Tag: mikroplastik

  • Sampel Mikroplastik Ditemukan di Tubuh Manusia, Pemerintah Diminta Lebih Serius Batasi Produksi Plastik

    Sampel Mikroplastik Ditemukan di Tubuh Manusia, Pemerintah Diminta Lebih Serius Batasi Produksi Plastik

    7cloud.asia – Hasil pengujian sampel yang berasal dari masyarakat kota Semarang menunjukkan adanya kontaminasi mikroplastik di sekitar kita, mulai dari air hujan, makanan, hingga pakaian.

    Pengujian cemaran mikroplastik ini dilakukan Greenpeace Indonesia bersama Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) dan Jaringan Peduli Iklim dan Alam (Jarilima) lewat kegiatan uji coba Citizen Science.

    “Selain itu, kami juga mengajak pengunjung menampung air hujan sebanyak 1–2 liter dari lingkungan sekitar mereka untuk mengetahui seberapa jauh penyebaran mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Ecoton seperti dikutip greenpeace.org.

    Penelitian yang dilakukan ECOTON di 18 kota/kabupaten di Indonesia ini menemukan hubungan erat antara cemaran mikroplastik di udara dengan kebiasaan membakar sampah yang membawa partikel mikroplastik naik ke udara dan, pada akhirnya, ikut mencemari air hujan.

    Komposisi polimer mikroplastik di udara Indonesia didominasi poliolefin yang berasal dari pecahan kantong plastik dan kemasan, disusul polyamide dan PTFE dari serat pakaian, komponen otomotif, dan pelapis tahan panas.

    “Polyester dan polyisobutylene, yang umumnya berasal dari tekstil dan material ban, juga ditemukan di dalam sampel, menunjukkan beragamnya sumber polusi mikroplastik di udara” ungkap Rafika.

    Baca: Warga Kota Semarang teliti cemaran mikroplastik di wilayahnya

    Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa komposisi polimer mikroplastik di udara selaras dengan data sumber utama mikroplastik di 18 kota dan kabupaten. Pembakaran sampah plastik menyumbang 55 persen, sementara aktivitas transportasi berkontribusi 33,3 persen.

    Sampel mikroplastik juga ditemukan di dalam tubuh manusia. Studi yang dilakukan Greenpeace Indonesia bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengungkap, mikroplastik juga ditemukan di dalam urin, darah, hingga feses manusia.

    Studi yang dilakukan pada Januari 2023-Desember 2024 ini menemukan mikroplastik pada 95 persen sampel dari 67 partisipan.

    Jenis plastik PET (Polyethylene Terephthalate), yang biasa ditemukan di kemasan plastik sekali pakai seperti botol air minum dalam kemasan (AMDK), adalah jenis mikroplastik yang paling banyak mengontaminasi tubuh partisipan dengan total 204 partikel terdeteksi.

    Ahli Saraf FKUI dr. Pukovisa Prawirohardjo, SP.S(K)., Ph.D. mengatakan, hasil studi kolaborasi yang tengah dilakukan peer review ini menemukan bahwa partisipan dengan pola konsumsi plastik sekali pakai yang tinggi memiliki risiko mengalami penurunan fungsi kognitif hingga 36 kali lipat.

    “Kami menemukan hubungan yang berarti antara fungsi kognitif dengan paparan mikroplastik. Gangguan fungsi kognitif yang dialami partisipan penelitian mencakup diantaranya pengaruh pada kemampuan berpikir, mengingat, dan mengambil keputusan,” ujarnya.

    Baca: ECOTON dan SIEJ ungkap paparan mikroplastik di 18 kota

    Fungsi kognitif partisipan dianalisis menggunakan Montreal Cognitive Assessment Indonesia (MoCA-Ina) dan dilakukan bersama tim dokter dari Divisi Neurobehavior Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM).

    Tingginya pencemaran mikroplastik yang kini telah menjadi ancaman kesehatan mencerminkan tingginya penggunaan plastik sekali pakai, baik secara lokal, nasional, maupun global.

    Di tingkat global, konsumsi plastik yang terus meningkat ikut menambah masalah sampah plastik di Bumi.

    Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang bertajuk Policy Scenarios for Eliminating Plastic Pollution by 2040 menemukan adanya peningkatan sampah plastik di seluruh dunia hingga lebih dari dua kali lipat, dari 213 juta ton menjadi 460 juta ton sepanjang tahun 2000 sampai 2019.

    Koordinator Jaringan Peduli Iklim dan Alam (Jarilima) Ellen Nugroho mengatakan, acara Roadshow The Invisible Threat of Microplastics semakin memperkuat bukti bahwa mikroplastik kini telah masuk ke dalam tubuh manusia melalui air, makanan, bahkan udara yang kita hirup setiap hari.

