Tag: lingkungan

  • Benda Ajaib Bernama Baking Soda, Serba Guna Lagi Ramah Lingkungan

    Benda Ajaib Bernama Baking Soda, Serba Guna Lagi Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Baking soda atau soda kue mungkin lebih dikenal sebagai bahan untuk membuat kue, roti, muffin dan biskuit.

    Baking soda dalam istilah lain dikenal dengan istilah natrium bikarbonat dan atau soda bikarbonat sering digunakan dalam pembuatan berbagai jenis kue karena dapat membuat kue menjadi ringan dan lembut.

    Jika digabung dengan asam, seperti cuka atau jus lemon, baking soda akan bereaksi dan  kemudian membuat adonan mengembang. 

    Tapi tahu nggak kalau baking soda tidak hanya bisa digunakan untuk membuat kue atau roti saja. Baking soda menyimpan sederet manfaat kesehatan dan kehidupan sehari-hari dengan dampak minimal bagi lingkungan.

    Dilansir dari MedicalNewsToday, meminum soda kue dalam jumlah sedikit tidak akan berbahaya. Bagi orang dewasa, hal ini dapat membantu melepaskan gangguan pencernaan.

    Akan tetapi, meminum soda kue dalam jumlah besar akan berbahaya dan sangat tidak disarankan untuk mengonsumsinya pada jangka waktu yang panjang, ataupun digunakan saat hamil dan pada anak-anak.

    Baking soda menyimpan banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya itu baking soda juga relatif lebih ramah lingkungan karena kandungan bahan kimianya minim. 

    Baca: Cari info berbagai produk ramah lingkungan di sini

    Berikut manfaat baking soda baik untuk kesehatan dan kehidupan sehari-hari yang kami rangkumkan dari berbagai sumber:
     
    1. Deodoran

    Manfaat ini masih diteliti, tapi baking soda sering digunakan sebagai deodoran alami yang dapat menghilangkan bau keringat. 

    Kamu dapat mencobanya dengan menepuk-nepuk serbuk soda kue ke ketiak atau mencampurkannya dengan minyak kelapa, shea butter atau tepung maizena.

    2. Obat Kumur

    Sejumlah penelitian mengungkap bahwa baking soda kue  dan mengeluarkansifat anti bakteri dan anti mikroba sehingga bisa dimanfaatkan untuk obat kumur yang membantu menyegarkan napas

    Untuk itu kamu dampat mencampurkan setengah sendok teh atau dua gram baking soda ke dalam setengah gelas yang berisi sekitar 120ml air hangat lalu aduk.

    3. Memutihkan Gigi

    Penelitian menyebutkan bahwa pasta gigi yang mengandung baking soda lebih baik dalam memutihkan gigi dan menghapus plak gigi. Kemungkinkan alasannya adalah karena baking soda mempunyai sifat abrasif ringan.

    Baca: Cara asyik kurangi sampah plastik

    4. Mengusir Pestisida pada Buah dan Sayur

    Penelitian menyebutkan bahwa mencuci buah dan sayur dengan larutan baking soda efektif menghilangkan pestisida pada buah dan sayur.

    Bahkan sebuah studi menyatakan bahwa merendam apel pada larutan soda kue selama 12 hingga 15 menit dapat menghilangkan hampir semua pestisida. Akan tetapi, larutan ini tidak dapat menghilangkan pestisida yang sudah menembus kulit.

    5. Penetral Bau Lemari Es

    Baking soda juga dapat digunakan untuk menghilangkan bau tak sedap lemari es atau lemari pendingin.

    Kerennya, baking soda dapat menghilangkan partikel bau, tidak hanya menutupi bau tersebut. Untuk itu kamu cukup meletakkan secangkir soda kue di bagian belakang lemari es kamu.

    6. Penyegar Udara

    Ketimbang membeli pengharum ruangan yang kadang tidak aman, mendingan coba manfaatkan baking soda yang bebas dari bahan kimia industri dan menetralkan bau.

    Caranya, masukkan baking soda dan beberapa tetes minyak esensial ke dalam toples, lalu tutup dengan kain atau kertas, lalu kencangkan dengan tali atau pita dan letakanlah di sudut rumah yang memerlukan.

    Baca: Tukar sampah rumah tanggamu dengan cuan, simak caranya di sini

    7. Pemutih Baju

    Alkali dalam baking soda dapat berinteraksi dengan asam yang ada di dalam noda ketika dilarutkan dalam air, sehingga dapat membuat cucian lebih bersih. Caranya, masukkan setengah cangkir atau 110 gram baking soda ke dalam air yang akan digunakan untuk mencuci pakaian.

    8. Membersihkan Dapur

    Campur baking soda dengan jus lemon atau cuka juga untuk membantu mengendalikan pertumbuhan mikroorganisme, termasuk jamur dan bakteri.

    Setelah mencampur soda kue dengan perasan lemon,  lalu oleskan ke permukaan yang ingin dibersihkan dengan kain atau spons, seperti oven, cangkir kopi, marmer, ubin dapur, microwave. Biarkan beberapa saat lalu lap dengan lap basah.

    9. Menghilangkan Bau Karena Sampah

    Penelitian menyebutkan bahwa menaburkan baking sodadi bagian bawah tempat sampah akan mengurangi bau sampai sebanyak 70 persen.

    Baca: Cara sederhana mengelola sampah rumah tangga

     10. Menghilangkan Noda pada Karpet

    Campuran baking soda dan cuka dengan perbanding 1:1  lalu semprotkan pada area noda. Tunggu selama satu jam atau sampai mengering, lalu gosok soda kue dengan kuas atau vakum residu

    Jika masih ada sisa soda kue, bersihkan dengan handuk basah.

    11. Pembersih Kamar Mandi

    Caranya cukup mudah, yaitu dengan mencampurkan baking soda dengan air, lalu gosok permukaan dengan spons atau kain. Setelah 15 hingga 20 menit, kamu dapat membersihkan kembali permukaan dengan kain lembab.

    12. Pewangi Sepatu

    Baking soda juga bisa digunakan untuk menghilangkan bau tak sedap di sepatu.  Caranya sangat mudah, yakni dengan menuang dua sendok makan atau 9 gram soda kue ke dalam dua helai kain tipis. Ikat kain dengan karet atau tali, lalu letakkan di setiap sepatu. Keluarkan, jika akan menggunakan sepatu tersebut.

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan model isi ulang dari Siklus

    13. Pembasmi Gulma

    Baking soda juga alternatif pembasmi gulam yang murah dan lebih aman. Soda kue yang kaya akan natrium dapat menciptakan lingkungan yang tidak diinginkan oleh gulma.

    Caranya taburkan beberapa genggam baking soda kue ke atas gulma, seperti di celah-celah trotoar atau jalan masuk. Namun disarankan untuk tidak menaburkannya pada kebun atau bunga Anda karena dapat berbahaya bagi tanaman lainnya.

    14. Alat Pemadam Api

    Beberapa alat pemadam api diketahui mengandung baking soda dan dikenal dengan alat pemadam api kimia kering. Baking soda kue mampu bereaksi dengan panas untuk menghasilkan karbon dioksida yang membekap api.

    Oleh karena itu, baking soda dapat digunakan untuk memadamkan api minyak kecil, namun tidak akan efektif untuk kebakaran besar.

