Tag: selat hormuz

  • Iran Resmi Tetapkan Kendali Permanen Atas Selat Hormuz

    Iran Resmi Tetapkan Kendali Permanen Atas Selat Hormuz

    7cloud.asia – Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi menyatakan bahwa pihaknya telah menetapkan kendali permanen atas pelayaran di Selat Hormuz.

    “Saat ini, Iran mengelola selat tersebut sesuai dengan aturan dan mekanismenya sendiri. Tentu saja, penetapan kendali Iran dan penerapan mekanisme pengelolaannya bersifat permanen, bukan sementara,” tegas Azizi kepada RIA Novosti.

    Dia mengatakan Amerika Serikat harus meninggalkan khayalannya bahwa langkah-langkah Iran terkait Selat Hormuz bersifat lokal atau jangka pendek.

    “Negara-negara kawasan juga harus menerima kenyataan ini dan bertindak sesuai dengan aturan Iran,” ujar Azizi.

    Terpisah, rencana Tehran memungut tarif hingga 2 juta dolar atau sekitar Rp35,7 miliar kepada kapal yang melintas di Selat Hormuz memicu penolakan luas dari berbagai negara.

    Amerika Serikat (AS) hingga China dilaporkan sepakat menentang kebijakan tersebut karena dianggap melanggar hukum internasional dan mengancam stabilitas energi global.

    Baca: Iran Resmi Bentuk Badan Khusus untuk Kelola Selat Hormuz

    Seperti diketahui, Selat Hormuz merupakan jalur energi paling vital di dunia. Sebelum perang Iran pecah, sekitar seperlima konsumsi minyak dan gas dunia melewati kawasan sempit yang berada di antara Iran dan Oman itu.

    Iran menutup Selat Hormuz, setelah serangan sepihak yang dilancarkan AS dan Israel ke wilayahnya pada akhir Februari lalu.

    Teheran berdalih pungutan tersebut merupakan biaya reparasi perang akibat serangan Amerika Serikat dan Israel, sekaligus pembayaran jasa keamanan, perlindungan lingkungan, dan layanan navigasi.

    Iran bahkan disebut tengah menyiapkan protokol bersama Oman yang mewajibkan kapal memperoleh izin sebelum melintas. Namun, langkah itu langsung memicu kritik keras.

    Lembaga kajian Institute for the Study of War (ISW) menyebut kebijakan tersebut sebagai praktik “pemerasan maritim”.

    Penolakan dunia terhadap Iran bukan tanpa alasan. Pakar maritim menilai Selat Hormuz berbeda dengan kanal buatan seperti Terusan Suez atau Terusan Panama yang memang dibangun dan dikelola negara tertentu.

    Baca: China dan AS Sepakati Agar Selat Hormuz Tetap Terbuka

    Dalam hukum internasional, Selat Hormuz masuk kategori selat alami internasional yang diatur dalam United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).

    Aturan tersebut memberikan hak lintas transit bagi kapal dan pesawat dari seluruh negara tanpa boleh dihambat negara pesisir. Artinya, kapal berhak melintas tanpa harus membayar tarif transit penuh ataupun meminta izin khusus selama tidak berhenti dan tidak mengganggu keamanan.

    Negara pesisir hanya diperbolehkan mengenakan pungutan layanan terbatas seperti jasa pandu kapal atau bantuan navigasi. Karena itu, banyak negara menilai Iran tidak memiliki dasar hukum untuk menarik biaya transit miliaran rupiah dari kapal internasional.

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menegaskan Selat Hormuz harus tetap menjadi perairan internasional yang bebas dilalui siapa pun.

    “Selat itu akan terbuka untuk semua pihak. Itu adalah perairan internasional,” kata Trump dalam rapat kabinet di Gedung Putih.

    Washington juga memperingatkan perusahaan pelayaran agar tidak membayar pungutan tersebut karena berpotensi terkena sanksi sekunder AS akibat dianggap bertransaksi dengan Iran.

    Di tengah memanasnya situasi, AS dan PBB kini mulai menyiapkan skema perlindungan pelayaran pascaperang, termasuk patroli multinasional dan operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz.

    Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA

  • Spanyol Tolak Terlibat dalam Operasi Militer di Selat Hormuz

    Spanyol Tolak Terlibat dalam Operasi Militer di Selat Hormuz

    7cloud.asia – Spanyol menolak untuk mengambil bagian dalam operasi militer apa pun di Selat Hormuz yang dapat menyebabkan eskalasi lebih lanjut di kawasan tersebut, kata Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares pada Selasa (2/6/2026).

    “Kami tidak akan mengambil bagian dalam tindakan apa pun yang dapat berarti eskalasi. Dan yang terpenting, kami pikir tidak ada solusi militer untuk krisis ini,” kata Albares dalam sebuah wawancara dengan Financial Times.

    Menlu Spanyol itu menyampaikan hal tersebut ketika ditanya dalam wawancara tentang apakah negara itu akan bergabung dengan misi NATO untuk mengamankan Selat Hormuz jika AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan damai.

    Sebelumnya pada Mei, para menteri pertahanan dari sekitar 40 negara dalam koalisi untuk membuka blokade Selat Hormuz mengadakan pembicaraan, yang dipimpin oleh Inggris dan Prancis.

    Baca: Iran Resmi Tetapkan Kendali Permanen Atas Selat Hormuz

    Pernyataan bersama yang dihasilkan mengatakan bahwa misi dari koalisi pertahanan tersebut akan melengkapi proses diplomatik untuk menyelesaikan konflik AS-Iran.

    Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan sepihak ke Iran, termasuk di Teheran, pada akhir Februari lalu yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

    Iran merespons dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

    Pada April lalu, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada surat kabar The Telegraph bahwa ia serius mempertimbangkan penarikan diri dari NATO.

    Sikap Trump ini setelah aliansi pertahanan itu menolak untuk membantu AS dalam konflik dengan Iran, dan menyebut aliansi tersebut sebagai “macan kertas”.

    Sumber: Antaranews.com-Sputnik/RIA Novosti

  • Iran dan Oman Akan Kelola Bersama Selat Hormuz

    Iran dan Oman Akan Kelola Bersama Selat Hormuz

    7cloud.asia – Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi mengatakan bahwa Iran dan Oman akan mengelola Selat Hormuz secara bersama-sama sesuai dengan hukum internasional.

    Dalam pernyataan yang disiarkan stasiun televisi Pemerintah Iran IRIB, dengan mengutip stasiun televisi Lebanon Al Mayadeen, Kamis (4/6/2026), Menlu Araghchi mengatakan Iran dan Oman—sebagai dua negara yang berbatasan dengan jalur perairan strategis tersebut—memiliki “hak alami” terkait pengelolaan Selat Hormuz

    Iran dan Oman berhak untuk melakukan koordinasi dan mengambil keputusan terkait pengelolaan Selat Hormuz.

    Dia mengatakan Iran akan bertukar pandangan dengan negara-negara Teluk mengenai perkembangan terkait Selat Hormuz. Namun, Araghchi menekankan keputusan mengenai pengelolaan selat itu pada akhirnya akan dilakukan oleh Iran dan Oman.

    Araghchi mengatakan upaya kedua belah pihak bertujuan untuk memastikan jalur aman bagi semua kapal melalui selat tersebut sesuai dengan hukum internasional.

    Baca: Iran Resmi Tetapkan Kendali Permanen Atas Selat Hormuz

    Dalam siaran tersebut, Araghchi mengatakan komunikasi dengan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei terus berlangsung dan arahan-arahan Khamenei diterima dan dilaksanakan dengan tepat pada waktunya.

    Dia juga menambahkan terdapat konsensus nasional yang luas seputar kepemimpinan Iran dan bahwa urusan negara Iran berjalan ke arah yang sangat baik.

    Sebelumnya, Teheran menyatakan masih meninjau teks final dari kemungkinan kesepakatan dengan Amerika Serikat dan hingga saat ini belum mengirimkan tanggapan apa pun, lapor kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut.

    Sumber tersebut mengatakan Iran berupaya memperoleh manfaat yang “nyata dan konkret” dari kesepakatan itu.

    Menurutnya, “sejarah ketidakpatuhan Amerika Serikat dan ketidakpercayaan yang telah berlangsung lama” membuat Teheran memandang persoalan ini dengan “sangat hati-hati.”

    Baca: Iran Resmi Bentuk Badan Khusus untuk Kelola Selat Hormuz

    Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari.

    Teheran kemudian membalas dengan melancarkan serangan yang menargetkan Israel dan sekutu-sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk, serta menutup Selat Hormuz.

    Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun, perundingan lanjutan yang berlangsung di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan yang bersifat permanen.

    Salah satu syarat yang diajukan Iran untuk mengakhiri perang secara permanen adalah penghentian pertempuran di seluruh medan konflik, termasuk di Lebanon, tempat serangan terbaru Israel masih berlanjut sejak awal Maret.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Jepang Ajukan Tiga Syarat untuk Kirim Pasukan Bela Dirinya ke Selat Hormuz

    Jepang Ajukan Tiga Syarat untuk Kirim Pasukan Bela Dirinya ke Selat Hormuz

    7cloud.asia – Jepang menetapkan tiga syarat sebelum mengerahkan anggota Pasukan Bela Diri (SDF) ke Selat Hormuz yang efektif tertutup akibat konflik di Timur Tengah, kata sumber yang mengetahui masalah itu pada Minggu (7/6/2026).

    Menurut sumber tersebut, Jepang mengharuskan Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata, tersedianya jalur komunikasi dengan pihak Iran, serta berkurangnya ancaman keamanan di selat Hormuz.

    Jika syarat-syarat itu terpenuhi, operasi yang dapat dilakukan SDF mencakup pembersihan ranjau dan pengawalan kapal dagang.

    Tiga syarat tersebut disampaikan Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi dalam pertemuan virtual para menteri pertahanan yang dipimpin bersama oleh Inggris dan Prancis pada pertengahan Mei untuk membahas misi pertahanan multinasional guna menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

    Menurut sumber tersebut, Koizumi mengatakan misi itu harus memenuhi syarat-syarat tersebut agar memperoleh dukungan luas.

    Baca: Iran dan Oman Akan Kelola Bersama Selat Hormuz

    Ia juga menekankan pentingnya komunikasi dengan AS yang tidak menjadi bagian dari misi tersebut.

    Berdasarkan konstitusinya yang menolak perang, Jepang hanya mengizinkan penggunaan kekuatan untuk pertahanan diri sehingga membatasi ruang gerak militernya di luar negeri.

    Meski demikian, SDF sebelumnya telah terlibat dalam misi penjaga perdamaian dan operasi anti pembajakan di luar negeri.

    Pemerintah Inggris dalam pernyataan bersama setelah pertemuan itu mengatakan operasi hanya akan dimulai dalam situasi yang kondusif serta sepenuhnya sesuai dengan hukum internasional dan konstitusi masing-masing negara.

    Sumber-sumber pemerintah Jepang mengatakan persiapan pengerahan SDF tengah dilakukan jika gencatan senjata tercapai dengan opsi utama operasi pembersihan ranjau.

    Baca: Iran Resmi Tetapkan Kendali Permanen Atas Selat Hormuz

    Operasi tersebut diperbolehkan berdasarkan Undang-Undang Pasukan Bela Diri Jepang sepanjang dilakukan setelah gencatan senjata berlaku.

    Pemerintah Jepang juga bisa memerintahkan personel SDF mengawal kapal sebagai bagian dari operasi keamanan maritim berdasarkan undang-undang yang sama.

    Misi pertahanan multinasional tersebut mencakup pembagian wilayah Selat Hormuz ke dalam zona-zona yang diamankan oleh negara berbeda.

    Namun, sejumlah pejabat menilai koordinasi dapat menjadi tantangan karena perlindungan Jepang hanya berlaku bagi kapal yang memiliki keterkaitan dengan negara itu, sementara kapal lain beroperasi di bawah kerangka hukum yang berbeda.

    Sumber di kantor Perdana Menteri Jepang menegaskan pentingnya memastikan Iran tidak menafsirkan pengerahan SDF sebagai tindakan yang bersifat permusuhan.

    Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan global yang penting. Jalur tersebut praktis tertutup sejak AS-Israel secara sepihak menyerang Iran pada akhir Februari lalu.

    Penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran di berbagai negara, termasuk Jepang yang miskin sumber daya alam.

  • Iran Kembali Menutup Selat Hormuz Setelah AS Kembali Luncurkan Serangan

    Iran Kembali Menutup Selat Hormuz Setelah AS Kembali Luncurkan Serangan

    7cloud.asia – Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran hingga waktu yang belum ditentukan di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.

    Dalam pernyataan yang diunggah di platform X pada Kamis (11/6/2026), Otoritas Selat Teluk Persia Iran (PGSA) menyebut penutupan itu dilakukan menyusul eskalasi yang dipicu oleh tindakan militer AS dan pengumuman terbaru dari angkatan bersenjata Iran.

    “Karena ketegangan yang dipicu pasukan agresif AS dan pengumuman terbaru Angkatan Bersenjata Republik Islam, Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya,” kata PGSA.

    Otoritas itu juga meminta pihak-pihak yang telah memperoleh izin transit untuk bersabar dan menunggu pemberitahuan lebih lanjut terkait operasional jalur pelayaran tersebut.

    Baca: Iran Resmi Tetapkan Kendali Permanen Atas Selat Hormuz

    Pengumuman itu disampaikan sehari setelah Presiden AS Donald Trump menuduh Iran mengulur-ulur perundingan. Ia juga menyatakan pihaknya berniat melancarkan serangan besar terhadap Iran.

    Pada hari yang sama, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan telah melancarkan serangan terhadap Iran, yang kemudian dibalas Iran dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer AS.

    Ketegangan terbaru itu merupakan kelanjutan dari konflik yang pecah sejak 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan menewaskan warga sipil.

    Iran dan AS sempat mengumumkan gencatan senjata pada 7 April. Namun, pembicaraan lanjutan yang digelar di Islamabad tidak menghasilkan terobosan bagi penyelesaian konflik.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-RIA Novosti

  • Menakar Peta Energi Dunia Pasca Krisis di Selat Hormuz

    Menakar Peta Energi Dunia Pasca Krisis di Selat Hormuz

    7cloud.asia – Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperkirakan peta energi global diperkirakan akan mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun ke depan seiring krisis di Selat Hormuz.

    Presiden IEA, Fatih Birol mengatakan krisis di Selat Hormuz akan menjadi titik balik bagi sektor energi dunia, yang mendorong banyak negara meninjau kembali strategi keamanan pasokan energi, jalur perdagangan, dan kemitraan internasional mereka.

    Fatih memperkirakan peta energi dunia akan mulai digambar ulang dalam dua hingga tiga tahun ke depan, apapun hasil kesepakatan yang dicapai untuk mengakhiri ketegangan di Selat Hormuz.

    ”Kemitraan akan didefinisikan ulang dan kemitraan baru akan terbentuk,” kata Birol dalam pertemuan Dewan Penasihat Tinggi Asosiasi Industri dan Bisnis Turkiye di Istanbul, Kamis (18/6/2026).

    Menurut Birol, krisis energi yang dipicu perang dengan Iran telah mengubah perhitungan pasar energi global.

    Ia menjelaskan bahwa melimpahnya pasokan energi sebelum perang serta pelepasan cadangan minyak membantu membatasi lonjakan harga. Namun, solusi jangka panjang hanya dapat dicapai melalui pemulihan jalur pelayaran yang aman di Selat Hormuz.

    “Solusi atas masalah ini, satu-satunya cara yang paling penting, adalah pembukaan Selat Hormuz tanpa syarat dengan jaminan keamanan yang dipercaya oleh semua pihak,” ujarnya.

    Birol mengingatkan bahwa hingga empat tahun lalu perekonomian dunia dan sistem energi global memiliki dua jalur vital utama, yakni jaringan pipa yang mengalirkan energi dari Siberia Barat Rusia ke Eropa serta Selat Hormuz.

    “Keduanya saat ini tertutup,” katanya.

    Kepala IEA itu menilai gangguan arus energi melalui Selat Hormuz, serta risiko terulangnya gangguan serupa di masa depan, telah menempatkan isu kepercayaan dan diversifikasi pasokan sebagai prioritas utama dalam agenda energi global.

    “Kepercayaan akan menjadi faktor yang sangat penting dalam berbagai kesepakatan di dunia energi. Saat ini negara-negara semakin memperhatikan diversifikasi pasokan dan berupaya menghindari ketergantungan pada satu sumber saja,” ujarnya.

    Ia menambahkan bahwa krisis tersebut juga mempercepat minat terhadap pembangunan jalur pipa alternatif, pemanfaatan sumber energi domestik, serta pencarian tujuan investasi baru di sektor energi.

