Cara Kota Yogyakarta Menangani Kondisi Darurat Sampah

Written by

in

7cloud.asia – Masalah darurat sampah yang dialami Kota Yogyakarta beberapa waktu terakhir secara bertahap mulai teratasi.

Hal ini tak lepas dari keberadaan beberapa Unit Pengolahan Sampah yang dikelola Pemkot Yogyakarta yaitu Nitikan, Kranon, Karangmiri, Sitimulyo, Giwangan dan Tompeyan.

Salah satu andalan Kota Yogyakarta adalah TPS3R Nitikan yang merupakan unit pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang telah beroperasi sejak tahun 2022.

Dilansir yogyakarta.goid, setiap harinya, TPS3R Nitikan mampu menangani hingga 75 ton sampah dari wilayah di sekitarnya.

Saat memimpin rapat koordinasi penanganan sampah secara rutin pada April lalu, Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo optimis, pihaknya dapat mengelola sampah real time karena potensi pengolahan sampah sudah lebih dari potensi sampah mingguan.

Dalam rapat itu dipaparkan potensi sampah mingguan di kota Yogyakarta sekitar 1.423 ton. Sedangkan potensi pengolahan sampah mingguan per 15 April 2025 mencapai 1.650 ton/minggu.

Baca: Peta jalan pengelolaan sampah di Kota Yogyakarta

Pengolahan sampah dengan metode mesin gibrig menjadi refuse derived fuel (RDF) dan termal atau insinerator. Selain itu Pemkot Yogyakarta juga bekerja sama dengan sejumlah mitra pengelola.

Meskipun secara matematis, pengolahan sampah real time dapat dilakukan, Hasto berpesan untuk tetap mengawal dan mencermati pelaksanaan di lapangan.

Hal itu untuk memastikan rantai pengangkutan dan pengolahan sampah lancar. Jika kurang, truknya ditambah dan waktu pengangkutan dari depo juga harus diperhatikan agar tidak terlambat.

“Secara matematis bisa. Cuma saya pesan supaya dikawal betul. Meskipun bisa harus memberikan layanan yang nyaman. Contohnya seperti truk tidak terlambat, sehingga warga merasa tidak terganggu,” tegas Hasto

Sementara, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Agus Tri Haryono menyebut kondisi 14 depo dalam posisi kosong dari tumpukan sampah. Sedangkan 31 TPS semua sudah ditutup dan 17 TPS di antaranya sudah dibongkar.

Diakuinya masih ada TPS yang sebelumnya sudah dikosongkan tapi muncul sampah baru yaitu di TPS Sisingamaraja. Untuk mengatasi itu dilayani kontainer khusus dari personel depo sampah di THR Jalan Brigjen Katamso.

Baca: Pemprov DIY tutup TPA Piyungan per April 2024

Adapun jumlah transporter atau penggerobak sampah yang mengangkut sampah ke depo ada 1.130 orang, dengan peta assessment dari 45 lurah menyatakan jumlah penggerobak cukup melayani warga dan gerobak tersedia.

Untuk jumlah kelurahan yang berstatus hijau ada 25 kelurahan dan berwarna kuning 20 kelurahan.

Status hijau berarti kelurahan dalam pengelolaan sampah tidak ada masalah atau sudah baik. Untuk kelurahan berwarna kuning berarti masih ada persoalan seperti pembuangan sampah di luar depo.

Anggota Komisi XII DPR, Meitri Citra Wardani, saat mengunjungi RDF Nitikan menegaskan pentingnya memaksimalkan inovasi pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif.

“Unit ini menjadi bagian dari upaya strategis pemerintah daerah bersama masyarakat dalam mengelola sampah secara lebih efisien dan ramah lingkungan,” ujar Meitri dikutip Parlementaria usai mengikuti kunjungan kerja spesifik Komisi XII DPR ke DIY, Sabtu (19/7/2025).

Ia mengapresiasi kehadiran fasilitas RDF di TPS3R Nitikan yang dinilai sebagai terobosan penting untuk mengatasi sampah-sampah yang sulit didaur ulang, seperti plastik dan kertas.

“Inovasi RDF di TPS3R Nitikan merupakan hal yang potensial dalam pengolahan sampah di masyarakat. Terutama sampah yang sulit didaur ulang seperti plastik, hasilnya bahkan bisa menjadi alternatif bahan bakar,” jelasnya.

Baca: Pengelolaan sampah berbayar jadi opsi penanganan darurat sampah di Kota Yogyakarta 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *