Tag: kota

  • Cuaca Hari Ini: Musim Kemarau, Waspada Suhu Hingga 35 Derajat Celsius di Kota Ini

    Cuaca Hari Ini: Musim Kemarau, Waspada Suhu Hingga 35 Derajat Celsius di Kota Ini

    7cloud.asia – Musim kemarau tengah melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Suhu udara yang tinggi diprediksi melanda beberapa kota pada Senin (21/07/2025). Bahkan suhu udara mencapai 35 derajat celsius.

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi suhu udara yang tinggi terjadi di Kota Medan hingga mencapai 35 derajat celsius. Suhu udara yang tinggi juga diprediksi terjadi di Kota Pekanbaru yang mencapai  34 derajat celsius.

    Sebagian besar kota memang diperkirakan cerah berawan dengan suhu udara berkisar antara 27 hingga 35 derajat celsius.

    Namun masih ada potensi hujan dengan intensitas ringan di Kota Tanjung Pinang, Ambon, Sorong, Manokwari, Nabire, Jayawijaya dan Merauke. Sedangkan hujan disertai petir Kota Tanjung Selor.

    BMKG mengimbau masyarakat mewaspadai potensi angin kencang di wilayah Aceh, Banten, Jawa Barat dan Kepulauan Riau.

    BMKG juga mengajak masyarakat waspada terhadap potensi banjir rob yang berpotensi melanda sejumlah wilayah pesisir seperti pesisir Kepulauan Riau, pesisir Sumatera Barat.

    Selain itu, banjir rob juga berpotensi melanda pesisir Banten, pesisir Jakarta, pesisir Jawa Barat, pesisir Jawa Tengah, pesisir Yogyakarta, pesisir, Nusa Tenggara Timur dan pesisir Maluku.

     

     

     

     

  • Cara Kota Yogyakarta Menangani Kondisi Darurat Sampah

    Cara Kota Yogyakarta Menangani Kondisi Darurat Sampah

    7cloud.asia – Masalah darurat sampah yang dialami Kota Yogyakarta beberapa waktu terakhir secara bertahap mulai teratasi.

    Hal ini tak lepas dari keberadaan beberapa Unit Pengolahan Sampah yang dikelola Pemkot Yogyakarta yaitu Nitikan, Kranon, Karangmiri, Sitimulyo, Giwangan dan Tompeyan.

    Salah satu andalan Kota Yogyakarta adalah TPS3R Nitikan yang merupakan unit pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang telah beroperasi sejak tahun 2022.

    Dilansir yogyakarta.goid, setiap harinya, TPS3R Nitikan mampu menangani hingga 75 ton sampah dari wilayah di sekitarnya.

    Saat memimpin rapat koordinasi penanganan sampah secara rutin pada April lalu, Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo optimis, pihaknya dapat mengelola sampah real time karena potensi pengolahan sampah sudah lebih dari potensi sampah mingguan.

    Dalam rapat itu dipaparkan potensi sampah mingguan di kota Yogyakarta sekitar 1.423 ton. Sedangkan potensi pengolahan sampah mingguan per 15 April 2025 mencapai 1.650 ton/minggu.

    Baca: Peta jalan pengelolaan sampah di Kota Yogyakarta

    Pengolahan sampah dengan metode mesin gibrig menjadi refuse derived fuel (RDF) dan termal atau insinerator. Selain itu Pemkot Yogyakarta juga bekerja sama dengan sejumlah mitra pengelola.

    Meskipun secara matematis, pengolahan sampah real time dapat dilakukan, Hasto berpesan untuk tetap mengawal dan mencermati pelaksanaan di lapangan.

    Hal itu untuk memastikan rantai pengangkutan dan pengolahan sampah lancar. Jika kurang, truknya ditambah dan waktu pengangkutan dari depo juga harus diperhatikan agar tidak terlambat.

    “Secara matematis bisa. Cuma saya pesan supaya dikawal betul. Meskipun bisa harus memberikan layanan yang nyaman. Contohnya seperti truk tidak terlambat, sehingga warga merasa tidak terganggu,” tegas Hasto

    Sementara, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Agus Tri Haryono menyebut kondisi 14 depo dalam posisi kosong dari tumpukan sampah. Sedangkan 31 TPS semua sudah ditutup dan 17 TPS di antaranya sudah dibongkar.

    Diakuinya masih ada TPS yang sebelumnya sudah dikosongkan tapi muncul sampah baru yaitu di TPS Sisingamaraja. Untuk mengatasi itu dilayani kontainer khusus dari personel depo sampah di THR Jalan Brigjen Katamso.

    Baca: Pemprov DIY tutup TPA Piyungan per April 2024

    Adapun jumlah transporter atau penggerobak sampah yang mengangkut sampah ke depo ada 1.130 orang, dengan peta assessment dari 45 lurah menyatakan jumlah penggerobak cukup melayani warga dan gerobak tersedia.

    Untuk jumlah kelurahan yang berstatus hijau ada 25 kelurahan dan berwarna kuning 20 kelurahan.

