Tag: pramono anung

  • Pemprov DKI Jakarta Akan Kejar Penunggak Pajak Kendaraan Bermotor

    Pemprov DKI Jakarta Akan Kejar Penunggak Pajak Kendaraan Bermotor

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berkomitmen untuk mengejar para penunggak pajak kendaraan di ibu kota.

    Langkah Pemprov DKI Jakarta ini berbeda dengan Pemprov Jawa Barat yang memilih memutihkan pemilik kendaraan bermotor yang menunggak pajak.

    Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, langkah ini diambil sebagai upaya meningkatkan kepatuhan wajib pajak di Jakarta.

    Menurutnya, Pemprov DKI Jakarta akan terus melakukan penagihan kepada wajib pajak untuk meningkatkan pendapatan daerah dari sektor pajak kendaraan.

    Baca: DKI Jakarta tetapkan pajak bahan bakar kendaraan bermotor sebesar 5 persen

    “Ya ditagih. Dan nanti dalam jangka pendek ini, orang yang tidak bayar pajak di Jakarta akan kesulitan. Kenapa? Begitu dia mengisi bensin ada barcode yang akan membaca bahwa mobilnya belum bayar pajak,” ujar Pramono, di Hotel Balairung, Jakarta Timur, Rabu (30/4/2025).

    Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga akan menerapkan sistem terintegrasi yang memungkinkan deteksi kendaraan penunggak pajak melalui berbagai fasilitas publik, seperti parkir.

    “Ketika dia parkir di Jakarta juga akan ketahuan mobilnya tidak bayar pajak,” ujarnya.

    Pramono menyampaikan, pihaknya tengah berupaya melakukan perbaikan agar masyarakat patuh dalam membayar pajak. Menurutnya, rata-rata masyarakat tidak membayarkan pajak untuk kendaraan keduanya atau lebih.

    Baca: Perluasan TransJakarta bakal kurangi pemakaian kendaraan pribadi

    Upaya penagihan pajak ini juga dilakukan untuk menekan jumlah kendaraan yang menghindari aturan ganjil genap. Ia menilai jika Pemprov melakukan pemutihan pajak, justru akan semakin menambah tingkat kemacetan di ibu kota.

    “Itulah yang saya upayakan untuk memperbaiki, karena bagi saya pribadi pajak itu adalah kepatuhan,” kata dia.

    Pramono Anung menambahkan, dirinya tengah mempertimbangkan melakukan integrasi sistem pembayaran tol dengan data pajak kendaraan.

    Sehingga saat pengguna kendaraan melakukan tapping di pintu gerbang tol, akan langsung terbaca apakah pajak kendaraannya menunggak atau tidak.

    “Saya lagi berpikir apakah memungkinkan ketika dia menggunakan jalan tol begitu dia bayar, barcode-nya terbaca, mobilnya kebaca, ketahuan mobilnya belum bayar pajak,” tandas Pramono.

  • Pemprov DKI Jakarta Berkomitmen Kembangkan Transportasi Umum yang Ramah Disabilitas

    Pemprov DKI Jakarta Berkomitmen Kembangkan Transportasi Umum yang Ramah Disabilitas

    7cloud.asia – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyampaikan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan terus meningkatkan dan memperbaiki aksesibilitas transportasi umum bagi penyandang disabilitas.

    Hal ini disampaikan Pramono Anung setelah mengevaluasi penggunaan transportasi umum selama dua minggu terakhir sesuai Instruksi Gubernur (Ingub) DKI Jakarta Nomor 6 Tahun 2025.

    “Selalu yang menjadi persoalan disabilitas, belum semua halte itu ramah terhadap mereka,” ungkap Pramono di Gedung Transport Hub MRT Jakarta-Dukuh Atas, Rabu (7/5/2025).

    Dalam perjalanan dinasnya saat menggunakan transportasi umum, Pramono Anung menceritakan perbincangannya dengan salah satu penumpang disabilitas.

    “Kebetulan hari ini saya berdialog dengan disabilitas. Saya tanyakan, berapa kali dia pindah dan kesulitan apa yang dihadapi,” ceritanya.

    Baca: Mengintip Layanan LRT Jabodebek Bagi Penyandang Disabilitas

    Karena itu, perbaikan fasilitas yang ramah disabilitas di berbagai layanan transportasi publik akan menjadi salah satu prioritas yang akan dikerjakan Pemprov DKI.

    “Untuk membuat halte-halte menjadi ramah kepada disabilitas salah satu juga hal yang akan kami lakukan,” kata Pramono.

