Tag: lingkungan

  • Daur Ulang Minyak Jelantah ke Biodiesel Menjadi Bisnis Menjanjikan

    Daur Ulang Minyak Jelantah ke Biodiesel Menjadi Bisnis Menjanjikan

    7cloud.asia – Staf Ahli Menteri Bidang Lingkungan Hidup dan Tata Ruang Kementerian ESDM Saleh Abdurrahman menyampaikan bahwa pemanfaatan minyak jelantah untuk biodiesel menjadi salah satu opsi penerapan ekonomi sirkular.

    Pemanfaatan minyak jelantah menjadi biodiesel berarti memanfaatkan sumber daya untuk terus menghasilkan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi dampak lingkungan.

    Saleh memaparkan potensi pengolahan minyak jelantah menjadi potensi bisnis yang bagus bagi penerapan ekonomi sirkular.

    Dikutip esdm.go.idm, kajian awal TNP2K dan Traction Energi Asia tentang Potensi Minyak Jelantah Untuk Biodiesel dan Penurunan Kemiskinan di Indonesia (2020) mencatat bahwa pada tahun 2019, konsumsi minyak goreng sawit nasional mencapai 16,2 juta kilo liter (KL).

    Baca: Plus minus penggunaan biodiesel berbahan sawit

    Dari angka tersebut rata-rata minyak jelantah yang dihasilkan berada pada kisaran 40-60% atau berada di kisaran 6,46 – 9,72 juta KL.

    “Sayangnya minyak jelantah yang dapat dikumpulkan di Indonesia baru mencapai 3 juta KL atau hanya 18,5% dari total konsumsi minyak goreng sawit nasional,” terang Saleh.

    Kajian tersebut menemukan bahwa hanya sebagian kecil minyak jelantah di Indonesia yang dimanfaatkan sebagai biodiesel.

    Dari 3 juta KL yang berhasil dikumpulkan, hanya sekitar 570 KL yang dikonversi untuk biodiesel dan kebutuhan lainnya.

    Sementara sisanya sekitar 2,4 juta kilo liter digunakan untuk minyak goreng daur ulang dan ekspor.

    Baca: Mendulang cuan dari ekonomi sirkular

    TNP2K dan Traction Energy Asia menyebut, hal itu disebabkan belum adanya mekanisme pengumpulan minyak jelantah baik dari restoran, hotel dan rumah tangga.

    Sebaran lokasi sumber minyak jelantah yang tidak simetris dengan lokasi pabrik pengolahan biodiesel, teknologi pengolahan (terutama yang dikelola oleh masyarakat) yang belum cukup efisien. 

    Selain itu kualitas biodiesel hasil olahan minyak jelantah yang masih perlu diuji lebih jauh, menjadi tantangan selanjutnya.

    Padahal, pengolahan minyak jelantah untuk biodiesel, khususnya jika dilakukan oleh masyarakat, akan mendatangkan banyak manfaat baik dari sisi ekonomi, kesehatan maupun lingkungan.

    Baca: Insentif dibutuhkan untuk mendorong pasar mobil listrik

    Dari sisi ekonomi mendaur ulang minyak jelantah menjaid biodiesel juga sangat menjanjikan.

    Sardji Sarwan, pengelola Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) di Tarakan Timur mengatakan bahwa omzet produksi biodiesel yang dihasilkan kelompoknya sudah mencapai Rp 2 juta per hari.

    Untuk omzet sebesar itu ia mempekerjakan sembilan karyawan yang bekerja 4 jam per hari, dengan bayaran Rp 2 juta per bulan per orang.

    Produk biodiesel yang dihasilkan bisa mencapai 180 liter per hari dan dijual dengan harga Rp11.000 per liter.

    Walaupun data yang ada memang menunjukkan bahwa biaya konversi biodiesel berbahan baku minyak jelantah lebih besar daripada biaya konversi biodiesel berbahan baku minyak kelapa sawit.

    Namun demikian, harga indeks produksi (HIP) minyak jelantah untuk biodiesel lebih rendah dibanding HIP minyak kelapa sawit karena faktor bahan baku.

    Baca: DPR usulkan insentif untuk kawasan yang dipertahankan sebagai penghasil oksigen 

    Dari sisi kesehatan, serapan minyak jelantah untuk produksi biodiesel bisa mengurangi alokasi penggunaan minyak jelantah yang didaur-ulang sebagai bahan masakan, sehingga secara tidak langsung dapat mengurangi risiko meningkatnya kadar HNE.

    HNE adalah zat beracun yang mudah diserap dalam makanan yang dapat mengakibatkan stroke, alzheimer dan Parkinson.

    Dari sisi lingkungan, pengolahan minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel bisa berdampak positif terhadap pengurangan limbah B3.

    Mengolah kembali minyak jelantah berarti juga mengurangi pembuangan minyak jelantah yang dapat mencemari lingkungan dan mengganggu ekosistem.

    Baca: Mengapa pemerintah berencana terapkan pajak karbon

    Minyak jelantah yang dibuang sembarangan memberikan risiko meningkatnya kadar Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD) di perairan. Hal ini menyebabkan tertutupnya permukaan air dengan lapisan minyak.

    Akibatnya, sinar matahari tidak dapat masuk ke perairan yang mendorong matinya biota dalam perairan, serta berpotensi mencemari air tanah. 

    Selain itu sifat biodiesel yang bisa terurai dengan bantuan mikroorganisme lain, tidak beracun dan dapat menggantikan bahan bakar solar tanpa modifikasi lebih lanjut.

    Kondisi ini menjadikannya sebagai sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan sebagai pengganti bahan bakar fosil.

    Sejak 2018 biodiesel berbahan baku minyak kelapa sawit dijadikan mandatori oleh Pemerintah dan saat ini implementasinya sudah sampai B30, dengan campuran FAME 30 persen dan solar 70 persen.

    Ini tentu pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel merupakan salah satu opsi bisnis menjanjikan di masa depan.

     

  • Cerita Nicholas Saputra dan Lingkungan

    Cerita Nicholas Saputra dan Lingkungan

    7cloud.asia – Beberapa waktu lalu, aktor Nicholas Saputra memproduseri film dokumenter bertemakan lingkungan, Semesta.

    Menurut Nicholas Saputra, film Semesta ini mengangkat kisah tujuh orang dari berbagai daerah di Indonesia dan upaya mereka dalam melawan krisis iklim dengan menerapkan kearifan lokal, perspektif agama dan budaya masing-masing.

    Seperti apa Nicholas Saputra memotret alam, tentang terputusnya masyarakat kota dengan alam dan lingkungan; dan bagaimana menjalankan agama, kepercayaan, dan adat dengan baik menjadi kunci kesehatan Ibu Bumi dan kelangsungan hidup seluruh makhluk hidup di dalamnya.

    Berikut 7cloud.asia mengutip wawancara Marisa Anita dari greatmind.com dengan Nicholas Saputra tentang film Semesta tersebut:

    Marissa Anita (M): Nic, apa yang kamu mau ceritakan dengan Semesta?

    Nicholas Saputra (N): Di film dokumenter ini, kita berbicara soal lingkungan hidup melalui sudut pandang yang sedikit lain dan mungkin belum terlalu banyak dibuat dalam format film — berbicara tentang lingkungan hidup, tentang perubahan iklim melalui sudut pandang agama, budaya dan kepercayaan yang ada di Indonesia.

    M: Semesta dibuat sejak dua tahun lalu. Adakah suatu kejadian dalam hidupmu yang mendorongmu membuat film ini?

     N: Sebenarnya kepedulian atau kegelisahan tentang isu-isu lingkungan ini sudah ada di saya sejak lama. Saya banyak bekerjasama dengan pihak-pihak dengan visi yang sama selama lebih dari sepuluh tahun.

    Saya ingat pertama kali berkenalan dengan dunia (lingkungan ini  saat di Aceh pascatsunami. Saya bertemu dengan beberapa NGO (organisasi nirlaba). Mereka saat itu melakukan sesuatu sangat menarik.

    Mereka mendekati ulama-ulama atau ustadz-ustadz supaya di dalam ceramahnya menyinggung persoalan lingkungan hidup. Ini sudut pandang yang sangat menarik karena agama itu sangat penting bagi orang Indonesia. Kenapa tidak kita bicara melalui sudut pandang itu.

    Saya juga penasaran, ada nggak sih orang-orang yang melakukan sesuatu untuk lingkungannya berdasarkan agama atau kepercayaan yang mereka punya?

    M: Ada tujuh sosok yang diangkat dalam Semesta. Ceritakan siapa mereka dan apa yang mereka lakukan untuk menjaga lingkungan hidup?

     N: Tujuh sosok kita ikuti kesehariannya. Yang kita soroti adalah bagaimana mereka melakukan sesuatu terhadap lingkungannya berdasarkan agama atau kepercayaan yang mereka punya. Salah satunya adalah Pak Iskandar Waworuntu dari Yogyakarta. Beliau memiliki tiga hektar lahan yang dia olah menjadi sebuah sistem di mana mereka makan apa yang mereka tanam.

    Permakultur namanya. Mereka punya sapi dan kambing, kotorannya dipakai untuk pupuk. Semua limbahnya tidak ada yang terbuang. Kotoran disaring lagi untuk menjadi air bersih untuk menyiram tanaman. Jadi beliau tidak mau ada yang waste (limbah).

    M: Jadi gaya hidup nol limbah?

     N: Ya. Menurut beliau penting sekali meniadakan limbah. Tuhan sudah ciptakan untuk kita pakai semua, tinggal bagaimana kita mengelolanya. Semua ada manfaatnya. Ini yang beliau terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Pak Iskandar juga punya warung makanan yang semuanya organik dan semua diperlakukan dengan sangat baik. Di Semesta, kita tidak hanya mengangkat soal bagaimana beliau mengelola perkebunannya, tapi juga bagaimana beliau menerapkan sebuah prinsip yang sangat penting tapi jarang orang bahas yakni ‘thoyib’. ‘Thoyib’ tidak terpisahkan dari ‘halal’. Jadi harus ‘halal’ dan ‘thoyibah’ — halal dan baik. Baik buat lingkungan dan buat masyarakat di sekitarnya. Menurut beliau, ini adalah prinsip yang sangat Islami.

    Ini salah satu contoh bagaimana agama dan kepercayaan bisa diterapkan dalam menjaga lingkungan. Sangat esensial untuk kita bisa berdamai dengan alam, hidup berdampingan dengan alam dengan baik.

    Agama dan kepercayaan bisa diterapkan dalam menjaga lingkungan.

    M: Kerusakan lingkungan semakin lama semakin cepat, demi memenuhi target pertumbuhan keuntungan korporasi yang setiap tahun terus meningkat, dan kebutuhan populasi dunia secara umum. Kalau melihat kecepatan kerusakan ini, apakah ini berarti masih banyak manusia belum paham betul pentingnya hidup berdampingan dengan alam?

     N: Menurut saya ada berbagai macam permasalahan. Kita sedang mengalami masalah yang besar yakni krisis ekologis. Kita mengalami climate emergency (darurat iklim), nggak cuma climate change (perubahan iklim) atau climate crisis (krisis iklim).

    Salah satu faktor ini terjadi karena masyarakat urban seperti kita terputus dengan alam. Sementara masyarakat di pedesaan akan benar-benar merasakan perubahan ketika mereka salah memperlakukan alam sekitarnya.

    M: Contohnya?

     N: Misal ada satu bukit yang mereka tebang, daerah itu langsung panas, airnya berkurang, banjir — cepat sekali terjadinya dan mereka bisa merasakan langsung. Kita di kota, panas dikit nggak masalah karena ada AC. Kita orang urban bisa melakukan segala macam teknologi [untuk menghindari ketidaknyamanan karena kerusakan lingkungan]. Kita yang tinggal di kota besar terputus dengan alam.

    Di desa, masyarakatnya merasakan betul dampak ketika mereka missmanage (salah olah dan salah atur — red.) lingkungannya. Dampaknya bisa mempengaruhi kualitas hidup mereka.

    M: Jadi betul gaya hidup masyarakat urban berkontribusi lebih besar dalam percepatan kerusakan lingkungan?

     N: Betul. Tidak hanya perilakunya, tapi juga kebutuhan masyarakat urban. Financially we need to grow, we need to expand (secara finansial, ada kebutuhan untuk terus tumbuh, terus ekspansi — red.) buat masyarakat kota, untuk kualitas hidup masyarakat kota. Tapi kerusakan terasa di daerah pedesaan karena kita mengambil banyak sekali kebutuhan kita dari sana, kan? — merambah hutan, pertambangan.

    Jadi bisa jadi kuncinya ada di kota juga — bahwa perilaku kita orang urban harus berubah. Keputusan-keputusan kita yang berhubungan dengan makanan, pakaian, minuman, anything harus lebih bijak karena sangat berdampak pada apa yang terjadi pada orang-orang yang akan dilihat di film Semesta ini — [yang tinggal] di pesisir, di hutan hujan tropis, di hutan adat, di semi urban. Perilaku kita memang harus berubah. We have to change.

    M: Secara konkret, bagaimana kita mengubah perilaku dalam keseharian kita sehingga menjadi lebih ramah lingkungan?

     N: Banyak yang bisa kita lakukan. Saya pribadi menggunakan solar panel (panel surya) di atap rumah saya. Itu mengurangi gas rumah kaca dan emisi.

    M: Mahal nggak, Nic?

     N: I would call it an investment karena [pasang panel surya] awalnya memang lumayan mahal, tapi akan balik modal dalam lima, enam tahun. Enam tahun kalau di Jakarta karena pendapatan mataharinya ya. Habis gitu kita untung karena bayar listriknya jadi sedikit sekali. Saya kebetulan nggak 100%, hanya 70-80% [pakai panel surya] jadi bayar listriknya ya cuma 20% dari biasanya.

    M: That’s great. 

    N: Saya juga tidak boros dalam membeli baju. Saya hanya beli satu warna, kebanyakan putih semua. Hahaha. Saya me-recycle juga —  pakaian bisa dipakai untuk keluar rumah, sehari-hari, bisa dipakai juga buat baju tidur. Saya memperhatikan bagaimana saya membeli sandang. Macem-macem, tas, sepatu. Saya beli satu produk. Misalnya sudah rusak, saya beli lagi yang itu. Supaya saya terbiasa juga bahwa tidak ada kok keharusan kita harus beli baju ganti-ganti tiap hari. Supaya menekan ego kita juga. Jadi saya akhirnya pakai warna sama, putih semua saja.

    M: Sudah berapa lama seperti ini, Nic?

    N: Mungkin sudah tiga, empat tahun. Industri tekstil, kontribusinya sangat besar terhadap perubahan iklim karena limbah, penggunaan air.

    M: Fashion adalah industri ke-dua terbesar yang mencemari lingkungan kita. Apalagi dengan adanya fast fashion, pakaian murah tapi cepat rusak sehingga orang didorong untuk terus membeli.

    N: Ya. Jadi mari kita lebih bijak lah dalam keseharian. Di kota, kita  punya banyak pilihan produk. Tiap hari beli produk, makanan dan lain-lain. Mungkin kita bisa lebih kritis terhadap merk atau produk mana yang lebih ramah lingkungan, lalu kita pilih yang itu. Kalau kita bersama-sama melakukan ini, mungkin kita bisa menyelamatkan (bumi) pelan-pelan.

    M: Biasanya barang yang ramah lingkungan harganya mahal. Bagi yang tidak punya privilese untuk membeli produk seperti ini bagaimana?

    N: Kita beli baju lebih sedikit. Beli baju yang harganya agak lebih mahal, tapi ramah lingkungan.

    Tujuan dari film Semesta untuk mengajak orang untuk menyadari  apa keputusan atau perilaku yang bisa kita lakukan untuk lingkungan, no matter how small can make a big impact (sekecil apa pun bisa membawa dampak — red.).

    Tentang makanan, banyak yang bicara tentang veganisme yang bisa membantu mengurangi emisi CO2 dan lain-lain. Perilaku kita terhadap makanan juga sangat membantu karena berkaitan dengan penggunaan lahan. 

    M: Kamu vegetarian atau vegan?

    N: NggakBut I’m not a big fan of meat (tapi saya tidak terlalu suka daging – red.) jadi secara tidak sengaja, dua atau tiga hari, saya menjadi vegetarian karena cuma makan gado-gado, ketoprak, nasi sama telur, atau sama tempe tahu. Saya cukup sederhana soal makanan.

    M: Di film Semesta ada tujuh sosok yang diangkat. Pak Iskandar sudah. Kisah enam lainnya?

    N: Di Bali, kita mengikuti satu orang sosok Pendesa, Tjokorda Raka Kerthyasa, di Ubud yang membiarkan kita mengikuti kegiatannya sebelum Nyepi. Kita ingin cari tahu apa esensi Nyepi dan apa kontribusinya terhadap alam. Ternyata ada 300.000 ton karbon yang terpangkas dari kontribusi harian Bali pada hari itu. Bayangkan kalau seluruh dunia melakukan Nyepi?

    Di Flores, ada Romo Marselus Hasan yang menginisiasi kampungnya untuk bergotong royong membangun micro hydro power plant (pembangkit listrik tenaga mini-hidro) karena dia melihat tidak ada listrik di kampung itu sehingga masyarakat setempat pakai genset malam-malam. Berisik, polusi dan lain sebagainya. Dia melihat ada yang salah dengan ini.

    M: Apa yang dilakukan Romo ini apa hubungannya dengan agama?

    N: Beliau adalah Romo gereja Katolik setempat. Dua, tiga tahun lalu Paus Fransiskus mengeluarkan sebuah ensiklik namanya Laudato Si’. Di dalamnya ada arahan untuk menjaga lingkungan. Dan Romo Marsel menerapkan itu di tempat tinggalnya.

    M: Cool. Sosok berikutnya?

    N: Di Kalimantan. Ada sebuah kampung masyarakat adat Dayak Iban di Sungai Utik. Mereka berhasil mempertahankan 9000 hektar lahan adatnya untuk tetap menjadi hutan. Mereka memiliki sebuah manajemen [hutan] yang sudah turun temurun — zonasi lahan. Jadi, ada lahan di mana mereka boleh berburu apa pun kecuali orang utan dan satwa dilindungi lainnya. Ada lahan yang [hasilnya] boleh diambil tapi diatur, misalnya ketika mau menebang hutan [untuk membangun sesuatu], satu keluarga hanya boleh menebang sekian pohon.

    M: Dan mereka disiplin?

    N: Ya. Karena adat. Karena kalau tidak, kena hukum adat. Lalu ada satu zona namanya Hutan Keramat. You cannot take anything from it (dilarang mengambil apa pun dari hutan ini – red.). Mereka menjaga itu. Masyarakat Dayak Iban sangat tergantung pada hutannya. Kalau mereka nggak ada hutan, mereka tidak bisa upacara.

    M: Bali, Yogya, Flores, dan Kalimantan sudah. Mana lagi?

    N: Aceh. Kita masuk ke satu kampung, Desa Pameu, yang paling ujung di Aceh Tengah. Tempat ini dikelilingi hutan yang masih berdampingan dengan habitat gajah. Kita mengikuti satu imam desa, Muhammad Yusuf, dan beliau selalu mengingatkan bagaimana kita seharusnya hidup berdampingan dengan alam, dengan gajah dan lain sebagainya.

    Gajah itu punya wilayah jelajah sendiri. Cuma kita manusia kadang-kadang suka membangun di wilayah jelajah gajah untuk kampung atau perkebunan. Nah ketika gajah lewat, ya habis lah. Dalam satu malam kita bisa lihat satu kebun habis. Akhirnya banyak konflik [antara manusia dan gajah]. Kalau nggak diracun, dibunuh. Kita melihat bagaimana masyarakat kampung tersebut hidup berdampingan dengan gajah.

    Sementara di Papua ada Mama Almina Kacili. Kita mengangkat kisah sebuah kampung yang punya kearifan lokal namanya ‘Sasi’. Dengan kearifan lokal ini, kita bersepakat untuk tidak mengambil apa pun dari wilayah yang disepakati, dengan jangka waktu yang disepakati juga.

    [Cara konservasi] mereka seperti tabungan. Bisa hutan, bisa laut. Uniknya di kampung ini, Sasi diinisiasi sama ibu-ibu. Kampung ini sebetulnya sudah punya daerah yang di-Sasi. Tapi ibu-ibu bilang: “Kita juga punya kepentingan khusus. Anak-anak sakit, anak sekolah, baju seragam gereja dan lain-lain.” Jadi mereka meminta sebuah daerah untuk mereka lindungi.

    M: Sosok terakhir?

    N: Dari Jakarta. Ada Siti Soraya Cassandra. Dia dan suaminya mengelola sebuah ruang terbuka hijau di mana dia melakukan pelatihan untuk urban farming (pertanian kota). Dia merasa penting sekali bagi masyarakat kota untuk selalu terhubung dengan alam. Melihat sesuatu tumbuh, nanam. Jadi kita orang kota tahu prosesnya.

    M: Lokasinya di mana?

    N: Di Situ Gintung. Dulunya tempat pembuangan sampah lalu diubah menjadi organic farming (pertanian organik). Setiap weekend banyak orang-orang datang untuk belajar bercocok tanam.

    M: Harapan kamu ketika orang nonton Semesta?

    N: Mereka bisa terbuka, terinspirasi, terketuk hatinya, karena mereka akan melihat kisah-kisah orang-orang yang sangat mendedikasikan dirinya untuk menjaga lingkungan. Peduli banget.

    Masa melihat orang-orang yang pedulinya kayak begitu, kita nggak tersentuh sih? Kita harusnya tersentuh, karena buat saya ini sangat menyentuh dan sangat menginspirasi. Saya sangat kagum dengan mereka, tanpa bermaksud menokohkan. Saya yakin mereka ini  tujuh contoh dari banyak orang yang melakukan hal itu. Mereka menjaga alam dengan sungguh-sungguh, jadi kita juga harus.

     
  • 20 Film Soal Lingkungan yang Wajib Ditonton (1)

    20 Film Soal Lingkungan yang Wajib Ditonton (1)

    7cloud.asia – Isu lingkungan menjadi topik yang semakin seksi untuk diangkat di film dan televisi beberapa tahun belakangan ini.

    Kemajuan teknologi membuat warga dunia semakin mudah untuk mengakses berbagai film dokumenter atau film bertema lingkungan. 

    Mencari konten film yang menghibur sekaligus mendidik soal lingkungan  mungkin akan membuat Anda kewalahan.

    Berikut adalah 20 film lingkungan terbaik tahun 2022 pilihan earth.org. Baik film lama maupun film baru, film ini memotret beberapa masalah lingkungan terbesar, termasuk perubahan iklim, limbah makanan, ekosistem air, industri hewan, dan keberlanjutan.

    1. The Human Element (2019)
    Film lingkungan terbaik pilihan earth.org adalah The Human Element. Berpusat pada perubahan iklim, The Human Element mengisahkan pencarian fotografer lingkungan James Balog yang menyoroti empat elemen alam, udara, tanah, air, dan api diubah oleh aktivitas manusia.

    Menjadi pionir dalam videografinya, film dokumenter ini mengungkapkan bagaimana pemanasan global telah berkontribusi secara drastis terhadap kebakaran hutan dan angin topan yang mengganggu keseimbangan alam.

    Untuk mengkaji dampaknya, Balog mengunjungi warga Amerika di garis depan perubahan iklim, termasuk penduduk Pulau Tangier, sebuah komunitas nelayan yang menghadapi kenaikan permukaan laut. Film dokumenter ini mengajak penontonnya merenungkan kembali hubungan mereka dengan alam.

    Baca: Nicholas Saputra dan lingkungan 

    2. Before the Flood (2016)
    Daftar film lingkungan terbaik berikutnya adalah Before the Flood. Film ini merupakan kolaborasi antara aktor dan salah satu pendiri Earth Alliance Leonardo DiCaprio dan National Geographic.

    Membawa pemirsa ke seluruh dunia, film dokumenter ini menampilkan kisah-kisah pedih tentang bagaimana berbagai pemangku kepentingan dipengaruhi oleh perubahan iklim, melalui penggundulan hutan, naiknya permukaan laut, dan aktivitas manusia lainnya.

    Film ini mengajak para pemimpin dunia untuk memperjuangkan masa depan yang lebih berkelanjutan dan mempersenjatai pemirsa dengan solusi yang dapat mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari mengurangi konsumsi daging hingga memilih pemimpin yang akan memulai perubahan lingkungan yang positif.

    3. Eyes of Orangutan (2021)
    Fitur debut oleh jurnalis foto lingkungan yang diakui secara internasional Aaron Gekoski, Eyes of the Orangutan merinci penyalahgunaan primata dalam industri pariwisata.

    Film ini mendokumentasikan bagaimana orangutan dan hewan liar lainnya dipindahkan secara paksa dari habitat aslinya dan dipaksa tampil dalam pertunjukan yang merendahkan. Film ini juga mengungkap bagaimana sindikat penyelundupan orangutan bekerja.

    Meskipun tidak ada kekurangan adegan yang mengejutkan dan menjengkelkan, ini adalah film yang sangat penting yang menyoroti eksploitasi satwa liar. Film ini juga membuka  diskusi apakah turis bertanggung jawab dan terlibat dalam eksploitasi ini.

    Baca: Film jadi media efektif untuk kampanye peduli lingkungan

    4. 2040 (2019)
    2040 adalah pilihan optimis yang menyegarkan untuk mereka yang tak menyukai sesuatu yang terlalu suram. Alih-alih berfokus pada urgensi masalah, film dokumenter berorientasi solusi mencari alternatif kreatif untuk mengatasi tantangan perubahan iklim.

    Secara khusus, ini membayangkan terobosan teknologi yang, didukung oleh para akademisi dan ahli ekologi, memiliki potensi untuk membalikkan keadaan pada tahun 2040.

    Contoh kasusnya termasuk energi terbarukan seperti energi surya, pergeseran menuju praktik pertanian regeneratif, dan penggunaan rumput laut yang serbaguna. sebagai fasilitator ketahanan pangan.

    5. An Inconvenient Truth (2006)
    An Inconvenient Truth mengisahkan kampanye mantan Wakil Presiden AS Al Gore pada tahun 2000 untuk mengedukasi masyarakat tentang pemanasan global. Film dokumenter inimenonjol dalam narasi eksperimentalnya.

    Gore menyebut, kampanye tentang perubahan iklim ini telah lebih dari 1000 kali disampaikan kepada khalayak di seluruh dunia. Selain grafik mendetail, diagram alir, dan visual, peragaan slide Keynote juga menyusun anekdot pribadi Gore seperti pendidikan kuliahnya dengan pakar iklim awal.

    Film diakhiri dengan Gore menekankan bagaimana “masing-masing dari kita adalah penyebab pemanasan global, tetapi […] .] solusinya ada di tangan kita.” Ini adalah salah satu film lingkungan terbaik yang pernah dibuat.

    Baca: Blacpink pun ikut kampanye perubahan iklim

    6. RiverBlue (2017)
    RiverBlue mengikuti ahli konservasi Kanada, profesor dan pendayung Mark Angelo memulai perjalanan sungai tiga tahun yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh dunia.

    Selama petualangannya, dia menyingkap kerusakan permanen yang ditimbulkan oleh industri mode global pada persediaan air.

    Melalui interaksi dengan para konservasionis lokal yang diselingi rekaman sungai dan laut yang tercemar berat oleh bahan kimia beracun, film eco-fashion ini mendorong kita untuk mengevaluasi kembali kehausan kita akan fast fashion dan mengarahkan kembali praktik konsumsi kita.

    7. Artifishal (2019)
    Diproduksi oleh Patagonia, Artifishal mengungkap dampak penangkapan ikan berlebihan, dengan fokus khusus pada salmon liar, yang kini berada di ambang kepunahan di Amerika Utara.

    Film dokumenter ini menyoroti implikasi peternakan salmon liar di peternakan akuakultur dan pembenihan ikan yang merupakan salah satu dari banyak upaya kami untuk mengeksploitasi alam demi keuntungan.

    Artifishal membuka jendela yang jarang jujur ​​tentang bagaimana selera obsesif kita terhadap makanan laut mengikis keragaman sistem ekologi

    Baca: Kerja keras Coldplay wujudkan tur ramah lingkungan

    8. Chasing Coral (2017)
    Film ini adalah dokumenter produksi Netflix, mengabadikan tim penyelam, fotografer, dan ilmuwan yang berkumpul untuk mendokumentasikan hilangnya terumbu karang akibat pemanasan global.

    Mereka memulai perjalanan laut, menemukan banyak terumbu karang yang memutih di seluruh dunia. Produser film berhasil mengilustrasikan bahwa kematian kehidupan akuatik yang mengancam adalah tragedi lingkungan yang kita buat sendiri dan hanya dapat dicegah melalui intervensi aktif.

    9. David Attenborough: Kehidupan di Planet Kita (2020)
    Film dokumenter ini berfungsi sebagai “pernyataan saksi” dari naturalis berusia 94 tahun David Attenborough, yang menelusuri karirnya sebagai sejarawan alam dan menguraikan bagaimana keanekaragaman hayati planet Bumi telah merosot selama masa hidupnya.

    Narasi dimulai di Pripyat, kota hantu tempat bekas Pabrik Nuklir Chernobyl, dan melintasi berbagai lokasi termasuk Serengeti Afrika. Dia menyesali penurunan drastis satwa liar, yang disebabkan oleh manusia.

    Attenborough pada akhirnya mengartikulasikan harapan untuk masa depan dan menghadirkan solusi terdepan yang dapat memulihkan keanekaragaman hayati. Melihat karirnya selama lima dekade, ini bisa dengan mudah disebut sebagai salah satu film lingkungan terbaik sepanjang masa.

    Baca: Film-film ini bakal bikin kamu makin cinta Indonesia

    10. My Octopus Teacher (2020)
    My Octopus Teacher (Netflix) menangkap pembuat film dan penyelam Craig Foster yang menjalin persahabatan aneh dengan gurita liar.

    Difilmkan di hutan rumput laut di False Bay dekat Cape Town, Afrika Selatan, pengalaman sekali seumur hidupnya termasuk melacak pergerakan gurita setiap hari, menyaksikan bagaimana gurita mempertahankan diri melawan hiu piyama dan akhirnya mati setelah kawin.

    Foster menggambarkan efek dari pertemuan yang tidak biasa ini dalam hidupnya dan selanjutnya merefleksikan hubungannya dengan putranya, yang kini tertarik pada keajaiban kehidupan laut.

    Sumber: earth.org, baca artikel asli di sini

     

     

     

     

  • AS Legalkan Penjualan Daging Hasil Budidaya Sel Hewan

    AS Legalkan Penjualan Daging Hasil Budidaya Sel Hewan

    7cloud.asia – Departemen Pertanian Amerika Serikat (AS), Rabu (14/6/2023) waktu setempat, untuk pertama kalinya menyetujui penjualan daging ayam hasil budidaya sel hewan.

    Persetujuan tersebut memungkinkan dua perusahaan di California: Upside Foods dan Good Meat, menjual daging “yang diproduksi di laboratorium” ke restoran-restoran, dan akhirnya ke masyarakat luas.

    Langkah ini meluncurkan era baru produksi daging dan secara drastis mengurangi dampak lingkungan dari penggembalaan, penyediaan pakan untuk hewan, dan kotoran hewan.

    Josh Tetrick, salah satu pendiri dan CEO Eat Just, Inc., perusahaan yang mengoperasikan Good Meat, pada Oktober 2018, mengatakan kepada kantor berita Associated Press, bahwa dengan kondisi dunia seperti sekarang, dengan pertumbuhan populasi, dengan tekanan pada sistem air dan tanah, dibutuhkan cara yang lebih baik.

    “Cara yang lebih bersih, cara yang lebih aman. Menurut kami, gagasan menyediakan daging yang mereka sukai tanpa membunuh hewan, mungkin merupakan cara yang baik untuk membantu kita makan dengan lebih baik pada masa depan.” ujarnya.

    Baca: Start up asal Singapura ini ubah limbah makanan jadi produk bernilai tinggi

    Untuk menjual daging dan unggas di Amerika, perusahaan harus mengantongi hasil inspeksi yang dilakukan pemerintah federal.

    Persetujuan untuk daging hasil laboratorium ini didapat berbulan-bulan setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan menganggap bahwa daging tersebut aman dikonsumsi.

    Jason Hull, koki di Marin County, mencicipi daging buatan ini. “Rasanya enak. Teksturnya pas, dan ini tidak mudah dilakukan, kan?”

    Daging hasil budidaya dikembangkan dalam tangki baja dengan menggunakan sel dari hewan hidup, telur yang dibuahi, atau bank khusus yang menyimpan sel-sel.

    Good Meat, yang sudah menjual daging budidaya di Singapura, negara pertama yang mengizinkannya, mengubah massa sel ayam menjadi irisan daging, nugget, daging yang disuwir, dan sate.