    Status hijau berarti kelurahan dalam pengelolaan sampah tidak ada masalah atau sudah baik. Untuk kelurahan berwarna kuning berarti masih ada persoalan seperti pembuangan sampah di luar depo.

    Anggota Komisi XII DPR, Meitri Citra Wardani, saat mengunjungi RDF Nitikan menegaskan pentingnya memaksimalkan inovasi pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif.

    “Unit ini menjadi bagian dari upaya strategis pemerintah daerah bersama masyarakat dalam mengelola sampah secara lebih efisien dan ramah lingkungan,” ujar Meitri dikutip Parlementaria usai mengikuti kunjungan kerja spesifik Komisi XII DPR ke DIY, Sabtu (19/7/2025).

    Ia mengapresiasi kehadiran fasilitas RDF di TPS3R Nitikan yang dinilai sebagai terobosan penting untuk mengatasi sampah-sampah yang sulit didaur ulang, seperti plastik dan kertas.

    “Inovasi RDF di TPS3R Nitikan merupakan hal yang potensial dalam pengolahan sampah di masyarakat. Terutama sampah yang sulit didaur ulang seperti plastik, hasilnya bahkan bisa menjadi alternatif bahan bakar,” jelasnya.

    Baca: Pengelolaan sampah berbayar jadi opsi penanganan darurat sampah di Kota Yogyakarta 

  • Cuaca Hari Ini: Denpasar dan Sejumlah Kota Berpotensi Hujan

    Cuaca Hari Ini: Denpasar dan Sejumlah Kota Berpotensi Hujan

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi mayoritas kota di Indonesia cerah berawan pada Rabu (23/07/2025). Namun, masih ada potensi hujan di sejumlah kota, salah satunya Denpasar.

    Melalui kanal youtube resmi BMKG, hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di Kota Tanjung Pinang, Denpasar, Tanjung Selor, Palangkaraya, Banjarmasin, Mamuju, Ternate, Ambon, Nabire, Jayapura dan Jayawijaya.

    Kemudian hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Merauke. Sedangkan untuk wilayah Aceh, BMKG memprediksi angin kencang terjadi di wilayah ini.

    BMKG juga mengajak masyarakat waspada terhadap potensi banjir rob yang berpotensi melanda sejumlah wilayah pesisir seperti pesisir Sumatera Utara, pesisir Kepulauan Riau hingga Kepulauan Bangka Belitung.

    Selain itu, banjir rob juga berpotensi melanda sebagian besar pesisir di Pulau Jawa, pesisir Kalimantan Selatan, pesisir Kalimantan Tengah, pesisir Kalimantan Barat, pesisir Maluku dan pesisir Papua Selatan.

     

  • Cuaca Hari Ini: Sejumlah Kota Berpotensi Hujan, Termasuk Yogyakarta

    Cuaca Hari Ini: Sejumlah Kota Berpotensi Hujan, Termasuk Yogyakarta

    7cloud.asia – Meski musim kemarau, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi di sejumlah kota pada Kamis (24/07/2025). Salah satunya Kota Yogyakarta.

    Melalui akun youtube resminya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan berintensitas ringan berpeluang terjadi di Kota Padang, Tanjung Pinang, Pangkal Pinang, Semarang, Yogyakarta.

    Kondisi cuaca seperti ini berpotensi pula terjadi di Kota Palangkaraya, Banjarmasin, Tanjung Selor, Ambon, Nabire, Jayapura, Jayawijaya dan Merauke. Sementara hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Bengkulu.

    BMKG mengajak masyarakat mewaspadai potensi angin kencang di wilayah Aceh, Banten, Kepulauan Riau dan Sulawesi Utara.

    Selain itu, masyarakat juga perlu mewaspadai potensi banjir rob di pesisir Sumatera Utara, pesisir Kepulauan Riau, pesisir Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar pesisir di Pulau Jawa.

    Selain itu, banjir rob juga berpotensi melanda, pesisir Nusa Tenggara Barat, pesisir Nusa Tenggara Timur, pesisir Kalimantan Selatan, pesisir Kalimantan Tengah, pesisir Kalimantan Barat, pesisir Maluku dan pesisir Papua Selatan.

     

     

     

  • Penerapan Prinsip Reduce-Reuse-Recycle dalam Konservasi Air: Contoh Kasus di Bangalore, India

    Penerapan Prinsip Reduce-Reuse-Recycle dalam Konservasi Air: Contoh Kasus di Bangalore, India

    7cloud.asia – Beberapa dekade terakhir, dunia makin menyadari bahwa air merupakan sumber daya yang terbatas yang bisa berdampak buruk jika tidak dikelola dengan baik.

    Karena itu, berbagai upaya konservasi air telah dilaksanakan oleh berbagai lembaga pemerintah dan swasta, dengan tingkat keberhasilan yang bervariasi.

    Salah satu upaya konservasi air dilakukan di Bangalore, kota terbesar ketiga di India dengan populasi lebih dari 14 juta jiwa yang seringkali bergulat dengan krisis air yang parah.

    Vishwanath Srikantaiah, seorang pakar konservasi air dan perencana kota, berada di garda terdepan dalam upaya konservasi air di kota tersebut. Dia memberikan saran dan bekerja sama dengan berbagai komunitas untuk membantu menjadikan Bangalore lebih tangguh dalam urusan tata kelola air.

    Dalam sebuah wawancara dengan Earth.Org, Srikantaiah membahas berbagai inisiatif yang telah dilaksanakan untuk meningkatkan ketahanan air kota.

    Menariknya, banyak dari inisiatif ini dapat dipetakan, baik sengaja atau tidak, ke prinsip-prinsip ekonomi sirkular. Simak penjelasannya berikut ini.

    Baca: Upaya menerapkan sirkularitas dalam pengelolaan air

    Kurangi
    Selama kekurangan air baru-baru ini, kota Bangalore mewajibkan penggunaan keran aerator di seluruh kota.

    “Sebagai bagian dari manajemen permintaan, Bengaluru telah mewajibkan pemasangan perlengkapan hemat air pada keran di semua rumah dan bangunan komersial,” jelas Vishwanath.

    Aerator keran dapat mengurangi aliran air dari 12-18 liter per menit menjadi tiga hingga enam liter per menit – berpotensi menghemat lebih dari 50 persen air di wastafel dapur dan wastafel cuci tangan tanpa mengurangi fungsinya.

    Gunakan Kembali
    Di sebagian besar rumah tangga, air dibiarkan mengalir begitu saja setelah digunakan. Hal ini merupakan pemborosan besar-besaran terhadap sumber daya alam yang sudah langka.

    Sebaliknya, jika air bekas pakai ini diolah secara kimia, air tersebut dapat digunakan kembali oleh penghuni rumah untuk keperluan non-minum, sehingga mengurangi kebutuhan air secara keseluruhan.

    Di Bengalore, pengolahan air menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) diwajibkan di apartemen dengan lebih dari 150 unit.

    Baca: Perubahan iklim menuntut pengelolaan air segera dirombak

    Air limbah yang telah diolah merupakan peluang besar bagi kota mana pun. Air yang digunakan untuk mesin pencuci piring, mesin cuci, dan pancuran disebut sebagai air limbah.

    “Air tersebut dapat diolah di sumbernya di Instalasi Pengolahan Air Limbah di lingkungan apartemen. Air yang telah diolah ini kemudian tersedia untuk digunakan di rumah kita untuk keperluan non-minum,” jelas Vishwanath.

    Daur Ulang
    Beberapa unit industri membutuhkan air dalam jumlah besar setiap hari. Apartemen diizinkan untuk menjual kelebihan air olahan mereka kepada industri-industri tersebut.

    Sungai, danau, aliran air, dan lahan basah disuplai dengan air limbah olahan yang membantu meningkatkan kadar air mereka, sehingga mengisi kembali air tanah. Air olahan juga disuplai kepada para petani di pinggiran kota.

    Hal ini membantu para petani mencapai ketahanan air dan pada gilirannya, membantu kota Bengaluru mencapai ketahanan pangan. Dengan cara ini, air didaur ulang dan dimanfaatkan secara produktif.

    “Kita perlu berinvestasi dalam jaringan pembuangan limbah agar setiap tetes air limbah dikumpulkan dan diolah,” kata Vishwanath.

    Baca: Pengelolaan air masih jarang dipelajari

    Bengalore sedang menjalankan proyek terbesar kedua di dunia untuk mengolah sekitar 2.000 juta liter air limbah per hari guna mengisi 500 danau dan memastikan 64.000 petani menerima air limbah olahan tersebut.

    Sekitar 1,1 juta hektar lahan digarap, sehingga para petani mencapai ketahanan iklim, ketahanan air, dan kota mencapai ketahanan pangan. “Air limbah didaur ulang dan dimanfaatkan secara produktif,” ujarnya.

    Air limbah yang diolah dapat memainkan peran penting dalam memenuhi permintaan air yang terus meningkat di kota-kota yang berkembang pesat, mendukung pembangunan industri dan pertanian berkelanjutan.

    Memperkuat Siklus Air
    Peningkatan urbanisasi mengakibatkan peningkatan permukaan kedap air, yang mengakibatkan berkurangnya infiltrasi, yang berdampak buruk pada siklus air alami.

    Di Bengalore, selama musim kemarau, danau-danau disuplai dengan air olahan yang membantu mengisi kembali kadar air di akuifer bawah tanah. Pemanenan air hujan wajib dilakukan di apartemen dan fasilitas besar lainnya.

    Baca: Pengelolaan air yang buruk dapat memicu krisis air

    Terdapat rencana untuk membuat lubang resapan di taman dan area terbuka lainnya di seluruh kota untuk memungkinkan pemanenan air hujan yang lebih besar.

    Tindakan ini memperkuat siklus air alami dengan memungkinkan infiltrasi air yang lebih besar dan pengisian kembali air tanah.

    Dengan pertumbuhan kota Bangalore yang pesat, kesenjangan implementasi tidak dapat dihindari dan tekanan air masih terjadi secara berkala.

    Namun, inisiatif-inisiatif ini, beserta keterlibatan dan edukasi warga, merupakan langkah ke arah yang benar, kata Vishwanath.

    Setiap kota yang berkembang pesat dapat berhasil menerapkan ide-ide ini, memperkuat siklus air, dan mencapai kemandirian dalam memenuhi kebutuhan air mereka.

    Artikel ini diterjemahkan dari Earth.com, baca artikel aslinya di sini.

  • Resmi Bergabung dengan Clean Invesment Accelerator, Ini Manfaat yang Dipetik Jakarta

    Resmi Bergabung dengan Clean Invesment Accelerator, Ini Manfaat yang Dipetik Jakarta

    7cloud.asia – Kota Jakarta, bekerja sama dengan C40 Cities dan didukung oleh Pemerintah Inggris, menjadi tuan rumah Pertemuan Regional Urban Climate Action Programme – Climate Action Implementation (UCAP CAI) Asia Tenggara tahun 2025,

    Kegiatan yang digelar pada Rabu (23/7/2025) ini mempertemukan para pemimpin kota, investor, dan mitra pembangunan dari seluruh kawasan untuk mempercepat pembiayaan iklim dan mewujudkan dampak nyata bagi pembangunan kota berkelanjutan.

    Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyambut hangat para peserta UCAP CAI. Ia menyebut pertemuan regional ini sebagai tonggak penting dalam merayakan capaian program UCAP, sekaligus membuka babak baru kolaborasi untuk mewujudkan masa depan perkotaan yang hijau, inklusif, dan berkelanjutan.

    “Sejak 2018, C40 telah memberikan dukungan teknis dan sumber daya bagi 35 kota dalam merancang dan menjalankan rencana aksi iklim. Kota-kota tersebut, termasuk Jakarta, telah menunjukkan kepemimpinan yang nyata dalam mendorong transformasi menuju ketangguhan iklim,” ujarnya.

    Menurut Pramono, forum ini menjadi kesempatan berharga bagi para peserta untuk bertukar praktik baik dan memperluas kolaborasi, termasuk dalam menjajaki skema pembiayaan iklim, seperti hibah, green bonds, blended finance, dan kemitraan publik-swasta untuk menutup kesenjangan pendanaan infrastruktur di Asia Tenggara.

    Baca: Jakarta diproyeksikan menjadi kota global, ini kriterianya

    Ia mengatakan, seiring berakhirnya Program UCAP CAI, prioritas berikutnya bagi kota-kota di Asia Tenggara adalah menyusun strategi pembiayaan iklim yang adaptif, dan berkelanjutan, guna memastikan keberlanjutan program mitigasi, dan adaptasi yang telah berjalan.

    “Ke depan, Jakarta berkomitmen memperkuat transisi energi dengan berpartisipasi dalam inisiatif Clean Investment Accelerator. Langkah ini sejalan dengan visi kami untuk membangun Jakarta sebagai kota global yang tangguh terhadap iklim, inklusif, dan bertanggung jawab secara fiskal,” jelasnya.

    Lebih lanjut, Gubernur Pramono percaya keberhasilan aksi iklim harus menjadi agenda bersama. Oleh karenanya, ia ingin forum ini dapat memperkuat solidaritas dan kolaborasi antarkota dalam mendorong aksi iklim yang adil dan berkelanjutan.

    Sementara itu, Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Dominic Jermey, mengatakan, Kota Jakarta bisa memimpin transisi global untuk pembangunan net-zero ke depannya.

    Inggris bangga mendukung program UCAP CAI C40, yang membantu kota-kota di Asia Tenggara membuka pendanaan iklim, menarik investasi, dan mewujudkan pertumbuhan inklusif. Kepemimpinan Jakarta bergabung dengan Clean Investment Accelerator merupakan tindakan berani yang kita butuhkan.

    “Melalui pertemuan minggu ini, kota-kota di Asia Tenggara tidak hanya memamerkan pencapaian mereka—mereka juga menyerukan aksi yang kuat bahwa pendanaan iklim bukanlah kemewahan, melainkan sebuah kebutuhan untuk mewujudkan perubahan nyata bagi manusia dan planet ini,” ujarnya.

    Pertemuan regional UCAP CAI berlangsung pada 23 hingga 25 Juli 2025. Acara ini menampilkan kemajuan Jakarta, Kuala Lumpur, dan Quezon City dalam melaksanakan aksi iklim yang ambisius dan inklusif melalui Program UCAP CAI dari C40.

    Baca: Butuh dana Rp600 triliun untuk antar Jakarta menjadi kota global

    Pertemuan ini mencakup berbagai kegiatan seperti lokakarya, kunjungan lapangan, dan diskusi tingkat tinggi yang dirancang untuk memperkuat portofolio proyek kota, memahami instrumen pembiayaan iklim, serta berinteraksi langsung dengan investor dari sektor publik dan swasta.

    Sorotan utama dari acara ini adalah pengumuman resmi Jakarta untuk bergabung dengan Clean Investment Accelerator—sebuah koalisi global yang kini mencakup 21 kota yang berkomitmen mengalihkan pembiayaan kota dari bahan bakar fosil ke solusi iklim yang membangun ekonomi tangguh dan inklusif.

    Sebagai bagian dari inisiatif ini, Jakarta berkomitmen untuk secara perlahan mengurangi investasi berbasis bahan bakar fosil dari aset kota, mengembangkan instrumen pembiayaan hijau seperti obligasi dan portofolio berbasis ESG, serta mendorong kebijakan pembiayaan berkelanjutan yang lebih luas.

    Jakarta juga berencana meluncurkan platform digital untuk meningkatkan transparansi dan akses terhadap peluang investasi hijau lintas sektor.

    Pengumuman ini sangat krusial karena Program UCAP CAI Asia Tenggara memasuki tahun terakhir pelaksanaan.

    Dengan meningkatnya risiko iklim dan keterbatasan akses terhadap pembiayaan, kota-kota di kawasan ini sangat membutuhkan pendanaan yang dapat diskalakan guna beralih dari perencanaan ke aksi nyata.

    Baca: Pramono targetkan Jakarta menjadi Kota Global Berbudaya

    Program UCAP CAI, yang didanai oleh Pemerintah Inggris, telah membantu Jakarta dalam mengembangkan Peraturan Efisiensi Energi dan Air di Bangunan Gedung, Peta Jalan Bangunan Net-Zero, dan perangkat tata kelola iklim yang inklusif—yang kini menjadi landasan bagi ketahanan iklim jangka panjang.

    Melalui program tersebut, Jakarta berhasil meningkatkan kapasitas aksi iklim melalui berbagai inisiatif strategis, di antaranya:

    • Penyusunan Peraturan Efisiensi Energi dan Air pada Bangunan Gedung yang memperkuat penerapan bangunan gedung hijau, sebesar 100% untuk bangunan baru dan 50 persen untuk bangunan eksisting pada 2030, berpotensi menghindari 10,6 juta ton CO²e per tahun;

    • Peluncuran Net-Zero Building Roadmap serta integrasi real-time Data Management System ke dalam anggaran kota 2025, disertai komitmen alokasi anggaran untuk implementasinya;

    • Pengarusutamaan Inclusive Climate Action dalam tata kelola pemerintahan sesuai kearifan lokal melalui integrasi dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang);

    • Penguatan sistem pelacakan emisi gas rumah kaca untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data;

    • Pengembangan sistem transportasi publik, mobilitas rendah emisi, dan pengelolaan limbah berkelanjutan.

  • Cuaca Hari Ini: Termasuk Bandung, Sejumlah Kota Berpotensi Hujan

    Cuaca Hari Ini: Termasuk Bandung, Sejumlah Kota Berpotensi Hujan

    7cloud.asia – Kondisi cuaca hujan dengan intensitas ringan berpotensi mengguyur Kota Bandung sejumlah kota lannya pada Senin (28/07/2025).

    Dalam kanal youtube resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), selain Kota Bandung, hujan dengan intensitas ringan diprediksi terjadi di Kota Medan, Tanjung Pinang, Padang, Jambi, Palembang, Bandar Lampung.

    Selain itu Kota Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Denpasar, Mataram, Banjarmasin, Mamuju, Manado, Ternate, Ambon, Sorong, Nabire, Jayapura dan Jayawijaya juga berpeluang terjadi hujan berintensitas ringan.  

    Kemudian hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Bengkulu dan Merauke. Sedangkan hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Tanjung Selor.

    BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi banjir rob yang terjadi di sejumlah wilayah pesisir. Seperti pesisir Kepulauan Riau, pesisir Banten, pesisir Bangka Belitung, pesisir Jawa Barat, pesisir Jawa Tengah, pesisir Yogyakarta,

    Banjir rob juga berpeluang terjadi di pesisir Nusa Tenggara Timur, pesisir Kalimantan Selatan, pesisir  Kalimantan Tengah, pesisir Sulawesi Utara, pesisir Maluku dan pesisir Papua Selatan.

     

     

     

     

     

     

  • Pemprov DKI Jakarta Galakkan Pembangunan Septic Tank Komunal

    Pemprov DKI Jakarta Galakkan Pembangunan Septic Tank Komunal

    7cloud.asia – Peletakan batu pertama (groundbreaking) septic tank komunal terintegrasi teknologi tepat guna biogas & septic tank skala rumah tangga dilakukan di Rusunami Bidara Cina, Jakarta Timur, Senin (28/7).

    Program septic tank komunal ini merupakan salah satu upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam menuntaskan permasalahan buang air besar sembarangan (BABS), terutama di wilayah padat penduduk.

    Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengatakan, meskipun angka BABS di Jakarta relatif lebih rendah dibandingkan daerah lain, kondisi ini tetap menjadi perhatian bagi Pemprov DKI.

    “Persoalan buang air besar sembarangan ini masih menjadi persoalan yang mendapatkan perhatian Pemerintah Balai Kota, Pemerintah Jakarta,” ujar Pramono.

    Pembangunan tangki septik di wilayah Jakarta Timur ini bekerja sama dengan ahli biogas. Ia pun menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasinya kepada berbagai pihak yang terlibat dalam penyelesaian masalah BABS ini, termasuk dalam penggunaan dana Corporate Social Responsibility (CSR).

    Baca: Pembangunan septic tank komunal di Kelurahan Cikoko Pancoran

    “Yang seperti ini, partisipasi CSR, siapapun yang terlibat kami mengucapkan terima kasih karena ini betul-betul sesuatu yang mendasar yang menyangkut kebutuhan orang, menyangkut apa yang sehari-hari dibutuhkan masyarakat,” katanya.

    Pramono berharap melalui pembangunan tangki septik ini juga akan membantu mengubah perilaku masyarakat agar menjaga kebersihan dan kesehatan dengan tidak lagi membuang air besar sembarangan.

    Dia juga meyakini Jakarta secara perlahan akan menjadi lebih baik dengan perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan.

    “Program ini Pemerintah DKI Jakarta memberikan support dan dukungan sepenuhnya dan mudah-mudahan dengan cara yang seperti ini akan menyelesaikan persoalan BABS yang ada di berbagai tempat,” jelas Pramono.

    Pramono berjanji, akan meminta seluruh Wali Kota untuk melaporkan dan menyelesaikan permasalahan BABS, terutama di daerah-daerah padat penduduk.

    Baca: Upaya menangani kawasan kumuh di Jakarta

    Sementara itu, Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin menyampaikan, peletakan batu pertama pembangunan septic tank komunal terintegrasi teknologi tepat guna biogas dan septic tank skala rumah tangga ini juga dilakukan sejumlah lokasi lainnya.

    Beberapa lokasi tersebut antara lain Rawa Bunga, Rambutan, Pekayon, Pinang Ranti, Cipinang Melayu, Penggilingan, Kayu Manis, Cipinang, dan Kelurahan Klender.

    “Jadi ada 10 titik dan totalnya itu, dari 10 titik itu bisa mengentaskan 921 KK, jiwanya itu 2.936 jiwa. Dan ini ada yang modelnya pake biogas, ada yang pake septic tank komunal tapi pribadi. Itu yang dibantu juga dengan CSR,” jelas Munjirin.

    Pembangunan tangki septik komunal ini menggunakan dana swadaya masyarakat, dana CSR, maupun dibangun oleh pemerintah.

    Munjirin mengakui, masih terdapat banyak masyarakat di pemukiman padat di wilayahnya yang melakukan BABS. Karena itu, pihaknya secara bertahap akan menyelesaikan masalah ini.

    “Jakarta Timur itu masih cukup banyak, makanya kita cicil dari sekarang,” tandasnya.

    Baca: Dana abadi perumahan untuk atasi kawasan kumuh di perkotaan

    Munjirin mengatakan, keberadaan 10 lokasi tangki septik itu bisa mengatasi buang air besar sembarangan (BABS) sebanyak 921 Kepala Keluarga atau sekitar 2.936 jiwa.

    Sementara itu, Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, Herwin Meifendy mengatakan, sebanyak 27 dari 65 kelurahan saat ini sudah dinyatakan bebas Open Defecation Free (ODF) atau BABS.

    “Saat ini warga yang BABS ke kali jumlahnya semakin berkurang. Apalagi, sejak digencarkan program tangki septik komunal,” ungkapnya.

    Ia merinci, pembangunan tangki septik komunal di Rusunami Bidara Cina menyasar 688 KK atau 2.064 jiwa; Kelurahan Rawa bunga 37 KK atau 77 jiwa, dan di Kelurahan Rambutan berjumlah 45 KK atau 227 jiwa.

    Selanjutnya, di Kelurahan Pekayon ditargetkan dapat mengatasi BABS sebanyak 58 KK atau 189 jiwa; Pinang Ranti dan Cipinang Melayu 10 KK atau 40 jiwa; dan Kelurahan Penggilingan 13 KK atau 54 jiwa

    “Untuk di Kelurahan Kayumanis julah sasaran mencapai 10 KK atau 45 jiwa; Kelurahan Cipinang sembilan KK atau 36 jiwa; dan Kelurahan Klender ada 51 KK atau 239 jiwa,” tandasnya.

    Baca: Lonjakan migrasi pencari kerja picu kawasan kumuh di Jakarta

     

  • Cuaca Hari Ini: Musim Kemarau, tetapi Hujan Masih Guyur Beberapa Kota

    Cuaca Hari Ini: Musim Kemarau, tetapi Hujan Masih Guyur Beberapa Kota

    7cloud.asia – Musim kemarau tengah melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Namun, masih ada peluang hujan dengan intensitas ringan hingga hujan disertai petir di beberapa kota di Indonesia pada Selasa (29/07/2025).

    Melalui kanal youtube resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di Kota Medan, Pekanbaru, Padang, Tanjung Pinang, Bengkulu, Palembang, Pangkal Pinang.

    Selain itu kota Bandung, Semarang, Denpasar, Ambon, Sorong, Manokwari, Jayapura, Jayawijaya dan Merauke juga berpotensi terjadi hujan dengan intensitas ringan.   

    Kemudian hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Tanjung Selor dan Mamuju. Sedangkan hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Nabire.

    BMKG juga mengajak masyarakat mewaspadai potensi angin kencang yang terjadi di Bali, Banten, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan.

    Tak hanya angin kencang, sejumlah wilayah pesisir juga berpotensi terjadi banjir rob seperti pesisir Jawa Tengah, pesisir Kalimantan Selatan, pesisir  Kalimantan Tengah dan pesisir Papua Selatan.

     

     

     

     

     

  • Riset: Proyek IKN Membuat Nelayan dan Masyarakat Pesisir Semakin Sengsara

    Riset: Proyek IKN Membuat Nelayan dan Masyarakat Pesisir Semakin Sengsara

    7cloud.asia – Nelayan-nelayan di sekitar Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur mengeluhkan hasil tangkapan dan pendapatan mereka yang semakin menurun akibat pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

    Pembangunan IKN membawa lonjakan lalu lintas kargo besar yang hilir-mudik mengangkut bahan bangunan ibu kota baru dari Pelabuhan Semayang dan Terminal Kariangau, Teluk Balikpapan.

    Hiruk-pikuk aktivitas pembangunan IKN ini merusak ekosistem pesisir, termasuk kawasan mangrove yang menjadi rumah bagi berbagai spesies laut seperti ikan, udang, dan kepiting.

    Tak hanya hasil laut yang semakin berkurang, wilayah tangkap nelayan juga kian menyempit. Para nelayan harus melaut lebih jauh atau pindah ke perairan lain dan berujung konflik dengan komunitas nelayan lain.

    Alhasil, ongkos melaut naik sementara penghasilan turun, dan konflik sosial pun tak terhindarkan.

    Riset BRIN pada tahun 2025 di tiga desa pesisir Teluk Balikpapan—Jenebora, Pantai Lango, dan Mentawir—menegaskan adanya fenomena terrestrial-to-marine exclusion dalam pembangunan IKN

    Kondisi ini di mana pembangunan di darat tidak hanya memicu kerusakan ekosistem laut, tetapi juga meminggirkan masyarakat pesisir dan komunitas nelayan tradisional.

    Baca: Menyoal usulan moratorium pembangunan IKN

    Tekanan lama yang kini meningkat
    Marjinalisasi nelayan Teluk Balikpapan sesungguhnya bukanlah hal baru. Jauh sebelum proyek IKN dimulai, kawasan ini sudah padat oleh aktivitas industri.

    Pemerintah membangun Kawasan Industri Kariangau dan menetapkan Kalimantan Timur sebagai Wilayah Pengembangan Industri Nasional sejak 2012 silam.

    Sebagian wilayah laut yang sebelumnya menjadi area pemasangan belat—alat tangkap ikan tradisional, dialihkan menjadi kawasan industri.

    Meskipun ada perusahaan yang memberikan kompensasi atas pengambilalihan area belat, nilainya tidak sebanding dengan potensi pendapatan jangka panjang yang hilang.

    Nelayan juga dilarang memasuki zona 500 meter di sekitar jetty (dermaga) milik perusahaan industri yang beroperasi di kawasan pelabuhan Kariangau. Akibatnya, wilayah tangkap nelayan menyempit, dan hasil tangkapan menurun drastis.

    “Dulu kami bisa bawa pulang 20-30 kilogram ikan per hari, bahkan sampai cukup buat naik haji. Sekarang paling-paling cuma cukup buat makan”. (nelayan Teluk Balikpapan, 52 tahun)

    Selain memicu konflik nelayan-perusahaan, riset BRIN juga menemukan bahwa semakin terbatasnya area penangkapan ikan juga memicu ketegangan antarnelayan.

    Wilayah hulu Teluk Balikpapan jadi rebutan, karena dianggap masih kaya ikan. Ketika nelayan dari wilayah lain masuk ke area ini, konflik sosial terjadi. Bila tidak segera diatasi, gesekan ini berpotensi menjadi konflik yang lebih besar.

    Adapun sebagian nelayan memilih berlayar lebih jauh hingga ke arah Selat Makassar untuk mendapatkan ikan. Namun, opsi ini jauh lebih berbahaya untuk kapal kecil dan tentunya membutuhkan ongkos yang lebih besar karena bahan bakar kapal yang dibutuhkan lebih banyak.

    Baca: Pembangunan IKN tak boleh membebani negara

    Kehadiran proyek IKN membuat situasi memburuk. Hutan mangrove dibabat dan berdampak pada kehidupan nelayan tradisional yang sangat bergantung pada ekosistem tersebut. Belat-belat pun semakin tidak efektif, ikan jadi jarang mampir.

    “Dulu saya punya 10 belat, sekarang tinggal 4 belat saja dan hasilnya juga tidak menentu.” (Nelayan Pantai Lango, 55 tahun)

    Kebijakan yang tidak berpihak
    Alih-alih melindungi masyarakat pesisir, peraturan daerah tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kalimantan Timur malah berpihak pada kepentingan bisnis dan investasi.

    Kebijakan yang dibuat dengan minim konsultasi publik ini hanya mengalokasikan 31,8 hektare untuk pemukiman 10.000 nelayan.

    Angka ini sangat jauh dari kebutuhan masyarakat. Berdasarkan standar nasional perencanaan lingkungan perumahan perkotaan, satu hektare tanah idealnya dihuni oleh 100 jiwa, yang berarti mestinya alokasi lahan 100 hektare per 100 nelayan.

    Eksklusi terhadap nelayan makin terasa di laut. Kebijakan ini tidak memberikan pengakuan terhadap zona tangkap nelayan tradisional, justru mempersempit ruang tangkap, karena Teluk Balikpapan ditetapkan sebagai zona jalur utama distribusi material pembangunan IKN.

    Akibatnya, nelayan yang sudah hidup turun-temurun di wilayah tersebut, dibatasi mengakses ruang hidup mereka.

    Baca: Pembangunan IKN tak jadi prioritas Prabowo

    Konflik terus terjadi di Teluk Balikpapan. Pada Maret 2025, nelayan Balikpapan didampingi Pokja Pesisir dan WALHI Kalimantan Timur, berhasil memenangkan gugatan terhadap Keputusan Menteri Perhubungan No 54 Tahun 2023 yang mengubah sebagian zona tangkap menjadi pelabuhan alih muat.

    Meski kemenangan ini memberi angin segar, tapi belum menjamin perlindungan jangka panjang. Skema pembangunan dalam Perda RZWP3K yang berpihak pada kepentingan industri tetap menjadi ancaman.

    Riset kami membuktikan masyarakat pesisir terdesak di darat maupun laut. Apalagi ditambah dengan kehadiran proyek IKN yang skalanya lebih besar, pola eksklusi negara terhadap masyarakat pesisir semakin menguat.

    Proyek bandara VVIP IKN misalnya, mengambil alih sebagian tanah milik nelayan dan masyarakat pesisir, memicu konflik akibat ketidakpastian kompensasi.

    Pemerintah juga berencana merelokasi mereka ke pedalaman. Ini tentunya semakin menyulitkan masyarakat mempertahankan mata pencaharian mereka yang bergantung pada laut.

    Pada akhirnya, minimnya keadilan tata ruang membuat kepemilikan lahan menjadi tidak pasti, nelayan semakin cemas akan masa depan mereka. Situasi ini mencerminkan ketimpangan sosial-ekologis yang kian dalam serta kegagalan tata kelola pesisir dalam proyek IKN.

    Baca: Pembangunan IKN disebut tidak terencana dengan baik

    Bias darat dalam pembangunan
    Di balik pembangunan IKN yang kerap dibungkus narasi ‘demi kepentingan nasional’, terdapat masyarakat pesisir yang kian terancam ruang hidupnya.

    Pembangunan IKN seolah menempatkan masyarakat pesisir di luar peta. Dalam berbagai dokumen perencanaan, nyaris tak ada penyebutan tentang nelayan atau pun perlindungan ekosistem pesisir.

    Ini mencerminkan bias daratan, yakni kecenderungan melihat pembangunan hanya soal daratan, sementara pesisir dan laut dianggap ruang kosong yang bisa dialihfungsikan sewenang-wenang.

    Padahal bagi nelayan, laut bukan hanya sumber ekonomi, tapi juga bagian dari identitas sosial-budaya, dan sumber pengetahuan lokal.

    Jika pola eksklusi ini terus berlanjut, maka proyek IKN hanya akan memperparah kerusakan ekosistem pesisir dan semakin meminggirkan masyarakat nelayan dari ruang hidup dan budaya mereka.

    Pemerintah seharusnya memasukkan perlindungan kawasan laut dalam rencana pembangunan, mengakui hak komunitas pesisir, serta memastikan keterlibatan penuh mereka dalam proses perencanaan, bukan sekadar formalitas. Hanya dengan begitu, IKN bisa diterima di masa depan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis:
    Imam Syafi’i (Peneliti Muda pada Kajian Politik Lokal, Masyarakat dan Budaya Pesisir, Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN)
    Dian Aulia (Researcher BRIN)
    Dini Suryani dan Septi Satriani (Peneliti di Pusat Riset Politik, BRIN)

    Ahmad Dhiaulhaq Peneliti World Resources Institute Indonesia dan Pandu Yuhsina Adaba selaku peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkontribusi sebagai penulis dalam artikel ini