    15. Mengatasi Panci yang Hangus

    Taburkan baking soda ke bagian bawah panci yang hangus dan tambahkan air secukupnya. Didihkan campuran tersebut, jika noda masih ada, kamu dapat menggosoknya sedikit dengan sabut pencuci piring.

     

  • Intip 5 Zodiak yang Peduli Lingkungan Sejak Lahir, Apakah Kamu Masuk di Dalamnya?

    Intip 5 Zodiak yang Peduli Lingkungan Sejak Lahir, Apakah Kamu Masuk di Dalamnya?

    7cloud.asia – Setiap zodiak diyakini memiliki karakteristik dan sifat yang berbeda-beda. Namun, tahu nggak kalau ada beberapa zodiak yang diyakini punya sifat yang ramah lingkungan.

    Zodiak ini diyakini sejak lahir memang sudah dikaruniai peduli lingkungan dan sifat-sifat yang mendukung pelestarian lingkungan.

    Meski demikian, kamu harus ingat bahwa setiap individu memiliki sifat yang unik, tergantung pada pengalaman yang dimiliki dan bagaimana ia tumbuh dan dibesarkan. 

    Banyak orang percaya zodiak hanya merupakan gambaran umum dan tidak dapat menggambarkan sepenuhnya karakteristik seseorang secara tepat. Sehingga apakah seseorang ramah lingkungan atau tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan zodiaknya.

    Baca: Sneakers Chris Martin ini terbuat dari 70 sepatu tua

    Berikut adalah beberapa zodiak penyuka ramah lingkungan, sebagai dirilis di sahitya.id:

    1. Taurus 

    Orang yang terlahir dengan zodiak Taurus dikenal sebagai penyayang alam dan gemar berkebun atau merawat tanaman.

    Zodiak taurus cenderung memperhatikan keseimbangan alam dan menghindari tindakan yang merusak lingkungan.

    2. Cancer

    Orang dengan zodiak Cancer dikenal sebagai orang yang sensitif dan empati terhadap makhluk hidup di sekitarnya, termasuk alam lingkungan.

    Mereka cenderung menghargai keindahan alam dan menghindari setiap tindakan yang bisa  merusak ekosistem atau lingkungan.

    Baca: Kenapa harus gengsi kenakan barang bekas

    3. Virgo 

    Orang yang memiliki zodiak Virgo dikenal sebagai perfeksionis yang suka merencanakan segala sesuatu dengan baik.

    Mereka cenderung sangat peduli pada lingkungan dan akan berusaha semaksimal mungkin mengurangi sampah dan jejak karbonnya dengan memilih gaya hidup yang ramah lingkungan.

    4. Libra

    Orang dengan zodiak Libra dikenal sebagai pencinta keindahan dan keharmonisan, termausk keharmonisan alam.

    Mereka cenderung memperhatikan kebersihan dan keindahan alam, serta memilih produk yang ramah lingkungan dan memiliki nilai-nilai etis yang baik.

    Baca: Kenali ciri produk ramah lingkungan

    5. Pisces

    Orang yang berzodiak Pisces dikenal sebagai orang yang peka terhadap kebutuhan orang lain dan lingkungan sekitarnya.

    Mereka cenderung memperhatikan keseimbangan ekosistem dan senang melakukan tindakan yang dapat membantu memperbaiki kondisi lingkungan.

    Buat kamu yang kebetulan nggak terlahir dalam rasi lima zodiak tersebut nggak usah berkecil hati.

    Karena seperti yang telah disebutkan di atas, menjadi peduli lingkungan nggak hanya ditentukan oleh zodiak tetapi oleh sikap dan tindakan yang kamu lakukan. Jadilah peduli lingkungan mulai sekarang!

     

  • Dear Perempuan, Yuk Beralih ke Pembalut Kain Demi Lingkungan

    Dear Perempuan, Yuk Beralih ke Pembalut Kain Demi Lingkungan

    Foto: DemiBumi

    7cloud.asia – Pembalut menjadi produk yang tak bisa dipisahkan dari perempuan yang sudah mengalami haid.

    Dulu, saat pembalut belum diproduksi secara massal seperti sekarang perempuan menggunakan hasduk atau kain bekas untuk menampung darah haid mereka. Fungsi hasduk ini kemudian digantikan oleh pembalut karena dinilai lebih praktis.

    Belakangan disadari, jika pembalut tidak ramah lingkungan. Hal ini karena 55 hingga 65 persen pembalut terbuat dari plastik yang tidak bisa diurai. Pembalut dan popok menjadi salah satu sampah plastik yang paling banyak ditemukan di sungai dan tempat sampah. 

    Jessica Halim dari DemiBumi, saat berbicara di Diskusi Memperingati Hari Bumi yang diselenggarakan Iluni akhir pekan lalu menyebut, rata-rata seorang perempuan menghabiskan 11.000 hingga 17.000 pembalut selama hidupnya.

    Semua pembalut itu hanya sekali dipakai sebelum berakhir di tempat sampah, dan butuh waktu bertahun-tahun untuk terurai.

    Baca: Thrifting, cara anak muda kurangi sampah dan polusi

    Kebayang kan, gunungan sampah yang kamu hasilkan hanya dari pembalut yang kamu pakai selama ini? Tak hanya itu, tak jarang pembalut juga mengandung zat kimia yang bisa membahayakan kesehatan reproduksi perempuan. 

    Untuk itu, kini ada gerakan untuk kembali menggunakan hasduk atau pembalut kain yang bisa dipakai berulang kali. Selain lebih ramah lingkungan, pembalut kain juga lebih ramah buat isi kantung kamu.

    Mungkin kamu berpikir agak repot karena harus mencuci setiap habis pakai. Jika kamu berpikiran seperti itu, kamu bisa mulai melakukannya secara hibrid.

    Yakni dengan menggunakan pembalut biasa di hari pertama dan kedua saat volume haid masih banyak, dan menggunakan pembalut kain saat haidmu sudah tidak sebanyak hari pertama.

    Jika sudah terbiasa, kamu bisa secara bertahap beralih sepenuhnya ke pembalut kain sehingga jumlah sampah yang kamu hasilkan akan sangat berkurang. 

    Baca: Sistem isi ulang produk dari Siklus bantu kamu kurangi sampah plastik

    Jika kamu tertarik untuk menggunakan pembalut kain, berikut sejumlah produk lokal yang menghadirkan pilihan pembalut kain yang dapat dicuci dan dipakai lagi yang kami rangkumkan dari berbagai sumber: 

    1. DemiBumi

    Pembalut kain ‘single’ dengan merek Demi Bumi terbuat dari dua lapisan bahan katun dan dua lapisan bahan flanel baby.

    Pembalut kain Demibumi ini merupakan produk pembalut kain yang tahan air namun dapat dicuci dan dipakai hingga berulang kali.

    Uniknya pembalut kain DemiBumi menawarkan varian lain yang bisa diisi dengan kain tambahan atau refill untuk ditambahkan sesuai dengan kebutuhan.

    Pembalut kain DemiBumi dijual Rp 35 ribu hingga Rp 140 ribuan.

    2. Biyung

    Pemakaian pembalut kain yang lebih ramah lingkungan belakangan juga dipromosikan oleh Biyung Indonesia. Usaha sosial tersebut menyediakan alternatif penggunaan bubur kertas yang biasa digunakan pembalut biasa.

    Menstrual pads dari Biyung hadir dengan tiga ukuran dan terlihat cantik dengan motif batiknya. Produk seharga Rp 115 ribuan ini pun dikatakan hanya perlu dicuci pakai sabun dan dijemur serta dicuci dengan air hangat secara berkala.

    Baca: Mendulang uang dari daurulang sampah

    3. Sedarikini

    Pembalut kain dari brand lokal Sedarikini diklaim ramah lingkungan karena bisa dipakai dalam jangka waktu dua hingga tiga tahun. Menspad ini terbuat dari bahan microfleece yang punya sifat stay dry sehingga kulit terhindar dari iritasi.

    Adapun outer-nya yang terbuat dari bahan hyget balon yang bersifat waterproof sehingga tidak mudah tembus. Hadir dengan tiga ukuran, item ini dijual Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu.

    4. Cluebebe

    Cluebebe, produk lokal ini menawarkan berbagai varian clodi, termasuk pembalut kain. Kamu yang mencari pembalut kain untuk dipakai di malam hari bisa melirik opsi seharga Rp 35 ribuan ini.

    Menspad versi night hadir berbahan polyester yang dilaminasi dengan PUL waterproof sehingga tidak mudah bocor. Adapun material microfleece yang lembut dan stay dry sehingga kulit tetap lembab dan terhindar iritasi.

    Baca: Beragam produk ramah lingkungan untuk kamu

    5. Soul

    Soul menawarkan alternatif pembalut termasuk yang bahannya kain sehingga bisa dicuci dan dipakai ulang. Dikatakan jika kainnya berbahan polyester dan polyurethane laminate dengan bamboo terry sebagai lapisan di dalamnya.

    Pembalut yang diklaim bertekstur lembut dan punya daya serap tinggi ini hadir dengan empat ukuran untuk disesuaikan dengan kebutuhan. Item berikut dijual Rp 20 ribuan sampai Rp 30 ribuan untuk satu itemnya.

    6. Yuspin

    Yuspin merupakan salah satu pelopor pembalut kain. Produk berikut diklaim mengandung antibacterial silver+ yang membuatnya aman digunakan berkali-kali. Selain itu, menspad produk lokal ini juga hadir dengan motif menarik dan tas serbaguna untuk membawanya traveling.

    Baca: 5 Zodiak ini disebut peduli lingkungan sejak lahir

    7. Babyclo

    Babyclo merupakan brand yang awalnya menjual popok kain bayi. Namun belakangan disediakan pula menstrual pads untuk wanita dewasa yang punya dua varian ukuran.

    Dikatakan jika item ini hadir dengan bahan anti bocor dan punya daya serap tinggi sekaligus menghindari bau tidak sedap. Sedangkan bahan bamboo charcoal membuat kulit tetap kering dan fresh selama menstruasi.

    Item ini dijual Rp 27 ribuan hingga Rp 38 ribuan.

  • KLHK Ajak Masyarakat Tak Beli Produk yang Enggan Kelola Sampah Plastik yang Dihasilkannya

    7cloud.asia –  Masyarakat bisa ikut berperan dalam menanggulangi sampah plastik dengan tidak membeli produk-produk dari para produsen yang tidak memiliki komitmen terhadap Extended Producer Responsibility (EPR) atau tanggung jawab untuk menarik kembali bekas kemasan produknya dari masyarakat.

    Hal itu untuk memberikan sanksi kepada para produsen yang tidak punya komitmen untuk mengurangi sampah plastik.

    “Menjadi tugas kita semua, teman-teman mahasiswa, alumni UI (Universitas Indonesia), mari kita teriaki produsen-produsen yang nggak komitmen terhadap Extended Producer Responsibility ini. Kita berikan sanksi, nggak kita beli barang-barangnya kalau bisa, sehingga mereka punya komitmen untuk itu (tangani sampah plastik, red),” ujar Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)Novrizal Tahar saat berbicara di acara World Environment Day 2023 bertajuk “Solution to Plastic Pollution, Collaboration Action Center ILUNI UI” akhir pekan lalu. 

    Baca: Pengelolaan sampah plastik di Indonesia

    Sebelumnya diberitakan, brand audit Komunitas Nol Sampah Surabaya bersama Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) yang dilakukan di muara sungai Wonorejo, Rungkut, Surabaya, pada Februari 2022 lalu berhasil mengumpulkan 10 karung sampah plastik.

    Community Organizer Nol Sampah Surabaya, Hani Ismail menuturkan 10 karung sampah plastik yang berhasil dikumpulkan di muara sungai Wonorejo itu berasal dari 35 produsen dengan 10 produsen sampah terbanyak.

    Ke-10 produsen tersebut yakn PT. Wings Surya, PT. Indofood Sukses Makmur Tbk, PT. Unilever Indonesia Tbk, PT. Mayora Indah Tbk, PT. Siantar Top Tbk, PT. Java Prima Abadi, PT. Sinar Sosro, PT. Kaldu Sari Nabati, PT. Santos Jaya Abadi, dan PT. P&G.

    Baca:  Apakah bioplastik benar-benar ramah lingkungan?

    Kemudian, ekspedisi Pembela Lautan 2022 yang diadakan Ocean Defender Indonesia pada Agustus 2022 lalu di Pulau Tunda, sebuah pulau kecil yang terletak di Laut Jawa dan sebelah utara Teluk Banten, juga masih menemukan banyaknya sampah plastik yang mencemari sekitar pulau dan bawah laut di daerah itu.

    Penyumbang sampah plastik terbanyak berasal dari produk Indofood, Wings, dan Mayora.  

    Secara persentase, Ocean Defender mencatat Indofood menyumbangkan sampah plastik terbanyak yaitu 114 sampah plastik di Pulau Tunda ini atau sebanyak 7,5% dari banyaknya sampah plastik yang dikumpulkan.

    Penyumbang sampah terbanyak berikutnya adalah Wings dengan 97 sampah plastik atau 6,4%, disusul Mayora sebanyak 88 sampah plastik atau 5,8%, diikuti Unilever 73 sampah plastik atau 4,8% dan PT Santos Jaya Abadi 53 sampah plastik atau 3,5%. 

    Baca:  6 Cara asyik kurangi sampah plastik

    Novrizal menyebutkan komposisi sampah plastik Indonesia terus meningkat. Di mana, pada tahun 1995 komposisinya masih sekitar 9% dari seluruh sampah di Indonesia, namun sekarang sudah di angka 18,2%.

    “Jadi, meningkat tajam terus walaupun di lima tahun terakhir atau mungkin sekitar satu dekade ini kita juga sangat masif menyampaikan untuk melawan ini semua,” tukasnya.

    Menurutnya, salah satu penyebab permasalahan sampah plastik di Indonesia adalah berkembangnya budaya perilaku masyarakat yang menggunakan barang yang sifatnya sekali pakai dan mudah menjadi sampah, di mana sebagian besar barang tersebut terbuat dari plastik.

    “Sebagian besar sampah yang dibuang dalam kondisi tercampur atau tidak dipilah, sehingga proses pengolahan sampah termasuk sampah plastik belum optimal dan masih banyak yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir atau TPA,” ucapnya.

