    2. South Tangerang, Banten (183)

    Baca: Razia emisi harusnya juga dilakukan di kawasan industri

    3. Jakarta, Jakarta (166)

    4. Kota Bandung, Jawa Barat (162)

    5. Kabupaten Serang, Banten (161)

    6. Karawang, Jawa Barat (159)

    Baca: Transisi ke kendaraan listrik dinilai tak selesaikan akar masalah polusi udara di Jakarta

    7 Kota Tangerang,  Banten (159)

    8. Pasarkemis, Jawa Barat (158)

    9. Cibinong, Jawa Barat (156)

    10. Cileungsie, Jawa Barat (155)

    Baca: Polusi udara di Jakarta parah, pembatasan kendaraan mendesak dilakukan