Tag: lingkungan

  • 10 Tahun Pemerintahan Jokowi : Proyek Pembangunan yang Merusak Kemampuan Adaptasi Rakyat

    10 Tahun Pemerintahan Jokowi : Proyek Pembangunan yang Merusak Kemampuan Adaptasi Rakyat

    7cloud.asia – Aliansi Rakyat Untuk Keadilan Iklim (ARUKI) menilai selama 10 tahun pemerintahan Joko Widodo, berbagai proyek pembangunan besar-besaran terus digenjot, tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan dan kemampuan adaptasi rakyat

    Eksploitasi ini justru dilegitimasi melalui UU 2/2023 Ciptaker yang memperluas skala eksploitasi kawasan biosfer, cagar alam, dan hutan, tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan.

    Berbagai proyek atas nama penanganan perubahan iklim, nyatanya hanya sebagai solusi palsu dalam menangani dampak perubahan iklim.

    Berikut sejumlah proyek yang oleh ARUKI dinilai justru merusak kemampuan adaptasi rakyat:

    1. Proyek transisi energi.
    Skema transisi energi yang digadang-gadang Pemerintah Jokowi tidak demokratis dan tidak berkeadilan.

    Proyek-proyek yang mengatasnamakan aksi iklim, nyatanya hanya menjadi business as usual yang lebih menekankan pada investasi skala besar dan cenderung menambah kerentanan rakyat akibat perubahan iklim, serta semakin menyulitkan rakyat untuk beradaptasi.

    Proyek geothermal, CCUS, PLTA, kendaraan listrik dan berbagai proyek transisi energi lainnya, justru memperluas kerusakan lingkungan, merusak hutan dan kerugian bagi rakyat.

    Studi Walhi dan Celios (2023) menunjukkan bahwa ekspansi dan eksplorasi Geothermal di Pulau NTT telah mengakibatkan kerugian ekonomi warga sebesar Rp1,1 triliun per tahun.

    Angka ini belum termasuk kerugian lingkungan dan konflik yang harus ditanggung oleh rakyat dalam jangka panjang.

    Alih- alih aksi iklim juga digunakan Pemerintah untuk gencar memberikan izin-izin tambang dan smelter nikel kepada korporasi.

    Kementerian ESDM mencatat bahwa hingga 2023, telah diterbitkan izin tambang nikel kepada 213 entitas perusahaan dan setidaknya 693.246,72 hektar kawasan tutupan lahan hutan di Indonesia telah diberikan kepada korporasi pertambangan nikel

    Skema ini telah berkontribusi pada pelepasan emisi Gas Rumah Kaca, menyebabkan pelanggaran HAM dan kerusakan lingkungan yang signifikan.

    Petani kecil, nelayan tradisional, perempuan dan masyarakat adat di sekitar area
    tambang dan smelter nikel di Sulawesi, Maluku, dan Papua menjadi korban langsung dari perampasan ruang hidup dan perusakan lingkungan.

    2. Proyek transisi energi JETP
    Proyek Just Energy Transition Partnership didominasi oleh utang luar negeri yang berpotensi menambah beban keuangan negara dan semakin memberatkan pembayar pajak.

    Selain itu, proyek transisi energi dalam JETP mengutamakan pembangunan energi terbarukan berskala besar yang rentan terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

    Skema pendanaan JETP justru mengabaikan pengembangan energi terbarukan berbasis komunitas yang mendekatkan sumber energi terbarukan dengan masyarakat sehingga mudah dijangkau dari sisi harga.

    3. Konsesi pertambangan untuk ormas keagamaan
    Pemberian konsesi pertambangan batubara kepada ormas keagamaan, Nahdlatul Ulama
    dan Muhammadiyah, bukan hanya upaya mencuci dosa ekologi industri batubara tapi juga melemahkan gerakan lingkungan hidup di Indonesia.

    Setiap gerakan lingkungan hidup yang menyuarakan pentingnya penanganan krisis iklim akan berhadapan dengan NU dan Muhammadiyah.

    Kedua ormas keagamaan yang telah masuk dalam bisnis energi kotor batubara hampir bisa dipastikan akan menghalangi setiap gerakan masyarakat yang mendesak pemerintah memperkuat komitmen iklimnya.

    Konflik horizontal antara gerakan lingkungan hidup dan kedua ormas Islam menjadi sulit untuk dihindari.

    4. Proyek Food Estate
    Food estate terbukti gagal mencapai tujuannya dan malah menimbulkan dampak buruk. Program yang menelan lebih dari Rp104 triliun dana APBN justru gagal dan menyebabkan kerusakan ekologi dan ekonomi hingga ketimpangan sosial.

    Di Gunung Mas, Kalimantan Tengah, proyek Food Estate telah membabat kawasan hutan lindung seluas 165.000 hektare, termasuk 600 hektare hutan hujan. Akibatnya, masyarakat di kawasan tersebut menghadapi ancaman banjir karena deforestasi.

    5. Proyek Shrimp Estate
    Pengembangan proyek tambak skala raksasa yang dilakukan di era Jokowi di Jawa Tengah, Kalimantan Tengah dan NTB, nyatanya mengeksklusi subjek rentan, terutama petambak tradisional dan perempuan petambak.

    Proyek Shrimp Estate untuk memastikan terpenuhinya supply udang Indonesia untuk kebutuhan ekspor ke Amerika Serikat dan Jepang, akan mengancam eksistensi petambak tradisional, penurunan kualitas lingkungan dan degradasi ekosistem pesisir seperti mangrove diabaikan.

    Pelanggaran hak-hak pekerja perempuan petambak pada masa pasca panen pun seringkali terjadi (Infid, 2022). Proyek ini juga absen dalam memperhatikan dampak turunan pada situasi ancaman perubahan iklim di sektor pesisir dan kelautan.