    Baca: Sistem isi ulang dari Siklus bantu kamu kurangi sampah plastik

    Karena itu, dia meminta masyarakat untuk membatasi penggunaan plastik sekali pakai dan memiliki gaya hidup minim sampah melalui pencegahan sampah plastik sekali pakai, belanja tanpa kemasan, dan melakukan pemilahan sampah dari rumah.

    Dia juga mengutarakan bahwa berbagai kebijakan seperti Perpres 97 tahun 2017, di mana pada tahun 2025 ditargetkan 100% pengolahan sampah di Indonesia bisa dilakukan dengan baik dan benar, ini masih jauh.

    Begitu juga dengan pencapaian target Perpres 83 tahun 2018, di mana target untuk bisa mengurangi 70% sampah ke laut sesuai janji Indonesia ke dunia internasional, itu juga masih sulit terpenuhi.

    “Kemudian kita ada regulasi-regulasi lainnya misalnya terkait dengan Extended Producer Responsibility, di mana produsen itu di hulu punya tanggung jawab sekarang. Jadi, bukan volunteer lagi, tapi mandatory sebenarnya, juga masih belum maksimal,” tuturnya.

    Baca: Kelompok paling terdampak perubahan iklim justru ditinggalkan dalam adaptasi iklim

    Novrizal mengatakan hasil survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 menunjukkan bahwa  dari berbagai persoalan lingkungan, indeks ketidakpedulian paling tinggi itu adalah dalam hal pengelolaan sampah, di mana sebanyak 72% orang Indonesia tidak peduli terhadap sampah.

    “Ini belum dilakukan lagi surveinya, mudah-mudahan sudah berubah banyak,” ungkapnya.

    Dalam mengatasi permasalahan sampah plastik yang tidak mudah terurai secara alami, Novrizal meminta kepada para produsen untuk membangun industrialisasi pengolahan sampahnya sendiri. “Untuk itu perlu intervensi teknologi,” katanya.

    Untuk menunjukkan dukungan terhadap pengurangan sampah plastik yang terus meningkat hingga saat ini, Ketua Panitia Acara, Iwan Budisusanto mewajibkan semua ILUNI UI yang ikut dalam acara ini untuk membawa tumbler.

    “Panitia menyediakan air mineral di galon untuk kebutuhan minum saat acara berlangsung. Apabila air di tumbler habis, silahkan mengisi air dari galon yang telah disediakan panitia,” ujarnya. 

    Penulis: Charles Maruli Siahaan

  • Aksi Gerebek Jumantik: Langkah Sederhana Berdampak Besar untuk Lingkungan

    Aksi Gerebek Jumantik: Langkah Sederhana Berdampak Besar untuk Lingkungan

    7cloud.asia – Sekelompok perempuan dengan mengenakan seragam Jumantik dan menenteng kantung plastik tampak menyusuri jalanan di Malaka Jaya, Klender Jakarta Timur.

    Sambil bergurau, mata mereka awas memantau genangan air. Jika ditemui sampah yang bisa memicu genangan air seperti kaleng, botol, ember bekas dan sebagainya maka tanpa segan mereka memungutnya. 

    Para perempuan ini adalah juru pemantau jentik atau Jumantik di wilayah Malaka yang sedang melakukan Gerebek Jumantik.

    Tugas para jumantik ini adalah melakukan pemeriksaan, pemantauan dan pemberantasan jentik nyamuk khususnya Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang merupakan biang penularan penyakit demam berdarah dengue atau DBD. 

    Baca: Pemkab Bangli bersihkan danau Batur dengan menggunakan eco enzyme

     

    Dalam melakukan pemberantasan sarang nyamuk, para jumantik di lingkungan wilayah Malaka Jaya Jakarta Timur berpegang pada pepatah kebersihan adalah sebagian dari iman.

    Mereka tak hanya berusaha mencegah merebaknya penyakit demam berdarah, tapi juga menjaga lingkungan sekitar agar bersih dan nyaman melalui gerakan jumantik peduli lingkungan

    Awalnya, gerakan ini bernama SETIA (Sigap Eliminasi Tempat Indukan Aedes) yang dicetuskan pada 2018 oleh Nurliyanto.

    Seiring waktu berjalan, gerakan ini pun diubah oleh pria yang tercatat sebagai petugas senetarian Kelurahan Malaka Jaya, Jakarta Timur ini menjadi jumantik peduli lingkungan atau JPL.

    Baca: KLHK ajak warga boikot produk yang tak kelola sampah plastiknya dengan baik

    Jumantik peduli lingkungan tak hanya bertujuan memberantas nyamuk, tapi juga membersihkan lingkungan di sekitar Malaka Jaya.

    “Manfaat jumantik peduli lingkungan untuk memutus mata rantai kehidupan si nyamuk. Jadi sebelum menjadi nyamuk, tempat-tempat seperti plastik atau gelas-gelas air mineral yang dibuang sembarangan, sudah kita ambil duluan,” jelas lelaki yang biasa disapa Nurly, di sela-sela acara grebek jumantik Jumat lalu.

    Upaya ini, menurutnya, dilakukan untuk mencegah genangan bila saat turun hujan, karena genangan ini menjadi tempat berbiaknya nyamuk.

    “Karena kan, gelas plastik atau tampungan-tampungan yang dibuang itu akan menampung air, dan disitu akan menjadi sarang jentik dan menjadi wadah yang membuat jentik menjadi makin banyak,” paparnya.

    Baca: Cara unik masyarkat Bali dalam mengelola sampah

    Itu sebabnya saat kader jumantik melakukan psn diwajibkan membawa kantung plastik atau karung untuk mengambil wadah-wadah itu agar dapat mencegah perkembangbiakan jentik.

    Dari wadah itu pun, kader bisa pula mengelola dan mengirimkannya ke bank sampah atau didaur ulang.

    “Dari daur ulang sendiri kader jumantik kan, jadi punya uang kas atau income dan bisa dibeli oleh bank sampah. Nah uangnya bisa dikelola oleh kader sendiri misalnya bila ada posyandu, dari uang limbah itu bisa dimanfaatkan untuk makanan tambahan balita, beli baju seragam jumantik atau untuk refereshing,” pungkasnya.

    Manfaat dari jumantik peduli lingkungan ini sangat dirasakan warga kelurahan Malaka Jaya. Kasus demam berdarah yang dulu sering merebak di wilayah padat penduduk ini kini jauh berkurang.

    “Ahamdulillah, lingkungan kita bersih dan baik. Dan Alhamdulillah jumantik juga sudah bekerja dengan baik,” kata Lurah Malaka Jaya, Asianto, bangga.

    Baca: Mengenal budaya Betawi Pesisir di Museum Si Pitung

    Sementara itu Korlap Jumantik RW 04 kelurahan Malaka Jaya, Sugiarti Anggraeni mengakui adanya manfaat dari JPL, lantaran aksi ini bisa menjadi uang kas bagi para kader jumantik.

    Namun di sisi lain, ia mengkhawatirkan bila kegiatan jumantik tersebut akan mengurangi pendapatan pemulung yang memang bekerja di wilayah tersebut.

    Namun demikian, aksi jumantik ini patut didukung untuk mencegah merebaknya demam berdarah sekaligus untuk membenahi pengelolaan sampah di lingkungan perumahan.

  • DemiBumi Ada Karena Planet Bumi adalah Titipan dari Generasi Masa Depan

    DemiBumi Ada Karena Planet Bumi adalah Titipan dari Generasi Masa Depan

    7cloud.asiaSemua berawal dari sebuah cerita tentang kondisi yang mengancam planet Bumi. Karena kerusakan lingkungan dan perubahan iklim maka Bumi terancam tenggelam.

    Mendengar cerita tentang Bumi itu, putri Jessica Halim yang saat itu masih berusia 4 tahun menangis tersedu-sedu. Ia ketakutan dan khawatir akan masa depannya.

    Dari kejadian ini Jessica memutuskan untuk tidak tinggal diam dan tergerak untuk melakukan sesuatu demi menjaga Bumi yang lestari. Hingga kemudian lahirlah DemiBumi. 

    Untuk menggerakkan DemiBumi, Jessica yang sebelumnya berprofesi sebagai grafis desainer itu menggandeng temannya, Juliana.

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan sistem isi ulang dari Siklus

    Awal mula berdirinya DemiBumi adalah misi pribadi duo Jessica-Juliana untuk mengurangi sampah rumah tangga sebagai bentuk kepedulian untuk menjaga dan melestarikan bumi untuk generasi mendatang.

    DemiBumi yang awalnya adalah proyek pribadi, kini telah berubah menjadi sebuah industri rumah tangga sekaligus gerakan untuk melestarikan lingkungan.

    DemiBumi kini tak hanya menghasilkan beragam produk ramah lingkungan, tapi telah berkembang menjadi sebuah gerakan edukasi untuk mengubah pola pikir bahwa sampah adalah bahan atau material untuk produk baru.

    Baca: Yuk beralih ke bioplastik yang lebih ramah lingkungan

    DemiBumi mengenalkan pola pikir untuk memanfaatkan sumber daya alam seefektif mungkin dan sebanyak mungkin menghindari produk yang terbuat dari plastik.

    DemiBumi mengolah beragam sampah menjadi beragam produk. Botol bekas wine misalnya yang dulu dibuang begitu saja, di tangan DemiBumi diubah menjadi gelas minuman. Kain perca atau pakaian bekas diubah menjadi tas belanja ataupun cepol.

    Yang pasti, DemiBumi terus mengajak warga untuk lebih bijak dalam mengonsumsi dan mengelola sampah yang dihasilkannya.

     

    “Mengurangi sebanyak mungkin pemakaian plastik sekali pakai yang menghasilkan sampah yang tidak bisa terurai dan mengotori tanah dan lautan,” ujar Jessica saat berbicara di acara World Environment Day 2023 bertajuk “Solution to Plastic Pollution, Collaboration Action Center ILUNI UI” pada Sabtu (3/6/2023) lalu.

    DemiBumi percaya, Bumi yang kita tinggali adalah pinjaman dari anak cucu yang harus dijaga dan dipelihara untuk dikembalikan kepada mereka dalam kondisi yang baik.

    Baca: 6 cara asyiik kurangi sampah plastik

    Lewat produk yang dihasilkannya, DemiBumi membantu mengedukasi masyarakat terutama generasi muda tentang pentingnya memulai kesadaran akan kehidupan yang berkelanjutan.

    Jessica menambahkan, sebuah perubahan besar hampir selalu berawal dari individu-individu yang kemudian menular ke masyarakat di sekitarnya yang selanjutnya menjangkau masyarakat yang lebih luas dan lebih banyak.

    Kesadaran untuk menjalankan gaya hidup ramah lingkungan ini dipraktekkan Jessica mulai dari rumahnya sendiri. Di kediaman Jessica, tempat sampah dipisahkan menjadi enam jenis.

    Dengan cara ini secara tidak langsung orang-orang yang tinggal ataupun tamu yang datang ke rumah Jessica akan diajak memilah sampah.

    Baca: Alasan untuk segera beralih ke pembalut kain

    Jessica juga tak segan ‘memamerkan’ kebiasaan memilah sampah saat berada di tempat publik. Dan ternyata, cara ini cukup ampuh untuk mengajak masyarakat untuk sadar memilah sampah.

    “Dengan kita mengubah diri sendiri kita bisa membuat orang di sekitar kita juga berubah,” imbuh Jessica.

    Untuk gaya hidup ramah lingkungan ini, Jessica mengaku banyak belajar dari masyarakat adat yang menurutnya sangat mandiri dalam memenuhi kebutuhan mereka.

    Masyarakat adat, ujar Jessica, sangat cerdas memanfaatkan kekayaan alam tanpa harus merusaknya.  

    Baca: Langkah sederhana mengelola sampah rumah tangga

    Proyek DemiBumi

    Setelah lima tahun berjalan, kini DemiBumi berhasil menghasilkan beragam produk. DemiBumi juga gencar memperkenalkan beragam produk rumah tangga ramah lingkungan, seperti pembalut kain, loofah, sampo alami dan sebagainya.

    DemiBumi juga tak segan membagikan ilmunya tentang kesadaran lingkungan, pengelolaan sampah dan limbah, serta mendaurulang sendiri sampah dan limbah rumah tangga dan memproduksi produk alami kepada masyarakat.

    “DemiBumi fokus pada pendidikan, karena tidak ada yang mengajari kami tentang proses sampah kami sejak di sekolah,” tandas Jessica.

    DemiBumi juga aktif mengajak masyarakat untuk mendaur ulang sampah plastik menjadi produk-produk yang bermanfaat. 

    Baca: KLHK ajak masyarakat boikot produk yang tak kelola sampah plastiknya

    DemiBumi juga gencar mengajarkan urban farming alias bertani di lahan sempit di kawasan perkotaan.

    Tak berhenti di situ, DemiBumi juga menyisihkan pendapatannya untuk pengembangan segala hal yang berkaitan dengan gaya hidup dan produk ramah lingkungan yang diberi nama Thank You Project. 

    “Thank You Project sebagai solusi produk untuk mendanai penelitian, edukasi, pengembangan, dan inovasi solusi produk ramah,” terang Jessica.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Aktivisme Lokal Perempuan untuk Lingkungan Global

    Aktivisme Lokal Perempuan untuk Lingkungan Global

    Foto perempuan Chipko yang memeluk pohon untuk melindungi hutan. (Arnab Chaudhary/Wikimedia Commons)

    7cloud.asia – Perubahan iklim membawa dampak berbeda bagi laki-laki dan perempuan, terutama di negara-negara belahan bumi Selatan.

    Perbedaan dampak perubahan iklim pada perempuan dan laki-laki ini salah satunya dipengaruhi oleh budaya patriarki.

    Dan, perjuangan perempuan terkait lingkungan sebenarnya sudah berlangsung lama dan terjaid di banyak negara. Bagaimana perjuangan perempuan di berbagai negara, ikuti telaah dari Andi Misbahul Pratiwi, PhD Student, University of Leeds yang juga seorang peneliti di Pusat Riset Gender Universitas Indonesia. 

    Tulisan Andi Misbahul Pratiwi terkait perjuangan perempuan untuk lingkungan ini telah dimuat di The Conversation Indonesia. 

     

    Perempuan dalam isu lingkungan kerap terpinggirkan dari kepemilikan dan pengelolaan sumber daya. Perempuan tidak dilibatkan dalam diskusi tentang pengetahuan lokal. Budaya patriarki juga membuat relasi gender yang timpang: perempuan hanya dianggap cakap mengurus rumah tangga.

    Akibatnya, ketika perubahan iklim terjadi: cuaca ekstrem, kebakaran hutan, ataupun banjir, perempuan menanggung beban dan dampak lebih berat. Selain mengalami dampak langsung, perempuan juga rentan menghadapi kekerasan berbasis gender yang lebih intens.

    Meski demikian, narasi bahwa perempuan hanyalah “korban” kerusakan lingkungan perlu kita bedah lagi. Di negara-negara Selatan, perempuan juga berdaya dan memiliki kekuatan untuk melestarikan lingkungan.

    Keberdayaan atau agensi perempuan dalam mempertahankan lingkungan terwujud dalam berbagai bentuk aksi politik, baik formal maupun informal, individu maupun kolektif.

    Gerakan perempuan di negara-negara Selatan

    Sejarah mencatat kontribusi dan peran perempuan dalam advokasi konservasi dan perjuangan melindungi lingkungan dari kerusakan. Salah satu contohnya adalah gerakan Chipko di India. 

    Gerakan ini berawal pada 1974, masyarakat dan perempuan adat di desa Reni, India, berjuang melindungi hutan dari penebangan yang mengancam kelangsungan hidup.

    Para perempuan setempat pun melakukan aksi kolektif menjaga dan memeluk pohon untuk menarik mundur kontraktor dan mencegah penebangan.

    Upaya mempertahankan lingkungan tersebut berlanjut di level global.

    Dalam Konferensi Nairobi tentang keberadaan perempuan negara-negara dunia ketiga pada 1985, para perempuan menyuarakan pentingnya pelestarian lingkungan dan aksi politik perempuan. Dalam konferensi ini, testimoni dari gerakan Chipko dan gerakan perempuan serupa di negara-negara lain terus berdengung.

    Selain gerakan Chipko, gerakan perempuan di Zapotalito–desa di pesisir Pantai Pasifik Oaxaca, sebelah selatan Meksiko, turut mengusung aksi politik sejak 2016. Desa ini berada di dalam kawasan taman nasional laguna Chacahua-Pastoría yang rusak: ikan-ikan mati, bau amonia menyengat, air tergenang, dan kualitas udara buruk.

    Para perempuan beraksi dengan bertahan tinggal di desa dan melakukan kegiatan sehari-hari di tengah kerusakan laguna Chacahua-Pastoría. Mereka memasak makanan, membuat tortilla, membersihkan rumah, merawat anak-anak, merawat hewan peliharaan dan tanaman, dan menangkap ikan untuk konsumsi keluarga.

    Sayangnya, upaya perempuan mempertahankan ruang hidup dengan kegiatan sehari-hari ini kerap tidak dianggap sebagai tindakan politik.

    Selain bertahan, perempuan Zapotalito juga bersama-sama membersihkan kanal-kanal alami di kawasan mangrove Coaxaca. Pembersihan dilakukan secara berkala menggunakan sekop dan cangkul.

    Sementara itu, gerakan perempuan di Chiquiacá, Bolivia, melawan pengrusakan kawasan konservasi Tariquía Flora and Fauna National Reserve sejak 2017.

    Para perempuan ini memimpin unjuk rasa untuk menentang masuknya perusahan minyak dan gas bumi di kawasan tersebut. Pada tahun 2019, para perempuan memblokade jalan masuk wilayah konservasi selama 5 bulan untuk mencegah masuknya alat pengeboran.

    Para perempuan Chiquiacá juga berdemonstrasi di jalanan, menghalangi pembangunan masuk wilayah mereka. Gerakan ini menjadi aksi kolektif yang lebih luas hingga saat ini dan telah mendapatkan dukungan dari ribuan warga Bolivia.

    Di Indonesia, para perempuan nelayan di Jawa Tengah berjuang untuk menjamin keberlanjutan komunitas dan ruang hidup mereka di tengah krisis iklim sejak 2020. Ketidakpastian gelombang laut, banjir pasang yang semakin tinggi, dan kenaikan permukaan air laut telah membuat beberapa rumah-rumah nelayan di tenggelam.

    Gerakan perempuan nelayan yakni Puspita Bahari dan Persatuan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) di Kabupaten Demak, Jawa Tengah terus menyuarakan masalah ini. Mereka berbicara mengenai lingkungan dan hak atas ruang hidup kepada para pengambil kebijakan, melakukan peningkatan kesadaran masyarakat, menggalang dana untuk membangun jembatan, dan melakukan pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan.

    Mereka juga secara aktif mengungkapkan masalah ini di berbagai forum dan media untuk memastikan agar masalah yang dihadapi oleh nelayan perempuan didengar dan mendapatkan perhatian yang lebih luas.

    Selain di Demak, ada juga gerakan perempuan lainnya seperti Mpu Uteun yang menjaga hutan Aceh sejak 2015, Kartini Kendeng di Jawa Tengah yang melakukan aksi menyemen kaki dan membangun tenda perlawanan untuk menolak pembangunan pabrik semen sejak 2014, dan aksi ‘mama’ Aleta Baun di Nusa Tenggara Timur yang melawan pertambangan dengan menenun kain sejak 1999.

    Tidak jarang dalam setiap aktivisme yang dilakukan, perempuan mengalami ancaman, intimidasi, dan kekerasan dari berbagai pihak. Misalnya, kekerasan verbal: “perempuan seharusnya duduk diam di rumah dan mengurus dapur” yang dialami gerakan perempuan di Chiquiacá, Bolivia. Ada juga ancaman pembunuhan yang diterima Aleta Baun di NTT.

    Walau begitu, mereka pantang mundur. Para perempuan maju terus untuk memperjuangkan kelestarian ruang hidup mereka.

    Berbagai dukungan di tingkat global

    Gerakan di atas membuktikan bahwa perempuan berdaya melakukan dengan aktivisme lingkungan dari tingkat rumah tangga, komunitas, hingga negara.

    Dunia internasional pun mengamini perjuangan tersebut. Kebijakan dan dokumen internasional saat ini telah memasukkan dimensi gender sebagai elemen penting dan spesifik dalam isu lingkungan dan pembangunan.

    Dokumen terbaru, misalnya, diterbitkan oleh Badan Perserikatan Bangsa Bangsa untuk Kerangka Kerja Perubahan Iklim (UNFCCC) pada 2023. Laporan mereka mengangkat topik gerakan perempuan lokal dan perempuan adat sebagai solusi kebijakan dan aksi iklim. Laporan ini mengakui bahwa perempuan dari komunitas lokal dan perempuan adat memimpin dalam pengembangan dan implementasi kebijakan iklim di tingkat lokal, nasional, dan internasional.


    Baca juga: Konferensi iklim masih didominasi laki-laki, saatnya meningkatkan keterlibatan perempuan


    Sejumlah kebijakan juga mendorong keterlibatan perempuan dalam agenda pembangunan berkelanjutan.

    Contohnya, Deklarasi Rio de Janeiro 1992 tentang Lingkungan dan Pembangunan menyepakati peran penting perempuan pengelolaan dan pembangunan lingkungan. Ada juga Konvensi PBB tahun 2004 untuk Melawan Kekeringan dan Degradasi Lahan (UNCCD). Konvensi ini menekankan peran penting perempuan di wilayah terdampak kekeringan, terutama di daerah pedesaan negara-negara berkembang.

    Selain itu, Laporan Pertemuan Antar Pemerintah Tingkat Tinggi terkait Platform Beijing di Asia dan Pasifik turut menyoroti hubungan krusial perubahan lingkungan dengan peran perempuan sebagai pengelola dan penyedia sumber daya alam. Platform Beijing yang disepakati pada 1995 adalah resolusi yang mendukung kesetaraan dan pemberdayaan perempuan di seluruh dunia.

    Langkah ke depan

    Meskipun merasakan dampak berlapis akibat perubahan iklim, perempuan terus menunjukkan ketangguhan dan pengetahuan mereka untuk menemukan solusi terhadap krisis iklim.

    Aksi perempuan menuntut keadilan iklim menjelang Konferensi Bonn pada 2017. (Dokumentasi Jaringan Masyarakat Sipil Indonesia untuk Keadilan Iklim)

    Karena itulah, pengakuan terhadap aktivisme perempuan sangat penting untuk menghubungkan aktivisme di tingkat akar rumput dengan politik global. Pengakuan ini juga akan menunjukkan banyaknya perbedaan, kesamaan, dan keterhubungan antara satu tempat dengan tempat lainnya, antara satu negara dengan negara lainnya. Sehingga bisa menjadi salah satu cara untuk menghadirkan solidaritas.

    Kita dapat memulai upaya mendokumentasikan aktivisme lokal. Pencatatan ini berfungsi sebagai upaya mengintegrasikan pengetahuan dan pengalaman perempuan ke dalam agenda pembangunan lingkungan.

    Kedua langkah tersebut penting dilakukan untuk menghindari generalisasi berlebihan terhadap situasi perempuan di berbagai negara sekaligus melampaui narasi bahwa “perempuan secara inheren adalah korban”.

  • Film dan Festival Film Jadi Media Kampanye Perubahan Iklim

    Film dan Festival Film Jadi Media Kampanye Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Film menjadi media yang berperan dalam kampanye, termasuk dalam kampanye perubahan iklim. Lewat film, realitas perubahan iklim terasa nyata dan membuat penontonnya tersentak menyadari seriusnya ancaman perubahan iklim. 

    Lewat film, imajinasi mengambil alih dan menulis ulang realitas perubahan iklim itu.

    Beberapa variasi tema perubahan iklim telah ditawarkan dalam film-film arus utama (yang seringkali merupakan film laris produksi Amerika) yang menjadikan bencana alam sebagai pusat cerita.

    Dapat dikatakan bahwa di Korea Selatan, kesadaran akan perubahan iklim sedang tumbuh, seperti di tempat lain di dunia.

    Baca: Peringatan soal ancaman perubahan iklim sudah muncul sejak 70 tahun silam

    Sejak 2018, Komisi Keadilan dan Perdamaian Fransiskan Korea menyelenggarakan serangkaian seminar dengan pemutaran film untuk meningkatkan kesadaran publik tentang perubahan iklim bekerja sama dengan beberapa LSM, misalnya jaringan ICE (Iklim dan Ekologi Antaragama), Asia Hijau, dll. .

    Pemutaran film bulanan ini dimulai pada Mei 2018 dengan film dokumenter Amerika, “Disruption of Kelly Nyks” yang berisi pesan peringatan dari perubahan iklim global terhadap manusia.

    Pesannya sangat jelas, bahwa perubahan iklim juga berkaitan dengan pengentasan kemiskinan. Salah satu aksi yang harus dilakukan adalah pemberdayaan perempuan.

    Film ini melihat perubahan iklim juga sebagai hasil dari konstruksi masyarakat yang tidak setara. Film ini berlatarkan di Amerika Latin.

    Baca: Negara miskin paling terdampak perubahan iklim

    Di antara film-film laga ini, adalah Before the Flood karya Leonardo DiCaprio; mockumentary Sizzle: A Global Warming Comedy dan “film aksi dari Jerman, “Voice of Transition”.

    Setelah pemutaran film selama satu jam tersebut, dilanjutkan dengan debat tema film oleh spesialis iklim dan sesi tanya jawab dengan penonton.

    Selain itu, komunitas film Korea juga memiliki Festival Film Ramah Lingkungan Seoul (SEFF). Festival ini dulu bernama Green Film Festival, merupakan festival film pertama dan terbesar di Korea yang berfokus pada isu lingkungan.

    Didirikan pada tahun 2004, Korean Green Foundation, SEFF adalah festival yang berupaya berbagi harapan untuk dunia yang lebih baik, di mana semua kehidupan dapat hidup selaras dengan lingkungan dan alam.

    Baca: Kampanye perubahan iklim harus tumbuhkan kesadaran

    Melalui sinema, festival ini berharap dapat mempromosikan ide-ide pelestarian lingkungan dan penghormatan terhadap kehidupan untuk mendorong kesadaran dan tindakan publik untuk perubahan positif.

    Pada tahun 2019 film dokumenter “Grit” dari Cynthia Wade dan Sasha Friedlander memenangkan penghargaan utama di festival ini. Gritt menceritakan tentang sebuah perusahaan besar yang menghancurkan 16 desa di Indonesia dan hampir dua puluh tahun memperjuangkan keadilan.

    Di Korea Selatan, dalam dua dekade terakhir ini diproduksi sejumlah film yang mengangkat isu perubahan iklim ini. Berikut beberapa di antaranya.

    1. Wonderful Days or Sky blue (2003)

    Salah satu yang pertama dan visioner adalah film animasi “Wonderful Days or Sky blue (2003) oleh Kim Moonsaeng yang berlatarkan tahun 2142.

    Polusi memicu kerusakan lingkungan, perubahan iklim, dan peradaban manusia hancur berantakan. Sekali lagi, ada orang miskin yang bekerja sebagai budak yang menderita akibat pencemaran orang kaya.

    Baca: Ribuan desa pesisir terancam hilang akibat perubahan iklim

    2. Snowpiercer (2013)

    Sepuluh tahun kemudian, pada 2013, sutradara film Korea Bong Joon-Ho mengadaptasi novel grafis Prancis Le Transperceneige ke dalam film aksi fiksi ilmiah “Snowpiercer”.

    Film ini diakui secara internasional terutama untuk visinya tentang perubahan iklim. Film ini menyorot kejadian saat umat manusia gagal menghentikan pemanasan global melalui intervensi teknologi. Hasilnya adalah zaman es baru.

    Hanya sekelompok kecil manusia yang selamat, dan mereka berada di kereta khusus yang berjalan mengelilingi bumi melalui es dan salju. Penumpang dipisahkan secara sosial, dan hukum yang terkuat ada dengan manipulasi dan cuci otak. Namun, kejahatan akan dikalahkan oleh kebaikan dan empati terhadap mereka yang diperlakukan tidak adil.

    3. Parasite (2019)

    Dalam film terbaru Bong, Parasite (2019), ada petunjuk tentang perubahan iklim ketika bagian kota Seoul yang selama ini tidak terjangkau oleh pemerintah setempat, dilanda banjir hebat. 

    Sumber: signiasia.com

  • Kiat Menggunakan Internet yang Ramah Lingkungan

    Kiat Menggunakan Internet yang Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Meski tidak terlihat dan tidak berbau, penggunaan internet ternyata juga memiliki dampak pada lingkungan. Hal ini disebabkan oleh penggunaan energi listrik saat kita berselancar.

