7cloud.asia – Pada Januari lalu, TomTom Traffic Index merilis laporan tahunannya yang menganalisa pergerakan atau kondisi lalu lintas di 500 kota yang tersebar di 62 negara di 6 benua.
Laporan ini mengungkap tren lalu lintas global pada tahun 2024. Disebutkan, pada tahun 2024, 379 kota dari 500 (76 persen) mengalami penurunan kecepatan rata-rata keseluruhan dibandingkan dengan tahun 2023.
Meskipun terjadi penurunan, kecepatan rata-rata dalam kondisi optimal, yang dicirikan oleh lalu lintas yang lancar, tetap stabil dan bahkan menunjukkan sedikit peningkatan di sebagian besar kota di dunia.
Hal ini menunjukkan bahwa penurunan kecepatan rata-rata yang diamati terutama disebabkan oleh faktor dinamis yang memengaruhi tingkat kemacetan daripada perubahan infrastruktur jalan.
Kota Paling Lambat
Pada tahun 2024, Barranquilla di Kolombia adalah kota dengan kecepatan rata-rata terendah.
Kecepatan rata-rata sepanjang tahun 2024 adalah 10,3 meter per jam yang berarti dibutuhkan waktu hampir 35 menit rata-rata untuk menyelesaikan perjalanan sederhana sejauh 6 mil.
Tiga kota di India masuk dalam 5 daftar teratas kota paling lambat. London, kota Eropa pertama dalam peringkat tersebut, berada di posisi ke-5, dengan kecepatan rata-rata 11,2 mph di kota tersebut.
Namun ibu kota Inggris tersebut hanya berada di peringkat ke-150 dalam peringkat kemacetan, yang hanya mengukur faktor dinamis kecepatan lambat.
Kota paling padat pada tahun 2024
Tingkat kemacetan hanya memperhitungkan faktor dinamis yang menurunkan kecepatan rata-rata di sebuah kota.
Dengan tingkat kemacetan sebesar 52 persen, Kota Meksiko adalah kota yang lalu lintasnya memiliki dampak terbesar pada penurunan waktu tempuh dibandingkan dengan kondisi lalu lintas ideal.
Artinya, pada semua rute yang disurvei sepanjang tahun di seluruh jaringan jalan, waktu tempuh 52 persen lebih lama daripada yang tercatat di Mexico City saat lalu lintas lancar.
Lantas bagaimana dengan kondisi Jakarta? Dalam laporan TomTom tahun 2024, Jakarta menempati peringkat 90 kota paling lambat di dunia. Ini artinya terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya yang berada di peringkat 25.
Dipantau dari tomtom.com, tingkat kemacetan di Jakarta mencpai 43 peren dengan rata-rata waktu tempuh Jakarta adalah 25 menit 31 detik untuk setiap 10 kilometernya atau lebih cepat 10 detik dibanding tahun lalu.
Dalam laporan itu, disebutkan dengan catatan ini maka warga Jakarta kehilangan 108 jam setahun akibat kemacetan pada saat jam-jam sibuk.
Metodologi
Indeks Lalu Lintas TomTom menggunakan metrik terpadu untuk memberi peringkat kota-kota ini berdasarkan waktu tempuh rata-rata serta tingkat kemacetan.
Indeks ini memberikan informasi kota per kota yang dapat membantu perencana kota dan pembuat kebijakan mengatasi tantangan terkait lalu lintas dan membuat keputusan yang tepat untuk masa depan yang lebih baik.
Perbedaan waktu tempuh (atau kecepatan rata-rata) di kota-kota di dunia merupakan hasi kombinasi faktor statis dan dinamis yang secara signifikan memengaruhi arus lalu lintas dan kondisi berkendara secara keseluruhan.
Faktor statis adalah aspek tetap dari infrastruktur dan perencanaan kota yang memengaruhi waktu tempuh.
Hal ini antara lain meliputi desain jaringan jalan, termasuk jalan raya, jalan arteri, dan jalan perumahan, memengaruhi arus lalu lintas. Jalan sempit, sistem satu arah, dan persimpangan yang rumit dapat memperlambat pergerakan, sementara jalan yang lebih lebar dan memiliki banyak jalur mendukung arus yang lebih lancar.
Batas kecepatan, yang sering ditetapkan demi keselamatan, dan area dengan kepadatan tinggi dengan banyak pemberhentian atau zona pejalan kaki juga memengaruhi kecepatan berkendara.
Sinkronisasi lampu lalu lintas, bundaran, dan rambu berhenti semakin membentuk efisiensi navigasi.
Faktor dinamis melengkapi faktor statis ini, yaitu kondisi yang terus berkembang yang memengaruhi arus lalu lintas setiap hari. Kemacetan lalu lintas selama jam sibuk atau lonjakan lalu lintas musiman menyebabkan kepadatan kendaraan yang lebih tinggi, yang menyebabkan penundaan.
Hambatan yang tidak terduga, seperti kecelakaan mobil, proyek konstruksi, dan penutupan jalan dapat menciptakan kemacetan, mengganggu pola lalu lintas normal, dan menyebabkan lalu lintas dialihkan.
Selain itu, hujan, salju, atau kabut dapat mengurangi jarak pandang dan traksi, yang memaksa pengemudi untuk menyesuaikan gaya mengemudi mereka.
Tingkat kemacetan tertinggi sering kali terjadi pada hari-hari ketika kondisi cuaca sangat buruk.

Leave a Reply