7cloud.asia – Pasca lebaran, sejumlah harga sayur mayur mulai berangsur turun. Namun, para pembeli tetap sepi. Kondisi ini membuat para pedagang resah.
Seperti yang terjadi di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Saat dijumpai 7cloud.asia pada Rabu (23/04/2025), kondisi pasar tidak seramai saat sebelum lebaran lalu.
Bahkan beberapa pedagang hanya sibuk berbincang dengan pedagang lainnya sambil menunggu calon pembeli.
Salah satunya ibu Tati yang terpaksa berjualan hingga malam hari agar omset yang dia peroleh lebih banyak. “Harga mulai stabil, terjangkau. Tapi pembeli masih sepi. Ini aja jualan sampai malam, biar bisa nutup (modalnya),” kata Ibu Tati.
Selanjutnya ia mengungkapkan omset yang ia peroleh dari pagi hingga pukul 9 malam sekitar 4 juta rupiah. Omset ini turun jika dibandingkan sebelum lebaran yang bisa ia peroleh hingga 7 juta rupiah saat ia berjualan hingga malam hari.
Padahal, lanjut Ibu Tati, harga sayur mayur mulai turun meski masih belum kembali ke harga normal. Misalnya harga bawang merah dibanderol Rp 60.000 per kilogram. Sebelum lebaran harga bawang merah Rp 80.000 per kilogram.
Demikian juga harga cabai yang kini dijual dengan harga Rp 60.000 per kilogram, turun Rp 20.000 dari harga sebelumnya. Harga cabai rawit juga turun Rp 20.000 dari harga sebelumnya Rp 100.000.
Kenaikan harga hanya terjadi pada tomat yang kini dibanderol dengan harga Rp 20.000 per kilogram. Padahal sebelum lebaran, harga tomat dijual berada pada angka Rp 15.000 per kilogram.
Tati berharap harga sayur mayur dapat stabil sehingga tidak memberatkan pedagang maupun pembeli. Dengan demikian, jumlah pembeli dapat berangsur-angsur naik.
“Enak, kalau harga stabil. Pedagang untung, pembeli juga untung. Pembeli juga tidak khawatir ke pasar karena harga tinggi. Mudah-mudahan jelang idul adha bisa rame lagi,” tutupnya.
7cloud.asia – Tak terasa puasa Ramadan telah memasuki hari ke-18, artinya 12 hari lagi kita akan menyambut Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran.
Tapi, sering kita tidak menyadari, perayaan hari Lebaran justru mendorong kegiatan yang berpotensi menambah emisi pun produksi sampah dibanding hari biasa.
Saat Lebaran, seringkali kita melupakan kebiasaan ramah lingkungan kita karena terbawa euphoria. Dalam berbelanja banyak orang terbiasa memilih produk sekali pakai demi kemudahan.
Mulai dari plastik, sampah makanan, tisu dan lainnya sehingga menambah produksi sampah. Padahal lebaran adalah hari yang suci yang seharusnya dirayakan dengan tetap menjaga lingkungan.
Mungkin, kamu bertanya-tanya bagaimana merayakan lebaran dengan ramah lingkungan? Lebaran ramah lingkungan dapat diwujudkan dengan mengurangi sampah plastik dan sisa makanan melalui penggunaan alat makan/kemasan reusable (kaca, rotan, kain).
Memilih hampers fungsional (uang/voucher), serta menggunakan transportasi umum/berbagi kendaraan (carpooling) saat mudik juga akan mengurangi beban lingkungan dan mendukung perayaan yang lebih bermakna.
Berikut beberapa tips merayakan Lebaran secara ramah lingkungan sebagaimana kami kutip dari Waste4Change:
Hindari peralatan sekali pakai Kadang bagi warga kota penggunaan piring plastik atau styrofoam dinilai cukup praktis tanpa harus repot-repot untuk mencuci piring kotor sesudahnya.
Walaupun demikian, kebiasaan tersebut tidak baik karena bisa menyebabkan penumpukan sampah selama lebaran. Kalau kamu ingin lebaran ramah lingkungan sebaiknya memakai piring kaca atau pelepah.
Karena setelah selesai makan piring tidak dibuang melainkan bisa dicuci, sehingga tidak ada penumpukan sampah.
Hindari kembang api Kembang api atau petasan jadi hal yang lumrah untuk anak-anak saat merayakan Lebaran. Namun permainan ini sangat membahayakan karena dapat menimbulkan ledakan dan sampah yang mencemari lingkungan.
Jadi, cobalah untuk mengganti kegiatan tersebut dengan kegiatan menyenangkan lainnya.
Tak harus beli baju Lebaran Pakaian baru atau baju Lebaran adalah efek buruk lebaran. Tidak menutup kemungkinan baju yang sudah lama dan tidak pernah dipakai akhirnya terbuang begitu saja.
Jadi, dampaknya dapat menimbulkan sampah atau limbah fesyen pencemar lingkungan.
Dengan memakai baju yang lama, sewa baju atau bertukar baju dengan keluarga bisa menjadi pilihan terbaik untuk merayakan lebaran minim sampah.
Tinggalkan sedotan plastik Memang kelihatan sepele, namun kita perlu meminimalisir penggunaan sedotan plastik untuk mengurangi sampah plastik di lingkungan.
Saat kita berkunjung ke rumah saudara tidak perlu mengambil sedotan plastik yang disediakan ataupun saat kita membuat acara di rumah, kita tidak perlu menyediakan sedotan plastik.
Pilah dan buang sampah pada tempatnya Jangan bergantung pada orang lain untuk membuang sampah kalian sendiri tapi mulai berubah dari kamu sendiri.
Kalau perlu, kita bisa membantu memilah ataupun membawa sisa konsumsi tersebut pulang untuk dipilah di rumah
Habiskan makananmu Sampah makanan adalah salah satu masalah yang dipicu Lebaran, padahal sampah makanan lbih besar dampaknya pada lingkungan. Karena itu, jangan berlebihan saat berbelanja dan memasak hidangan Lebaran.
Menyisakan makanan, sama aja menmbah sampah yang selanjutnya menambah beban yang harus ditanggung lingkungan. Dengan kamu menghabiskan makananmu tanpa sisa bisa meminimalisir penumpukan sampah.
Jika kamu tidak bisa untuk menghabiskan makananmu, coba untuk mengambil makanan dengan sedikit terlebih dahulu, jika kamu mengambilnya dengan sedikit akan lebih mudah untukmu dalam menghabiskan makanan.
Mengganti Camilan Anak-anak menyukai camilan pabrikan, seperti keripik singkong, kripik kentang, cookies, atau roti kering aneka rasa.
Selain tidak sehat, camilan yang diproduksi pabrik sudah pasti menggunakan kemasan, yang terbuat dari bahan plastik atau kertas.
Karena semakin sering kamu membeli camilan dalam kemasan, maka semakin banyak pula sampah yang dihasilkan.
Jadi, mulai sekarang konsumsi camilan pabrikan dengan buatan sendiri. Karena selain bisa mengurangi sampah, kesehatan anak pun juga lebih terjaga.
THR secara online Biasanya THR diterima lewat amplop tapi penggunaan amplop dapat diminimalisir melalui penggunaan teknologi aplikasi atau lewat transfer.
Silahturami online Buat kamu yang tidak bisa mudik karena terhalang oleh pekerjaan, pastinya kamu merasa rindu dengan keluargamu. Kamu bisa melakukan silaturahmi online untuk menyapa orang tua dan saudara-saudaramu.
Dengan begitu kamu bisa melampiaskan rasa rindumu dengan mengucapkan hari Hari Raya Idul Fitri lewat online. Selain mudah dan praktis mengucapkannya lewat online, ternyata cara yang satu ini sangat ramah lingkungan karena mampu mengurangi jejak karbon kendaraan hingga 108,1 Kg CO2.
Shalat Idul Fitri Memilih masjid terdekat yang bisa dicapai dengan berjalan kaki menjadi cara lain untuk merayakan Lebaran dengan ramah lingkungan.
Jangan lupa untuk membawa sajadah sebagai alas bersujud di masjid, kurangi penggunaan koran sebagai alas bersujud.
Banyak orang-orang yang nggak ingin repot-repot dalam sholat Idul Fitri lalu mereka berbondong-bondong membawa koran sebagai alas sujud. Mulai sekarang hindari hal itu untuk mengurangi sampah.
7cloud.asia – Momen di bulan Ramadan, terutama saat buka bersama, dan kumpul keluarga saat lebaran seharusnya menjadi momen yang bisa digunakan untuk mengenang kembali memori baik di masa lalu atau bersilaturahmi untuk bisa mengenal keluarga yang jarang ditemui. Dengan menjalin silaturahmi, kita bisa pula mempererat koneksi.
Sayangnya, di Indonesia, kini makin umum fenomena di mana perantau, termasuk diaspora, enggan pulang kampung ketika lebaran. Alasannya beragam, mulai dari biaya transportasi yang mahal hingga tidak mau bertemu keluarga besar.
Riset kami di Selandia Baru, sejak tahun 2019, menunjukkan bahwa faktor terbesar penyebab mereka tidak mau berkumpul bersama keluarga adalah menjamurnya pertanyaan basa-basi. Ini mencakup pertanyaan seperti “kapan punya anak?”, “kapan menikah?”, dan “kapan lulus kuliah?” yang berujung pada diskriminasi struktural dan bentuk pengucilan di Indonesia.
Basa-basi memang sudah menjadi bagian budaya Indonesia, karena memang tujuannya bukan sesuatu yang buruk dan dimaksudkan untuk bertanya hal-hal ringan.
Namun, peserta penelitian kami mengungkapkan bahwa pertanyaan basa-basi yang mungkin datang dari maksud baik, sering kali membuat mereka merasa terkucil daripada merasa dirangkul dan merayakan kebersamaan.
Ada faktor kenormalan yang diasumsikan bahwa semua orang dianggap memiliki nilai-nilai hidup dan pengalaman yang sama, yaitu, setelah mencapai usia tertentu, diharapkan secara sosial sudah menikah, lalu mempunyai anak.
Beberapa peserta penelitian kami yang merupakan diaspora mengakui bahwa mereka enggan untuk pulang kampung, termasuk untuk liburan, atau bertemu dengan keluarga besar mereka.
Mereka mengatakan bahwa liburan ke kampung halaman yang sudah mereka rencanakan dengan baik, seringkali menjadi pengalaman yang tidak mengenakan. Salah satunya alasannya karena mereka sering mendapatkan pertanyaan, “sudah/kapan punya anak?” atau “putranya sudah berapa?”.
Salah satu informan kami, Sari (usia akhir 30 tahunan) dan suaminya, contohnya, mengaku trauma. Mereka telah menikah beberapa tahun tapi belum memiliki anak meski sudah melakukan banyak cara, termasuk medis, untuk mendapatkan keturunan.
Pertanyaan tersebut memang tidak memiliki maksud buruk, hanya basa-basi, tetapi akhirnya membangkitkan kesedihan dalam dirinya. Dengan pertanyaan ini, Sari seperti diingatkan kembali segala pengorbanan dan kesakitan, baik fisik maupun psikologis- yang ia alami saat proses IVF (bayi tabung) demi mendapatkan buah hati.
Belum lagi, ada pula pertanyaan atau komentar lain yang dimaksud sebagai candaan, namun dapat membuat orang lain tersinggung, karena bersifat pribadi dan instrusif seperti dengan mempertanyakan sebab musabab mengapa mereka susah diberikan keturunan atau mempertanyakan kejantanan suami/pasangan.
Acara reuni dan kumpul keluarga yang awalnya diharapkan sebagai ajang untuk bertemu kangen dan bertukar cerita seringkali meninggalkan dampak psikologis lebih dalam bagi sebagian orang.
Mencoba lebih berempati
Mengingat perayaan Idul Fitri dan acara buka bersama menjadi ajang untuk berkumpul dan bersilaturahmi, sebaiknya kita sebagai individu bisa mengedepankan empati sebelum mengajukan pertanyaan.
Sebelum bertanya, kita hendaknya menilai dari sisi orang yang kita tanyai. Sehingga, kita bisa lebih sensitif dan memikirkan apakah pertanyaan tersebut berpotensi membuka tabir kepedihan, pengalaman tidak menyenangkan, ketidaknyamanan atau kesakitan yang mereka pernah alami.
Alih-alih menanyakan hal-hal yang mungkin buat kita adalah “hal ringan”, berhentilah sebentar dan berpikir, “jika saya menanyakan hal ini, apakah akan membuat orang lain tidak nyaman?”, “apakah pertanyaan ini penting untuk ditanyakan?” atau, “jika saya berada di posisi dia, dan menerima pertanyaan ini, bagaimana perasaan saya, apakah saya akan merasa sedih, terluka, tersisih dan terkucilkan?”
Kita bisa mengganti pertanyaan basa-basi nirempati dengan yang lebih terbuka dan memang bermaksud untuk mengenal orang lain lebih baik dan tulus, bukan untuk sekadar memuaskan rasa keingintahuan kita (kepo).
Misalnya, “sudah lama tidak bertemu ya, bagaimana keadaanmu akhir-akhir ini?”, “sudah lama kita tidak berjumpa, apa hal-hal baru darimu yang ingin dibagikan atau ceritakan?” atau, “ada hal baru apa yang berbeda sejak pertemuan kita beberapa waktu lalu?” atau pertanyaan lainnya yang bersifat serupa.
Karena bersifat terbuka, pertanyaan tersebut bisa memberikan ruang untuk orang lain bercerita. Kita tidak perlu mendikte topiknya, apalagi jika pertanyaan itu sifatnya justru ingin “menakar” keadaan sosial dan ekonomi orang lain.
Lebih baik kita mencoba membuka ruang bagi orang di hadapan kita untuk menentukan apa yang mereka ingin bagikan (atau tidak ceritakan) kepada kita.
Yang kita perlu ingat adalah tujuan dari silaturahmi dan reuni adalah seyogyanya untuk menyambung (kembali) hubungan yang baik dan tulus, bukan hanya sekedar kepo atas pencapaian atau hal-hal yang orang lain miliki atau tidak miliki.
Di bulan Ramadan yang baik ini baiknya kita lebih berefleksi dan mulai mengedukasi diri kita dengan nilai-nilai empati terhadap pandangan hidup dan keadaan orang lain yang mungkin berbeda dari kita.
Upayakan untuk lebih mawas diri, bijaksana dan tidak menghakimi saat berhadapan dengan orang lain, dan hindari pertanyaan yang bisa menyudutkan keluarga dan kerabat kita, yang dampaknya malah berkebalikan dari tujuan silaturahmi dan reuni itu sendiri.
7cloud.asia – Idulfitri sebagai “ritual” dirayakan umat muslim dengan mudik ke kampung halaman, dapat memperkuat jaringan kekerabatan dan identitas. Tradisi ini biasanya dilanjutkan dengan halalbihalal sebagai sarana rekonsiliasi dan solidaritas bersama.
Namun, suka cita perayaan Idulfitri bukanlah milik semua orang. Bagi sebagian orang yang sedang berduka, hari raya justru dapat memicu rasa kehilangan terasa lebih nyata.
Melalui aktivitas spesial, perayaan hari raya identik dengan kegiatan berkumpul, bertamu, berbagi cerita, serta makan bersama. Kegiatan-kegiatan ini dapat mengingatkan seseorang jika ada sesuatu yang hilang, berkurang, atau suasana yang tidak sama lagi.
Ingatan ini bisa memicu rasa sakit, dan membuat orang-orang yang sedang berduka merasa kesepian.
Perayaan yang memicu duka
Penelitian mengemukakan, individu yang kehilangan orang berarti dalam hidupnya cenderung mudah mengalami stres dalam berbagai perayaan, seperti ulang tahun dan perayaan hari besar. Sebab, pada hari tersebut, kenangan mulai muncul seperti sebuah film yang terputar otomatis.
Lima tahap tersebut adalah denial (penyangkalan), anger (kemarahan), bargaining (tawar-menawar), depression (depresi), dan acceptance (penerimaan).
Padahal, penelitian setelahnya (2007) yang menguji lima tahapan berduka tersebut menemukan bahwa secara kognitif dan emosional, tidak semua orang memproses kehilangan anggota keluarga secara bertahap.
Sering kali penerimaan suatu kehilangan justru muncul di awal, lalu meningkat seiring berjalannya waktu. Sementara fase lain mengalami naik turun dalam kurun waktu yang berbeda.
Ini menunjukkan bahwa, meski peristiwa kehilangan sudah berlalu sangat lama dan seseorang nampak stabil secara emosional, perasaan berduka dapat kembali meningkat pada momen-momen tertentu.
Pengalaman kehilangan setiap orang pasti berbeda-beda. Orang yang kehilangan anak, orang tua, atau pasangan memiliki proses berduka yang khas. Begitu pula peristiwa kehilangan yang mendadak atau setelah sakit panjang.
Hal tersebut juga terjadi pada saya, yang tengah melewati fase berduka atas kepergian ayah dan menghadapi perayaan Idulfitri 1447 H.
Oleh karena itu, penting untuk tidak melakukan generalisasi yang terlalu lebar ketika merespons seseorang yang sedang berduka–karena dapat memperparah kondisi psikologisnya.
Tekanan untuk berbahagia di hari raya
Lebaran cenderung selalu diartikan sebagai peristiwa yang penuh keceriaan, sehingga orang yang sedang berduka kerap merasa tersisih dan terisolasi dalam keriaan momen ini.
Ada perasaan canggung untuk ikut merayakan, tapi terlalu sungkan untuk terus bersedih karena khawatir merusak suasana Lebaran.
Akibatnya, mereka yang sedang kesulitan berdamai dengan kehilangan, terpaksa harus berpura-pura tersenyum dan bahagia, seolah dapat melanjutkan hidup.
