Tag: perubahan iklim

  • Suhu Panas “Membakar” Pendapatan UMKM, Negara Diminta Hadir

    Suhu Panas “Membakar” Pendapatan UMKM, Negara Diminta Hadir

     

    7cloud.asia – Perubahan iklim yang membuat suhu semakin panas tidak hanya membuat cuaca semakin gerah, tapi juga berdampak langsung pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) seperti warung makan pinggir jalan hingga usaha produksi rumahan.

    Riset kami yang menggabungkan data puluhan tahun dari Indonesia Family Life Survey (IFLS) dan catatan suhu historis, menemukan pola bahwa setiap kenaikan suhu rata-rata tahunan 1ºC, terjadi penurunan pendapatan usaha sebesar 14 persen dan penurunan pendapatan per pekerja sebesar 21 persen.

    Sebagai ilustrasi, tahun 2024 menjadi salah satu tahun terpanas di Indonesia. Di DKI Jakarta, suhu tahunan naik sekitar 1ºC dari kondisi normalnya.

    Nah, pada UMKM dengan omzet normal tahunan sebesar Rp60 juta, cuaca yang lebih panas dari biasanya ini diperkirakan menurunkan pendapatannya hingga menjadi kurang dari Rp52 juta. Mengapa bisa begitu?

    Berbeda dengan perusahaan besar, usaha mikro yang umumnya informal dan berbasis rumah tangga, jauh lebih rentan karena tidak memiliki sumber daya keuangan dan infrastruktur (seperti pendingin ruangan/AC) untuk menghadapi panas ekstrem.

    Akibatnya, kenaikan suhu secara langsung menekan produktivitas sekaligus pendapatan mereka.

    Ketika panas yang jadi sumber masalah

    Penurunan produktivitas usaha akibat suhu panas tidak terjadi begitu saja, tetapi karena sejumlah faktor yang saling terkait:

      1. Physiological strain atau tekanan fisik: Paparan suhu tinggi menyebabkan kelelahan fisik, sehingga pekerja jadi melambat serta lebih sering beristirahat. Hal ini menghambat produktivitas dan meningkatkan risiko kesehatan.

      1. Cognitive decline atau gangguan kognitif: Cuaca panas mengganggu kemampuan otak dalam pengambilan keputusan, memperlambat reaksi, dan mengurangi akurasi. Hal ini berbahaya dan mengganggu kinerja, terutama bagi pekerja yang bekerja di sektor padat karya berisiko tinggi seperti buruh pabrik.

      1. Sector vulnerability atau kerentanan sektor: Setiap sektor mengalami dampak yang berbeda. Usaha yang mengandalkan tenaga fisik intensif, seperti konstruksi dan manufaktur terdampak paling berat.

    Usaha yang berada di wilayah yang secara historis sudah panas, khususnya, mengalami kerugian produktivitas yang jauh lebih besar.

    Riset kami menemukan bahwa produktivitas usaha rumah tangga di Indonesia mencapai titik optimal pada suhu tahunan 25-26ºC.

    Namun, saat suhu melewati ambang tersebut, kinerja mulai merosot. Mulai dari jam kerja efektif berkurang hingga tingkat kesalahan dalam bekerja meningkat.

    Namun pemilik usaha tetap harus beroperasi dengan ongkos yang sama meski dengan produktivitas jauh lebih rendah.

    Bahkan sektor informal sering menjadi “penampung” bagi orang-orang yang kehilangan pekerjaan di sektor lain akibat cuaca ekstrem. Karena jumlah pekerja bertambah tetapi hasil penjualannya menurun, maka angka pendapatan per orang jatuh lebih dalam.

    Adapun rata-rata suhu di banyak wilayah Indonesia sudah berada di angka 26,6°C. Dan tahun ini ada ancaman El Niño yang membuat suhu akan semakin panas.

    Suhu maksimum harian area Jabodetabek saja misalnya, belakangan bisa mencapai 36ºC. Kondisi ini tentu bisa semakin mengancam sektor informal.

    Butuh perhatian dan kebijakan khusus

    Kerentanan sektor informal mesti jadi isu penting dalam agenda kesetaraan ekonomi Indonesia. UMKM bukan hanya unit ekonomi kecil, tetapi fondasi utama penghidupan jutaan keluarga.

    Sektor ini merupakan tulang punggung perekonomian. Mereka menyediakan mata pencaharian bagi hampir 97% tenaga kerja dan menyumbang 60,5% dari produk domestik bruto (PDB).

    Ironisnya, kelompok ini justru memiliki kapasitas adaptasi paling minim terhadap tekanan perubahan iklim.

    Selama ini, strategi adaptasi iklim pemerintah cenderung berfokus pada industri berskala besar dan sektor pertanian.

    Padahal, temuan kami menunjukkan bahwa risiko penurunan produktivitas akibat suhu panas juga terjadi pada sektor non-pertanian, terutama sektor informal dan berbasis rumah tangga.

    Isu panas ekstrem harusnya diintegrasikan ke dalam desain kebijakan UMKM dan ketenagakerjaan. Selama ini, regulasi usaha kecil dan perlindungan tenaga kerja belum secara eksplisit mempertimbangkan risiko suhu. Karena itu, diperlukan pergeseran pendekatan kebijakan yang lebih inklusif.

    Dengan demikian, pemerintah bisa melakukan sejumlah langkah intervensi. Ini mencakup insentif finansial dan penyediaan akses teknologi pendingin yang terjangkau, mendesain ulang jam kerja yang lebih adaptif terhadap suhu (fleksibilitas jam operasional), serta integrasi perlindungan sosial yang responsif terhadap guncangan cuaca.

    Penurunan produktivitas UMKM secara luas berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi, memperlebar ketimpangan, dan memperlambat mobilitas sosial. Sebab, kebanyakan dari mereka berada dalam klasifikasi kelas menengah ke bawah yang rentan jatuh dalam jurang kemiskinan.

    Tanpa intervensi dari pemerintah, perubahan iklim yang berdampak pada UMKM bisa menjadi faktor struktural baru yang menghambat transformasi ekonomi Indonesia.

    Pada akhirnya melindungi UMKM dari dampak panas ekstrem bukan sekadar isu lingkungan, melainkan investasi strategis dalam menjaga daya tahan ekonomi nasional.

     


    Wisnu Setiadi Nugroho, Assistant Professor di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada ; Elan Satriawan, Associate Professor Ilmu Ekonomi, Universitas Gadjah Mada , dan Esa Azali Asyahid, Dosen Ilmu Ekonomi, Universitas Gadjah Mada

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Perubahan Iklim dan Pengaruh ‘Runfluencer’ Mengancam Hobi Lari

    Perubahan Iklim dan Pengaruh ‘Runfluencer’ Mengancam Hobi Lari

     

    7cloud.asia – Kamu tidak salah jika merasa belakangan makin banyak orang menggandrungi olahraga lari (secara fisik maupun digital). Selama 20232025, lari jadi aktivitas yang paling banyak diunggah di aplikasi olahraga Strava.

    Lari merupakan salah satu bentuk aktivitas fisik yang paling mudah dilakukan, secara mandiri maupun bersama teman. Selain cuma butuh perlengkapan minimal, lari tidak bergantung pada fasilitas pelatihan khusus. Kita hanya perlu mengikat tali sepatu dan mulai berlari.

    Namun, praktik lari yang tampak sederhana ini ternyata berkaitan erat dengan dinamika lingkungan yang kompleks. Peningkatan suhu global dan polusi udara membuat aktivitas lari memberatkan fisik sekaligus membahayakan.

    Belum lagi, sebagian perangkat digital yang diandalkan banyak pelari juga membawa dampak lingkungan tersendiri.

    Laporan Tren Strava tahun 2023 mengungkap sebanyak 75 persen pelari menyatakan panas ekstrem memengaruhi rencana mereka berolahraga.

    Sementara itu, kualitas udara yang buruk berdampak pada 27 persen atlet lainnya. Saat ini kita menghadapi kenyataan bahwa peningkatan suhu bumi membuat aktivitas lari kian sulit diakses dan kurang aman untuk dilakukan.

    Tantangan lainnya adalah pengaruh para runfluencer (influencer di bidang lari), tren fesyen lari, hingga kemunculan berbagai produk yang diklaim dapat membantu pelari menghadapi cuaca panas. Semua ini menunjukkan ironi yang rumit antara budaya lari, perubahan iklim, dan budaya konsumsi kita.


     

    Hobi dapat menghadirkan kegembiraan, kesejahteraan, sekaligus ketenangan di tengah hiruk-pikuk keseharian kita. Namun sayangnya masih banyak dari kita yang belum memilikinya. Jika kamu sudah siap mengganti kebiasaan menatap layar dengan menyulam, atau meninggalkan budaya kerja berlebih demi berkebun, The Hobby Starter Kit (sebuah seri terbaru dari Quarter Life) hadir untuk membantumu memulainya.


    Bahaya cuaca panas

    Berlari di tengah cuaca panas dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat panas berlebih, termasuk heat stroke dan gagal ginjal akut. Hal ini terjadi karena kegagalan sistem pendinginan tubuh dan dehidrasi akibat stres panas selama berolahraga.

    Bagi mereka yang berambisi memecahkan rekor pribadi, suhu panas justru menurunkan performa lari. Analisis data balapan Strava menunjukkan rata-rata waktu finis di New York City Marathon tahun 2022 melambat 12 menit. Pada tahun 2022, suhu mencapai 23°C dengan kelembapan tinggi, dibandingkan tahun 2021 ketika suhu berada di kisaran 13°C.

    Ini baru sebagian kecil dari risiko berlari di musim panas. Selain paparan panas ekstrem, keamanan berlari di musim panas juga terancam oleh kabut asap dan buruknya kualitas udara

    Pengaruh runfluencer

    Tidak hanya krisis iklim yang memengaruhi rutinitas lari harian kita. Pergeseran tren budaya lari juga mengubah bagaimana cara kita berlari.

    Saat para pelari mencoba beradaptasi dengan suhu yang kian panas, buruknya kualitas udara, serta musim panas yang dipenuhi kabut asap, tekanan untuk membeli produk baru, melacak data, dan melakukan optimasi justru semakin meningkat.

    Tak sedikit dari kita mungkin telah menyadari munculnya iklan tertarget dan konten bersponsor dari para runfluencer. Mereka kerap mempromosikan produk serta aplikasi lari terbaru, salah satunya adalah Runna. Aplikasi olahraga asal Inggris ini dikenal lewat program latihan personal dan fitur pengatur kecepatan berbasis kecerdasan buatan (AI).

    Sejak tahun 2022, keberadaan Runna di dunia digital melonjak secara signifikan hingga akhirnya diakuisisi Strava April tahun lalu.

    Aplikasi seperti ini memang dapat membantu memberikan struktur latihan dan persiapan kompetisi. Namun, teknologi tersebut juga menuai kritik dari para ahli yang menaruh perhatian pada intensitas program latihan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang tak jarang menyebabkan cedera karena memforsir beban latihan.

    Pihak Runna berkilah mereka tidak menggunakan AI untuk membuat rencana latihan, melainkan untuk memantau kemajuan pelari sepanjang program tersebut berlangsung.

    Meski efisien dan personal, aplikasi seperti ini merupakan bagian dari infrastruktur digital yang memiliki dampak lingkungan tersendiri.

    Penggunaan pelacak GPS, pengunggahan data secara terus-menerus, penyimpanan berbasis cloud, hingga analisis berbasis AI, semuanya bergantung pada pusat data yang sangat boros energi.

    Di luar penggunaan aplikasi, para runfluencer juga memanfaatkan platform digital untuk membagikan standar estetika lari, mulai dari sepatu, tren mode lari terkini, hingga pakaian.

    Hal tersebut pada akhirnya mendorong budaya yang menormalkan konsumsi berlebihan. Fenomena ini juga meningkatkan dampak lingkungan secara drastis—yang membuat lari jadi terasa kurang menarik dan semakin tak terjangkau. 

    Menjaga keselamatan saat berlari

    Jika bisa memilih, pilihlah jadwal latihan dan event lari saat udara tidak terlalu panas bersuhu 2-13°C. Langkah ini bijaksana ketimbang memaksakan diri yang penuh risiko.

    Sebagai contoh, bulan Mei ini Indonesia diperkirakan akan memasuki musim kemarau dan beberapa wilayah akan menghadapi cuaca panas ekstrem. Kamu bisa memantau perkembangan perkiraan cuaca untuk rencana berlatih dan race yang lebih aman bagi tubuh.

    Selain itu, dengarkan sinyal dari tubuh sendiri, cari saran dari pelatih manusia, serta pilih perlengkapan yang tahan lama daripada sekadar mengikuti tren mode terbaru.

    Hindari pula konsumsi berlebihan terhadap produk maupun program yang sebenarnya tidak diperlukan. Karena sejatinya kita tidak memerlukan banyak perlengkapan maupun aplikasi untuk berlari.

    Wawasan ini penting sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya lari toksik yang menganggap bahwa hidup sehat berarti harus mencetak target baru, terus-menerus beli perlengkapan baru, dan pamer pencapaian di aplikasi olahraga. Ini sangat krusial di tengah kondisi perubahan iklim yang membuat olahraga ini semakin rentan.

    Adinda Ghinashalsabilla Salman menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris

    Madeleine Orr, Assistant Professor, Sport Ecology, University of Toronto dan Caitlin Felteau-McInnis, PhD Student, Faculty of Kinesiology, University of Toronto

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Langkah Kecil Turunkan Emisi Berkontribusi Besar dalam Upaya Menahan Laju Perubahan Iklim

    Langkah Kecil Turunkan Emisi Berkontribusi Besar dalam Upaya Menahan Laju Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Lebih dari satu dekade setelah Perjanjian Paris ditandatangani, masyarakat dunia terus mengeluarkan emisi gas rumah kaca dengan kecepatan yang luar biasa

    Emisi gas rumah kaca –-yang sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil– memanaskan planet Bumi secara berlebihan dan mengakibatkan perubahan iklim dengan cara yang seringkali membawa bencana.

    Namun para ahli mengatakan umat manusia masih memiliki waktu untuk mengendalikan emisi gas rumah kaca dan menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim. Dan, kita, saya dan Anda dapat berkontribusi dalam upaya ini.

    “Pemerintah dan bisnis, karena ukuran dan pengaruhnya, harus menanggung sebagian besar beban untuk mengurangi emisi gas rumah kaca,” kata Hongpeng Lei, Kepala Mitigasi Perubahan Iklim di Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP).

    “Tetapi Anda dan saya juga memiliki peran penting untuk dimainkan. Setiap sepersekian derajat pemanasan yang dapat kita hindari akan membuat planet ini menjadi tempat yang lebih sehat dan lebih layak huni.”

    Para ahli mengatakan sangat penting bagi orang-orang terkaya di dunia untuk serius tentang emisi karbon mereka. Hanya 10 persen dari populasi planet ini bertanggung jawab atas hampir setengah dari emisi.

    Baca: Mematikan Mesin Saat Lampu Merah Efektif Turunkan Emisi Karbon

    Jadi, jika ingin menjalani hidup yang lebih ramah lingkungan, berikut beberapa hal yang dapat Anda lakukan.

    1. Utamakan jalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi publik
    Transportasi adalah salah satu sumber emisi gas rumah kaca terbesar, sebagian besar berasal dari mengemudi.

    Oleh karena itu, untuk perjalanan singkat, para ahli merekomendasikan berjalan kaki atau bersepeda. Selain mengurangi emisi, pilihan tersebut akan mengurangi polusi, mengurangi kemacetan, dan meningkatkan kesehatan Anda.

    Untuk perjalanan yang lebih jauh, cobalah transportasi publik atau berbagi kendaraan.Tidak menggunakan mobil dapat menghemat hingga 2 ton emisi karbon dioksida per tahun.