    Baca: Dampak sampah makanan pada lingkungan

    Upside Foods dan Good Meat berencana menawarkan makanan baru ini terlebih dahulu ke restoran eksklusif. Upside bermitra dengan Bar Crenn, restoran di San Francisco.

     
    Sedangkan Good Meat akan disajikan di restoran di Washington, DC, yang dikelola koki dan pemilik restoran, Jose Andrés.

    Pejabat-pejabat di kedua perusahaan menegaskan bahwa produk mereka betul-betul daging. Bukan pengganti daging yang terbuat dari protein nabati dan bahan lainnya.

    Amy Chen dari Upside Foods menjelaskan, “Jadi, daging yang kita cintai dan makan dalam puluhan ribu tahun sebenarnya secara biologis sama dengan daging yang kami budidayakan. Tetapi dibuat dengan cara yang benar-benar baru.”

    Baca: Ini yang bisa kamu lakukan untuk kurangi sampah makanan

    Secara global, lebih dari 150 perusahaan berfokus pada daging dari sel, tidak hanya daging ayam tetapi juga daging babi, domba, ikan, dan sapi, yang menurut para ilmuwan memiliki dampak terbesar terhadap lingkungan.

    Upside Foods dan Good Meat sama-sama menekankan bahwa produksi awal mereka akan dibatasi.

    Upside sekarang mampu memproduksi hingga 50.000 pon daging per tahun. Mereka akan meningkatkan produksi hingga 400.000 pon atau lebih dari 181 ribu kg per tahun. Good Meat tidak menetapkan target produksi.

    Sebagai perbandingan, Amerika menghasilkan sekitar 50 miliar pon atau 22.679.000.000 daging ayam per tahun. 

    Sumber: VOA Indonesia

     
  • Risiko Pengrusakan Hutan Meningkat, Isu Lingkungan Harus Jadi Perhatian Jelang Pemilu 2024

    Risiko Pengrusakan Hutan Meningkat, Isu Lingkungan Harus Jadi Perhatian Jelang Pemilu 2024

    7cloud.asia – Perlindungan lingkungan hidup dalam rangka menanggulangi krisis iklim, termasuk perlindungan hutan serta lahan dan hak-hak masyarakat adat serta kelompok rentan, harus menjadi perhatian dalam momen Pemilu 2024.

    Komitmen para calon legislatif dan eksekutif terhadap perlindungan lingkungan perlu tercermin tidak hanya selama periode pencalonan, tetapi harus berlanjut pasca Pemilu 2024.

    Pemerintah saat ini juga perlu berkomitmen tinggi untuk mencegah “obral” izin pembukaan lahan yang kerap terjadi pada tahun-tahun politik sebelumnya.

    “Saat ini, Indonesia akan menghadapi momentum politik menjelang 2024. Hal ini menjadi peluang untuk menentukan dan memilih pemimpin yang dapat merealisasikan agenda perlindungan lingkungan hidup, hutan dan lahan serta pengendalian krisis iklim.” ujar Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan Nadia Hadad saat membuka diskusi “Menjaga Hutan Tersisa” Nasib Hutan di Momen Politik 2024 pada 15 Juni 2023 lalu.

    Baca: Indonesia termasuk negara dengan hutan terluas di dunia

    Direktur Eksekutif Forest Watch Indonesia, Mufti Barri mengungkapkan kekhawatirannya tentang tren pembukaan hutan saat kontestasi politik. Forest Watch mencatat, di beberapa Pemilu sebelumnya terjadi pelepasan hutan dalam jumlah besar.

    “Ini terjadi pada zaman Soeharto dan SBY. Di akhir era orde baru dan pemerintahan SBY terjadi pelepasan hutan sekitar 275 ribu ha (Orde Baru) dan sekitar 291 ribu ha (SBY) sesaat sebelum pergantian presiden,” tutur Mufti saat menjadi pemantik diskusi. 

    Untuk itu, Ia berharap hutan tidak lagi dikorbankan untuk pundi-pundi politik guna biaya kampanye. Pihaknya akan  terus memantau 2-3 bulan sebelum dan setelah Pemilu 2024 dan Pilkada serentak dilakukan. 

    “Kami juga berharap Menteri LHK yang sekarang tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh menteri-menteri sebelumnya yang melakukan pelepasan kawasan hutan di detik-detik terakhir sebelum rezimnya berakhir,” tambah Mufti Bahri.

    Baca: Perdagangan karbon ditata-ulang untuk maksimalkan pendapatan negara

    Sementara, Program Assistant Hutan dan Iklim Yayasan Madani Berkelanjutan, Salma Zakiyah memaparkan, saat ini terdapat sekitar 9,7 juta hektare hutan alam Indonesia yang mendesak untuk segera dilindungi agar Indonesia dapat mencapai komitmen iklim. 

    “Hutan alam ini berada di luar izin/konsesi dan belum masuk ke area perlindungan dari izin baru atau moratorium hutan permanen,” kata Salma.

    Salma menegaskan, hutan alam di dalam izin dan konsesi eksisting harus menjadi perhatian khusus karena rentan mengalami deforestasi dan degradasi hutan.

    Salma memaparkan, berdasar analisis Madani Berkelanjutan,  saat ini terdapat 16,6 juta ha hutan alam berada di area izin PBPH-HA (Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan pada Hutan Alam), 3,5 juta ha berada di area konsesi minerba.

    Sedangkan 3,1 juta hektare lainnya berada di area izin perkebunan sawit, dan 3 juta ha berada di area PBPH-HT (Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan pada Hutan Tanaman).

    Baca: DPR Usulkan insentif untuk daerah penghasil oksigen

    Apabila hutan alam yang berada di dalam izin-izin tersebut tidak diselamatkan, Indonesia akan sulit untuk mencapai target iklim di sektor kehutanan dan lahan serta target FOLU Net Sink 2030.

    Regina Bay, Perwakilan Masyarakat Adat Namblong di Lembah Grime, Jayapura, bercerita tentang tanah adatnya seluas 32 ribu hektare yang digusur sebuah perusahaan.

    Ia menuturkan bagaimana proses penggusuran dilakukan secara sepihak oleh Kepala Suku yang dibujuk, padahal masyarakat tidak menerima pemberitahuan apapun.

    Ia menambahkan, masyarakat setempat kini menghadapi ancaman tenggelamnya wilayah Masyarakat Adat Namblong di Lembah Grime jika hutan di lembah tersebut habis.

    “Dan kami lebih khawatir lagi jika pemimpin yang terpilih nanti lebih pro pada pengusaha,” cetus Regina Bay.

    Baca : Sudahkan kebijakan memihak kepada nelayan yang terdampak kerusakan lingkungan

    Yuyun Indradi, Direktur Eksekutif Trend Asia, mempertanyakan political will pemerintah dalam melindungi lingkungan dan manusia, selain dari pertumbuhan ekonomi. Ia menekankan,

    Penegakan hukum menjadi kunci untuk dapat mengimplementasikan safeguard meskipun standar safeguard yang ada di Indonesia saat ini masih sangat lemah.

    Ekonomi dan kepentingan investasi masih menjadi panglima dan belum memperhitungkan aspek sosial dan lingkungan. Dan sejarah seperti berulang, harapan Presiden yang pro-hutan atau lingkungan masih tipis. Untuk itu perlu suara kencang dari pemilih pemula untuk melawan perusakan hutan,” kata Yuyun Indradi. 

     

  • Mengungkap Sisi Gelap Fast Fashion Bagi Lingkungan dan Kehidupan Sosial

    Mengungkap Sisi Gelap Fast Fashion Bagi Lingkungan dan Kehidupan Sosial

    7cloud.asia – Produsen pakaian seperti Zara, Forever 21, dan H&M membuat pakaian dengan harga lebih terjangkau dan modis yang biasa dikenal dengan fast fashion untuk memenuhi kebutuhan konsumen muda.

    Namun, pernahkan kamu memikirkan dampak fast fashion ini pada kelestarian lingkungan yang ternyata sangat luar biasa? 

    Menurut Program Lingkungan PBB (UNEP), industri fast fashion adalah konsumen air terbesar kedua dan bertanggung jawab atas sekitar 10 persen emisi karbon global – lebih dari gabungan semua penerbangan internasional dan pengiriman laut.

    Sayangnya, masalah yang ditimbulkan fast fashion seringkali disepelekan oleh konsumen.

    Mungkin sebagian dari kamu bertanya-tanya apa itu Fast Fashion? Istilah ‘fast fashion’ menjadi lebih menonjol dalam percakapan seputar fashion, keberlanjutan, dan kesadaran lingkungan.

