Tag: kota

  • Cuaca Hari Ini: Sebagian Besar Kota di Indonesia Berawan, tetapi Jakarta Berpotensi Hujan

    Cuaca Hari Ini: Sebagian Besar Kota di Indonesia Berawan, tetapi Jakarta Berpotensi Hujan

    7cloud.asia – Sebagian besar kota di Indonesia diprediksi berawan dan cerah pada Senin (02/06/2025). Namun, masih ada potensi hujan di sejumlah kota, salah satunya Jakarta.

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam laman resminya menyebut hujan dengan intensitas ringan berpeluang terjadi di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Timur dan Jakarta Selatan pada siang hingga sore hari.

    Tak hanya wilayah Jakarta, kota-kota lain yang berpotensi hujan dengan intensitas ringan adalah Kota Pangkal Pinang, Semarang, Denpasar, Kupang, Palangkaraya, Samarinda, Palu, Gorontalo, Jayapura, Jayawijaya, Merauke dan Sorong.

    Kemudian hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Medan, Manado, Kendari Mamuju, Makassar, Ambon dan Nabire. Sementara hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Tanjung Selor dan Ternate.

    BMKG mengingatkan masyarakat agar mewaspadai adanya potensi cuaca ekstrem di sebagian kecil wilayah Sumatera, sebagian wilayah Jawa, sebagian kecil wilayah Kalimantan, sebagian Sulawesi, Maluku, Maluku Utara dan Papua.

    BMKG juga mengajak masyarakat waspada terhadap potensi banjir rob yang berpotensi melanda sejumlah wilayah pesisir seperti pesisir Kepulauan Bangka Belitung, pesisir Jawa Tengah dan pesisir Kalimantan Tengah.

     

  • Cuaca Hari Ini: Bandung dan Beberapa Kota Lainnya Berpotensi Hujan Disertai Petir

    Cuaca Hari Ini: Bandung dan Beberapa Kota Lainnya Berpotensi Hujan Disertai Petir

    7cloud.asia – Hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Bandung dan beberapa kota lainnya di Indonesia pada Rabu (04/06/2025).

    Melalui kanal youtube resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), selain Kota Bandung, hujan disertai petir juga berpeluang melanda Kota Pekanbaru, Pangkal Pinang, Palangkaraya dan Nabire.

    Sementara hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Medan, Tanjung Pinang, Jayawijaya dan Merauke.

    Kemudian hujan berintensitas ringan berpotensi terjadi di Kota Bengkulu, Palembang, Bandar Lampung, Semarang, Yogyakarta, Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, Tanjung Selor, Makassar, Palu, Manado, Ternate, Ambon, Sorong dan Jayapura.

    Untuk wilayah Jakarta, pagi hingga sore hari seluruh wilayah diprediksi cerah hingga berawan tebal. Potensi hujan berintensitas ringan terjadi pada malam hari di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.  

    BMKG mengingatkan masyarakat agar mewaspadai adanya potensi cuaca ekstrem di sebagian wilayah Sumatera, sebagian wilayah Jawa, Nusa Tenggara Timur, sebagian kecil wilayah Kalimantan, sebagian Sulawesi, Maluku dan Papua.

    BMKG juga mengajak masyarakat waspada terhadap potensi banjir rob yang berpotensi melanda sejumlah wilayah pesisir seperti pesisir Jawa Tengah dan pesisir Kalimantan Tengah.

     

  • Cuaca Hari Ini: Jakarta dan Sejumlah Kota Berpotensi Hujan

    Cuaca Hari Ini: Jakarta dan Sejumlah Kota Berpotensi Hujan

    7cloud.asia – Hujan dengan intensitas ringan hingga hujan disertai petir berpotensi mengguyur wilayah Jakarta dan sejumlah kota lainnya di Indonesia pada Kamis (05/06/2025).

    Dalam laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di Kepulauan Seribu pada pagi hari.

    Siang hingga sore, hujan berintensitas ringan diprediksi akan terjadi di wilayah Jakarta Selatan, Jakarta Timur dan Jakarta Barat. Sedangkan malamnya seluruh wilayah Jakarta diprediksi berawan tebal.

    Hujan dengan intensitas ringan berpotensi pula terjadi di sejumlah kota lainnya di Indonesia. Seperti di Kota Banda Aceh, Padang, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Bengkulu, Jambi, Palembang, Serang, Bandung, Semarang, Ternate, Ambon, Sorong, Nabire, Jayapura dan Jayawijaya.

    Kemudian hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Medan, Tanjung Selor dan Merauke.  Sedangkan hujan disertai petir Kota Pangkal Pinang, Pontianak, Palangkaraya dan Samarinda.

    BMKG mengingatkan masyarakat agar mewaspadai adanya potensi cuaca ekstrem di sebagian wilayah Sumatera, sebagian kecil wilayah Jawa, sebagian kecil wilayah Kalimantan, sebagian Sulawesi, Maluku Utara dan Papua.

     

     

  • Cuaca di Hari Raya Idul Adha, Sebagian Besar Kota Cerah dan Berawan Meski Ada Potensi Hujan Disertai Petir

    Cuaca di Hari Raya Idul Adha, Sebagian Besar Kota Cerah dan Berawan Meski Ada Potensi Hujan Disertai Petir

    7cloud.asia – Kondisi cuaca di sebagian besar kota pada Idul Adha yang berlangsung Jumat (06/06/2025) cerah dan berawan. Tetapi masih ada potensi hujan disertai petir di beberapa kota.

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui kanal youtube resminya menyebut hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Tanjung Pinang, Jambi, Bandung dan Tanjung Selor.

    Sedangkan hujan dengan intensitas ringan diprediksi terjadi di Kota Medan, Pekanbaru, Bengkulu, Pangkal Pinang, Bandar Lampung, Semarang, Yogyakarta, Pontianak, Mamuju, Gorontalo, Kendari.

    Selain itu Kota Ambon, Sorong, Manokwari, Nabire, Jayapura, Jayawijaya dan Merauke juga berpotensi hujan dengan intensitas ringan. Kemudian hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Serang.

    Untuk wilayah Jakarta, pada pagi hari seluruh wilayah diprediksi berawan tebal. Potensi hujan berintensitas ringan terjadi pada siang dan sore hari di wilayah Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Utara. Wilayah lainnya diprediksi cerah berawan.

    Selanjutnya pada malam hari, potensi hujan berintensitas ringan terjadi di wilayah Kepulauan Seribu. Sedangkan wilayah lainnya diprediksi cerah dan berawan.   

    BMKG mengingatkan masyarakat agar mewaspadai adanya potensi cuaca ekstrem di sebagian besar wilayah Sumatera, sebagian kecil wilayah Jawa, Nusa Tenggara Barat, sebagian kecil wilayah Kalimantan, sebagian Sulawesi, Maluku dan Papua.

     

     

  • Cuaca Hari Ini: Siang dan Malam Sejumlah Wilayah di Jakarta Berpotensi Hujan

    Cuaca Hari Ini: Siang dan Malam Sejumlah Wilayah di Jakarta Berpotensi Hujan

    7cloud.asia – Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpotensi mengguyur sejumlah wilayah di Kota Jakarta pada Sabtu (07/06/2025).

    Dalam laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan berintensitas ringan berpotensi terjadi pada siang dan sore hari di wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Timur dan Jakarta Barat.

    Di waktu yang sama, wilayah Jakarta Selatan berpotensi hujan berintensitas sedang. Sementara wilayah lainnya diprediksi berawan.

    Malamnya, hujan dengan intensitas ringan mengguyur seluruh wilayah Jakarta. Sedangkan pagi hari seluruh wilayah Jakarta diprediksi berawan tebal.

