Tag: sampah

  • TPA Kopi Luhur Cirebon Terbakar, Menteri KLH Minta Waspadai Kebakaran di TPA

    TPA Kopi Luhur Cirebon Terbakar, Menteri KLH Minta Waspadai Kebakaran di TPA

     

    7cloud.asia – Kebakaran di lokasi tempat pembuangan akhir (TPA) kembali terjadi. Kali ini di TPA Kopi Luhur, Cirebon, Jawa Barat.

    Kebakaran di TPA Kopi Luhur Cirebon ini memaksa Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya langsung meninjau lokasi. 

    Adapun penyebab kebakaran di TPA Kopi Luhur yang terjadi pada Minggu (1/10/2023) ini masih diteliti.

    “Di sini, spotnya kecil-kecil jadi lebih bisa ditangani oleh kawan-kawan di lokasi. Tapi pada konteks ini kami dari Kementerian ingin melihat persisnya ada api,” kata Siti seperti yang dikutip Antaranews.

    Menurut Siti, kondisi di TPA Kopi Luhur berbeda dengan TPA Sarimukti, Bandung Barat. Di TPA Kopi Luhur api dapat tertangani dengan baik sehingga dampak yang ditimbulkan tidak separah seperti di TPA Sarimukti.

    Baca: Kebakaran di TPA Sarimukti Bandung

    “Tadi sudah bertanya, agak berbeda dari TPA Sarimukti. Sarimukti sebetulnya agak terlambat menanganinya sehingga apinya keburu gede,” katanya.

    Selanjutnya Siti menjelaskan pihaknya perlu melakukan pengecekan secara langsung. Sebab, ada kemungkinan gas metan yang memicu munculnya titik api di lokasi tersebut.

    Setelah melakukan peninjauan ini, lanjut Siti, pihaknya akan mengkaji untuk merumuskan langkah penanganan yang tepat untuk peristiwa kebakaran di TPA.

    “Karena ada teorinya juga, itu ada gas metan, kemudian ada angin besar, ada oksigen pasti kebakar. Itu yang ingin kami lihat. Kalau itu terjadi kebakaran gede-gede, itu kita sedang pelajari,” urainya.

    Agar kebakaran hebat seperti yang terjadi di TPA Sarimukti tidak terulang, pihaknya melakukan perjalanan darat untuk mengecek satu per satu lokasi kebakaran TPA baik itu di Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

    Baca: Opsi mengatasi krisis di TPA Piyungan

    Berdasarkan data yang ia terima, terdapat 15 TPA di Indonesia yang mengalami kebakaran.

    “Saya mengikuti perkembangan, sebetulnya sudah sebulan lebih tempat-tempat pembuangan akhir sampah seperti ini terbakar dan belasan spot. Yang terecord sama saya ada 15 spot, bukan hanya satu-satunya di Sarimukti, Bandung,” jelasnya.

    Sebelumnya TPA Sarimukti terbakar hebat sejak 19 Agustus lalu. Kebakaran tersebut dipicu oleh sampah anorganik menjadi satu dengan sampah organik hingga membentuk gunungan sampah seberat 25 ribu ton.

    Atas peristiwa ini, Pemprov Jawa Barat menetapkan status darurat untuk TPA Sarimukti.

    Selama masa darurat, berbagai upaya pemadaman dilakukan termasuk dengan cara water bombing hingga akhirnya titik api padam seluruhnya pada 24 September lalu.  

    Baca: Gerakan sampah Mbah Dirjo kurangi sampah hingga separuhnya

    Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin mengatakan dengan keadaan kebakaran Sarimukti yang membaik tersebut, status darurat penanganan kebakaran TPA Sarimukti berakhir 25 September 2023 ini.  

    “Alhamdulillah sudah berhasil dipadamkan. Oleh karena itu, status darurat yang berakhir hari ini tidak diperpanjang,” kata Bey.

    Meski kebakaran TPA Sarimukti sudah mengalami perbaikan, Bey menegaskan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Bandung Raya, harus tetap berkomitmen mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA.  

    “Kalau caranya tetap sama seperti ini, ya, ini akan berulang terus. Kita tidak mau seperti itu. Harus ada perubahan pola,” ucapnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • 10 Dampak Buruk Fast Fashion pada Lingkungan

    10 Dampak Buruk Fast Fashion pada Lingkungan

    7cloud.asia – Dampak buruk yang diakibatkan limbah atau sampah fast fashion terhadap lingkungan bukanlah berita baru.

    Selain bertanggung jawab atas hampir 10% emisi karbon global, industri fast fashion juga terkenal karena banyaknya sumber daya yang terbuang dan jutaan pakaian berakhir di tempat pembuangan sampah setiap hari.

    Berikut 10 fakta yang sangat memprihatinkan tentang limbah tekstil pada lingkungan yang dipicu fast fashion sebagaimana dilansir earth.org: 

    1. 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan setiap tahunnya
    Dari 100 miliar pakaian yang diproduksi industri fast fashion setiap tahunnya, 92 juta ton di antaranya berakhir di tempat sampah dan mencemari lingkungan.

    Sebagai gambaran, ini berarti truk sampah penuh pakaian berakhir di tempat pembuangan sampah setiap detiknya.

    Jika tren ini terus berlanjut, jumlah sampah fast fashion diperkirakan akan melonjak hingga 134 juta ton per tahun pada akhir dekade ini.

    Baca: Sisi gelap fast fashion bagi lingkungan dan nasib buruh

    2. Emisi global fast fashion akan meningkat 50% pada 2030
    Jika skenario bisnis fast fashion berlangsung seperti biasa, atau tidak ada tindakan yang diambil untuk mengurangi limbah fast fashion, maka emisi global dari industri ini kemungkinan akan meningkat dua kali lipat pada akhir dekade ini.

    3. Konsumen AS membuang 81,5 pon pakaian setiap tahunnya
    Di Amerika saja, diperkirakan 11,3 juta ton limbah tekstil – setara dengan 85% dari seluruh tekstil – berakhir di tempat pembuangan sampah setiap tahunnya.

    Jumlah tersebut setara dengan sekitar 81,5 pon (37 kilogram) per orang per tahun dan sekitar 2.150 potong per detik di seluruh negeri.

    4. Lama pemakaian pakaian menurun sekitar 36% dalam 15 tahun
    Budaya membuang sampah telah meningkat secara progresif selama bertahun-tahun.

    Saat ini, banyak barang yang hanya dipakai tujuh sampai sepuluh kali sebelum dibuang. Itu berarti penurunan lebih dari 35% hanya dalam 15 tahun.

    Dari 100 miliar pakaian yang diproduksi setiap tahunnya, 92 juta ton berakhir di tempat pembuangan sampah.

    Baca: Melawan fast fashion dengan slow fashion

    5. Industri fesyen bertanggung jawab atas 20% air limbah global
    Pencelupan dan finishing – proses yang digunakan saat pewarna dan bahan kimia lainnya diterapkan pada kain – bertanggung jawab atas 3% emisi CO2 global serta lebih dari 20% polusi air global.

    Selain penyiapan benang dan produksi serat, kedua proses ini mempunyai dampak paling besar terhadap penipisan sumber daya, karena proses intensif energi yang berbasis pada energi bahan bakar fosil.

    6. Butuh 20.000 liter air untuk hasilkan 1 kg kapas
    Selain menjadi sumber pencemaran air yang sangat besar, fast fashion juga berkontribusi terhadap banyaknya air yang terbuang setiap hari.

    Jika hal ini sulit dibayangkan, bayangkan saja dibutuhkan sekitar 2.700 liter air untuk membuat satu kaos, yang cukup untuk diminum satu orang selama 900 hari. Terlebih lagi, satu kali pencucian menggunakan antara 50 dan 60 liter air.

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif bagi lingkungan

    7. 500 miliar dolar AS hilang per tahun 
    Aspek terburuk dari budaya membuang sampah sembarangan adalah sebagian besar pakaian yang dibuang setiap tahun tidak didaur ulang.

    Secara global, hanya 12% bahan pakaian yang didaur ulang. Sebagian besar masalahnya disebabkan oleh bahan pembuat pakaian dan teknologi yang tidak memadai untuk mendaur ulangnya.

    “Kain yang kami kenakan di tubuh kami merupakan kombinasi kompleks dari serat, perlengkapan, dan aksesori. Mereka terbuat dari campuran benang alami, filamen buatan, plastik dan logam yang bermasalah.”

    8. 10% mikroplastik cemari laut berasal dari tekstil
    Pakaian merupakan sumber mikroplastik yang sangat besar karena kini banyak sekali yang terbuat dari nilon atau poliester, tahan lama dan murah.

    Setiap siklus pencucian dan pengeringan, terutama yang terakhir, melepaskan mikrofilamen yang bergerak melalui sistem pembuangan limbah dan berakhir di saluran air.

    Diperkirakan setengah juta ton zat pencemar ini mencapai lautan setiap tahunnya. Jumlah tersebut setara dengan polusi plastik pada lebih dari 50 miliar botol.

    Baca: Prinsip frugal living yang lebih ramah lingkungan

    9. 2,6 juta ton pakaian yang diretur berakhir di tempat sampah

    Pada 2020, Sebagian besar barang yang dikembalikan ke pengecer dari konsumen berakhir di tempat pembuangan sampah.

    Hal ini terutama karena perusahaan memerlukan biaya yang lebih besar untuk mengembalikannya ke peredaran dibandingkan membuangnya.

    Perusahaan logistik terbalik Optoro juga memperkirakan bahwa pada tahun yang sama, 16 juta ton emisi CO2 dihasilkan oleh pengembalian online di AS pada tahun 2020 – setara dengan emisi 3,5 juta mobil di jalan selama setahun.

    10. Merek fast fashion memproduksi pakaian dua kali lebih banyak dibanding tahun 2000

    Peningkatan produksi yang dramatis ini juga menyebabkan peningkatan limbah tekstil sebelum dan sesudah produksi. 

    Karena banyaknya kain sisa, banyak bahan yang terbuang karena tidak dapat digunakan lagi.

    Sebuah penelitian memperkirakan bahwa 15% kain yang digunakan dalam pembuatan garmen terbuang.

    Pasca produksi, 60% dari sekitar 150 juta pakaian yang diproduksi secara global pada tahun 2012 dibuang hanya beberapa tahun setelah produksi.

    Baca: Gaya hidup minimalis jadi alternatif pilihan jaman now

  • Status Darurat Berlanjut, Pemprov Jawa Barat Tambah Kuota Membuang Sampah Terpilah

    Status Darurat Berlanjut, Pemprov Jawa Barat Tambah Kuota Membuang Sampah Terpilah

    7cloud.asia – Status darurat sampah di wilayah Bandung Raya masih berlanjut. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat menambah kuota membuang sampah terpilah.

    Penambahan kuota ini untuk empat wilayah kabupaten dan kota di Bandung Raya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti.

    Dilansir Antaranews, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, Prima Mayaningtias menjelaskan  kuota yang berlaku per 12 September 2023 masih sebesar 31 ribu ton sampah.

    Baca: Buntut aksi Pandawara, Polres Sukabumi akan selidiki pembuang limbah yang cemari Pantai Cibutun Loji

    Hingga 4 Oktober, lanjut Prima, masih ada sisa kuota sampah di jawa Barat, kecuali Kabupaten Bandung yang pada posisi terakhir kuotanya sudah habis bahkan melebihi dari yang disepakati.

    “Jadi berdasarkan rakor penangangan darurat sampah yang dihadiri para anggota satuan tugas dipimpin Penjabat Sekda Jabar, Taufiq Budi Santoso pada Rabu (4/10), disepakati penambahan kuota dan Satgas pada hari ini sudah melakukan penataan,” jelas Prima.

    Selanjutnya Prima menjelaskan pada Kamis (05/10/2023), satgas menata lahan 0,28 hektare untuk menampung sampah baru.

    Baca: Dampak buruk fast fashion pada lingkungan

    Sampah baru tersebut terdiri atas 1.167 ritase (jumlah capaian armada dalam pengiriman material dari lokasi A menuju lokasi B) untuk empat wilayah di Bandung Raya.

    Dengan penambahan kuota itu, maka kuota untuk Kota Bandung menjadi 1.194 ritase, yang terdiri atas 817 ritase tambahan dan 377 ritase sisa.

    Kota Cimahi, sisa kuota 185 ritase ditambah 105 ritase, sehingga memiliki total 290 ritase.

    Baca: Cara mudah menjalani gaya hidup ramah lingkungan

    Untuk Kabupaten Bandung Barat sisa 59 ritase, ditambah 91 ritase, sehingga totalnya menjadi 150 ritase lagi.

    “Untuk Kabupaten Bandung diberi tambahan kuota 154 ritase, tapi karena sebelumnya sudah melebihi batas sembilan ritase, maka penambahan kuotanya dikurangi untuk membayar hutang sehingga totalnya menjadi 145 ritase,” paparnya.

    Jumlah ritase tersebut dihitung berdasarkan volume rata-rata truk sampah sebesar 12 meter kubik dengan densitas sampah di truk seberat 0,35 ton per meter kubik.

    Baca: Cara mudah memilah sampah dari rumah

    Dengan demikian, selama masa darurat truk yang diizinkan masuk ke TPA Sarimukti adalah truk dengan kapasitas maksimal 12 meter kubik.

    “Masing-masing kabupaten dan kota diharapkan dapat membuat simulasi atau rencana pengiriman sampah harian dengan memperhatikan jumlah sampah maksimal yang dapat dibuang ke zona darurat,” urainya.

    Selama pengoperasian zona darurat TPA Sarimukti, kata Prima lagi, jam operasional dibatasi mulai pukul 08.00-16.00 WIB setiap harinya.

    “Mengingat terbatasnya volume zona darurat, Dinas Lingkungan Hidup akan melaksanakan pemantauan secara berkala dan dilaporkan kepada masing-masing kabupaten dan kota untuk dipedomani,” ujarnya.

    Reporter: Nurakhmayani.

  • Kebakaran di TPA Purbahayu Pangandaran, Sudah Empat Hari Belum Padam

    Kebakaran di TPA Purbahayu Pangandaran, Sudah Empat Hari Belum Padam

    7cloud.asia – Kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) kembali terjadi. Kali ini kebakaran terjadi di TPA Purbahayu, Pangandaran, Jawa Barat.

    Kebakaran di TPA Purbahayu sudah memasuki hari keempat, namun hingga kini api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran di Provinsi Jawa Barat telah berupaya mencegah kebakaran di TPA Purbahayu tersebut meluas ke lahan warga.

    Baca: Rencana Pemprov Jabar pasca kebakaran di TPA Sarimukti

    Melansir Antaranews, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pangandaran, Untung Saeful Rokhman menjelaskan pihaknya melakukan penyekatan agar mata rantai api dapat terputus.

    “Kami berupaya untuk menyekat agar tidak melebar ke area lahan perkebunan warga,” ujar Untung.

    Lebih Ianjut Untung menjelaskan tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), dan Dinas Pemadam Kebakaran terus berupaya memadamkan api sejak Jumat (6/10/2023) lalu.

    Baca: Setelah TPA Piyungan terbakar, muncul gerakan Mbah Dirjo

    Pihaknya bersama DLHK dan Damkar melakukan penyekatan dengan menurunkan alat berat untuk memutus mata rantai api.

    Sampai saat ini petugas masih memantau titik api dan kepulan asap di fasilitas penanganan sampah tersebut.

    Selain itu mereka terus menyemprotkan air ke titik-titik api yang berada di dekat lahan milik warga.

    “Penyemprotan tetap dilakukan untuk antisipasi manakala ada yang di pinggir-pinggir lahan warga,” ucapnya.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan cara ditimbun di TPA sudah saatnya diakhiri

    Hingga kini, penyebab kebakaran di TPA Purbahayu ini belum diketahui pasti. Namun Untung memperkirakan pemicu kebakaran adalah sampah-sampah yang dapat menimbulkan percikan api.

    “Semacam power bank juga bisa menimbulkan percikan api. Terus sisa-sisa korek gas yang tidak terpakai. Jadi, sampah juga bisa mengakibatkan kebakaran, di saat panas meledak,” jelasnya.

    Sementara itu, Ketua Taruna Siaga Bencana Kabupaten Pangandaran, Nana Suryana menyampaikan bahwa anggotanya juga membantu penanganan kebakaran di TPA Purbahayu.

    “Kebakaran masih, dan terus dipantau,” ujar Nana.

    Baca: Pengelolaan sampah ala RDF yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta

    Seperti yang diwartakan sebelumnya, kebakaran di TPA Purbahayu mulai terjadi pada hari Jumat  (6/10/2023) sekitar pukul 22.30 WIB. Titik api berasal dari tengah, kemudian merambat dan terus meluas.

    Pemadaman api terus dilakukan sampai hari Minggu (8/10/2023), namun titik api terus bermunculan.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Kebakaran di Tempat Pembuangan Sampah Akhir atau TPA Suwung, Diduga Api Dipicu Gas Metana

    Kebakaran di Tempat Pembuangan Sampah Akhir atau TPA Suwung, Diduga Api Dipicu Gas Metana

    7cloud.asia – Kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) kembali terjadi. Kali ini TPA Regional Sarbagita (TPA Suwung), Denpasar, Bali.

    Kebakaran yang mulai terjadi Kamis (12/10/2023) siang terus meluas hingga hampir setengah lahan TPA Suwung Bali tersebut hangus.

    Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Denpasar, Ardy Ganggas seperti dilansir Antaranews mengatakan, berdasarkan pemantauan udara pada Kamis sore, sekitar seperempat luas lahan TPA terbakar.

    “Tetapi kini hampir separuh yang terbakar. Dari lahan TPA seluas 32 hektare, hampir separuhnya terbakar,” jelas Ardy.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan ditimbun sudah saatnya diakhiri

    Ardy menambahkan, pihaknya terus melakukan pemadaman dengan menggunakan alat berat untuk memotong arus api dengan mengeruk lumpur-lumpur dan mengantisipasi api menjalar hingga ke pemukiman penduduk.

    “Alat berat digunakan untuk melakukan blokir dengan lumpur berair untuk menutup pergerakan api,” ujarnya.

    Tim pemadam kebakaran BPBD Kota Denpasar juga digantikan dengan regu malam untuk melakukan pemadaman.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan teknologi Masaro mampu olah sekilo sampah jasi 1 gram emas

    Setidaknya tujuh mobil damkar (pemadam kebakaran) dari Kota Denpasar dikerahkan untuk memadamkan kebakaran di TPA Suwung, Bali ini. 

    “Selain itu juga dibantu dua damkar dari Kabupaten Badung dan satu damkar dari Kabupaten Gianyar,” urainya.

    Operasi pemadaman dilakukan dengan dipimpin Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, Made Rentin bersama Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Made Teja.

    Baca: Bakteri pemangsa gas metana untuk menahan laju pemanasan global

    Sebanyak 10 unit mobil damkar dikerahkan untuk memadamkan api. Selain itu dua unit mobil ambulans dari BPBD Provinsi Bali dan BPBD Kota Denpasar bersiaga di lokasi TPA Suwung.

