Tag: polusi

  • IDAI: Polusi Udara Ganggu Pertumbuhan Anak

    IDAI: Polusi Udara Ganggu Pertumbuhan Anak

    7cloud.asia – Polusi udara yang masih terjadi di Jakarta tak hanya berdampak buruk bagi orang dewasa, tetapi juga bagi proses tumbuh kembang anak.

    Hal ini diungkapkan oleh Dokter Spesialis Penyakit Tropik Anak pada Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), DR. Dr. Ari Prayitno, Sp.A (K) yang menyoroti dampak buruk polusi udara terhadap perkembangan anak.

    “Polusi udara yang terjadi di kota-kota besar termasuk di Jakarta memang sangat memprihatinkan. Udara yang seharusnya bersih untuk dihirup dan memenuhi paru-paru tiap individu yang hidup, apalagi anak-anak itu harus bersih,” jelas Ari seperti yang dilansir Antaranews.

    Baca: BPBD DKI Jakarta lakukan modifikasi cuaca

    Menurut Ketua Bidang Organisasi Pengurus Pusat IDAI ini, polusi udara secara tidak langsung juga menjadi salah satu penyebab anak terkena stunting.

    Kualitas udara yang buruk akibat polusi rentan membuat anak-anak jadi mudah sakit. Hal ini berdampak pada minat untuk mengonsumsi makanan.

    Akibatnya, asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh berkurang drastis dan menyebabkan anak kekurangan gizi kronis.

    “Apalagi kalau penyakit infeksi, kalau terjadi kronis akan sakit juga. Jadi secara tidak langsung ada hubungannya, makanya anak yang tinggal di daerah yang polusinya tinggi itu lebih mudah terjadi stunting ketimbang daerah yang udaranya bersih,” terangnya.

    Baca: Pantau sumber polusi udara, ini yang dilakukan DLHK Jakarta

    Dia menyayangkan kualitas udara di Jakarta kian memburuk. Kondisi ini menyebabkan banyaknya partikel berbahaya dalam udara yang dapat memicu terjadinya berbagai macam penyakit.

    Sebut saja penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan adanya infeksi lainnya. Penyakit tersebut akibat masuknya mikroorganisme asing dalam tubuh berupa virus atau baktersi saat udara sengan kering dan berpolutan tinggi.

    Kondisi ini, lanjut Ari, diperparah jika orang memiliki penyakit penyerta seperti asma. Akan tambah parah lagi jika ada anggota keluarga yang merokok atau rutin memasak dalam ruangan dengan ventilasi tak memadai.

    Baca: Perlu sistem transportasi publik yang berkualitas atasi polusi udara

    “Ini tugas kita bersama karena kalau polusi tidak diatasi maka kesehatan paru-paru kita, terutama anak-anak itu akan memburuk. Terlebih paru-paru anak-anak kita itu masih dalam tubuh dan kembang makanya polusi ini akan berdampak cukup luas pada anak anak kita,” katanya.

    Berdasarkan laman IQAir pada Rabu (26/06/2024) pukul 15.00 WIB menunjukkan tingkat polusi udara di Jakarta tercatat masuk dalam kategori sedang.

    Indeks polusi udara Jakarta berada pada poin 69 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 19 mikrogram per meter kubik.

    Angka ini menunjukkan 3,8 kali lebih tinggi nilai panduan kualitas udara tahunan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

     

  • Polusi Udara di Jakarta Tinggi, Anak-anak Diimbau Banyak Konsumsi Buah

    Polusi Udara di Jakarta Tinggi, Anak-anak Diimbau Banyak Konsumsi Buah

    7cloud.asia  Ditengah kondisi udara dengan polusi tinggi seperti Jakarta, anak-anak harus banyak mengonsumsi buah yang mengandung banyak air.

    Dokter Spesialis Penyakit Tropik Anak pada Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), DR. Dr. Ari Prayitno, Sp.A (K) menjelaskan buah yang mengandung banyak air dapat memenuhi kebutuhan mikronutrien anak-anak.

    Dia mencontohkan buah semangka dan jeruk. “Makanan yang direkomendasikan adalah makanan yang bisa meningkatkan daya tahan tubuh terutama pertahanan tubuh, mukosa atau saluran lendir yang ada di saluran pernapasan karena yang paling berhubungan dengan polusi udara adalah saluran lendir pada saluran pernapasan itu,” terang Ari.

    Baca: Kualitas udara Jakarta di posisi ketiga terburuk dunia

    Melansir Antaranews, buah-buahan yang mengandung banyak air dapat membantu selaput lendir yang dimiliki anak bekerja dengan lebih optimal.

    “Kalau bisa (buahnya) jangan dikasih yang berbentuk obat, tapi makanan dan minuman yang baik,” ujar Ketua Bidang Organisasi Pengurus Pusat IDAI ini.

    Selain mengonsumsi buah, Ari juga merekomendasikan agar anak diberikan banyak air putih. Hal ini untuk mencegah dehidrasi atau gangguan kesehatan lainnya.

    Selanjutnya Ari juga mengimbau orangtua agar cermat memilih waktu anak untuk bermain di luar ruangan saat liburan sekolah seperti saat ini.

    Dia mencontohkan siang hari saat pabrik di Jakarta dan sekitarnya sedang beraktivitas atau lalu lalang kendaraan bermotor yang ramai dan menghasilkan gas beracun, anak seminimal mungkin berktivitas di luar ruangan.

    Baca: Warga Jakarta diimbau tak mengabaikan kualitas udara yang buruk

    “Anak itu harus dipaparkan dengan udara bersih semaksimal mungkin yang bisa kita lakukan. Kita tahu bahwa tingkat polusi dan tingkat kesehatan yang ada sepanjang hari pun berbeda, pagi sampai malam itu berbeda,” jelas Ari.

    Saat liburan, orangtua disarankan membawa anak-anak dibawa ke tempat yang banyak memiliki tanaman atau pepohonan rindang guna meminimalkan masuknya partikel-partikel berbahaya akibat polusi.

    Anak-anak juga diimbau agar selalu mengenakan masker saat harus berada di luar ruangan. Hal ini sebagai upaya meminimalisir dampak polusi udara terhadap saluran pernafasan.

    “Terutama yang memiliki anak dengan penyakit penyerta, itu harus lebih hati-hati lagi. Bila perlu gunakan masker, masker itu walaupun tidak 100 persen menyaring, tapi bisa mengurangi tingkat polusi yang terhirup,” ungkapnya.

  • Kurangi Polusi Udara, Uji Emisi di Jakarta Tetap Berlanjut

    Kurangi Polusi Udara, Uji Emisi di Jakarta Tetap Berlanjut

    7cloud.asia – Berbagai cara dilakukan Pemprov DKI Jakarta untuk mengurangi polusi udara. Salah satunya tetap melanjutkan uji emisi kendaraan.

    Uji emisi ini akan tetap dilakukan bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

    Melansir Antaranews, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto menjelaskan sejak tahun 2022 pihaknya telah melakukan uji emisi sebanyak lebih dari 100 kali.

    “Kami dari tahun 2022 sudah melakukan uji emisi di tahun 2022 sudah 24 kali, 2023 sudah 44 kali dan 2024 sudah 44 kali. InsyaAllah uji emisi ini akan terus kami lakukan dan kami juga bekerja sama dengan KLHK,” jelasnya.

    Baca: Polusi udara di Jakarta tinggi, anak-anak diimbau perbanyak konsumsi buah

    Selain itu, lanjut Asep, pihaknya juga bekerja sama dengan pemerintah daerah di sekitar Jakarta guna meningkatkan kualitas udara di masing-masing wilayah.

    Dia mencontohkan saat DLH memberikan pelatihan kepada pemerintah daerah sekitar Jakarta untuk kompetensinya dalam hal uji emisi. “Dan itu sudah berjalan,” katanya.

    Upaya lain yang dilakukan DLH DKI Jakarta adalah mengkampanyekan kepada masyarakat untuk beralih ke transportasi massal dan menggunakan sepeda saat beraktivitas.

    Baca: Polusi udara ganggu pertumbuhan anak

    Hal ini dilakukan bekerjasama dengan Dinas Perhubungan. Pihaknya juga telah meluncurkan situs pemantau kualitas udara yaitu udara.jakarta.go.id.

    Dengan demikian, masyarakay dapat memantau langsung baik buruknya kualitas udara di Jakarta.

    Tak hanya itu, DLH DKI Jakarta bekerjasama dengan Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Tamhut) DKI Jakarta untuk menanam jutaan pohon dan penambahan ruang terbuka hijau (RTH).

    Dia berharap kerjasama ini akan terus berlanjut nantinya agar dapat menurunkan tingkat polusi udara di Jakarta.

    Baca: Yuk, tanam vegetasi penyerap polutan

    Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Ida Mahmudah mengusulkan Pemprov DKI dapat bekerjasama dengan pihak lain untuk mengatasi masalah polusi udara.

    “Misalkan Dinas Lingkungan Hidup dengan SDA terkait dengan sepanjang kali itu kalau dipagar lalu dikasih pohon gantung, memang paling tidak mengurangi sedikitlah polusi. Kerja sama juga dengan Dinas Kehutanan,” terang Ida.

     

     

  • Jakarta Peringkat Ketiga Kualitas Udara Terburuk di Dunia

    Jakarta Peringkat Ketiga Kualitas Udara Terburuk di Dunia

    7cloud.asia – Kota Jakarta menempati peringkat ketiga dengan kualitas udara terburuk di dunia pada Selasa (06/08/2024) pagi.

    Berdasarkan situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 05.18 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di urutan ke-3 dengan angka 134.

    Angka ini termasuk dalam kategori tidak sehat dengan polusi udara PM2,5 dan nilai konsentrasi 49 mikrogram per meter kubik. Dengan kondisi udara seperti ini, kualitas udara tidak sehat bagi kelompok sensitif.

    Sebab karena dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

    Baca: Paparan polusi udara sebabkan jantung

    Sementara kota dengan kualitas udara terburuk peringkat pertama yaitu Kinshasa, Kongo-Kinshasa di angka 170, peringkat kedua Baghdad, Iraq di angka 153.

    Peringkat keempat Kampala, Uganda di angka 131, kelima Cairo City, Mesir di angka 113, keenam Nairobi, Kenya di angka 102, ke tujuh Riyadh, Arab Saudi di angka 97,

    Peringkat ke delapan Dubai, Uni Emirat Arab di angka 97, ke sembilan Kuwait City, Kuwait di angka 93, dan ke sepuluh Manama, Bahrain di angka 84.

    Sebelumnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta sebelumnya telah melakukan berbagai upaya untuk menangani masalah polusi udara di Jakarta.

    Diantaranya memperbanyak Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) untuk mengidentifikasi sumber polusi udara di Jakarta sehingga penanganan masalah tersebut bisa maksimal.

    Baca: Polusi udara di Jakarta tinggi, anak-anak sebaiknya banyak makan buah

    Selain itu DLH DKI menambah dua mobil kabut air (watermist). Mobil tersebut beroperasi mengelilingi Jakarta untuk melanjutkan kegiatan penyiraman di jalan-jalan protokol.

    Mobil ini memiliki kemampuan menyiram dengan jangkauan 50 meter dan kapasitas tanki air 5.000 liter.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto menjelaskan kebijakan terkait pengoperasian “watermist” ini akan dimasukkan dalam susunan rancangan peraturan gubernur agar lebih kuat secara regulasi.

    “Ke depannya untuk kebijakan ‘watermist’ itu kami akan coba dikuatkan dengan peraturan gubernur,” katanya seperti yang dilansir Antaranews.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Riset: India Tercatat sebagai Negara Penghasil Sampah Plastik Terbesar di Dunia

    Riset: India Tercatat sebagai Negara Penghasil Sampah Plastik Terbesar di Dunia

    7cloud.asia – Sebuah studi terbaru mengungkapkan India menjadi penyumbang sampah plastik terbesar di dunia dengan total produksi 9,3 juta ton setiap tahun.

    Posisi India ini menggeser China yang dalam satu dekade terakhir berhasil menurunkan sampah plastik yang dihasilkannya dan kini berada di posisi ke-4 setelah Nigeria dan Indonesia.

    Data sampah plastik yang dilepas ke lingkungan di tiap negara ini diungkapkan dalam jurnal ilmiah Nature oleh para peneliti dari Universitas Leeds di Inggris.

    Berikut ini adalah 10 negara teratas berdasarkan produksi sampah makroplastik:
    1. India: 9,3 juta ton
    2. Nigeria: 3,5 juta ton
    3. Indonesia: 3,4 juta ton
    4. China: 2,8 juta ton
    5. Pakistan: 2,6 juta ton
    6. Bangladesh: 1,7 juta ton
    7. Rusia: 1,7 juta ton
    8. Brasil: 1,4 juta ton
    9. Thailand: 1 juta ton
    10. Kongo: 1 juta ton

    Baca: KTT Plastik Ottawa gagal hasilkan kesepakatan kurangi sampah plastik

    Penelitian ini menggunakan model kecerdasan buatan canggih untuk melacak sampah plastik di lebih dari 50.000 kota di seluruh dunia.

    Mereka menemukan bahwa dari 50,2 juta metrik ton plastik yang dilepaskan ke lingkungan setiap tahunnya. Produksi sampah plastik India yang mencapai 9,3 juta ton ini dapat memenuhi sekitar 604 Taj Mahal.

    Dilansir dari South China Morning Post, Selasa (10/9/2024) salah satu faktor yang mendukung tingginya sampah plastik yang mencemari di India karena kurangnya infrastruktur untuk mengumpulkan dan mengelola sampah plastik.

    Kabar baiknya, India sedang berupaya untuk memperbaiki pengelolaan sampahnya, kebijakan yang sudah ada tetap terfragmentasi dan sulit ditegakkan.

    “Angka-angka tersebut mewakili sebagian besar material yang dihasilkan di India. Jumlah sampah padat kota yang dibakar di India setara dengan empat negara pembakar sampah terbesar berikutnya yaitu Indonesia, Nigeria, China, dan Rusia,” kata Ed Cook, salah satu peneliti.

    Baca: Harapan aktivis lingkungan terkait sampah plastik

    Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa China sebagai produsen sampah plastik terkemuka di dunia.

    Namun upaya terkoordinasi oleh Beijing telah secara signifikan mengurangi emisi negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir. China menyumbang 2,8 juta ton emisi sampah plastik.

    Ed Cook mengatakan, China telah berinvestasi besar dalam pengumpulan dan pengolahan sampah padat kota dalam 15 tahun terakhir, yang berdampak besar pada mitigasi polusi plastik.

    Namun, Cook mengingatkan bahwa, dalam hal kekayaan, China sudah mendekati negara berpendapatan tinggi, sedangkan India masih berada di golongan berpendapatan rendah.

    “Akan sulit bagi India untuk mengikuti jalur yang sama seperti China karena mungkin tidak memiliki sumber daya untuk melakukannya,” tambah Cook.

    Baca: Perdebatan guna ulang vs daur ulang sampah plastik di Eropa

    Dikutip dari NDTV, Dr Costas Velis, peneliti utama dalam studi ini, menyatakan kebutuhan mendesak untuk mengatasi pembakaran terbuka dan sampah yang tidak diangkut.

    Ia berpendapat bahwa pengumpulan sampah harus dianggap sebagai kebutuhan mendasar, seperti layanan air dan sanitasi.

    Studi tersebut menyerukan pengembangan ‘Perjanjian Plastik’ global yang lebih ambisius untuk mengatasi sumber polusi plastik dan mengurangi dampaknya.

    Dr Josh Cottom, penulis utama laporan tersebut, menekankan bahwa peningkatan pengelolaan sampah padat dapat secara signifikan mengurangi polusi plastik dan meningkatkan kualitas hidup miliaran orang.

    Para peneliti berharap temuan mereka akan membantu para pembuat kebijakan dalam menciptakan strategi yang efektif untuk memerangi polusi plastik secara global.

     

  • Masalah Polusi Udara Belum Diatasi, Kepala Daerah Harus Tegas

    Masalah Polusi Udara Belum Diatasi, Kepala Daerah Harus Tegas

    7cloud.asia – Polusi udara masih menjadi masalah bagi pemerintah povinsi (pemprov) DKI Jakarta hingga saat ini. Dalam mengatasi masalah ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan butuh ketegasan dari para kepala daerah.

    “Seperti keberanian gubernur dalam menerapkan aturan pembatasan kendaraan berbahan bakar dari fosil dan ciptakan blueprint yang jelas untuk mengoptimalkan angkutan publik,” jelas Sekretaris Utama BMKG, Dwi Budi Sutrisno seperti yang dikutip Antaranews.

    Dwi menjelaskan keberanian menerapkan aturan harus dilakukan. Sebab, tanpa keberanian menegakkan atau bahkan merancang peraturan sektor transportasi publik yang ramah lingkungan secara baku, maka masalah kualitas udara di Jakarta semakin sulit diselesaikan.

    Baca: Pemerintah pusat dan daerah harus serius tangani polusi udara

    Data Organisasi Iklim Dunia (WMO) suhu rata-rata global dari tahun 1850 — 2023 melonjak signifikan hingga mencapai 1,5 derajat celcius atau hampir melampaui batas maksimum yang disepakati global.

    Menurutnya peningkatan suhu tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya disebabkan oleh tingginya konsentrasi gas rumah kaca dari karbon yang dilepas kendaraan (CO2) pada lapisan atmosfer.

    Kondisi seperti ini masih terdapat di Jakarta karena sebagai ibukota yang hingga kini belum dapat mengatasi kemacetan sebagai penyumbang tinggi gas rumah kaca.

    “Walau ini isu global tapi butuh respons kelokalan juga. Pengendalian perlu dilakukan di Jakarta. Kita juga yang rasakan dampaknya,” urai praktisi transportasi ini.

    Lebih jauh Dwi menjelaskan berdasarkan hasil penelitian terbaru diketahui kemacetan kendaraan di Jakarta telah menimbulkan kerugian perekonomian senilai Rp100 triliun per tahun.

    Sebanyak Rp40 triliun diantaranya habis untuk operasional kendaraan seperti bahan bakar dan Rp60 triliun lain di antaranya kerugian kesehatan.

    “Intinya ketegasanlah yang dibutuhkan. Memang berat tapi semua akan lebih berharga jika dibandingkan dampak penurunan kualitas kesehatan anak-anak yang menjadi masa depan kita nanti,” terang Dwi.

     

     

  • Didukung UNEP, Delapan Negara Luncurkan Inisiatif Kurangi Limbah dari Industri Fesyen dan Konstruksi

    Didukung UNEP, Delapan Negara Luncurkan Inisiatif Kurangi Limbah dari Industri Fesyen dan Konstruksi

    7cloud.asia – Kamboja, Kostarika, Ekuador, India, Mongolia, Pakistan, Peru, serta Trinidad dan Tobago sepakat untuk bersama-sama mendorong transformasi dan menghilangkan dampak lingkungan dari industri fesyen dan konstruksi.

    Fesyen dan konstruksi merupakan salah satu dari tiga sektor terbesar yang berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan akibat polusi, emisi gas rumah kaca (GRK), degradasi lahan, polusi air, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

    Inisiatif senilai 340 juta dolar ini akan mengubah proses dan material yang membutuhkan banyak sumber daya dengan alternatif yang lebih berkelanjutan dan mendorong rantai nilai yang sirkular dan kolaboratif.

    Saat ini, negara-negara yang berpartisipasi dalam Program Terpadu Penghapusan Bahan Kimia Berbahaya dari Rantai Pasokan yang didanai oleh Fasilitas Lingkungan Global (GEF) meluncurkan inisiatif enam tahun.

    Melansir unep.org, proyek senilai 45 juta dolar atau sekitar Rp 7 triliun ini bertujuan untuk menata ulang rantai pasokan di sektor fesyen dan konstruksi sehingga lebih ramah lingkungan.

    Baca: Rappo Indonesia olah kantong plastik bekas menjadi produk fesyen

    Upaya ini akan mendorong desain regeneratif, penggantian bahan-bahan yang tidak terbarukan, produksi yang hemat sumber daya, perilaku pembelian yang bertanggung jawab, dan peningkatan pengumpulan pasca-penggunaan.

    Inisiatif ini juga memanfaatkan tambahan senila 295 juta dolar dari sumber lain untuk memaksimalkan dampaknya untuk perbaikan kualitas lingkungan.

    Sektor fesyen dan konstruksi merupakan salah satu sektor industri yang paling banyak menggunakan bahan kimia di dunia. Sektor bangunan dan konstruksi merupakan pasar akhir terbesar untuk bahan kimia.

    Sementara untuk memproduksi 1 kilogram tekstil rata-rata memerlukan 0,58 kilogram berbagai bahan kimia dan penggunaan sejumlah besar air.

    Kedua sektor ini menghubungkan produsen, pengecer, dan konsumen dari seluruh dunia dan dicirikan oleh rantai pasokan global yang kompleks, terfragmentasi, dan berdampak signifikan secara global.

    Baca: Thrifting makin dilirik untuk kurangi sampah dan polusi

    Meskipun sebagian besar fokus industri-industri saat ini secara historis berpusat pada perubahan iklim dan keanekaragaman hayati, transformasi rantai pasokan fesyen dan konstruksi memerlukan pendekatan yang lebih holistik guna mengatasi polusi.

    Seperti diketahui polusi merupakan cabang ketiga dari tiga krisis planet Bumi, yakni polusi-perubahan iklim-hilangnya keanekaragaman hayati.

    Inisiatif ini diluncurkan pada Senin (9/12/2024) lalu, di Siem Reap Kamboja memperkenalkan program enam tahun yang ambisius ini, dipimpin oleh Program Lingkungan PBB (UNEP).

    Selain UNEP, program ini juga didukung Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Program Pembangunan PBB (UNDP) dan Organisasi Pembangunan Industri PBB (UNIDO).

    Program ini akan mendorong perbaikan dalam kebijakan, inovasi, keterlibatan pemangku kepentingan, dan akses terhadap pendanaan di seluruh tahapan rantai pasokan.

    Hal ini akan memberdayakan perempuan, pemuda, dan komunitas lokal dengan mengintegrasikan pengetahuan adat, merevitalisasi perekonomian lokal, dan mengidentifikasi bahan dan praktik berkelanjutan.

  • Polusi Udara Global, Penggunaan Bahan Bakar Fosil dan Alat Pemantau Udara

    Polusi Udara Global, Penggunaan Bahan Bakar Fosil dan Alat Pemantau Udara

    7cloud.asia – Secara historis, negara-negara berkembang sangat bergantung pada bahan bakar fosil seperti batu bara, solar dan gas alam untuk menggerakkan ekonomi mereka.

    Industrialisasi, memperluas moda dan jaringan transportasi umum, memenuhi kebutuhan perumahan, memasak, pemanas dan pendingin membuat penggunaan bahan bakar fosil terus meningkat seiring dengan populasi yang berkembang pesat.

    Bahkan dengan pesatnya pertumbuhan pengembangan energi terbarukan dalam beberapa tahun terakhir, perekonomian global masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil.

    Akibatnya bisa ditebak, emisi karbon dioksida global mencapai titik tertinggi sepanjang masa pada tahun 2023. Dan, rencana memperluas rencana produksi dari 114 perusahaan minyak dan gas terbesar terus berlangsung

    Di sisi lain, penilaian global terhadap aturan soal polusi udara yang dilakukan oleh Program Lingkungan PBB (United Nations Environment Programme/UNEP) menemukan bahwa definisi dan penerapan standar kualitas udara sangat bervariasi.

    Baca: Pembakaran batu bara cetak rekor tertinggi pada 2024

    Dari 194 negara yang dianalisis, standar kualitas udara tersebut sangat bervariasi karena kurangnya standar global.

    Hanya separuh dari program kualitas udara nasional di negara-negara yang dinilai tersebut yang secara eksplisit berfokus pada kesehatan masyarakat.

    Sebanyak 43 persen negara a tidak mendefinisikan polusi udara, sementara 65 persen dari mereka tidak memiliki standar kualitas udara ambien yang diwajibkan secara hukum.

    Sebanyak 55 persen negara yang tidak memiliki mandat hukum mengenai standar kualitas udara tidak memiliki standar kualitas udara sama sekali.

    Bahkan di negara-negara yang memiliki standar kualitas udara, hal ini masih memungkinkan terjadinya polusi pada tingkat yang berbahaya bagi kesehatan masyarakat.

     

    Baca: KTT G20 gagal batasi penggunaan bahan bakar fosil

    Misalnya, para peneliti memperkirakan bahwa standar kualitas udara India untuk partikel 2.5 (PM2.5) sebesar 40µg/m3, yang jauh melebihi tingkat 5µg/m3 yang dianggap aman oleh PBB, berkontribusi terhadap hampir 33.000 kematian berlebih per tahun di seluruh dunia. negara.

    Penetapan standar polusi udara mungkin juga terbatas karena kurangnya stasiun pemantauan kualitas udara dan data pelacakan.

    Ada kesenjangan yang signifikan dalam pemantauan kualitas udara antara negara-negara industri di Eropa dan Amerika Utara dan negara-negara di Afrika.

    Kota-kota besar di dunia barat rata-rata memiliki satu alat pemantau kualitas udara untuk setiap 100.000-600.000 penduduk dibandingkan dengan hanya satu alat pemantau untuk setiap 4,5 juta penduduk di wilayah perkotaan di Afrika.

    Hanya 24 dari 54 negara Afrika yang memiliki data pemantauan yang memadai untuk dimasukkan dalam Laporan Polusi Udara IQAir 2024.

    Baca: PBB serukan setop penggunaan bahan bakar fosil

    Negara-negara dengan aktivitas dan kapasitas pemantauan kualitas udara yang terbatas mungkin juga kekurangan pendanaan yang konsisten untuk peralatan, pemeliharaan, sistem pengelolaan data dan staf terlatih, serta akses yang konsisten terhadap listrik.

    Praktik pertanian musiman termasuk pembakaran sisa tanaman menyebabkan polusi udara yang signifikan di India dan negara berkembang lainnya.

    Setiap musim gugur, para petani menggunakan pembakaran untuk membersihkan lahan mereka dari sisa panen dan mempersiapkan musim tanam musim dingin.

    Praktik ini telah meningkat sebesar 21 persen dengan diberlakukannya Undang-Undang Jaminan Ketenagakerjaan Pedesaan Nasional Mahatma Gandhi pada tahun 2005.

    Di sektor pertanian, para petani mulai memilih pemanenan secara mekanis, yang mengakibatkan lebih banyak residu yang tersisa di lahan untuk dibuka, sebagai respons terhadap pergeseran pasar tenaga kerja yang diakibatkan oleh rencana pemerintah.

