Tag: kota

  • Cuaca Hari Ini: Waspada! Hujan Disertai Petir Melanda Beberapa Kota, Termasuk Bandung

    Cuaca Hari Ini: Waspada! Hujan Disertai Petir Melanda Beberapa Kota, Termasuk Bandung

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan disertai petir berpotensi melanda beberapa kota termasuk Kota Bandung pada Minggu (10/05/2025).

    Dalam akun youtube resminya, selain Kota Bandung BMKG memprediksi hujan disertai petir juga melanda Kota Semarang, Bengkulu, Jambi, Bandar Lampung, Mataram, Palangkaraya, Samarinda, Manado, Jayawijaya dan Merauke

    Selain hujan disertai petir, sebagian besar kota juga berpotensi diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Seperti kota Padang, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Palembang, Pangkal Pinang yang berpotensi hujan berintensitas ringan.

    Kondisi cuaca serupa juga berpotensi terjadi di Kota, Serang, Surabaya, Denpasar, Kupang, Pontianak, Makassar, Palu, Gorontalo, Kendari, Ambon, Ternate, Sorong, Manokwari dan Jayapura.  

    Kemudian hujan dengan intensitas sedang berpeluang mengguyur Kota Medan, Yogyakarta, Tanjung Selor, Mamuju dan Nabire.

    BMKG juga mengingatkan adanya potensi cuaca ekstrem yang berpeluang melanda sebagian besar wilayah Sumatera, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara dan Papua.

    Tak hanya cuaca ekstrem, sejumlah wilayah pesisir juga berpotensi terjadi banjir rob seperti pesisir Sumatera Utara, pesisir Karimun, pesisir Sumatera Barat, pesisir  Kalimantan Utara, pesisir Maluku.

     

     

     

  • Cuaca Hari Ini: Waspada Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah

    Cuaca Hari Ini: Waspada Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah

    7cloud.asia – Meski sebagian kota telah memasuki musim kemarau, tetapi cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah selama libur panjang. Masyarakat diimbau waspada.

    Melalui kanal youtube resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) cuaca ekstrem berpeluang melanda sebagian besar wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara dan Papua.

    Kemudian hujan berintensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Bengkulu, Surabaya dan Denpasar. Sementara hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Padang, Palembang, Pangkal Pinang, Mataram, Tanjung Selor, Banjarmasin, Mamuju dan Merauke.

    Sedangkan hujan dengan intensitas ringan diprediksi terjadi di Kota Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Jambi, Bandar Lampung, Serang, Bandung, Semarang, Yogyakarta.

    Kota Pontianak, Palangkaraya, Samarinda, Palu, Kendari, Makassar, Ternate, Ambon, Sorong, Manokwari, Nabire, Jayapura dan Jayawijaya juga berpotensi terjadi hujan dengan intensitas ringan.

    BMKG juga mengingatkan masyarakat adanya potensi banjir rob yang melanda sejumlah pesisir, yaitu pesisir Sumatera Utara, pesisir Karimun, pesisir Natuna, pesisir Sumatera Barat,

    Selain itu banjir rob berpeluang pula melanda pesisir Banten, peisir Jakarta, pesisir Jawa Barat, Kalimantan Utara, pesisir Sulawesi Utara dan pesisir Maluku.

     

  • Trotoar Diperuntukkan Bagi Pejalan Kaki, Pelanggar Bisa Dibui dan Denda Rp500 Ribu

    Trotoar Diperuntukkan Bagi Pejalan Kaki, Pelanggar Bisa Dibui dan Denda Rp500 Ribu

    7cloud.asia – Undang-undang Lalu Lintas Angkutan Jalan (UU LLAJ) dan Peraturan Daerah (Perda) DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum menyebut trotoar diperuntukan bagi pejalan kaki.

    Karena itu, okupasi trotoar untuk pedagang kaki lima, parkir kendaraan pun perlintasan motor termasuk perbuatan melanggar hukum.

    Pelanggaran penggunaan trotoar, terutama oleh pengendara motor dan pedagang, dapat dikenai sanksi berupa denda dan/atau kurungan penjara.

    Pengendara motor yang melintas di trotoar dapat dikenakan sanksi sesuai Pasal 275 ayat (2) UU LLAJ, yaitu denda Rp250 ribu hingga Rp500 ribu atau kurungan penjara paling lama 2 bulan.

    Pedagang yang menggunakan trotoar untuk berdagang juga dapat dikenai sanksi, karena mengganggu fungsi jalan dan fasilitas pejalan kaki.

    Baca: Pelanggaran penggunaan trotoar di Jakarta

    Hal ini yang menjadi dasar Satpol PP Jakarta Barat saat menertibkan trotoar di kawasan Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Kecamatan Kembangan disterilkan dari pedagang kaki lima (PKL) dan parkir liar.

    “Trotoar diperuntukan bagi pejalan kaki, jangan digunakan untuk berjualan dan parkir kendaraan,” ujar Kepala Satpol PP Jakarta Barat, Agus Irwanto mengatakan,nya, Sabtu (10/5/2025).

    Agus menjelaskan, personel Satpol akan mengintensifkan pengawasan, pengendalian, dan pengamanan terhadap hal-hal yang berhubungan dengan ketentraman dan ketertiban dan ketentraman umum (Tramtibum) di wilayah tersebut.

    “Kami akan berupaya maksimal menjaga tramtibum dan fasilitas publik di area trotoar, terutama di kawasan kantor Wali Kota Jakarta Barat, CNI Puri Kembangan, dan sekitarnya,” terangnya.

    Baca: Trotoar di Jakarta belum ramah untuk kelompok disabilitas

    Ia meminta masyarakat untuk menggunakan fasilitas berjualan dan parkir yang sudah ada tanpa perlu melanggar aturan.

    “Mari bersama-sama kita menjaga tramtibum, kerapian, dan estetika kota,” bebernya.

    Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Barat, Christianto menegaskan, parkir liar akan ditindak tegas sesuai dengan peraturan berlaku.

    “Kalau ada oknum dari kami terlibat, saya pastikan juga akan diberikan sanksi tegas. Jika masyarakat mengetahui adanya parkir liar bisa segera melapor kepada petugas kami atau melalui aplikasi JAKI,” tandasnya.

  • Cuaca Hari Ini: Siap Payung, Seluruh Wilayah Jakarta Berpotensi Hujan Pada Siang Hari

    Cuaca Hari Ini: Siap Payung, Seluruh Wilayah Jakarta Berpotensi Hujan Pada Siang Hari

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang berpotensi mengguyur seluruh wilayah Jakarta pada Senin (12/05/2025) siang hingga sore.  

    Dalam laman resmi BMKG, hujan berintensitas ringan diperkirakan akan terjadi pada siang hingga sore hari di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta, Timur, Jakarta Utara dan Kepuauan Seribu.

    Di waktu yang sama, hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur wilayah Jakarta Selatan.

    Kemudian malam harinya, hujan dengan intensitas ringan masih berlanjut di wilayah Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu. Sedangkan pagi hari, seluruh wiayah Jakarta diprediksi berawan.

    Baca: Cuaca panas kemudian hujan lebat, mengapa?

    Sementara kota-kota lainnya di Indonesia BMKG memprediksi hujan berintensitas ringan hingga hujan disertai petir masih terjadi. Seperti Kota Medan, Tanjung Pinang, Jambi, Palembang, Pangkal Pinang berpotensi terjadi hujan berintensitas ringan.

    Kondisi cuaca serupa berpeluang pula terjadi di Kota Bandar Lampung, Serang, Semarang, Surabaya, Denpasar, Kupang, Pontianak, Banjarmasin, Tanjung Selor, Makassar, Mamuju, Palu, Gorontalo, Manado, Kendari.

    Kota Ambon, Ternate, Sorong, Manokwari, Nabire, Jayawijaya dan Jayapura juga berpeluang terjadi hujan dengan intensitas ringan.  

    Selanjutnya hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Padang dan Merauke. Sedangkan hujan disertai petir diperkirakan melanda di Kota Bengkulu,  Bandung, Mataram, Palangkaraya dan Samarinda.

    Baca: BMKG kembangkan sistem peringatan dini berbasis AI

    BMKG juga mengingatkan adanya potensi cuaca ekstrem yang berpeluang melanda sebagian besar wilayah Sumatera, sebagian kecil Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara dan Papua.

    Tak hanya cuaca ekstrem, sejumlah wilayah pesisir juga berpotensi terjadi banjir rob seperti pesisir Sumatera Utara, Kepulauan Riau, pesisir Sumatera Barat, , pesisir Banten, pesisir Jakarta, pesisir Jawa Barat, pesisir Nusa Tenggara Barat, pesisir Nusa Tenggara Timur.

    Banjir rob berpeluang pula melanda pesisir  Kalimantan Utara, pesisir Kalimantan Timur, pesisir Kalimantan Selatan, pesisir Sulawesi Utara dan pesisir Maluku.

     

  • Penerapan Teknologi CFD Dorong Ketahanan Kota terhadap Udara Panas

    Penerapan Teknologi CFD Dorong Ketahanan Kota terhadap Udara Panas

    7cloud.asia – Perubahan iklim bukan lagi masalah masa yang akan datang. Perubahan iklim sedang terjadi dan dampaknya bisa dirasakan sekarang. Kondisi ini membuat teknologi adaptasi memegang peran penting.

    Perubahan iklim memengaruhi kehidupan kota secara tidak proporsional. Bagaimana dampak perubahan iklim ini dimitigasi, ikuti artikel ini sampai selesai.

    Saat ini lebih dari separuh atau 58 persen populasi dunia tinggal di kota, dan diperkirakan angka tersebut akan mencapai 62 persen pada tahun 2035.

    Meskipun mencakup kurang dari 1 persen dari luas total permukaan daratan global, kota menyumbang 67-72 persen dari emisi karbon dioksida (CO2) global.

    Seiring dengan terus bertambahnya populasi perkotaan, jejak lingkungannya akan meluas secara signifikan.

    Baca: Dua Studi ungkap kenaikan suhu Bumi lampaui ambang batas 1,5°C

    Kota menyerap panas, dan saat suhu meningkat, jutaan orang di seluruh dunia akan terpapar fenomena yang dikenal sebagai efek pulau panas perkotaan.

    Pulau panas perkotaan dapat membuat kota hingga 10°C lebih panas daripada daerah pedesaan.

    Hal ini dapat menciptakan lingkaran setan, di mana kota yang lebih panas menyebabkan penggunaan ventilasi dan pendingin udara yang lebih besar, yang pada gilirannya meningkatkan emisi.

    Sering kali, daerah berpendapatan rendah dan berpenduduk padat yang terkena dampak secara tidak proporsional, dan paling tidak mampu membeli sistem pendingin udara dan energi yang menggerakkannya.

    Dua penyebab utama pulau panas perkotaan adalah ventilasi yang buruk dan pilihan bahan permukaan.

    Baca: Bangunan hijau jadi solusi untuk kota yang berkelanjutan

    Pulau panas perkotaan ini dapat ditanggulangi dengan menggunakan teknologi komputasi dinamika fluida (Computational Fluid Dinamics/CFD).

    Teknologi CFD menggunakan matematika dan simulasi komputer untuk meniru perilaku gas dan cairan dalam lingkungan virtual. Teknologi yang banyak digunakan di dunia Formula 1 memungkinkan kita untuk menguji sifat aerodinamis dari desain tertentu.

    Teknologi CFD ini memungkinkan kita untuk mensimulasikan – misalnya – bagaimana angin mengalir melalui kota atau bagaimana air dapat mengalir melalui wilayah pesisir selama banjir.

    Dengan demikian teknologi CFD juga dapat membantu perencana kota memutuskan di mana akan menempatkan taman, permukaan reflektif, ataupun koridor ventilasi sebuah bangunan atau kawasan terbangun.

    Perencana kota Singapura misalnya, menggunakan teknologi CFD untuk merancang koridor angin yang menyalurkan angin sejuk melalui lingkungan yang padat.

    Baca: Penerapan infrastruktur ramah lingkungan dalam perencanaan kota

    Dilansir earth.org, CFD juga dapat digunakan untuk membuat bangunan lebih tahan terhadap angin kencang.

    Ini dapat digunakan untuk menguji bagaimana bangunan merespons beban angin, yang akan terbukti penting di kota-kota yang lebih sering dilanda badai, siklon, dan kejadian angin kencang lainnya.

    CFD juga dapat menurunkan suhu di dalam rumah. Dengan memahami bagaimana udara mengalir melalui rumah, jendela, koridor, dan kamar tidur dapat ditempatkan sedemikian rupa sehingga mendorong pergerakan udara yang merata di seluruh rumah, yang selanjutnya mengurangi ketergantungan pada sistem ventilasi.

    Banyak dari teknik ini yang dirintis oleh arsitek kuno. Misalnya, orang Romawi dan Yunani terampil dalam menciptakan struktur seperti atrium dan koloseum yang menciptakan ventilasi alami.

    Saat ini, kita dapat menggunakan CFD untuk memahami mengapa metode ini berhasil dan, yang lebih penting adalah bagaimana cara meniru dan menerapkannya untuk mengatasi pemanasan perkotaan.

    Baca: Langkah mitigasi atasi suhu panas perkotaan

  • Cuaca Hari Ini: Sejumlah Kota Berpotensi Hujan, Termasuk Jakarta

    Cuaca Hari Ini: Sejumlah Kota Berpotensi Hujan, Termasuk Jakarta

    7cloud.asia – Kondisi cuaca hujan berintensitas ringan berpotensi terjadi di sejumlah kota di Indonesia, termasuk Jakarta pada Selasa (13/05/2025).

    Melalui kanal youtube resminya, selain Kota Jakarta, hujan berintensitas ringan juga berpeluang terjadi di Kota Medan, Pekanbaru, Padang, Tanjung Pinang, Jambi, Palembang, Serang, Semarang, Yogyakarta, Surabaya.

    Selain itu, Kota Tanjung Selor, Samarinda, Banjarmasin, Manado, Gorontalo, Mamuju, Makassar, Palu, Kendari, Sorong dan Jayapura juga berpotensi terjadi hujan dengan intensitas ringan.

    Kemudian hujan dengan intensitas sedang berpeluang mengguyur Kota Bandar Lampung dan Merauke.

    Sedangkan hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Bengkulu, Pangkal Pinang, Bandung, Denpasar, Mataram, Pontianak, Palangkaraya, Nabire dan Jayawijaya.

    BMKG juga mengingatkan adanya potensi cuaca ekstrem yang berpeluang melanda sebagian besar wilayah Sumatera, sebagian kecil Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara dan Papua.

    Tak hanya cuaca ekstrem, sejumlah wilayah pesisir juga berpotensi terjadi banjir rob seperti pesisir Sumatera Utara, pesisir Kepulauan Riau, pesisir Sumatera Barat, pesisir Banten, pesisir utara Jakarta, pesisir Jawa Barat, pesisir Nusa Tenggara Barat, pesisir Nusa Tenggara Timur.

    Banjir rob berpeluang pula melanda pesisir  Kalimantan Utara, pesisir Kalimantan Timur, pesisir Kalimantan Selatan, pesisir Sulawesi Utara dan pesisir Maluku.

     

     

     

  • Cuaca Hari Ini: Siap Payung, Siang hingga Malam Jakarta Berpotensi Hujan

    Cuaca Hari Ini: Siap Payung, Siang hingga Malam Jakarta Berpotensi Hujan

    7cloud.asia – Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang berpotensi mengguyur sejumlah wilayah di Jakarta pada Rabu (14/05/2025) siang hingga malam.

    Dalam laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada siang hingga sore, hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan.

    Sementara pada waktu yang sama wilayah lainnya di Jakarta berpotensi hujan dengan intensitas ringan.  

    Hujan dengan intensitas ringan masih akan berlanjut pada malam hari di wilayah Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Sedangkan pagi harinya seluruh wilayah Jakarta diprediksi berawan tebal.

    Tak hanya di wilayah Jakarta, sejumlah kota di Indonesia juga berpotensi diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga hujan disertai petir.

    Baca: Cuaca panas kemudian hujan lebat, mengapa?

    Hujan dengan intensitas ringan berpeluang terjadi di Kota Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Bengkulu, Palembang, Pangkal Pinang, Bandung, Surabaya, Denpasar, Mataram.