    Ada pula satu unit wheel loader dan empat ekskavator untuk membuka jalan dan akses mendekati titik-titik api agar mobil pemadam kebakaran lebih mudah bergerak menyemprotkan air.

    Sementara itu, Polresta Denpasar menyatakan penyebab kebakaran di TPA Suwung diduga akibat metana yang dihasilkan dari tumpukan sampah.

    Baca: Yuk kenali sampah plastik dan nilai ekonominya

    “Penyebab kebakaran diperkirakan dari panasnya tumpukan sampah dan gas metan yang dihasilkan, sehingga berpotensi mengeluarkan api,” kata Kepala Seksi Humas Polresta Denpasar, Iptu Ketut Sukadi.

    Sukadi mengatakan peristiwa kebakaran tersebut terjadi pada Kamis (12/10/2023) sejak pukul 11.00 Wita.

    Seorang saksi bernama Gede Mahardika (51) mengatakan ketika ia bekerja di kantor TPA Suwung tiba tiba melihat kepulan asap hitam pekat bersumber dari tumpukan sampah.

    Baca: Ilmuwan AS gunakan bakteri untuk bersihkan polusi tanah

    Tak lama setelah itu, kata Gede, asap hitam pekat berubah menjadi asap putih dan tersebar di sekitar daerah Sesetan, Denpasar Selatan.

    Setelah melihat api yang cepat membesar tersebut, pihak pengelola TPA langsung menghubungi Dinas Pemadam Kebakaran Kota Denpasar dan BPBD Denpasar untuk memadamkan api tersebut.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Mengintip Krisis Pengelolaan Sampah di Bandung Raya Pasca Kebakaran di TPA Sarimukti

    Mengintip Krisis Pengelolaan Sampah di Bandung Raya Pasca Kebakaran di TPA Sarimukti

    7cloud.asia – Krisis pengelolaan sampah di Bandung, Jawa Barat pasca terbakarnya TPA Sarimukti masih berlanjut.

    Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar) memutuskan untuk menambah lagi kuota buangan sampah terpilah ke zona 1 TPA Sarimukti untuk empat wilayah kota di Bandung Raya setelah sebelumnya sempat ditambah.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat Prima Mayaningtias mengatakan bahwa empat wilayah Bandung Raya yang mendapatkan kuota tambahan pembuangan sampah itu adalah Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Bandung.

    Dilansir Antaranews. Prima mengatakan, pada posisi terakhir kuota sampah untuk empat wilayah ini sudah habis, atau melebihi dari yang disepakati.

    Baca: Rencana Pemprov Jawa Barat terkait TPA Sarimukti

    Sayangnya, dalam pemantauan 7cloud.asia, belum ada langkah terobosan untuk mengatasi krisis pengelolaan sampah di Bandung pasca terbakarnya TPA Sarimukti. 

    Selain pengaturan kuota, tidak ada upaya untuk mengajak masyarakat memilah sampah atau mengurangi sampah yang dihasilkan oleh warga Kota Bandung dan sekitarnya.  

    Prima menjelaskan, penambahan kuota ini berdasarkan rapat koordinasi penangangan darurat sampah Bandung Raya yang dihadiri oleh seluruh anggota Satuan Tugas Penanganan Darurat Sampah Bandung Raya pada Jumat (13/10/2023).

    “Selama masa darurat, ada kuota yang berlaku pada tanggal 12 September 2023 sebesar 31.000 ton, dan terdapat penambahan kuota yang berlaku pada tanggal 5 Oktober 2023 sebesar 4.901 ton,” kata Prima.

    Baca: Pengelolaana sampah dengan landfill sudah ketinggalan jaman

    Pada 13 Oktober 2023 ada daerah yang masih memiliki sisa kuota pembuangan sampah.

    Namun untuk Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, dan Kota Bandung sudah habis kuota pembuangan sampahnya, masing-masing terhitung tanggal 9, 11, dan 13 Oktober.

    Pada tanggal 7 Oktober, kata Prima, telah dilakukan penataan lahan oleh satgas seluas 1,37 hektare untuk menampung sampah baru dan disepakati penambahan kuota baru pembuangan sampah di Zona 1 TPA Sarimukti untuk empat daerah tersebut.

    Dengan penambahan itu, maka kuota untuk Kota Bandung menjadi 3.424 ritase (jumlah capaian armada dalam pengiriman material dari lokasi A menuju lokasi B) terdiri atas 3.425 ritase tambahan dan -1 ritase sisa.

    Baca: KLHK ajak warga boikot produsen yang tak peduli sampah plastiknya

    Kota Cimahi, sisa kuota 105 ritase ditambah 685 ritase total 790 ritase. Kabupaten Bandung Barat sisa 0 ritase ditambah 628 ritase total menjadi 628 ritase lagi.

    “Kabupaten Bandung sisa kuota -0,5 ritase ditambah 970 ritase total menjadi 969,5 ritase,” katanya.

    Prima menjelaskan, jumlah ritase tersebut dihitung berdasarkan volume rata-rata truk sampah sebesar 12 meter kubik dengan densitas sampah di truk sebesar 0,35 ton per meter kubik.

    Sehingga selama masa darurat truk yang diizinkan masuk ke TPK Sarimukti adalah truk dengan kapasitas maksimal 12 meter kubik.

    Baca: Draurat sampah di Yogyakarta lahirkan inovasi mbah Dirjo

    “Masing-masing kabupaten dan kota diharapkan dapat membuat simulasi atau rencana pengiriman sampah harian dengan memperhatikan jumlah sampah maksimal yang dapat dibuang ke zona 1 sampai dengan 12 November 2023,” kata Prima.

    Selama pengoperasian Zona 1 TPA Sarimukti, kata Prima, jam operasional dibatasi mulai pukul 08.00 – 16.00 WIB setiap harinya.

    “Mengingat terbatasnya volume zona darurat, DLH Jabar akan melaksanakan pemantauan secara berkala dan dilaporkan kepada masing-masing kabupaten dan kota untuk dipedomani,” katanya.

     

  • Periode Juni-Oktober 2023, Terjadi 14 Kali Kebakaran TPA

    Periode Juni-Oktober 2023, Terjadi 14 Kali Kebakaran TPA

    7cloud.asia – Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah akhir-akhir ini kerap terjadi. Selama bulan Juni hingga Oktober 2023, tercatat 14 kali kejadian kebakaran di TPA.

    Kebakaran di tempat pembuangan akhir atau TPA sampah ini terjadi, selain dipicu  gas metana juga karena sikap abai masyarakat. 

    Sudah saatnya pemerintah kota mengedukasi masyakarat terkait pengelolaan sampah yang lebih bertanggung-jawab sehingga kebakaran di TPA tidak terulang.

    “Pada periode Juni, Juli, Agustus, hingga Oktober itu ada 14 kebakaran di TPA sampah, di mana-mana mulai dari Sabang sampai Merauke,” jelas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Selasa (17/10/2023), dikutip Antaranews.

    Baca: Krisis pengelolaan sampah pasca kebakaran di TPA Sarimukti

    Dari kasus kebakaran TPA yang terjadi, lanjut Abdul, proses pemadaman TPA Sarimukti, Jawa Barat yang paling sulit.   

    Hal ini karena banyaknya timbunan sampah plastik. Timbunan sampah plastik tersebut menghalangi air pemadaman merembes ke bawah.

    Selanjutnya Abdul menjelaskan wilayah yang terbakar di TPA Sarimukti memiliki ketinggian hampir 70 meter.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan ditimbun sudah saatnya ditinggalkan

    Pemadaman dengan bantuan satgas darat dan heli bom air. Sehingga dapat mengendalikan 70 persen kebakaran yang terjadi dan masih harus terus memantau titik api yang timbul kemudian.

    “Laporan dari Kemenkes (Kementerian Kesehatan) juga ada peningkatan jumlah pasien ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) dan lain-lain,” ujarnya.

    Upaya pemadaman menjatuhkan bom air dengan helikopter dan melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) adalah upaya maksimal yang selama ini dilakukan BNPB.

    Baca: KLHK ajak masyarakat boikot produk yang tak kelola sampah plastiknya

    Namun pengawasan terhadap timbulnya api, kata dia, harus menjadi kewaspadaan masyarakat.

    Dia meminta masyarakat untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan, atau menyalakan api di kawasan rawan terbakar.

    Kemudian pada pekan ini BNPB berfokus pada pemadaman kebakaran di TPA Suwung, Denpasar Bali.

    Baca: Pengelolaan sampah plastik harus libatkan konsumen-produsen dan pemerintah

    Dua helikopter bom air dari wilayah lain digeser sementara untuk pemadaman melalui guguran air.

    “Sekali lagi, bahwa 99 persen penyebab kebakaran itu adalah ulah manusia sengaja atau tidak sengaja.”

    Ia mengajak semua pihak untuk sama-sama jaga lingkungan kita, lihat situasi dan kondisi. Cegah, minimal di lingkungan kita masing-masing itu tidak ada karhutla.

    “Atau kalaupun terjadi karhutla, karena kita kendalikan dengan segera,” papar Abdul.

    Reporter: Nurakhmayani

  • TPA Rawa Kucing Terbakar, DLH Tangerang Ajak Masyarakat Zero Waste

    TPA Rawa Kucing Terbakar, DLH Tangerang Ajak Masyarakat Zero Waste

    7cloud.asia – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing, Tangerang masih terbakar. Perlu gaya hidup zero waste dapat bermanfaat untuk mengurangi efek negatif dari penumpukan sampah.

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang, Tihar Sopian seperti yang dikutip Antaranews pada Selasa (24/10/2023).

    “Kami menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk mulai memasifkan penerapan gaya hidup zero waste atau minim sampah. Penerapan gaya hidup zero waste sangat penting dilakukan untuk mengurangi penumpukan sampah di lingkungan sekitar,” urai Tihar.

    baca juga: kebakaran tpa rawakucing tangerang masuki hari ke-5

    Pihaknya, lanjut Tihar, telah mensosialisasikan pentingnya penerapan gaya hidup zero waste. 

    Sosialisasi yang dilakukan seperti pengolahan sampah organik menjadi pupuk, pengolahan sampah plastik menjadi bio solar, tabungan melalui bank sampah, atau hal lainnya yang bernilai ekonomis.

    “Penerapan zero waste juga terbilang sederhana. Masyarakat hanya perlu terbiasa memilah sampah, mendaur ulang sampah, dan memanfaatkan sampah menjadi barang yang lebih berguna,” tambahnya.

    Sementara itu, Sekretaris DLH Kota Tangerang, Dadang Basuki mengatakan pihaknya kini membuat tempat pembuangan sampah darurat sementara.

    Tempat seluas dua hektare ini berada di sisi utara dekat pintu 1 TPA Rawa Kucing. Tujuannya agar sampah yang diangkut petugas dapat tetap dibuang meski TPA Rawa Kucing terbakar.

    “Meski berada di kawasan TPA Rawa Kucing tetapi tidak mengganggu proses pemadaman petugas karena lokasinya aman dari titik api,” ujar Dadang.

    Meski TPA terbakar, tapi Dadang memastikan pengangkutan sampah oleh petugas tetap berjalan seperti biasanya. Sehingga tak ada penumpukan di jalan maupun lokasi lainnya.

    “DLH memastikan pengangkutan sampah berjalan seperti biasa dan normal. Kita hanya mengatur lokasi pembuangan agar tak mengganggu proses pemadaman,” jelasnya.

    baca juga: periode juni-oktober 2023 terjadi 14 kali kebakaran tpa

    Untuk menghindari penumpukkan sampah di lokasi sementara, Dadang juga mengajak masyarakat bisa memilah sampah secara mandiri.

    Sebab, lanjut Dadang, jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat mencapai 1.500 ton per hari.

    “Ada program bank sampah dan TPST yang bisa dimanfaatkan warga untuk mengelola sampah sehingga mengurangi pembuangan ke lokasi darurat,” ungkapnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Kurangi Limbah, Kecamatan di Mataram Ubah Sampah Plastik Menjadi Pot

    Kurangi Limbah, Kecamatan di Mataram Ubah Sampah Plastik Menjadi Pot

    7cloud.asia – Banyak cara untuk memanfaat limbah plastik menjadi bernilai ekonomis. Seperti mengolah sampah plastik menjadi pot bunga yang dikombinasikan dengan bekas tatakan telur.

    Uji coba ini dilakukan oleh pemerintah Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai tindak lanjut dari program jaring sampah.

    “Sampah plastik yang terjaring di beberapa aliran sungai dan saluran, kami kumpulkan, kemudian kami olah untuk membuat pot bunga dengan menggunakan tatakan bekas telur,” jelas Camat Sekarbela, Cahya Samudera.

    Baca: limbah pabrik coklat mencemari aliran irigasi pertanian petani mengeluh

    Melansir Antaranews, Cahya mengatakan dari uji coba sekitar setengah kontainer kendaraan roda tiga sampah plastik menghasilkan 20 pot bunga.

    “Untuk volume sampah plastik setengah kontainer itu belum bisa kami pastikan berapa kilogram, sebab kami gunakan ukuran setengah kontainer kendaraan roda tiga,” ungkapnya.

    Selanjutnya Cahya menjelaskan untuk menjadi sebuah pot, sampah plastik dicampur semen, kemudian diaduk dan dicetak dengan tatakan telur dan dikeringkan.

    “Alhamdulillah, hasilnya cukup bagus dan yang pastinya dapat mengurangi sampah plastik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir,” katanya.

    Baca: Teba, cara unik warga Bali kelola sampah rumah tangga

    Rencananya pot-pot plastik ini akan ditempatkan pada titik-titik pembuangan sampah ilegal.

    Hal ini untuk mencegah masyarakat agar tidak membuang sampah lagi ke sungai atau saluran air lainnya.

    “Kalau pinggir sungai atau saluran sudah rapi tertata, ditanami bunga-bunga, Insya Allah masyarakat sungkan membuang sampah,” ucapnya.

    Selain itu, hasil uji coba ini juga akan dibagi ke masyarakat untuk memotivasi mereka agar mau memanfaatkan sampah plastik menjadi barang bernilai ekonomis, salah satunya pot bunga.

    Baca: masalah lingkungan terbesar 2023 limbah makanan

    Dia berharap nantinya program ini dapat dilakukan masyarakat, terutama di Kecamatan Sekarbela.

    Dengan demikian, pihak kecamatan nantinya dapat membeli hasil karya masyarakat yang membuat pot dari limbah plastik ini.

    “Dari pada kami beli pot bunga dari luar, lebih baik kami manfaatkan potensi lokal hasil pengolahan sampah dari warga kami. Karenanya, warga juga akan diberikan pelatihan pengolahan sampah plastik,” jelasnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Pasca Kebakaran TPA Sarimukti, DLH Jabar Akan Tolak Sampah Campuran Organik dan Anorganik

    Pasca Kebakaran TPA Sarimukti, DLH Jabar Akan Tolak Sampah Campuran Organik dan Anorganik

    7cloud.asia – Pasca kebakaran di Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat beberapa waktu lalu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat menolak sampah dari kawasan Bandung Raya tercampur antara organik dan anorganik.

    Kepala DLH Jabar, Prima Mayaningtyas mengatakan kebijakan ini mulai berlaku awal tahun 2024 mendatang.

    “Kabupaten/kota sudah tidak boleh buang sampah organik. Mulai 1 Januari 2024, kalau masih masuk (Sarimukti) kita suruh balik truknya,” tegas Prima seperti yang dilansir Antaranews, Senin (13/11/2023).

    Lebih jauh Prima menjelaskan pihaknya saat ini memberlakukan masa transisi sebagai persiapan kebijakan penolakan jenis sampah organik masuk ke Sarimukti.

    baca: mengintip krisis pengelolaan sampah di bandung raya pasca kebakaran di tpa sarimukti

    Karena itu, dia berharap kerja sama dari seluruh pihak, baik pemerintah daerah di kawasan Bandung Raya, serta masyarakat agar dapat bersama-sama mengurangi dan memilah sampah.

    Menurut Prima, hal ini harus dilakukan karena dari hari ke hari kapasitas TPA Sarimukti semakin terbatas hingga harus dilakukan pembuangan dengan sistem kuota bagi seluruh daerah di Bandung Raya.

    Dengan begitu, TPAS Sarimukti dapat terus digunakan hingga TPPAS Regional Legok Nangka bisa beroperasi maksimal.

    “Maka kita harap supaya bisa mempertahankan masa darurat ini (untuk mengurangi volume sampah dan membiasakan memilah sampah),” katanya.

    Saat ini DLH Jabar kembali menambah jatah kuota pengiriman sampah (ritasi) untuk kabupaten/kota di Bandung Raya yang sudah ditandatangani tanggal 7 November 2023. Sebab kuota sampah di wilayah tersebut hampir habis.

    baca: pasca kebakaran ini rencana pemprov bandung di tpa sarimukti

    Pada kesempatan itu, Prima mengungkapkan selama pembukaan zona 1 berlangsung, terdapat kuota ritasi yang masih berlaku sejak tanggal 13 Oktober 2023 sampai 12 November 2023.

    Tetapi kuota untuk beberapa kota/kabupaten tersebut tidak akan mencukupi sampai waktu yang ditargetkan.

    Misalnya Kota Bandung dari 4.055 kuota (ritasi) yang diberikan, hanya menyisakan sebanyak 59 ritasi, kemudian Kabupaten Bandung dari 796 total kuota ritasi yang diberikan hanya menyisakan sebanyak 54 ritasi.

    Sedangkan Kabupaten Bandung Barat (KBB) dari 472 total kuota ritasi hanya menyisakan sebanyak 15 ritasi. “Itu harusnya selesai di 12 November, tapi ini sudah habis di 6 November coba bagaimana,” ucapnya.

    Sementara untuk Kota Cimahi, Prima mengatakan kuota ritasi masih menyisakan sebanyak 322 ritasi dari total 836 kuota yang diberikan pada periode 13 Oktober sampai 12 November 2023.

    baca: api padam status darurat kebakaran tpa sarimukti dihentikan

    “Cimahi keren banget sampai sekarang dia masih sisa 322 truk yang jatah dia, sisa belum diabisin, coba lihat Kota Bandung tuh habis tinggal 59 ritasi semua habis, akhirnya saya keluarkan lah yang tadi (penambahan kuota),” jelasnya.

    Dengan demikian, Prima berharap penambahan jatah kuota bagi kota/kabupaten Bandung Raya yang habis kuota bisa dimanfaatkan dengan baik tentu dengan cara mengantisipasi dari hulu.

    Sementara itu, penjabat (Pj) Gubernur Provinsi Jawa Barat Bey Triadi Machmudin meminta DLH Jawa Barat untuk membuat solusi terkait sampah yang berasal dari hulu.

    “Saya bilang dipikirkan mau dikemanakan sampah di Bandung Raya itu, jangan sampai kita perintahkan tidak boleh lagi di Sarimukti (organik), tetapi seperti apa solusinya? Jangan sampai ada penumpukan, setiap hari saya terima keluhan ada di (TPS) Rajamantri, Sederhana, sebetulnya kan dibersihkan tapi muncul lagi,” papar Bey.

    Reporter: Nurakhmayani