    Jika ingin mencegah anak-anak Semarang terganggu kesehatan dan tumbuh kembangnya akibat mikroplastik, ujarnya, kita harus mulai mengurangi plastik sekali pakai hari ini.

    Baca: Pembakaran sampah jadi sumber utama polusi mikroplastik di udara

    “Yang perlu diubah tidak hanya gaya hidup masyarakat, tapi juga sistem yang membuat kita sulit hidup tanpa plastik,” kata Ellen.

    “Pemerintah dan pengusaha harus terlibat mengubah cara produksi dan distribusi untuk mengatasi masalah ini.”

    Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia Ibar F. Akbar mengatakan, perlu ada langkah konkret dari pemerintah dan produsen untuk mengurangi kontaminasi mikroplastik dalam lingkungan yang memiliki dampak buruk ke kesehatan manusia.

    “Pemerintah perlu memperbaiki sistem pengelolaan sampah berbasis pemilahan, mempercepat dan memperluas larangan plastik sekali pakai, melarang mikroplastik primer, serta mendorong transisi ke sistem kemasan guna ulang (reuse) untuk mengurangi pencemaran dan dampak lingkungan,” ujarnya.

    Ia menambahkan, pemerintah juga perlu menetapkan standar pengujian mikroplastik yang ketat serta ambang batas kontaminasi dalam produk pangan dan lingkungan.

    Di sisi lain, produsen juga perlu mengurangi produksi dan distribusi plastik sekali pakai secara signifikan sebagai bentuk tanggung jawab mereka untuk mengelola sampah plastik yang telah mereka produksi.

    “Produsen harus segera beralih ke sistem kemasan guna ulang (reuse) dan isi ulang (refill). Produsen juga perlu meningkatkan transparansi komposisi plastik dalam produknya serta peta jalan pengurangan sampah oleh produsen,” kata Ibar.

    Baca: Temuan mikroplastik di air hujan di Jakarta

  • Hujan Mikroplastik Berpotensi Hambat Fungsi Otak

    Hujan Mikroplastik Berpotensi Hambat Fungsi Otak

    7cloud.asia – Cemaran mikroplastik semakin mengkhawatirkan. Kini, mikroplastik tak hanya ditemukan di air hujan, tapi sudah sampai ke dalam tubuh manusia yang bisa memberikan dampak buruk bagi kesehatan, termasuk menghambat fungsi otak.

    Studi yang dilakukan Greenpeace Indonesia bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), pada Januari 2023-Desember 2024 ini menemukan mikroplastik pada 95 persen sampel dari 67 partisipan.

    Berdasarkan studi yang dilakukan, mikroplastik kini bisa ditemukan di dalam urin, darah, hingga feses manusia.

    Jenis plastik PET (Polyethylene Terephthalate), yang biasa ditemukan di kemasan plastik sekali pakai seperti botol air minum dalam kemasan (AMDK), adalah jenis mikroplastik yang paling banyak mengontaminasi tubuh partisipan dengan total 204 partikel terdeteksi.

    Ahli Saraf FKUI dr. Pukovisa Prawirohardjo, SP.S(K)., Ph.D. mengatakan, hasil studi kolaborasi yang tengah dilakukan peer review ini menemukan bahwa partisipan dengan pola konsumsi plastik sekali pakai yang tinggi memiliki risiko mengalami penurunan fungsi kognitif hingga 36 kali lipat.

    Baca: Temuan mikroplastik di air hujan di Jakarta

    Fungsi kognitif partisipan dianalisis menggunakan Montreal Cognitive Assessment Indonesia (MoCA-Ina) dan dilakukan bersama tim dokter dari Divisi Neurobehavior Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM).

    Dampak mikroplastik pada kesehatan diulas dalam acara diskusi Invisible Threat of Microplastics bersama Lembaga Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) dan SDGs Center Universitas Airlangga (Unair).

    Dari hasil penelitian tersebut, tim peneliti menemukan hubungan yang berarti antara fungsi kognitif dengan paparan mikroplastik.

    “Gangguan fungsi kognitif yang dialami partisipan penelitian mencakup diantaranya pengaruh pada kemampuan berpikir, mengingat, dan mengambil keputusan,” ujar Afifah Rahmi Andini, Peneliti Plastik Greenpeace Indonesia.

    Gabriella Amanda, SDGs Ambassador Universitas Airlangga mengatakan, diskusi Invisible Threat of Microplastics juga jadi momentum penting bagi mahasiswa dan generasi muda untuk menyadari bahaya mikroplastik yang semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari.

    Baca: Sistem guna ulang lebih efektif kurangi sampah plastik

    Selain itu, kegiatan ini mengajak generasi muda untuk tidak berhenti pada kesadaran semata, melainkan bergerak aktif dalam kampanye pengurangan plastik sekali pakai, dan mendorong budaya guna ulang.