    Kondisi cuaca seperti ini berpeluang pula terjadi di Kota Tanjung Selor, Samarinda, Pontianak, Banjarmasin, Manado, Palu, Kendari, Makassar, Ternate, Ambon, Sorong, Manokwari dan Jayapura.

    Selanjutnya hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Jambi, Serang, Semarang, Yogyakarta dan Jayawijaya.  

    Sementara hujan dengan intensitas lebat berpotensi mengguyur Kota Mamuju dan Merauke. Kemudian hujan disertai petir Kota Bandar Lampung, Palangkaraya dan Nabire.

    Baca: Hujan disertai petir kerap terjadi sore atau malam hari, ini penyebabnya

    BMKG juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai adanya potensi cuaca ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Sumatera, sebagian Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara dan Papua.

    Tak hanya cuaca ekstrem, sejumlah wilayah pesisir juga berpotensi terjadi banjir rob seperti pesisir Sumatera Utara, pesisir Kepulauan Riau, pesisir Lampung, pesisir Banten, pesisir utara Jakarta, pesisir Jawa Barat, pesisir Nusa Tenggara Barat.

    Banjir rob berpeluang pula melanda pesisir Kalimantan Timur, pesisir Kalimantan Selatan, pesisir Sulawesi Utara dan pesisir Maluku.

  • Cuaca Hari Ini: Memasuki Pancaroba, Mayoritas Kota di Indonesia Bakal Hujan

    Cuaca Hari Ini: Memasuki Pancaroba, Mayoritas Kota di Indonesia Bakal Hujan

    7cloud.asia – Beberapa wilayah di Indonesia saat ini tengah memasuki musim pancaroba. Namun hujan berintensitas ringan hingga hujan disertai petir berpotensi mengguyur mayoritas kota pada Kamis (15/05/2025).

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui akun youtube resminya memprediksi hujan dengan intensitas ringan akan terjadi di Kota Medan, Banda Aceh, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Padang, Pangkal Pinang.

    Kondisi cuaca serupa diperkirakan juga terjadi di Kota Serang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Mataram, Samarinda, Banjarmasin, Palu, Makassar, Kendari, Ambon, Sorong, Manokwari, Nabire, Jayawijaya dan Jayapura,   

    Kemudian hujan berintensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Manado. Sedangkan hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Jambi, Palembang, Bengkulu, Bandar Lampung, Tanjung Selor, Palangkaraya, Mamuju, Ternate dan Merauke.

    BMKG juga mengingatkan masyarakat mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang akan melanda sebagian besar wilayah Sumatera, sebagian wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara dan Papua.

    Tak hanya cuaca ekstrem, sejumlah wilayah pesisir juga berpotensi terjadi banjir rob seperti pesisir Sumatera Utara, pesisir Kepulauan Riau, pesisir Kepulauan Bangka Belitung, pesisir Lampung, pesisir Banten, pesisir Jakarta, pesisir Jawa Barat.

    Potensi banjir rob juga akan melanda pesisir Nusa Tenggara Barat, pesisir Kalimantan Selatan.  pesisir  Kalimantan Timur, pesisir Sulawesi Utara dan pesisir Maluku.

     

     

  • Mewujudkan Ruang Hijau yang Ideal di Kota-kota di Indonesia

    Mewujudkan Ruang Hijau yang Ideal di Kota-kota di Indonesia

    7cloud.asia – Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) sudah merekomendasikan standar minimal 9 meterpersegi ruang hijau per kapita.

    Di Indonesia, Undang-Undang No.26/2007 tentang Penataan Ruang menetapkan 30 persen dari luas wilayah kota harus berupa ruang hijau (dengan 20 persen RTH publik).

    Namun dalam praktiknya, kota-kota di Indonesia belum memenuhi kedua standar ini. Ruang-ruang hijau masih belum dianggap prioritas di negara kita karena kalah desakan ekonomi.

    Kalau kita melihat negara kecil seperti Singapura, mereka bisa konsisten dengan konsep “garden city” dan mengalokasikan lebih dari 50 persen wilayahnya untuk ruang terbuka hijau di tengah lahan mereka yang terbatas.

    Baca: Minim Ruang Hijau, kota di belahan bumi selatan rentan terhadap panas ekstrem

    Ini jelas menunjukkan bahwa ruang hijau yang banyak bisa terwujud jika ada kemauan politik yang besar.

