Merapah Banua: Upaya Melestarikan Budaya dan Ekonomi Ramah Lingkungan di Kapuas Hulu

Written by

in

7cloud.asia – Merapah Banua, demikian platform inovatif yang menghubungkan kekayaan alam dan budaya lokal Kabupaten Kapuas Hulu dengan publik ini dinamai.

Melalui platform Merapah Banua ini, MADANI Berkelanjutan mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengembangkan potensi lokal Kabupaten Kapuas Hulu yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Inisiatif ini tak hanya menjadi jembatan bagi pelestarian alam dan budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi komunitas lokal Kabupaten Kapuas Hulu yang dikenal sebagai jantung bumi Borneo atau Kalimantan.

Merapah Banua diperkenalkan secara resmi pada publik pada acara Hulu Indonesia Festival (Hi-Fest) 2024 yang diselenggarakan di Aula Paroki Kota Putussibau pada Jumat-Sabtu 30-31 Agustus 2024.

Baca: 8 Karya Budaya Betawi Diajukan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Dengan tema “Satu Bumi”, festival ini menampilkan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk memperkenalkan Merapah Banua kepada publik dengan beberapa kegiatan.

Program Lead Komoditas Berkelanjutan di MADANI Berkelanjutan, Trias Fetra mengatakan, Merapah Banua adalah langkah nyata untuk mengangkat nilai kekayaan alam dan budaya Kapuas Hulu.

”Budaya, manusia dan alam merupakan satu kesatuan. Kami mengajak semua pihak untuk bersama-sama mengembangkan berbagai potensi lokal yang ada, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan dan budaya di wilayah ini maupun wilayah lain di Indonesia,” ucapnya saat peluncuran platform Merapah Banua di Kota Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Sabtu (31/8/2024).

Nama Merapah Banua berasal dari kata “merapah” yang artinya mengembara atau menjelajah, dan “banua” yang berarti negeri atau rumah.

Baca: Sekolah adat suku Rejang Lebong di Bengkulu

Melalui platform ini, MADANI Berkelanjutan mengajak masyarakat luas untuk menjelajahi dan lebih mengenal berbagai potensi Kapuas Hulu, serta mendorong masyarakat di hulu pada khususnya untuk berkolaborasi dalam mengembangkan wilayah tersebut.

Merapah Banua dirancang untuk menjadi ruang kreatif dan wadah bagi individu dan komunitas yang memiliki semangat yang sama dalam mengembangkan The Heart of Borneo.

Melalui empat fitur utama, Merapah Banua membagikan kisah perjalanan mengeksplorasi alam dan budaya Kapuas Hulu melalui Cerita Perjalanan; mengenal kehidupan masyarakat adat Dayak dari dekat sekali bersama potensi komoditas lestari yang mereka miliki melalui Virtual Reality Tour 360°.

Dengan Merapah Banua, publik juga bisa terhubung dengan berbagai inisiatif kelompok anak muda yang berkomitmen melestarikan warisan budaya benda dan non benda Kapuas Hulu lewat rubrik Komunitas.

Baca: Banyak bahasa daerah di Indonesia terancam keberadaannya

Mereka juga bisa mengapresiasi produk ramah alam dari tangan para perajin, pengusaha, dan UMKM setempat dengan berbelanja hasta karya mereka melalui pasar daring Pasar Rakyat Hulu.

Komunitas-komunitas lokal di Kapuas Hulu memiliki potensi luar biasa. Merapah Banua hadir sebagai wadah informasi yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal, lingkungan sosial, dan budaya.

Dengan melibatkan orang muda dari berbagai latar belakang di Kapuas Hulu, inisiatif ini dapat menyebarluaskan cerita dan nilai-nilai positif tersebut.

”Saya berharap, Merapah Banua dapat menjadi corong inspiratif yang mampu menggerakkan siapa pun untuk ambil bagian dalam gerakan ini,” kata Agustinus Surya Indrawan, Ketua Putussibau Art Community (PAC).

Founder Mahakarya Tenun, Hardiyanti mengatakan bahwa Pasar Rakyat Hulu adalah langkah awal bagi UMKM di Kapuas Hulu untuk memperkenalkan produk mereka secara lebih luas.

”Kami berharap ini akan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal, terutama bagi para perempuan perajin tenun yang juga berperan dalam konservasi hutan,” jelas Hardiyanti yang mendirikan wadah pendokumentasian para perempuan perajin tenun Dayak Iban.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *