Tag: pemanasan global

  • Dua Studi Global Ungkap Suhu Bumi Lampaui Ambang Batas Pemanasan Global 1,5°C

    Dua Studi Global Ungkap Suhu Bumi Lampaui Ambang Batas Pemanasan Global 1,5°C

    7cloud.asia – Suhu Bumi telah melewati ambang batas pemanasan global 1,5°C, menurut dua studi global terbaru. Situasi ini menunjukkan bahwa iklim planet ini telah memasuki fase baru yang mengkhawatirkan.

    Dalam Perjanjian Paris 2015, negara-negara yang tergabung di dalamnya berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan menjaga pemanasan global tidak melebihi 1,5°C di atas rata-rata pra-industri.

    Namun, nyatanya rata-rata suhu Bumi pada tahun 2024 lalu telah melewati batas tersebut.

    Meski begitu, data satu tahun saja tidak cukup untuk bisa menyatakan bahwa ambang batas Perjanjian Paris telah terlampaui.

    Sebab, target suhu dalam perjanjian ini diukur berdasarkan tren jangka panjang selama beberapa dekade, bukan sekadar lonjakan sesaat di atas 1,5°C.

    Namun, dua studi terbaru yang menggunakan ukuran yang berbeda untuk memeriksa ambang batas pemanasan global ini.

    Baca: Dunia keluar jalur pembatasan pemanasan global 1,5°C

    Kedua studi ini menganalisis data iklim historis untuk menentukan apakah tahun-tahun terpanas dalam sejarah baru-baru ini merupakan indikasi bahwa ambang batas pemanasan global jangka panjang di masa depan akan terlampaui.

    Sayangnya, jawabannya adalah ya. Para peneliti mengatakan bahwa rekor suhu panas pada 2024 menandakan bahwa Bumi sedang melewati batas 1,5°C. Para ilmuwan memprediksi akan terjadi bencana besar pada sistem alam yang menopang kehidupan di planet ini.

    2024: Tahun pertama dari banyak tahun di atas 1,5°C
    Organisasi iklim di seluruh dunia sepakat bahwa tahun lalu adalah tahun terpanas dalam sejarah.

    Suhu rata-rata global pada 2024 mencapai sekitar 1,6°C di atas suhu rata-rata pada akhir abad ke-19, sebelum manusia mulai membakar bahan bakar fosil dalam skala besar.

    Selain itu, Bumi juga baru-baru ini mengalami hari-hari dan bulan-bulan dengan suhu di atas ambang batas 1,5°C.

    Namun, suhu global bervariasi dari tahun ke tahun. Lonjakan suhu pada 2024, meskipun sebagian besar disebabkan oleh perubahan iklim, juga diperburuk oleh fenomena El Niño alami di awal tahun.

    Baca: Rata-rata suhu Bumi 2024 tercatat 1,6°C di atas masa Pra-industri

    Fenomena yang dipicu El Nino ini kini telah mereda, dan pada 2025 diperkirakan akan lebih rendah.

    Fluktuasi dari tahun ke tahun ini menandakan bahwa para ilmuwan iklim tidak serta-merta melihat satu tahun yang melebihi batas 1,5°C sebagai kegagalan untuk memenuhi Perjanjian Paris.

    Namun, dua studi terbaru yang dipublikasikan di Nature Climate Change menunjukkan bahwa bahkan satu bulan atau satu tahun dengan pemanasan global 1,5°C saja sudah bisa menjadi indikasi bahwa Bumi sedang memasuki ambang batas tersebut.

    Data suhu rata-rata global dari enam organisasi menunjukkan bahwa tahun 2024 merupakan tahun terpanas di dunia dan tahun pertama yang menembus angka 1,5°C. WMO

    Temuan studi
    Studi-studi tentang suhu Bumi ini dilakukan secara independen oleh para peneliti dari Eropa dan Kanada.

    Mereka berusaha menjawab pertanyaan mendasar: apakah satu tahun di atas 1,5°C merupakan tanda bahwa kita telah melewati ambang batas Perjanjian Paris?

    Baca: Dampak lingkungan jika pemanasan global mencapai 2°C

    Kedua studi ini menggunakan data observasi dan simulasi model iklim untuk menjawab pertanyaan ini, dengan pendekatan yang sedikit berbeda.

    Dalam studi dari Eropa, para peneliti menganalisis tren pemanasan historis. Mereka menemukan bahwa ketika suhu rata-rata Bumi mencapai ambang batas tertentu, maka dalam 20 tahun berikutnya suhu tersebut juga cenderung berada di ambang batas yang sama.

    Pola ini menunjukkan bahwa jika Bumi mencapai pemanasan 1,5°C tahun lalu, maka kita mungkin telah memasuki periode 20 tahun saat suhu rata-rata juga akan mencapai tingkat tersebut.

    Sementara itu, studi dari Kanada menggunakan data suhu bulanan. Juni 2024 merupakan bulan ke-12 berturut-turut dengan suhu di atas 1,5°C.

    Para peneliti menemukan bahwa jika selama 12 bulan berturut-turut suhu melampaui ambang batas iklim tertentu, maka kemungkinan besar ambang batas tersebut akan tercapai dalam jangka panjang.

    Kedua studi ini juga menunjukkan bahwa, meskipun pengurangan emisi yang ketat dimulai dari sekarang, Bumi tetap berisiko melewati batas 1,5°C.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris. Penulis: Andrew King (Associate Professor in Climate Science, ARC Centre of Excellence for 21st Century Weather, The University of Melbourne) dan Liam Cassidy (PhD Candidate, The University of Melbourne)

  • Pemanasan Global Akibatkan Penurunan Kadar Oksigen di Ribuan Danau di Seluruh Dunia

    Pemanasan Global Akibatkan Penurunan Kadar Oksigen di Ribuan Danau di Seluruh Dunia

    7cloud.asia – Sebuah penelitian yang diterbitkan pada Sabtu (22/3/2025) menemukan, penurunan kadar oksigen di danau-danau di seluruh dunia akibat pemanasan global dan meningkatnya gelombang panas.

    Para peneliti menemukan tren penurunan kadar oksigen tersebut setelah menganalisis data tingkat oksigen terlarut, jumlah oksigen dalam air, di lebih dari 15.000 danau di seluruh dunia selama 20 tahun terakhir.

    Diterbitkan dalam jurnal Science Advances, penelitian tersebut menemukan bahwa 83 persen danau di seluruh dunia mengalami penurunan kadar oksigen permukaan, dan tingkat rata-rata hilangnya oksigen di danau lebih tinggi daripada di lautan dan sungai.

    Temuan ini menyoroti betapa seriusnya masalah yang ditimbulkan pemanasan global. Penulis studi tersebut menilai pemanasan global merupakan penyebab utama dari penurunan tingkat oksigen ini, yang berkontribusi terhadap 55 persen penurunan oksigen dengan mengurangi kelarutan oksigen.

    Baca: Pemanasan global akibatkan separuh danau di dunia mengering

    Baca: Kondisi Danau Lido dalam kondisi kritis

    Selain itu, meningkatnya konsentrasi nutrisi di danau, yang dikenal sebagai eutrofikasi, menyebabkan sekitar 10 persen dari total penurunan kadar oksigen.

    Studi tersebut juga menganalisis dampak gelombang panas terhadap penurunan oksigen di permukaan danau.

    Studi menunjukkan bahwa gelombang panas memberikan dampak yang cepat dan nyata pada penurunan oksigen, yang mengakibatkan penurunan sebesar 7,7 persen dibandingkan dengan kondisi pada suhu rata-rata.

    Para penulis mengatakan temuan ini menggarisbawahi dampak mendalam perubahan iklim pada ekosistem air tawar, yang membutuhkan kadar oksigen cukup untuk menopang kehidupan aerobik dan menjaga komunitas biologis tetap sehat.

    Baca: Suhu Bumi lampaui ambang batas pemanasan global

    Baca: Dampak lingkungan jika pemanasan global mencapai 2°C

    “Menurunnya oksigen dapat menyebabkan kepunahan spesies, kematian organisme akuatik, dan runtuhnya industri perikanan komersial,” kata rekan penulis Zhang Yunlin, seorang peneliti di Institut Geografi dan Limnologi Nanjing di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China.

    Hilangnya oksigen terlarut di danau telah dilaporkan sebelumnya. Misalnya, sebuah studi tahun 2021 yang diterbitkan dalam jurnal Nature menunjukkan bahwa penurunan terjadi secara luas di permukaan dan perairan dalam danau beriklim sedang.

    Namun, penulis studi baru tersebut meyakini bahwa temuan mereka memberikan pandangan yang lebih komprehensif, karena danau yang diteliti adalah danau di seluruh dunia yang memiliki luas lebih dari 10 kilometer persegi.

    Sebaliknya, danau yang diteliti dalam studi sebelumnya tidak termasuk danau dari zona iklim tropis dan dingin.

    Kebutuhan mendesak untuk memerangi meningkatnya ancaman kehilangan oksigen juga ditekankan.

    Rekan penulis Shi Kun, juga seorang peneliti dari lembaga yang berpusat di Nanjing, mengatakan bahwa upaya harus difokuskan pada pengurangan konsentrasi nutrisi di danau, seperti membatasi penggunaan pupuk dan emisi limbah ternak, serta meningkatkan pengelolaan air limbah domestik dan industri perkotaan.

    “Menanam vegetasi terendam dan membangun lahan basah juga dapat membantu memulihkan ekosistem danau,” kata Shi kepada Xinhua.

    Para peneliti dari Universitas Nanjing di China dan Universitas Bangor di Inggris juga berpartisipasi dalam penelitian ini.

    Sumber:Antaranews.com/Xinhua

  • Kerusakan Hutan Dunia Semakin Mengkhawatirkan Akibat Pemanasan Global

    Kerusakan Hutan Dunia Semakin Mengkhawatirkan Akibat Pemanasan Global

    7cloud.asia – Sebuah studi yang diterbitkan di nature.com minggu lalu memperingatkan kemungkinan hilangnya hutan tropis akibat pemanasan global.

    Penelitian ini menunjukkan kemungkinan kemunduran signifikan luas hutan tropis di Amazon jika pemanasan global melebihi target internasional sebesar 1,5 derajat Celsius.

    Selain mengancam keanekaragaman hayati yang kaya di habitat-habitatnya, hal ini juga bisa berdampak serius pada iklim global.

    Kebakaran menjadi penyebab utama kerusakan hutan. Untuk pertama kalinya, faktor kebakaran melampaui pembukaan lahan untuk pertanian sebagai pemicu musnahnya hutan.

    Di sisi lain, para ilmuwan mencatat negara-negara di Asia Tenggara melawan tren deforestasi global. Mereka mencontohkan luas hutan primer yang hilang di Indonesia turun sebesar 11 persen dibandingkan tahun 2023, meskipun sedang dilanda kekeringan.

    Baca: Investigasi Greenpeace ungkap dalang pembabatan hutan

    Elizabeth Goldman, salah satu direktur proyek Global Forest Watch di World Resource Institute, mengatakan hal ini adalah hasil dari upaya bersama pemerintah dan masyarakat yang bekerja sama untuk menegakkan undang-undang “anti-pembakaran”.

    “Indonesia menjadi titik terang dalam data tahun 2024,” katanya.

    “Tidak dipungkiri lagi bahwa kemauan politik adalah faktor kunci keberhasilan,” timpal Gabriel Labbate, kepala mitigasi perubahan iklim di program hutan PBB UNREDD, yang tidak terlibat dalam laporan kali ini.

    Pada masa silam, negara-negara lain, termasuk Brasil, berhasil menghalau dampak kebakaran hutan dengan pendekatan serupa,

    Akan tetapi, perubahan kebijakan pemerintah pada tahun 2014 mendorong terjadinya lagi peningkatan deforestasi.

    Baca: Laju deforestasi di Indonesia naik dalam 3 tahun terakhir

    Meskipun ada kemajuan positif di Asia Tenggara, Profesor Hansen menilai fluktuasi hilangnya hutan di Brasil menunjukkan bahwa kebijakan perlindungan haruslah konsisten.

    “Kita belum melihat adanya keberhasilan yang berkelanjutan dalam mengurangi dan mempertahankan tingkat konversi ekosistem yang rendah. Dalam pelestarian lingkungan, kita harus selamanya berada di posisi unggul,” katanya kepada BBC News.

    Para peneliti sepakat bahwa KTT iklim PBB tahun ini, COP30 (yang akan diselenggarakan di Amazon) akan menjadi wadah krusial untuk saling berbagi dan mempromosikan skema perlindungan hutan.

    Salah satu proposal adalah memberikan penghargaan kepada negara-negara yang mempertahankan hutan tropis melalui pembayaran.

    Meski rinciannya masih perlu diolah, Rod Taylor menilai usulan ini menjanjikan.

    “Ini adalah contoh inovasi demi mengatasi salah satu isu mendasar saat ini: menebang hutan lebih menghasilkan uang daripada mempertahankannya,” pungkasnya.

    Baca: Rencana pembukaan 20 juta hektare hutan akan memicu kiamat ekologis

  • Masalah Lingkungan Terbesar pada 2025: Pemanasan Global Akibat Bahan Bakar Fosil

    Masalah Lingkungan Terbesar pada 2025: Pemanasan Global Akibat Bahan Bakar Fosil

    7cloud.asia – Dunia tengah bergulat dengan sejumlah tantangan lingkungan yang mendesak dan menuntut perhatian dan tindakan segera, mulai bencana yang disebabkan oleh perubahan iklim hingga hilangnya keanekaragaman hayati dan polusi plastik.

    Dilansir earth.org, ada setidaknya 15 masalah lingkungan terbesar tahun 2025 yang menggambarkan secara gamblang tentang kebutuhan mendesak untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

    Salah satu masalah lingkungan terbesar pada 2025 adalah pemanasan global akibat bahan bakar fosil.

    Setelah beberapa bulan berturut-turut mengalami suhu yang memecahkan rekor, musim panas terpanas yang pernah ada, dan hari terpanas yang pernah tercatat, tahun 2024 baru-baru ini dipastikan sebagai tahun terpanas dalam sejarah, dengan suhu rata-rata global 0,12°C di atas tahun 2023, tahun kalender terpanas sebelumnya yang pernah tercatat.

    Suhu rata-rata global adalah 1,60°C di atas tingkat pra-industri, menjadikannya juga tahun kalender pertama yang mencapai lebih dari 1,5°C di atas tingkat pra-industri.

    Ini mengakhiri satu dekade panas yang belum pernah terjadi sebelumnya secara global yang dipicu oleh aktivitas manusia, dengan masing-masing dari sepuluh tahun terakhir (2015-2024) menjadi salah satu dari sepuluh tahun terhangat yang pernah tercatat.

    Baca: Kenaikan suhu Bumi lampaui batas pemanasan global 1,5°C

    Kondisi ini semakin buruk karena konsentrasi gas rumah kaca (GRK) tidak pernah setinggi ini.

    Konsentrasi atmosfer dari ketiga gas utama yang menghangatkan planet ini – karbon dioksida (CO2), metana, dan nitrogen oksida – mencapai titik tertinggi baru pada tahun 2023, yang menyebabkan planet ini mengalami peningkatan suhu selama bertahun-tahun yang akan datang.

    Ini tidak diragukan lagi merupakan salah satu masalah lingkungan terbesar dalam hidup kita: karena emisi gas rumah kaca menyelimuti Bumi, mereka memerangkap panas matahari, yang menyebabkan pemanasan global.

    Pembakaran batu bara, gas alam, dan minyak untuk listrik dan pemanas merupakan sumber emisi gas rumah kaca global terbesar. Ini adalah pendorong utama pemanasan global karena mereka memerangkap panas di atmosfer dan meningkatkan suhu permukaan Bumi.

    Peningkatan emisi gas rumah kaca telah menyebabkan peningkatan suhu global yang cepat dan stabil, yang pada gilirannya menyebabkan peristiwa bencana di seluruh dunia.

    Dari Australia dan AS yang mengalami beberapa musim kebakaran hutan paling dahsyat yang pernah tercatat, serangan belalang di beberapa bagian Afrika, Timur Tengah, dan Asia, menghancurkan tanaman pangan.

    Baca: Dampak lingkungan jika pemanasan global mencapai 2°C

    Tak ketinggalan, gelombang panas di Antartika yang menyebabkan suhu naik di atas 20°C untuk pertama kalinya.

    Para ilmuwan terus-menerus memperingatkan bahwa planet ini telah melewati serangkaian titik kritis yang dapat menimbulkan konsekuensi bencana.

    Sebut saja, seperti pencairan lapisan es permanen di wilayah Arktik, pencairan lapisan es Greenland pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, percepatan kepunahan massal keenam, dan peningkatan penggundulan hutan di hutan hujan Amazon, hanya untuk menyebutkan beberapa.

    Krisis iklim menyebabkan badai tropis dan peristiwa cuaca lainnya seperti angin topan, gelombang panas, dan banjir menjadi lebih intens dan sering terjadi daripada sebelumnya.

    Namun, bahkan jika semua emisi gas rumah kaca dihentikan segera, suhu global akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang.

    Itulah sebabnya sangat penting bagi kita untuk mulai sekarang mengurangi emisi secara drastis, berinvestasi dalam sumber energi terbarukan, dan menghentikan penggunaan bahan bakar fosil secepat mungkin.

  • Studi Ungkap Pemanasan Global Mengubah Pola Hujan Ekstrem dalam 70 Tahun Terakhir

    Studi Ungkap Pemanasan Global Mengubah Pola Hujan Ekstrem dalam 70 Tahun Terakhir

    7cloud.asia – Sebuah studi terbaru mengungkap, pemanasan global telah mengubah pola curah hujan dan hujan salju ekstrem di belahan bumi utara selama tujuh dekade terakhir.

    Studi mengenai dampak pemanasan global ini dipimpin oleh para peneliti dari Institut Ekologi dan Geografi Xinjiang (Xinjiang Institute of Ecology and Geography) di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).

    Hasil studi yang memberikan wawasan baru tentang dampak pemanasan global telah dipublikasikan dalam jurnal Advances in Climate Change Research baru-baru ini.

    Menurut studi tersebut, pemanasan global mengubah distribusi presipitasi yang merupakan bagian penting dalam siklus air, baik dalam bentuk padat maupun cair, yang menyebabkan perubahan intensitas serta frekuensi curah hujan dan salju ekstrem.