  • UNEP Dorong Segera Terwujudnya Perjanjian Pembatasan Plastik Global

    UNEP Dorong Segera Terwujudnya Perjanjian Pembatasan Plastik Global

    7cloud.asia – Direktur Eksekutif Badan Lingkungan PBB (UNEP), Inger Andersen melihat ada tekad yang kuat dari seluruh negara-negara di dunia untuk mewujudkan perjanjian plastik global.

    Berbicara di pertemuan tahunan World Economic Forum, di Davos, Inge mengatakan dibutuhkan dorongan politik dan diplomasi intensif yang melibatkan semua pemangku kepentingan untuk meletakkan dasar bagi keberhasilan di INC 5.2.

    ”Dunia usaha telah terlibat sejak awal dan terus memainkan peran penting, begitu pula lembaga swadaya masyarakat dan kelompok lainnya. Bisnis telah menyerukan aturan global,” ujarnya seperti dikutip dari laman resmi UNEP, unep.org.

    Dalam kesempatan itu, Inge mengatakan masyarakat dunia sudah tahu apa yang harus dilakukan.

    Dunia, ujarnya, membutuhkan memiliki teks yang mempromosikan, mendorong, dan memastikan pengurangan produksi plastik sekali pakai dan berumur pendek.

    Baca: Sampah plastik dibahas di World Economic Forum

    Negara-negara di dunia, menurutnya harus bersama-sama merumuskan kebijakan tentang tanggung jawab produsen yang diperluas dan menetapkan target daur ulang sampah plastik.

    ”Kita perlu berpikir inovatif mengenai bahan kimia yang mengkhawatirkan, mengambil inspirasi dari perjanjian yang ada yang melindungi Bumi dari bahan kimia berbahaya,” tandasnya.

    Inge juga menyerukan kepada negara-negara di dunia perlunya memastikan bahwa daur ulang mekanis yang tidak terkontaminasi oleh bahan kimia berbahaya.

    Hal ini khususnya berlaku pada lokasi di mana daur ulang mekanis dilakukan dengan teknologi dasar—seringkali pada tingkat UKM yang lebih kecil.

    Kita perlu merancang produk untuk diisi ulang, digunakan kembali, dibongkar, dan didaur ulang. Meningkatkan transparansi, keterlacakan, dan pengungkapan.

    Baca: Perjalanan panjang wujudkan Perjanjian Plastik Global

    Inge mengajak para pemodal dan pemerintah di seluruh dunia untuk berinvestasilah dalam pengelolaan limbah yang ramah lingkungan.

    Ditegaskannya ada banyak hal yang harus dilakukan terkait masalah plastik ini, seperti pembersihan plastik warisan, menyiapkan pendanaan dan membatasi produksi.

    ”Saya menghimbau para negosiator untuk fokus pada tiga elemen yang perlu dikerjakan terkait polusi plastik ini,” ujarnya.

    Diakui adanya perbedaan pandangan soal produksi dan penanganan limbah plastik. Tetapi dunia harus bersatu, guna memastikan bahwa perjanjian menghilangkan polusi plastik (termasuk di lingkungan laut), benar-benar terwujud.

    Dunia telah sepakat untuk mengakhiri polusi plastik, karena itu UNEP mengajak semua aktor terkait melakukan bagiannya untuk memenuhi komitmen mengakhiri polusi plastik.

  • SOS! Populasi Serangga yang Turun Signifikan Berdampak Buruk bagi Lingkungan

    SOS! Populasi Serangga yang Turun Signifikan Berdampak Buruk bagi Lingkungan

    7cloud.asia – Populasi serangga global mengalami penurunan dengan kecepatan yang mengkhawatirkan bagi kelestarian lingkungan.

    Sebuah tinjauan tahun 2019 yang diterbitkan dalam Biological Conservation menemukan bahwa lebih dari 40 persen spesies serangga menurun dan sepertiganya terancam punah, dan akan punah dalam beberapa dekade mendatang.

    Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, tingkat kepunahan di antara serangga delapan kali lebih cepat daripada mamalia, burung, dan reptil.

    Di Eropa, pemantauan selama beberapa dekade di cagar alam telah menunjukkan hilangnya lebih dari 75 persen serangga terbang. Amerika Utara juga menunjukkan pola yang sama, dengan penurunan populasi lebah asli dan kupu-kupu raja.

    Di beberapa wilayah tropis, data masih terbatas, tetapi beberapa penelitian lokal, seperti penelitian tentang ngengat macan di Panama, telah menunjukkan stabilitas jangka pendek.