    Kalau mau, pemerintah kota sebenarnya juga tak perlu pusing sendiri. Peran swasta melalui program corporate social responsibility (CSR) sebenarnya bisa didorong.

    Salah satunya dengan mengajak mereka membangun bersama taman tematik atau hutan kota mini yang akan menjadi ruang hijau.

    Pemerintah kota juga bisa membuka ruang partisipasi warga, mulai dari menyampaikan kebutuhan ruang hijau di lingkungannya sampai terlibat langsung dalam proses perencanaan.

    Baca: Akses ke ruang hijau dan air pengaruhi kesehatan jantung

    Contoh suksesnya bisa dilihat pada Taman Literasi Blok M dengan pendekatan place making yang melibatkan komunitas mampu menghadirkan ruang publik yang sangat hidup.

    Ruang hijau yang ideal tentu bukan cuma soal seberapa luas, tapi apakah benar-benar fungsional dan bermanfaat serta berkualitas secara desain dan pemeliharaan.

    Selain itu, ruang ini juga harus mudah diakses, tersebar merata, dilengkapi fasilitas beragam, inklusif, mengedepankan aspek keberlanjutan ekologis, aman, dan terintegrasi dengan sistem transportasi serta tata kota.

    Menghadirkan kembali ruang hijau ke tengah kota adalah langkah wajib menuju keberlanjutan. Dan generasi muda kita sudah memberi sinyal kuat bahwa itulah yang mereka butuhkan untuk kualitas hidup yang lebih baik di masa depan.

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis: Agustiyara (Ph.D. Student of Environmental Science, Eötvös Loránd University)

  • Apakah Kota di Indonesia Sudah Miliki Ruang Hijau yang Ideal?

    Apakah Kota di Indonesia Sudah Miliki Ruang Hijau yang Ideal?

    7cloud.asia – Saat berkunjung ke Tebet Eco Park, Taman Literasi Blok M, kompleks Gelora Bung Karno (GBK) atau tempat-tempat terbuka (outdoor) lainnya, kamu akan menemukan banyak anak muda—terutama Gen Z dan Milenial—yang asyik nongkrong di sana.

    Fenomena ini menyiratkan satu hal: anak-anak muda khususnya zilenial haus akan ruang terbuka hijau (RTH) di tengah padatnya kota dalam kepungan beton dan kaca.

    Berbagai studi membuktikan, selain penting untuk keberlangsungan ekosistem kota, ruang hijau juga bisa meredam stres, meningkatkan kesehatan mental dan fisik lewat interaksi sosial dan beragam aktivitas yang bisa dilakukan di sana.

    Jadi wajar apabila setiap momen munculnya ruang publik baru selalu jadi buruan muda-mudi metropolitan.

    Sayangnya, di tengah tingginya kebutuhan dan minat akan ruang terbuka hijau, eksistensinya justru semakin tergerus pembangunan kota yang kian masif.

    Potret ruang hijau di lima kota besar
    Penulis melakukan riset pemetaan perubahan tutupan ruang terbuka hijau di lima kota besar Indonesia; Jakarta Pusat, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang.

    Baca: Tiga kota di Indonesia masuk kategori kota ramah lingkungan

    Penelitian ini menggunakan citra satelit “remote sensing” Sentinel-2 dan indeks vegetasi NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) serta EVI (Enhanced Vegetation Index).

    Analisis dilakukan dalam tiga rentang waktu, yaitu 2019–2020, 2021–2022, dan 2023–2024.

    Hasil riset menunjukkan tidak semua kota memenuhi standar menyediakan area hijau minimal 30 persen dari luas wilayahnya, seperti ketentuan yang berlaku.

    Ruang hijau di semua kota justru menyusut bersamaan dengan berkurangnya tutupan hijau.

    Temuan riset ini mengonfirmasi bahwa tren ruang hijau semakin menyusut. Kota-kota dengan wilayah sempit dan padat seperti Jakarta Pusat dan Yogyakarta menghadapi krisis ruang hijau.

    Sementara kota besar yang masih punya banyak ruang hijau juga terus tertekan pembangunan seperti yang terjadi di Bandung, Surabaya, dan Semarang.

    Baca: Ruang terbuka hijau di Jakarta masih minim

    Situasi ini menjadi alarm serius untuk pembenahan tata kelola dan perencanaan kota.

    1. Jakarta Pusat
    Dalam kurun waktu 25 tahun terakhir, tutupan hijau di jantung Ibu Kota menurun drastis dari 45 persen menjadi hanya 20 persen. Begitu pun dengan ruang hijau.

    Pada 2013, porsi ruang hijau di kawasan padat penduduk ini hanya 4,65% dari total wilayah. Tren sempat membaik: naik menjadi 7,12 persen pada 2022, tapi kembali menurun tipis jadi 7,02 persen pada 2024.

    Itu pun berupa kantong-kantong kecil yang tersebar dan tak saling terhubung.

    Enhanced Vegetation Index (EVI) adalah peta warna dengan gradasi hijau–oranye–merah menunjukkan intensitas vegetasi (hijau lebih tinggi, oranye lebih rendah).

    Sedangkan urban green space menunjukkan peta biner (hijau/putih) yang memetakan secara eksplisit area ruang terbuka hijau. Secara keseluruhan, ada tren positif terhadap peningkatan kualitas dan distribusi ruang hijau di Jakarta Pusat dari 2019 hingga 2024.

    Namun, tingkat vegetasi keseluruhan kota (dilihat dari EVI) masih menunjukkan dominasi vegetasi rendah (oranye).

    Baca: Minim Ruang Hijau, kota di belahan bumi selatan rentan terhadap panas ekstrem

    2. Bandung
    Kota Bandung terbilang punya luas wilayah dan kondisi alami yang mendukung adanya ruang hijau. Data satelit menunjukkan tren peningkatan area hijau sekitar 532 hektare pada periode 2019–2024, tapi sebarannya tidak merata.

    Vegetasi hijau kebanyakan ada di pinggiran kota, sementara di pusat kota, ruang hijau cenderung terpecah dan terisolasi.

    Persentase ruang hijau publik sempat naik dari 6,26 persen (2019–2020) menjadi 9,23% (2021–2022), lalu turun lagi ke angka 6,99 persen (2023–2024).

    Secara umum, urban sprawl atau perluasan wilayah perkotaan yang masif terus mengancam bentang alam sekitar wilayah ini.

    3. Yogyakarta
    Kota budaya ini awalnya memiliki tutupan hijau cukup merata pada 2019–2020. Namun, sejak 2023, ruang hijau mulai terpecah-pecah akibat pesatnya pembangunan.

    Ruang hijau publik sempat naik dari 13,60 persen pada 2019-2020 ke 18,22 persen pada 2021–2022, tapi kembali menyusut ke 14,25 persen pada 2023–2024.

    Baca: Ruang terbuka hijau antar Kota Surabaya menjadi kota dengan udara terbersih di Asia Tenggara

    4. Surabaya
    Kota ini pernah mencatat tutupan vegetasi yang cukup baik, bahkan melampaui Jakarta dan Yogyakarta. Tapi pada 2023–2024, sekitar 1.190 hektare area hijau hilang karena ekspansi industri dan perumahan.

    Meski masih memiliki vegetasi sekitar 46% dari total wilayah (turun dari 49% di 2022), tekanan urbanisasi tetap tinggi. Akibatnya, persentase ruang hijau publik pun menurun dari 49,35 persen (2021–2022) menjadi 45,94 persen pada 2023–2024.

    5. Semarang
    Ibu kota Provinsi Jawa Tengah ini awalnya berhasil memperluas ruang hijau sekitar 1.747 hektare antara 2019–2022 lewat berbagai program penghijauan dan rehabilitasi mangrove.

    Alhasil, ruang hijau publik Semarang sempat naik dari 44,51 persen pada 2019-2020 ke 49,37 persen pada 2021–2022.

    Namun, pada 2023–2024, ruang hijau justru kembali menyusut ke 45,95 persen. Kami menemukan, belakangan semakin banyak ruang hijau dikonversi menjadi lahan pembangunan.

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis: Agustiyara (Ph.D. Student of Environmental Science, Eötvös Loránd University)