    Pada kesempatan ini, Pramono pun mengapresiasi antusiasme ASN dalam menggunakan layanan transportasi umum setiap hari Rabu yang diterapkan selama dua pekan terakhir ini.

    Pramono menyampaikan, penggunaan transportasi umum akan berdampak signifikan terhadap penurunan angka kemacetan di ibu kota.

    Berdasarkan survei Kementerian Perhubungan pada 2023, masalah kemacetan di Jakarta ini berpotensi menyebabkan kerugian hingga Rp 100 triliun setahun.

    Baca: DKI Jakarta Sediakan Layanan Gratis Transjakarta untuk Kelompok Disabilitas dan Lansia

    Selain itu, banyaknya kendaraan pribadi yang memicu kemacetan jadi sumber utama polusi udara di Jakarta yang mengakibatkan gangguan kesehatan dan menurunnya produktivitas masyarakat.

    Meskipun konektivitas transportasi di Jakarta sudah mencapai 91 persen, penggunaannya masih rendah, yakni sekitar 21 persen. Karena itu, Pramono Anung menargetkan peningkatan pengguna transportasi umum sebesar 5-10 persen setiap tahunnya.

    Melalui upaya peningkatan fasilitas dan kebiasaan penggunaan transportasi umum, Pramono berharap target Jakarta menjadi 50 besar kota global bisa terwujud.

    “Itulah yang menjadi target saya untuk bisa membuat, katakanlah di tahun 2025, Jakarta sebagai kota global, rankingnya menjadi top 50,” tandasnya.

  • Pemprov DKI Jakarta Bakal Merevitalisasi RPTRA Kalijodo: Diharapkan Rampung Akhir Tahun Ini

    Pemprov DKI Jakarta Bakal Merevitalisasi RPTRA Kalijodo: Diharapkan Rampung Akhir Tahun Ini

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan melakukan revitalisasi Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kalijodo di Tambora, Jakarta Barat.

    Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat ini sedang menggodok Instruksi Gubernur tentang rencana revitalisasi RPTRA Kalijodo agar bisa dirilis segera.

    Saat mengunjungi RPTRA Kalijodo, Jumat (16/5/2025), Pramono Anung mengatakan dirinya ingin memperbaiki peninggalan para gubernur yang menurut dia baik dan bermanfaat untuk masyarakat.

    Pramono ingin ruang publik ini kembali bermanfaat untuk masyarakat dengan menyediakan berbagai fasilitas yang dibutuhkan.

    Baca: Ruang Terbuka Hijau Kalijodo selesai direvitalisasi

    Revitalisasi RPTRA Kalijodo ditargetkan menjadi ruang publik yang lebih representatif dan fungsional. Revitalisasi ini ditargetkan bisa rampung dalam waktu enam bulan.

    “Mudah-mudahan dalam waktu kurang lebih enam bulan, RPTRA Kalijodo ini wajahnya adalah wajah yang ramah kembali kepada kita semua untuk datang,” kata Pramono.

    Untuk merealisasikan rencana ini, Pramono Anung telah menugaskan Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Tamhut) DKI Jakarta, Fajar Sauri agar berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk masyarakat setempat.

    “Salah satu hal luar biasa menurut saya pada waktu itu Kalijodo yang dari tanda kutip seperti itu, kemudian pada era Pak Ahok dan Pak Djarot dilakukan perbaikan dan sekarang memang belum bisa difungsikan secara maksimal,” jelasnya.

    Baca: Mewujudkan ruang hijau yang ideal di kota-kota di Indonesia

    Kepala Dinas Tamhut DKI Jakarta, Fajar Sauri menjelaskan, pihaknya telah berinteraksi dengan warga untuk melakukan penataan ulang RPTRA Kalijodo.

    Menurutnya, warga meminta agar disediakan lapangan olahraga multi-fungsi, ruang pertemuan komunitas, serta ruang kontemplasi.

    “Yang diminta oleh warga adalah terkait dengan lapangan olahraga yang sifatnya multi, di mana lapangan olahraga itu bisa dimanfaatkan untuk bola voli, basket, bahkan futsal,” ujar Fajar.

    Fajar juga memastikan, pihaknya juga akan menempatkan petugas keamanan untuk melakukan pengawasan di kawasan sekitar.

    “Mengenai pengawasan, kami mempunyai tugas selaku penanggung jawab, kita awasi dengan menaruh para pengamanan di sana,” tandasnya.

    Baca: Kondisi ruang hijau di kota-kota di Indonesia

  • Pemprov DKI Jakarta Akan Selesaikan Masalah Tiang Monorel yang Terbengkalai

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan menyelesaikan permasalahan tiang-tiang proyek monorel yang hingga saat ini terbengkalai.

    Menurut Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, keberadaan tiang-tiang monorel yang sudah terbengkalai selama bertahun-tahun tersebut mengganggu estetika ibu kota.

    Hal ini disampaikan Pramono saat meninjau Planetarium & Observatorium Jakarta di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Selasa (20/5/2025).

    “Bagi Pemerintah Jakarta ini sangat mengganggu. Maka bukan monorel-nya yang dilanjutkan, tetapi tiang-tiang yang tidak berfungsi itu akan diapakan? Apakah dibersihkan? Apakah dibuat apa? Tentunya harus ada keputusan untuk itu,” ujar Pramono.

    Pramono menjelaskan, proyek monorel terhenti karena adanya persoalan hukum antara kontraktor dan pihak-pihak terkait.

    Baca: Satpol PP diturunkan untuk tertibkan vandalisme dan pelanggaran penggunaan trotoar

    Meskipun proyek monorel telah digantikan dengan LRT, tiang-tiang yang sudah terbangun dan masih berdiri kokoh tidak berfungsi hingga kini.

    Menurut Pramono, tiang-tiang monorel yang masih berdiri tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja. Karena itu, Pemprov DKI Jakarta akan memutuskan tindakan yang tepat untuk menangani hal tersebut.

    “Kalau teman-teman sekalian lewat di Rasuna Said maupun di Senayan, ada kolom-kolom untuk monorel yang sampai hari ini semuanya gak mau nyentuh untuk diselesaikan. Kalau bagi saya pribadi ini adalah hal yang harus diselesaikan,” tandasnya.

    Sejak awal pembangunan di tahun 2004 proyek ini tidak selesai sampai sekarang. Kini proyek itu hanya menyisakan tiang-tiang pancang yang tersebar di beberapa jalan utama di Jakarta. Salah satunya di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

    Baca: Trotoar di Jakarta belum ramah untuk kelompok disabilitas

    Proyek pembangunan monorel mulai dibangun pada tahun 2004. Pembangunan tiang pancang pertama dilakukan pada 14 Juni 2004, di Jalan Asia Afrika, Senayan, Jakarta Selatan.

    Adapun nilai proyek ini mencapai 450 juta dolar. Namun di tengah jalan, pengembang sekaligus investor proyek ini, PT Jakarta Monorail (PT JM) tidak mampu memenuhi syarat investasi 144 juta dolar.

    Dilansir detik.com, proyek ini kemudian dihentikan pada tahun 2008 akibat masalah pendanaan dan kepastian investasi saat DKI Jakarta masih dipimpin oleh Fauzi Bowo alias Foke.

    Tidak lama setelah itu, Foke memastikan pembangunan proyek ini dihentikan. Pihak PT JM minta penggantian biaya investasi Rp600 miliar, namun Foke menolak dan hanya membayar sesuai rekomendasi Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

    Baca: Mendesain kota responsif terhadap banjir

  • Blok M Hub Resmi Beroperasi 24 Jam

    Blok M Hub Resmi Beroperasi 24 Jam

    7cloud.asia – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung secara resmi membuka kawasan Blok M Hub, Jakarta Selatan selama 24 jam sekaligus mencangankan HUT DKI Jakarta ke-498 bertemakan “Jakarta Kota Global dan Berbudaya”.

    Blok M Hub merupakan nama baru Blok M yang mulai direvitalisasi. Blok M Hub diproyeksikan menjadi hub atau penghubung transportasi dan fasilitas umum di area tersebut.   

    “Kami betul-betul ingin membuat Blok M Hub ini menjadi hub yang hidup 24 jam. Taman Literasi ini termasuk yang dibuka 24 jam,” kata Pramono Anung dalam sambutannya di Taman Literasi Martha Tiahahu pada Sabtu (24/05/2025).

    Baca: Blok M akan menjadi pusat ekonomi baru ibukota

    Dengan dibuka selama 24 jam, Pramono berharap kawasan ini akan menjadi pusat aktivitas baru. Bagi masyarakat yang jauh dari wilayah Blok M Hub, kini tak perlu khawatir untuk datang ke kawasan ini.

    Pemprov DKI telah meluncurkan trayek baru Transjabodetabek yakni rute PIK 2-Blok M dan Alam Sutera-Blok M. Selanjutnya, Pemprov juga akan membuka dua trayek Transjabodetabek lainnya dari daerah penyangga menuju Blok M.

    Menurutnya, Blok M Hub ini nantinya bisa menjadi masa depan Jakarta, mengingat infrastruktur yang telah terbangun cukup baik.

    Selain itu melalui revitalisasi, lanjut Pramono, pemprov DKI Jakarta akan menjadikan Jakarta sebagai kota yang ramah bagi semua, termasuk penyandang disabilitas.

    Baca: Rute baru PIK-Blok M akan diluncurkan

    Pihaknya akan membangun pedestrian yang ramah disabilitas sepanjang 1,3 kilometer yang menghubungkan seluruh area di Blok M.

    Sementara itu, Nurul, salah seorang warga Kedoya, Jakarta Barat yang turut hadir dalam acara tersebut menyambut baik pembukaan Blok M Hub ini.

    Menurutnya hal ini cukup membantu warga untuk mendapatkan hiburan gratis bersama keluarga. “Lumayan, bagus. Bisa ajak anak-anak juga main kesini kalau libur. Jadi murah meriah,” katanya ketika ditemui Ruangkota.com

  • Pemutihan Ijazah Tahap III, Pramono Anung Serahkan Bantuan untuk 827 Siswa SD hingga SMA

    Pemutihan Ijazah Tahap III, Pramono Anung Serahkan Bantuan untuk 827 Siswa SD hingga SMA

    7cloud.asia – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyerahkan bantuan kepada 827 siswa dalam pemutihan ijazah tahap III tahun 2025 di SMK Miftahul Falah, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada Selasa (3/6/2025).

    Pemutihan ijazah kali ini terdiri dari 44 siswa lulusan Sekolah Dasar (SD), 160 siswa lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP), 138 siswa lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA)

    Sebanyak 456 siswa dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), serta 29 siswa dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

    Pramono Anung mengatakan, bantuan ini bertujuan mendorong para siswa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sekaligus menjadi bekal untuk mencari pekerjaan demi masa depan yang lebih baik.

    Baca: Belasan ribu ijazah masih tertahan di sekolah

    “Saya mengucapkan selamat kepada saudara-saudara sekalian. Selama ini ada ijazah yang tertahan hingga dua sampai tujuh tahun. Hari ini, akhirnya bisa diterima. Ini memang sesuatu yang saya pantau langsung,” ujarnya

    Hingga saat ini, tercatat sebanyak 1.315 siswa telah menerima bantuan pemutihan ijazah dengan total anggaran sebesar Rp4,3 miliar.

    Proses pemutihan ijazah dilakukan setelah melalui verifikasi kelayakan oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta melalui Suku Dinas (Sudin) Pendidikan di lima wilayah kota administrasi, bekerja sama dengan BAZNAS (BAZIS) DKI Jakarta.

    Pramono Anung berharap, setidaknya 6.652 ijazah dari berbagai tingkatan dapat diputihkan tahun ini.

    Baca: Program “Quick Wins” Pramono Anung dan Rano Karno di Jakarta

    ”Saya tahu, mereka yang belum mengambil ijazah bukan karena tidak mau, tetapi karena kendala biaya. Karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada BAZNAS (BAZIS) DKI Jakarta yang telah bekerja sama menyelesaikan persoalan ini,” tuturnya.

    Pramono menambahkan, selain program pemutihan ijazah, Pemprov DKI Jakarta terus berupaya meningkatkan layanan dasar pendidikan, antara lain dengan memperluas jangkauan penerima Kartu Jakarta Pintar Plus (KJP Plus) dan Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU).

    Dia meyakini, salah satu cara memutus rantai ketidakberuntungan dalam keluarga adalah melalui pendidikan.

    ”Maka, tugas saya sebagai Gubernur Jakarta adalah membantu dan melayani pelajar agar dapat meraih cita-cita setinggi mungkin. Sekali lagi selamat, semoga ijazah yang diterima hari ini bermanfaat untuk melanjutkan pendidikan atau menjadi bekal memasuki dunia kerja,” pungkasnya.

  • Kebijakan Jalan Berbayar atau ERP Masih Dikaji, Pendapatannya Akan Digunakan untuk Subsidi Transportasi Publik

    Kebijakan Jalan Berbayar atau ERP Masih Dikaji, Pendapatannya Akan Digunakan untuk Subsidi Transportasi Publik

    7cloud.asia – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyampaikan rencananya untuk menerapkan Electronic Road Pricing (ERP) atau jalan berbayar elektronik di Jakarta.

    Penerapan kebijakan jalan berbayar atau Electronic Road Pricing (ERP) menjadi salah satu alternatif pilihan untuk membatasi penggunaan kendaraan bermotor di Jakarta yang hingga kini masih dalam tahap kajian.

    Pramono Anung mengatakan, seluruh pendapatan dari penerapan ERP ini akan dialokasikan untuk subsidi transportasi bagi 15 golongan masyarakat yang telah ditetapkan sebelumnya.

    Hal ini disampaikan Pramono dalam acara Leaders Forum: Unlocking Investments For Jakarta’s Transformation to Top #50 Global City by 2030 di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta, pekan lalu

    Ia menekankan, kebijakan ini bertujuan memastikan manfaat ERP dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama mereka yang kesulitan mengakses transportasi publik yang terjangkau.

    “Tapi suatu hari, bukan sekarang ya, ERP-nya saya mau pasang. Gak apa-apa, bayar semua ERP. Parkir, bayar semua,” imbuhnya.

    Baca: Transisi ke transportasi publik akan kurangi kemacetan di Jakarta

    Bagi warga yang tidak mampu sepenuhnya menjadi tanggung jawab negara, dan hasil dari ERP sepenuhnya akan saya gunakan untuk memberikan subsidi kepada 15 golongan,” kata Pramono.

    Penerapan ERP juga merupakan upaya untuk mengatasi masalah kemacetan di Jakarta. Pramono menilai, masalah kemacetan sebagian besar disebabkan oleh keengganan masyarakat untuk beralih ke transportasi publik.

    Karena itu, ia menilai perlunya membenahi transportasi umum dan adanya kebijakan yang mewajibkan masyarakatnya untuk menggunakan transportasi publik.

    Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sendiri telah menerapkan kebijakan wajib bagi ASN untuk menggunakan transportasi publik setiap Rabu.

    “Setiap hari Rabu saya wajibkan seluruh ASN di Jakarta untuk naik transportasi umum. Apa hasilnya? Dulu ketika awal-awal saya tahu pasti saya diprotes. Tapi kepada 15 golongan kan saya gratis kan. Termasuk ASN dari mana aja, mau ke sini gratis,” ucap Pramono.

    Meski sempat menuai protes di awal, kebijakan ini menunjukkan hasil positif dengan adanya peningkatan signifikan penggunaan transportasi umum oleh ASN yang mencapai 98 persen.

    Baca: Transportasi publik di Jakarta makin lengkap dan terintegrasi

    Pramono menambahkan, layanan gratis Transjabodetabek juga diberlakukan terhadap 15 golongan masyarakat baik Jakarta maupun luar Jakarta.

    Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga akan memperluas jangkauan transportasi publik dengan membuka tujuh rute baru Transjabodetabek. Sehingga warga dari daerah penyangga bisa memiliki pilihan transportasi yang nyaman dan terjangkau.

    Sebelumnya Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Syafrin Liputo menambahkan, pihaknya masih mengkaji penerapan ERP, khususnya untuk melihat kesiapan fasilitas transportasi publik di Jakarta.

    Dalam menerapkan ERP, Pemprov DKI Jakarta akan mempertimbangkan masukan dan aspirasi dari komunitas transportasi dan masyarakat.

    Kajian penerapan ERP yang sedang dilakukan bertujuan untuk mengurai titik-titik kemacetan di Jakarta dengan cara memindahkan pengguna kendaraan pribadi untuk beralih ke transportasi publik.

    Baca: DKI Jakarta targetkan 55 persen warga gunakan transportasi publik

    “Oleh karena itu, kami memastikan kesiapan layanan dan infrastruktur transportasi publik di Jakarta,” terang Syafrin beberapa waktu lalu

    “Kami juga secara rutin menyosialisasikan kajian penerapan ERP ini kepada seluruh stakeholder dan elemen masyarakat termasuk komunitas transportasi, seperti asosiasi angkutan online untuk memastikan tidak ada pihak yang dirugikan jika kebijakan ERP ini diterapkan,” tambah Syafrin.

    Dalam satu tahun (2018-2019), BPS DKI Jakarta mencatat, jumlah kendaraan bermotor, seperti sepeda motor di Jakarta bertambah sekitar 5,3 persen.

    Jika tidak dilakukan pengendalian penggunaan kendaraan bermotor, tidak menutup kemungkinan semakin tinggi tingkat kemacetan yang mengakibatkan semakin meningkatnya polusi udara di Jakarta.

    Penerapan ERP merupakan salah satu cara untuk mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi polusi udara, meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat di Jakarta.