    Baca: Pemanasan global akibat penggunaan bahan bakar fosil jadi masalah serius lingkungan

    Dengan menggunakan data analisis ulang ERA5-Land yang mencakup periode 1950 hingga 2022, para peneliti melakukan analisis komprehensif terhadap tren jangka panjang, sensitivitas suhu serta mekanisme pendorong curah hujan dan salju ekstrem di seluruh belahan bumi utara.

    Mereka menemukan selama tujuh dekade atau 70 tahun terakhir, curah hujan ekstrem meningkat dengan laju 0,269 milimeter per tahun, hampir sembilan kali lebih cepat daripada laju peningkatan hujan salju ekstrem, yaitu 0,029 milimeter per tahun.

    Studi itu juga menunjukkan suhu yang lebih hangat terutama akan berkontribusi pada peningkatan curah hujan ekstrem, tetapi memberikan efek yang relatif kecil terhadap hujan salju ekstrem.

    Baca: Kenaikan suhu Bumi lampaui ambang batas pemanasan global 1,5°C

    Li Yupeng, penulis pertama studi tersebut mengatakan, presipitasi ekstrem merupakan faktor penting dalam manajemen risiko.

    “Wilayah lintang tengah sebaiknya memprioritaskan pengelolaan risiko banjir yang didorong oleh meningkatnya curah hujan, sementara wilayah lintang tinggi dan pegunungan perlu mengatasi risiko-risiko bahaya terkait dengan salju,” ujarnya.

    Li menyatakan studi tersebut memberikan wawasan untuk memahami pola presipitasi ekstrem global dan mendukung perancangan strategi adaptasi iklim serta pencegahan bencana yang spesifik untuk setiap wilayah.

    Pewarta: Antaranews.com/Xinhua

  • Skenario Buruk Ini Bakal Terjadi Jika Masyarakat Global Tidak Mengubah Caranya Menjaga Lingkungan

    Skenario Buruk Ini Bakal Terjadi Jika Masyarakat Global Tidak Mengubah Caranya Menjaga Lingkungan

    7cloud.asia – Edisi ketujuh Global Environment Outlook atau GEO 7 yang diberi judul A Future We Choose, dirilis pada Desember 2025. Selama lebih 20 tahun, seri GEO menawarkan pandangan yang tak tertandingi tentang kondisi planet Bumi, pun demikian dengan GEO 7.

    Global Environment juga memberikan cetak biru bagi para pembuat kebijakan untuk menciptakan planet yang lebih sehat.

    GEO 7, karya hampir 300 ilmuwan, menciptakan model tentang bagaimana planet ini akan terlihat pada tahun 2050 jika negara-negara terus melakukan tiga hal yang merusak lingkungan: mencemari, mengeluarkan gas rumah kaca, dan menghancurkan ruang alam.

    Dalam cerita pertama dari tiga cerita tentang laporan tersebut, berikut adalah beberapa temuan utama dari pemodelan tersebut.

    Emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global diperkirakan akan meningkat menjadi 75 miliar ton per tahun pada tahun 2050, atau meningkat hampir 50 persen dari saat ini.

    Kondisi ini akan memperburuk perubahan iklim dan menyebabkan lonjakan gelombang panas, yang diperkirakan akan memengaruhi hampir semua penduduk Bumi yang mencapai sekitar 9,2 miliar orang pada tahun 2050.

    “Hampir tidak ada sudut planet ini yang akan terhindar dari panas ekstrem,“ demikian tulis laporan tersebut, sebagaimana dilansir di laman unep.org.

    Pada tahun 2050, manusia akan mengambil 165 miliar ton bahan mentah dari Bumi setiap tahunnya. Angka ini meningkat lebih dari 60 persen dari tahun 2020.

    Baca: Kondisi Planet Bumi pada 2050 jika perusakan lingkungan terus dilakukan

    GEO 7 mengatakan bahwa ekstraksi semua logam, mineral, dan bahan bakar fosil ini akan menghancurkan banyak ruang alam, memperburuk perubahan iklim, dan mempercepat hilangnya keanekaragaman hayati.

    GEO 7 memperkirakan, perubahan iklim akan mengurangi produk domestik bruto global sebesar 4 persen setiap tahunnya pada tahun 2050. Seiring dengan kenaikan suhu dan semakin dalamnya krisis, angka tersebut akan meningkat menjadi 20 persen pada tahun 2100.

    Angka tersebut sedikit lebih rendah daripada kontraksi yang dialami Amerika Serikat selama Depresi Besar tahun 1920-an dan 1930-an. Kemerosotan ekonomi akan diperparah oleh dampak polusi dan hilangnya alam.

