Riset yang Dilakukan JEJAK Ungkap Cemaran Mikroplastik dalam Air Hujan di Surabaya

Written by

in

7cloud.asia – Riset Jaringan Gen Z Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak), Komunitas Growgreen, River Warrior, dan Ecoton menemukan cemaran mikroplastik di dalam air hujan di Surabaya dengan tingkat pencemaran yang cukup tinggi

Cemaran mikroplastik ini terutama ditemukan di kawasan padat aktivitas dan dekat titik pembakaran sampah.

Kontaminasi mikroplastik dalam air hujan tertinggi di Surabaya ditemukan di wilayah Pakis Gelora yang mencapai 356 partikel per liter, disusul wilayah Tanjung Perak dengan 209 partikel per liter.

Adapun jenis polimer yang paling banyak terdeteksi berasal dari gesekan ban kendaraan serta serpihan botol plastik sekali pakai.

Tingginya pencemaran mikroplastik mencerminkan tingginya penggunaan plastik sekali pakai, baik secara lokal, nasional, maupun global.

Baca: Pasar Tanah Abang jadi titik dengan cemaran mikroplastik tertinggi di Indonesia

Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), terdapat total 660.947 ton sampah di tahun 2024 di Surabaya.

Sekitar 22 persen dari total sampah di Surabaya merupakan sampah plastik. Jumlah ini jauh di atas komposisi sampah plastik nasional sebesar 19,78 persen dari total sampah di tahun lalu.

Sementara di tingkat nasional, produksi sampah plastik 7,68 juta hingga 10 juta ton sampah plastik per tahun. Volume sampah plastik ini mencapai sekitar 12-18 persen dari total timbunan sampah nasional yang mencapai 64 juta ton per tahun.

Sebagian besar sampah plastik ini belum terkelola dengan baik, dan diperkirakan sekitar 1,29 hingga 3,2 juta ton di antaranya berakhir di laut.

Di tingkat global, konsumsi plastik yang terus meningkat ikut menambah masalah sampah plastik di Bumi.

Baca: Sistem guna ulang lebih efektif kurangi sampah plastik

Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang bertajuk Policy Scenarios for Eliminating Plastic Pollution by 2040 menemukan adanya peningkatan sampah plastik di seluruh dunia hingga lebih dari dua kali lipat, dari 213 juta ton menjadi 460 juta ton sepanjang tahun 2000 sampai 2019.

Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia Ibar F. Akbar mengatakan, perlu ada langkah konkret dari pemerintah dan produsen untuk mengurangi kontaminasi mikroplastik dalam lingkungan yang memiliki dampak buruk ke kesehatan manusia.

“Pemerintah perlu memperbaiki sistem pengelolaan sampah berbasis pemilahan, mempercepat dan memperluas larangan plastik sekali pakai, melarang mikroplastik primer, serta mendorong transisi ke sistem kemasan guna ulang (reuse) untuk mengurangi pencemaran dan dampak lingkungan,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah juga perlu menetapkan standar pengujian mikroplastik yang ketat serta ambang batas kontaminasi dalam produk pangan dan lingkungan.

Di sisi lain, produsen juga perlu mengurangi produksi dan distribusi plastik sekali pakai secara signifikan sebagai bentuk tanggung jawab mereka untuk mengelola sampah plastik yang telah mereka produksi.

“Produsen harus segera beralih ke sistem kemasan guna ulang (reuse) dan isi ulang (refill). Produsen juga perlu meningkatkan transparansi komposisi plastik dalam produknya, serta membuat peta jalan pengurangan sampah,” kata Ibar.

Baca: Hujan mikroplastik berpotensi ganggu fungsi otak

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *