Tag: kualitas udara

  • Rabu Pagi, Kondisi Udara Jakarta Kembali Memburuk  

    Rabu Pagi, Kondisi Udara Jakarta Kembali Memburuk  

     

    7cloud.asia – Kondisi udara di Jakarta pada Rabu (08/112023) kembali memburuk. Dilihat dari situs IQAir pada pukul 08.12 WIB, Jakarta berada di posisi ke tujuh dengan indeks kualitas udara 165 dan status tidak sehat.

    Peringkat ini berada di bawah Kota Mumbai, India dengan indeks kualitas udara (IQAir) berada pada angka 165 dengan status yang sama dengan Jakarta.

    Di situs tersebut terpantau di Jakarta nilai konsentrasi polutan PM 2,5 di Jakarta saat ini 16,4 kali nilai panduan kualitas udara tahunan WHO.

    Posisi pertama indeks kualitas udara terburuk adalah kota Lahore, Pakistan dengan IQAir 447.

    Posisi kedua adalah Kota Delhi, India dengan nilai IQAir 392. Sedangkan posisi ketiga adalah Kota Karachi, Pakistan dengan nilai IQAir 269.

    baca: masalah lingkungan terbesar 2023 polusi udara

    Humas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Yogi Ikhwan menjelaskan dengan kualitas udara seperti ini setiap orang masih dapat beraktivitas di luar tanpa masker.

    Tetapi untuk kelompok sensitif diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar serta tetap menggunakan masker saat di luar ruangan. 

    “Artinya, tingkat kualitas udara yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika,” ungkap Yogi.

    Selanjutnya Yogi menjelaskan Pemprov DKI Jakarta telah melakukan berbagai usaha untuk memperbaiki kualitas udara di Jakarta.

    baca: usai hujan kualitas udara di jakarta membaik

    Diantaranya melakukan penertiban kepada industri yang tidak melaksanakan perawatan dan pengelolaan pada cerobong untuk emisi tidak bergerak.

    Berdasarkan data Satgas Pengendalian Pencemaran Udara DKI Jakarta per 15 September 2023 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan maupun DLH Provinsi DKI Jakarta telah menertibkan enam perusahaan stockpile batu bara.

    Selain itu, pemprov DKI Jakarta bekerjasama dengan polda metro jaya sejak 1 November lalu juga melakukan razia uji emisi bagi kendaraan yang berusia diatas 3 tahun.

    Pemprov DKI Jakarta juga menyediakan tempat pelaksanaan uji emisi di 333 bengkel untuk kendaraan roda empat dan 107 bengkel untuk kendaraan roda dua.

    baca: dapatkah tanaman membersihkan udara dalam ruangan kita

    Upaya lain yang dilakukan untuk mengurangi polusi udara adalah melakukan Teknik Modifikasi Cuaca (TMC) dengan melakukan hujan buatan.

    Pemprov DKI Jakarta juga mengimbau gedung-gedung tinggi di Jakarta memasang pompa air bertekanan tinggi (water mist generator).

    Penyiraman jalan-jalan protokol telah dilakukan sejak pertengahan Agustus lalu hingga Oktober. Hingga kini sudah 215 lokasi yang disiram, melibatkan 270 mobil dan personel sekitar 800 orang.

    Repoter: Nurakhmayani

     

     

     

     

  • Kualitas Udara Jakarta Membaik Tapi Masih Masuk Kategori Tidak Sehat

    Kualitas Udara Jakarta Membaik Tapi Masih Masuk Kategori Tidak Sehat

    7cloud.asia – Kualitas udara di Jakarta pada Senin pagi ini semakin membaik menempati peringkat 30 setelah sebelumnya menempati peringkat teratas sebagai kota dengan udara terburuk di dunia.

    Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 05.36 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada pada angka 88 atau masuk ke dalam kategori sedang.

    Kondisi polusi udara  dan nilai konsentrasi PM2.5 di Jakarta tercatat 29,7 mikrogram per meter kubik. Angka itu memiliki penjelasan tingkat kualitas udara Jakarta tidak sehat bagi kelompok sensitif.

    Dengan kondisi kualitas udara seperti ini, udara Jakarta dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

    Baca: MA kabulkan gugatan warga soal polusi udara 

    Sedangkan kategori baik yakni tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 0-50.

    Kemudian, kategori sedang yakni kualitas udaranya yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 51-100.

    Lalu, kategori sangat tidak sehat dengan rentang PM2,5 sebesar 200-299 atau kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar.

    Terakhir, berbahaya (300-500) atau secara umum kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi.