Kondisi tersebut memunculkan perasaan tertekan dan kesepian. Ketika hal ini terus dilakukan, mereka akan sulit memvalidasi perasaan berduka yang sedang ia alami.Ini dapat berdampak pada kesehatan mental dan fisik yang serius, termasuk: Gangguan tidur, penurunan sistem imun, masalah kardiovaskular, depresi berkepanjangan, kecemasan (anxiety), bahkan stres kronis.
Memberi ruang bagi duka, ingatan, dan perayaan yang baru
Setelah kehilangan, seseorang akan melakukan dua proses besar. Pertama adalah loss-oriented coping: fokus pada kehilangan, rasa rindu, emosi dan kenangan. Proses kedua adalah restoration-oriented coping: fokus pada penyesuaian hidup, peran baru, rutinitas dan fungsi sehari-hari.
Kedua proses ini tidak bisa dihadapi sendirian. Perlu dukungan dan penguatan dari orang-orang yang ada di sekitarnya.
Beberapa hal yang dapat dilakukan ketika membersamai orang yang telah kehilangan di perayaan hari raya antara lain:
Proses berduka tidak dapat dihindari, melainkan perlu dilalui. Tidak perlu memaksa seseorang yang berduka untuk terlibat dalam perayaan, berikan waktu mereka untuk mengenang dengan sesekali memberikan dukungan.
Mengubah perayaan dengan mengawali dengan berdoa bersama dapat membantu seseorang yang berduka merasa didukung dan ditemani dalam proses menerima ketentuan-Nya.
Ketiga hindari memberikan positive reframing atau terlalu cepat dan memaksa melihat sisi baik kematian.
Misalnya seperti: “setidaknya dia tidak sakit lagi”, “ambil hikmahnya”, “ini yang terbaik.” Ujaran semacam itu merupakan bentuk komunikasi yang tidak membantu dan justru menambah beban.
Terakhir, usahakan untuk tidak menasihati dan memaksa orang berduka segera move on dan kembali normal. Menasihati mereka untuk, misalnya, ikhlas dan menerima keadaan secepatnya justru menyakiti mereka.
Alih-alih menasehati, lebih baik dengarkan mereka dan ikut berbagi pengalaman rasa sedih atau kehilangan.
Hari raya tidak harus selalu tentang tawa yang sempurna, tapi bisa menjadi tempat saling mengekspresikan rindu dan kehilangan tanpa perlu disembunyikan.
Di tengah gema takbir dan hangatnya kebersamaan, memberi ruang bagi duka adalah bentuk kasih yang paling sederhana, tapi sangat berarti.
7cloud.asia – PT MRT Jakarta (Perseroda) akan menerapkan pola operasional akhir pekan selama periode libur Idulfitri 1447 H, yaitu pada 18 hingga 24 Maret 2026.
Pola operasional ini mengikuti grafik perjalanan kereta (gapeka) akhir pekan/libur, dengan jam layanan pukul 05.00 sampai 24.00 WIB dan selang waktu keberangkatan antarkereta setiap 10 menit.
Pada periode yang sama, dalam rangka Hari Raya Idulfitri 1447 H, diberlakukan tarif khusus Rp1 selama dua hari, yaitu pada Hari H dan H+1 Lebaran, sesuai dengan SK Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta Nomor e-0056 Tahun 2026.
Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta (Perseroda), Rendy Primartantyo mengatakan, seluruh stasiun akan beroperasi sesuai ketentuan tersebut, dengan total 219 perjalanan kereta menggunakan tujuh rangkaian.
Rendy mengatakan, selama masa libur tersebut, MRT Jakarta tetap beroperasi melayani masyarakat dengan standar pelayanan yang terjaga.
“Seluruh stasiun dibuka dengan layanan normal, serta dilakukan penambahan petugas untuk memastikan kenyamanan pelanggan, baik di area stasiun maupun di dalam kereta,” ujarnya, Jumat (20/3/2026).
MRT Jakarta juga menginformasikan tidak terdapat penambahan jam operasional MRT Jakarta pada malam takbiran.
Layanan tetap beroperasi hingga pukul 24.00 WIB, sama seperti hari lainnya, mengingat kebutuhan layanan pelanggan masih dapat terakomodasi dalam jam operasional normal.
MRT Jakarta mengimbau pelanggan untuk tetap tertib dan menjaga kebersihan di area stasiun maupun di dalam kereta, serta senantiasa mengikuti arahan petugas, demi menjaga kenyamanan bersama selama periode libur.
Selain itu, MRT Jakarta juga menghadirkan berbagai program bagi masyarakat selama periode libur, antara lain eduwisata yang berkolaborasi dengan Jakarta Experience Board, promo point of interest melalui aplikasi MyMRTJ, serta beragam kegiatan di sekitar kawasan stasiun.
Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui media sosial resmi MRT Jakarta.
Sebagai gambaran, MRT Jakarta mencatat total 614.767 pelanggan pada periode libur Lebaran 2025, 28 Maret hingga 7 April 2025.
Sementara itu, tercatat sebanyak 76.106 pelanggan pada dua hari perayaan Idulfitri 1446 H (31 Maret dan 1 April), dengan 28.930 pelanggan pada hari pertama dan 47.176 pelanggan pada hari kedua.
7cloud.asia – Pemprov DKI Jakarta di bawah Pramono Anung dan Rano Karno berkomitmen untuk terus merawat dan menjaga budaya Betawi sebagai identitas utama Jakarta.
Salah satu budaya Betawi itu adalah Andilan Kebo yang biasa digelar saat hari raya IdulFitri atau Lebaran.
Tradisi Andilan Kebo yang memiliki filosofi saling berbagi dan bergotong royong untuk membantu keluarga yang membutuhkan.
Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Rano Karno menegaskan, Andilan Kebo yang menjadi salah satu tradisi masyarakat Betawi bisa jadi cerminan nilai keadilan dan kebersamaan.
Karena itu, ucap Rano, tradisi ini sangat penting dilestarikan untuk memperkuat solidaritas sosial antar warga Jakarta.
“Tradisi Andilan Kebo dan Iduladha sangat berarti karena memberi kesempatan masyarakat untuk merasakan konsumsi daging,” kata Rano, saat menghadiri Andilan Kebo yang diselenggarakan Forum Betawi Rempug (FBR) di Taman Kerempugan Korwil FBR, Jakarta Timur, Kamis (19/3/2026).
Rano mengaku terharu melihat tradisi Andilan Kebo yang masih dilestarikan warga asli Betawi saat ini.
Menurutnya, kegiatan ini mengajarkan pentingnya menjaga tradisi gotong royong sebagai bagian dari identitas budaya Betawi di tengah dinamika kota metropolitan.
“Alhamdulilah, Andilan Kebo masih dilestarikan masyarakat Betawi di tengah dinamika Jakarta sebagai kota global,” tutur Rano.
Ia juga teringat masa kecil saat tinggal di kawasan Kepu, Kemayoran, Jakarta Pusat, yang masih sarat nilai kebersamaan dengan berpatungan membeli kerbau.
Adapun besaran kontribusi tidak ditentukan, melainkan disesuaikan kemampuan masing-masing.
“Warga yang patungan besar akan memperoleh lebih banyak. Namun, esensinya yakni kebersamaan sebagai tetangga. Semua berpartisipasi sesuai kemampuan,” paparnya.
Rano menambahkan, menjelang Idulfitri ini Pemprov DKI Jakarta juga tengah mempersiapkan rangkaian kegiatan malam takbiran bertajuk “Eid Mubarak” yang akan dipusatkan di kawasan Bundaran HI dan melibatkan ribuan peserta dari berbagai wilayah di Jakarta.
“Kami mohon doa agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar. Ini adalah upaya kami untuk terus merawat tradisi dan meningkatkan partisipasi masyarakat,” tandas Rano.
7cloud.asia – Lebaran tahun ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan global yang berpotensi berdampak pada kehidupan sehari-hari.
Menghadapai situasi krisis global ini, masyarakat Indonesia diimbau tetap tenang dan bersatu, terutama menjelang momentum Idulfitri.
Kondisi geopolitik global yang tidak menentu menjadi pengingat bahwa kekuatan bangsa tidak hanya terletak pada kebijakan, tetapi juga pada solidaritas warganya.
Konflik internasional yang melibatkan kawasan Timur Tengah dinilai mulai memberi tekanan nyata terhadap stabilitas ekonomi, termasuk potensi kenaikan harga kebutuhan pokok.
Ketegangan geopolitik yang memengaruhi jalur distribusi energi dunia berisiko mendorong kenaikan harga minyak internasional.
Dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat melalui naiknya harga bahan bakar, biaya distribusi, hingga kebutuhan sehari-hari.
Anggota Komisi I DPR, Okta Kumala Dewi, menilai kondisi ini perlu diantisipasi sejak dini agar tidak membebani masyarakat secara berlebihan.
Ia menegaskan bahwa meskipun Indonesia tidak berada di pusat konflik, dampaknya tetap tidak bisa dihindari.
Pemerintah diminta menyiapkan langkah antisipatif, termasuk mendorong penghematan energi dan opsi kebijakan seperti pengurangan mobilitas hingga penerapan work from home (WFH).
Langkah ini dinilai sebagai strategi untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional agar tidak terdampak lebih dalam.
Dari sudut pandang masyarakat, kebijakan tersebut diharapkan mampu menahan lonjakan harga dan menjaga daya beli. Meskipun dalam jangka pendek mungkin memerlukan penyesuaian.
“Langkah preventif menjadi penting agar dampak global tidak langsung dirasakan secara berat oleh rakyat,” ujar Okta melalui keterangannya yang diterima oleh Parlementaria di Jakarta, Kamis (19/03/2026).
Di sisi lain, masyarakat juga diingatkan untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar. Situasi global yang tidak menentu kerap diiringi dengan spekulasi yang dapat memicu kepanikan.
Sikap tenang dan rasional dinilai menjadi kunci dalam menghadapi kondisi ini. Momentum Idul Fitri disebut menjadi penguat penting bagi masyarakat untuk tetap solid.
Tradisi saling memaafkan, berbagi, dan menjaga silaturahmi dinilai relevan dalam menjaga ketahanan sosial di tengah tekanan global.
“Di tengah dunia yang penuh konflik, Indonesia justru memiliki kekuatan pada persatuan dan kebersamaan masyarakatnya,” lanjut politisi PAN ini.
Lebih jauh, masyarakat diharapkan dapat melihat kebijakan pemerintah dalam konteks jangka panjang. Meski tidak semua kebijakan terasa nyaman, langkah tersebut bertujuan untuk melindungi masyarakat dari dampak yang lebih besar di masa depan.
Dengan kondisi global yang belum pasti, peran masyarakat dinilai sangat penting dalam menjaga stabilitas nasional.
Tetap tenang, tidak mudah terprovokasi, serta saling mendukung menjadi kunci agar Indonesia mampu melewati tekanan global dengan baik.
7cloud.asia – Jumlah pemudik menjelang Lebaran 2026 diprediksi menurun, sebut hasil survei Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan.
Dilansir BBC Indonesia, kondisi ekonomi yang sedang mengalami kontraksi diduga kuat menjadi alasan masyarakat menahan diri untuk tidak mudik saat Lebaran seperti tahun-tahun sebelumnya
Data yang tergambar dari Sistem Informasi Transportasi Terintegrasi Kementerian Perhubungan pada hari H-8 hingga H-3 pada pukul 09.00 WIB masih menunjukkan penurunan jumlah keberangkatan penumpang.
Dibandingkan periode yang sama pada 2025, jumlah penumpang mudik dari berbagai moda transportasi berkurang dari enam juta pemudik menjadi 5,99 orang yang melaju pulang kampung.
Pada 2026, moda perkeretaapian yang pergerakan penumpangnya meningkat dibandingkan periode H-8 sampai H-3 pada 2025, yakni mencapai 1.199.150 orang dari 1.070.699 orang.
Untuk moda yang paling banyak diminati tetap angkutan yang melibatkan penyeberangan. Dari 2025 hingga saat ini, jumlahnya selalu unggul dibandingkan moda transportasi lain.
Adapun pada 2026, pergerakan penumpang melalui angkutan sungai, danau, dan penyeberangan (SDP) juga naik tercatat 1.721.150. Tahun lalu, pergerakan penumpang pada periode yang sama mencapai 1.701.766.
Merujuk data teranyar dari Sistem Informasi Transportasi Terintegrasi Kementerian Perhubungan
Penurunan jumlah pemudik ini sudah terasa sejak 2025. Saat itu, angka pemudik merosot hingga hampir 50 juta orang setelah sempat melonjak drastis pada 2024 dengan asumsi sekitar 193 juta pemudik.
Situasi tersebut kembali terulang, yaitu dari 146,4 juta orang pemudik pada Lebaran tahun lalu, dan menjadi 143,9 juta orang pemudik pada Lebaran tahun ini.
Berkebalikan dengan klaim pemerintah Dilansir BBC Indonesia, penurunan angka pemudik Lebaran ini terjadi di tengah klaim pemerintah mengenai pertumbuhan ekonomi yang baik.
Pengamat ekonomi dan kebijakan publik dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai situasi seperti ini sebenarnya sudah terlihat pascapandemi Covid pada 2020 lalu.
Namun dari tahun ke tahun, tekanan ekonomi yang berdampak pada lesunya daya beli juga berpengaruh.
Di sisi lain, survei dari Bank Indonesia pada awal 2026 juga memperlihatkan adanya kenaikan proporsi penggunaan pendapatan untuk tabungan.
Wijayanto mengatakan, masyarakat sudah mengantisipasi kondisi ekonomi ke depan yang diperkirakan akan sulit dengan banyak menabung.
“Jadi, kalau misalnya spending lebaran ini berkurang, salah satu faktornya karena masyarakat mengantisipasi situasi sulit ke depan,” kata Wijayanto.
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, dalam sidang kabinet paripurna tetap optimistis jumlah pemudik akan melampaui hasil survei.
Angka ini memang menurun 1,75 persen dibandingkan survei pada tahun 2025 sekitar 146 juta.
“Namun demikian pada realisasi tahun 2025 justru mencapai 154 juta. Artinya mobilitas masyarakat pada masa lebaran cenderung melampaui angka survei,” ucap Dudy dilansir dari situs Kementerian Sekretariat Negara.
7cloud.asia – Artikel mengenai fenomena Lebaran blues menjadi berita yang paling banyak dibaca atau berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia.
Artikel ini menjadi berita terpopuler bersama sejumlah artikel terkait isu lingkungan seperti momentum untuk membangun kedaulatan energi di tengah krisis energi global dan Hari Gletser Sedunia.
Artikel mengenai perkembangan perang antara AS-Israel dengan Iran juga masuk dalam daftar berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia
Berikut lima berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia:
1. Lebaran blues Suka cita perayaan Idulfitri bukanlah milik semua orang. Bagi sebagian orang yang sedang berduka, hari raya justru dapat memicu rasa kehilangan terasa lebih nyata.
Melalui aktivitas spesial, perayaan hari raya identik dengan kegiatan berkumpul, bertamu, berbagi cerita, serta makan bersama. Keriaan ini dapat mengingatkan seseorang jika ada sesuatu yang hilang, berkurang, atau suasana yang tidak sama lagi.
Ingatan ini bisa memicu rasa sakit, dan membuat orang-orang yang sedang berduka merasa kesepian yang disebut dengan Lebaran blues
2. Krisis energi global jadi momentum membangun kedaulatan energi Krisis energi global yang dipicu oleh dinamika geopolitik, termasuk penutupan Selat Hormuz, harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk membangun kedaulatan energi.
Dalam pernyataan tertulis kepada 7cloud.asia, Jumat (27/3/2026) Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) memperingatkan bahwa kedaulatan energi ini harus selaras dengan potensi, daya dukung dan daya lingkungan, serta keseimbangan ekologis.
WALHI mendesak pemerintah agar tidak terjebak dalam kebijakan pragmatis jangka pendek yang justru memperdalam krisis ekologi melalui apa yang disebut sebagai “solusi palsu” energi
3. Iran menutup Selat Hormuz Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pihaknya mengizinkan semua negara–kecuali Amerika Serikat (AS) bersama Israel dan sekutunya–untuk berlayar melintasi Selat Hormuz.
Hal tersebut merupakan perkembangan terbaru setelah AS dilaporkan mengebom target militer di Pulau Kharg yang sangat penting bagi minyak Iran.
“Sebenarnya, Selat Hormuz terbuka. Selat itu hanya ditutup untuk kapal tanker dan kapal milik musuh kita, untuk mereka yang menyerang kita dan sekutu mereka. Yang lain bebas untuk lewat,” kata Araghchi.
4. Dampak yang dirasakan lingkungan jika gletser hilang Pemanasan global dan perubahan iklim mengakibatkan laju hilangnya gletser berlangung lebih cepat. Kabar baiknya, mulai terlihat adanya tanda-tanda bahwa dunia mulai menanggapi hilangnya gletser.
Pada Sidang Majelis Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa ketujuh (UNEA-7) pada Desember 2025, negara-negara di dunia mengadopsi resolusi penting yang didedikasikan untuk pelestarian gletser dan kriosfer yang lebih luas, khususnya di wilayah pegunungan.
Resolusi tersebut, yang diusulkan oleh Tajikistan dan disponsori bersama oleh Bhutan dan Peru yang merupakan negara yang tergantung pada gletser.
5. Memasuki musim kemarau kualitas udara Jakarta memburuk Kualitas udara Jakarta tercatat tidak sehat bagi kelompok sensitif sehingga disarankan agar mengenakan masker saat berada di luar rumah, demikian menurut laman IQAir pada Kamis (26/3/2026) pagi.
Dipantau pada pukul 05.00 WIB, IQAir mencatat kualitas udara Jakarta berada pada poin 115 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 41 mikrogram per meter kubik.
Angka ini 8,2 kali lebih tinggi dari nilai panduan kualitas udara tahunan yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).