    Tren yang lebih luas masih menunjukkan bahwa banyak populasi serangga tropis, seperti yang ada di Kosta Rika, mengalami penurunan yang signifikan.

    Baca: Peran kupu-kupu dan burung bagi lingkungan

    Meskipun ada variasi ini, tren global secara keseluruhan menunjukkan hilangnya keanekaragaman dan kelimpahan serangga yang signifikan dan berpotensi tidak dapat dipulihkan.

    Hilangnya populasi serangga ini dapat memiliki efek berjenjang di seluruh ekosistem, lingkungan, pertanian, dan ketahanan pangan.

    Mungkin Anda bertanya-tanya apa penyebab populasi serangga menurun? Dilansir earth.org, penyebab utama penurunan populasi serangga meliputi penggunaan pestisida, kerusakan habitat, perubahan iklim, polusi, dan spesies invasif.

    Penggunaan pestisida secara luas, khususnya neonikotinoid, telah berdampak buruk pada populasi serangga. Neonikotinoid adalah insektisida sistemik yang mencemari seluruh tanaman, termasuk serbuk sari dan nektar, sumber makanan penting bagi penyerbuk seperti lebah dan kupu-kupu.

    Bahan kimia ini mengganggu sistem saraf serangga, menyebabkan disorientasi, kelumpuhan, dan kematian. Pada tingkat yang tidak mematikan, bahan kimia ini masih dapat mengganggu reproduksi, pencarian makan, dan respons imun.

    Kehadiran mereka yang konstan di tanah dan air cenderung mengekspos serangga non-target bahkan setelah aplikasi, yang secara langsung berkontribusi pada penurunan populasi serangga dalam jangka panjang.

    Baca: Peran signifikan lebah dalam penyerbukan tumbuhan

    Hilangnya habitat juga menjadi ancaman langsung dan meluas lainnya terhadap populasi serangga. Perluasan pertanian, penggundulan hutan, dan pembangunan perkotaan telah menghilangkan ekosistem yang pernah mendukung berbagai populasi serangga.

    Banyak spesies serangga bergantung pada tanaman inang atau mikrohabitat tertentu seperti serasah daun, kayu yang membusuk, atau tanah yang tidak terganggu yang akan punah saat lahan dibuka atau dimodifikasi.

    Monokultur dan lanskap yang terawat juga mengurangi ketersediaan sumber nektar, tempat berlindung, dan tempat berkembang biak, sehingga menyulitkan serangga untuk bertahan hidup.

    Perubahan iklim telah mengubah kondisi lingkungan, sehingga menyulitkan banyak spesies serangga untuk beradaptasi dengan perubahan ini.

    Meningkatnya suhu, pergeseran pola curah hujan, dan meningkatnya frekuensi kejadian cuaca ekstrem mengganggu siklus hidup serangga, pola migrasi, dan ketersediaan sumber makanan.

    Beberapa penyerbuk muncul sebelum atau setelah tanaman yang mereka andalkan mekar karena isyarat musiman yang tidak cocok.

    Baca: Turunnya populasi lebah mengancam keanekaragaman hayati

    Perubahan iklim juga menyebabkan spesies hama memperluas jangkauannya sambil mengurangi habitat bagi spesies lain, yang menyebabkan ekosistem yang tidak seimbang dan efek berjenjang di seluruh jaring makanan.

    Beberapa jenis polusi juga berkontribusi terhadap penurunan serangga. Misalnya, polusi cahaya membingungkan serangga nokturnal seperti kumbang dan ngengat, mengganggu navigasi, reproduksi, dan penghindaran pemangsaan mereka.

    Polusi kimia juga bermasalah. Limpasan industri dan emisi kendaraan telah mencemari tanah, udara, dan air, membahayakan larva atau serangga dewasa yang sensitif melalui toksisitas langsung dan degradasi habitat.

    Polutan ini juga dapat terakumulasi dalam rantai makanan dan semakin membahayakan serangga dan spesies yang bergantung padanya.

    Terakhir, spesies invasif menimbulkan ancaman bagi populasi serangga asli dengan memperkenalkan parasit, persaingan, dan pemangsaan.

    Spesies invasif non-asli dapat bersaing dengan serangga asli untuk mendapatkan makanan dan habitat atau mereka mungkin memangsa serangga tersebut secara langsung.

    Beberapa tanaman invasif juga mengubah struktur ekosistem asli, membuatnya kurang cocok untuk spesies serangga asli.

    Baca: BRIN teliti keanekaragaman hayati hutan hujan tropis dan lahan basah Kalbar