    Birol juga menyoroti bahwa dunia saat ini bergerak cepat menuju “era listrik”, dengan pertumbuhan permintaan listrik yang mencapai tiga kali lebih cepat dibandingkan pertumbuhan permintaan energi secara keseluruhan.

    “Pertumbuhan sektor listrik kini mendominasi segalanya,” katanya.

    Menurutnya, kekhawatiran terhadap keamanan energi akan semakin mendorong investasi pada energi terbarukan, pembangkit listrik tenaga nuklir, dan teknologi penyimpanan energi berbasis baterai.

    Terkait penyelenggaraan Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP31) yang akan digelar di Turkiye tahun ini, Birol menilai ajang tersebut merupakan peluang besar bagi negara tersebut.

    Ia menyebut sejumlah prioritas utama yang perlu didorong, antara lain meningkatkan tingkat elektrifikasi global dari 25 persen menjadi 35 persen pada 2035, mengurangi limbah hingga setengahnya dalam 10 tahun melalui agenda nol limbah Turkiye, serta mempromosikan metode memasak yang lebih bersih di Afrika.

    “COP31 merupakan peluang yang sangat besar. Saya pikir COP31 adalah kesempatan untuk menunjukkan kepedulian kemanusiaan kita kepada dunia,” ujarnya.

    “Bagi Turkiye, ini adalah peluang bersejarah sekaligus tanggung jawab bersejarah. Mengangkat kembali isu iklim yang belakangan semakin turun dalam agenda global merupakan langkah yang sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang kita junjung,” kata Birol.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Inggris dan Prancis Siap Kirim Misi ke Selat Hormuz, Iran: Selat Hormuz Bukan Panggung

    Inggris dan Prancis Siap Kirim Misi ke Selat Hormuz, Iran: Selat Hormuz Bukan Panggung

    7cloud.asia – Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa Selat Hormuz bukan merupakan panggung bagi kekuatan militer negara-negara asing.

    Dalam pernyataan yang dirilis di platform X, Gharibabadi memperingatkan agar tidak ada aktivitas militer apa pun di jalur perairan Selat Hormuz.

    “Selat Hormuz bukanlah panggung bagi kekuatan-kekuatan di luar kawasan untuk memamerkan kekuatan militer. Sebagai kekuatan yang bertanggung jawab dan penjamin keamanan di selat tersebut, Iran memperingatkan agar tidak ada aktivitas militer apa pun di jalur perairan yang sensitif ini,” kata Gharibabadi dikutip Antaranews.com.

    Pernyataan itu disampaikan bersamaan dengan unggahan Gharibabadi yang mengutip pernyataan bersama Inggris dan Prancis soal Selat Hormuz.

    Dalam pernyataan itu, Inggris dan Prancis menyatakan bahwa mereka siap mengerahkan Misi Militer Multinasional yang lebih luas untuk mendukung kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

    Baca: Menakar Peta Energi Dunia Pasca Krisis di Selat Hormuz

    Menanggapi hal itu, Gharibabadi mengatakan keamanan Selat Hormuz berada di tangan negara-negara pesisir.

    “Mereka yang menciptakan krisis akan bertanggung jawab atas konsekuensi dari tindakan nekat mereka. Ini adalah peringatan serius,” tegasnya.

    Sebelumnya, nota kesepahaman antara Iran dan AS yang dimediasi Pakistan mulai berlaku pada 18 Juni setelah ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

    Kesepakatan itu menjadi kerangka kerja untuk mengakhiri konflik dan menyelesaikan berbagai persoalan yang masih menjadi sengketa antara Iran dan AS melalui perundingan.

    Kesepahaman itu meliputi penghentian permusuhan, pelonggaran sanksi, isu nuklir, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta pengaturan keamanan kawasan yang lebih luas.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Iran Akan Tutup Selat Hormuz Jika AS Kembali Lancarkan Serangan

    Iran Akan Tutup Selat Hormuz Jika AS Kembali Lancarkan Serangan

    7cloud.asia – Iran mengancam akan menutup sepenuhnya Selat Hormuz jika terjadi serangan baru terhadap wilayahnya, di tengah kembali meningkatnya eskalasi dengan AS.

    “Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya untuk semua lalu lintas maritim jika terjadi serangan apa pun terhadap Iran,” kata seorang sumber keamanan yang mengetahui informasi tersebut kepada Press TV, Rabu (8/7/2026).

    Sumber tersebut menambahkan bahwa Iran juga akan menyerang “target musuh dengan rasio setidaknya dua banding satu”—artinya untuk setiap target Iran yang terdampak serangan, setidaknya dua target musuh akan diserang sebagai balasan.

    Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan bahwa AS “mungkin” akan kembali menyerang Iran pada Rabu malam, menyusul serangan AS pada Selasa (7/7/2026) sebagai balasan atas serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.

    Baca: Iran Tutup Ruang Udaranya untuk Prosesi Pemakaman Ali Khamenei

    Trump juga mengatakan bahwa nota kesepahaman yang ditandatangani bulan lalu dengan Iran untuk mengakhiri konflik telah “berakhir.”

    “Ancaman apa pun akan direspons dengan tegas. Iran tidak membedakan antara antara Amerika Serikat dan mitranya di kawasan ini,” kata sumber tersebut.

    Sumber keamanan itu juga menegaskan bahwa Teheran tidak akan berhenti mengelola Selat Hormuz, dan “siap untuk berjuang mempertahankan kendali atas jalur perairan strategis tersebut.”

    Sumber itu menegaskan bahwa nota kesepahaman yang ditandatangani mengenai masalah ini dengan jelas menyatakan bahwa Iran akan membuka kembali selat tersebut sesuai dengan pengaturannya sendiri.

    Baca: Iran Tegaskan Selat Hormuz Bukan Panggung untuk Militer Asing

    ”Oleh karena itu, Iran tidak akan mengizinkan pembentukan rute baru di luar kerangka pengaturannya sendiri,” kata sumber tersebut.

    Pada Rabu pagi, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengatakan bahwa mereka telah meluncurkan serangan rudal dan drone yang menargetkan 85 lokasi militer AS di Timur Tengah.

    Target itu termasuk Pelabuhan Salman dan markas besar Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain, dan Pangkalan Udara Ali Al-Salem di Kuwait.

    Serangan tersebut terjadi setelah Komando Pusat militer AS mengatakan telah melakukan serangan terbaru terhadap Iran, yang menghantam lebih dari 80 target sebagai tanggapan atas serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Dua Tanker Minyak Meledak Saat Melintasi Selat Hormuz, Iran Tuding AS Berada di Balik Insiden Ini

    Dua Tanker Minyak Meledak Saat Melintasi Selat Hormuz, Iran Tuding AS Berada di Balik Insiden Ini

    7cloud.asia – Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Senin (20/7/2026) menyatakan, dua tanker minyak yang berusaha melintasi “jalur tak aman” di sebelah selatan Selat Hormuz, meledak dan tidak dapat melanjutkan pelayarannya.

    IRGC menyatakan dua kapal tanker minyak itu berusaha melintasi Selat Hormuz di bawah “tekanan dan paksaan” dari militer Amerika Serikat.

    Dalam pernyataan tersebut, Iran pun kembali memperingatkan bahwa selama “agresi AS terus berlanjut di kawasan tersebut, maka Selat Hormuz tidak akan aman untuk pengiriman pupuk, minyak, atau gas.

    Baca: Iran Tetap Perjuangkan Peluang Damai dengan AS, Meski Peluangnya Sangat Kecil

    Oleh karena itu, lanjut IRGC, militer AS harus bersiap menghadapi pembalasan atas tindakan ilegal dan melanggar hukum itu.

    Sebelumnya, Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menyatakan pihak militer telah melaporkan adanya kapal yang terbakar sekitar delapan mil laut di barat laut Kumzar, Oman, dan penyebab kebakaran tersebut belum diverifikasi.

    Ketegangan regional semakin memanas sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada Februari lalu.

    Baca: Iran Akan Tutup Selat Hormuz Jika AS Kembali Lancarkan Serangan

    Iran pun membalas dengan serangan drone dan rudal dengan menargetkan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah aset-aset milik AS. Iran juga menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur utama minyak dunia.

    AS dan Iran sempat menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan untuk mengakhiri konflik dan mencapai perdamaian jangka panjang.

    Namun, ketegangan kembali meningkat pekan lalu akibat sengketa di Selat Hormuz hingga memicu aksi saling serang antara kedua negara.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu