7cloud.asia – Melalui pelaksanaan The International and Indonesia CCS Forum 2024, Carbon Capture Storage tengah dipromosikan sebagai bagian dari upaya menurunkan emisi gas rumah kaca.
Melalui teknologi Carbon Capture Storage ini karbon dioksida (CO₂) dari berbagai sumber industri (PLTU batubara, PLTG, industri baja, industri migas, dll) akan dipisahkan, diolah, dan disimpan ke dalam lokasi penyimpanan jangka panjang, biasanya ke dalam formasi geologi di bawah tanah.
Para promotor teknologi Carbon Capture Storage menyebut cara ini bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan dengan demikian memitigasi perubahan iklim.
Namun sesungguhnya teknologi Carbon Capture Storage adalah teknologi yang sepanjang sejarahnya gagal mencapai tujuannya, atau gagal memenuhi ekspektasi.
Selain itu masih ada sederet potensi masalah lain di balik teknologi Carbon Capture Storage yang justru bisa berdampak negatif pada lingkungan.
Baca: Banyak proyek Carbon Capture Storage yang gagal
Dilansir dari laman resmi Walhi.or.id, operasi proyek Carbon Capture Storage/CCUS bisa memicu dampak negatif pada lingkungan.
Hal ini dari peningkatan tekanan air, pengasaman laut, dan kemungkinan proyek Carbon Capture Storage memicu gempa bumi akibat penginjeksian CO₂ ke bawah tanah, serta risiko kesehatan akibat risiko kebocoran CO₂.
Meskipun dikatakan teknologi Carbon Capture Storage telah dikembangkan sejak tahun 1970-an, sebetulnya penggunaannya secara umum dipakai untuk meningkatkan perolehan minyak (enhanced oil recovery/EOR), yaitu proses di mana CO₂ yang ditangkap disuntikkan ke ladang minyak untuk meningkatkan jumlah minyak mentah yang diekstraksi.
Sehingga alih-alih menurunkan emisi karbon, praktek ini sesungguhnya justru mendorong peningkatan produksi bahan bakar fosil, yang pada akhirnya menyebabkan emisi karbon tambahan.
Hal ini karena lebih dari 80 persen proyek Carbon Capture Storage digunakan untuk EOR, atau untuk produksi minyak dan gas.
Baca: 18 Organisasi lingkungan minta kampanye Carbon Capture Storage dihentikan
CO₂ yang terkompresi juga sangat berbahaya jika bocor dan terlepas ke permukaan, karena dapat mengakibatkan sesak napas pada manusia dan hewan.
Pada tahun 2020, misalnya, jaringan pipa transportasi CO₂ yang merupakan bagian dari proyek EOR di Mississippi, AS mengalami kerusakan, yang kemudian mengakibatkan lebih dari 200 orang harus dievakuasi, dan 45 orang harus menjalani rawat inap karena keracunan karbon dioksida.
Karena itu, 18 organisasi lingkungan menandatangani pernyataan bersama yang meminta Pemerintah Republik Indonesia untuk berhenti mempromosikan Carbon Capture Storage/CCUS sebagai bagian dari upaya penurunan emisi gas rumah kaca.
Mereka juga meminta pemerintah tidak menerapkan Carbon Capture Storage/CCUS dalam kebijakan dan program transisi energi serta penanganan krisis iklim.
“Carbon Capture Storage/CCUS tidak lebih adalah solusi palsu dari upaya mencegah pemanasan global dan krisis iklim, yang hanya dipakai dalih oleh para pemain kongsi dagang krisis untuk bisa memperpanjang penggunaan bahan bakar fosil, terus memenuhi atmosfer dengan emisi gas rumah kaca, dan memperburuk dampak pemanasan global dan krisis iklim.” demikian pernyataan yang diunggah di laman resmi Walhi Indonesia.

Leave a Reply