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif bagi lingkungan

    Istilah fast fashion mengacu pada ‘garmen yang diproduksi dengan harga murah yang meniru gaya catwalk terbaru dan dipompa dengan cepat melalui toko berjaringan untuk memaksimalkan tren saat ini’.

    Disebut fast fashion, karena industri ini melibatkan desain, produksi, distribusi, dan pemasaran pakaian yang cepat, yang berarti bahwa pengecer dapat menarik variasi produk dalam jumlah besar dan memungkinkan konsumen untuk mendapatkan lebih banyak mode dan diferensiasi produk dengan harga yang terjangkau.

    Istilah fast fashion pertama kali digunakan pada awal tahun 1990-an, saat Zara mendarat di New York.

    Istilah fast fashion diciptakan oleh New York Times untuk menggambarkan misi Zara untuk hanya membutuhkan waktu 15 hari untuk mengubah pakaian dari tahap desain hingga bisa dijual di toko-toko.

    Selain Zara, pemain terbesar di dunia fast fashion antara lain adalah UNIQLO, Forever 21 dan H&M.

    Baca: Nggak cuma suka tanaman, berikut cara jalani gaya hidup ramah lingkungan

    Sisi Gelap Fast Fashion
    Menurut analisis Business Insider, produksi fesyen menyumbang 10 persen dari total emisi karbon global, sama banyaknya dengan Uni Eropa.

    Fast fashion menyerap begitu banyak sumber air dan mencemari sungai dan sungai, sementara 85 persen dari semua tekstil dibuang ke tempat pembuangan setiap tahun.

    Bahkan, dalam proses pencuciannya, industri fast fashion bisa melepaskan 500.000 ton serat mikro ke laut setiap tahunnya, setara dengan 50 miliar botol plastik.

    Laporan Quantis International 2018 menemukan bahwa tiga pendorong utama dampak polusi global industri fast fashion adalah tahap pewarnaan dan finishing (36 persen), penyiapan benang (28persen), dan produksi serat (15persen).

    Laporan tersebut juga menetapkan bahwa produksi serat memiliki dampak terbesar pada pengambilan air tawar (air yang dialihkan atau diambil dari sumber air permukaan atau air tanah) dan kualitas ekosistem karena budidaya kapas.

    Baca: Mengapa gaya hidup minimalis lebih ramah lingkungan

    Sedangkan tahap pencelupan dan penyelesaian, penyiapan benang dan produksi serat memiliki dampak tertinggi. dampak pada penipisan sumber daya, karena proses intensif energi berbasis energi bahan bakar fosil.

    Menurut Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim, emisi dari manufaktur tekstil saja diproyeksikan meroket hingga 60 persen pada tahun 2030.

    Waktu yang diperlukan suatu produk fast fashion untuk melewati rantai pasokan, dari desain hingga pembelian atau ‘waktu tunggu’ ini rata-rata hanya dalam itungan minggu.

    Pada tahun 2012, Zara mampu merancang, memproduksi, dan mengirimkan garmen baru dalam dua minggu; Forever 21 dalam enam minggu dan H&M dalam delapan minggu. Hal ini menyebabkan industri fesyen menghasilkan limbah dalam jumlah yang tidak sedikit.

    Dampak fast fashion pada lingkungan

    1.Air
    Dampak lingkungan dari fast fashion terdiri dari penipisan sumber daya tak terbarukan, emisi gas rumah kaca dan penggunaan air dan energi dalam jumlah besar. Industri fesyen adalah industri konsumen air terbesar kedua, membutuhkan sekitar 700 galon untuk memproduksi satu kemeja katun dan 2.000 galon air untuk memproduksi celana jeans.

    Business Insider juga memperingatkan bahwa pencelupan tekstil adalah pencemar air terbesar kedua di dunia, karena sisa air dari proses pencelupan sering dibuang ke selokan, sungai, atau sungai.

    Baca: Gaya hidup tak ramah lingkungan yang layak ditinggalkan

    2. Mikroplastik
    Sejumlah merek fast fashion menggunakan serat sintetis seperti poliester, nilon, dan akrilik yang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai.

    Sebuah laporan tahun 2017 dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) memperkirakan bahwa 35 persen dari semua mikroplastik – potongan kecil plastik yang tidak dapat terurai secara hayati – di lautan berasal dari pencucian tekstil sintetis seperti poliester.

    Menurut film dokumenter yang dirilis pada tahun 2015, The True Cost, dunia mengonsumsi sekitar 80 miliar potong pakaian baru setiap tahun, 400% lebih banyak dari konsumsi dua puluh tahun lalu.

    Rata-rata orang Amerika sekarang menghasilkan 82 pon limbah tekstil setiap tahun. Produksi kulit membutuhkan pakan, tanah, air, dan bahan bakar fosil dalam jumlah besar untuk memelihara ternak.

    Sedangkan proses penyamakan disebut sebagai yang paling beracun di semua rantai pasokan fesyen karena bahan kimia yang digunakan untuk menyamak kulit, seperti garam mineral, formaldehida, turunan tar batubara dan berbagai minyak dan pewarna. 

    Bahan-bahan ini tidak dapat terurai secara hayati dan akan mencemari sumber air.

     

    Baca: Kisah keluarga yang 15 tahun jalani gaya hidup minimalis

    3. Energi
    Produksi pembuatan serat plastik menjadi tekstil adalah proses intensif energi yang membutuhkan minyak bumi dalam jumlah besar dan melepaskan partikel yang mudah menguap dan asam seperti hidrogen klorida.

    Selain itu, kapas yang merupakan produk fast fashion dalam jumlah besar juga tidak ramah lingkungan untuk diproduksi. Pestisida yang dianggap perlu untuk pertumbuhan kapas menimbulkan risiko kesehatan bagi petani.

    Untuk mengatasi pemborosan yang disebabkan oleh fast fashion ini, direkomendasikan penggunaan kain yang lebih ramah lingkungan untuk pakaian antara lain sutra liar, katun organik, linen, rami, dan lyocell.

    Fast fashion tidak hanya memiliki dampak lingkungan yang sangat besar. Bahkan, industri ini juga menimbulkan masalah sosial, terutama di negara berkembang. Menurut Remake nirlaba, 80 persen pakaian dibuat oleh perempuan muda berusia antara 18 dan 24 tahun.

    Laporan Departemen Tenaga Kerja AS tahun 2018 menemukan bukti adanya ‘kerja paksa’ dan pekerja anak di industri mode di Argentina, Bangladesh, Brasil, Tiongkok , India, Indonesia, Filipina, Turki, Vietnam dan lainnya.

    Baca: Dampak sampah makanan pada lingkungan

    Produksi cepat berarti bahwa penjualan dan keuntungan menggantikan kesejahteraan manusia.

    Pada 2013, sebuah bangunan pabrik delapan lantai yang menampung beberapa pabrik garmen runtuh di Dhaka, Bangladesh, menewaskan 1.134 pekerja dan melukai lebih dari 2.500 orang.

    Dalam proyeknya, An Analysis of the Fast Fashion Industry, Annie Radner Linden menyatakan bahwa ‘industri garmen selalu menjadi industri padat modal dan padat karya’.

    Dalam bukunya, No Logo, Naomi Klein berpendapat bahwa negara berkembang layak untuk industri garmen karena ‘tenaga kerja murah, keringanan pajak yang besar, dan undang-undang dan peraturan yang lunak’.

    Menurut The True Cost, satu dari enam orang bekerja di industri fesyen global, menjadikannya industri yang paling bergantung pada tenaga kerja.

    Negara-negara berkembang ini juga jarang mengikuti peraturan yang melindungi lingkungan; China, misalnya, adalah produsen utama fast fashion tetapi terkenal dengan degradasi tanah dan polusi udara dan air.

    Jadi dengan sederet masalah yang ditimbulkannya, kita perlu merenung apakah kita akan terus mengikuti tren fast fashion yang kini tengah digandrungi anak muda dunia. Atau kita mencari jalan lain yang lebih ramah lingkungan. Temukan jawabannya dalam tulisan selanjutnya di 7cloud.asia.