    Baca: Cuaca panas kemudian hujan lebat, mengapa?

    Hujan dengan intensitas ringan juga terjadi di sejumlah kota di Indonesia. Seperti Kota Medan, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Pangkal Pinang, Bandar Lampung, Serang, Bandung, Denpasar, Mataram.

    Selain itu hujan berintensitas ringan juga berpeluang terjadi di Kota Samarinda, Palangkaraya, Banjarmasin, Manado, Kendari, Makassar, Nabire, Ambon dan Ternate.   

    Kemudian hujan dengan intensitas sedang berpeluang mengguyur Kota Mamuju dan Sorong. Sementara hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Jambi, Bengkulu, Palembang, Semarang, Tanjung Selor, Pontianak dan Merauke.

    BMKG mengingatkan masyarakat agar mewaspadai adanya potensi cuaca ekstrem di sebagian kecil wilayah Sumatera, sebagian wilayah Jawa, sebagian kecil wilayah Kalimantan, sebagian besar wilayah Sulawesi, Maluku dan sebagian besar wilayah Papua.

     

  • Kota-kota di Dunia Kehilangan Waktu Ratusan Jam Setahun Akibat Kemacetan, Bagaimana dengan Jakarta?

    Kota-kota di Dunia Kehilangan Waktu Ratusan Jam Setahun Akibat Kemacetan, Bagaimana dengan Jakarta?

    7cloud.asia – Pada Januari lalu, TomTom Traffic Index merilis laporan tahunannya yang menganalisa pergerakan atau kondisi lalu lintas di 500 kota yang tersebar di 62 negara di 6 benua.

    Laporan ini mengungkap tren lalu lintas global pada tahun 2024. Disebutkan, pada tahun 2024, 379 kota dari 500 (76 persen) mengalami penurunan kecepatan rata-rata keseluruhan dibandingkan dengan tahun 2023.

    Meskipun terjadi penurunan, kecepatan rata-rata dalam kondisi optimal, yang dicirikan oleh lalu lintas yang lancar, tetap stabil dan bahkan menunjukkan sedikit peningkatan di sebagian besar kota di dunia.

    Hal ini menunjukkan bahwa penurunan kecepatan rata-rata yang diamati terutama disebabkan oleh faktor dinamis yang memengaruhi tingkat kemacetan daripada perubahan infrastruktur jalan.

    Kota Paling Lambat
    Pada tahun 2024, Barranquilla di Kolombia adalah kota dengan kecepatan rata-rata terendah.

    Kecepatan rata-rata sepanjang tahun 2024 adalah 10,3 meter per jam yang berarti dibutuhkan waktu hampir 35 menit rata-rata untuk menyelesaikan perjalanan sederhana sejauh 6 mil.

    Tiga kota di India masuk dalam 5 daftar teratas kota paling lambat. London, kota Eropa pertama dalam peringkat tersebut, berada di posisi ke-5, dengan kecepatan rata-rata 11,2 mph di kota tersebut.

    Namun ibu kota Inggris tersebut hanya berada di peringkat ke-150 dalam peringkat kemacetan, yang hanya mengukur faktor dinamis kecepatan lambat.

    Kota paling padat pada tahun 2024
    Tingkat kemacetan hanya memperhitungkan faktor dinamis yang menurunkan kecepatan rata-rata di sebuah kota.

    Dengan tingkat kemacetan sebesar 52 persen, Kota Meksiko adalah kota yang lalu lintasnya memiliki dampak terbesar pada penurunan waktu tempuh dibandingkan dengan kondisi lalu lintas ideal.

    Artinya, pada semua rute yang disurvei sepanjang tahun di seluruh jaringan jalan, waktu tempuh 52 persen lebih lama daripada yang tercatat di Mexico City saat lalu lintas lancar.

    Lantas bagaimana dengan kondisi Jakarta? Dalam laporan TomTom tahun 2024, Jakarta menempati peringkat 90 kota paling lambat di dunia. Ini artinya terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya yang berada di peringkat 25.

    Dipantau dari tomtom.com, tingkat kemacetan di Jakarta mencpai 43 peren dengan rata-rata waktu tempuh Jakarta adalah 25 menit 31 detik untuk setiap 10 kilometernya atau lebih cepat 10 detik dibanding tahun lalu.

    Dalam laporan itu, disebutkan dengan catatan ini maka warga Jakarta kehilangan 108 jam setahun akibat kemacetan pada saat jam-jam sibuk.

    Metodologi
    Indeks Lalu Lintas TomTom menggunakan metrik terpadu untuk memberi peringkat kota-kota ini berdasarkan waktu tempuh rata-rata serta tingkat kemacetan.

    Indeks ini memberikan informasi kota per kota yang dapat membantu perencana kota dan pembuat kebijakan mengatasi tantangan terkait lalu lintas dan membuat keputusan yang tepat untuk masa depan yang lebih baik.

    Perbedaan waktu tempuh (atau kecepatan rata-rata) di kota-kota di dunia merupakan hasi kombinasi faktor statis dan dinamis yang secara signifikan memengaruhi arus lalu lintas dan kondisi berkendara secara keseluruhan.

    Faktor statis adalah aspek tetap dari infrastruktur dan perencanaan kota yang memengaruhi waktu tempuh.

    Hal ini antara lain meliputi desain jaringan jalan, termasuk jalan raya, jalan arteri, dan jalan perumahan, memengaruhi arus lalu lintas. Jalan sempit, sistem satu arah, dan persimpangan yang rumit dapat memperlambat pergerakan, sementara jalan yang lebih lebar dan memiliki banyak jalur mendukung arus yang lebih lancar.

    Batas kecepatan, yang sering ditetapkan demi keselamatan, dan area dengan kepadatan tinggi dengan banyak pemberhentian atau zona pejalan kaki juga memengaruhi kecepatan berkendara.

    Sinkronisasi lampu lalu lintas, bundaran, dan rambu berhenti semakin membentuk efisiensi navigasi.

    Faktor dinamis melengkapi faktor statis ini, yaitu kondisi yang terus berkembang yang memengaruhi arus lalu lintas setiap hari. Kemacetan lalu lintas selama jam sibuk atau lonjakan lalu lintas musiman menyebabkan kepadatan kendaraan yang lebih tinggi, yang menyebabkan penundaan.

    Hambatan yang tidak terduga, seperti kecelakaan mobil, proyek konstruksi, dan penutupan jalan dapat menciptakan kemacetan, mengganggu pola lalu lintas normal, dan menyebabkan lalu lintas dialihkan.

    Selain itu, hujan, salju, atau kabut dapat mengurangi jarak pandang dan traksi, yang memaksa pengemudi untuk menyesuaikan gaya mengemudi mereka.

    Tingkat kemacetan tertinggi sering kali terjadi pada hari-hari ketika kondisi cuaca sangat buruk.

  • Masyarakat Sipil Sambangi Balai Kota, Berikan Penilaian Kinerja 100 Hari Pramono Anung dan Rano Karno

    Masyarakat Sipil Sambangi Balai Kota, Berikan Penilaian Kinerja 100 Hari Pramono Anung dan Rano Karno

    7cloud.asia – Jakarta di bawah kepemimpinan Pramono Anung dan Rano Karno dinilai belum menunjukkan arah baru dalam tata kelola kota.

    Demikian catatan kritis dari sejumlah organisasi masyarakat terhadap 100 hari kepemimpinan Pramono Anung dan Rano Karno. Diakui, 100 hari memang belum cukup untuk menyelesaikan semua persoalan, tetapi sudah cukup untuk menunjukkan arah dan keberpihakan.

    Sayangnya, arah yang ditunjukkan Pram-Doel belum sejalan dengan visi kota yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada warganya.