    2. Hemat dengan penggunaan energi Anda
    Menggunakan lebih sedikit listrik — yang sebagian besar masih berasal dari pembakaran bahan bakar fosil — adalah salah satu cara tercepat dan termurah untuk mengurangi emisi. Sebagai manfaat tambahan, ini juga akan menurunkan tagihan listrik Anda.

    “Hal-hal sederhana, seperti beralih ke LED dan peralatan hemat energi, mencuci pakaian dengan air dingin, dan mengeringkan pakaian dengan udara, dapat membuat perbedaan yang signifikan,” kata Lei.

    Baca: Investasi di Sektor Transportasi Publik Berdampak Signifikan pada Lingkungan

    “Kebiasaan kecil akan memberikan dampak besar.”

    Perangkat elektronik kita juga bisa boros energi, jadi para ahli menyarankan untuk membatasi penggunaan data yang tidak perlu dan memilih teknologi yang efisien, jika memungkinkan.

    Karena produksi barang-barang seperti telepon dan komputer juga merupakan proses yang intensif energi, pertimbangkan untuk menyimpan perangkat Anda lebih lama dan memperbaikinya ketika rusak, daripada membuangnya.

    3. Jadikan rumah lebih efisien
    Sistem pemanas dan pendingin, seperti tungku dan AC, adalah konsumen energi yang rakus. Jadi, pertimbangkan untuk sedikit menyesuaikan termostat Anda – baik naik atau turun – untuk meminimalkan penggunaan energi.

    Jika suhu panas menjadi masalah, investasikan pada apa yang dikenal sebagai pendinginan pasif. Hal-hal seperti atap reflektif, ventilasi silang, dan naungan alami dapat menurunkan suhu dalam ruangan hingga 8°C.

    Untuk dampak yang lebih besar pada emisi, tingkatkan isolasi rumah Anda atau beralih ke pompa panas, jenis sistem pemanas dan pendingin rumah yang sangat efisien.

    Peningkatan ini dapat mengurangi emisi karbon Anda sekitar 900 kilogram per tahun dan menurunkan tagihan energi Anda pada saat yang bersamaan.

  • Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca dari Isi Piring Kamu

    Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca dari Isi Piring Kamu

    7cloud.asia – Dampak perubahan iklim, kini kian terasa nyata, dan emisi gas rumah kaca menjadi penyebab itu semua.

    Kepala Mitigasi Perubahan Iklim di Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), Hongpeng Lei mengatakan, karena ukuran dan pengaruhnya, pemerintah dan bisnis harus menanggung sebagian besar beban untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

    Namun, setiap warga dunia dapat berkontribusi dengan menurunkan jejak karbon mereka.

    “Tetapi Anda dan saya juga memiliki peran penting untuk dimainkan. Setiap sepersekian derajat pemanasan yang dapat kita hindari akan membuat planet ini menjadi tempat yang lebih sehat dan lebih layak huni,” ujar Lei seperti dikutip dari laman resmi unep.org, Rabu (20/5/2026).

    Dalam tulisan sebelumnya, telah diulas bagaimana kita bisa berkontribusi menurunkan emisi gas rumah kaca lewat transportasi dan konsumsi energi kita.

    Dalam tulisan ini kita akan melihat apa yang bisa dilakukan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dengan cara kita mengonsumsi pangan dan kebutuhan lainnya.

    Baca: Langkah Kecil Turunkan Emisi Berkontribusi Besar dalam Upaya Menahan Laju Perubahan Iklim

    Jadi, jika ingin menjalani hidup yang lebih ramah lingkungan, berikut beberapa hal yang dapat Anda lakukan.

    1. Ubah pola makan Anda
    Pilihan makanan sangat penting dalam kampanye melawan perubahan iklim. Makanan berbasis hewan, terutama daging merah, produk susu, dan udang budidaya, dikaitkan dengan emisi gas rumah kaca tertinggi.

    Sementara itu, makanan nabati, seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, kacang polong, dan lentil, umumnya lebih ramah terhadap iklim. (Makanan nabati juga menggunakan lebih sedikit lahan dan air.)

    Jadi, cobalah mengonsumsi makanan yang lebih kaya nabati, yang menyediakan energi dan nutrisi dari beberapa kelompok makanan yang berbeda.

    2. Jangan membuang makanan
    Rumah tangga di seluruh dunia membuang lebih dari 1 miliar makanan setiap hari. Membuang makanan berarti menyia-nyiakan energi, lahan, dan pupuk yang digunakan untuk memproduksinya.

    “Merencanakan makanan, hanya membeli apa yang Anda butuhkan, menyimpan makanan dengan benar, dan menggunakan sisa makanan dapat membantu mengurangi pemborosan,” kata Lei.

    Baca: Industri Peternakan Sumbang 41 Persen Deforestasi atau Penebangan Hutan Dunia

    “Dengan melakukan perubahan kecil ini, Anda tidak hanya akan menurunkan emisi dan melestarikan sumber daya untuk generasi mendatang, tetapi juga menghemat uang.”

    Jika Anda perlu membuang makanan, pertimbangkan untuk mengompos sisa makanan Anda. Hal ini dapat secara signifikan mengurangi jumlah metana dan karbon dioksida – dua gas rumah kaca umum – yang dilepaskan oleh limbah organik.

    3. Beli lebih sedikit barang, gunakan lebih lama
    Semua yang kita beli memiliki harga karbon. Misalnya, dibutuhkan energi – yang seringkali berasal dari bahan bakar fosil – untuk mengekstrak bahan mentah, memproduksi suatu produk, dan mengirimkannya ke seluruh dunia.

    Salah satu cara paling efektif untuk mengurangi emisi adalah dengan mengurangi konsumsi. Perbaiki apa yang bisa Anda perbaiki, gunakan kembali apa yang Anda miliki, dan daur ulang jika memungkinkan.

    Hal ini sangat penting di negara-negara berpenghasilan tinggi, di mana konsumsi sangat mencolok dan emisi gas rumah kaca per kapita seringkali jauh lebih tinggi daripada negara-negara berkembang.

    Sebagai contoh, rata-rata orang di Amerika Utara mengeluarkan sekitar 20 ton karbon per tahun, dibandingkan dengan 1,6 ton untuk seseorang di Afrika Sub-Sahara.

    Baca: Mematikan Mesin Saat Lampu Merah, Efektif Memangkas Emisi Gas Rumah Kaca

  • Setiap Orang Dapat Berkontribusi: Gunakan Suara dan Uang Anda untuk Mendesak Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

    Setiap Orang Dapat Berkontribusi: Gunakan Suara dan Uang Anda untuk Mendesak Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

    7cloud.asia – Dampak perubahan iklim yang dipicu emisi gas rumah kaca kian nyata. Karena itu dibutuhkan langkah segera agar kondisi ini tidak semakin membruk.

    Karena ukuran dan pengaruhnya, pemerintah dan pelaku usaha sudah seharusnya menanggung sebagian besar beban untuk mengurangi emisi gas rumah kaca ini.

    Namun demikian, Kepala Mitigasi Perubahan Iklim di Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), Hongpeng Lei mengatakan bahwa setiap warga dunia dapat berkontribusi dengan menurunkan jejak karbon mereka.

    “Anda dan saya juga memiliki peran penting untuk dimainkan. Setiap sepersekian derajat pemanasan yang dapat kita hindari akan membuat planet ini menjadi tempat yang lebih sehat dan lebih layak huni,” ujar Lei seperti dikutip dari laman resmi unep.org, Rabu (20/5/2026).

    Dalam tulisan sebelumnya, telah diulas bagaimana kita bisa berkontribusi menurunkan emisi gas rumah kaca lewat transportasi, penggunaan energi dan pola konsumsi pangan.

    Baca: Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca dari Isi Piring Kamu

    Dalam tulisan ini kita akan melihat apa yang bisa dilakukan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dengan cara kita mempengaruhi pengambil kebijakan dengan sumber daya yang dimiliki.

    “Tindakan kita dapat membantu mengubah norma dan sistem dari waktu ke waktu. Tetapi dibutuhkan kerja sama semua orang.” tandasnya.