    Baca: Dampak polusi udara pada kesehatan

    Kota dengan kualitas udara terburuk urutan pertama yaitu

    1.Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina di angka 343,

    2.Dhaka, Bangladesh di angka 291,

    3.Kuwait City, Kuwait di angka 234,

    4.Chengdu, Cina di angka 221,

    5.Lahore, Pakistan di angka 215,

    6. Delhi, India di angka 199.

    7.Kolkata, India di angka 188,

    Baca: Polusi udara dapat memicu hipertensi

    8.Kabul, Afghanistan di angka 170,

    9.Doha, Qatar di angka 169,

    10.Dubai, Uni Emirat Arab di angka 152,

    11.Bishkek, Kyrgyzstan di angka 152,

    12.Skopje, Makedonia di angka 151.

    13.Hanoi, Vietnam di angka 145,

    14.Phnom Penh, Kamboja di angka 140,

    15.Mumbai, India di angka 137.

    Baca: 8 Tanaman ini efektif kurangi polusi udara

    Seperti diketahui MA telah mengabulkan gugatan soal polusi udara di Jakarta yang diajukan Koalisi Inisiatif Bersihkan Udara Kota dan Semesta (IBUKOTA), sehingga Pemerintah harus segera melakukan tindakan untuk menurunkan polusi udara di Jakarta.

    Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono menerbitkan Keputusan Gubernur (Kepgub) Nomor 593 Tahun 2023 tentang Satuan Tugas Pengendalian Pencemaran Udara sebagai kebijakan untuk mempercepat penanganan polusi udara.

    Ruang lingkup satgas pengendalian pencemaran udara ini diantaranya menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) Penanganan Pencemaran Udara di Provinsi DKI Jakarta, mengendalikan polusi udara dari kegiatan industri, dan memantau secara berkala kondisi kualitas udara, hingga dampak kesehatan dari polusi udara.

    Lalu, melaksanakan pencegahan sumber pencemar, baik dari sumber bergerak maupun sumber tidak bergerak, termasuk sumber gangguan serta penanggulangan keadaan darurat.

    Baca: Gaya hidup ramah lingkungan tak hanya suka tanaman

    Kemudian menerapkan wajib uji emisi kendaraan bermotor, melakukan peremajaan angkutan umum dan pengembangan transportasi ramah lingkungan untuk transportasi umum dan pemerintah

    Selanjutnya bertugas meningkatkan ruang terbuka, bangunan hijau, dan menggiatkan gerakan penanaman pohon, meningkatkan peran serta masyarakat dalam perbaikan kualitas udara,

    Melaksanakan pengawasan ketaatan perizinan yang berdampak terhadap pencemaran udara dan penindakan terhadap pelanggaran pencemaran udara.

    Pemprov DKI Jakarta juga akan terus melakukan evaluasi dan mengkaji berbagai kebijakan yang sudah dilakukan agar tepat sasaran dan mampu secara efektif mengatasi permasalahan pencemaran udara.

    Sumber: Antaranewscom

  • IQAir Rilis Laporan Kualitas Udara Dunia 2023: Jakarta Masuk 10 KotaTerpolusi di Dunia

    IQAir Rilis Laporan Kualitas Udara Dunia 2023: Jakarta Masuk 10 KotaTerpolusi di Dunia

    7cloud.asia – Baru-baru ini IQAir merilis Laporan Kualitas Udara Dunia ke-6. Laporan ini  mengungkap data secara rinci tentang negara dan wilayah paling tercemar di dunia pada tahun 2023.

    Laporan Kualitas Udara Dunia tahun ini didapat dari 30.000 lebih stasiun pemantauan kualitas udara di 7.812 lokasi di 134 negara dan wilayah yang dianalisis oleh para ilmuwan kualitas udara IQAir.

    CEO Global IQAir Frank Hammes mengatakan, lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan merupakan hak asasi manusia yang universal.

    ”Di banyak belahan dunia, kurangnya data kualitas udara menunda tindakan tegas dan melanggengkan penderitaan manusia yang tidak perlu. Data kualitas udara menyelamatkan nyawa. Saat kualitas udara dilaporkan, tindakan diambil, dan kualitas udara meningkat,” katanya 

    Laporan tahunan IQAir menggambarkan sifat internasional dan konsekuensi yang tidak adil dari krisis polusi udara yang berkepanjangan.

    ”Upaya lokal, nasional, dan internasional sangat diperlukan untuk memantau kualitas udara di tempat-tempat yang kekurangan sumber daya, mengatasi penyebab kabut asap lintas batas, dan mengurangi ketergantungan kita pada pembakaran sebagai sumber energi,,” kata Aidan Farrow, Ilmuwan Senior Kualitas Udara, Greenpeace Internasional.

    Baca: Atasi polusi udara, Jakarta bisa belajar dari China  

    “Pada tahun 2023 polusi udara masih menjadi bencana kesehatan global, kumpulan data global IQAir memberikan pengingat penting akan ketidakadilan yang diakibatkannya dan perlunya menerapkan banyak solusi yang ada untuk masalah ini,” tutupnya.

    Temuan kunci dari Laporan Kualitas Udara Dunia tahun 2023 antara lain:

    • Hanya tujuh negara memenuhi pedoman PM2,5 tahunan WHO (rata-rata tahunan 5 µg/m3 atau kurang): Australia, Estonia, Finlandia, Grenada, Islandia, Mauritius, dan Selandia Baru.

    • Lima negara paling berpolusi pada tahun 2023 adalah: Bangladesh, Pakistan, India, Tajikistan, dan Burkina Faso. Konsentrasi PM 2,5 di lima negara tersebut 9-15 kali melebihi standar pedoman WHO.

    • Sebanyak 124 (92,5%) dari 134 negara dan wilayah melampaui nilai pedoman PM2,5 tahunan WHO sebesar 5 µg/m3.

    • Kondisi iklim dan kabut asap lintas batas merupakan faktor utama di Asia Tenggara, di mana konsentrasi PM2,5 meningkat di hampir semua negara.

    Baca: 4 PLTU Suralaya dihentikan ini dampaknya pada kualitas udara Jakarta

    Adapun Kota Jakarta menempati peringkat ketujuh untuk kota paling berpolusi di seluruh dunia. Angka PM 2,5 tahunan 8 kali melampaui standar pedoman WHO yaitu sebesar 43,8 ug/m3.

    Sementara di wilayah Asia Tenggara, Indonesia masih menempati posisi pertama negara paling berpolusi, dengan wilayah Tangerang Selatan menjadi peringkat pertama sebagai kota paling berpolusi se Asia Tenggara, dengan konsentrasi tahunan PM 2,5 mencapai 71,7 ug/m3.

    Berdasarkan data DLH DKI Jakarta, konsentrasi PM2,5 di tahun 2023 melebihi baku mutu udara ambien berdasarkan PP 21/ 2021. Konsentrasi PM2,5 2023 mencapai 40,3 ug/m3, sementara BMUA per tahun adalah 15 ug/m3.

    Peningkatan konsentrasi PM2,5 terjadi pada rentang waktu Juli hingga Oktober 2023. Hasil analisis dari 5 stasiun pengukuran kualitas udara (SPKU) DKI Jakarta, kondisi status mutu udara Jakarta ‘tercemar’, dengan parameter utama PM 2,5 dan PM 10.

    Jakarta memang telah memiliki strategi pengendalian pencemaran udara yang dituangkan dalam Keputusan Gubernur No 576/ 2023.

    Namun, keputusan ini dinilai terlambat oleh Koalisi Ibukota saat itu, karena draf rencana sebenarnya sudah ada sejak setahun sebelumnya. Pengesahan ini dilakukan saat kualitas udara di Jakarta memburuk hingga diberitakan viral oleh media nasional.

    Baca: PLTU Batubara dituding sebagai biang buruknya kualitas udara Jakarta

    Warga Jakarta juga telah memenangkan gugatan warga negara atas polusi udara menyusul kasasi Presiden dan KLHK yang ditolak oleh Mahkamah Agung pada November 2023.

    Koalisi IBUKOTA mendesak pihak pemerintah yang menjadi Tergugat yakni Presiden, Menteri LHK, Menteri Kesehatan, Menteri Dalam Negeri, dan Gubernur DKI Jakarta.

    Turut Tergugat yakni Gubernur Jawa Barat dan Gubernur Banten, untuk segera melaksanakan putusan pengadilan atas gugatan warga negara atau citizen law suit (CLS) yang sudah dijatuhkan sejak 16 September 2021.

    Bondan Andriyanu, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia meminta pemerintah untuk segera menjalankan putusan sidang,

    ”Apalagi dengan terpilihnya presiden dan kabinet yang baru nanti, serta adanya UU DKJ pasca pemindahan ibukota menjadi IKN, perbaikan kualitas udara Jakarta harus menjadi salah satu agenda utama,” ujarnya.  

    “Pengendalian pencemaran udara harus diatasi dari sumber emisinya yaitu emisi kendaraan dan industri, kemudian secara bersamaan memperbanyak transportasi umum massal berbasis listrik dan segera beralih ke sumber energi terbarukan,” tegasnya.

    Sumber: greenpeace.org

     

  • Memasuki Kemarau Kualitas Udara Jakarta Memburuk: Tercatat Sebagai Kota Terpolusi Ketiga di Dunia

    Memasuki Kemarau Kualitas Udara Jakarta Memburuk: Tercatat Sebagai Kota Terpolusi Ketiga di Dunia

    7cloud.asia – Memasuki musim kemarau pada Mei 2024 ini, kualitas udara di Jakarta kembali memburuk.