    Kelompok miskin akan menjadi kelompok yang paling menderita akibat gejolak ekonomi ini dan kesenjangan antara penduduk miskin dan kaum kaya akan terus melebar.

    GEO 7 memperkirakan sedikit penurunan polusi udara pada tahun 2050. Namun karena meningkatnya urbanisasi, jumlah absolut orang yang terpapar polutan udara akan meningkat.

    Pada tahun 2050, 4,2 miliar orang akan secara teratur menghirup tingkat berbahaya dari salah satu zat yang sangat bermasalah, PM 2,5.

    Laporan tersebut memperkirakan bahwa kematian terkait polusi udara akan merugikan ekonomi global sebesar 18-25 triliun dolar AS hingga tahun 2060.

    Dunia akan kehilangan 1 juta kilometer persegi hutan, lahan gambut, dan ruang alam lainnya.

    Baca: Kerusakan hutan semakin mengkhawatirkan

    Hal ini sebagian besar disebabkan oleh perluasan lahan pertanian yang dibutuhkan untuk memberi makan populasi global yang meningkat dengan selera yang semakin besar terhadap daging.

    Karena hilangnya ekosistem, keragaman spesies rata-rata planet ini, angka tunggal yang menangkap keanekaragaman dan distribusi kehidupan, diperkirakan akan turun 3 persen.

    Perubahan iklim, jika tidak terkendali, akan membuat sekitar 1,1 miliar orang lagi terpapar hujan lebat dan 900 juta orang lagi terpapar kekeringan hebat pada tahun 2050.
    Dampak ganda iklim ini akan mendorong hingga 132 juta orang ke dalam kemiskinan dan menempatkan 24 juta orang lainnya berisiko kelaparan pada tahun 2040. Pada tahun 2050, 3,3 miliar orang – sepertiga dari populasi planet ini – akan menghadapi tekanan air.

    GEO 7 mengatakan dunia sedang mendekati serangkaian ambang batas terkait iklim yang mungkin tidak dapat dipulihkan. Lapisan es Greenland dan Antartika Barat dapat runtuh, menyebabkan permukaan laut naik 10 meter.

    Pencairan lapisan es abadi dapat melepaskan sejumlah besar metana, gas rumah kaca yang kuat, yang mempercepat pemanasan global. Hutan hujan Amazon mungkin akan berubah menjadi sabana, menghilangkan salah satu penyerap karbon terpenting planet ini.

    Hampir semua terumbu karang air hangat akan menghilang, menghancurkan ekosistem bawah laut dan mengancam perikanan di seluruh dunia. Bahkan arus laut dan Jet Stream pun bisa terpengaruh, sehingga menyebabkan kekacauan iklim.

    Seserius apa pun situasinya, laporan itu menyebut masih ada waktu untuk menyelamatkan planet Bumi dan seisinya.

    Masih ada waktu bagi umat manusia untuk mengatasi perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi.

    Tetapi hal itu membutuhkan perubahan mendesak dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam cara negara-negara mengatur perekonomian mereka, menangani material dan limbah, menghasilkan energi, memproduksi makanan, menggunakan bahan mentah, dan memperlakukan lingkungan.

  • Tahun 2025 Menjadi Tahun Terpanas Ketiga Setelah 2023 dan 2024

    Tahun 2025 Menjadi Tahun Terpanas Ketiga Setelah 2023 dan 2024

    7cloud.asia – Tahun 2025 dikonfirmasi sebagai tahun terpanas ketiga dalam sejarah sejak pencatatan suhu Bumi dilakukan. Demikian laporan Layanan Perubahan Iklim Copernicus (C3S) yang dirilis baru-baru ini.

    Para ilmuwan memperingatkan bahwa suhu Bumi kemungkinan akan memanas lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, menurut laporan yang dirilis pada Rabu (14/1/2026).

    Pada 2025, rata-rata suhu global mencapai 14,97 derajat Celsius, yakni 0,13 derajat Celsius (°C) lebih rendah dibanding pada 2024, yang merupakan tahun terpanas dalam sejarah.

    Sedangkan, jika dibandingkan suhu rata-rata 2023, suhu rata-rata tahun 2025 tercatat 0,01°C lebih dingin.

    Hal ini juga menandai kali pertama rata-rata suhu global dalam tiga tahun terakhir (2023-2025) tercatat lebih dari 1,5°C di atas level praindustri (1850-1900), ambang batas krusial yang ditetapkan oleh Perjanjian Paris, menurut C3S.

    Baca: Rata-rata suhu global 2024 1,6°C di atas masa pra-industri

    Perjanjian Paris berupaya membatasi pemanasan global di bawah 2°C di atas level praindustri, dengan harapan untuk dapat membatasinya di angka 1,5°C per akhir abad ini.

    Laporan itu mengaitkan peningkatan suhu selama tiga tahun terakhir terutama dengan akumulasi gas rumah kaca di atmosfer dan suhu permukaan laut yang sangat tinggi, yang berhubungan dengan fenomena El Nino dan faktor-faktor variabilitas samudra lainnya, serta diperkuat oleh perubahan iklim.

    Menggunakan beberapa metode, tingkat pemanasan global jangka panjang saat ini diperkirakan berada di kisaran 1,4°C di atas level praindustri, menurut laporan itu.

    Berdasarkan tingkat pemanasan saat ini, laporan itu menguraikan bahwa batas 1,5°C untuk pemanasan global jangka panjang yang ditetapkan oleh Perjanjian Paris dapat terlampaui pada akhir dekade ini, sekitar 10 tahun lebih cepat dibanding proyeksi awal dalam perjanjian tersebut.

    “Dunia dengan cepat mendekati batas suhu jangka panjang yang ditetapkan oleh Perjanjian Paris. Kita pasti akan melewatinya,” ujar Direktur C3S Carlo Buontempo.

    Baca: Suhu Bumi lampaui ambang batas pemanasan global 1,5°C

    Direktur Layanan Pemantauan Atmosfer Copernicus di Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa (ECMWF) Laurence Rouil menyerukan agar isu mengenai kenaikan suhu akibat perubahan iklim dapat menjadi perhatian.

    Dia menuturkan bahwa data atmosfer terbaru menunjukkan aktivitas manusia masih menjadi pendorong utama suhu ekstrem.

    “Atmosfer sedang mengirimkan pesan kepada kita, dan kita harus mendengarkannya,” ujar Rouil.

    Senada dengan peringatan tersebut, Buontempo mengatakan bahwa pertanyaan utama saat ini adalah bagaimana mengelola secara optimal lonjakan suhu yang tak terhindarkan itu beserta dampaknya terhadap masyarakat dan sistem alam.

  • Greenwashing dan Kontroversi Iklan Bahan Bakar Fosil

    Greenwashing dan Kontroversi Iklan Bahan Bakar Fosil

    7cloud.asia – Puluhan kota di dunia, terutama di daratan Eropa, mulai membatasi ataupun berencana membatasi iklan bahan bakar fosil yang dinilai sebagai sumber utama pemanasan global.

    Dilansir Earth.org, dorongan untuk membatasi iklan bahan bakar fosil ini muncul di tengah meningkatnya pengawasan terhadap “sportswashing” di dalam industri.

    Minggu ini, panitia penyelenggara Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina, yang dimulai di Italia utara, menghadapi kritik karena memilih perusahaan bahan bakar fosil sebagai sponsor utama.

    Dalam sebuah video yang dipublikasikan di saluran YouTube-nya, Greenpeace Italia mendesak penyelenggara acara untuk mengakhiri kemitraan “absurd” mereka dengan raksasa minyak dan gas Italia, Eni – salah satu penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.

    “Perusahaan minyak & gas seperti Eni mendorong krisis iklim, kemudian mensponsori Olimpiade & Paralimpiade Musim Dingin untuk membersihkan citra mereka,” kata organisasi lingkungan tersebut.

    Eni tidak sendirian dalam praktik ini. Sebuah studi tahun 2023 oleh kelompok kampanye Badvertising dan lembaga pemikir New Weather Swedia mengungkapkan bagaimana para pencemar besar mendukung olahraga salju meskipun bertanggung jawab atas runtuhnya industri tersebut.

    Studi tersebut mengidentifikasi total 107 kesepakatan sponsor yang menghasilkan emisi karbon tinggi dengan organisasi ski, penyelenggara acara, tim, dan atlet individu.

    Tercatat ada 83 kesepakatan dipimpin oleh produsen mobil, 54 di antaranya melibatkan perusahaan Jerman Audi, anak perusahaan Volkswagen AG.

    Perusahaan bahan bakar fosil menandatangani 12 kesepakatan, sementara maskapai penerbangan berada di balik lima kesepakatan.

    Melalui polusi mereka, sponsor olahraga musim dingin yang menghasilkan emisi karbon tinggi sedang menghancurkan masa depan olahraga yang mereka sponsori.

    “Dengan citra luar ruangan yang bersih dan sehat, olahraga musim dingin sangat menarik bagi sponsor dari pencemar besar yang ingin ‘mencuci citra olahraga’ mereka,” demikian bunyi laporan tersebut.

    Melawan greenwashing
    Sekretaris Jenderal PBB António Guterres sebelumnya telah menyerukan kepada negara-negara untuk melarang iklan bahan bakar fosil dengan cara yang sama seperti mereka membatasi tembakau.

    Guterres menyoroti pihak di industri bahan bakar fosil yang tanpa malu-malu melakukan greenwashing, bahkan ketika mereka berusaha menunda aksi iklim – dengan lobi, ancaman hukum, dan kampanye iklan besar-besaran.

    “Mereka telah dibantu dan didukung oleh perusahaan periklanan dan PR – seperti Mad Men yang memicu kegilaan ini,” kata Guterres dalam pidatonya pada tahun 2024.

    Guterres mengatakan bahwa agensi periklanan dan PR, serta media berita dan perusahaan teknologi, memungkinkan terjadinya kerusakan planet dan mendesak mereka untuk berhenti mempromosikan bahan bakar fosil dan memutuskan hubungan dengan klien yang sudah ada.

    “Melarang iklan bahan bakar fosil dan memaksa sektor PR untuk memutuskan hubungan dengan perusahaan yang secara sistematis mencemari lingkungan adalah kebutuhan yang jelas untuk membangun masa depan yang lebih bersih dan adil,” kata pengacara ClientEarth, Johnny White, menanggapi seruan Guterres.

    Dia menambahkan, “kita dapat memilih untuk melakukan transisi cepat dari bahan bakar fosil, atau kita dapat membiarkan pengaruh industri bahan bakar fosil terus meresap ke dalam masyarakat kita dan menggagalkan aksi iklim. Kita tidak bisa memiliki keduanya.”

  • Pemanasan Global Pengaruhi Kemampuan Literasi dan Numerasi Anak di Daerah Terdampak

    Pemanasan Global Pengaruhi Kemampuan Literasi dan Numerasi Anak di Daerah Terdampak

    7cloud.asia – Pemanasan global yang kemudian memicu perubahan iklim dan peningkatan suhu bumi tidak hanya membawa dampak bagi kerusakan lingkungan.

    Penelitian baru-baru ini mengungkapkan bahwa peningkatan suhu Bumi juga dapat menghambat perkembangan anak usia dini, terutama dalam hal kemampuan membaca (literasi) dan berhitung (numerasi).

    Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry itu dilakukan dengan menganalisis informasi 19.607 anak usia tiga sampai empat tahun di sejumlah negara.

    Peneliti menganalisa data anak-anak dari Gambia, Georgia, Madagaskar, Malawi, Palestina, dan Sierra Leone; yang mencakup data perkembangan anak, kondisi rumah, dan iklim.

    Tim peneliti lantas mengevaluasi data tersebut menggunakan Early Childhood Development Index (ECDI) yang melacak tonggak dalam bidang keterampilan literasi dan numerasi

    Baca: Orang kaya harus memangkas emisinya untuk menahan laju pemanasan global

    Tak ketinggalam, peneliti menganalisa perkembangan sosial-emosional, pendekatan terhadap pembelajaran, dan perkembangan fisik; kemudian menggabungkannya dengan data dari Multiple Indicator Cluster Surveys (MICS) tahun 2017–2020.

    Dengan menggabungkan kumpulan data tersebut dengan catatan iklim yang menunjukkan suhu bulanan rata-rata, tim peneliti lantas mengeksplorasi potensi keterkaitan antara paparan panas dan perkembangan awal para anak.

    Hasilnya, anak-anak yang mengalami panas dengan suhu maksimum rata-rata di atas 30 °C memiliki kemungkinan 5 hingga 6,7 ​​persen lebih kecil untuk mencapai tonggak literasi dan numerasi dasar.

    Dilansir Science Daily Desember lalu, peneliti mengatakan angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan anak yang terpapar suhu lebih dingin (di bawah 26 °C) pada musim dan wilayah yang sama.

    Baca: Orang kaya harus memangkas emisinya agar hak dasar orang miskin terpenuhi

    Temuan menunjukkan bahwa dampak yang paling kuat atas kondisi di atas dirasakan oleh anak-anak yang bersal dari rumah tangga kurang mampu secara ekonomi, rumah dengan akses air bersih yang terbatas, dan area perkotaan yang padat.

    “Temuan ini harus memperingatkan peneliti, pembuat kebijakan, dan para praktisi tentang kebutuhan mendesak untuk melindungi perkembangan anak di dunia yang semakin panas,” kata Penulis utama penelitian sekaligus asisten profesor psikologi terapan di NYU Steinhardt, Jorge Cuartas.

    Cuartas mengatakan, selama ini pemanasan global lebih sering dikaitkan dengan kesehatan fisik dan mental.

    “Sementara paparan panas telah dikaitkan dengan dampak negatif terhadap kesehatan fisik dan mental sepanjang siklus hidup, penelitian ini memberikan wawasan baru bahwa panas berlebihan berdampak negatif terhadap perkembangan anak usia dini di berbagai negara,” kata Jorge Cuartas.