7cloud.asia – Pencemaran udara di Jabodetabek masih tinggi. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/ Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) mencatat sektor transportasi masih menjadi penyumbang terbesar pencemaran udara.
Data KLH dari Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKUA) dari 1 Mei hingga 3 Juni 2025 menunjukkan parameter kuning atau status tidak sehat.
Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara KLH/BPLH, Nixon Pakpahan menjelaskan nilai konsentrasi PM 2,5 di atas 100 PPM.
Angka ini lebih tinggi dari standar pemerintah. Total ada 35 titik SPKUA di Jabodetabek yang terpantau mengalami peningkatan skor PM 2.5.
Baca: Kementerian Lingkungan Hidup perlu perkuat regulasi
Melansir Antaranews, Nixon menerangkan pihaknya telah melakukan kajian dan ada sejumlah sumber pencemaran udara. Sumber terbesar adalah sektor transportasi.
Sektor ini menyumbang 32-41 persen polusi udara Jabodetabek saat musim hujan dan 42-57 persen ketika musim kemarau.
Kemudian posisi kedua adalah emisi dari sektor industri terutama yang menggunakan batu bara, menyumbang 14 persen.
Baca: Ini dia sumber polusi udara di Jakarta
Emisi pembakaran sampah terbuka atau ilegal atau pembersihan lahan pertanian 11 persen di musim hujan dan 9 persen di musim kemarau, debu konstruksi bangunan 13 persen dan aerosol sekunder 6-16 persen saat musim hujan dan 1-7 persen pada musim kemarau.
“Berbicara lingkungan, mari bereskan, prioritas, bereskan dulu sumbernya. Itu lebih penting daripada membahas siklus, cuaca, arah angin dan seterusnya. Bereskan dulu sumbernya,” jelasnya.
Karena itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan dan PT Pertamina agar dapat menyediakan bahan bakar rendah sulfur.
Baca: Hanya tujuh negara yang penuhi standar kualitas udara WHO
Selain itu, penggunaan sistem pemantau emisi untuk mencapai 80 persen pada akhir tahun 2025, penggunaan gas di kawasan industri, pemantauan langsung di kawasan industri serta pendekatan melalui penegakan hukum.
Nixon juga mengajak semua pihak termasuk masyarakat di wilayah Jabodetabek untuk ikut serta menangani masalah pencemaran udara.
“Tidak saling menyalahkan, tapi artinya semua harus bekerja sama. Karena kita hidup di satu bumi yang sama, menghirup udara yang sama, kebutuhan yang sama,” kata Nixon.

Leave a Reply