Tag: palestina

  • Perang Dua Bulan Lebih, Hampir 100 Wartawan Palestina Tewas di Jalur Gaza

    Perang Dua Bulan Lebih, Hampir 100 Wartawan Palestina Tewas di Jalur Gaza

    7cloud.asia – Sebanyak 97 wartawan Palestina terbunuh akibat serangan tentara Israel selama perang di Jalur Gaza yang telah berlangsung sejak 7 Oktober 2023.

    “Jumlah wartawan yang mati syahid meningkat menjadi 97 korban sejak dimulainya agresi brutal (Israel) di Gaza,” kata kantor media pemerintah Gaza pada Selasa (19/12/2023).

    Jurnalis terakhir yang tewas dalam serangan udara Israel di Kota Rafah, selatan Gaza pada Senin malam (18/12), adalah Adel Zorob.

    Otoritas Gaza menuduh tentara Israel sengaja membunuh wartawan-wartawan Palestina dengan tujuan “untuk menghapus kebenaran.”

    Baca: Warga Palestina dikubur hidup-hidup oleh tentara Israel

    “Dengan membunuh wartawan, pasukan pendudukan Israel berusaha mengaburkan narasi warga Palestina dan berusaha mengaburkan kebenaran, namun mereka gagal total dalam menghancurkan tekad warga Palestina,” tambah kantor Palestina itu.

    Israel telah membombardir Jalur Gaza dari udara dan darat, melakukan pengepungan, dan melancarkan serangan darat sebagai balasan atas serangan lintas batas yang dilancarkan kelompok pejuang Hamas Palestina, pada 7 Oktober.

    Sedikitnya 19.453 warga Palestina, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah terbunuh dan 52.286 orang terluka akibat serangan Israel, menurut data otoritas kesehatan Gaza.

    Sementara itu, korban tewas di pihak Israel akibat serangan Hamas mencapai 1.200 orang, sementara lebih dari 130 sandera masih ditahan oleh Hamas di Gaza.

    Sumber: Anadolu

  • Israel Kuasai Rumah Sakit Indonesia dan Jadikan Sebagai Markasnya

    Israel Kuasai Rumah Sakit Indonesia dan Jadikan Sebagai Markasnya

    7cloud.asia – Pasukan Israel telah menguasai dan menjadikan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza Utara sebagai markas dan tempat berlindung mereka dari serangan kelompok Hamas.

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala Presidium organisasi relawan kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia Sarbini Abdul Murad dalam konferensi persnya yang disiarkan di kanal youtube MER-C pada Rabu (20/12).

    Menurut Sarbini, penguasaan rumah sakit tersebut telah berlangsung sejak dua pekan lalu hingga hari ini.

    Pasukan Israel sebelumnya menyerang RSI serta mengusir staf medis, pasien dan warga yang menumpang hingga rumah sakit itu benar-benar kosong.

    Baca: Petugas medis WHO digeledah dan ditelanjangi pasukan Israel

    Setelah itu pasukan Israel menjadikan RSI sebagai perisai dan mengecam tindakan Israel ini. 

    “Jadi mereka menggunakan RSI sebagai perisai, dan harapan mereka adalah Hamas akan kabur atau tidak mungkin menyerang dengan senjata perang ke tempat perlindungan Israel di RSI,” katanya.

    “MER-C mengecam cara-cara kotor Israel yang menjadikan RSI sebagai markas, sebagai benteng, dan dilakukan untuk menyerang para pejuang Palestina yang ada di utara,” lanjutnya.

    Karena itu, ia meminta agar Israel mematuhi hukum humaniter internasional dengan tidak menyerang fasilitas medis dan menjadikan rumah sakit ini sebagai tempat yang netral tanpa pertempuran.

    Baca: Pasukan Israel kepung Rumah Sakit Indonesia 

    Pihaknya juga akan meminta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melakukan investigasi mengenai hal ini.

    Sebelumnya, juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Daniel Hagari sempat mengklaim ditemukannya terowongan dan markas Hamas di lahan RSI tersebut pada 6 November lalu.

    Namun tuduhan yang tak memiliki bukti ini dibantah oleh MER-C.

    “Apa yang terjadi sekarang, sekitar dua Minggu yang lalu, Israel menempatkan pasukannya dan [menjadikan] markas [RS Indonesia], yang dulu pernah mereka tuduh sebagai markas Hamas dan tidak ada orang Hamas di situ,” jelas Sarbini.

    RSI merupakan rumah sakit yang mulai dibangun sejak tahun 2011 di atas tanah seluas 16.000 meter persegi yang disumbangkan oleh pemerintah Gaza.

    Baca: WHO Serukan bantuan untuk Gaza

    Pembangunan ini menghabiskan dana sebesar Rp 126 miliar yang berasal dari donasi dari masyarakat dan organisasi Indonesia seperti Palang Merah Indonesia dan Muhammadiyah.

    Dana tersebut dikumpulkan melalui organisasi kemanusiaan Indonesia, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C).

    Lima tahun kemudian pembangunan RSI ini rampung dan  Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla meresmikannya pada tanggal 9 Januari 2016.

    Baca: Hampir 100 wartawan Palestina tewas di jalur Gaza

    Rumah sakit ini memiliki 100 tempat tidur bangsal, 4 ruang operasi, dan unit perawatan intensif dengan 10 tempat tidur.

    Stafnya terdiri dari sekitar 400 orang Palestina, yang digaji oleh kementerian kesehatan Gaza, dan beberapa sukarelawan dari Indonesia.

    Selain itu, ada tiga warga negara Indonesia relawan MER-C yang bertugas yaitu Fikri Rofiul Haq, Reza Aldilla Kurniawan dan Farid Zanzabil Al-Ayubi.

    Menurut informasi dari Kementerian Luar Negeri, akibat serangan pasukan Israel, rumah sakit itu terpaksa berhenti beroperasi pada 16 November lalu.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Begini Kondisi Warga Palestina yang Mengalami Kekerasan Selama Ditahan oleh Israel

    Begini Kondisi Warga Palestina yang Mengalami Kekerasan Selama Ditahan oleh Israel

    7cloud.asia – Sebanyak tiga saudara Palestina yang ditangkap oleh Israel di Jalur Gaza mengatakan mengalami kekerasan selama penahanan.

    Mereka dan sesama tahanan dipukuli, ditelanjangi hingga pakaian dalam, disundut rokok, dan mengalami bentuk penganiayaan lainnya selama penahanan.

    Sobhi Yaseen, saudara laki-lakinya Sady dan Ibrahim termasuk di antara puluhan pria Palestina yang berlindung di sebuah sekolah di Rafah di Gaza selatan.

    Dia mengungkapkan kepada Reuters tentang perlakuan mereka saat ditahan oleh tentara Israel.

    Reuters tidak dapat secara independen mengkonfirmasi laporan mereka, tetapi laporan tersebut konsisten dengan deskripsi lebih dari 20 mantan tahanan lainnya yang berbicara secara terpisah tanpa menyebut nama.

    Baca: Palestina tuntut penyelidikan internasional terhadap Israel

    Kantor juru bicara angkatan bersenjata Israel (IDF) berdalih dalam tanggapan tertulis bahwa militer Israel beroperasi “untuk membongkar kemampuan militer Hamas” dan menyelamatkan sandera yang ditangkap oleh kelompok militan Palestina.

    IDF berkilah bahwa para tahanan diperlakukan sesuai dengan hukum internasional.

    IDF sering kali diminta menyerahkan pakaian untuk memastikan mereka tidak membawa senjata atau bahan peledak, kata kantor tersebut.

    Yaseen bersaudara mengatakan mereka telah dibawa dari rumah mereka di utara daerah kantong tersebut.

    Mereka dipisahkan dari keluarga mereka dan ditahan hingga dua pekan di lokasi yang tidak diketahui termasuk barak atau kamp militer.

    Baca: Hampir 100 wartawan Palestina tewas di jalur Gaza

    Sobhi menuturkan bahwa dia dan saudara-saudaranya ditahan pada awal Desember setelah militer Israel mengepung daerah tempat mereka tinggal dan bekerja sebagai buruh harian di lingkungan Zeitoun di Kota Gaza.

    Dia mengatakan empat tentara Israel memukulinya setelah dia tidak bisa naik ke truk karena cedera kaki yang dideritanya sebelum penangkapan.

    Dia kemudian dibawa ke tempat terbuka di mana para penculiknya “merokok dan mematikan rokok di punggung kami, menyemprotkan pasir dan menyirami kami, mengencingi kami”.

    Saudara laki-lakinya, Sady dan Ibrahim, memberikan laporan serupa tentang penganiayaan yang dilakukan tentara Israel. Reuters juga tidak dapat mengkonfirmasi laporan mereka secara independen.

    Yaseen bersaudara mengatakan militer Israel tidak melontarkan tuduhan spesifik terhadap mereka.

    Tentara negara Zionis itu mengumpulkan mereka bersama-sama, kemudian dipisahkan, sebagai bagian dari penangkapan kelompok yang dilakukan oleh militer Israel di wilayah yang dimasukinya.

    Baca: Petugas medis dari WHO ditelanjangi saat menjalankan tugas

    Sady mengatakan, dia ditempatkan bersama tahanan lainnya di dalam truk berisi sampah.

    “Mereka memukuli kami, dan siapa pun yang meninggikan suara setelah pemukulan itu akan dipukuli lagi. Mereka menggeledah kami, mengambil kartu identitas, uang, dan telepon kami,” katanya di Rafah, bersama sekitar 20 orang mantan tahanan lain.

    Beberapa tahanan menunjukkan luka besar dan kulit kasar di pergelangan tangan mereka dimana mereka mengatakan tangan mereka telah diikat atau diborgol.

    Satu lagi menunjukkan garis-garis memar dan bekas luka merah bulat di punggungnya. Yang lain menunjukkan bekas luka yang dijahit di pahanya di mana dia mengaku telah dipukuli.

    Baca: Gencatan senjata tak hentikan konflik

    Saudara laki-laki Yaseen ketiga, Ibrahim, menggambarkan tangannya diikat dan ditutup matanya saat ditahan untuk diinterogasi.

    “Mereka tidak membiarkan kami tidur. Kami berdiri berjam-jam, sebagai hukuman,” katanya.

    Para penculik menghina para tahanan sambil melarang mereka berbicara satu sama lain atau berdoa, kata Ibrahim.

    “Kemudian akan ada lima tentara yang akan memukul Anda secara bergantian di kepala dan tubuh,” tambahnya.

    Dia mengemukakan bahwa dirinya telah dipukuli di bagian tulang rusuk dan menyingsingkan lengan bajunya hingga terlihat bekas luka melingkar dan koreng di tempat pergelangan tangannya diikat.

    Militer Israel kemudian melepaskan Yasin bersaudara itu pada waktu yang berbeda di penyeberangan Kerem Shalom antara Israel dan Jalur Gaza.

    Baca: 3714 pelajar Palestina tewas

    Hal ini juga telah dilakukan terhadap sejumlah pria lain yang ditahan selama operasi darat tetapi tidak lagi dicurigai memiliki hubungan dengan Hamas.

    Dari sana Yasin bersaudara itu mengatakan bahwa mereka berjalan beberapa kilometer ke Rafah.

    Mereka saling merelokasi di antara ratusan ribu orang yang mengungsi dan sekarang tinggal di gedung-gedung dan tenda-tenda yang penuh sesak.

    Kantor hak asasi manusia PBB (OHCHR) mengatakan pada 16 Desember bahwa mereka telah menerima banyak laporan tentang penahanan massal, penganiayaan dan penghilangan paksa warga Palestina di Gaza utara oleh militer Israel.

    Hukum humaniter internasional mensyaratkan bahwa warga sipil hanya ditahan karena alasan keamanan yang sangat penting.

    Penyiksaan serta perlakuan buruk lainnya terhadap tahanan sangat dilarang, kata OHCHR.

    Baca: Gencatan senjata, 150 perempuan dan anak dibebaskan

    Gambar para tahanan yang ditelanjangi di Gaza awal bulan ini memicu kemarahan para pejabat Palestina, Arab dan orang-orang Muslim.

    Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Volker Turk mengatakan serangan Hamas pada 7 Oktober, penyanderaan mereka, dan “hukuman kolektif” Israel serta “evakuasi paksa yang melanggar hukum” terhadap warga sipil, semuanya merupakan kejahatan perang.

    Jaksa Pengadilan Kriminal Internasional (ICC), yang sejak 2021 menyelidiki kemungkinan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di wilayah pendudukan Palestina.

    Selain itu ICC juga telah meminta Israel dan Hamas untuk menghormati aturan perang internasional.

    Kantor kejaksaan ICC mengatakan pihaknya menggunakan semua cara yang ada untuk memastikan akuntabilitas atas dugaan kejahatan yang dilakukan di wilayah Palestina termasuk Gaza, tetapi tidak dapat mengomentari tuduhan spesifik tersebut.

    Sumber: Reuters

  • Israel Bakal Tarik Mundur 15,000 Tentaranya dari Gaza

    Israel Bakal Tarik Mundur 15,000 Tentaranya dari Gaza

    7cloud.asia – Militer Israel pada hari Minggu (31/12/2023) mengumumkan penarikan mundur lima brigade – lebih kurang 15 batalyon atau sekitar 15.000 tentara – dari Jalur Gaza dalam beberapa pekan mendatang.

    Langkah Israel ini diambil saat dunia internasional mendesak Israel untuk menghentikan serangan di Gaza yang sudah menewaskan hampir 22 ribu orang Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak.

    Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga telah mengingatkan seiring masuknya musim dingin, lebih dari dua juta warga Palestina di Gaza akan kelaparan jika bantuan tak kunjung masuk.

    Menteri Luar Negeri Amerika Antony Blinken telah berulang kali mendesak Israel untuk melindungi warga sipil Palestina di Gaza. Blinken dijadwalkan kembali terbang ke Israel dan kawasan Timur Tengah pekan depan.

    Penarikan pasukan Israel dari Kota Gaza dan bagian utara Gaza tersebut, dinilai  perubahan strategi yang dilakukan oleh militer Israel karena besarnya korban tewas dan cacat tetap di pihak mereka.

    Baca: Serangan Israel saat malam Natal tewaskan 60orang

    Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia Dr. Yon Machmudi menilai efektifitas serangan darat Israel akan dievaluasi dan sekaligus memberikan jeda bagi tentaranya yang sudah dikerahkan dalam waktu cukup lama di Gaza.

    “Banyak personil yang diturunkan mendapat kesejahteraan yang mencukupi karena sebagian besar merupakan tentara cadangan,” kata Yon kepada VOA, Rabu (3/1/2024).

    Selain membayar gaji tentara dan ongkos perang lain seperti peluru dan bom, pemerintah Netanyahu juga harus membiayai kehidupan sekitar 200.000 orang yang dievakuasi dari desa-desa di sepanjang perbatasan Gaza,

    Selain itu juga ribuan pengungsi di perbatasan utara Lebanon yang dibombardir Hizbullah setiap hari.

    Sebagian besar warga yang dievakuasi ini ditempatkan di hotel atau rumah sewa di bagian utara dan selatan, yang biayanya ditanggung oleh pemerintah.

    Baca: Dewan Keamanan PBB sahkan resolusi bantuan kemanusiaan untukGaza

    Yon mengatakan hal ini diperparah oleh kondisi ekonomi Israel yang terus anjlok sejak mulai berkecamuknya perang tanggal 7 Oktober lalu.

    Bisnis tidak lagi berjalan seperti biasa, sementara pasokan berkurang karena gangguan yang terjadi di Laut Merah.

    Jalur perdagangan penting ini dilalui lebih dari 17.000 kapal besar dan menyumbang sepuluh persen perdagangan global setiap tahun.

    Serangan milisi Houthi di Yaman terhadap kapal-kapal yang melintas, terutama kapal berbendera Israel atau diduga berafiliasi dengan Israel, telah membuat sejumlah perusahaan mengalihkan kapal-kapal mereka.

    Jika dibiarkan berlanjut, tambah Yon, hal ini tidak saja melemahkan perekonomian Israel, tetapi juga dunia.

    Baca: AS veto resolusi DK PBB untuk gencatan senjata di Gaza

    Hal senada disampaikan oleh Wawan Nostalgiawan Wahyudi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menilai penarikan pasukan Israel dari Gaza saat ini lebih karena pertimbangan kondisi finansial.

    “Jadi kita tahu serangan roket Gaza bertubi-tubi dengan (antisipasi) Iron Dome itu memakan dana yang sangat besar. Jelas mereka (Israel) ingin bernapas sejenak untuk menstabilkan finansial mereka,” ujarnya.

    Wawan mengatakan terlalu dini untuk menilai penarikan sebagian besar pasukan Israel dari Gaza ini sebagai awal kekalahan Israel dalam perang dengan Hamas.

    Yang terjadi justru rotasi pasukan untuk penyegaran, karena tahap berikutnya tampaknya merupakan “perang kota,” tambahnya.

    Yang perlu diperhatian masyarakat internasional sekarang, ujarnya, adalah potensi terjadinya “nakba kedua” sebagaimana yang terjadi pada tahun 1948.

    Baca: Gaza terputus dari bantuan makanan dan obat-obatan

    Nakba adalah pengusiran besar-besaran dan perampasan properti rakyat Palestina di sepanjang Tepi Barat dan sebagian Jalur Gaza oleh Israel, bersamaan dengan penghancuran identitas, hak politik, aspirasi dan budaya Palestina selama perang tahun 1948.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Gaza Tak Layak Ditinggali, Badan Kemanusiaan PBB Desak Perang Israel – Hamas Segera Diakhiri

    Gaza Tak Layak Ditinggali, Badan Kemanusiaan PBB Desak Perang Israel – Hamas Segera Diakhiri

    7cloud.asia – Tiga bulan setelah perang Israel dan Hamas di Jalur Gaza, membuat wilayah Palestina tersebut menjadi tidak layak dihuni.

    Kepala Koordinator Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Martin Griffiths mengatakan kondisi ini membuat para pekerja bantuan dihadapkan pada “misi mustahil” untuk membantu lebih dari 2 juta penduduk Gaza.

    “Perang (di Gaza, red) ini seharusnya tidak pernah dimulai. Namun perang ini sudah berlangsung terlalu lama,” kata Griffiths, Jumat (5/1/2024) dalam sebuah pernyataan mengenai konflik Gaza yang telah berlangsung selama tiga bulan.

    Griffiths menambahkan,pihaknya terus menuntut agar perang segera diakhiri, tidak hanya bagi masyarakat Gaza dan negara-negara tetangganya yang terancam

    Baca: Dewan Keamanan PBB setujui resolusi bantuan kemanusiaan untuk Gaza

    “Tetapi juga bagi generasi mendatang yang tidak akan pernah melupakan 90 hari hidup seperti di neraka, serta serangan-serangan yang melanggar prinsip-prinsip dasar kemanusiaan,” tegasnya.

    Perang di Gaza, yang dipicu oleh serangan teror kelompok militan Hamas pada tanggal 7 Oktober di Israel telah menyebabkan situasi kemanusiaan yang mengerikan di Gaza.