    1. Beli lebih sedikit barang, gunakan lebih lama
    Semua barang yang kita beli dan alat yang kita gunakan memiliki harga karbon. Misalnya, dibutuhkan energi – yang seringkali berasal dari bahan bakar fosil – untuk mengekstrak bahan mentah, memproduksi produk, dan mengirimkannya ke seluruh dunia.

    Salah satu cara paling efektif untuk mengurangi emisi adalah dengan mengurangi konsumsi. Perbaiki apa yang bisa Anda perbaiki, gunakan kembali apa yang Anda miliki, dan daur ulang jika memungkinkan.

    Hal ini sangat penting di negara-negara berpenghasilan tinggi, di mana konsumsi sangat mencolok dan emisi gas rumah kaca per kapita seringkali jauh lebih besar daripada negara-negara berkembang.

    Baca: Langkah Kecil Turunkan Emisi Berkontribusi Besar dalam Upaya Menahan Laju Perubahan Iklim

    Misalnya, rata-rata orang di Amerika Utara mengeluarkan sekitar 20 ton karbon per tahun, dibandingkan dengan 1,6 ton untuk seseorang di Afrika Sub-Sahara.

    2. Pilih barang yang ramah lingkungan
    Anda juga dapat berkontribusi pada pengurangan emisi rumah kaca dengan mengonsumsi barang yang proses produksinya memperhatikan kelestarian lingkungan.

    Mengonsumsi produksi lokal atau pangan lokal adalah salah satu cara yang bisa dilakukan. Karena dengan mengonsumsi produk lokal artinya lebih sedikit emisi gas rumah kaca karena jarak distribusi yang pendek.

    Anda juga dapat menghindari membeli barang yang dalam proses produksinya harus merusak lingkungan dan menghasilkan banyak polutan.

     

    3. Lindungi hutan di sekitar Anda
    Hutan sangat penting dalam perjuangan melawan perubahan iklim. Hutan menyimpan sejumlah besar karbon yang menyebabkan pemanasan global, yang jika dilepaskan ke atmosfer dapat memperburuk krisis iklim.

    Anda dapat melindungi ekosistem penting ini dengan memilih produk kayu dan kertas yang berkelanjutan, dan mendukung upaya untuk menghidupkan kembali hutan.

    4. Gunakan suara dan dompet Anda.
    Dengan bersuara, mendukung kebijakan ramah iklim, dan membuat pilihan sadar sebagai konsumen, pemilih, dan anggota masyarakat, individu dapat mendorong perubahan yang lebih luas.

    Konsumen juga memiliki pengaruh melalui produk yang mereka beli, perusahaan yang mereka dukung, dan pemimpin yang mereka pilih, bahkan bank yang mereka pilih—karena lembaga keuangan mendanai proyek-proyek yang membentuk masa depan kita.

    “Meskipun individu saja tidak dapat menyelesaikan krisis iklim, pilihan pribadi dapat membantu mengurangi emisi, memengaruhi pasar, dan membangun dukungan untuk tindakan yang lebih luas,” kata Lei.

  • Kerentanan di Perempuan dan Orang Muda Pesisir Hadapi Perubahan Iklim

    Kerentanan di Perempuan dan Orang Muda Pesisir Hadapi Perubahan Iklim

    7cloud.asia – “Semua serba tidak pasti. Kadang hasil tangkapan cukup, kadang tidak. Tapi tidak pernah ada yang benar-benar pasti.”

    Kalimat di atas berulang kali penulis dengar saat berbincang dengan perempuan dan orang muda di komunitas pesisir di Bengkalis, Riau, dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kehidupan masyarakat pesisir semakin tidak menentu karena perubahan iklim.

    “Ketangguhan” masyarakat, terutama perempuan dan orang muda pun kerap dipuji karena mampu bertahan menghadapi perubahan iklim ini.

    Namun yang sering luput dalam pembahasan adaptasi iklim: bahwa resiliensi tidak selalu lahir dari pilihan, tetapi dari keterpaksaan untuk terus bertahan dalam ketidakpastian iklim.

    Narasi yang meromantisasi resiliensi justru berisiko menutupi ketidakadilan struktural. Kita merayakan kemampuan mereka bertahan tanpa mempertanyakan mengapa mereka harus terus bertahan. Akibatnya, tanggung jawab dibebankan kepada mereka yang paling rentan.

    Temuan lapangan saya bersama tim WRI (belum dipublikasi) di Bengkalis (Riau) dan Sumbawa (Nusa Tenggara Barat) menunjukkan bahwa krisis iklim berkelindan dengan norma gender, ekspektasi budaya, dan kesenjangan tata kelola pemerintahan, sehingga menghasilkan kondisi prekaritas yang mendalam.

    Terdapat ketimpangan kuasa, di mana perempuan dan orang muda kerap diposisikan sebagai subordinat dan terpinggirkan, sehingga mereka menjadi kelompok paling rentan terdampak krisis iklim. 

    Kerja sunyi dan hambatan struktural

    Di Bengkalis dan Sumbawa, perempuan dan orang muda bukanlah korban pasif yang pasrah menerima keadaan.

    Mereka punya kemampuan, ide, kreativitas, dan kemauan mendukung komunitas menghadapi krisis iklim. Namun, ruang gerak mereka terbatas.

    Perempuan ikut menopang ekonomi rumah tangga, tetapi kerja-kerja mereka kerap dianggap sekadar tambahan.

    Perempuan juga terlibat dalam hampir seluruh rantai produksi perikanan: menyiapkan kebutuhan melaut, mengolah dan menjual ikan, hingga memperbaiki jaring.

    Namun, status “nelayan” hanya dilekatkan pada laki-laki yang melaut, sehingga perempuan tidak diakui secara formal dan tidak punya akses terhadap bantuan pemerintah sektor perikanan.

    Norma sosial yang timpang gender ini membuat kaum perempuan tersudut ke pekerjaan informal yang minim perlindungan, sering kali ditambah kerja-kerja musiman seperti buruh di ladang jagung. 

    Di Bengkalis, Riau, kondisi perempuan pesisir juga serupa. Perempuan mengurus ruang domestik sambil mengolah ikan dan membantu ekonomi keluarga.

    Ketidakpastian iklim memperberat beban ini karena rumah tangga makin bergantung pada kerja perempuan.

    Mereka harus menyesuaikan jadwal produksi, mengatur ulang pembagian kerja, dan mencari cara menstabilkan pendapatan. Perempuan menjadi penyangga guncangan ekonomi, meski “pilihan” kerja yang mereka ambil sering kali bersifat semu karena hampir tak ada alternatif lain. 

    Kerentanan juga dialami orang muda. Karena potensi laut menurun dan sektor pertanian tidak menentu, banyak anak muda merasa tidak punya opsi selain pergi ke kota menimbang minimnya peluang ekonomi lokal.

    Namun tidak semua pula yang diijinkan oleh orangtua mereka untuk merantau, apalagi perempuan.

    “Kalau saya mau merantau, orang tua tidak mengizinkan. Mereka khawatir. Jadi saya kerja saja di desa,” ujar salah seorang perempuan muda di Bengkalis. 

    Bagi yang tak bisa bermigrasi, mereka harus menghadapi kehidupan yang serba tidak pasti di kampung: laki-laki muda mengandalkan pekerjaan serabutan sebagai nelayan tradisional, buruh tambang, atau awak kapal tongkang, sementara perempuan muda menghadapi pilihan yang lebih sempit di tengah norma gender yang membatasi ruang gerak mereka.

    Di Riau, banyak remaja perempuan berhenti sekolah pada usia 16–17 tahun dan bekerja di sektor informal dengan upah rendah. Akibatnya, kerentanan terus direproduksi tanpa investasi jangka panjang bagi masa depan generasi muda.

    Fenomena ini diperkuat oleh eksklusi dalam tata kelola. Di Bengkalis, musyawarah desa—ruang penting pengambilan keputusan—masih didominasi laki-laki dan sulit diakses perempuan serta orang muda. Representasi perempuan umumnya hanya melalui PKK, yang membatasi keragaman suara.