    Sumber: earth.org

  • Pemilu 2024: Pilih Pemimpin yang Punya Komitmen Terhadap Perlindungan Lingkungan

    Pemilu 2024: Pilih Pemimpin yang Punya Komitmen Terhadap Perlindungan Lingkungan

    Foto: Setkab

    7cloud.asia – Perlindungan lingkungan hidup dalam rangka mengantisipasi krisis iklim,
    termasuk perlindungan hutan serta lahan dan hak-hak masyarakat adat serta kelompok rentan, harus menjadi perhatian dalam momen Pemilu 2024.

    Komitmen politik untuk melindungi lingkungan dan hutan dari para kontestan yang akan berlaga di Pemilu 2024 harus menjadi pertimbangan pemilih dalam memberikan suaranya.

    Pemerintah saat ini juga perlu berkomitmen tinggi terkait perlindungan lingkungan hidup. Pemerintah diminta mencegah “obral” izin pembukaan lahan yang kerap terjadi pada tahun-tahun politik sebelumnya.

    Baca: Indonesia menjadi salah satu negara dengan hutan terluas di dunia

    Nadia Hadad, Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan mengatakan Pemilu 2024 harus bisa memilih pemimpin yang peduli lingkungan.

    “Pemilu 2024 harusnya menjadi peluang untuk menentukan dan memilih pemimpin yang dapat merealisasikan agenda perlindungan lingkungan hidup, hutan dan lahan serta pengendalian krisis iklim,” ujarnya saat membuka diskusi bertajuk “Menjaga Hutan Tersisa” Nasib Hutan di Momen Politik 2024 yang diselenggarakan pada 15 Juni 2023 lalu 

    Ferdian Yazid, Program Manager Natural Resource and Economic Governance Transparency
    International Indonesia, menyampaikan bahwa politik di Indonesia masih berbentuk kartel politik.

    Baca: DPR usulkan insentif untuk daerah penghasil oksigen

    Untuk itu penting adanya transparansi pendanaan yang dilakukan oleh kandidat calon presiden dan juga calon anggota legislatif yang akan berlaga di Pemilu 2024.

    “Kandidat calon Presiden dan calon anggota legislatif di Pemilu 2024 harus transparan dalam pendanaan, terutama dalam pembiayaan kampanyenya,” tendasnya.

    Ia menambahkan, jangan sampai seorang caleg visi misinya sangat peduli dengan lingkungan, namun di belakang dia, dan sumber pendanaannya berasal dari korporasi yang mengeksploitasi sumber daya alam.

    Baca: Jelang Pemilu 2024, Izin pembukaan hutan jangan diobral

    Selain itu, Ferdian Yazid mengajak para pemilih agar tidak mau terfragmentasi pada saat Pemilu 2024 dan menjadikan perlindungan lingkungan khususnya perlindungan hutan sebagai isu yang diperjuangkan bersama.

    “Perjuangan melawan perusakan hutan dan lingkungan harus berlanjut hingga pasca pemilu,” tandasnya. 

    Dalam kesempatan yang sama, Yuyun Indradi, Direktur Eksekutif Trend Asia, mempertanyakan political will pemerintah dalam melindungi lingkungan dan manusia, selain dari pertumbuhan ekonomi.

    Baca: Desa di pesisir Pantura ini tenggelam akibat perubahan iklim

    Ia menekankan, bahwa penegakan hukum menjadi kunci untuk dapat mengimplementasikan safeguard. Meskipun diakuinya, standar safeguard yang ada di Indonesia saat ini masih sangat lemah.

    Ekonomi dan kepentingan investasi masih menjadi panglima dan pengelolaan negara belum memperhitungkan aspek sosial dan lingkungan.

    “Dan sejarah seperti berulang, harapan Presiden yang pro-hutan atau lingkungan masih tipis. Untuk itu perlu suara kencang dari pemilih pemula untuk melawan perusakan hutan,” katanya. 

    Baca: Mekanisme perdagangan karbo ditataulang demi maksimalkan pendapatan negara

  • Bumi Butuh Aksi Nyatamu, Sudahkah Kamu Terlibat dalam Gerakan Iklim?

    Bumi Butuh Aksi Nyatamu, Sudahkah Kamu Terlibat dalam Gerakan Iklim?

    7cloud.asia – Kamu mungkin mulai tertarik untuk terlibat dalam gerakan ikllim dan bertanya bagaimana caranya bergabung dengan gerakan ini?

    Berikut kiat yang diberikan earth.org untuk bisa bergabung dalam gerakan iklim guna bersama-sama mengantisipasi perubahan iklim dan dampaknya bagi lingkungan. 

    Selain melakukan langkah-langkah kecil dalam kehidupan sehari-hari, earth.org menyarankan kamu untuk bergerak bersama-sama agar gerakan iklim ini bisa menimbulkan impact yang lebih besar. 

    Gerakan iklim di tingkat pribadi antara lain dapat diwujudkan dengan menerapkan gaya hidup ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari-hari.

    Baca: Greta Thunberg berjuang untuk lingkungan sejak umur 8 tahun

    Langkah ini bisa dilakukan dengan mengembangkan tindakan pribadi dengan perubahan perilaku kecil seperti hemat energi, cerdas mengonsumsi, mengurangi sampah dan lain sebagainya. 

    “Walaupun bermanfaat, gerakan iklim seperti ini tidak akan membawa kita ke tujuan dari gerakan iklim yang sebenarnya,” demikian tulis earth.org di laman resminya. 

    Untuk itu kamu disarankan untuk bergabung dengan komunitas gerakan iklim di lingkungan tempat tinggal kamu.

    Cara ini dinilai menjadi salah satu cara terbaik untuk meningkatkan kesadaran pentingnya gerakan iklim kepada orang-orang di sekitar kamu. 

    Baca: Nicholas Saputra mengubah pola konsumsinya demi lingkungan

    Earth.org menjelaskan manfaat bergabung dengan komunitas yang lebih besar, yaitu:
    Pertama, ini memungkinkan kamu  membangun ratusan koneksi sekaligus.
    Kedua, sekelompok orang yang bekerja bersama dapat memiliki dampak yang lebih besar daripada individu.

    Jika kamu belum melakukannya, kamu bisa bergabung dengan eath.org guna mewujudkan misi mereka mendorong satu miliar aktivis iklim.

    Jika kamu masih muda, mintalah orang tua untuk mengambil tindakan dengan mendaftarkan seluruh keluarga sebagai anggota Keluarga.

    “Kami membutuhkan satu miliar aktivis untuk memutar kapal ini,” tulis earth.org

    Baca: Aksi keren anak muda Bandung demi lingkungan

    Tingkat Profesional

    Kamu juga bisa terlibat dalam gerakan iklim di tempat kerja. Caranya dengan bertahan di jalur karir kamu tetapi pertimbangkan untuk menyumbangkan sebagian dari pendapatanmu ke organisasi yang berfokus pada pencapaian tujuan yang bermakna dan berdampak.

    Kamu juga bisa mengajak atasan kamu jika perusahaan atau organisasi tempat kamu bekerja tidak memiliki kebijakan untuk mengurangi emisi guna mencegah kerusakan lingkungan.

    “Minta atasan untuk mendukung EO dengan membawa seluruh tim bergabung dengan keanggotaan perusahaan EO – dan mengambil tindakan bersama gerakan iklim,” demikian tulis earth.org

    Baca: Aktivisme perempuan dalam gerakan iklim global

    Di tataran yang lebih luas atau politik, kamu bisa menggunakan hak pilih kamu dengan memilih politikus yang peduli lingkungan.

    Kamu juga bisa mengekspresikan perasaan kamu dan menyuarakan pentingnya gerakan iklim menjadi gerakan bersama.

    Berikut cara yang bisa kamu lakukan untuk membuat gerakan iklim menjadi lebih masif:
    1. Bergabunglah dengan organisasi yang mengorganisir aksi dan protes iklim secara lokal, baik di kota, kabupaten, atau bahkan di sekolah Anda.
    2. Pilih (jika Anda bisa) untuk politisi yang akan memperjuangkan aksi iklim yang efektif oleh pemerintah.
    3. Pilih partai atau organisasi yang mendukung reformasi diri dan adopsi ‘Menteri Masa Depan’ ke dalam pemerintahan.

    Baca: Gerakan iklim ala DemiBumi 

  • Apakah Slow Fashion Jadi Solusi Dampak Lingkungan Fast Fashion?

    Apakah Slow Fashion Jadi Solusi Dampak Lingkungan Fast Fashion?

    7cloud.asia – Dalam tulisan sebelumnya kita sudah mengulas tentang dampak fast fashion bagi lingkungan.