    Pada bagian lain, Sebagaimana hasil Rembug Iklim Pesisir (Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia & Yayasan Pikul, 2023) menunjukkan bahwa kebijakan iklim yang tidak tepat justru meningkatkan kerentanan dan menghancurkan kemampuan adaptasi nelayan tradisional dalam menghadapi perubahan iklim.

    6. Perdagangan karbon
    Skema perdagangan karbon yang berorientasi pada bisnis dan tidak menjawab akar krisis iklim. Skema ini dilihat sebagai upaya melepaskan tanggung jawab korporasi atas kerusakan lingkungan dan penyumbang emisi GRK.

    Selama 10 tahun pemerintahannya, alih-alih meletakkan prinsip keadilan iklim di dalam membangun kebijakan dan aksi-aksi iklim di Indonesia, Jokowi justru merilis peraturan terkait iklim lebih mendorong pada munculnya bisnis yang memperdagangkan krisis.

    Situasi ini diperparah dengan besarnya ruang diskresi yang berdampak pada pelemahan demokrasi dan hilangnya fungsi kontrol publik kepada pemerintah atas jalannya kebijakan yang merugikan rakyat dan lingkungan.

  • Jakarta dan DIY: Dua Provinsi yang Paling Siap Dukung Misi Transisi Energi

    Jakarta dan DIY: Dua Provinsi yang Paling Siap Dukung Misi Transisi Energi

    7cloud.asia – Penelitian yang dilakukan Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menemukan mayoritas (32 dari 34) provinsi di Indonesia tidak siap mendukung misi transisi energi.

    Hanya Jakarta dan Yogyakarta yang memiliki skor tinggi dalam hal kesiapan transisi energi di masa depan.

    Skor tinggi menandakan provinsi tersebut berpeluang lebih mudah mengikuti kebijakan transisi energi terbarukan Indonesia. Masyarakat di provinsi dengan skor tinggi juga cenderung lebih memahami bahwa pemakaian energi bersih itu penting.

    Sebaliknya, provinsi dengan kesiapan lebih rendah memerlukan waktu dan penyesuaian lebih lama untuk bertransisi.

    Soalnya, mereka kekurangan dukungan finansial, keterbatasan kebijakan terkait, dan kesulitan dalam mengakses teknologi ramah lingkungan.

    Baca: Indonesia masuk urutan bawah dalam urusan transisi energi

    Dua provinsi dengan tingkat kesiapan tinggi adalah Jakarta dan Yogyakarta. Keduanya mendominasi dalam indikator inisiatif energi bersih dan ketahanan ekonomi.

    Data menunjukkan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya dan inisiatif bahan bakar memasak dengan listrik didominasi oleh daerah-daerah di Jakarta dan Yogyakarta.

    Yogyakarta telah menyediakan KPP-E bagi petani dan peternak sejak lama. Melalui kredit ini, masyarakat berhak mendapatkan pinjaman dengan suku bunga terjangkau untuk mengadopsi teknologi budi daya lebih ramah lingkungan.

    Kedua provinsi tersebut juga memiliki ruang fiskal lebih luas untuk mengalokasikan anggaran pada pengembangan teknologi dan energi. Hal tersebut tercermin dalam penerimaan daerah masing-masing.

    Pada 2021, realisasi pendapatan di Jakarta mencapai Rp65,57 triliun dan Yogyakarta Rp5,7 triliun. Ini lebih tinggi dari separuh total provinsi di Indonesia.

    Mencapai transisi yang adil
    Kebijakan transisi energi Indonesia seharusnya berjalan sesuai dengan keunikan, kelebihan, dan kekurangan masing-masing provinsi. Kita perlu menghindari prinsip pukul rata alias one-size-fits-all untuk berhijrah ke energi terbarukan.

    Baca: Ketrampilan yang dibutuhkan untuk mendukung transisi energi

    Sebagai contoh, riset kami mendapati Kalimantan Timur memiliki peringkat menengah dalam kesiapan transisi energi secara keseluruhan. Namun, dalam aspek inisiasi energi bersih, provinsi ini menempati peringkat lima terbaik.

    Hal ini dimungkinkan karena rendahnya kapasitas pemerintahan di Kalimantan Timur. Kapasitas ini adalah salah satu pendorong kesiapan transisi energi.

    Oleh karena itu, pemerintah dapat memfokuskan sumber daya untuk membangun pemerintahan yang lebih bersih dan terstruktur demi melancarkan proses dan manajemen transisi energi.

    Kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, dan organisasi masyarakat sipil adalah kunci utama untuk mencapai transisi energi yang berkelanjutan.

    Dengan komitmen dan upaya kolektif, Indonesia dapat menavigasi tantangan ini dan mencapai visinya sebagai pemimpin dalam mendukung transisi energi global.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Achmad Hanif Imaduddin (Peneliti Center of Economic and Law Studies/CELIOS)

  • Ramon Tungka Ajak Mahasiswa Biasakan Lakukan Hal yang Bermanfaat untuk Lingkungan

    Ramon Tungka Ajak Mahasiswa Biasakan Lakukan Hal yang Bermanfaat untuk Lingkungan

    7cloud.asia – Aktor Ramon Tungka kini aktif menjadi influencer lingkungan. Dalam berbagai kesempatan, ia mengajak generasi muda untuk membiasakan melakukan hal-hal kecil yang berdampak pada kelestarian lingkungan.

    “Mulailah dengan hal-hal kecil untuk kelestarian lingkungan. Kalau semua bergerak hasilnya luar biasa,” kata Ramon Tungka di hadapan 159 mahasiswa yang akan melakukan penanaman pohon di kawasan Situs Trowulan, Mojokerto, Jatim, Selasa (27/8/2024).

    Pemimpin redaksi gerakan @SayaPilihBumi itu memaparkan, hal-hal kecil seperti menghemat listrik, mengurangi penggunaan plastik, ikut memilah sampah rumah tangga dan menjaga kebersihan saluran air sangat berarti untuk lingkungan.

    “Mulai menggunakan tumbler dan membawa tas dari rumah setiap belanja itu harus jadi gaya hidup. Coba kalau semua bergerak secara signifikan mengurangi pemakaian plastik,” kata Ramon Tungka

    Baca: Cita Laura kampanyekan konservasi air

    Ia mengungkap dirinya masih terus memperdalam ilmu soal lingkungan dengan mengikuti sekolah online dari berbagai negara, karena merasa bertanggung jawab sebagai manusia ber-KTP planet bumi untuk menjaga kelestarian alam.

    “Semakin banyak saya menggali persoalan tentang lingkungan ternyata semakin merasa sedikit yang saya tahu. Karena isu lingkungan ini sangat penting efek dominonya ke mana-mana,” katanya.

    Ia meminta milenial tidak sekadar mempunyai smartphone tetapi juga harus menjadi smart generation artinya menggunakan smartphone sebagai sarana untuk ikut mengkampanyekan kelestarian lingkungan melalui media sosial.

    Sementara beberapa peserta Siap Darling mengaku bahwa sebagai generasi muda harus menjadi penggerak kesadaran menjaga alam karena masih punya potensi untuk bergerak lebih luas, apalagi dengan kemudahan teknologi informasi.

    Baca: Cerita Nicholas Saputra dan gaya hidup ramah lingkungan

    Beta Novira, mahasiswi dari Jurusan Psikologi Universitas Airlangga mengatakan pemuda masih punya kesempatan yang panjang untuk mengkampanyekan peduli lingkungan dan perlu dimulai dari diri sendiri.

    “Harus dimulai dari diri sendiri lalu mengajak keluarga dan teman dekat, kalau semua bergerak, masalah lingkungan bisa diatasi bersama,” katanya yang sudah bertekad untuk menggunakan plastik.

    Noval, mahasiswa jurusan tehnik elektro Universitas Muhammadiyah Malang juga bertekad untuk terus menulis tentang isu lingkungan dan disebarkan ke media sosial agar memacu setiap orang untuk peduli lingkungan.

    “Mencintai lingkungan harus menjadi gaya hidup anak muda dimulai dari hal-hal yang kecil, ini perlu terus dikampanyekan,” kata mahasiswa asal Surabaya itu.

    Baca: Gowes 79 Kemerdekaan Indonesia

    Aksi penghijauan di kawasan situs warisan sejarah kembali dilakukan Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF), kali ini dilakukan di kawasan situs Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

    Melalui gerakan Siap Sadar Lingkungan (Siap Darling), BLDF mengajak mahasiswa dari berbagai kampus di Jawa Timur melakukan penanaman pohon di pelataran Candi Gapura Wringinlawang dan Candi Kedaton di kawasan Situs Trowulan.

  • Ingin Terlibat Langsung dalam Konservasi Alam? Coba Enam Cara Berikut Ini

    Ingin Terlibat Langsung dalam Konservasi Alam? Coba Enam Cara Berikut Ini

    7cloud.asia – Menyambut Hari Konservasi Alam Sedunia pada Juli lalu, Daniel Kaul menulis sebuah artikel menarik di laman earth.org.

    Ia memberi judul tulisannya dengan Hari Konservasi Alam Sedunia: Setiap Orang Harus menjadi Ilmuwan

    “Memang benar, dengan munculnya kecerdasan buatan (AI), data telah menjadi barang yang sangat berharga. Namun, hanya ada sedikit ilmuwan berbayar yang mengumpulkan data yang sangat dibutuhkan oleh para ilmuwan iklim saat ini. Di situlah Anda berperan,” tulisnya.

    Daniel yang sehari-hari menggeluti tour di bidang konservasi mengatakan bahwa dengan terlibat dalam ilmu pengetahuan, warga tidak hanya membantu para ilmuwan dan upaya konservasi.

    Proses ini juga dapat membantu membangkitkan minat generasi muda yang melek teknologi dan ramah lingkungan untuk aktif melakukan aksi iklim.

    Baca: LaporIklim dorong keterlibatan masyarakat dalam aksi iklim

    Jika Anda ingin terlibat dalam ilmu pengetahuan warga pada Hari Konservasi Alam Sedunia ini, berikut beberapa proyek yang disarankan Daniel untuk Anda lakukan:

    1. Observasi lingkungan sekitar
    Setiap orang dapat berkontribusi terhadap data iklim dengan mengamati dan mencatat pola cuaca lokal, waktu mekarnya tanaman, migrasi hewan, dan perubahan ekologi lainnya.

    Data ini dapat membantu para ilmuwan memahami dampak dan variabilitas iklim regional.

    Di Inggris misalnya, aplikasi seperti FIT Count memungkinkan orang mencatat jumlah penyerbuk lokal di wilayah tersebut.

    Di AS, Jaringan Fenologi Nasional memungkinkan pengguna mengumpulkan data tentang berbagai indikator alam, seperti jumlah hewan, waktu mekarnya bunga, dan kondisi cuaca.

    Baca: Manfaat taman kota bagi konservasi lingkungan

    2. Penginderaan jarak jauh
    Masyarakat dapat menggunakan ponsel cerdas dan perangkat lain untuk mengambil gambar dan mencatat data mengenai kualitas udara, suhu, dan faktor terkait iklim lainnya.

    Hal ini pada dasarnya menambah seluruh lapisan infrastruktur penelitian, yang berarti bahwa para ilmuwan dapat mengumpulkan data di tempat-tempat yang biasanya tidak dapat mereka akses.

    PurpleAir mendorong pengguna untuk memasang sensor kualitas udara berbiaya rendah yang dapat membantu memasukkan data secara real-time.

    Jika terjadi kebakaran hutan, misalnya, sensor tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi jumlah asap di suatu area tertentu, sehingga membantu memetakan perkembangan api secara real-time.

    Baca: Pengamatan Belantara Foundation di Taman Lapangan Banteng

    3. Memantau keanekaragaman hayati
    Pelacakan spesies dapat membantu mengatasi krisis iklim melalui data belaka. Proyek seperti iNaturalist dan eBird tidak hanya memungkinkan Anda memperbarui penampakan Anda sendiri.

    Dengan menggunakan aplikasi ini, Anda dapat membangun literasi alami Anda sendiri, karena aplikasi tersebut mengajari Anda tentang apa yang Anda amati, saat Anda mengamatinya.

    Faktanya, eBird telah menjadi salah satu proyek sains warga yang paling sukses di seluruh dunia;

    Lebih dari satu miliar observasi burung telah dicatat dari seluruh dunia, memberikan kontribusi positif bagi pengembangan studi ornitologi.

    4. Komputasi Terdistribusi
    Ilmu Pengetahuan Warga lebih dari sekadar mencatat pengamatan Anda sendiri. Banyak model iklim yang kompleks memerlukan sejumlah besar daya pemrosesan yang mahal untuk dapat dijalankan.

    Baca: Dampak perubahan iklim pada sektor pariwisata di Eropa

    Situs web seperti ClimatePrediction.Net menggunakan kekuatan pemrosesan cadangan komputer penggunanya untuk menjalankan model iklim yang kompleks.

    Dalam hal ini, pengguna dapat membantu mendukung perjuangan iklim tanpa perlu bersusah payah.

    5. Menggabungkan Ilmu Pengetahuan dengan Pariwisata
    Anda dapat terlibat dengan Citizen Science di halaman rumah Anda sendiri. Namun, saat ini semakin banyak peluang untuk membantu mendorong konservasi melalui pengumpulan data sambil menikmati waktu istirahat yang layak.

    “Sebagai operator tur, saya pribadi telah menyaksikan peningkatan besar jumlah orang yang ingin memastikan waktu istirahat mereka yang berharga juga berkontribusi terhadap perlindungan lingkungan,” terang Daniel.

    Misalnya, banyak operator tur menawarkan serangkaian perjalanan dan proyek yang digabungkan dengan aktivitas penelusuran sains warga.

    Seseorang dapat merekam kebiasaan migrasi gajah, pola pergerakan anjing liar dan hiu paus, serta jalur terbang burung, sambil membenamkan diri di beberapa habitat paling liar di bumi.

    6. Respons bencana
    Banyak proyek masyarakat yang tidak hanya membantu kita melakukan mitigasi perubahan iklim namun juga membantu kita beradaptasi terhadap dampaknya.

    Flood Network UK menyediakan pemantauan banjir secara real-time menggunakan sensor yang dipasang warga.

    Di AS, aplikasi mPing, yang dibuat oleh National Severe Storms Agency, memungkinkan pengguna mencatat dan mengkategorikan peristiwa cuaca ekstrem di wilayah mereka, yang kemudian dapat membantu menginformasikan respons bencana nasional.

    Dan di Australia, aplikasi Fireballs in the Sky membantu warga di seluruh dunia berkontribusi dalam penelitian meteorologi dan kebakaran hutan terkemuka.

    Potensi sains warga di era teknologi semakin berkembang. Kebanyakan warga negara dipersenjatai dengan komputer di saku mereka, sehingga memudahkan siapa pun untuk menjadi ilmuwan warga.

    “Hari Konservasi Alam Sedunia ini harus menjadi pengingat bahwa kita semua mempunyai peran dalam melindungi alam tempat kita bergantung.Gunakan ini sebagai sinyal untuk mengeluarkan ponsel Anda dan mulai melindungi alam, entri data satu per satu,” demikian Daniel menutup tulisannya.

    Baca artikel asli di sini

  • MADANI Berkelanjutan Ajak Kaum Muda Maluku Aktif Menangkal Krisis Iklim

    MADANI Berkelanjutan Ajak Kaum Muda Maluku Aktif Menangkal Krisis Iklim

    7cloud.asia – Provinsi Maluku memiliki lebih dari 1.340 pulau dan 93 persen wilayahnya merupakan lautan, menghadapi tantangan besar dalam pelestarian lingkungan karena adanya krisis iklim.

    Untuk menghadapi tantangan ini, MADANI Berkelanjutan mengajak kaum muda Maluku untuk berperan aktif melalui Sekolah Pembangunan pada 23-24 Agustus 2024 di kota Ambon.

    Dengan adanya Sekolah Pembangunan ini, MADANI Berkelanjutan berharap kaum muda Maluku dapat memahami dampak dari krisis iklim.

    Sekolah Pembangunan ini juga mengajak para pesertanya mengenal konsep pembangunan berkelanjutan, sehingga dapat berpartisipasi aktif dalam aksi iklim.

    Direktur Eksekutif MADANI Berkelanjutan, Nadia Hadad menegaskan pentingnya peran orang muda dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan.

    Baca Juga: Masalah Pendidikan Perubahan Iklim di Indonesia: Praktik Baik yang Telah Dilakukan

    Dia mengatakan, krisis iklim sangat berdampak kepada negara-negara kepulauan seperti Indonesia, terutama Provinsi Maluku yang memiliki banyak pulau-pulau kecil.

    Kenaikan muka air laut sangat mempengaruhi kehidupan, budaya dan pola hidup masyarakat Maluku yang umumnya tinggal di sekitar garis pantai.

    ”Jika pola pembangunan sekarang yang serba eksploitatif tidak diubah, dampaknya akan semakin parah di tahun-tahun mendatang. Karena itu orang muda punya peran penting dalam memastikan agar pembangunan tidak merusak lingkungan dan tercipta keadilan iklim,” ujar Nadia dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia.

    MADANI Berkelanjutan memiliki fokus untuk memperkuat inisiatif antar pemangku kepentingan dalam mengatasi krisis iklim.

    Lead Program Green Development MADANI Berkelanjutan, Resni Soviyana berharap dengan adanya Sekolah Pembangunan ini dapat membangun kolaborasi antara orang-orang muda, pemerintah dan stakeholder lainnya.