    Baca: Tarif parkir di kawasan ini mencapai Rp 60.000 per jam

  • Catatan Kritis 100 Hari Kepemimpinan Pramono Anung dan Rano Karno

    Catatan Kritis 100 Hari Kepemimpinan Pramono Anung dan Rano Karno

    7cloud.asia – Seratus hari Pramono Anung dan Rano Karno memimpin Jakarta, namun program awal mereka dalam Instruksi Gubernur Nomor e-0001 Tahun 2025 belum menyelesaikan masalah mendasar warga.

    Sejumlah organisasi masyarakat sipil memberi catatan, seperti pelayanan publik masih lambat, pengaduan masyarakat jarang ditanggapi, dan berbagai persoalan lama terus terbengkalai.

    Masa 100 hari ini, menurut Greenpeace dan Urban Poor Consortium (UPC), harusnya menjadi wajah awal tonggak perubahan kepemimpinan Pramono Anung dan Rano Karno, tetapi janji ‘Jakarta Menyala’ justru terancam padam oleh pola reaktif tanpa arah jelas.

    Namun, kebijakan Pram-Doel dinilai justru mengulang pola lama yang mengesampingkan hak dan partisipasi warga, mengabaikan urgensi lingkungan, serta mengadopsi solusi jangka pendek yang jauh dari keberlanjutan.

    Beragam program Pemprov DKI seperti job fair hingga pembangunan infrastruktur disebut sebagai solusi, namun belum menyentuh akar persoalan sosial dan lingkungan di Jakarta.

    Baca: 40 Program “Quick Wins” Pramono Anung dan Rano Karno di Jakarta

    Rencana menggelar job fair di 44 kecamatan tiap tiga bulan dinilai tidak menjawab kebutuhan riil, terutama bagi kelompok rentan dan penganggur muda, apalagi perlindungan pada sektor informal.

    Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia, Jeanny Sirait menyoroti penggusuran pedagang kaki lima (PKL) Menurutnya, meggusur PKL tanpa solusi akan semakin mempersulit warga untuk mencari nafkah.

    Untuk mengentaskan krisis lapangan pekerjaan, Pemprov DKI harus berfokus pada pelatihan berbasis potensi lokal dan pendampingan keterampilan, termasuk melindungi sektor informal yang menopang sekitar 37,95 persen dari ekonomi masyarakat Jakarta.

    “Tanpa pelatihan terarah, job fair hanyalah seremonial belaka. Jakarta harus menyediakan fasilitas kerja yang adil dan berkelanjutan,“ ujar Jeanny dikutip dari laman resmi Greenpeace Indonesia

    Program pelatihan dan peluang kerja berbasis Green Jobs wajib dikembangkan agar warga memiliki keterampilan yang sesuai dengan tantangan zaman. Apalagi riset Greenpeace menyebut sektor Green Jobs dapat menghasilkan 19,4 juta lapangan kerja.

    Baca: Pramono Anung serius wujudkan Giant Mangrove Wall untuk atasi abrasi

    Jeanny menambahkan “Untuk menciptakan akses yang berkeadilan, Pemprov DKI harus juga memberi perhatian khusus terhadap pemenuhan hak pekerja informal, termasuk PKL.”

    Dalam lima bulan pertama tahun ini, telah terjadi tujuh kasus penggusuran di Jakarta. Tidak hanya dilakukan oleh korporasi, penggusuran juga melibatkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Pusat, sering kali disertai pengawalan aparat keamanan bahkan TNI AD.

    Proses penggusuran ini berlangsung tanpa musyawarah, tanpa putusan pengadilan, dan tanpa jaminan tempat tinggal pengganti, mengabaikan prinsip-prinsip keadilan dan perlindungan hak asasi manusia.

    Situasi ini terus berlangsung karena masih berlakunya Peraturan Gubernur Nomor 207 Tahun 2016, yang memberi kewenangan pengusiran sepihak tanpa proses hukum. Warga menjadi korban kebijakan yang tidak adil dan berpotensi kehilangan tempat tinggal secara permanen.

    Warga Kampung Bayam adalah contoh nyata. Meski status mereka telah diakui secara hukum, hingga kini mereka belum dapat menempati Kampung Susun Bayam.

    Baca: Pramono Anung akan lanjutkan program normalisasi Sungai Ciliwung

    Pemerintah mengubah skema hunian menjadi sistem sewa yang berat tanpa melibatkan warga dalam musyawarah. Tidak ada transparansi, tidak ada solusi.

    “Selama Pergub 207/2016 masih berlaku, warga Jakarta akan terus hidup dalam ketakutan akan penggusuran,” ujar Guntoro dari Urban Poor Consortium.

    Ia juga menambahkan, “Penataan kampung dan reforma agraria tidak boleh berhenti sebagai janji di atas kertas. Warga butuh perlindungan nyata, bukan pengusiran terus-menerus.”

    Di tengah mandat reforma agraria dari Perpres Nomor 62 Tahun 2023 dan berbagai aturan daerah yang telah ada, hingga 100 hari masa jabatan Gubernur Pramono Anung, belum ada langkah konkret yang diambil untuk menyelesaikan persoalan kampung-kampung rakyat.

    Ketidakpastian ini membuat warga tersisih dari hak dasar mereka untuk tinggal secara layak di kota tempat mereka hidup dan berkontribusi.

    “Jakarta harus berubah. Kota ini semestinya melindungi warganya, bukan terus-menerus menggusur mereka,” ujar Guntoro.

    Baca: Pemutihan ijazah di bawah Pramono Anung dan Rano Karno

  • Masyarakat Sipil Sambangi Balai Kota, Berikan Penilaian Kinerja 100 Hari Pramono Anung dan Rano Karno

    Masyarakat Sipil Sambangi Balai Kota, Berikan Penilaian Kinerja 100 Hari Pramono Anung dan Rano Karno

    7cloud.asia – Jakarta di bawah kepemimpinan Pramono Anung dan Rano Karno dinilai belum menunjukkan arah baru dalam tata kelola kota.

    Demikian catatan kritis dari sejumlah organisasi masyarakat terhadap 100 hari kepemimpinan Pramono Anung dan Rano Karno. Diakui, 100 hari memang belum cukup untuk menyelesaikan semua persoalan, tetapi sudah cukup untuk menunjukkan arah dan keberpihakan.

    Sayangnya, arah yang ditunjukkan Pram-Doel belum sejalan dengan visi kota yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada warganya.

    Dalam pernyataan tertulisnya, Greenpeace Indonesia, Urban Poor Consortium dan LBH Jakarta melihat pemerintahan Pramono Anung dan Rano Karno masih terjebak pada solusi instan yang justru memperparah masalah jangka panjang.

    Setidaknya ada delapan isu yang dinilai dalam rapor kinerja 100 hari diantaranya adalah pengelolaan sampah, pengangguran, pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil, pelayanan publik yang lambat, penataan kampung kota, penggusuran, serta penyelesaian hunian Kampung Bayam di Jakarta Utara.

    Baca: Catatan kritis 100 hari kepemimpinan Pramono Anung dan Rano Karno

    Warga hanya disuguhi solusi-solusi palsu. Isu pengelolaan sampah, misalnya, diselesaikan lewat refuse derived fuel (RDF) yang mahal dan mengganggu kesehatan warga.

    Bursa kerja alias job fair di 44 kecamatan pun tak dibarengi dengan pelatihan terarah yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan, serta janji manis giant mangrove wall yang bahkan tak masuk ke dalam program quick wins.

    Pramono Anung dan Rano Karno dinilai masih terjebak pola lama yang tidak melibatkan partisipasi warga dalam pembangunan kota.

    Birokrasi yang buruk membuat warga kesulitan menyampaikan aspirasinya dalam menciptakan kota yang inklusif, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan warganya.

    “Kami menilai birokrasi Jakarta masih buruk dan pilih kasih. Hal ini sangat merugikan warga dan juga bertentangan dengan UU Pelayanan Publik. Pemprov Jakarta harus bisa memastikan birokrasi yang lebih terstruktur dan adil bagi semua warganya,” kata Alif Fauzi Nurwidiastomo, Kepala Bidang Advokasi LBH Jakarta.

    Baca: Program “Quick Wins” Pramono Anung dan Rano Karno di Jakarta

    Ia menambahkan, hingga saat ini Pemprov Jakarta masih belum mengesahkan rancangan peraturan daerah bantuan hukum untuk warga Jakarta.

    Padahal, peraturan daerah ini penting untuk menjamin akses warga terhadap bantuan hukum yang adil, terlepas dari kemampuan ekonomi mereka.

    Perwakilan warga kampung kota yang tergabung dalam JRMK dan UPC juga menyayangkan langkah Pram-Doel dalam menangani penataan kampung kota.

    Reforma agraria perkotaan untuk menata wilayah kampung kota Jakarta pun masih mandek. Padahal, reforma agraria di wilayah kota penting untuk menciptakan kampung kota yang adil dan sesuai dengan kebutuhan warganya.