    Serangan Hamas menewaskan sekitar 1.200 orang dan sekitar 240 orang lainnya disandera, dibalas dengan serangan tiada henti oleh militer Israel.

    Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas mengatakan bahwa lebih dari 22.000 warga Palestina telah menjadi korban tewas dan hampir 60.000 orang lainnya mengalami luka-luka.

    Baca: Israel bakal tarik 15.000 tentaranya dari Gaza

    PBB mengatakan 1,9 juta warga Gaza lainnya terpaksa mengungsi, karena rumah mereka hancur.

    Griffiths mendesak para pihak untuk memenuhi seluruh kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional.

    “Termasuk melindungi warga sipil dan memenuhi kebutuhan penting mereka, dan segera membebaskan semua sandera,” kata Griffiths.

    Dia menambahkan bahwa badan-badan kemanusiaan harus bekerja dalam kondisi yang menantang dan berbahaya.

    Baca: Akibat perang, 80 persen warga Gaza terusir dari rumahnya

    Para pekerja kemanusiaan, lanjutnya, dihadapkan pada misi mustahil untuk membantu lebih dari 2 juta orang, bahkan ketika staf mereka sendiri terbunuh dan terpaksa mengungsi.

    “Pemutusan komunikasi terus berlanjut, jalan-jalan rusak dan konvoi ditembaki, dan pasokan komersial sangat penting untuk bertahan hidup hampir tidak ada.” ujarnya.

    Setidaknya 142 anggota staf dari badan PBB yang menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina, UNRWA, tewas dalam konflik tersebut, banyak di antaranya meninggal bersama anggota keluarga mereka.

    Badan anak-anak PBB, UNICEF, mengatakan pada Jumat (5/1/2024) bahwa konflik yang semakin intensif, kekurangan gizi, dan penyebaran penyakit mengancam lebih dari 1,1 juta anak di Gaza.

    Baca: WHO ingatkan ancaman penyakit menular di Gaza

    “Anak-anak di Gaza terjebak dalam mimpi buruk yang semakin memburuk dari hari ke hari,” kata Catherine Russell, direktur eksekutif UNICEF, dalam sebuah pernyataan.

    Dia menggarisbawahi bahwa anak-anak dan keluarga terus terbunuh dan terluka, dan hidup mereka semakin berisiko akibat penyakit yang dapat dicegah serta kekurangan makanan dan air.

    “Semua anak-anak dan warga sipil harus dilindungi dari kekerasan dan memiliki akses terhadap layanan dan pasokan dasar,” tandasnya.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Menlu Retno: Indonesia Siap Suarakan Keadilan untuk Palestina di Mahkamah Internasional

    Menlu Retno: Indonesia Siap Suarakan Keadilan untuk Palestina di Mahkamah Internasional

    7cloud.asia – Menteri Luar Negeri atau Menlu Retno Marsudi menyampaikan kesiapan Indonesia memberikan ‘advisory opinion’ untuk memperkuat posisi hukum Palestina dalam sidang Mahkamah Kriminal pertengahan Februari nanti.

    Ikhwal advisory opinion untuk Palestina ini diungkapkan Menlu Retno Marsudi dalam pernyataan pers tahunan 2024 di Museum Konferensi Asia-Afrika di Bandung, Jawa Barat, Senin (8/1/2024).

    Menlu Retno mengatakan, dirinya mewakili pemerintah Indonesia akan menyampaikan pernyataan lisan untuk mendukung mahkamah memberikan advisory opinion guna memperkuat posisi hukum Palestina, pada 19 Februari mendatang.

    Badan-badan PBB, seperti Majelis Umum dan Dewan Keamanan PBB, dapat meminta pendapat hukum kepada ICJ atas masalah hukum apapun.

    Pertanyaan dari Majelis Umum inilah, kata Retno, yang memungkinkan Indonesia memberikan opini terkait tindakan Israel di wilayah pendudukan Palestina) di hadapan ICJ.

    “Yang intinya PBB tidak boleh melupakan perjuangan bangsa Palestina baik secara politik maupun hukum internasional,” tegas Menlu Retno.

    Baca: UE Serukan pengakuan dua negara Israel dan Palestina

    Dalam pidato tahunan terakhirnya sebagai menteri luar negeri di Kabinet Indonesia Maju, Menlu Retno mengingatkan bahwa Republik Indonesia masih punya utang yang belum terbayar di dunia internasional yakni kemerdekaan Palestina.

    “Gedung ini mengingatkan ada satu utang kita yang belum terbayar yaitu kemerdekaan Palestina. Tahun 2023 merupakan tahun yang sangat buruk bagi bangsa Palestina,” ujarnya

    Ia melanjutkan, Menjelang tutup tahun 2023, lebih dari 21 ribu orang kehilangan nyawa di Gaza akibat kekejaman Israel. 

    Menlu Retno lantas menggarisbawahi standar ganda sejumlah negara di dunia, terutama negara-negara maju, dalam kasus Palestina.

    “Sejumlah negara the Global North (negara-negara maju) mendadak diam menyaksikan pelanggaran kemanusiaan,” ujarnya.

    Baca: Israel ingin mengelola Gaza pasca perang berakhir

    Retno menyesalkan badan seperti Dewan Keamanan PBB bahkan tidak mampu menghentikan genosida di Gaza, termasuk penghancuran berbagai fasilitas sipil, rumah ibadah dan rumah sakit, termasuk Rumah Sakit Indonesia.

    Pengamat: Indonesia Harus Tunjukkan Bukti Fisik dan Forensik untuk Pertegas Gugatan Afrika Selatan

    Afrika Selatan akhir tahun lalu mengajukan gugatan hukum terhadap Israel ke Mahkamah Internasional (ICJ) dengan sejumlah tuduhan, antara lain bahwa Israel melakukan genosida terhadap warga Palestina di Jalur Gaza.

    Afrika Selatan meminta Mahkamah Internasional memerintahkan Israel untuk menghentikan serangan ke Gaza.

    Gugatan ini merupakan langkah hukum pertama di mahkamah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang juga kerap disebut pengadilan dunia, sejak perang Hamas-Israel tanggal 7 Oktober lalu.

    Baca: Majelis Umum PBB sepakati resolusi gencatan senjata di Gaza

    Majelis Umum PBB telah meminta ICJ untuk memberikan pendapat penasehat (advisory opinion) mengenai apakah tindakan Israel terhadap Palestina sah secara hukum.

    Advisory opinion adalah pendapat hukum yang diberikan ICJ atas permintaan suatu badan atau negara. Advisory opinion ini tidak mengikat secara hukum tetapi dapat memiliki pengaruh yang signifikan secara politik dan hukum.

    Pengamat Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah mengatakan gugatan yang disampaikan Afrika Selatan dan pendapat lisan yang akan disampaikan Indonesia di Mahkamah Internasional nanti menunjukkan kedua negara memiliki saling pengertian dalam perang Israel-Hamas.

    Untuk itu, lanjutnya, Indonesia harus memiliki bukti-buktif fisik dan forensik sangat kuat, jangan sampai ada data yang keliru.

    Dia mencontohkan jika memang dikatakann Israel melakukan kejahatan genosida di Gaza maka harus ada bukti lokasi, waktu, dan saksi.

    Baca: Akar konflik Israel – Palestina

    Langkah Afrika Selatan dan Indonesia ini, tambahnya, sedianya didukung oleh Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan Gerakan Non-Blok (GNB).

    Hal ini terutama karena langkah yang diambil Indonesia ini baru pertama kali dan memiliki muatan diplomatik penting.

    Ia menilai langkah ini memiliki muatan diplomatik yang luar biasa, menunjukkan Indonesia sudah habis-habisan mendukung Palestina. Kemudian juga membuktikan kepada dunia kita sangat konsisten dengan konstitusi.

    “Konstitusi kita turut memlihara perdamaian dunia, dalam hal ini melindungi masyarakat Palestina,” ujar Rezasyah.

    Meskipun demikian patut diakui, tambah Rezasyah, gugatan hukum ke Mahkamah Internasional ini tidak akan menghentikan langkah Israel, yang sejak awal telah menyatakan pengadilan itu tidak adil dan meminta bantuan Amerika.

    Baca: Advokasi buah semangka rakyat Palestina

    ICJ Siap Gelar Sidang Pendapat Publik Hari Kamis dan Jumat

    Mahkamah Internasional minggu lalu mengatakan “ICJ akan mengadakan dengar pendapat publik pada hari Kamis dan Jumat (11-12/1/2024) di Istana Perdamaian di Den Haag … dalam proses yang diajukan oleh Afrika Selatan terhadap Israel.”

    Permohonan Afrika Selatan, yang diajukan pada akhir Desember lalu terkait dengan dugaan pelanggaran oleh Israel atas kewajibannya berdasarkan Konvensi Genosida.

    Afrika Selatan mengatakan “Israel telah terlibat, sedang terlibat, dan berisiko lebih jauh terlibat dalam tindakan genosida terhadap rakyat

    Sumber:VOA Indonesia

  • Sekjen WHO Sebut Situasi di Gaza Tak Bisa Terbayangkan

    Sekjen WHO Sebut Situasi di Gaza Tak Bisa Terbayangkan

    7cloud.asia – Sekjen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut situasi kemanusiaan di Jalur Gaza “tak bisa terbayangkan”.

    Karenanya ia menyeru rezim pendudukan Israel memberikan akses pengiriman bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan ke Jalur Gaza kepada WHO dan lembaga PBB lainnya.

    Tedros mengakui bahwa tim organisasinya harus membatalkan enam misi ke Gaza utara sejak 26 Desember.

    Baca: Gaza tak layak ditinggali

    “Karena permintaan mereka ditolak dan tidak ada jaminan keamanan perjalanan”. Sementara itu, rencana misi pada Rabu juga dibatalkan.

    “Pendistribusian bantuan kemanusiaan di Gaza terus menghadapi tantangan yang hampir tidak dapat teratasi,” kata Tedros saat konferensi pers di Jenewa pada Rabu (10/01/2024).

    “Pemboman intens, pembatasan mobilitas, krisis bahan bakar dan komunikasi yang terputus membuat WHO dan mitra tidak mungkin menjangkau orang-orang yang membutuhkan bantuan,” katanya.

    “Kami memiliki pasokan, tim dan rencana. Yang tidak kami miliki yakni akses… Kami menyeru Israel agar menyetujui permintaan WHO dan mitra lainnya untuk mengirim bantuan kemanusiaan.”

    Baca: Konflik Palestina-Israel

    Menurut Tedros, hanya 15 rumah sakit di wilayah Palestina yang beroperasi meski hanya sebagian. Sementara itu, kurangnya sanitasi dan air bersih, serta kondisi hidup yang terlalu sumpek di jalur pantai mendukung penyebaran penyakit.

    “Warga mengantre berjam-jam untuk mendapatkan sedikit air, yang mungkin tidak bersih, atau roti, yang kurang bergizi,” katanya.

    Sumber: WAFA

  • 100 Hari Genosida di Gaza; Ribuan Orang Gelar Aksi di Depan Kedubes AS

    100 Hari Genosida di Gaza; Ribuan Orang Gelar Aksi di Depan Kedubes AS

    7cloud.asia – Memperingati 100 hari aksi genosida yang dilakukan Israel di Gaza, Palestina, ribuan orang  menggelar aksi doa bersama dan menuntut gencatan senjata di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta Pusat.

    Massa sudah mulai berkumpul di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat sejak pukul 05.30 WIB. Mereka tampak mengenakan pakaian serba hitam dan putih serta atribut bernuansa bendera Palestina.

    Dalam orasi dan spanduk yang diusung, massa mendesak gencatan senjata kepada Israel dan mendoakan perlindungan dan keselamatan bagi rakyat Palestina.

    “Semoga Allah melindungi mereka dan mengutuk bangsa Israel,” kata Mia yang merupakan salah satu peserta aksi saat ditemui di depan Kedubes Amerika Serikat, Sabtu (13/1/2024).

    Baca: Indonesia siap suarakan keadilan untuk Palestina

    Hingga pukul 06.40 WIB masyarakat pun tampak tertib menjalankan aksi. Mereka pun beramai-ramai menyerukan kalimat “Free Free Palestine, Allahuakbar!”.

    Massa yang berasal dari berbagai latar belakang organisasi juga menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan bersholawat.

    Aksi Bela Palestina tersebut tergabung dari jutaan pejuang kemanusiaan Hari Aksi Global untuk Gaza atau Aksi Protes Global yang dilakukan di 100 kota dunia untuk menuntut penghentian genosida di Gaza, Palestina.

    Baca: Uni Eropa usulkan dua negara

    Genosida dan pembantaian massal yang dilakukan dalam penjajahan Israel sejak 7 Oktober lalu telah menewaskan lebih 23.000 warga Palestina.

    Krisis pangan dan bantuan medis di Gaza, memperburuk situasi yang terjadi. Akibat serangan Israel, 80 persen warga Gaza kehilangan tempat tinggalnya.

    Karena itu, berbagai komunitas internasional dari 50 negara lebih menggagas aksi serentak pada hari Sabtu ini.

    Baca: Israel bakal tarik mundur pasukannya dari Gaza

    London, Inggris sebagai inisiatornya secara serentak menggelar Hari Aksi Global untuk Gaza dengan melakukan demonstrasi di jalan-jalan di seluruh dunia.

    Berbagai upaya ang dilakukan dunia internasional, sejauh ini belum membuat Israel bergeming.

    Meski Tel Aviv telah mengumumkan akan menarik 15 batalyon pasukannya dari Gaza, mereka belum sepakat untuk melakukan gencatan senjata.

    Baca: Dewan Keamanan PBB Sahkan resolusi bantuan kemanusiaan untuk Palestina

     

     

  • Israel Akan Terus Lanjutkan Perang di Tengah Sidang Mahkamah Intenasional

    Israel Akan Terus Lanjutkan Perang di Tengah Sidang Mahkamah Intenasional

    7cloud.asia – Perdana Menteri Israel, Benjamin  Netanyahu berjanji melanjutkan perang negaranya di Jalur Gaza, terlepas dari hasil tuntutan genosida yang diajukan oleh Afrika Selatan di Mahkamah Internasional di Den Haag.

    “Kami akan melanjutkan perang di Jalur Gaza sampai kami mencapai semua tujuan kami. Den Haag dan poros kejahatan tidak akan menghentikan kami,” kata Netanyahu kepada wartawan, tanpa menjelaskan apa yang dimaksud dengan “poros kejahatan.”

    Pada Sabtu (13/01/2024) lalu menandai 100 hari perang, yang sejauh ini telah merenggut nyawa lebih dari 23.800 orang di Gaza, dia mengatakan bahwa Israel akan melanjutkan perang sampai tujuannya tercapai.

    Baca: Israel bantah tuduhan genosida di Gaza

    Tujuan tersebut adalah termasuk pemusnahan kelompok perlawanan Palestina Hamas, pemulangan semua sandera, dan memastikan daerah kantong tersebut “tidak menimbulkan ancaman” untuk negara di masa depan.

    “Untuk mencapai tujuan ini, kami akan mengajukan anggaran besok (Minggu) yang akan menghasilkan lebih banyak dana untuk keamanan,” tambah Netanyahu.

    Dia juga membahas masalah Koridor Philadelphia, sebidang tanah sempit sepanjang 14 kilometer (8,7 mil) yang membentang di sepanjang perbatasan antara Jalur Gaza dan Mesir.

    Netanyahu mengatakan bahwa tanpa kontrol atas rute tersebut, Israel “tidak bisa melenyapkan Hamas, dan kami sedang mempertimbangkan semua pilihan terkait hal tersebut.”

    Baca: Ribuan orang gelar aksi di depan kedubes AS

    Perdana menteri Israel tersebut mengatakan bahwa Tel Aviv “tidak akan memindahkan dana ke Otoritas Palestina yang dapat membantu Hamas dengan cara apa pun.”

    Mahkamah Internasional di Den Haag mengadakan sidang publik pada Kamis (11/1) dan Jumat (12/1) sebagai bagian dari permulaan kasus yang diajukan bulan lalu oleh Afrika Selatan terhadap Israel atas dugaan “kejahatan genosida” terhadap warga Palestina di Jalur Gaza.

    Pengadilan diperkirakan akan menentukan langkah selanjutnya dalam beberapa hari mendatang terkait gugatan yang diajukan oleh Afrika Selatan terhadap Israel.

    Sumber: Anadolu

  • Militer Israel Resmi Akhiri Ofensif Darat di Gaza

    Militer Israel Resmi Akhiri Ofensif Darat di Gaza

    7cloud.asia – Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant mengatakan pada Senin (15/1/202) malam bahwa tentaranya mengakhiri fase operasi darat intensif di Gaza, setelah menguasai bagian utara wilayah tersebut.

    Ia mengatakan, pasca penarikan pasukan ini militer Israel juga akan segera memperluas kendalinya di bagian selatan Jalur Gaza.

    Ia menekankan bahwa pemerintah Israel harus mulai membahas rencana konkret mengenai Gaza pascaperang.

     

    Baca: Israel bakal tarik mundur 15.000 pasukannya dari Gaza

    Gallant menekankan semestinya Gaza dikelola oleh pemerintahan Palestina yang “tumbuh dari dalam Gaza.

    “Pemerintahan masa depan di Gaza harus tumbuh dari dalam Jalur Gaza dan didasarkan pada kekuatan yang tidak memusuhi Negara Israel, dan mengangkat pejabat sipil yang peduli pada kesejahteraan penduduk Gaza, dan tidak merugikan penduduk Negara Israel,” ujarnya di hadapan wartawan.

    “Pada akhir perang di Gaza, tidak akan ada ancaman militer dari Gaza, Hamas tidak akan mampu mengendalikan dan berfungsi sebagai kekuatan militer di Jalur Gaza,” imbuhnya.

    Baca: Israel bersikeras kelola Gaza pascaperang, Palestina menolak

    Gallant menambahkan, IDF akan memiliki kebebasan penuh untuk mengambil tindakan apa pun yang dipilihnya demi melindungi warga negara Israel.

    100 hari setelah perang di Gaza berkecamuk, Kementerian Kesehatan Hamas mengatakan bahwa lebih dari 24.100 orang tewas.

    Kementerian itu mengatakan bahwa dua pertiga korban tewas akibat perang itu adalah perempuan dan anak-anak, meski mereka tidak memisahkan korban dari kalangan petempur dan yang bukan.

    Baca: Akhiri konflik Israel-Palestina Uni Eropa serukan pengakuan kedua negara

    Israel sendiri mengklaim telah melumpuhkan ribuan pejuang Palestina di Gaza. Sebelumnya Israel menyebut akan memegang kendali atas Gaza. Namun, pernyataan ini ditentang keras oleh Palestina.  

    Perang antara Israel dan Hamas dipicu Serangan Hamas pada 7 Oktober ke Israel selatan.

    Serangan yang  menyebabkan 1.200 warga Israel tewas dan 250 lainnya diculik ini memicu perang yang telah berlangsung selama lebih dari tiga bulan.

    Akibatnya 80 persen warga Gaza kehilangan tempat tinggal, dan puluhan ribu lainnya meregang nyawa.

    Sumber: VOA Indonesia