Tag: perubahan iklim

  • Dampak Perubahan Iklim Bagi Pengemudi Ojek Online: Tak Ada Tempat Berteduh dan Tak Punya Pilihan

    Dampak Perubahan Iklim Bagi Pengemudi Ojek Online: Tak Ada Tempat Berteduh dan Tak Punya Pilihan

     

    7cloud.asia – Perubahan iklim membuat anomali cuaca di berbagai kota besar, terutama di Jakarta, makin menjadi-jadi. Ketika panas tiba-tiba hujan, ketika hujan tiba-tiba panas. Semuanya tak menentu.

    Bagi para pekerja kantoran, kondisi ini masih bisa diacuhkan karena mereka bekerja di ruangan tertutup dan ber-AC. Namun, beda cerita bagi para pengemudi ojek online (ojol) atau pun kurir, mereka tidak bisa mengeluh terhadap panas terik maupun hujan.

    Sepanjang tahun, suhu maksimum Jakarta bertahan di kisaran 30-32°C. Tetapi dengan kelembapan yang konsisten di atas 70 persen, panasnya terasa seperti 35-39°C. Inilah beban panas yang ditanggung pengemudi ojek online setiap hari di jalan.

    Musim hujan pun tidak berarti membuat kondisi lebih baik meski udara jadi lebih adem. Curah hujan di Jakarta tak pernah mengendur dari November – April: konsisten di atas 115 mm, puncaknya di Maret dengan 144 mm. Genangan bahkan banjir makin sering muncul, macet dan waktu tempuh perjalanan berlipat-lipat jadinya.

    Masalahnya, survei dari Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) mengungkapkan bahwa 68,9 persen pengemudi ojol di wilayah Jabodetabek bekerja lebih dari 16 jam per hari.

    Dengan tempat berteduh yang sangat minim, bahkan tanpa risiko iklim sekalipun, para pengemudi ojol sudah mengalami kelelahan ekstrem.

    Beban bertambah karena cuaca ekstrem

    Perubahan cuaca yang kian ekstrem melipatgandakan beban para mitra ojol. Banjir membuat rute perjalanan menjadi lebih panjang, durasi pengantaran meningkat, jalanan licin, dan jarak pandang berkurang. Sementara cuaca panas memicu dehidrasi dan kelelahan lebih cepat.

    Rentetan masalah tersebut tidak hanya mengurangi kenyamanan, tetapi juga meningkatkan risiko kesehatan dan keselamatan bagi para ojol.

    Sayangnya algoritma tidak mengenali stres akibat panas, dehidrasi, atau kelelahan fisik. Mesin ini juga tidak memperlambat tuntutan kerja ketika hujan petir yang membuat jalanan menjadi berbahaya.

    Memang benar bahwa para pekerja bisa masuk dan keluar aplikasi, menerima atau menolak pesanan, serta memilih kapan akan bekerja. Namun, sistem terus mengevaluasi performa mereka berdasarkan kecepatan respons, tingkat penerimaan pesanan, dan lama waktu online

    Temuan empiris dari data transaksi yang sangat besar milik salah satu perusahaan ride-hailing terkemuka di Asia menunjukkan algoritma lebih menguntungkan pengemudi yang bekerja lebih lama.

    Mereka memperoleh pendapatan per jam sekitar 8% lebih tinggi. Hal ini menunjukkan adanya potensi kehilangan pendapatan akibat risiko iklim yang diperkuat oleh algoritma.

    Dan parahnya, kerangka regulasi terkait jaminan sosial dan perlindungan pekerja belum mencakup risiko iklim ini. Belum ada standar ketenagakerjaan yang berbasis kondisi cuaca.

    Di sektor formal, kondisi ekstrem bisa memicu protokol keselamatan atau penghentian kerja sementara. Sedangkan dalam sudut pandang sektor informal atau pekerja gig, cuaca masih dianggap sebagai ketidaknyamanan pribadi, bukan sebagai risiko kerja.

    Perlindungan juga belum cukup memadai. Peraturan Presiden (Perpres) No. 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online hanya sebatas memberikan akses jaminan kesehatan nasional (JKN), dan jaminan kecelakaan kerja (JKK) di samping potongan komisi maksimal 8 persen.

    Kurangnya perlindungan sosial memperburuk risiko kesehatan, bahaya keselamatan, dan risiko iklim yang diperbesar oleh algoritma.

    Kondisi ini juga menimbulkan tekanan psikologis akibat ketidakpastian keselamatan dan pendapatan selama peristiwa cuaca ekstrem, sehingga biaya kemanusiaan akibat perubahan iklim yang ditanggung pekerja ojol menjadi semakin kompleks dan berlapis. 

    Perubahan segera sangat mendesak 

    Setidaknya ada tiga hal yang mesti segera dipertimbangkan oleh pemerintah untuk melindungi pengemudi ojol dari cuaca ekstrem.

    Pertama, memperluas cakupan Perpres 27 Tahun 2026 dengan memasukkan perlindungan pekerjaan platform yang adaptif terhadap iklim, dengan mengakui paparan iklim sebagai risiko keselamatan dan kesehatan kerja yang formal bagi pengemudi ojol.

    Sebagai contoh, pekerjaan luar ruangan berbasis aplikasi dan sesuai permintaan (on-demand) dapat dikategorikan sebagai pekerjaan berisiko tinggi.

    Pemerintah juga dapat menetapkan standar perlindungan minimum terhadap panas dan badai berdasarkan indikator ilmiah yang objektif, seperti heat index atau Wet-Bulb Globe Temperature (WBGT).

    Departemen Tenaga Kerja New York, misalnya, telah menerapkan kebijakan serupa dengan memberikan waktu istirahat berbayar bagi pekerja pengantaran ketika heat index mencapai 80 derajat Fahrenheit (27 derajat Celsius), serta menyediakan waktu istirahat yang lebih sering saat cuaca dingin ekstrem.

    Kedua, pemerintah perlu memandatkan kewajiban transparansi algoritma dan protokol operasi yang aman bagi penyedia platform.

    Contohnya melalui aturan yang dapat diaudit terkait alokasi tugas, sistem insentif, dan melonggarkan aturan penurunan peringkat pengemudi (de-ranking) selama cuaca ekstrem, serta mewajibkan mekanisme intervensi manusia (human-in-the-loop) demi keselamatan kerja.

    Ketiga, memastikan implementasi perlindungan sosial yang adaptif bagi pekerja gig. Penelitian terbaru dari Populi Center mengusulkan mekanisme pendaftaran otomatis (auto-enrolment) pekerja gig sebagai peserta BPJS melalui integrasi data dengan penyedia platform.

    Selain itu, untuk meningkatkan partisipasi, khususnya JKK lewat BPJS Keternagakerjaan yang masih minim, model iuran perlu didesain ulang melalui skema pembagian kontribusi (shared contributions) guna mengurangi beban individu.

    Pemerintah dapat memberikan subsidi sebagai bagian dari strategi perlindungan sosial, platform dapat mengalokasikan sebagian biaya transaksi, dan pekerja sendiri menyumbangkan persentase kecil dari pendapatannya.

    Tanpa teduh, tanpa istirahat, tanpa pilihan merupakan realitas yang dihadapi ribuan pekerja yang harus beroperasi di tengah cuaca ekstrem Jakarta.

    Tanpa tindakan kebijakan yang mendesak dan akuntabilitas dari platform digital, biaya kemanusiaan akibat perubahan iklim akan terus meningkat.


    La Ode Rifaldi Nedan Prakasa, Research Assistant, The University of Western Australia

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • ICW Soroti Korupsi dalam Transisi Energi dan Kebijakan Iklim

    ICW Soroti Korupsi dalam Transisi Energi dan Kebijakan Iklim

    7cloud.asia – Di tengah berbagai upaya penanganan perubahan iklim, persoalan tata kelola dan korupsi masih menjadi hambatan serius dalam mewujudkan transisi energi yang adil dan berkelanjutan.

    Padahal, perubahan iklim semakin nyata dirasakan masyarakat. Banjir rob, cuaca ekstrem, penurunan kualitas udara, hingga hilangnya ruang hidup masyarakat pesisir menunjukkan bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan situasi yang sedang berlangsung saat ini.

    Demikian terungkap dalam kampanye End Climate Corruption yang digelar ICW lewat penyelenggaraan aksi video mapping di Kampung Dadap, Kabupaten Tangerang, pada 12 Juni 2026.

    Kampung Dadap yang berhadapan langsung dengan pantai utara dipilih karena menjadi salah satu kawasan pesisir yang berada di garis depan dampak perubahan iklim.

    Ancaman kenaikan muka air laut, degradasi lingkungan pesisir, serta berbagai tekanan pembangunan yang tidak selalu melibatkan partisipasi masyarakat menunjukkan bagaimana kelompok rentan kerap menanggung beban terbesar dampak perubahan iklim

    Melalui proyeksi visual di ruang publik, ICW menyampaikan pesan mengenai hubungan antara korupsi, eksploitasi sumber daya alam, dan perubahan iklim yang semakin dirasakan masyarakat.

    Aksi ini juga dipadukan dengan performance art berupa teatrikal olah tubuh yang dibawakan oleh pemuda Kampung Dadap.

    Melalui gerak tubuh, para pemuda menghadirkan narasi tentang kehilangan, ketahanan, dan perlawanan masyarakat pesisir di tengah krisis iklim dan tekanan pembangunan yang mengabaikan keadilan ekologis.

    Melalui kegiatan ini, ICW ingin menegaskan bahwa penyelesaian krisis iklim tidak cukup dilakukan melalui pendekatan teknologi dan investasi semata.

    Transisi energi harus berjalan seiring dengan perbaikan tata kelola, penguatan pengawasan publik, serta jaminan partisipasi masyarakat dalam setiap proses pengambilan kebijakan.

    Tanpa itu, agenda transisi energi berisiko melahirkan bentuk-bentuk ketidakadilan baru dan membuka ruang bagi praktik korupsi yang semakin sulit diawasi.

    ICW mengajak masyarakat untuk mengawal berbagai kebijakan dan proyek yang mengatasnamakan transisi energi agar benar-benar berpihak pada kepentingan publik, menghormati hak masyarakat terdampak, serta berkontribusi pada upaya penanganan krisis iklim yang berkeadilan.

    Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai bahwa agenda transisi energi yang saat ini didorong pemerintah dan sektor swasta tidak dapat dilepaskan dari persoalan transparansi, akuntabilitas, serta partisipasi publik.

    Tanpa pengawasan yang kuat, transisi energi berisiko menjadi arena baru bagi praktik korupsi, konflik kepentingan, dan penguasaan sumber daya oleh segelintir kelompok ekonomi-politik.

    Dalam pernyataan tertulisnya kepada 7cloud.asia, Kamis (18/6/2026) ICW menegaskan bahwa beberapa tahun terakhir, investasi dan proyek yang mengatasnamakan transisi energi terus meningkat.

    Namun, berbagai persoalan tata kelola masih terus ditemukan, mulai dari pengelolaan sumber daya mineral kritis, proses perizinan proyek energi, hingga minimnya keterlibatan masyarakat terdampak dalam pengambilan keputusan.

    Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya mengatasi krisis iklim dapat kehilangan tujuan utamanya apabila hanya berfokus pada pergantian sumber energi tanpa memperbaiki tata kelola yang melingkupinya.

    ICW menyebut fenomena tersebut sebagai climate corruption, yaitu situasi ketika kebijakan, proyek, atau investasi yang diklaim sebagai solusi terhadap perubahan iklim justru dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi dan politik tertentu.

    Dalam kondisi demikian, transisi energi berpotensi menjadi sekadar perpindahan pusat keuntungan dari industri ekstraktif lama menuju proyek-proyek yang diberi label hijau, tanpa menghadirkan keadilan bagi masyarakat maupun lingkungan.

  • El Niño Memicu Gelombang Panas, Simak Cara untuk Tetap Dingin yang Lebih Ramah Lingkungan

    El Niño Memicu Gelombang Panas, Simak Cara untuk Tetap Dingin yang Lebih Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Perubahan iklim dan pemanasan global mengakibatkan gelombang panas semakin sering terjadi dan semakin intens.

    Dilansir unep.org, gelombang panas sudah menyebabkan hampir 500.000 kematian setiap tahunnya, semakin sering terjadi, semakin intens, dan semakin berbahaya.

    Gelombang panas ini sangat dirasakan di Eropa, di mana suhu minggu ini melonjak mendekati 40°C, memicu peringatan panas di 26 negara, menurut laporan media.

    Panas dapat dengan cepat menjadi risiko kesehatan yang serius, terutama bagi lansia, anak-anak, pekerja luar ruangan, perempuan hamil, dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

    Itulah mengapa para ahli mengatakan penting untuk bersiap-siap, selain tentunya menurunkan emisi karbon agar pemanasan ini bisa ditekan

    Untuk membantu, staf di Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menawarkan beberapa kiat tentang cara mendinginkan rumah dan lingkungan Anda, ketika suhu melonjak.

    Baca: Kencangkan Suara untuk Mendesak Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

    1. Siapkan rumah untuk suhu tinggi
    Panas ekstrem lebih mudah dikelola jika Anda merencanakannya terlebih dahulu. Periksa prakiraan cuaca dan peringatan panas agar Anda tahu kapan kondisi berbahaya diperkirakan akan terjadi.

    Pastikan kipas angin, lemari es, dan peralatan pendingin lainnya berfungsi dengan baik.

    Siapkan persediaan air minum dan obat-obatan penting, dan identifikasi tempat-tempat sejuk yang dapat Anda kunjungi jika rumah Anda terlalu panas.

    2. Halangi sinar matahari
    Tutup tirai, kerai, dan penutup jendela yang menghadap matahari di siang hari.

    Peneduh eksternal seperti tenda, tirai bambu, atau vegetasi bekerja lebih baik lagi dengan menghalangi panas matahari sebelum mencapai kaca.

    Setelah suhu luar ruangan turun di malam hari, buka jendela di sisi berlawanan rumah Anda untuk mengeluarkan panas yang tersimpan. Tutup semuanya kembali sebelum pagi untuk menjaga udara yang lebih dingin di dalam.

    Baca: Tanda-tanda Godzilla El Niño Semakin Nyata

    3. Cobalah untuk tetap sejuk tanpa AC
    AC dapat menyelamatkan nyawa selama cuaca panas ekstrem, tetapi ketergantungan yang luas pada pendinginan yang tidak efisien dapat meningkatkan permintaan energi dan berkontribusi pada perubahan iklim.

    Jika memungkinkan, kombinasikan pendinginan yang efisien dengan tindakan pasif yang menjaga bangunan tetap lebih dingin secara alami.

    Kipas angin menggunakan energi jauh lebih sedikit daripada AC dan membantu orang merasa lebih sejuk dengan meningkatkan aliran udara di kulit.

    Teknik pendinginan tradisional dapat membantu lebih banyak lagi. Di beberapa bagian Asia Selatan, tirai dari rumput vetiver (khus) yang dibasahi telah lama ditempatkan di atas jendela sehingga udara yang masuk didinginkan secara alami saat air menguap.

    Peneduh, ventilasi silang, penutup jendela, atap dingin, dan bangunan yang dirancang dengan baik juga dapat mencegah panas masuk, mengurangi kebutuhan akan pendingin ruangan.

    Untuk jangka panjang, UNEP telah lama menyerukan untuk menekan penggunaan energi fosil, memperbanyak menanam pohon, memperbanyak ruang terbuka hijau untuk kota dan lingkungan yang lebih tahan pada gelombang panas.

    Pohon, taman, atap hijau, dan vegetasi lainnya membantu mendinginkan lingkungan dengan memberikan naungan dan melepaskan kelembapan ke udara. 

    Baca: Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca dari Isi Piring Kamu

  • Tak Ada Solusi Tunggal untuk Hadapi Dampak Perubahan Iklim: Pelibatan Masyarakat Tapak Sangat Penting

    Tak Ada Solusi Tunggal untuk Hadapi Dampak Perubahan Iklim: Pelibatan Masyarakat Tapak Sangat Penting

    7cloud.asia – Perwakilan Adaptation Fund, Hugo Remaury menegaskan bahwa keberhasilan adaptasi perubahan iklim sangat bergantung pada kemampuan menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

    Hal ini diungkapkannya dalam Seminar nasional Seminar Nasional Adaptasi Perubahan Iklim yang diselenggarakan KEMITRAAN bersama Kementerian Lingkungan Hidup dengan dukungan Adaptation Fund (AF) yang dipantau secara daring pada Rabu (24/6/2026).

    Masyarakat yang berada di garis depan menghadapi dampak perubahan iklim bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga sumber pengetahuan dan inovasi.

    “Pengalaman di Indonesia menunjukkan bahwa ketika pendanaan iklim dipadukan dengan kepemilikan lokal, kepemimpinan masyarakat, dan kolaborasi yang kuat, dampak yang dihasilkan menjadi lebih inklusif, berkelanjutan, serta responsif terhadap kebutuhan nyata masyarakat,” ujarnya.

    Ia menambahkan bahwa berbagai pembelajaran dari lokasi-lokasi proyek di Indonesia dapat menjadi contoh bagaimana investasi dalam adaptasi perubahan iklim mampu menghasilkan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan secara bersamaan.

    Hugo menambahkan, organisasinya mendukung berbagai inisiatif yang bertujuan memperkuat ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

    Adaptation Fund (AF) merupakan mekanisme pendanaan internasional yang dibentuk sebagai bagian dari komitmen global untuk mendukung berbagai inisiatif masyarakat dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim.

    Adaptation Fund dibentuk berdasarkan keputusan Konferensi Para Pihak (COP) dalam Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), dengan tujuan membiayai proyek dan program yang membantu masyarakat rentan di negaranegara berkembang beradaptasi terhadap perubahan iklim.

    “Pendanaan tersebut didasarkan pada kebutuhan, pandangan, dan prioritas masing-masing negara,” jelasnya.

    Sementara itu, Direktur Eksekutif KEMITRAAN, Nurina Widagdo, menekankan bahwa setiap wilayah memiliki tantangan iklim yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang kontekstual.

    Dia menegaskan tidak ada solusi tunggal yang cocok diterapkan untuk semua wilayah.

    “Apa yang dipelajari KEMITRAANi dari Pekalongan, Bulukumba, Tana Toraja dan tiga daerah lain di Sulawesi Selatan, dan Samarinda adalah bahwa keberhasilan adaptasi lahir dari kemampuan mempertemukan kebutuhan masyarakat, komitmen pemerintah, pengetahuan lokal, dan dukungan berbagai mitra dalam satu ruang kolaborasi,“ ujarnya.

    Menurut Nurina, penguatan ketahanan iklim harus berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas masyarakat dan penciptaan alternatif penghidupan yang berkelanjutan.

    “Adaptasi bukan hanya tentang bertahan menghadapi dampak perubahan iklim, tetapi memastikan masyarakat memiliki kapasitas, sumber daya, dan peluang untuk tetap berkembang di tengah perubahan yang terjadi.”

    Dia menambahkan, selain mengimplementasikan program di Kota Pekalongan dan Jawa Tengah, KEMITRAAN juga bekerja sama dengan organisasi non pemerintah lainnya.

    Di Sulawesi Selatan misalnya, KEMITRAAN menggandeng Tim Layanan Kehutanan Masyarakat (TLKM), Organisasi Aksi Sosial & Ekologi (OASE), dan SRP Payopayo. Sementara di Kabupaten Maluku Tengah Bersama Harmoni Alam Indonesia (HAI), serta di Kota Samarinda bersama Center for Climate and Urban Resilience (CeCUR).

    Terpilihnya KEMITRAAN untuk aksi adaptasi iklim menurutnya merupakan peluang bagi Indonesia untuk dapat mengakses pendanaan iklim internasional.

    “Kepercayaan Adaptation Fund kepada KEMITRAAN menunjukkan bahwa lembaga nasional Indonesia mampu memenuhi standar internasional dalam mengelola pendanaan iklim. Akreditasi ini membuka peluang agar lebih banyak pendanaan global dapat langsung menjangkau masyarakat yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.”

    Seminar nasional yang berlangsung pada 24–25 Juni 2026 ini diharapkan menjadi ruang berbagi pembelajaran dari berbagai daerah sekaligus memperkuat kolaborasi multipihak dalam membangun Indonesia yang lebih tangguh, inklusif, dan adaptif terhadap perubahan iklim.

     

  • Peringatan yang Dibawa Gelombang Panas Berkepanjangan di Eropa

    Peringatan yang Dibawa Gelombang Panas Berkepanjangan di Eropa

    7cloud.asia – Gelombang panas yang melanda sejumlah negara Eropa pada bulan Juni lalu, telah mengakibatkan ribuan orang meninggal.

    Laporan resmi dari The Guardian dan WHO menyatakan bahwa setidaknya telah terjadi 1.300 kematian berlebih di seluruh Eropa sejak gelombang panas ekstrem ini melanda pada akhir Juni.

    Dalam tulisan ini akan diulas bagaimana gelombang panas terjadi dan mengapa semakin ganas dalam beberapa tahun terakhir.

    Dilansir Earth.org, gelombang panas biasanya dipicu oleh keberadaan sistem tekanan tinggi, yang juga dikenal sebagai antisiklon.

    Kondisi atmosfer ini menyebabkan udara di atas suatu wilayah –dalam hal ini daratan Eropa– menumpuk dan terkompresi, mengakibatkan peningkatan suhu dan penurunan kadar air.

    Udara yang turun bertindak sebagai kubah panas, memerangkap panas yang diserap di dalam lanskap. Secara bersamaan, sistem tekanan tinggi menggeser udara yang lebih dingin dan menyebarkan awan, memungkinkan sinar matahari tanpa hambatan mencapai tanah.

    Baca: Perubahan Iklim Akibatkan Jumlah Kematian Akibat Gelombang Panas Naik Tiga Kali Lipat

    Akibatnya, udara di permukaan dan dekat tanah dipanaskan secara terus-menerus hingga melampaui suhu rata-rata.

    Keberadaan kelembapan di dalam tanah dapat mengurangi dampak panas, seperti halnya keringat yang mendinginkan tubuh melalui penguapan.

    Namun, ketika tanah, perairan, dan vegetasi menyimpan air dalam jumlah terbatas, kapasitasnya untuk menyerap panas pun berkurang secara signifikan, sehingga udara menjadi media utama untuk retensi panas.

    Perubahan iklim memperparah gelombang panas
    Dalam 11 tahun terakhir tercatat sebagai tahun-tahun terpanas yang terjadi. Tahun 2026 dan 2027 diprediksi akan menjadi lima tahun terpanas, karena adanya fenomena El Niño.

    Peningkatan panas ekstrem ini merupakan akibat langsung dari perubahan iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia yang secara boros menghasilkan emisi karbon.

    Karena emisi gas rumah kaca memerangkap lebih banyak panas di atmosfer, gelombang panas – jenis peristiwa cuaca ekstrem yang paling mematikan – menjadi lebih lama dan lebih panas.

    Baca: El Niño Dikhawatirkan Akan Memicu Terciptanya Rekor Panas Baru

    Studi atribusi, yang menyelidiki hubungan antara peristiwa cuaca ekstrem tertentu dan pemanasan global sebagai akibat dari tindakan manusia, berulang kali menemukan bahwa perubahan iklim membuat gelombang panas lebih sering dan lebih intens.

    Hal itu terjadi pada gelombang panas baru-baru ini di Australia, yang sekitar 1,6°C lebih panas karena perubahan iklim, serta gelombang panas di negara-negara Nordik Eropa tahun lalu, yang kemungkinannya setidaknya 10 kali lebih besar akibat perubahan iklim buatan manusia.

    Di India dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, suhu yang sangat panas menjadi hal yang biasa sebagai konsekuensi dari pemanasan planet Bumi.

    Ilmuwan Iklim di Cabot Institute Universitas Bristol, Vikki Thompson mengatakan bahwaperubahan iklim membuat gelombang panas menjadi lebih panas dan berlangsung lebih lama di seluruh dunia.

    Para ilmuwan telah menunjukkan bahwa banyak gelombang panas tertentu menjadi lebih intens karena perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia. Sinyal perubahan iklim bahkan dapat dideteksi dalam jumlah kematian yang disebabkan oleh gelombang panas.”

    Penjelasan ini sejalan dengan Laporan Penilaian Keenam dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) yang menunjukkan bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia telah meningkatkan frekuensi dan intensitas gelombang panas sejak tahun 1950-an.

    Kondisi akan terus berlanjut seiring dengan pemanasan planet Bumi, jika manusia tidak segera mengambil langkah nyata.

    Baca: Otoritas Prancis Catat Hampir 9.000 Kematian Akibat Gelombang Panas Sepanjang Juni

  • Perubahan Iklim Menambah Sengsara Warga Miskin Kota di Luar Jawa

    Perubahan Iklim Menambah Sengsara Warga Miskin Kota di Luar Jawa

     

    7cloud.asia – Cuaca ekstrem akibat perubahan iklim telah menyebabkan begitu banyak kejadian dan bencana di seluruh dunia.

    Pertengahan 2023 silam, banjir bandang membuat jalan-jalan terendam dan membuat jutaan orang mengungsi di Amerika Serikat (AS), Korea Selatan, Pakistan, dan Turki.

    Asia juga mengalami lebih dari seratus kematian akibat periode monsun tahun ini. Di India utara, banjir mematikan akibat hujan ekstrem menelan 22 korban jiwa.

    Di Indonesia, banjir parah pada April 2023 yang melanda Kalimantan Tengah mengakibatkan 16 ribu korban. Rumah-rumah dan bangunan publik turut terdampak.

    Sementara, saat kemarau tiba, kekeringan makin menyulitkan warga kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), dalam mengakses air bersih.

    Dalam riset terbaru, kami mencoba menggali bagaimana cuaca ekstrem berdampak pada kawasan urban, khususnya masyarakat miskin yang sangat dirugikan akibat kejadian tersebut.

    Warga miskin dan masalah terkait air

    Kami mempelajari tiga kota rawan banjir di Indonesia: Pontianak, Kalimantan Barat; Bima, NTB; dan Manado, Sulawesi Utara.

    Penelitian kami berbasiskan studi lapangan, observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Kami mewawancarai 57 informan sepanjang proses pengumpulan data. Mereka terdiri dari aktor pemerintah, pemimpin komunitas, aktivis organisasi masyarakat sipil, dan pelaku usaha.

    Penelitian kami bertujuan untuk mempelajari bagaimana pembangunan perkotaan berdampak pada masalah seputar air, terutama yang terkait perubahan iklim.

    Riset kami menemukan bahwa masalah terkait iklim seperti banjir, kekeringan, dan serangan panas dapat berdampak pada seluruh kota, miskin maupun kaya. Namun, warga miskin menjadi golongan yang paling terdampak karena beberapa alasan.

    Saat penduduk berpenghasilan menengah ke atas tinggal di kawasan perumahan yang nyaman dan terencanakan, kaum miskin kota terpaksa tinggal di kawasan yang paling rawan banjir.

    Selain itu, mereka juga tinggal di permukiman yang padat dan kumuh, dengan akses air bersih yang terbatas. Di lokasi yang kami datangi, warga permukiman ini tidak mendapatkan pasokan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setempat, meskipun jaringannya berdekatan dengan rumah mereka.

    Walhasil, masyarakat miskin menggunakan cara-cara tersendiri untuk bertahan hidup, seperti menggunakan sumur gali, memompa air tanah, membangun kolam penampungan ataupun tandon air untuk menampung air hujan.

    Cara senada juga dilakukan masyarakat miskin saat menghadapi banjir. Mereka langsung memindahkan barang-barang berharga ke tempat yang tinggi, memantau kenaikan muka air di selokan, parit, dan sungai.

    Mereka juga membuat saluran komunikasi dengan platform digital untuk berbagi info cepat untuk merumuskan langkah antisipasi jika risiko banjir meningkat.

    Sayangnya, langkah-langkah di atas cenderung reaktif dan belum menyentuh akar persoalan sebenarnya.

    Akibat pembangunan tak merata

    Kami menemukan bahwa masalah terkait air di Indonesia, seperti banjir dan kelangkaan air, berhubungan erat dengan pembangunan yang tak merata di berbagai kawasan perkotaan. Semua kota yang kami pelajari menunjukkan pola serupa.

    Di beberapa kawasan kota, pertumbuhan ekonomi meningkat pesat. Gedung-gedung pencakar langit menjulang. Kawasan bisnis menggeliat. Perumahan mewah dengan pusat perbelanjaan di dekatnya pun bertumbuh.


    Kawasan kumuh di Bandung, Jawa Barat, yang timbul karena perencanaan kota yang tak memadai dan pembangunan tak merata.
    (Ikhlasul Amal/Flickr), CC BY-NC

    Pesatnya pembangunan memicu lonjakan harga tanah, biaya sewa rumah, dan ongkos kebutuhan dasar seperti air bersih dan listrik. Akibatnya, area-area mewah ini menjadi tidak terjangkau oleh masyarakat miskin.

    Sementara itu, di pedesaan dan kawasan yang kurang berkembang, orang-orang mengubah hutan menjadi lahan pertanian untuk memenuhi permintaan penduduk kota. Perubahan ini kemudian mengganggu siklus alami air.

    Akhirnya, ketika cuaca ekstrem melanda, kawasan kota ketiban bencana. Hujan deras meningkatkan risiko banjir, sedangkan kemarau membuat warga kota sulit mendapatkan air bersih.

    Apa yang bisa kita lakukan

    Temuan kami menunjukkan bahwa aktivitas berburu keuntungan oleh para pengembang, ditambah dengan kebijakan yang lemah, telah memperparah bencana terkait air dan dampaknya paling dirasakan oleh kaum miskin kota.

    Di tengah situasi tersebut, kaum miskin kota kelimpungan untuk menyesuaikan diri, apalagi meningkatkan kehidupan mereka.


    Perencanaan berbasis warga untuk memastikan pembangunan yang adil di Kampung Akuarium, Jakarta.
    (Rujak Center for Urban Studies)

    Riset kami merekomendasikan sejumlah langkah untuk membenahi kondisi warga miskin kota dalam menghadapi bencana terkait air, bukan cuma bertahan terhadapnya.

    Sebagai langkah pertama, kita harus memastikan agar praktik pengelolaan air dapat meningkatkan ketangguhan masyarakat.

    Penting juga bagi kita untuk mempertimbangkan dan menangani ketimpangan di seluruh kawasan. Misalnya, kita dapat mengembangkan lingkungan terpadu yang dapat menghubungkan kembali kehidupan warga kota dengan sungai. 

    Lalu, langkah kedua adalah kita harus mempertimbangkan risiko perubahan iklim saat merumuskan kebijakan tentang pelayanan dan kelembagaan terkait air.

    Kita harus mencari cara mendanai aksi-aksi pencegahan dan penanggulangan bencana supaya lebih berkelanjutan dan responsif.

    Terakhir, penting bagi kita untuk berhati-hati saat merencanakan pembangunan infrastruktur. Kita harus memasukkan opsi-opsi yang valid, tapi bisa terus diperbarui dan diperbaiki. Opsi semacam ini membutuhkan keterlibatan warga dalam pengambilan keputusan dan meningkatkan kesadaran mereka soal isu ini.

    Untuk jangka panjang, rekomendasi ini dapat mengintegrasikan aksi kita dalam seluruh siklus air untuk melindungi akses air, lingkungan, dan kesehatan masyarakat.

    Muhammad Rifqi Damm, PhD Student, University of Gothenburg; Cindy Rianti Priadi, Assistant Professor in Environmental Engineering, Universitas Indonesia; Inaya Rakhmani, Assistant Professor at the Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Indonesia, Universitas Indonesia, dan Muhammad Irvan, Deputi Operasional ARC UI, Universitas Indonesia

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.