7cloud.asia – Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (United Nation Environment Programme/UNEP) meminta negara-negara Anggota untuk menunjukkan kegigihan, kesabaran, dan dialog berkelanjutan untuk menemukan jalan terwujudnya perjanjian plastik global.
Dilansir di laman resminya, UNEP siap mendukung negara-negara anggotanya menjalani langkah-langkah menuju niat mereka untuk bertemu kembali pada sesi negosiasi perjanjian plastik global.
”Dan saat Anda memikirkan langkah selanjutnya, yakinlah bahwa upaya UNEP dalam mengatasi polusi plastik akan terus berlanjut,” ujar Inger saat menyampaikan pidatonya di Sidang Umum PBB ke-80 di New York AS, beberapa waktu lalu.
Dalam kesempatan itu, Inger menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Pemerintah Kenya dan Norwegia atas komitmen mereka dalam memajukan upaya menyepakati instrumen yang mengikat secara hukum untuk mengakhiri polusi plastik.
Pada INC-5.2, taruhannya tinggi dan harapan untuk mencapai teks perjanjian semakin tinggi. Namun, ujarnya, dunia tidak mendapatkan hasil yang diharapkan.
Kompleksitas geopolitik, tantangan ekonomi, dan ketegangan multilateral menciptakan lingkungan negosiasi yang sulit.
Baca: Perundingan Perjanjian Plastik Global berakhir tanpa kesepakatan
Namun, Inger menegaskan bahwa kebuntuan ini bukanlah akhir yang definitif, melainkan hanya akhir dari sesi tersebut. Dan kemajuan penting telah dicapai setelah sepuluh hari diplomasi yang penuh perjuangan.
”Delegasi-delegasi membahas lebih mendalam semua aspek teks perjanjian. Kami melihat proposal-proposal yang konstruktif. Posisi-posisi yang semakin jelas. Konvergensi yang semakin meningkat pada elemen-elemen kunci perjanjian,” ujarnya.
Dia melanjutkan, negara-negara sepakat untuk bersidang kembali pada tanggal yang akan diumumkan. Yang terpenting, setiap negara menunjukkan keinginan mereka untuk mengakhiri dampak lingkungan, ekonomi, dan kesehatan dari polusi plastik.
Dunia, ujarnya, jauh lebih dekat untuk mewujudkan mandat yang diberikan oleh Majelis Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Mencapai kesepakatan tidak akan mudah. Perpecahan masih terjadi dalam lingkup, produksi, produk plastik, keuangan, dan pengambilan keputusan. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menyeimbangkan antara aturan yang mengikat secara global dan langkah-langkah nasional.
Masyarakat dunia membutuhkan waktu. Perlu diingat bahwa negosiasi serupa membutuhkan waktu yang jauh lebih lama daripada tiga tahun yang telah dilalui dalam mewujudkan perjanjian plastik global.
Baca: 80 Negara dukung proposal Swiss dan Meksiko dalam mengatasi polusi plastik
Forum di New York ini, menurut Inger, merupakan kesempatan untuk mendengarkan dan membahas langkah selanjutnya.
Sesi ke-7 Majelis Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadi momen refleksi penting lainnya. Periode antar-sesi ini harus dimanfaatkan untuk mempersempit kesenjangan.
Yang terpenting, kita sekarang membutuhkan jalur yang jelas yang memastikan terciptanya kondisi untuk hasil yang bermakna. Ini harus mencakup dialog lebih lanjut antar Negara Anggota untuk mengeksplorasi zona pendaratan yang layak.
”Oleh karena itu, saya mendorong negara-negara untuk terus berinteraksi satu sama lain. Tidak hanya dengan kelompok yang mereka setujui. Tetapi juga dengan kelompok yang tidak mereka setujui. Dengan cara inilah garis merah dan kompromi negosiasi dapat ditemukan,” tandansya.
Keterlibatan pengamat yang berkelanjutan juga penting untuk memastikan legitimasi, transparansi proses, dan efektivitas instrumen.
Inger mengingatkan, polusi plastik ada di alam, di lautan, dan bahkan telah menyusup ke dalam tubuh manusia. Tantangan lingkungan, ekonomi, dan kesehatan akan terus meningkat. Karena itu masyarakat dunia harus bersama-sama mengatasi polusi plastik.
Baca: Posisi negara-negara di dunia dalam menangani sampah plastik

Leave a Reply