    Baca: Pramono Anung ingin wujudkan Giant Mangrove Wall untuk atasi abrasi

    “Kami pun membawa rekomendasi untuk Mas Pram dan Bang Doel yang menunjukkan upaya kami bergerak bersama Pemprov Jakarta untuk membangun kota global yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Jeanny Sirait dari Greenpeace.

    Jakarta membutuhkan kepemimpinan yang sungguh-sungguh mendengar suara warga, konsisten berpihak pada lingkungan, dan berani mengambil langkah inovatif demi masa depan yang berkelanjutan.

    Pemprov DKI Jakarta perlu mendorong partisipasi aktif warga dalam pengambilan keputusan, terutama terkait tujuan pembangunan dan pengelolaan lingkungan.

    Jakarta juga harus berani berubah: melindungi warganya, mendengar suara mereka, dan fokus pada keberlanjutan untuk kota yang adil dan layak huni.

  • Isu Lingkungan yang Menjadi Sorotan di 100 Hari Kepemimpinan Pramono Anung dan Rano Karno

    Isu Lingkungan yang Menjadi Sorotan di 100 Hari Kepemimpinan Pramono Anung dan Rano Karno

    7cloud.asia – Pengelolaan sampah dan pembangunan Giant Mangrove Wall adalah dua isu lingkungan yang disorot organisasi masyarakat sipil terkait 100 hari pemerintahan Pramono Anung dan Rano Karno.

    Dalam pernyataan yang dilansir di laman resmi Greenpeace Indonesia, Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia, Jeanny Sirait menyoroti janji Pramono Anung untuk mengganti Giant Sea Wall dengan solusi alami berupa Giant Mangrove Wall yang belum terwujud.

    Sebaliknya, pembangunan tanggul laut tetap dilanjutkan sebagai solusi permanen yang utama dan menyebabkan penggusuran, seperti di Angke Kapuk.

    “Mangrove efektif melindungi pesisir dan warga. Pemerintah justru mengabaikannya dan memilih proyek yang merusak ekosistem dan menggusur warga sebagai solusi utama dan permanen,” tegas Jeanny.

    Baca: Catatan kritis 100 hari kepemimpinan Pramono Anung dan Rano Karno

    Di sektor pengelolaan sampah, meski Jakarta memiliki ribuan bank sampah, hanya 63 persen yang terbukti aktif.

    Alih-alih memperkuat pemilahan dari sumber, pemerintah mendorong teknologi Refuse-Derived Fuel RDF di Rorotan yang berdampak negatif pada warga sehingga menuai penolakan.

    “RDF Rorotan bukan solusi, ini justru memperkuat ketergantungan pada produksi sampah dan membahayakan kesehatan warga,” tegas Ibar Akbar, Juru Kampanye Sampah dan Perkotaan Greenpeace Indonesia.

    Jika Jakarta ingin menjadi kota berkelanjutan, lanjut Ibar, Pemprov DKI Jakarta harus fokus pada pengurangan sampah dari hulu.

    “Antara lain dengan perluasan larangan plastik sekali pakai, dan penguatan partisipasi warga, bukan pada teknologi insinerator,“ tandas Ibar.

    Baca: Pramono Anung ingin wujudkan Giant Mangrove Wall

    Dalam pernyataan itu disebutkan, 100 hari memang belum cukup untuk menyelesaikan semua persoalan, tetapi seharusnya sudah cukup untuk menunjukkan arah dan keberpihakan.

    Sayangnya, organisasi masyarakat sipil seperti Greenpeace Indonesia, Urban Poor Consortium dan Jaringan Rakyat Miskin Kota melihat, arah yang ditunjukkan Pramono Anung dan Rano Karno belum sejalan dengan visi kota yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada warganya.

    Jakarta membutuhkan kepemimpinan yang sungguh-sungguh mendengar suara warga, konsisten berpihak pada lingkungan, dan berani mengambil langkah inovatif demi masa depan yang berkelanjutan.

    Pemprov DKI Jakarta perlu mendorong partisipasi aktif warga dalam pengambilan keputusan, terutama terkait tujuan pembangunan dan pengelolaan lingkungan.

    Koalisi mendesak Pemprov DKI Jakarta di bawah Pramono Anung harus berani berubah: melindungi warganya, mendengar suara mereka, dan fokus pada keberlanjutan untuk kota yang adil dan layak huni.

    Baca: Penilaian masyarakat sipil di 100 hari kepemimpinan Pramono Anung