    Ruang tata kelola menjadi domain “orang dewasa”, khususnya laki-laki, sementara perempuan dan orang muda tetap di pinggiran.

    Di Sumbawa, pola serupa terlihat dalam pengembangan pariwisata berbasis ekologi. Ide orang muda jarang masuk dalam perencanaan formal dan hanya dipertukarkan secara informal. Implementasi bergantung pada inisiatif mereka, sementara dukungan pemerintah desa cenderung lambat dan muncul setelah dorongan dari pihak luar.

    Kondisi ini menunjukkan pola tokenisme: keterlibatan tidak diikuti pengaruh. Perempuan dan orang muda dihadirkan lebih sebagai pelaksana daripada pengambil keputusan. Kerja mereka diakui, tetapi pengetahuan mereka tidak dianggap sebagai laku kolektif.

    Kesenjangan aksesibilitas semakin memperdalam eksklusi ini. Program bantuan, pelatihan, dan dukungan usaha umumnya menyasar kelompok laki-laki yang sudah mapan, sementara perempuan dan orang muda jarang menjadi penerima manfaat.

    Jadi kondisi ini bukan sekadar keterbatasan, melainkan eksklusi struktural yang menentukan siapa yang diakui, dihitung, dan memiliki ruang untuk menentukan masa depan mereka.

    Membingkai ulang makna resiliensi

    Perempuan dan orang muda punya kemampuan mengambil keputusan (agensi). Namun, agensi ini tumbuh dalam kondisi sempit, tidak pasti, dan dibentuk oleh keterbatasan struktural.

    Adaptasi yang mereka lakukan bersifat sehari-hari, improvisatif, dan berskala kecil—bukan karena kurangnya kreativitas, tetapi karena terbatasnya ruang gerak. Adaptasi pun tidak lahir dari pilihan, melainkan keterpaksaan untuk bertahan hidup.

    Karena itu, resiliensi perlu dipahami sebagai bagian dari politik adaptasi: siapa yang harus beradaptasi, dalam kondisi apa, dan dengan konsekuensi seperti apa.

    Fakta bahwa mereka mampu bertahan justru menunjukkan bagaimana mereka dipaksa menutupi kegagalan struktur dan norma gender yang meminggirkan perempuan.

    Mengkritisi resiliensi bukan berarti meniadakan agensi. Perempuan dan orang muda menunjukkan daya juang melalui praktik sehari-hari—merawat, berinovasi, dan menjaga keberlangsungan komunitas di tengah keterbatasan. Ini merupakan bentuk penentuan nasib sendiri. 

    Lantas, bagaimana membangun sistem yang lebih adil agar adaptasi tidak lagi sekadar bertahan, tetapi membuka jalan menuju martabat, kesejahteraan, dan keadilan?

    Hal ini perlu dimulai dengan memastikan perempuan dan orang muda memiliki ruang partisipasi yang nyata dalam pengambilan keputusan, akses yang lebih adil terhadap dukungan dan sumber daya, serta pengakuan atas kerja dan pengetahuan mereka dalam tata kelola pesisir.

    Tanpa perubahan tersebut, resiliensi berisiko terus menjadi cara untuk menormalisasi ketimpangan.


    Smita Tanaya, GEDSI and Ocean Research Analyst, World Resources Institute

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Ilmuwan Menghapus Skenario Perubahan Iklim Terburuk: Pertanda Aksi Iklim Mulai Membuahkan Hasil

    Ilmuwan Menghapus Skenario Perubahan Iklim Terburuk: Pertanda Aksi Iklim Mulai Membuahkan Hasil

     

    7cloud.asia – Skenario baru tentang perubahan iklim selalu menarik perhatian. Sebab, skenario-skenario ini akan menggambarkan seperti apa iklim dunia di masa depan, yang tentunya sangat bergantung pada seberapa cepat aksi kita mengurangi emisi saat ini.

    Dalam skenario iklim terbaru yang diluncurkan pada Mei ini, komite ilmiah internasional—yang merupakan tim perancang skenario iklim untuk PBB dan IPCC (Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim)—resmi menghapus skenario RCP8.5 dan penerusnya SSP5-8.5.

    Kedua skenario ini merupakan skenario emisi tertinggi (skenario terburuk) dalam proyeksi perubahan iklim

    Skenario tersebut sebelumnya memakai proyeksi bahwa negara-negara di dunia tidak melakukan upaya apa pun untuk mengurangi emisi dan malah memperluas penggunaan bahan bakar fosil.

    Akibatnya, pada 2100, kadar karbon dioksida di atmosfer akan bertambah hampir tiga kali lipat dan dunia akan menjadi 4,5°C lebih panas dibandingkan masa pra-industri.

    Para ilmuwan iklim yang menyusun berbagai kemungkinan iklim masa depan ini menghapus skenario RCP8.5 dengan alasan yang sangat kuat. Faktor utamanya adalah karena dunia sudah mulai menunjukkan perubahan dalam mengatasi perubahan iklim.

    Meskipun lambat dan belum cukup, aksi iklim perlahan menunjukkan hasil nyata. Kita berhasil menghindari masa depan iklim terburuk yang dulu dianggap mungkin terjadi.

    Namun pekerjaan kita tentu masih jauh dari kata selesai. Emisi kita masih berada pada rekor tertinggi dalam sejarah. Pemanasan global juga semakin cepat.

    Tapi yang jelas, tidak seperti klaim Donald Trump dan para peragu perubahan iklim, penghapusan skenario emisi tinggi ini bukanlah tanda ada kesalahan dalam pemodelan iklim sebelumnya atau bahwa perubahan iklim hanyalah hoaks.

    Baca: Gunakan Suara dan Uang Anda untuk Mendesak Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

    Sebaliknya, ini adalah tanda bahwa perkembangan energi surya, angin, kendaraan listrik, dan baterai telah memperlambat pertumbuhan emisi.


    Berdasarkan skenario iklim terburuk sebelumnya, yaitu SSP5-8.5, suhu bumi diperkirakan akan naik sekitar 4,5°C pada tahun 2100.
    IPCC, CC BY-NC-ND

    Bagaimana skenario ini dibuat?

    Saat ini Bumi sudah memanas kira-kira sekitar 1,4°C dibanding zaman pra-industri. Dampak perubahan iklim nyata kita rasakan, terutama dengan cuaca yang semakin ekstrem.

    Karena penyebab utamanya adalah aktivitas manusia (seperti membakar batu bara, minyak, dan gas), maka manusia juga sebenarnya bisa mengurangi masalahnya untuk memperbaiki masa depan.

    Seperti apa masa depan itu? Apakah dunia akan terus memanas, atau akan ada aksi cepat untuk memangkas emisi dan menghentikan pemanasan? Jawaban ini akan sangat menentukan masa depan umat manusia.

    Memprediksi jawaban ini memang sulit. Namun sekelompok ilmuwan sudah membuat sejumlah skenario yang mewakili berbagai kemungkinan masa depan iklim.

    Karena masa depan tidak ada yang pasti, para ilmuwan menyusun berbagai kemungkinan jalur untuk emisi gas rumah kaca kita di masa depan.

    Baca: Empat Cara untuk Ikut Berkontribusi dalam Menjaga Keanekaragaman Hayati

    Mereka mendasarkannya pada apa yang sudah terjadi sejauh ini dan apa yang mungkin terjadi dalam politik dan teknologi selama beberapa dekade mendatang.

    Kemudian, mereka memilih jalur emisi yang dianggap paling masuk akal dan mengambil contoh berbagai masa depan yang kurang lebih optimistis terkait penggunaan bahan bakar fosil.

    Kelompok ilmiah di seluruh dunia lalu memodelkan skenario ini secara mendalam menggunakan berbagai model iklim untuk memastikan ketersediaan data yang cukup pada tingkat global, regional, dan lokal.

    Skenario-skenario ini tidak diberi peringkat berdasarkan kemungkinan terjadinya. Semua dianggap sebagai masa depan yang bisa terjadi. Rentang perbedaan antara skenario paling optimistis dan paling pesimistis pada 2100 punya selisih hampir 2°C. Hal ini menunjukkan betapa keputusan manusia saat ini menentukan masa depan.

    Kenapa penghapusan skenario RCP8.5 bikin heboh?

    RCP8.5 dan SSP5-8.5 adalah nama untuk skenario perubahan iklim yang paling buruk.

    Angka “8.5” menunjukkan proyeksi seberapa banyak (sebesar 8,5 watt per meter persegi) tambahan panas yang terjebak di bumi akibat gas rumah kaca pada 2100.

    Dalam skenario terburuk ini, dunia secara drastis meningkatkan penggunaan bahan bakar fosil. Akibatnya, pemanasan global bisa sangat tinggi. Para ilmuwan sebetulnya juga sudah lama memperdebatkan apakah skenario ini realistis sejak awal, tapi sebagian ilmuwan beranggapan semua itu bisa saja terjadi.

    Tapi kini, tidak satu pun dari skenario iklim yang baru dirilis sepesimistis RCP8.5/SSP5-8.5. Skenario terburuk sekarang memperkirakan emisi paling tinggi akan menyebabkan pemanasan sekitar 3,5°C pada tahun 2100. Meski itu tetap akan sangat buruk. 

    Para skeptikal bermain narasi

    Para peragu perubahan iklim langsung menggunakan penghapusan RCP8.5 sebagai pembelaan klaim mereka bahwa proyeksi iklim para ilmuwan selama ini salah. Serangan-serangan ini sengaja dibuat untuk menimbulkan keraguan terhadap ilmu iklim. 

    Padahal jelas-jelas bahwa RCP8.5 dihapus karena penilaian objektif bahwa aksi iklim mulai menunjukkan hasil nyata mengurangi emisi.

    Kendati hasil terburuk berhasil dihindari, kita juga telah kehilangan peluang untuk mencapai hasil iklim terbaik.

    Ini terlihat dari skenario iklim terbaru yang tidak lagi memiliki jalur seoptimistis dulu. Skenario emisi terendah dari putaran proyeksi iklim besar sebelumnya adalah SSP1-1.9—satu-satunya skenario yang memenuhi tujuan Perjanjian Paris untuk menjaga pemanasan global sekitar 1,5°C.

    Karena emisi global belum juga menurun, skenario baru yang paling optimistis pun memprediksi pemanasan global akan tetap memuncak sekitar 1,9°C.

    Walaupun suhu Bumi hampir pasti akan naik melampaui 1,5°C dibanding zaman sebelum industri, harapannya kenaikan itu hanya sementara selagi manusia berupaya menurunkan kadar karbon dioksida di atmosfer agar suhu dapat kembali ke 1,5°C.

    Lintasan emisi kita saat ini berada di tengah-tengah. Dunia tidak menuju skenario terburuk, tetapi juga belum cukup baik untuk mencapai skenario paling optimistis.

    Kalau negara-negara tetap menjalankan kebijakan seperti sekarang, para ilmuwan memperkirakan suhu bumi akan naik sekitar 2.6°C pada 2100.

    Kamu mungkin masih bertanya-tanya, mengapa kita perlu terus memperbarui skenario iklim ini?

    Salah satu alasannya: fakta di lapangan terus berubah. Energi surya berkembang jauh lebih cepat dari perkiraan, tetapi teknologi fracking atau pengeboran yang semakin canggih juga membuka cadangan bahan bakar fosil baru dalam jumlah besar.

    Pergeseran arah politik pun membuat aksi iklim menjadi lebih mungkin atau justru lebih sulit dilakukan.

    Alasan lainnya adalah karena model iklim kita terus membaik. Semakin baik modelnya, semakin akurat dan rinci pula proyeksi kenaikan permukaan laut dan dampak iklim lainnya. 

    Ya, ini adalah kemajuan

    Menghapus RCP8.5 dari daftar kemungkinan adalah sebuah tanda kemajuan—kita menghindari skenario terburuk. Tetapi di sisi lain, proyeksi terbaru juga menunjukkan kita telah kehilangan peluang untuk mencapai masa depan terbaik.

    Lima tahun ke depan bisa berjalan dalam banyak cara berbeda, membawa kita ke masa depan iklim yang lebih baik atau lebih buruk.

    Kita harus memahami dan mempersiapkan diri menghadapi situasi apa yang akan datang—dan menggandakan upaya kita untuk menciptakan masa depan terbaik yang masih mungkin dicapai.


    Andrew King, ARC Future Fellow and Associate Professor in Climate Science, ARC Centre of Excellence for 21st Century Weather, The University of Melbourne

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026: Saatnya Dunia Bertindak Memperlambat dan Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026: Saatnya Dunia Bertindak Memperlambat dan Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, pada Jumat (5/6/2026) dipusatkan di Baku Azerbaijan dengan menyerukan aksi iklim global.

    Dalam sambutannya, Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB, Inger Andersen mengatakan, Azerbaijan terus memainkan peran penting dalam aksi iklim global.

    Azerbaijan menjadi tuan rumah pembicaraan iklim COP29 di sini pada tahun 2024 dan memandu dunia menuju kesepakatan untuk memobilisasi dana iklim sebesar 300 miliar dolar pada tahun 2035.

    Bulan lalu, Baku juga menjadi tuan rumah Forum Perkotaan Dunia, yang berfokus pada kebutuhan akan ketahanan iklim di kota-kota. Dan sekarang Azerbaijan membantu UNEP untuk memfokuskan perhatian dan tindakan pada perubahan iklim pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ke-54 ini.

    Inger menambahkan, perubahan iklim memang merupakan isu yang harus menjadi perhatian utama masyarakat dunia

    Suhu global meningkat dan dampak iklim semakin intensif. Planet ini mengirimkan sinyal kepada kita. Gelombang panas. Kekeringan. Banjir. Penggurusan dan badai debu dan pasir.

    “Dampak-dampak ini merugikan kita semua, dengan kaum miskin dan paling rentan menderita yang terburuk. Azerbaijan menghadapi banyak tantangan iklim, mulai dari degradasi ekosistem pegunungan hingga penurunan permukaan air di Laut Kaspia, yang mengancam pelabuhan, perikanan, infrastruktur, dan komunitas pesisir,” ujarnya.

    Namun, Inger menegaskan, kondisi ini tidak seharusnya menjadi kisah bencana dan keputusasaan. Masa depan belum tertulis.

    Kita, lanjutnya, dapat menciptakan kisah kita sendiri dengan bertindak untuk memperlambat dan beradaptasi dengan perubahan iklim – mewujudkan masyarakat yang lebih aman, lebih sehat, lebih makmur, dan lebih adil.

    Aksi iklim merupakan peluang besar bagi bangsa dan masyarakat di dunia. Jika dunia bertindak sekarang, sebagai komunitas global, maka jutaan kematian dan triliunan kerugian ekonomi pada tahun 2050 dapat dicegah.

    “Kita dapat mendorong pertumbuhan, lapangan kerja, ketahanan, dan investasi. Kita semua dapat berkembang,” imbuhnya.

    Namun, Inger menegaskan, solusi iklim bukan teoritis tapi harus nyata. Solusinya ada di sini. Solusinya berkembang pesat. Dan solusinya menawarkan banyak manfaat.

    Energi bersih dan mobilitas listrik berkembang pesat, menjanjikan keamanan energi dan kemandirian energi yang lebih besar bagi berbagai negara. Energi terbarukan melampaui batu bara sebagai sumber listrik terbesar di dunia pada tahun 2025.

    Pun demikian dengan pergerakan energi bersih yang pesat ini tidak akan berhenti. Namun, kita tetap perlu lebih cerdas dan fleksibel dalam menggunakan listrik untuk meminimalkan emisi dan mencegah kelebihan beban jaringan listrik.

    Kota-kota memimpin dalam solusi iklim. Mulai dari mengatasi panas ekstrem dengan pendinginan berkelanjutan dan bangunan tahan panas, hingga alam perkotaan dan desain cerdas iklim, pemerintah daerah sedang mempersiapkan ruang kota untuk menghadapi perubahan iklim.

    Kombinasi strategis dari berbagai langkah pendinginan pasif dapat mengurangi suhu dalam ruangan hingga 8°C.

    Di sisi lain, momentum politik global untuk aksi iklim semakin meningkat. Bulan lalu, Majelis Umum PBB mengesahkan resolusi yang mendukung putusan Mahkamah Internasional yang mewajibkan negara-negara di dunia memiliki kewajiban hukum untuk melindungi manusia dan planet dari emisi gas rumah kaca.

    “Namun, kita masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Kenaikan suhu global kemungkinan besar akan segera melampaui batas 1,5°C yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris,” imbuhnya.

    Oleh karena itu, Inger mengajak semua pihak untuk berupaya lebih keras untuk kembali ke tingkat ini pada akhir abad ini, sambil melindungi masyarakat dan negara – khususnya Negara-Negara Kepulauan Kecil yang Sedang Berkembang – dari dampak yang lebih kuat dan lebih sering yang akan datang.

    Ini berarti beralih dari bahan bakar fosil dalam sistem energi dengan cara yang adil, teratur, dan merata.

    Ini berarti berinvestasi dan menerapkan setiap solusi yang tersedia secara mendesak dan dalam skala besar. Ini berarti pendanaan yang kuat dan langkah-langkah adaptasi, peringatan dini, dan kesiapan bencana yang bermakna. Dan masih banyak lagi.

    Inger menambahkan, aksi multilateral terhadap perubahan iklim dapat membuat perbedaan. Pada saat diadopsinya Perjanjian Paris, pada tahun 2015, suhu global diprediksi akan meningkat hingga 3,5°C pada akhir abad ini.

    “Sekarang kita melihat peningkatan 2,3-2,5°C, jika kebijakan diterapkan untuk memenuhi semua janji iklim. Jadi mari kita terapkan kebijakan-kebijakan ini, mulai mengimplementasikannya, dan berupaya lebih keras untuk mencapai emisi nol bersih dan menurunkan suhu lebih jauh,” tandasnya.

    Kita dapat menang dalam perjuangan ini untuk masa depan planet ini. Tetapi ini membutuhkan kita semua: dari negara-negara dan individu terkaya, yang memegang tanggung jawab terbesar atas krisis iklim dan karenanya dapat membuat perbedaan terbesar, hingga aktivis iklim akar rumput dan masyarakat biasa.

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia bukan hanya mengirimkan pesan; tetapi juga meneruskan pesan tersebut. Selama bertahun-tahun, planet ini telah mengirimkan sinyal bahwa batas kemampuannya semakin mendekat.

    Hari ini, pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, ribuan acara yang berfokus pada iklim berlangsung di seluruh dunia dan jutaan orang menyuarakan pendapat mereka secara daring, menyerukan aksi iklim. Azerbaijan menunjukkan pentingnya upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

    “Mereka mendengar pesan tersebut. Kita semua harus melakukan hal yang sama, dan bertindak mengatasi perubahan iklim seolah-olah hidup kita bergantung padanya,” pungkasnya.

  • Studi: Kadar Oksigen Terlarut di 80 Persen Sungai di Dunia Merosot Tajam Sehingga Mengancam Kelestarian Lingkungan

    Studi: Kadar Oksigen Terlarut di 80 Persen Sungai di Dunia Merosot Tajam Sehingga Mengancam Kelestarian Lingkungan

    7cloud.asia – Kadar oksigen terlarut di hampir 80 persen sungai di seluruh dunia, dilaporkan menurun signifikan dan sungai-sungai tersebut akan terus kehilangan sumber daya berharga ini kecuali dilakukan perubahan serius.

    Demikian hasil studi dari tim di Akademi Ilmu Pengetahuan China, yang dipimpin oleh ilmuwan lingkungan Qi Guan yang telah diterbitkan di Science Advances.

    Data satelit dan iklim yang dikumpulkan antara tahun 1985 dan 2023 mengungkapkan bahwa lebih dari 16.000 sungai di seluruh dunia telah kehilangan kadar oksigennya.

    Rata-rata, sungai-sungai ini kehilangan 0,045 miligram oksigen per liter setiap dekade (10 tahun).

    Tanpa oksigen terlarut yang cukup yang penting untuk menopang kehidupan di bawah air, sungai – dan komunitas yang bergantung pada air dan sumber dayanya – berada dalam ancaman serius.

    Dilansir di sciencealert.com, tim tersebut mengumpulkan data dari 3,4 juta citra satelit selama empat dekade terakhir untuk mendeteksi pola oksigen terlarut di sungai-sungai di seluruh dunia dan memprediksi masa depan mereka di bawah berbagai skenario iklim.

    Pada akhir abad ini, dengan asumsi emisi karbon dioksida terus meningkat pada tingkat yang sama (berbeda dengan beberapa skenario terburuk), sungai-sungai di sebagian besar Amerika Selatan, India, Arktik, dan Amerika Serikat bagian Timur diperkirakan akan kehilangan sekitar 10 persen oksigen terlarutnya.

    Pergeseran paling parah sejauh ini terjadi di sungai-sungai tropis, seperti Sungai Gangga di India dan Sungai Amazon di Amerika Selatan. Sungai Gangga khususnya kehilangan oksigen 20 kali lebih cepat daripada rata-rata global.

    Para ilmuwan tidak memperkirakan hal ini akan terjadi. Sebelumnya, mereka berasumsi bahwa sungai-sungai di lintang tinggi akan mengalami deoksigenasi terburuk karena wilayah-wilayah ini merupakan titik panas perubahan iklim.

    Namun, sungai-sungai tropis memiliki kelemahan sejak awal: Karena airnya sudah lebih hangat, sehingga kadar oksigen terlarutnya sudah lebih rendah.

    Ini berarti, sungai-sungai tersebut sudah lebih dekat dengan kondisi hipoksia (kekurangan oksigen untuk menopang sebagian besar kehidupan).

    Guan dan timnya menemukan banyak faktor yang berkontribusi terhadap deoksigenasi sungai global, tetapi tidak ada yang lebih berpengaruh daripada perubahan iklim.

    Perubahan iklim yang didorong oleh aktivitas manusia mengurangi kelarutan oksigen (kemampuan suatu badan air untuk menahan oksigen terlarut). Menurut studi baru ini, kelarutan oksigen menyumbang sekitar 63 persen dari deoksigenasi sungai global.

    Suhu air kemungkinan besar mendorong perubahan kelarutan oksigen ini. Air yang lebih hangat menahan lebih sedikit oksigen terlarut karena molekul oksigen dan air menerima lebih banyak energi dalam bentuk panas.

    Oksigen terlarut sangat berbeda dari atom oksigen yang berpasangan dengan hidrogen untuk membentuk air. Oksigen terlarut adalah yang dibutuhkan kehidupan akuatik untuk ‘bernapas’: itu berlaku untuk hewan, tumbuhan, plankton, bakteri, dan apa pun yang hidup di bawah air.

    Namun, ikatan yang menjaga gas oksigen tetap terlarut dalam air relatif lemah. Sedikit perubahan suhu saja sudah cukup untuk memutus ikatan tersebut, sehingga oksigen dapat keluar.

    Spesies akuatik sangat beragam dalam hal kebutuhan oksigen terlarut untuk bertahan hidup. Namun, perubahan sebesar 0,1 miligram per liter air sungai – yang kira-kira sama dengan jumlah oksigen yang hilang, rata-rata, selama empat dekade terakhir – sudah cukup untuk menyebabkan perubahan serius pada ekosistem sungai.

    Kehidupan akuatik dapat menambah kadar oksigen terlarut melalui fotosintesis, itulah sebabnya tumbuhan bawah air menjaga kesehatan perairan.

    Oksigen dari atmosfer juga dapat larut dalam air melalui gaya fisik, seperti arus deras sungai yang bergelembung atau aerator yang digunakan di kolam buatan manusia.

    Itulah mengapa, di banyak sungai yang termasuk dalam penelitian ini, bendungan di perairan dangkal dan gelombang panas telah berkontribusi pada penurunan kadar oksigen terlarut.

    Aliran air yang berkurang berarti lebih sedikit oksigen yang masuk ke dalam air dari udara; gelombang panas pada dasarnya memeras oksigen keluar dari sungai.

    Komposisi air juga memiliki dampak besar pada kadar oksigen terlarut yang dapat ditampung oleh sebuah sungai.

    Aktivitas manusia mengubah komposisi air di kedua ujungnya, dengan mengurangi jumlah air di sungai, dan menambah beban zat terlarut dalam air, seperti garam, nutrisi, dan bahan organik (yang selanjutnya mengurangi kelarutan oksigen).

    Karena kehidupan akuatik bergantung pada oksigen terlarut untuk bertahan hidup, bahkan penurunan kecil pada kadar oksigen dapat dengan cepat menyebabkan kematian massal.

    Setelah itu terjadi, sungai yang penuh dengan ikan dan alga mati dengan cepat menggunakan oksigen terlarut yang tersisa karena bakteri mulai bekerja menguraikan bahan organik yang tertinggal.

    Dengan meningkatnya laju deoksigenasi sungai di seluruh dunia, zona mati seperti ini mungkin akan menjadi lebih umum.

    “Deoksigenasi adalah proses yang sangat lambat. Jika kita memiliki periode yang panjang, dampak negatifnya akan menyerang ekosistem sungai,” kata Guan kepada Seth Borenstein di Associated Press.

    “Rendahnya kadar oksigen dapat menyebabkan serangkaian krisis ekologi seperti penurunan keanekaragaman hayati [dan] degradasi kualitas air.”

    Skenario tersebut jauh lebih mungkin terjadi jika sungai kehilangan tambahan 4 atau 5 persen oksigen terlarutnya: jumlah yang sama dengan yang diperkirakan akan hilang dalam tujuh dekade mendatang, kecuali jika umat manusia mengambil tindakan mendesak untuk mencegah emisi bahan bakar fosil lebih lanjut.

    “Memahami perubahan ini secara sistematis sangat penting untuk meningkatkan ketahanan ekosistem sungai terhadap risiko deoksigenasi berkelanjutan melalui langkah-langkah dan strategi yang tepat sasaran, dan membantu mencapai pengelolaan berkelanjutan di sungai-sungai global,” demikian kesimpulan Guan dan timnya.

  • Ruang Hijau Jadi Opsi Cegah Terulangnya Kebakaran Hebat di Los Angeles

    Ruang Hijau Jadi Opsi Cegah Terulangnya Kebakaran Hebat di Los Angeles

    7cloud.asia – Kebakaran hutan dan lahan di Los Angeles yang memakan puluhan korban jiwa beberapa waktu lalu, menunjukkan apa yang telah diperingatkan para ilmuwan selama bertahun-tahun: perubahan iklim membuat kebakaran hutan dan lahan berlangsung lebih lama, lebih sering, dan lebih dahsyat dari sebelumnya.

    Peningkatan suhu, kondisi kekeringan yang luar biasa, dan fenomena iklim yang intensif seperti angin Santa Ana, yang telah mengipasi api di LA, memperburuk kebakaran hutan.

    Di seluruh dunia, perubahan iklim berkontribusi pada kondisi yang lebih panas dan kering.

    Sebuah laporan tahun 2023 oleh Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menemukan bahwa kebakaran hutan meningkat frekuensi dan tingkat keparahannya karena kondisi ini.

    Kebakaran hutan yang diperburuk oleh perubahan iklim mengakibatkan kerugian dan tragedi, serta biaya dan kerusakan yang tinggi.

    Kebakaran hutan mengganggu ritme kehidupan normal dan, seperti yang terlihat di Los Angeles, bahkan dapat memicu informasi yang salah dan penyebaran ketakutan.

    Baca: Bagaimana Perubahan Iklim Mempengaruhi Kebakaran Hebat di Los Angeles

    Mundur dari Zona Rawan Kebakaran
    Saat rekonstruksi dimulai, satu pertanyaan tetap ada: bagaimana kota dapat mencegah hal ini terjadi lagi?

    Sebagian masalah terletak pada pembangunan kota yang meluas ke zona rawan kebakaran – lanskap kering dan rawan kebakaran yang tidak cocok untuk dihuni tetapi telah menerima izin perencanaan selama bertahun-tahun.

    Kombinasi cuaca ekstrem, bangunan berbingkai kayu, dan bahan bakar yang mudah meledak seperti mobil dan kebun kering menciptakan kondisi ideal bagi kebakaran untuk menyebar dengan cepat.

    Selama beberapa dekade, LA telah fokus pada penanggulangan kebakaran. Namun, kebakaran hutan Eaton dan Palisades menunjukkan perlunya perubahan strategi – mundur dari zona rawan kebakaran alih-alih membangun kembali di daerah berisiko tinggi ini.

    Perusahaan asuransi semakin ragu untuk menanggung properti di zona rawan kebakaran, menandakan ketidakberlanjutan pembangunan kembali.

    Tetapi menjauh dari zona rawan kebakaran membutuhkan kemauan politik, dukungan publik, dan upaya yang signifikan. Adaptasi infrastruktur untuk mendukung perumahan perkotaan yang lebih padat.

    Baca: Fenomena Angin Santa Ana Memicu Kebakaran Hebat di Los Angeles

    Kemungkinan akan ada penolakan dari komunitas yang sudah mapan, dan masalah kesetaraan sosial harus diatasi.

    Insentif sangat penting, begitu pula program percontohan skala kecil untuk memahami kelayakan proyek relokasi massal dan konsekuensi dari peningkatan kepadatan penduduk.

    Menawarkan insentif keuangan kepada pengembang yang membangun perumahan yang lebih padat dan berkelanjutan, serta bermitra dengan organisasi lingkungan dan kelompok masyarakat dapat memfasilitasi implementasi langkah ini.

    Contoh kota San Antonio yang rawan banjir, lantas pemerintah kota setempat memindahkan pemilik rumah dari daerah rawan banjir, dapat menjadi inspirasi.

    Meskipun harga properti di California lebih tinggi, prinsipnya tetap sama: mengalokasikan dana kota untuk membeli rumah pemilik di zona berbahaya, dengan memprioritaskan keselamatan dan keberlanjutan.

    Menurut Greenbelt Alliance, sebuah organisasi dari San Francisco Bay Area yang mengadvokasi lebih banyak area hijau di seluruh California, sabuk hijau adalah salah satu cara terbaik untuk melindungi kota dari kebakaran hutan.

    Baca: Dampak Kebakaran Hebat di Los Angeles Dirasakan Bertahun-tahun

    Selain itu, sabuk hijau meningkatkan ketahanan terhadap kebakaran hutan, berfungsi sebagai lokasi strategis untuk pertahanan terhadap kebakaran hutan, melestarikan keanekaragaman hayati, dan menyediakan ruang hijau rekreasi yang berharga.

    Organisasi tersebut mengidentifikasi empat jenis sabuk hijau yang berbeda:

    Pertama, ruang terbuka, taman, dan cagar alam, yang berfungsi sebagai penyangga alami kebakaran hutan bagi masyarakat.

    Kedua, lahan pertanian, yang berfungsi sebagai penghalang bahan bakar alami dan dapat melindungi rumah dan masyarakat di sekitarnya. Ini juga merupakan jenis lahan yang dapat dan memang terbakar.

    Ketiga, zona penyangga sabuk hijau, zona penyangga yang ditempatkan secara strategis dengan lanskap tahan api di dalam lingkungan perumahan yang dapat menghentikan penyebaran api dari rumah ke rumah dan menyediakan tempat berlindung.

    Dan yang terakhir, jalur hijau rekreasi yang mencakup lapangan bermain atau jalur sepeda dan jalan kaki di dalam dan sekitar masyarakat.

    Jika ditempatkan secara strategis, jalur hijau ini dapat menampung air dan kelembapan sehingga dapat memperlambat atau mencegah meluasnya kebakaran hutan.

    Artikel ini diterjemahkan dari Earth.org, baca artikel asli di sini