    Mungkin banyak dari kita yang bertanya-tanya apakah ada solusi atau alternatif dari fast fashion? Apakah slow fashion yang menjaid kebalikan dari fast fashion bisa menjadi solusi?

    Slow fashion adalah reaksi luas terhadap fast fashion dan dampak lingkungannya. Slow fashin berargumen untuk menghentikan produksi yang berlebihan, rantai pasokan yang terlalu rumit, dan konsumsi yang tidak masuk akal.

    Baca: Mengurai dampak fast fashion pada lingkungan

    Berbeda dengan fast fashion, slow fashion menganjurkan industri fashion untuk lebih menghormati manusia, lingkungan dan binatang.

    World Resources Institute menyarankan agar perusahaan perlu merancang, menguji, dan berinvestasi dalam model bisnis yang menggunakan kembali pakaian dan memaksimalkan masa manfaatnya.

    PBB telah meluncurkan Alliance for Sustainable Fashion untuk mengatasi kerusakan yang disebabkan oleh fast fashion.

    Baca: Mengapa gaya hidup minimlais lebih ramah lingkungan

    Aliansi ini berusaha untuk ‘menghentikan praktik mode atau fast fashion yang merusak lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat’.

    Salah satu cara pembeli mengurangi konsumsi fast fashion adalah dengan membeli dari penjual barang bekas seperti ThredUp Inc. dan Poshmark, keduanya berbasis di California, AS.

    Dalam sistem ini, pembeli mengirimkan pakaian yang tidak diinginkan ke situs web ini dan orang-orang membeli pakaian tersebut dengan harga lebih murah dari aslinya.

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif pada lingkungan

    Solusi lain adalah menyewa pakaian, seperti Rent the Runway dan Gwynnie Bee yang berbasis di AS, Girl Meets Dress yang berbasis di Inggris, dan perusahaan Belanda Mud Jeans yang menyewakan jeans organik yang dapat disimpan, ditukar, atau dikembalikan.

    Pengecer lain seperti Adidas sedang bereksperimen dengan perlengkapan yang dipersonalisasi untuk mengurangi pengembalian, meningkatkan kepuasan pelanggan, dan mengurangi inventaris.

    Ralph Lauren telah mengumumkan akan menggunakan 100% bahan utama yang berkelanjutan pada tahun 2025.

    Baca: Nicholas Saputra ajak warga kota ubah gaya hidup demi lingkungan

    Pengambil kebijakan di dunia perlu lebih aktif terlibat dalam efek merusak industri fast fashion.

    Menteri Inggris menolak laporan anggota parlemen untuk mengatasi dampak lingkungan dari fast fashion.

    Di sisi lain, Presiden Prancis, Emmanuel Macron telah membuat perjanjian dengan 150 merek untuk membuat industri fesyen lebih berkelanjutan.

    Baca: 17 cara jalani gaya hidup ramah lingkungan

    Nasihat terbaik untuk mengurangi dampak lingkungan dari fast fashion datang dari Patsy Perry, dosen senior pemasaran mode di University of Manchester, yang mengatakan, “Sedikit selalu lebih baik.”

    Jadi mulai sekarang, secara bertahap mulailah mengonsumsi dengan lebih bijak dan tinggalkan fast fashion demi kehidupan di Bumi yang lebih baik. 

    Sumber: earth.org

     

     

  • Mitos Kehidupan Pohon Hayat Tak Hanya Dikenal di Indonesia

    Mitos Kehidupan Pohon Hayat Tak Hanya Dikenal di Indonesia

    7cloud.asia – Desain logo Ibu Kota Negara (IKN) dengan tema “Pohon Hayat” beberapa waktu lalu terpilih sebagai pemenang sayembara desain logo IKN.

    Pohon Hayat menang setelah melalui berbagai seleksi hingga mendapat suara terbanyak dari seluruh rakyat Indonesia.

    Pohon hayat dengan lambang yang menggambarkan filsafat bangsa Indonesia yang terdiri dari lima akar yaitu sila dari Pancasila.

    Tujuh batang yang menggambarkan tujuh pulau besar di Indonesia dan terakhir 17 kelopak bunga yang menggambarkan tanggal kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945.

     

    Baca: Makna dibalik Pohon Hayat yang menjaid logo IKN

    Pohon hayat atau pohon kehidupan merupakan mitos lama yang telah ada beribu tahun lalu. Hal ini menggambarkan kedekatan bangsa Indonesia dengan pohon sebagai sumber kehidupan dan lambang kesuburan, kenyamanan dan keberlangsungan hidup.

    Walau telah lama dikenal sebagai mitos, ternyata pohon hayat telah lama ada di sekitar kita, dan ini tak hanya ditemukan di Indonesia tetapi juga di sejumlah negara lain. 

    Berikut beberapa pohon hayat yang sudah lama dikenal di Indonesia, sebagaimana dikutip dari forestdigest,com

     

    Baca: Indonesia menjadi salah satu negara dengan hutan terluas di dunia

    Pohon kalpataru

    Mungkin belum banyak yang tahu bahwa pohon yang menjadi ikon lingkungan bersih dan nyaman ini merupakan tanaman asli yang disebut juga pohon bodi atau memiliki nama Latin Ficus religiosa.
     
    Pohon yang menjadi ikon penghargaan kalpataru ini merupakan jenis Ficus atau beringin dengan tajuk lebar dan rimbun.

    Ficus merupakan jenis pohon yang banyak ditemukan di Indonesia. Sejak dulu pohon ini bernilai spiritual dengan kehadirannya yang penting bagi agama Hindu maupun Buddha.

    Pohon ini juga sangat penting dalam sejarah bangsa Indonesia yang terlihat dari pahatan di candi Borobudur dan simbol penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

    Baca: Wisata pohon raksasa di Kabupaten Agam

    Pohon lontar

    Pohon ini tidak asing bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di bagian selatan Nusantara seperti Nusa Tenggara Timur. Pohon lontar (Borassus flabellifer L.) merupakan jenis tumbuhan yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.

    Seluruh bagian tanaman ini berguna bagi sehingga mendukung kehidupan masyarakat terutama Pulau Rote. Getah pohon lontar bisa menjadi sumber gula semut.

    Daunnya bisa dimanfaatkan sebagai topi hingga bagian dari instrumen sasando. Batangnya menjadi bagian penting untuk bahan bangunan dan rumah.

    Baca: Aktivisme perempuan lokal untuk lingkungan global

    Pohon kelapa

     

    Pohon kelapa yang tunasnya menjadi lambang Pramuka merupakan salah satu jenis pohon kehidupan. Hampir sama halnya dengan pohon lontar, pohon kelapa memiliki manfaat yang besar bagi manusia dari seluruh bagian tanamannya.

    Hal ini menunjukkan peran tumbuhan kelapa yang penting dalam mendukung kehidupan manusia.

    Pohon kelapa (Cocos nucifera) merupakan pohon yang dapat diambil seluruh manfaat dari bagian tanaman mulai dari daun untuk ijuk atau atap, batang kayu untuk rumah dan pertukangan.

    Baca: Konsep IKN sebagai kota hutan apakah menjamin ramah lingkungan?

    Selain pohon kehidupan yang ada di Indonesia ada juga pohon kehidupan yang menjadi ikon di luar negeri, beberapa di antaranya:

    Pohon ara/tin

    Pohon ara (Ficus carica L.) merupakan jenis pohon yang banyak dikenal melalui literatur agama Islam dan Kristen.

    Tanaman ini disebut sebagai tanaman kehidupan disebut dalam Al Qur’an maupun Injil. Tanaman ini memiliki buah yang layak dikonsumsi manusia. Selain dikonsumsi langsung, buahnya dapat digunakan sebagai selai untuk dimakan bersama dengan roti.

    Pohon shami 

     

    Pohon shami (Prosopis cineraria) merupakan salah satu tanaman yang tumbuh di tengah gurun dalam keadaan yang subur walau dikelilingi pasir dan cuaca panas ekstrem.

    Pohon ini dapat ditemukan di Bahrain dan menjadi salah satu objek wisata yang menarik. Selain sebutan pohon kehidupan, tanaman ini dikenal dengan nama pohon yang sendiri (lonely tree) karena keberadaannya yang terisolasi di area yang ekstrem.

    Pohon hayat merupakan entitas yang tidak terpisahkan dari jati diri bangsa Indonesia yang hidup bersama alam.

    Sumber: forestdigest