    “Semangat generasi muda menjadi kunci. Dengan kreativitas, energi, dan keberanian mereka, pesan tentang bahaya mikroplastik dapat menjangkau masyarakat luas,” kata Gabriella.

    Selain diskusi, para pengunjung juga diajak untuk melakukan eksperimen untuk mengetahui seberapa luas mikroplastik mencemari lingkungan, pakaian, hingga makanan melalui uji coba Citizen Science.

    Menurut Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Ecoton, para pengunjung diminta mengumpulkan 1–2 liter air hujan dari lingkungan tempat tinggal mereka untuk dianalisis.

    Peserta diajak membawa berbagai sampel dari rumah, seperti air minum, makanan, hingga swab kulit yang kemudian akan diperiksa menggunakan mikroskop.

    “Upaya ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana mikroplastik telah masuk ke dalam aktivitas dan kehidupan kita sehari-hari.” ujarnya.

    Baca: Gunakan tumbler efektif kurangi sampah plastik

  • Riset yang Dilakukan JEJAK Ungkap Cemaran Mikroplastik dalam Air Hujan di Surabaya

    Riset yang Dilakukan JEJAK Ungkap Cemaran Mikroplastik dalam Air Hujan di Surabaya

    7cloud.asia – Riset Jaringan Gen Z Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak), Komunitas Growgreen, River Warrior, dan Ecoton menemukan cemaran mikroplastik di dalam air hujan di Surabaya dengan tingkat pencemaran yang cukup tinggi

    Cemaran mikroplastik ini terutama ditemukan di kawasan padat aktivitas dan dekat titik pembakaran sampah.

    Kontaminasi mikroplastik dalam air hujan tertinggi di Surabaya ditemukan di wilayah Pakis Gelora yang mencapai 356 partikel per liter, disusul wilayah Tanjung Perak dengan 209 partikel per liter.

    Adapun jenis polimer yang paling banyak terdeteksi berasal dari gesekan ban kendaraan serta serpihan botol plastik sekali pakai.

    Tingginya pencemaran mikroplastik mencerminkan tingginya penggunaan plastik sekali pakai, baik secara lokal, nasional, maupun global.

    Baca: Pasar Tanah Abang jadi titik dengan cemaran mikroplastik tertinggi di Indonesia

    Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), terdapat total 660.947 ton sampah di tahun 2024 di Surabaya.

    Sekitar 22 persen dari total sampah di Surabaya merupakan sampah plastik. Jumlah ini jauh di atas komposisi sampah plastik nasional sebesar 19,78 persen dari total sampah di tahun lalu.

    Sementara di tingkat nasional, produksi sampah plastik 7,68 juta hingga 10 juta ton sampah plastik per tahun. Volume sampah plastik ini mencapai sekitar 12-18 persen dari total timbunan sampah nasional yang mencapai 64 juta ton per tahun.

    Sebagian besar sampah plastik ini belum terkelola dengan baik, dan diperkirakan sekitar 1,29 hingga 3,2 juta ton di antaranya berakhir di laut.

    Di tingkat global, konsumsi plastik yang terus meningkat ikut menambah masalah sampah plastik di Bumi.

    Baca: Sistem guna ulang lebih efektif kurangi sampah plastik

    Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang bertajuk Policy Scenarios for Eliminating Plastic Pollution by 2040 menemukan adanya peningkatan sampah plastik di seluruh dunia hingga lebih dari dua kali lipat, dari 213 juta ton menjadi 460 juta ton sepanjang tahun 2000 sampai 2019.

    Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia Ibar F. Akbar mengatakan, perlu ada langkah konkret dari pemerintah dan produsen untuk mengurangi kontaminasi mikroplastik dalam lingkungan yang memiliki dampak buruk ke kesehatan manusia.

    “Pemerintah perlu memperbaiki sistem pengelolaan sampah berbasis pemilahan, mempercepat dan memperluas larangan plastik sekali pakai, melarang mikroplastik primer, serta mendorong transisi ke sistem kemasan guna ulang (reuse) untuk mengurangi pencemaran dan dampak lingkungan,” ujarnya.

    Ia menambahkan, pemerintah juga perlu menetapkan standar pengujian mikroplastik yang ketat serta ambang batas kontaminasi dalam produk pangan dan lingkungan.

    Di sisi lain, produsen juga perlu mengurangi produksi dan distribusi plastik sekali pakai secara signifikan sebagai bentuk tanggung jawab mereka untuk mengelola sampah plastik yang telah mereka produksi.

    “Produsen harus segera beralih ke sistem kemasan guna ulang (reuse) dan isi ulang (refill). Produsen juga perlu meningkatkan transparansi komposisi plastik dalam produknya, serta membuat peta jalan pengurangan sampah,” kata Ibar.

    Baca: Hujan mikroplastik berpotensi ganggu fungsi otak