    Baca Juga: LaporIklim: Jembatan Berbagai Pihak untuk Berbagi Informasi dan Mencari Solusi Atasi Perubahan iklim

    ”Sekolah Pembangunan dapat menjadi wadah bagi orang-orang muda Maluku agar mereka menjadi lebih kritis dan memiliki jiwa yang peduli terhadap pelestarian dan perlindungan lingkungan, serta mampu menjadi agen perubahan,” terangnya.

    Resni berharap para peserta Sekolah Pembangunan dapat berkomitmen dan bersemangat untuk terus mengikuti seluruh rangkaian Sekolah Pembangunan yang diadakan selama satu tahun, baik secara daring maupun luring.

    Peran kaum muda, ujarnya, harus terus ditingkatkan dan diperkuat dalam setiap proses pembangunan agar terbangun rasa kepedulian akan pentingnya isu lingkungan hidup.

    “Masing-masing dari kita memiliki tanggung jawab untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan karena itu merupakan hak hidup bagi generasi selanjutnya yang kita pinjam saat ini,” pungkas Resni.

     

  • Carbon Capture Storage: Upaya Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca yang Justru Bisa Mengancam Lingkungan

    Carbon Capture Storage: Upaya Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca yang Justru Bisa Mengancam Lingkungan

    7cloud.asia – Melalui pelaksanaan The International and Indonesia CCS Forum 2024, Carbon Capture Storage tengah dipromosikan sebagai bagian dari upaya menurunkan emisi gas rumah kaca.

    Melalui teknologi Carbon Capture Storage ini karbon dioksida (CO₂) dari berbagai sumber industri (PLTU batubara, PLTG, industri baja, industri migas, dll) akan dipisahkan, diolah, dan disimpan ke dalam lokasi penyimpanan jangka panjang, biasanya ke dalam formasi geologi di bawah tanah.

    Para promotor teknologi Carbon Capture Storage menyebut cara ini bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan dengan demikian memitigasi perubahan iklim.

    Namun sesungguhnya teknologi Carbon Capture Storage adalah teknologi yang sepanjang sejarahnya gagal mencapai tujuannya, atau gagal memenuhi ekspektasi.

    Selain itu masih ada sederet potensi masalah lain di balik teknologi Carbon Capture Storage yang justru bisa berdampak negatif pada lingkungan.

    Baca: Banyak proyek Carbon Capture Storage yang gagal

    Dilansir dari laman resmi Walhi.or.id, operasi proyek Carbon Capture Storage/CCUS bisa memicu dampak negatif pada lingkungan.

    Hal ini dari peningkatan tekanan air, pengasaman laut, dan kemungkinan proyek Carbon Capture Storage memicu gempa bumi akibat penginjeksian CO₂ ke bawah tanah, serta risiko kesehatan akibat risiko kebocoran CO₂.

    Meskipun dikatakan teknologi Carbon Capture Storage telah dikembangkan sejak tahun 1970-an, sebetulnya penggunaannya secara umum dipakai untuk meningkatkan perolehan minyak (enhanced oil recovery/EOR), yaitu proses di mana CO₂ yang ditangkap disuntikkan ke ladang minyak untuk meningkatkan jumlah minyak mentah yang diekstraksi.

    Sehingga alih-alih menurunkan emisi karbon, praktek ini sesungguhnya justru mendorong peningkatan produksi bahan bakar fosil, yang pada akhirnya menyebabkan emisi karbon tambahan.

    Hal ini karena lebih dari 80 persen proyek Carbon Capture Storage digunakan untuk EOR, atau untuk produksi minyak dan gas.

    Baca: 18 Organisasi lingkungan minta kampanye Carbon Capture Storage dihentikan

    CO₂ yang terkompresi juga sangat berbahaya jika bocor dan terlepas ke permukaan, karena dapat mengakibatkan sesak napas pada manusia dan hewan.

    Pada tahun 2020, misalnya, jaringan pipa transportasi CO₂ yang merupakan bagian dari proyek EOR di Mississippi, AS mengalami kerusakan, yang kemudian mengakibatkan lebih dari 200 orang harus dievakuasi, dan 45 orang harus menjalani rawat inap karena keracunan karbon dioksida.

    Karena itu, 18 organisasi lingkungan menandatangani pernyataan bersama yang meminta Pemerintah Republik Indonesia untuk berhenti mempromosikan Carbon Capture Storage/CCUS sebagai bagian dari upaya penurunan emisi gas rumah kaca.

    Mereka juga meminta pemerintah tidak menerapkan Carbon Capture Storage/CCUS dalam kebijakan dan program transisi energi serta penanganan krisis iklim.

    “Carbon Capture Storage/CCUS tidak lebih adalah solusi palsu dari upaya mencegah pemanasan global dan krisis iklim, yang hanya dipakai dalih oleh para pemain kongsi dagang krisis untuk bisa memperpanjang penggunaan bahan bakar fosil, terus memenuhi atmosfer dengan emisi gas rumah kaca, dan memperburuk dampak pemanasan global dan krisis iklim.” demikian pernyataan yang diunggah di laman resmi Walhi Indonesia.

  • Di Melbourne, Pendidikan Lingkungan Hidup Jadi Pusat Perhatian Siswa Sejak SD

    Di Melbourne, Pendidikan Lingkungan Hidup Jadi Pusat Perhatian Siswa Sejak SD

    7cloud.asia – Sejumlah percakapan tentang lingkungan terjadi di antara para siswa SD Harkaway di Melbourne. Mereka sedang membahas tentang level kebakaran semak serta kit evakuasi di sekolah.

    Di sekolah itu, lingkungan hidup setempat menjadi pusat perhatian mereka.
    Ekologi laut, misalnya, diajarkan oleh siswa dari kelas yang lebih tinggi ke adik-adik kelasnya.

    Satwa liar asli juga dipelajari, dan kesehatan sungai kecil di dekat sekolah dipantau oleh para siswa.

    Bagi kepala SD Harkaway, Leigh Johnson, yang penting adalah para siswa dapat menjadi lebih ahli lagi mengenai lingkungan.

    Kami, ujarnya, menginginkan anak-anak kami memiliki gagasan luar biasa mengenai berbagai hal yang dapat mereka lakukan untuk membantu lingkungan mereka, untuk membantu masa depan planet, untuk memperoleh pemahaman itu,

    “Lalu melakukan hal-hal terkait itu yang dapat benar-benar membuat mereka bergairah dan penuh harapan mengenai masa depan mereka,” jelas Leigh Johnson.

    Baca: Pendidikan perubahan iklim di Indonesia

    Tetapi pendekatan ini tidak diterapkan oleh semua sekolah. Kurikulum nasional Australia diperbarui pada tahun 2022 untuk meningkatkan penekanan pada pendidikan mengenai perubahan iklim.

    Tetapi, para peneliti mengatakan para guru berhati-hati dalam memasukkan topik tersebut ke kelas mereka karena mereka menganggap topik itu terlalu kontroversial.

    Mellita Jones dari Australian Catholic University School of Education (Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Australia) mengatakan,

    “Ada sejumlah kepala sekolah dalam penelitian kami yang mengatakan, contohnya, ‘oh, perubahan iklim terlalu sulit, komunitas kami belum siap untuk itu’. Sebagian guru ada yang begitu saja menolak melakukannya.”

    Peta White dari Deakin University mengatakan ada peluang dalam kurikulum Australia untuk menjajaki topik perubahan iklim.

    Tetapi, lanjutnya, peluang tersebut tidak selalu wajib diambil, dan mereka juga tidak selalu memiliki sumber daya yang baik.

    Baca: Pendidikan perubahan iklim di Indonesia belum tepat sasaran

    Bagi Leigh Johnson, mendidik para siswa mengenai perubahan iklim pada dasarnya adalah mendidik mereka agar mampu mengatasi kecemasan yang terfokus pada ekologi. Johnson menambahkan,

    “Ada banyak gagasan yang saling bersaing mengenai apa tujuan sekolah. Tetapi jika kita dapat mengonsolidasikannya ke gagasan bahwa sekolah memberi anak-anak kebebasan, saya pikir masa depan berada di tangan yang baik.”

    Sementara itu seorang siswa, Ario Hassanzadeh berpendapat, “Saya pikir anak-anak punya hak untuk belajar hal-hal ini.”

    Menurut sebagian kalangan, pendidikan mengenai perubahan iklim harus diintegrasikan ke mata pelajaran utama sekolah untuk membantu para siswa mengatasi kecemasan yang mungkin mereka rasakan terkait topik itu.

    Akan tetapi para peneliti mengatakan pemanasan global dan topik terkait lainnya tidak dibahas para guru karena mereka khawatir akan reaksi negatif yang mungkin mereka hadapi.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Merapah Banua: Upaya Melestarikan Budaya dan Ekonomi Ramah Lingkungan di Kapuas Hulu

    Merapah Banua: Upaya Melestarikan Budaya dan Ekonomi Ramah Lingkungan di Kapuas Hulu

    7cloud.asia – Merapah Banua, demikian platform inovatif yang menghubungkan kekayaan alam dan budaya lokal Kabupaten Kapuas Hulu dengan publik ini dinamai.

    Melalui platform Merapah Banua ini, MADANI Berkelanjutan mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengembangkan potensi lokal Kabupaten Kapuas Hulu yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

    Inisiatif ini tak hanya menjadi jembatan bagi pelestarian alam dan budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi komunitas lokal Kabupaten Kapuas Hulu yang dikenal sebagai jantung bumi Borneo atau Kalimantan.

    Merapah Banua diperkenalkan secara resmi pada publik pada acara Hulu Indonesia Festival (Hi-Fest) 2024 yang diselenggarakan di Aula Paroki Kota Putussibau pada Jumat-Sabtu 30-31 Agustus 2024.

    Baca: 8 Karya Budaya Betawi Diajukan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia

    Dengan tema “Satu Bumi”, festival ini menampilkan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk memperkenalkan Merapah Banua kepada publik dengan beberapa kegiatan.

    Program Lead Komoditas Berkelanjutan di MADANI Berkelanjutan, Trias Fetra mengatakan, Merapah Banua adalah langkah nyata untuk mengangkat nilai kekayaan alam dan budaya Kapuas Hulu.

    ”Budaya, manusia dan alam merupakan satu kesatuan. Kami mengajak semua pihak untuk bersama-sama mengembangkan berbagai potensi lokal yang ada, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan dan budaya di wilayah ini maupun wilayah lain di Indonesia,” ucapnya saat peluncuran platform Merapah Banua di Kota Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Sabtu (31/8/2024).

    Nama Merapah Banua berasal dari kata “merapah” yang artinya mengembara atau menjelajah, dan “banua” yang berarti negeri atau rumah.

    Baca: Sekolah adat suku Rejang Lebong di Bengkulu

    Melalui platform ini, MADANI Berkelanjutan mengajak masyarakat luas untuk menjelajahi dan lebih mengenal berbagai potensi Kapuas Hulu, serta mendorong masyarakat di hulu pada khususnya untuk berkolaborasi dalam mengembangkan wilayah tersebut.

    Merapah Banua dirancang untuk menjadi ruang kreatif dan wadah bagi individu dan komunitas yang memiliki semangat yang sama dalam mengembangkan The Heart of Borneo.

    Melalui empat fitur utama, Merapah Banua membagikan kisah perjalanan mengeksplorasi alam dan budaya Kapuas Hulu melalui Cerita Perjalanan; mengenal kehidupan masyarakat adat Dayak dari dekat sekali bersama potensi komoditas lestari yang mereka miliki melalui Virtual Reality Tour 360°.

    Dengan Merapah Banua, publik juga bisa terhubung dengan berbagai inisiatif kelompok anak muda yang berkomitmen melestarikan warisan budaya benda dan non benda Kapuas Hulu lewat rubrik Komunitas.

    Baca: Banyak bahasa daerah di Indonesia terancam keberadaannya

    Mereka juga bisa mengapresiasi produk ramah alam dari tangan para perajin, pengusaha, dan UMKM setempat dengan berbelanja hasta karya mereka melalui pasar daring Pasar Rakyat Hulu.

    Komunitas-komunitas lokal di Kapuas Hulu memiliki potensi luar biasa. Merapah Banua hadir sebagai wadah informasi yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal, lingkungan sosial, dan budaya.

    Dengan melibatkan orang muda dari berbagai latar belakang di Kapuas Hulu, inisiatif ini dapat menyebarluaskan cerita dan nilai-nilai positif tersebut.

    ”Saya berharap, Merapah Banua dapat menjadi corong inspiratif yang mampu menggerakkan siapa pun untuk ambil bagian dalam gerakan ini,” kata Agustinus Surya Indrawan, Ketua Putussibau Art Community (PAC).

    Founder Mahakarya Tenun, Hardiyanti mengatakan bahwa Pasar Rakyat Hulu adalah langkah awal bagi UMKM di Kapuas Hulu untuk memperkenalkan produk mereka secara lebih luas.

    ”Kami berharap ini akan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal, terutama bagi para perempuan perajin tenun yang juga berperan dalam konservasi hutan,” jelas Hardiyanti yang mendirikan wadah pendokumentasian para perempuan perajin tenun Dayak Iban.

  • Separuh Ekosistem Air Tawar di Dunia Mengalami Degradasi

    Separuh Ekosistem Air Tawar di Dunia Mengalami Degradasi

    7cloud.asia – Separuh negara di dunia, mengalami degradasi di satu atau lebih tipe ekosistem air tawarnya. Degradasi air tawar ini terjadi baik di sungai, danau, maupun akuifer lainnya.

    Aliran sungai telah menurun secara signifikan, badan air tawar di permukaan menyusut atau hilang, air di lingkungan sekitar semakin tercemar, dan pengelolaan air tidak berjalan sesuai rencana.

    Demikian beberapa temuan dari tiga laporan yang melacak kemajuan dalam bidang air tawar, yang diterbitkan Rabu (28/8/2024) oleh UN-Water dan Program Lingkungan PBB (UNEP) di laman resminya, unep.org

    Rangkaian laporan tiga tahunan ini berfokus pada kemajuan dalam mencapai tujuan “air bersih dan sanitasi untuk semua” (SDG 6) melalui perlindungan dan pemulihan sumber air bersih.

    Berdasarkan kumpulan data yang lebih banyak dibandingkan sebelumnya, laporan-laporan tersebut menegaskan kembali seruan untuk meningkatkan dukungan bagi Negara-negara Anggota dalam mengatasi tantangan melalui strategi seluruh Sistem PBB untuk air dan sanitasi serta Rencana Implementasi Kolaboratif yang akan datang.

    “Planet biru kita dengan cepat kehilangan sumber daya dan air tawar yang sehat, sehingga menimbulkan prospek yang buruk bagi ketahanan pangan, perubahan iklim dan keanekaragaman hayati,” kata Dianna Kopansky, Kepala Unit Air Tawar dan Lahan Basah, Divisi Ekosistem UNEP.

    Baca: KLHK sebut kualitas air tawar Indonesia alami perbaikan

    Pada titik kritis ini, lanjutnya, komitmen politik global untuk pengelolaan air berkelanjutan semakin tinggi, termasuk melalui disahkannya resolusi air pada Majelis Lingkungan Hidup PBB yang terakhir pada bulan Februari 2024.

    Namun, sayangnya resolusi tersebut tidak diimbangi dengan pendanaan atau tindakan yang diperlukan.

    “Kebijakan perlindungan dan restorasi, yang disesuaikan untuk berbagai wilayah, mampu menghentikan kerugian lebih lanjut dan menunjukkan bahwa pemulihan degradasi dapat dilakukan. Kami benar-benar membutuhkan lebih banyak dari mereka.” imbuh Kopansky.

    Degradasi yang meluas
    Dalam laporan itu disebutkan, 90 negara yang sebagian besar di Afrika, Asia Tengah dan Tenggara, mengalami degradasi satu atau lebih ekosistem air tawar.

    Wilayah lain, seperti Oseania, mencatat adanya perbaikan. Polusi, bendungan, konversi lahan, abstraksi berlebihan, dan perubahan iklim berkontribusi terhadap degradasi ekosistem air tawar.

    Dipengaruhi oleh perubahan iklim dan penggunaan lahan, aliran sungai mengalami penurunan di 402 wilayah sungai di seluruh dunia – peningkatan lima kali lipat sejak tahun 2000. Peningkatan aliran sungai dalam jumlah yang jauh lebih kecil.

    Baca: DKI Jakarta terancam alami krisis air bersih

     

    Hilangnya hutan bakau karena aktivitas manusia (misalnya budidaya perikanan dan pertanian) menimbulkan risiko bagi masyarakat pesisir, sumber daya air tawar, keanekaragaman hayati, dan iklim karena sifat penyaringan air dan penyerapan karbonnya.

    Penurunan jumlah hutan bakau secara signifikan dilaporkan terjadi di Asia Tenggara, meskipun laju deforestasi secara keseluruhan telah menurun dalam satu dekade terakhir.

    Danau dan badan air permukaan lainnya menyusut atau hilang seluruhnya di 364 cekungan di seluruh dunia.

    Tingginya tingkat partikel dan nutrisi di banyak danau besar dapat menyebabkan pertumbuhan alga dan perairan yang rendah oksigen, terutama disebabkan oleh pembukaan lahan dan urbanisasi, serta kejadian cuaca tertentu.

    Namun demikian, pembangunan waduk berkontribusi terhadap perolehan air permanen secara global, terutama di wilayah seperti Amerika Utara, Eropa, dan Asia.

  • Dampak Hilangnya Keanekaragaman Hayati pada Lingkungan dan Kehidupan Manusia

    Dampak Hilangnya Keanekaragaman Hayati pada Lingkungan dan Kehidupan Manusia

    7cloud.asia – Dalam beberapa tahun terakhir, dunia telah menyaksikan hilangnya keanekaragaman hayati dalam skala besar yang antara lain disebabkan oleh perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.

    Hilangnya keanekaragaman hayati juga dipicu hilangnya dan fragmentasi habitat, perburuan berlebihan, dan penangkapan ikan berlebihan.

    Keanekaragaman hayati menggambarkan kekayaan dan keanekaragaman kehidupan di bumi. Mencakup tiga aspek utama yang dikenal sebagai keanekaragaman genetik, keanekaragaman spesies, dan keanekaragaman ekosistem.

    Hal ini mencakup berbagai tingkatan, mulai dari gen dan individu hingga populasi, habitat, ekosistem, proses ekologi, dan keterkaitan antara bentuk-bentuk keanekaragaman ini.

    Tanpa keanekaragaman hayati, jaringan rumit yang menopang segala bentuk kehidupan tidak akan ada.

    Sesuai dengan namanya, hilangnya keanekaragaman hayati mengacu pada berkurangnya atau hilangnya keanekaragaman hayati.

    Fenomena ini mencakup berkurangnya keanekaragaman organisme hidup, mulai dari gen, spesies, hingga ekosistem, di seluruh planet ini.

    Pada tahun 2019, PBB bekerja sama dengan Platform Kebijakan Sains Antarpemerintah tentang Keanekaragaman Hayati dan Jasa Ekosistem (IPBES), merilis laporan mengenai peringatan keanekaragaman hayati.

    Baca: Lebih dari 44.000 spesies terancam punah

    Laporan itu menyebut dari sekitar 8juta spesies di Bumi, sekitar 1juta kini terancam punah, dengan banyak diantaranya yang terancam punah dalam beberapa dekade.

    Angka ini merupakan jumlah yang lebih besar dari yang pernah tercatat dalam sejarah umat manusia.

    Ini bukan satu-satunya penelitian yang mengungkap realitas nyata soal keanekaragaman hayati yang kita hadapi saat ini.

    Pada tahun 2022, World Wildlife Fund (WWF) dan Zoological Society of London menggunakan Living Planet Index (LPI) untuk mengukur rata-rata penurunan populasi satwa liar yang dipantau.

    Mereka menemukan bahwa antara tahun 1970 dan 2018, rata-rata terjadi penurunan ukuran populasi sebesar 69persen pada 31.821 spesies yang diteliti.

    Selain itu, laporan tersebut menemukan bahwa 75persen permukaan tanah mengalami perubahan signifikan, 66persen wilayah lautan mengalami peningkatan dampak kumulatif, dan lebih dari 85persen lahan basah telah hilang.

    Hilangnya keanekaragaman hayati mempunyai dampak destruktif yang luas dan berjangka panjang.

    Baca: Hilangnya keanekaragaman hayati jadi masalah serius bagi lingkungan

    Hilangnya stabilitas ekosistem
    Sama seperti setiap bagian sangat penting dalam teka-teki gambar yang terperinci, setiap elemen dalam suatu ekosistem berkontribusi terhadap keseimbangan dan fungsi ekosistem tersebut.

    Keanekaragaman hayati adalah kunci untuk mempertahankan kekuatan dan kemampuan beradaptasi ekosistem, meningkatkan stabilitas dan ketahanan terhadap tantangan seperti perubahan iklim, wabah penyakit, dan spesies invasif.

    Itu sebabnya, penurunan keanekaragaman hayati dapat mengurangi kemampuan dan ketahanan ekosistem untuk pulih dari gangguan tersebut, sehingga meningkatkan risiko keruntuhan ekosistem.

    Hal ini dapat menyebabkan peningkatan erosi tanah, yang tidak hanya berdampak pada produktivitas pertanian namun juga mengganggu kemampuan ekosistem dalam mendukung kehidupan tanaman dan hewan.

    Penurunan fungsi ekosistem
    Keanekaragaman hayati menawarkan barang dan manfaat penting yang penting bagi kehidupan di Bumi.

    Jasa ekosistem ini, yang mencakup kontribusi langsung dan tidak langsung ekosistem terhadap kesejahteraan manusia, sangat penting bagi kelangsungan hidup dan kualitas hidup kita.

    Hal ini mencakup fungsi-fungsi seperti pemurnian air dan udara, pembentukan tanah, penyerbukan, penyerapan karbon, dan pengaturan iklim yang semuanya disediakan oleh keanekaragaman hayati.

    Menurunnya keanekaragaman hayati dapat mengganggu fungsi-fungsi tersebut, sehingga menyebabkan penurunan kualitas lingkungan.

    Baca: Kekayaan keanekaragaman hayati di Indonesia

    Misalnya, hutan bertindak sebagai penyerap karbon, menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer dan mengembalikan oksigen ke atmosfer melalui proses fotosintesis.

    Deforestasi dapat meningkatkan gas rumah kaca secara besar-besaran di atmosfer, sehingga memerangkap lebih banyak panas dan memperburuk pemanasan global.

    Bahayakan kesehatan
    Selain dampaknya terhadap ekosistem, hilangnya keanekaragaman hayati juga berdampak pada kesehatan manusia.

    Kita sangat bergantung pada barang dan jasa ekosistem, seperti penyediaan air bersih, makanan, dan sumber bahan bakar, untuk menjaga kesejahteraan kita dan memastikan penghidupan yang berkelanjutan.

    Hilangnya keanekaragaman hayati dapat mengakibatkan jasa ekosistem tidak lagi cukup memenuhi kebutuhan sosial.

    Di beberapa wilayah, hingga 95persen lahan basah telah hilang dan dua pertiga sungai terbesar di dunia kini terfragmentasi oleh bendungan dan waduk.

    Ekosistem yang semakin berkurang ini menimbulkan ancaman besar bagi mereka yang secara langsung bergantung pada lahan basah untuk pasokan penting seperti air tawar dan ikan.

    Sumber:earth.org