    Konsumsi internet yang berlebihan memicu penggunaan energi yang besar yang tentunya akan menambah emisi karbon yang kamu hasilkan, sehingga berdampak pada lingkungan.

    Semakin besar energi listrik yang kamu gunakan maka semakin besar dampak negatif pada lingkungan, karena sebagian besar pembangkit listrik di Indonesia masih menggunakan bahan bakar fosil (batu bara).

    Untuk itu kamu juga perlu bijak dalam menggunakan internet. 

    Baca: Mengapa PLTU batubara harus segera diakhiri

    Berikut adalah beberapa langkah yang dapat kamu ambil untuk mengurangi konsumsi internet:

    1. Tetapkan batasan waktu online

    Gunakan internet sesuai keperluan, matikan internet jika sudah tidka dibutuhkan. Selain akan menghemat energi, langkah ini juga bisa melindungi kesehatan mata kamu dari terus menerus memantengi layar komputer.

    2. Matikan perangkat yang tidak digunakan

    Peralatan elektronik yang terus-menerus dinyalakan akan mengonsumsi energi listrik yang lebih besar. Untuk itu matikan peralatan jika memang kamu sudah selesai dengan kepentingan kamu menggunakan internet.

    Baca: Sisi gelap di balik transisi menuju energi terbarukan

    3. Gunakan koneksi Wi-Fi yang efisien, pilih router yang efisien energi

    Koneksi yang lancar akan mempercepat kerja kamu, yang selanjutnya akan mengurangi konsumsi energi listrik yang kamu gunakan. Saat ini, di pasaran sudah banyak tersedia beragam peralatan yang memperlancar koneksi internet. Cobalah browsing untuk mencari alat yang tepat sesuai kebutuhan kamu. 

    4. Hindari pengunduhan dan streaming yang tidak perlu

    Mengunduh file dan streaming membutuhkan koneksi ekstra yang ini berbuntut pada penggunaan energi yang lebih besar. Karena itu hindari mengunduh ataupun menonton streaming yang memang tidak dibutuhkan.  

    Baca: Gaya hidup tak ramah lingkungan ini layak ditinggalkan

    5. Komunikasi efektif dengan mengurangi pengiriman dan pengunduhan file besar

    Semakin besar ukuran sebuah file, maka akan semakin besar juga koneksi yang dibutuhkan untuk mengirimnya. Sehingga sebelum mengirim, pastikan agar isi dokumenmu sesuai dengan yang dibutuhkan. 

    Mungkin selama ini kamu tidak menyadari bahwa penggunaan internet juga mempengaruhi jejak karbon yang kamu hasilkan. Nah mulai sekarang lebih bijaklah dalam berselancar dan jangan lupa ajak teman-temanmu untuk sama-sama menjaga lingkungan hidup.

  • Begini Cara Blackpink Tunjukkan Kepeduliannya pada Lingkungan

    Begini Cara Blackpink Tunjukkan Kepeduliannya pada Lingkungan

    7cloud.asia – Tak bisa dipungkiri, hingga kini Blackpink masih menjadi grup vokal perempuan atau girl group dari Korea yang paling berpengaruh di dunia.

    Blackpink yang mencitrakan diri sebagai feminim tetapi juga garang dan pantang menyerah ini ternyata punya kepedulian tinggi pada kelestarian lingkungan. 

    Pada 2021, Blackpink meminjamkan pengaruh mereka sebagai bintang untuk inisiatif global yang bertujuan menginspirasi orang untuk lebih peduli lingkungan.

    Blackpink juga mengajak fansnya yang dikenal dengan istilah Blinks untuk ikut aktif dalam aksi memecahkan masalah iklim dan ikut membuat planet Bumi menjadi lebih sehat.

    Baca: Cara Coldplay wujudkan tur ramah lingkungan

    Saat menyampaikan pidato tentang perubahan iklim selama episode spesial mereka ‘Dear Earth’Blackpink membuat para Blinks terkesan dengan balada mereka yang berjudul berjudul ‘Stay’ 

    Blackpink yang beranggotakan Jennie, Lisa, Jisoo, dan Rose menggunakan nada tinggi saat membawakan ‘Stay’ seolah menggambarkan perasaan mereka terhadap apa yang terjadi pada planet bumi.

    Jennie, Lisa, Jisoo, dan Rose menambahkan sentuhan pribadi mereka ke trek, menjadikannya suguhan yang sempurna untuk semua blinks yang menonton acara yang digelar secara virtual pada Oktober 2021 lalu.

    Baca: 7 film ini akan membuatmu makin cinta Indonesia

    Dalam konser tersebut, Blackpinck juga mengkomunikasikan “pesan penting” tentang perubahan iklim dan bahkan mengungkapkan saat mereka menyadari sudah waktunya untuk angkat bicara.

    Secara bergiliran personil Blackpink mencatat masalah lingkungan seperti polusi udara, mencairnya lapisan es, dan banyak lagi sambil mengungkapkan bahwa ini adalah beberapa alasannya. mereka memutuskan untuk berbicara untuk perubahan.

    “Kita adalah generasi pertama yang tumbuh di era digital, dan itu membuat kita unik. Karena kita tumbuh dan terhubung satu sama lain melalui teknologi, kita memiliki banyak kesamaan di mana pun kita tinggal di Bumi. Hari ini, kita bersatu sekali lagi karena kita menghadapi masalah umum yang terkait dengan zaman yang kita jalani sekarang,” kata Jennie.

    Baca: K-drama yang mengangkat isu kesehatan mental

    Jisoo melanjutkan dalam bahasa Korea dengan mengatakan, “Kita tumbuh di planet yang, setiap hari sejak kita lahir, semakin sakit dan semakin sakit. Dan karena generasi kita juga yang paling terhubung, dan karena kami akan ada untuk melihat bagaimana kisah ini. terungkap, kita harus lebih sadar akan krisis lingkungan ini.”

    Rose menambahkan, “Saya menyadari keseriusan masalah ini setelah memperhatikan jumlah limbah yang dikumpulkan bumi setiap tahun.” 

    “Masalah ini tidak pernah lebih penting bagi saya sejak menyadari betapa berbahayanya polusi udara,” kata Lisa. 

    Baca:Greta Thunberg berjuang untuk lingkungan sejak umur 8 tahun

    “Kita tidak perlu bertanya apakah perubahan iklim sedang terjadi. Kita tidak perlu diyakinkan bahwa alam menghilang.”

    “Planet ini memanas terlalu cepat, alam liar kita menghilang terlalu cepat, lautan sekarat, sampah menumpuk. Seperti yang terjadi, mungkin tidak ada planet tersisa untuk diselamatkan,” kata kelompok itu.

    Blackpink menambahkan, “Generasi kita akan bertanggung jawab untuk menjaga Bumi dan kita akan bekerja untuk membangun dunia yang lebih baik, lebih setara, dan lebih berkelanjutan.”

    Baca: Film bisa menjadi media efektif untuk kampanye lingkungan

    Show yang berlangsung pada Oktober 2021 tersebut merupakan penampilan pertama Blackpink setelah konser virtual ‘The Show’ yang berlangsung awal tahun yang sama. 

    Hingga saat ini Blackpink masih menjadi girl group yang berpengaruh meski Rose dan Lisa telah merilis album solo mereka.

    Sumber: indiatimes.com, baca artikel asli di sini