Tag: polusi

  • Mengungkap Apa yang Diinginkan Perusahaan Global dalam Mengurangi Limbah Plastik

    Mengungkap Apa yang Diinginkan Perusahaan Global dalam Mengurangi Limbah Plastik

    7cloud.asia – Sekitar 72 persen perusahaan terbesar di dunia mengklaim bahwa mereka ingin “mengurangi” limbah plastik. Namun, apa sebenarnya maksudnya? Apa hakikat komitmen mereka, jika ada?

    Dilansir earth.org, ada dua aliansi perusahaan utama dengan dua pendekatan berbeda terhadap perjanjian untuk mengurangi limbah plastik global.

    Kelompok pertama adalah Dewan Internasional Asosiasi Kimia (ICCA) yang ingin mengurangi limbah plastik dan mengurangi dampaknya di hilir, tanpa membatasi produksi.

    Kelompok yang mencakup perusahaan-perusahaan petrokimia besar termasuk ExxonMobil, Dow, Shell, TotalEnergies, dan Chevron Phillips ini menentang ketentuan pembatasan perdagangan dalam perjanjian pengurangan limbah plastik tersebut.

    Contoh ketentuan pembatasan perdagangan adalah pasal 4 Protokol Montreal tentang Zat yang Merusak Lapisan Ozon, yang melarang perdagangan zat terlarang tertentu dengan pihak-pihak yang belum menandatangani protokol tersebut.

    Baca: Bumi dibanjiri limbah plastik, apa yang seharusnya dilakukan?

    Secara efektif, pembatasan perdagangan plastik digunakan untuk mencegah polusi lebih lanjut.

    Kelompok kedua adalah Koalisi Bisnis untuk Perjanjian Plastik Global. Koalisi perusahaan besar kedua ini memiliki opini yang lebih progresif tentang perjanjian polusi plastik global yang lebih dekat dengan koalisi berambisi tinggi.

    Koalisi ini terdiri dari lebih dari 250 organisasi, termasuk perusahaan besar seperti IKEA, PepsiCo, Walmart, dan World Wildlife Fund (WWF).

    Ada tiga hasil global utama yang ingin dicapai koalisi ini, yaitu:

    Pengurangan produksi dan penggunaan plastik melalui pendekatan ekonomi sirkular, yang melibatkan penghapusan bahan, komponen, atau aditif plastik yang dapat dengan mudah bocor ke alam

    Baca: Ekonomi sirkular penting untuk atasi limbah plastik

    Sirkulasi semua barang plastik yang tidak dapat dihilangkan, menjaganya tetap bernilai tertinggi dalam perekonomian. Ini melibatkan perancangan produk dan sistem yang memungkinkan semua plastik digunakan kembali, didaur ulang, atau dibuat kompos dalam praktik dan dalam skala besar

    Pencegahan dan pemulihan kebocoran mikro dan makroplastik ke lingkungan, termasuk pencegahan pelepasan mikroplastik ke lingkungan dari, misalnya, abrasi, pelepasan serat, atau kehilangan pelet.

    Lantas, apa yang dibutuhkan dunia terkait polusi limbah plastik ini? Jawabannya adalah pengelolaan limbah plastik yang lebih bertanggungjawab.

    Menangani seluruh siklus hidup plastik, dari produksi hingga pembuangan, dapat secara signifikan mengurangi kebocoran plastik ke lingkungan hingga 96 persen pada tahun 2040, menurut Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).

    Dengan polusi plastik yang diperkirakan meningkat hingga 70 persen antara tahun 2020 dan 2040, jelas bahwa perjanjian yang berhasil adalah perjanjian yang ambisius, substantif, dan memberatkan status quo.

    Pada akhirnya, hasil dari negosiasi soal limbah plastik ini akan meninggalkan jejak di planet ini untuk generasi mendatang.

    Baca: Saset produk FMCG menyumbang terbesar limbah plastik

     

  • Transportasi Masih Menjadi Penyumbang Terbesar Pencemaran Udara di Jabodetabek

    Transportasi Masih Menjadi Penyumbang Terbesar Pencemaran Udara di Jabodetabek

    7cloud.asia – Pencemaran udara di Jabodetabek masih tinggi. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/ Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) mencatat sektor transportasi masih menjadi penyumbang terbesar pencemaran udara.

    Data KLH dari Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKUA) dari 1 Mei hingga 3 Juni 2025 menunjukkan parameter kuning atau status tidak sehat.

    Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara KLH/BPLH, Nixon Pakpahan menjelaskan nilai konsentrasi PM 2,5 di atas 100 PPM.

    Angka ini lebih tinggi dari standar pemerintah. Total ada 35 titik SPKUA di Jabodetabek yang terpantau mengalami peningkatan skor PM 2.5.

    Baca: Kementerian Lingkungan Hidup perlu perkuat regulasi

    Melansir Antaranews, Nixon menerangkan pihaknya telah melakukan kajian dan ada sejumlah sumber pencemaran udara. Sumber terbesar adalah sektor transportasi.

    Sektor ini menyumbang 32-41 persen polusi udara Jabodetabek saat musim hujan dan 42-57 persen ketika musim kemarau.

    Kemudian posisi kedua adalah emisi dari sektor industri terutama yang menggunakan batu bara, menyumbang 14 persen.

    Baca: Ini dia sumber polusi udara di Jakarta

    Emisi pembakaran sampah terbuka atau ilegal atau pembersihan lahan pertanian 11 persen di musim hujan dan 9 persen di musim kemarau, debu konstruksi bangunan 13 persen dan aerosol sekunder 6-16 persen saat musim hujan dan 1-7 persen pada musim kemarau.

    “Berbicara lingkungan, mari bereskan, prioritas, bereskan dulu sumbernya. Itu lebih penting daripada membahas siklus, cuaca, arah angin dan seterusnya. Bereskan dulu sumbernya,” jelasnya.

    Karena itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan dan PT Pertamina agar dapat menyediakan bahan bakar rendah sulfur.

    Baca: Hanya tujuh negara yang penuhi standar kualitas udara WHO

    Selain itu, penggunaan sistem pemantau emisi untuk mencapai 80 persen pada akhir tahun 2025, penggunaan gas di kawasan industri, pemantauan langsung di kawasan industri serta pendekatan melalui penegakan hukum.

    Nixon juga mengajak semua pihak termasuk masyarakat di wilayah Jabodetabek untuk ikut serta menangani masalah pencemaran udara.

    “Tidak saling menyalahkan, tapi artinya semua harus bekerja sama. Karena kita hidup di satu bumi yang sama, menghirup udara yang sama, kebutuhan yang sama,” kata Nixon.

     

  • Riset: Pembersihan Polusi Udara di China dan Asia Timur Diduga Jadi Pemicu Utama Kenaikan Suhu Bumi

    Riset: Pembersihan Polusi Udara di China dan Asia Timur Diduga Jadi Pemicu Utama Kenaikan Suhu Bumi

    7cloud.asia – Laju pemanasan global terus meningkat sejak 2010, membawa dunia pada tahun-tahun terpanas dalam sejarah.

    Penyebab pasti dari semakin cepatnya kenaikan suhu Bumi ini masih belum sepenuhnya dipahami dan menjadi salah satu pertanyaan terbesar dalam dunia sains saat ini.

    Studi terbaru kami mengungkapkan bahwa penurunan polusi udara—terutama di China dan Asia Timur–menjadi salah satu alasan utama mengapa pemanasan global kini berlangsung lebih cepat.

    Sebelumnya, kebijakan global untuk mengurangi emisi sulfur dari sektor pelayaran sempat disebut-sebut sebagai faktor penyebab. Sulfur dioksida (SO₂) dari pembakaran bahan bakar kapal membentuk aerosol (partikel halus) di atmosfer yang meredam panas matahari masuk ke Bumi.

    Hal itu secara tidak sengaja menekan laju pemanasan global. Ketika selubung itu hilang, maka Bumi memanas.

    Namun, upaya itu baru dimulai pada 2020 dan dianggap terlalu lemah untuk menjelaskan percepatan pemanasan global yang terjadi.

    Para peneliti NASA menduga bahwa perubahan pola awan mungkin turut berperan, baik karena berkurangnya tutupan awan di wilayah tropis maupun di Samudra Pasifik bagian utara.

