7cloud.asia – Cemaran mikroplastik semakin mengkhawatirkan. Kini, mikroplastik tak hanya ditemukan di air hujan, tapi sudah sampai ke dalam tubuh manusia yang bisa memberikan dampak buruk bagi kesehatan, termasuk menghambat fungsi otak.
Studi yang dilakukan Greenpeace Indonesia bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), pada Januari 2023-Desember 2024 ini menemukan mikroplastik pada 95 persen sampel dari 67 partisipan.
Berdasarkan studi yang dilakukan, mikroplastik kini bisa ditemukan di dalam urin, darah, hingga feses manusia.
Jenis plastik PET (Polyethylene Terephthalate), yang biasa ditemukan di kemasan plastik sekali pakai seperti botol air minum dalam kemasan (AMDK), adalah jenis mikroplastik yang paling banyak mengontaminasi tubuh partisipan dengan total 204 partikel terdeteksi.
Ahli Saraf FKUI dr. Pukovisa Prawirohardjo, SP.S(K)., Ph.D. mengatakan, hasil studi kolaborasi yang tengah dilakukan peer review ini menemukan bahwa partisipan dengan pola konsumsi plastik sekali pakai yang tinggi memiliki risiko mengalami penurunan fungsi kognitif hingga 36 kali lipat.
Baca: Temuan mikroplastik di air hujan di Jakarta
Fungsi kognitif partisipan dianalisis menggunakan Montreal Cognitive Assessment Indonesia (MoCA-Ina) dan dilakukan bersama tim dokter dari Divisi Neurobehavior Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM).
Dampak mikroplastik pada kesehatan diulas dalam acara diskusi Invisible Threat of Microplastics bersama Lembaga Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) dan SDGs Center Universitas Airlangga (Unair).
Dari hasil penelitian tersebut, tim peneliti menemukan hubungan yang berarti antara fungsi kognitif dengan paparan mikroplastik.
“Gangguan fungsi kognitif yang dialami partisipan penelitian mencakup diantaranya pengaruh pada kemampuan berpikir, mengingat, dan mengambil keputusan,” ujar Afifah Rahmi Andini, Peneliti Plastik Greenpeace Indonesia.
Gabriella Amanda, SDGs Ambassador Universitas Airlangga mengatakan, diskusi Invisible Threat of Microplastics juga jadi momentum penting bagi mahasiswa dan generasi muda untuk menyadari bahaya mikroplastik yang semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Baca: Sistem guna ulang lebih efektif kurangi sampah plastik
Selain itu, kegiatan ini mengajak generasi muda untuk tidak berhenti pada kesadaran semata, melainkan bergerak aktif dalam kampanye pengurangan plastik sekali pakai, dan mendorong budaya guna ulang.
“Semangat generasi muda menjadi kunci. Dengan kreativitas, energi, dan keberanian mereka, pesan tentang bahaya mikroplastik dapat menjangkau masyarakat luas,” kata Gabriella.
Selain diskusi, para pengunjung juga diajak untuk melakukan eksperimen untuk mengetahui seberapa luas mikroplastik mencemari lingkungan, pakaian, hingga makanan melalui uji coba Citizen Science.
Menurut Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Ecoton, para pengunjung diminta mengumpulkan 1–2 liter air hujan dari lingkungan tempat tinggal mereka untuk dianalisis.
Peserta diajak membawa berbagai sampel dari rumah, seperti air minum, makanan, hingga swab kulit yang kemudian akan diperiksa menggunakan mikroskop.
“Upaya ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana mikroplastik telah masuk ke dalam aktivitas dan kehidupan kita sehari-hari.” ujarnya.

Leave a Reply