    Dalam pernyataan tertulisnya, Greenpeace Indonesia, Urban Poor Consortium dan LBH Jakarta melihat pemerintahan Pramono Anung dan Rano Karno masih terjebak pada solusi instan yang justru memperparah masalah jangka panjang.

    Setidaknya ada delapan isu yang dinilai dalam rapor kinerja 100 hari diantaranya adalah pengelolaan sampah, pengangguran, pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil, pelayanan publik yang lambat, penataan kampung kota, penggusuran, serta penyelesaian hunian Kampung Bayam di Jakarta Utara.

    Baca: Catatan kritis 100 hari kepemimpinan Pramono Anung dan Rano Karno

    Warga hanya disuguhi solusi-solusi palsu. Isu pengelolaan sampah, misalnya, diselesaikan lewat refuse derived fuel (RDF) yang mahal dan mengganggu kesehatan warga.

    Bursa kerja alias job fair di 44 kecamatan pun tak dibarengi dengan pelatihan terarah yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan, serta janji manis giant mangrove wall yang bahkan tak masuk ke dalam program quick wins.

    Pramono Anung dan Rano Karno dinilai masih terjebak pola lama yang tidak melibatkan partisipasi warga dalam pembangunan kota.

    Birokrasi yang buruk membuat warga kesulitan menyampaikan aspirasinya dalam menciptakan kota yang inklusif, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan warganya.

    “Kami menilai birokrasi Jakarta masih buruk dan pilih kasih. Hal ini sangat merugikan warga dan juga bertentangan dengan UU Pelayanan Publik. Pemprov Jakarta harus bisa memastikan birokrasi yang lebih terstruktur dan adil bagi semua warganya,” kata Alif Fauzi Nurwidiastomo, Kepala Bidang Advokasi LBH Jakarta.

    Baca: Program “Quick Wins” Pramono Anung dan Rano Karno di Jakarta

    Ia menambahkan, hingga saat ini Pemprov Jakarta masih belum mengesahkan rancangan peraturan daerah bantuan hukum untuk warga Jakarta.

    Padahal, peraturan daerah ini penting untuk menjamin akses warga terhadap bantuan hukum yang adil, terlepas dari kemampuan ekonomi mereka.

    Perwakilan warga kampung kota yang tergabung dalam JRMK dan UPC juga menyayangkan langkah Pram-Doel dalam menangani penataan kampung kota.

    Reforma agraria perkotaan untuk menata wilayah kampung kota Jakarta pun masih mandek. Padahal, reforma agraria di wilayah kota penting untuk menciptakan kampung kota yang adil dan sesuai dengan kebutuhan warganya.

    Baca: Pramono Anung ingin wujudkan Giant Mangrove Wall untuk atasi abrasi

    “Kami pun membawa rekomendasi untuk Mas Pram dan Bang Doel yang menunjukkan upaya kami bergerak bersama Pemprov Jakarta untuk membangun kota global yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Jeanny Sirait dari Greenpeace.

    Jakarta membutuhkan kepemimpinan yang sungguh-sungguh mendengar suara warga, konsisten berpihak pada lingkungan, dan berani mengambil langkah inovatif demi masa depan yang berkelanjutan.

    Pemprov DKI Jakarta perlu mendorong partisipasi aktif warga dalam pengambilan keputusan, terutama terkait tujuan pembangunan dan pengelolaan lingkungan.

    Jakarta juga harus berani berubah: melindungi warganya, mendengar suara mereka, dan fokus pada keberlanjutan untuk kota yang adil dan layak huni.

  • Cara Pemerintah Kota Tokyo Atasi Penurunan Muka Tanah Jadi Acuan Dunia

    Cara Pemerintah Kota Tokyo Atasi Penurunan Muka Tanah Jadi Acuan Dunia

    7cloud.asia – Tokyo merupakan salah satu kota besar di dunia yang terancam tenggelam akibat penurunan muka tanah. Namun otoritas setempat mengambil langkah cepat untuk mengatasinya.

    Ketika menyadari wilayahnya mengalami penurunan muka tanah,  pemerintah Kota Tokyo segera menelaah beragam solusi dan memutuskan untuk menyelesaikan akar masalah.

    Pemerintah Kota Tokyo lalu mengetatkan aturan pemompaan air tanah yang menyebabkan laju penurunan muka tanah menurun secara signifikan pada 1970-an.

    Dilansir BBC, Mereka juga membangun sistem pengelolaan air, sebuah cara yang paling efisien menghentikan laju penurunan permukaan tanah, menurut banyak peneliti.

    Kajian Universitas Tekonologi Nanyang (NTU) menunjukkan, permukaan tanah Tokyo kini jauh lebih stabil dibanding beberapa dekade lalu.

    Meski, di beberapa titik, ada area yang tenggelam dengan rata-rata dari 0,01 cm hingga 2,4 centimeter per tahun sejak 2014 sampai 2020. Titik-titik yang tenggelam adalah lahan reklamasi.

    Baca: Penurunan muka tanah dan perubahan iklim perburuk banjir rob di Jakarta

    Bagaimana cara kerja sistem pengelolaan air di Tokyo? Mayoritas pasokan air berasal dari hutan dan sungai yang diolah melalui dua bendungan besar di sekitar Kota Tokyo.

    Air dimurnikan di 10 tempat penyulingan dan dikirim ke pusat penyediaan air. Selanjutna, pusat penyedia air mengatur volume dan tekanan air.

    Kemudian, air didistribusikan ke rumah-rumah dan gedung-gedung melalui pipa tahan gempa.

    Terlepas dari efektifnya sistem pengelolaan air Tokyo, ada keraguan sistem ini dapat diterapkan di kota-kota pesisir negara lain. Pasalnya, butuh biaya tinggi untuk pembangunan dan perawatan sistem tersebut, menurut Prof Miguel Esteban dari Universitas Waseda di Tokyo,

    Meski demikian, dia menambahkan, sejumlah kota di Asia merujuk pendekatan Tokyo sebagai model yang bisa diadopsi.

    Ibu kota Taiwan, Taipei, misalnya berhasil mengurangi ekstraksi air tanah pada 1970-an yang menyebabkan berkurangnya laju penurunan muka tanah.

    Baca: Perubahan iklim akibatkan permukaan laut naik 1,2 centimeter per tahun

    Banyak kota lainnya, seperti Houston (AS), Bangkok (Thailand), dan London (Inggris) juga secara ketat mengatur pemompaan air tanah untuk memastikan ekstraksi tidak berlebihan.

    Sejumlah kota lain mengupayakan beragam metode untuk menyelesaikan masalah ini. Shanghai (China), misalnya, berhasil menginjeksi air dari Sungai Yantze yang telah dimurnikan.

    Air sungai tersebut disuntikkan ke dalam tanah melalui sumur-sumur yang digunakan untuk mengambil air tanah sebelumnya.

    Kota lainnya, seperti Chongqing di China dan San Salvador di El Salvador mengimplementasikan kebijakan “kota spons” atau sponge cities.

    Alih-alih menggunakan material beton yang tidak bisa menyerap air, di sepanjang ruas jalan dan area terbuka, mereka menggantinya dengan tanah, rumput atau pepohonan.

    Pembangunan taman, lahan basah, dan area terbuka hijau pun diprioritaskan. Begitu pula dengan danau dan kolam-kolam yang dapat digunakan untuk menampung air hujan.

    Baca: Manfaat bangunan hijau untuk lingkungan dan kota

    Kawasan perumahan di Berlin didesain dengan area terbuka hijau yang dapat menyimpan dan menyerap kelebihan air.

    Metode ini dipercaya bisa “lebih berhasil dan tahan lama, serta biayanya hanya satu per sepuluh dari membangun bendungan-bendungan besar”, kata Prof Manoochehr Shirzaei dari Universitas Virginia Tech di Amerika Serikat.

    Meski, sejumlah pendapat mengkritik bahwa solusi ini tak akan berpengaruh banyak untuk mengurangi laju penurunan muka tanah apabila tidak diterapkan dalam lingkup yang besar.

    Dan, apa pun metodenya, perlu juga komitmen politik jangka panjang dari para pemimpin, ujar Prof Shirzaei.

    “Penurunan muka tanah akan terus muncul secara bertahap dalam jangka waktu yang lama, sehingga untuk menyelesaikannya, kita harus mengambil langkah yang sulit dan menerapkannya selama beberapa dekade,” katanya.

    Termasuk, katanya, pembatasan pompa air tanah yang mungkin tidak populer di kalangan masyarakat yang sudah sepenuhnya bergantung pada air sumur.

    Baca: Perubahan iklim bebani penduduk miskin di pesisir Jakarta

  • Pemanfaatan Air Tanah Secara Berlebihan Percepat Penurunan Muka Tanah di Jakarta

    Pemanfaatan Air Tanah Secara Berlebihan Percepat Penurunan Muka Tanah di Jakarta

    7cloud.asia – Tim peneliti Universitas Teknologi Nanyang (NTU) di Singapura. mengkaji penurunan muka tanah di 48 kota pesisir di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika.

    “Penurunan muka tanah adalah masalah yang umum ditemukan di banyak kota. Salah satu penyebab utamanya adalah ekstraksi air tanah,” jelas peneliti utama studi NTU, Profesor Cheryl Tay.

    Air tanah bisa ditemukan di dalam lapisan Bumi, di sela-sela tanah, pasir, dan bebatuan. Lebih dari separuh rumah tangga di dunia menggunakan air tanah untuk kebutuhan domestik, seperti minum dan irigasi.

    Namun dengan tingginya tingkat urbanisasi, ketersediaan air tanah semakin tipis. Ini mendorong banyak rumah dan industri mengebor sumur sendiri untuk memompa air tanah sebanyak mungkin—seperti di Jakarta.

    Padahal, mengambil air tanah secara berlebihan dapat menyebabkan tanah menjadi padat dan amblas. Lama-kelamaan, bangunan dan infrastruktur yang ada di atasnya akan ikut turun atau ‘tenggelam’.

    “Kota-kota yang mengalami penurunan muka tanah banyak ditemukan di Asia atau Asia Tenggara,” kata Tay.

    Baca: Penurunan muka tanah dan perubahan iklim perburuk banjir rob di Jakarta

    “Karena kebutuhan air cukup tinggi, seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk yang tinggal di kota tersebut dan pertumbuhan lainnya.

    “Pertumbuhan populasi mengakibatkan tingginya kebutuhan air tanah dan ini akan menimbulkan dampak lainnya… Banjir akan lebih sering terjadi, lebih parah, dan lebih lama di masa depan,” Tay menambahkan.

    Intrusi air laut yang “dapat merusak tanah pertanian dan kualitas air minum”, adalah kemungkinan dampak lain.

    Beberapa jenis tanah lebih sensitif terhadap penurunan muka tanah. Tanah yang terbentuk dari endapan sedimen air sungai dan banyak ditemukan di wilayah pesisir, cenderung lebih rentan amblas.

    Kondisi seperti ini ditemukan antara lain di pesisir Jakarta, Bangkok, Ho Chi Minh, dan Shanghai.

    Kini, hampir separuh Kota Jakarta berada di bawah permukaan laut. Jakarta dibangun di atas rawa-rawa, yang dilewati 13 aliran sungai yang bermuara ke laut. Ini membuat Jakarta sangat rentan terhadap penurunan muka tanah.

    Baca: Praktik penyalahgunaan air tanah oleh pengelola rumah susun di Jakarta

    Kombinasi penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan air laut secara global mempercepat “kenaikan air laut yang terlokalisasi di wilayah-wilayah pesisir”, kata Tay.

    “Ada dua komponen: tanah yang turun dan air yang naik.”

    Banjir di Jakarta menyebabkan tenggelamnya kawasan perumahan dan perkantoran.
    Siklus banjir Jakarta yang biasanya lima tahun sekali bisa menjadi lebih sering.

    Hal ini karena “curah hujan ekstrem yang meningkat di Indonesia bersamaan dengan meningkatnya suhu permukaan dan konsentrasi gas rumah kaca”, mengutip pernyataan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam sesi webinar pada Hari Meteorologi Dunia.

    Dalam satu dekade terakhir, banjir di Jakarta telah memakan puluhan korban jiwa dan setidaknya 280.000 orang mengungsi sementara hingga air surut.

    Baca: Mayoritas air tanah di Jakarta sudah tercemar

    Ketika sebagian permukaan tanah Jakarta empat meter lebih rendah dibandingkan tahun 1970, pemerintah Indonesia memutuskan membangun ibu kota baru, Nusantara, di Kalimantan. 

    Jarak Ibu Kota Nusantara ini lebih dari 1.200 kilometer dari Jakarta. Letaknya jauh dari pesisir.

    Sumber air ibu kota baru ini akan berasal dari bendungan dan waduk yang dirancang untuk menampung air sungai atau hujan. Air akan dimurnikan dan didistribusikan untuk memasok kebutuhan rumah tangga dan perkantoran.

    Ini berarti, tak ada kebutuhan untuk membuat sumur pompa air tanah di Nusantara.

    Meski demikian, pembangunan ibu kota baru ini memantik kontroversi dan laju pembangunannya melambat. Beberapa mengkritik bengkaknya biaya yang dibutuhkan—lebih dari Rp500 miliar.

    Belum lagi dampak lingkungan serta hilangnya keanekaragaman hayati di kawasan tersebut.

    Baca: Cara pemerintah kota Tokyo tangani penurunan muka tanah

  • Cuaca Hari Ini: Mayoritas Kota Cerah Berawan, tetapi Beberapa Kota Berpotensi Hujan

    Cuaca Hari Ini: Mayoritas Kota Cerah Berawan, tetapi Beberapa Kota Berpotensi Hujan

    7cloud.asia – Memasuki musim kemarau, mayoritas kota di Indonesia diprediksi cerah berawan. Namun masih ada beberapa kota yang berpotensi hujan pada Kamis (12/06/2025).

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui akun youtube resminya memprediksi hujan dengan intensitas ringan akan terjadi di Kota Tanjung Pinang, Bengkulu, Bandar Lampung, Kupang.

    Kondisi cuaca yang sama juga berpotensi terjadi di Kota Palangkaraya, Samarinda, Gorontalo, Palu, Ternate, Ambon, Sorong, Manokwari, Jayapura, Jayawijaya dan Merauke.

    Kemudian hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Manado, Mamuju dan Makassar. Sedangkan hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Tanjung Selor, Banjarmasin, Kendari dan Nabire.

    BMKG juga mengajak masyarakat waspada terhadap potensi banjir rob yang berpotensi melanda sejumlah wilayah pesisir seperti pesisir Sumatera Utara, pesisir Kepulauan Riau, pesisir Sumatera Barat, pesisir Kepulauan Bangka Belitung.

    Selain itu, banjir rob juga berpotensi melanda pesisir Banten, pesisir Jakarta, pesisir Jawa Barat, pesisir Jawa Tengah, pesisir Yogyakarta, pesisir Jawa Timur, pesisir Bali, pesisir Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, pesisir Kalimantan Timur.

    Pesisir Kalimantan Selatan, pesisir Kalimantan Tengah, pesisir Kalimantan Barat, pesisir Sulawesi Utara dan pesisir Maluku berpotensi dilanda banjir rob.