    Namun, satu faktor penting yang belum banyak dihitung secara rinci adalah dampak dari upaya besar-besaran negara-negara di Asia Timur—terutama China—dalam mengatasi polusi udara lewat kebijakan yang ketat.

    Sejak 2013, emisi sulfur dioksida (SO₂) di Asia Timur sudah turun sebesar 75 persen. Upaya pembersihan polusi itu gencar dilakukan tepat ketika pemanasan global terasa semakin parah.

    Studi kami menelusuri keterkaitan antara perbaikan kualitas udara di Asia Timur dan suhu global. Riset ini melibatkan delapan tim pemodel iklim dari berbagai belahan dunia.

    Kami menemukan bahwa udara yang tercemar selama ini mungkin telah menutupi dampak keseluruhan dari pemanasan global. Udara yang kini lebih bersih justru mengungkapkan lebih jelas kondisi sesungguhnya pemanasan global yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia.

    Selain menyebabkan jutaan kematian dini, polusi udara “menyelubungi” sebagian panas matahari sehingga permukaan planet terasa lebih dingin. Jumlah polusi yang besar selama ini mampu menahan laju pemanasan global akibat emisi yang dihasilkan oleh aktivitas manusia hingga sekitar 0.5°C dalam satu abad terakhir.

    Namun, ketika polusi udara dibersihkan—yang mana tentu ini sangat penting untuk kesehatan manusia—”payung buatan” itu ikut lenyap. Karena emisi gas rumah kaca tetap meningkat, permukaan Bumi kini memanas lebih cepat dari sebelumnya.

    Memodelkan dampak pembersihan polusi
    Tim kami menggunakan 160 simulasi komputer dari delapan model iklim global. Dengan ini, kami bisa lebih akurat menghitung dampak polusi udara dari Asia Timur terhadap suhu dan pola curah hujan global.

    Kami mensimulasikan skenario pembersihan polusi yang serupa dengan yang terjadi di dunia sejak 2010. Hasilnya, terdapat tambahan pemanasan global sekitar 0,07°C.

    Angka ini mungkin terlihat kecil dibandingkan total pemanasan global sejak 1850 (sekitar 1,3°C). Namun sebenarnya kenaikan itu cukup signifikan untuk menjelaskan percepatan pemanasan yang kita rasakan belakangan ini.

    Apalagi kami telah mengeluarkan pengaruh fluktuasi suhu tahunan akibat siklus alami seperti El Niño, fenomena iklim di Pasifik yang menghangatkan suhu global.

    langit berkabut karena polusi udara
    Kabut asap tebal memengaruhi dampak gas rumah kaca. Shaun Robinson/Shutterstock
    Berdasarkan tren jangka panjang, seharusnya kita hanya mengalami pemanasan sekitar 0,23°C sejak 2010. Namun, pengamatan menunjukkan kenaikan suhu mencapai 0,33°C.

    Tambahan 0,1°C ini sebagian besar bisa dijelaskan oleh pembersihan polusi udara di Asia Timur.

    Faktor lain yang juga berperan adalah penurunan emisi sektor pelayaran serta lonjakan konsentrasi metana di atmosfer belakangan ini.

    Polusi udara mendinginkan Bumi dengan cara mengubah sifat awan sehingga lebih banyak memantulkan sinar matahari. Pembersihan polusi udara di Asia Timur mengurangi efek bayangan ini di wilayah tersebut.

    Berkurangnya polusi juga juga menurunkan jumlah polutan yang terbawa angin melintasi Samudra Pasifik utara. Ini membuat awan di Pasifik timur memantulkan lebih sedikit sinar matahari.

    Pola perubahan di wilayah Pasifik Utara yang kami simulasikan dalam model studi ini cocok dengan apa yang terlihat dalam pengamatan satelit. Hasil pemodelan ataupun pengamatan suhu membuktikan kawasan tersebut memanas secara signifikan, khususnya di wilayah yang tertiup angin dari Asia Timur.

    Penyebab utama pemanasan global tetaplah emisi gas rumah kaca. Mengurangi polusi udara adalah langkah yang perlu dan sudah seharusnya dilakukan.

    Pembersihan ini bukan penyebab tambahan pemanasan, melainkan menghilangkan efek pendinginan buatan yang selama ini menutupi sebagian dampak dari perubahan iklim—seperti cuaca ekstrem dan konsekuensi lainnya.

    Pemanasan global akan terus berlanjut selama beberapa dekade ke depan. Dan tentu saja, emisi gas rumah kaca yang kita hasilkan di masa lalu dan yang masih kita hasilkan saat ini akan terus memengaruhi iklim hingga berabad-abad ke depan.

    Sebaliknya, polusi udara dapat menghilang dari atmosfer dengan cepat. Jadi, percepatan pemanasan global akibat hilangnya efek pendinginan dari polusi ini kemungkinan hanya akan berlangsung sementara.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Laura Wilcox (Professor, National Centre for Atmospheric Science, University of Reading) dan Bjørn H. Samset (Senior Researcher in Climate and Atmospheric Sciences, Center for International Climate and Environment Research – Oslo)

  • UNEP: Kegigihan dan Kesabaran Jadi Kunci Lahirnya Perjanjian Plastik Global

    UNEP: Kegigihan dan Kesabaran Jadi Kunci Lahirnya Perjanjian Plastik Global

    7cloud.asia – Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (United Nation Environment Programme/UNEP) meminta negara-negara Anggota untuk menunjukkan kegigihan, kesabaran, dan dialog berkelanjutan untuk menemukan jalan terwujudnya perjanjian plastik global.

    Dilansir di laman resminya, UNEP siap mendukung negara-negara anggotanya menjalani langkah-langkah menuju niat mereka untuk bertemu kembali pada sesi negosiasi perjanjian plastik global.

    ”Dan saat Anda memikirkan langkah selanjutnya, yakinlah bahwa upaya UNEP dalam mengatasi polusi plastik akan terus berlanjut,” ujar Inger saat menyampaikan pidatonya di Sidang Umum PBB ke-80 di New York AS, beberapa waktu lalu.

    Dalam kesempatan itu, Inger menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Pemerintah Kenya dan Norwegia atas komitmen mereka dalam memajukan upaya menyepakati instrumen yang mengikat secara hukum untuk mengakhiri polusi plastik.

    Pada INC-5.2, taruhannya tinggi dan harapan untuk mencapai teks perjanjian semakin tinggi. Namun, ujarnya, dunia tidak mendapatkan hasil yang diharapkan.

    Kompleksitas geopolitik, tantangan ekonomi, dan ketegangan multilateral menciptakan lingkungan negosiasi yang sulit.

    Baca: Perundingan Perjanjian Plastik Global berakhir tanpa kesepakatan

    Namun, Inger menegaskan bahwa kebuntuan ini bukanlah akhir yang definitif, melainkan hanya akhir dari sesi tersebut. Dan kemajuan penting telah dicapai setelah sepuluh hari diplomasi yang penuh perjuangan.

    ”Delegasi-delegasi membahas lebih mendalam semua aspek teks perjanjian. Kami melihat proposal-proposal yang konstruktif. Posisi-posisi yang semakin jelas. Konvergensi yang semakin meningkat pada elemen-elemen kunci perjanjian,” ujarnya.

    Dia melanjutkan, negara-negara sepakat untuk bersidang kembali pada tanggal yang akan diumumkan. Yang terpenting, setiap negara menunjukkan keinginan mereka untuk mengakhiri dampak lingkungan, ekonomi, dan kesehatan dari polusi plastik.

    Dunia, ujarnya, jauh lebih dekat untuk mewujudkan mandat yang diberikan oleh Majelis Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

    Mencapai kesepakatan tidak akan mudah. Perpecahan masih terjadi dalam lingkup, produksi, produk plastik, keuangan, dan pengambilan keputusan. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menyeimbangkan antara aturan yang mengikat secara global dan langkah-langkah nasional.

    Masyarakat dunia membutuhkan waktu. Perlu diingat bahwa negosiasi serupa membutuhkan waktu yang jauh lebih lama daripada tiga tahun yang telah dilalui dalam mewujudkan perjanjian plastik global.

    Baca: 80 Negara dukung proposal Swiss dan Meksiko dalam mengatasi polusi plastik

    Forum di New York ini, menurut Inger, merupakan kesempatan untuk mendengarkan dan membahas langkah selanjutnya.

    Sesi ke-7 Majelis Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadi momen refleksi penting lainnya. Periode antar-sesi ini harus dimanfaatkan untuk mempersempit kesenjangan.

    Yang terpenting, kita sekarang membutuhkan jalur yang jelas yang memastikan terciptanya kondisi untuk hasil yang bermakna. Ini harus mencakup dialog lebih lanjut antar Negara Anggota untuk mengeksplorasi zona pendaratan yang layak.

    ”Oleh karena itu, saya mendorong negara-negara untuk terus berinteraksi satu sama lain. Tidak hanya dengan kelompok yang mereka setujui. Tetapi juga dengan kelompok yang tidak mereka setujui. Dengan cara inilah garis merah dan kompromi negosiasi dapat ditemukan,” tandansya.

    Keterlibatan pengamat yang berkelanjutan juga penting untuk memastikan legitimasi, transparansi proses, dan efektivitas instrumen.

    Inger mengingatkan, polusi plastik ada di alam, di lautan, dan bahkan telah menyusup ke dalam tubuh manusia. Tantangan lingkungan, ekonomi, dan kesehatan akan terus meningkat. Karena itu masyarakat dunia harus bersama-sama mengatasi polusi plastik.

    Baca: Posisi negara-negara di dunia dalam menangani sampah plastik

  • Polusi Udara di Beijing Berhasil Ditekan, Ini Caranya

    Polusi Udara di Beijing Berhasil Ditekan, Ini Caranya

    7cloud.asia – Kualitas udara ibu kota China, Beijing dilaporkan terus membaik dalam 11 bulan pertama tahun 2025.

    Menurut laporan otoritas lingkungan kota tersebut pada Selasa (16/12/2025), tercatat rata-rata konsentrasi partikulat halus (PM2.5) terendah sejak pemantauan dimulai.

    Dari Januari hingga November, rata-rata konsentrasi PM2.5 di Beijing turun menjadi 26,5 mikrogram per meter kubik, yang merupakan penurunan 16,7 persen secara tahunan (year on year/yoy).

    Pada periode tersebut, Beijing menikmati kualitas udara yang baik selama 282 hari, atau 23 hari lebih lama dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

    Baca: Polusi udara di Eropa dan China menurun pada tahun lalu

    Peningkatan kualitas udara di Beijing ini dikaitkan dengan upaya berkelanjutan kota tersebut dalam mengatasi polusi udara, termasuk “inisiatif 0,1 mikrogram”.

    Beberapa langkah lainnya yang dilakukan otoritas Beijing di antaranya mendorong adopsi yang lebih luas untuk kendaraan energi baru (new energy vehicle/NEV).

    Beijing juga menerapkan langkah-langkah pengurangan emisi dalam proyek konstruksi, serta mendukung transformasi hijau sektor bisnis.

    Selain itu, proyek renovasi pemanasan bersih kota itu telah melampaui target tahunannya, dan penanganan asap dapur (cooking fumes) juga telah ditingkatkan di 1.401 perusahaan katering lebih awal dari jadwal.

    Baca: Kondisi Beijing 20 tahun lalu

    Ke depannya, otoritas tersebut mengungkapkan Beijing akan menerapkan langkah-langkah tertarget untuk mengatasi polusi pada bulan-bulan di musim dingin, meningkatkan prediksi dan analisis yang akurat, serta memastikan tercapainya target kualitas udara.

    Dalam satu dekade terakhir pemerintah China sukses mengurangi polusi udara berat yang menyelimuti ibukota negeri itu.

    Pemerintah pusat China menginvestasikan lebih dari 30 miliar yuan atau sekitar Rp65 triliun untuk pencegahan dan pengendalian polusi udara setiap tahunnya, dengan nilai investasi kumulatif dalam beberapa tahun terakhir melampaui 200 miliar yuan.

    Dilansir Antaranews.com, pejabat dari Kementerian Ekologi dan Lingkungan Hidup China, Li Wei mengatakan kebijakan ini mampu mendorong jumlah investasi seluruh masyarakat mencapai 1 triliun yuan.

    Pewarta: Antaranews.com/Xinhua

  • DPR Usulkan Dana Kompensasi Lingkungan untuk Warga di Sekitar Kawasan Industri

    DPR Usulkan Dana Kompensasi Lingkungan untuk Warga di Sekitar Kawasan Industri

    7cloud.asia – Aktivitas industri yang kerap memicu polusi mendapat sorotan dari DPR yang mendorong adanya dana kompensasi lingkungan bagi masyarakat yang terdampak aktivitas kawasan industri.

    Menurut anggota Komisi VII DPR, Andhika Satya Wasistho keberadaan kawasan industri tidak hanya harus memberikan manfaat ekonomi dan membuka lapangan kerja, tetapi juga menghadirkan manfaat langsung bagi warga yang tinggal di sekitar kawasan tersebut.

    Dalam Rapat Dengar Pendapat Panja tentang Kawasan Industri Komisi VII DPR bersama Badan Keahlian DPR di Senayan, Jakarta, Selasa (23/6/2026) Andhika menyoroti hasil telesurvei partisipasi publik yang menunjukkan masih adanya berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat di sekitar kawasan industri,

    Dalam rapat tersebut, Legislator Dapil Jawa Tengah II menyebutkan persoalan yang muncul mulai dari pencemaran udara, pencemaran air, kerusakan tanah, hingga kemacetan lalu lintas.

    Karena itu butuh regulasi yang mengatur keterlibatan masyarakat dan tanggung jawab sosial perusahaan masih perlu diperkuat agar dampak pembangunan kawasan industri dapat dirasakan secara lebih adil oleh masyarakat sekitar.

    Baca: Greenpeace Indonesia Dorong Industri FMCG Serius Kurangi Sampah Plastik

    Dia menegaskan, perlu didorong klausul yang betul-betul spesifik tentang kontribusi perusahaan untuk pemeliharaan lingkungan.

    “Misalnya dapat dituangkan dalam bentuk dana kompensasi untuk masyarakat ataupun CSR yang wajib. Karena sampai hari ini hal tersebut belum tertuang secara jelas,” ujarnya dilansir Parlementaria.

    Persoalan lingkungan akibat aktivitas industri, lanjutnya, kerap menjadi sumber keluhan masyarakat. Karena itu, perusahaan yang beroperasi di kawasan industri perlu memiliki tanggung jawab yang lebih besar terhadap upaya pemulihan dan pemeliharaan lingkungan.

    Sebagai contoh, ia menyoroti kondisi di Kabupaten Demak yang menjadi bagian dari daerah pemilihannya.

    Menurutnya, keberadaan kawasan industri di wilayah tersebut memunculkan perdebatan di tengah masyarakat terkait persoalan penurunan tanah yang diduga dipengaruhi aktivitas pengurukan lahan dan pemanfaatan air tanah.

    Baca: Industri Ekstraktif dan PSN Membuat Kalimantan Tengah Jadi Provinsi dengan Angka Deforestasi Tertinggi

    “Saya ambil contoh di daerah pemilihan saya, di Demak. Hari ini yang menjadi perdebatan di masyarakat adalah persoalan penurunan tanah. Karena adanya pengurukan tanah dan juga pemanfaatan air tanah yang mungkin belum dikontrol secara baik dan benar sehingga menimbulkan dampak lingkungan,” jelasnya.

    Selain mendorong dana kompensasi lingkungan, Andhika juga mengusulkan adanya audit lingkungan secara berkala dan penerapan sanksi yang lebih progresif bagi perusahaan yang tidak memenuhi kewajiban pengelolaan lingkungan.

    Ia menilai pengawasan terhadap kawasan industri juga perlu melibatkan masyarakat melalui mekanisme pengaduan yang mudah diakses serta didukung transparansi data.

    Menurutnya, partisipasi masyarakat menjadi penting untuk memastikan kawasan industri berkembang secara berkelanjutan tanpa mengabaikan kepentingan lingkungan dan warga sekitar.

    “Prinsipnya bagaimana kawasan industri ini tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh para pekerja yang ada di dalamnya, tetapi juga oleh masyarakat sekitar. Bahkan lebih jauh lagi, manfaatnya harus dapat dirasakan oleh pemerintah daerah tempat kawasan industri itu berada,” pungkasnya.