    Beberapa hari terakhir, Jakarta kembali menduduki peringkat 10 besar sebagai kota dengan Kualitas udara terburuk di dunia.

    Pada Kamis (9/5/2024) kualitas udara Jakarta masuk kategori tidak sehat dan menduduki peringkat ketiga sebagai kota dengan udara terburuk di dunia, setelah Dhaka (Bangladesh) dan Lahore (Pakistan).

    Menurut situs pemantau kualitas udara IQAir yang dipantau di Jakarta, Kamis pukul 06.15 WIB, kualitas udara Jakarta tidak sehat dengan angka 188 mengacu kepada penilaian PM2,5 dengan nilai konsentrasi 108 mikrogram per meter kubik.

    Baca: MA kabulkan gugatan warga terkait polusi udara di Jakarta

    Konsentrasi sebanyak itu setara 21,6 kali nilai panduan kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). PM 2,5 adalah partikel udara yang berukuran kecil dari 2,5 mikron (mikrometer).

    Kategori tidak sehat, yakni kualitas udaranya tidak sehat bagi kelompok sensitif karena dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif.

    Kondisi ini juga bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika dengan angka PM2,5 pada kisaran 100-199.

    Situs tersebut juga merekomendasikan terkait kondisi udara di Jakarta, yakni sebaiknya tidak beraktivitas di luar ruangan, menggunakan masker saat berada di luar serta menutup jendela.

    Baca: Legislator dukung pembatasan kendaraan untuk atasi polusi udara

    Sementara dari data yang sama, kota dengan kualitas udara terburuk di dunia urutan pertama, yaitu Dhaka (Banglades) di angka 194, kedua Lahore (Pakistan) dengan angka 194 dan Jakarta menempati posisi ketiga dengan angka 188.

    Dilansir, Antaranews.com, Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono telah menerbitkan Keputusan Gubernur (Kepgub) Nomor 593 Tahun 2023 tentang Satuan Tugas (Satgas) Pengendalian Pencemaran Udara sebagai kebijakan

    Satgas ini bertugas mempercepat penanganan polusi udara. Ruang lingkup satgas ini di antaranya menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) Penanganan Pencemaran Udara di Provinsi DKI Jakarta.

    Mengendalikan polusi udara dari kegiatan industri dan memantau secara berkala kondisi kualitas udara hingga dampak kesehatan dari polusi udara.

    Lalu, melaksanakan pencegahan sumber pencemar, baik dari sumber bergerak maupun sumber tidak bergerak, termasuk sumber gangguan serta penanggulangan keadaan darurat.

    Baca: Penanganan polusi udara di Jakarta masih basa-basi

    Kemudian menerapkan wajib uji emisi kendaraan bermotor, melakukan peremajaan angkutan umum dan pengembangan transportasi ramah lingkungan untuk transportasi umum dan pemerintah

    Selanjutnya bertugas meningkatkan ruang terbuka, bangunan hijau dan menggiatkan gerakan penanaman pohon serta meningkatkan peran masyarakat dalam perbaikan kualitas udara.

    Selanjutnya melaksanakan pengawasan ketaatan perizinan yang berdampak terhadap pencemaran udara dan penindakan terhadap pelanggaran pencemaran udara.

    Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta juga akan terus melakukan evaluasi dan mengkaji berbagai kebijakan yang sudah dilakukan agar tepat sasaran dan mampu secara efektif mengatasi permasalahan pencemaran udara.

  • Kualitas Udara Jakarta Terburuk Kedua di Dunia, Simak Daftar Wilayah dengan Kualitas Udara Tidak Sehat

    Kualitas Udara Jakarta Terburuk Kedua di Dunia, Simak Daftar Wilayah dengan Kualitas Udara Tidak Sehat

    7cloud.asia – Memasuki musim kemarau kualitas udara di DKI Jakarta kembali memburuk.

    Pada Rabu (22/5/2024) pagi kualitas udara Jakarta masuk kategori tidak sehat dan berada di posisi kedua sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.

    Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir, pada pukul 06.04 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di angka 175.

    Adapun, konsentrasi partikel halus (particulate matter/PM) 2,5 berada di angka 89,5 mikrogram per meter kubik.

    Baca: Pembatasan kendaraan bermotor mendesak dilakukan tuk atasi polusi udara Jakarta

    Konsentrasi tersebut setara 17,9 kali nilai panduan kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Jakarta hanya satu level di bawah Kota Lahore, Pakistan dengan indeks kualitas udara di angka 186.

    Adapun di posisi ketiga ada Kota Hanoi, Vietnam di angka 168 dan Kota Delhi, India di angka 165 pada posisi keempat.

    Menurut catatan IQAir, sejumlah wilayah di Jakarta yang tercatat memiliki kualitas udara dengan kategori tidak sehat, yakni Cilandak Barat, Jeruk Purut dan Kuningan.

    Baca: Ini yang terjadi jika Jakarta sukses melakukan pembatasan kendaraan bermotor.

    Fakta ini juga dikuatkan Sistem Informasi Lingkungan dan Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta.

    DLH mencatat bahwa kualitas udara di Jakarta secara keseluruhan untuk polusi udara PM2,5 berada pada kategori tidak sehat dengan indeks angka 107.

    Kategori tidak sehat berarti tingkat kualitas udara bersifat merugikan pada manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika

    Sejumlah wilayah yang tercatat berada pada kategori udara tidak sehat, yakni Kebon Jeruk, Kelapa Gading dan Lubang Buaya.

    Baca: Benarkah kendaraan listrik mampu turunkan polusi udara

    Masyarakat pun direkomendasikan untuk menghindari aktivitas di luar ruangan, mengenakan masker saat di luar, menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor, serta menyalakan penyaring udara.

    Sumber: Antaranews.com

  • Memasuki Kemarau Kualitas Udara Jakarta Memburuk: Tercatat Sebagai Kota Terpolusi di Dunia

    Memasuki Kemarau Kualitas Udara Jakarta Memburuk: Tercatat Sebagai Kota Terpolusi di Dunia

    7cloud.asia – Memasuki musim kemarau, kualitas udara di kota Jakarta kembali memburuk.

    Dalam beberapa hari terakhir, Jakarta hampir selalu tercatat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.

    Pada Minggu (26/5/2024) pagi misalnya, kualitas udara Jakarta masuk kategori tidak sehat dan menduduki peringkat pertama sebagai kota dengan udara terburuk di dunia.

    Berdasarkan situs pemantau kualitas udara (IQAir), pada pukul 06.17 WIB, Indeks Kualitas Udara (Air Quality Index/ AQI) di Jakarta berada di angka 189 atau masuk dalam kategori tidak sehat.

    Kota dengan kualitas udara terburuk urutan kedua, yaitu Kinshasa (Kongo) di angka 168, urutan ketiga Delhi (India) di angka 166, urutan keempat Riyadh (Arab Saudi) di angka 134, dan urutan kelima Lahore (Pakistan) di angka 129.

    Baca: Pembatasan kendaraan bermotor mendesak dilakukan di Jakarta

    Adapun materi partikulat (PM2,5) di angka 110 mikrogram per meter kubik atau 22 kali di atas panduan aman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Dengan kondisi ini, kualitas udaranya tidak sehat bagi kelompok sensitif karena dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif.

    Dengan kualitas udara ini, bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika dengan rentang indeks 101-200.

    Adapun kategori sedang, yakni kualitas udaranya yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika dengan rentang AQI 51-100.

    Kategori baik, yakni tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai estetika dengan rentang AQI 0-50.

    Baca: Penggunaan kendaraan listrik mampu pangkas emisi hingga 50 persen

    Lalu, kategori sangat tidak sehat dengan rentang indeks 201-300 atau kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar.

    Terakhir, berbahaya di atas 301 atau secara umum kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi.

    Pemprov DKI Jakarta Heru Budi Hartono telah menerbitkan berbagai aturan sebagai kebijakan untuk mempercepat penanganan polusi udara.

    Namun, berbagai kebijakan yang ada dinilai belum menyentuh akar masalah pemicu polusi udara di Jakarta.

    Pemprov DKi Jakarta diminta lebih serius mengendalikan polusi udara dari kegiatan industri dan memantau secara berkala kondisi kualitas udara, hingga dampak kesehatan dari polusi udara.

  • Kualitas Udara Buruk, Kota Jakarta Masuk Kota Terpolusi di Dunia dan Tergolong Tidak Sehat

    Kualitas Udara Buruk, Kota Jakarta Masuk Kota Terpolusi di Dunia dan Tergolong Tidak Sehat

    7cloud.asia – Kualitas udara di Jakarta pada Selasa (4/6/2024) pagi masuk kategori tidak sehat dan menduduki peringkat pertama sebagai kota dengan udara terburuk di dunia.

    Menurut situs pemantau kualitas udara IQ Air yang dipantau pada Selasa pukul 06.10 WIB, indeks kualitas udara di DKI Jakarta ada pada angka 175 mengacu kepada penilaian PM2,5.

    Adapun nilai konsentrasi PM2,5 tercatat sebesar 90 mikrogram per meter kubik.

    Konsentrasi sebanyak itu setara 18 kali nilai panduan kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). PM 2,5 adalah partikel udara yang berukuran kecil dari 2,5 mikron (mikrometer).

    Data dari IQAir ini juga menyebut kota dengan kualitas udara terburuk di dunia urutan kedua, yaitu Medan ​​​​​​(Indonesia) di angka 170, urutan ketiga Kinshasa (Kongo) di angka 159.

    Di posisi keempat dan kelima yaitu Riyadh (Arab Saudi) dengan angka 139 dan (India) dengan angka 129.

    Baca: Kualitas udara Jakarta kembali memburuk

    Adapun kategori tidak sehat, yakni kualitas udaranya yang bersifat merugikan pada manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

    Terkait kualitas udara di Jakarta yang buruk masyarakat Jakarta disarankan untuk menghindari aktivitas di luar ruangan.

    Jika berada di luar ruangan gunakanlah masker, kemudian menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor.

    Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono menerbitkan Keputusan Gubernur (Kepgub) Nomor 593 Tahun 2023 tentang Satuan Tugas Pengendalian Pencemaran Udara sebagai kebijakan untuk mempercepat penanganan polusi udara.

    Ruang lingkup satgas pengendalian pencemaran udara ini diantaranya menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) Penanganan Pencemaran Udara di Provinsi DKI Jakarta, mengendalikan polusi udara dari kegiatan industri dan memantau secara berkala kondisi kualitas udara, hingga dampak kesehatan dari polusi udara.

    Lalu, melaksanakan pencegahan sumber pencemar, baik dari sumber bergerak maupun sumber tidak bergerak, termasuk sumber gangguan serta penanggulangan keadaan darurat.

    Baca: Kendaraan tak lolos emisi bakal bayar lebih mahal

    Kemudian menerapkan wajib uji emisi kendaraan bermotor, melakukan peremajaan angkutan umum dan pengembangan transportasi ramah lingkungan untuk transportasi umum dan pemerintah

    Selanjutnya bertugas meningkatkan ruang terbuka, bangunan hijau dan menggiatkan gerakan penanaman pohon serta meningkatkan peran serta masyarakat dalam perbaikan kualitas udara.

    Pemprov DKI Jakarta juga akan terus melakukan evaluasi dan mengkaji berbagai kebijakan yang sudah dilakukan agar tepat sasaran dan mampu secara efektif mengatasi permasalahan pencemaran udara.

    Namun demikian, sejumlah kalangan menilai, berbagai kebijakan yang ada belum menyentuh akar masalah pemicu polusi udara di Jakarta.

    Pemprov DKi Jakarta diminta lebih serius mengendalikan polusi udara dari kegiatan industri dan memantau secara berkala kondisi kualitas udara, hingga dampak kesehatan dari polusi udara.

  • Memasuki Kemarau Kualitas Udara Jakarta Masuk Kategori Tidak Sehat, Warga Diimbau Mengenakan Masker

    Memasuki Kemarau Kualitas Udara Jakarta Masuk Kategori Tidak Sehat, Warga Diimbau Mengenakan Masker

    7cloud.asia – Memasuki musim kemarau, kualitas udara DKI Jakarta kembali memburuk. Dalam beberapa pekan terakhir kualitas udara Jakarta masuk kategori tidak sehat.

    Pada Rabu (5/6/2024) kualitas udara juga masuk kategori tidak sehat dan masuk dua terburuk di dunia setelah Kota Medan, Sumatra Utara.

    Karena itu warga Kota Jakarta direkomendasikan untuk mengenakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan.

    Sebelumnya, BMKG juga mengungkapkan bahwa Jakarta mulai memasuki musim kemarau pada Mei dan diprediksi mencapai puncaknya pada Juni 2024.

    Bersamaan dengan itu, diprediksi Jakarta kembali dilanda polusi udara sehingga kualitas udaranya menurun.

    Baca: Polusi udara di Jakarta

    Koordinator Sub Bidang Informatif Gas Rumah Kaca BMKG Albert Nahas mengatakan fenomena iklim global berupa El Nino, La Nina dan Dipole Mode Positif/Negatif turut mempengaruhi partikel polutan di Indonesia, termasuk di Jakarta.

    Albert mengungkapkan La Nina mempengaruhi konsentrasi PM2.5 di Indonesia dan membagi wilayah Indonesia menjadi Timur dan Barat berdasarkan respon PM2.5 terhadap La Nina.

    Salah satu dampaknya, konsentrasi PM2.5 cenderung tinggi pada malam hingga pagi hari dan rendah pada siang hari.

    “Fenomena iklim global bisa mempengaruhi iklim di Indonesia yang juga berakibat ke kondisi PM2.5,” katanya.

    Baca: Di Jakarta, kendaraan tak lolos uji emisi harus bayar parkir lebih mahal

    Dipantau di laman resmi IQAir pada Rabu, pukul 06.30 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di angka 173, dengan angka partikel halus (particulate matter/PM) 2,5 di angka konsentrasi 86 mikrogram per meter kubik.

    Konsentrasi tersebut setara 17,4 kali nilai panduan kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Situs pemantau kualitas udara dengan waktu terkini tersebut, mencatatkan bahwa Jakarta sebagai kota dengan kualitas udara peringkat kedua terburuk di dunia setelah Kota Medan (213) disusul Dhaka (Bangladesh) di angka 171.

    Masyarakat direkomendasikan untuk menghindari aktivitas di luar ruangan, mengenakan masker saat di luar, menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor, serta menyalakan penyaring udara.

    Baca: Pembatasan kendaraan bermotor mendesak dilakukan di Jakarta

    Sementara itu, data dari Sistem Informasi Lingkungan dan Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta menyebutkan dari lima titik pemantau menunjukkan bahwa kualitas udara di Jakarta untuk polusi udara PM2,5 berada pada kategori sedang.

    Hanya satu titik pos pantau yang kualitas udaranya ada pada kategori tidak sehat.

    Untuk lokasi pemantau kualitas udara yang berada di Kelapa Gading menunjukkan bahwa pada Rabu pagi di angka 99 kategori sedang, Kebon Jeruk di angka 131 atau tidak sehat, Bundaran HI 89 kategori sedang, dan Jagakarsa di angka 77 atau sedang.

    Kategori sedang berarti tingkat kualitas udara yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif.

    Sementara untuk kategori tidak sehat yaitu tingkat kualitas udara yang bersifat merugikan pada manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

  • Warga Jakarta Diingatkan Tak Mengabaikan Kualitas Udara yang Tidak Sehat

    Warga Jakarta Diingatkan Tak Mengabaikan Kualitas Udara yang Tidak Sehat

    7cloud.asia – Memasuki musim kemarau, kualitas udara DKI Jakarta kembali memburuk. Dalam beberapa pekan terakhir kualitas udara Jakarta hampir selalu masuk kategori tidak sehat.

    Hari ini, Jumat (7/6/2024), laman IQAir yang terakhir diperbarui pada pukul 11.00 WIB menyatakan bahwa kualitas udara di Jakarta tercatat tidak sehat bagi kelompok sensitif.

    IQAir mencatat kualitas udara Jakarta berada pada poin 140 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 51,3 mikrogram per meter kubik dan angka ini menunjukkan 10,3 kali lebih tinggi nilai panduan kualitas udara tahunan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

     

    Karena itu warga Kota Jakarta direkomendasikan untuk mengenakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan.

    Baca Juga: Memasuki Kemarau Kualitas Udara Jakarta Masuk Kategori Tidak Sehat, Warga Diimbau Mengenakan Masker

    Praktisi Kesehatan dr. Ngabila Salama meminta warga yang saat ini tinggal dan beraktivitas di DKI Jakarta untuk tidak abai menjaga dirinya saat kualitas udara memburuk.

    “PM 2.5 yang membahayakan dapat menyebabkan penyakit tidak menular dalam jangka waktu pendek (akut) dan jangka lama (kronik) secara multi organ bisa dari kulit, paru sampai jantung,” kata Ngabila dikutip Antaranews.com, Jumat (7/6/2024).

    Menanggapi kualitas udara di Jakarta yang terpantau memburuk, Ngabila menekankan bila hal tersebut dapat berdampak buruk pada kondisi kesehatan paru-paru masyarakat.

    Dalam jangka pendek, paru-paru berpotensi terkena serangan asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) eksaserbasi akut, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), pneumonia dan alergi.

    Baca Juga: Dampak Polusi Udara Jakarta pada Kesehatan Fisik dan Mental

    Sementara untuk jangka panjangnya, meningkatkan potensi terkena kanker paru maupun jantung.

    “Apalagi kalau orang itu menjadi perokok aktif atau pasif, maka akan memperparah kondisi kesehatannya,” ujar dia.

    Sebagai bentuk proteksi diri, masyarakat disarankan untuk tetap mengenakan masker jenis KN 95 atau KF 94 untuk menghalangi PM 2.5 dan menghindari menjadi perokok aktif maupun pasif.

    Ngabila mengatakan masyarakat perlu memastikan agar imunitasnya tetap terjaga lewat fisik dan mental yang sehat melalui pola hidup bersih sehat CERDIK dan CERIA setiap harinya.

    Baca Juga: Atasi Polusi Udara, Pemkot Jakarta Utara Ajak Warga Gunakan Kendaraan dengan Emisi Rendah

    Guna mencegah ISPA dan pneumonia, menjaga pola hidup tetap bersih dapat dilakukan dengan memakai masker, mencuci tangan atau menggunakan penyanitasi tangan, dan menjaga jarak di kerumunan (3M).

    “Jangan lupa gunakan air purifier atau hepa filter yang ada di rumah. Rajinlah dibersihkan juga alatnya, hindari aktivitas di luar ruangan jika kondisi polusi udara kurang baik,” kata dia.

    Bagi kelompok rentan seperti anak dan lansia, ia meminta agar tiap pihak tidak malas untuk memakai masker di luar ruangan, mengikuti vaksinasi influenza dan melengkapi vaksin Covid-19 agar tidak memberatkan gejala yang telah ada.

    Meski demikian, Ngabila menilai sebenarnya kualitas udara yang buruk dapat dicegah melalui adanya perubahan pola hidup bersama.

    Baca Juga: Menanam Vegetasi Penyerap Polutan, Alternatif Atasi Polusi Udara

    Misalnya, dimulai dari hal kecil setiap orang dapat beralih menggunakan transportasi umum atau berjalan kaki guna meminimalisasi penyebaran asap kendaraan di jalan.

    Kemudian menghemat listrik dan air baik di rumah maupun di kantor, menggunakan kendaraan listrik atau sepeda bila mengunjungi tempat-tempat yang dekat.

    Warga juga diajak untuk memperbanyak memelihara tanaman untuk meningkatkan kadar oksigen di sekitarnya.

    Sementara kepada pemerintah, wanita yang juga menjadi Staf Teknis Komunikasi Transformasi Kesehatan Kementerian Kesehatan tersebut menyarankan agar secara komprehensif melakukan upaya agresif untuk menurunkan polusi udara baik dari segi komunitas, ekonomi dan individu.

    Termasuk mengajak multisektor seperti industri, transportasi dan rumah tangga untuk menerapkan perubahan pola hidup yang berkelanjutan.

    Sumber:Antaranews.com

     

  • Kualitas Udara Jakarta Masuk Kategori Tidak Sehat, Berada di Posisi Ketiga Terburuk di Dunia

    Kualitas Udara Jakarta Masuk Kategori Tidak Sehat, Berada di Posisi Ketiga Terburuk di Dunia

    7cloud.asia – Kualitas udara di DKI Jakarta pada Minggu (9/6/2024) pagi berada dalam kategori tidak sehat.

    Dengan kondisi kualitas udara yang tidak sehat maka warga Jakarta diimbau untuk menghindari aktivitas luar ruangan.

    Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir, pada pukul 06.30 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di angka 166

    Sedangkan angka partikel halus (particulate matter/PM) 2,5 di angka konsentrasi polutan 77 mikrogram per meter kubik.

    Baca: Warga Jakarta diminta tak abaikan kualitas udara yang tidak sehat

    Konsentrasi tersebut setara 15,4 kali dari nilai panduan kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Indeks kualitas udara tersebut membuat Jakarta menduduki kota dengan kualitas udara ketiga terburuk di dunia.

    Di atas Jakarta, kota dengan kualitas udara terburuk pada peringkat pertama, yakni Kampala, Uganda dengan indeks kualitas udara di angka 174, kemudian Delhi, India pada peringkat kedua dengan indeks 166.

    Sejumlah wilayah di Jakarta yang tercatat memiliki kualitas udara dengan kategori tidak sehat, yakni Kuningan, Kemang dan Jeruk Purut.

    Baca: Kenali manfaat tanaman hias untuk tingkatkan kualitas udara 

    Masyarakat pun direkomendasikan untuk menghindari aktivitas di luar ruangan, mengenakan masker saat berada di luar ruangan,

    Warga juga diimbau untuk menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor, serta menyalakan penyaring udara.

    Sistem Informasi Lingkungan dan Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta juga mencatat bahwa kualitas udara di Jakarta secara keseluruhan untuk polusi udara PM2,5 berada pada kategori tidak sehat dengan indeks angka 109.

    Kategori tidak sehat berarti tingkat kualitas udara bersifat merugikan pada manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika

    Baca: Hijaukan Jakarta untuk tingkatkan kualitas udara

    Salah satu wilayah yang tercatat berada pada kategori udara tidak sehat, yakni Kebon Jeruk.

    Memasuki musim kemarau kualitas udara Jakarta kembali memburuk. Dalam beberapa hari belakangan kualitas udara Jakarta masuk kategori tidak sehat

    Penggunaan kendaraan bermotor dan pembangkit listrik tenaga batubara disebut sebagai salah satu pemicu buruknya kualitas udara Jakarta.

    Sumber: Antaranews.com