7cloud.asia – Kebakaran di lokasi tempat pembuangan akhir (TPA) kembali terjadi. Kali ini di TPA Kopi Luhur, Cirebon, Jawa Barat.
Kebakaran di TPA Kopi Luhur Cirebon ini memaksa Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya langsung meninjau lokasi.
Adapun penyebab kebakaran di TPA Kopi Luhur yang terjadi pada Minggu (1/10/2023) ini masih diteliti.
“Di sini, spotnya kecil-kecil jadi lebih bisa ditangani oleh kawan-kawan di lokasi. Tapi pada konteks ini kami dari Kementerian ingin melihat persisnya ada api,” kata Siti seperti yang dikutip Antaranews.
Menurut Siti, kondisi di TPA Kopi Luhur berbeda dengan TPA Sarimukti, Bandung Barat. Di TPA Kopi Luhur api dapat tertangani dengan baik sehingga dampak yang ditimbulkan tidak separah seperti di TPA Sarimukti.
Baca: Kebakaran di TPA Sarimukti Bandung
“Tadi sudah bertanya, agak berbeda dari TPA Sarimukti. Sarimukti sebetulnya agak terlambat menanganinya sehingga apinya keburu gede,” katanya.
Selanjutnya Siti menjelaskan pihaknya perlu melakukan pengecekan secara langsung. Sebab, ada kemungkinan gas metan yang memicu munculnya titik api di lokasi tersebut.
Setelah melakukan peninjauan ini, lanjut Siti, pihaknya akan mengkaji untuk merumuskan langkah penanganan yang tepat untuk peristiwa kebakaran di TPA.
“Karena ada teorinya juga, itu ada gas metan, kemudian ada angin besar, ada oksigen pasti kebakar. Itu yang ingin kami lihat. Kalau itu terjadi kebakaran gede-gede, itu kita sedang pelajari,” urainya.
Agar kebakaran hebat seperti yang terjadi di TPA Sarimukti tidak terulang, pihaknya melakukan perjalanan darat untuk mengecek satu per satu lokasi kebakaran TPA baik itu di Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Jawa Timur.
Baca: Opsi mengatasi krisis di TPA Piyungan
Berdasarkan data yang ia terima, terdapat 15 TPA di Indonesia yang mengalami kebakaran.
“Saya mengikuti perkembangan, sebetulnya sudah sebulan lebih tempat-tempat pembuangan akhir sampah seperti ini terbakar dan belasan spot. Yang terecord sama saya ada 15 spot, bukan hanya satu-satunya di Sarimukti, Bandung,” jelasnya.
Sebelumnya TPA Sarimukti terbakar hebat sejak 19 Agustus lalu. Kebakaran tersebut dipicu oleh sampah anorganik menjadi satu dengan sampah organik hingga membentuk gunungan sampah seberat 25 ribu ton.
Atas peristiwa ini, Pemprov Jawa Barat menetapkan status darurat untuk TPA Sarimukti.
Selama masa darurat, berbagai upaya pemadaman dilakukan termasuk dengan cara water bombing hingga akhirnya titik api padam seluruhnya pada 24 September lalu.
Baca: Gerakan sampah Mbah Dirjo kurangi sampah hingga separuhnya
Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin mengatakan dengan keadaan kebakaran Sarimukti yang membaik tersebut, status darurat penanganan kebakaran TPA Sarimukti berakhir 25 September 2023 ini.
“Alhamdulillah sudah berhasil dipadamkan. Oleh karena itu, status darurat yang berakhir hari ini tidak diperpanjang,” kata Bey.
Meski kebakaran TPA Sarimukti sudah mengalami perbaikan, Bey menegaskan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Bandung Raya, harus tetap berkomitmen mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA.
“Kalau caranya tetap sama seperti ini, ya, ini akan berulang terus. Kita tidak mau seperti itu. Harus ada perubahan pola,” ucapnya.
Reporter: Nurakhmayani









