Tag: gempa

  • 20 Tahun Gempa dan Tsunami Aceh: Membangun Pendidikan Risiko Bencana untuk Generasi Muda Mulai dari Sekolah

    7cloud.asia – Pulau Sumatra bagian utara memiliki pengalaman langsung dengan bencana alam, khususnya tsunami 2004 yang meluluhlantakkan Kota Banda Aceh dan daerah di sekitarnya.

    Dikenal sebagai tsunami Boxing Day, atau tsunami Samudra Hindia, bencana ini merupakan bencana alam paling mematikan di abad ke-21.

    Gempa dan tsunami Aceh ini mengakibatkan 230 ribu orang meninggal dengan Indonesia sebagai negara yang paling parah terkena dampaknya.

    Pada Desember 2023, Pusat Penelitian Mitigasi Bencana dan Tsunami (TDMRC) Universitas Syiah Kuala bekerja sama dengan Proyek Aceh-Kamaishi mengadakan acara yang menyoroti pentingnya pendidikan bencana untuk memberdayakan kaum muda agar menjadi agen perubahan di komunitas mereka.

    Melalui diskusi, simulasi, dan kesaksian pribadi, acara tersebut berusaha menggali wawasan tentang dampak bencana dan strategi untuk membentuk mitigasi dan respons yang efektif, serta membangun hubungan yang kuat dengan warga terdampak lainnya.

    Pesertanya adalah 12 siswa yang berasal dari SMA Otsuchi Jepang, SMA Labschool Banda Aceh, MAN Model Banda Aceh, SMA Modal Bangsa Banda Aceh, SMA 5 Banda Aceh, dan MAN 3 Rukoh Aceh Besar.

    Diskusi tersebut menyimpulkan bahwa sekolah dapat menjadi titik awal untuk menyebarluaskan pendidikan bencana.

    Pemerintah Indonesia sebenarnya telah mengintegrasikan materi pengurangan risiko bencana (PRB) ke dalam kurikulum sekolah. Tujuannya untuk mempersiapkan generasi muda dengan pengetahuan dan keterampilan Pengurangan Risiko Bencana sejak dini.

    Namun, usaha ini perlu dilengkapi dengan sistem peringatan dini multi-bahaya sekolah, peran kelembagaan, dan pemberdayaan guru.

    Baca: 20 Tahun gempa dan tsunami Aceh: waspada ancaman ’Megathrust’

    Sistem peringatan dini multi-bahaya sekolah
    Saat tsunami terjadi pada 20 tahun silam, Aceh masih memiliki pengetahuan yang sangat terbatas tentang bencana. Hanya beberapa daerah, Simeulue misalnya, yang memiliki pengetahuan lokal dan tradisi kesiapsiagaan tsunami yang dikenal dengan istilah smong.

    Pengetahuan lokal ini telah membantu dalam membaca tanda-tanda bahaya sehingga menyelamatkan masyarakat setempat saat tsunami melanda.

    Pengurangan risiko bencana merupakan salah satu keterampilan hidup (life skills) yang sepatutnya dimiliki oleh setiap peserta didik yang hidup di daerah rawan bencana.

    Artinya, sekolah semestinya menjadi wadah untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kesiapsiagaan bencana.

    Pengetahuan tentang tanda-tanda tsunami yang diperoleh Tilly Smith, seorang pelajar asal Inggris, dari pelajaran geografi di sekolahnya, contohnya, telah menyelamatkan banyak orang saat tsunami 2004 yang juga melanda Thailand.

    Selain itu, tiga ribu siswa di sekitar daerah Unosumai di Jepang juga berhasil menyelamatkan diri dari gempa berukuran 9.1 magnitudo yang disusul tsunami pada 11 Maret 2011. Nasib baik itu terjadi berkat pengetahuan tanda-tanda tsunami yang mereka pelajari di sekolah.

    Kedua contoh tersebut menegaskan pentingnya peran sekolah dalam pendidikan pengurangan risiko bencana.

    Untuk mendukung hal ini, sekolah dapat membuat mekanisme yang sistematis dan melibatkan berbagai disiplin ilmu untuk menyebarkan informasi multibahaya.

    Informasi ini berisikan berbagai jenis bencana, baik bencana alam maupun maupun bencana nonalam, yang berpotensi merusak infrastruktur dan lingkungan serta menimbulkan kerugian dari segi ekonomi, sosial dan kemasyarakatan.

    Baca: 20 Tahun gempa dan tsunami Aceh: Picu perkembangan riset dan mitigasi bencana

    Dari segi komunikasi, Kementerian Pendidikan dapat memasukkan informasi multibahaya tersebut sebagai bagian dari sistem sekolah, misalnya melalui integrasi sistem InaRisk dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

    Tujuannya untuk membantu sekolah dalam memahami potensi bahaya, mengenal tanda-tanda peringatan dini dan menyebarkan informasi tentang berbagai jenis risiko bencana.

    Melalui pemahaman tersebut, sekolah akan terlatih dan terbiasa untuk menangani berbagai risiko bencana di sekitar mereka.

    Kolaborasi antarlembaga
    Lembaga pendidikan dapat membangun hubungan dengan lembaga lain untuk meningkatkan kapasitas individu dan masyarakat dalam mengurangi risiko bencana. Namun, dalam konteks pendidikan PRB, kejelasan peran antarlembaga sangat penting.

    Lembaga pendidikan seperti universitas—terutama fakultas pendidikan—berperan dalam mengembangkan konsep pedagogis untuk pengajaran PRB dalam kurikulum calon guru. Ini berarti, pendidikan PRB harus dilihat sebagai salah satu prioritas dalam pengembangan kurikulum calon guru.

    Sementara itu, badan penanggulangan bencana daerah dan dinas pendidikan bertanggung jawab untuk menyediakan kebijakan politik dan pendanaan untuk pelaksanaan PRB.

    Salah satu contoh kemitraan universitas dan otoritas pendidikan telah dilakukan oleh Filipina. Negara ini berhasil mengintegrasikan pendidikan terkait bencana ke dalam kurikulum di semua jenjang pendidikan, termasuk mengadakan program pelatihan untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana para mahasiswa.

    Proses ini didorong oleh undang-undang nasional Republic Act 10121 yang mengamanatkan mitigasi dan manajemen risiko bencana alam sebagai salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap generasi muda Filipina.

    Penguatan kapasitas dan peran masing-masing lembaga dapat menghindari potensi konflik dan tumpang tindih peran dalam meningkatkan ketahanan sekolah.

    Sebab, setiap lembaga berperan penting dalam membangun landasan dalam menyebarluaskan pengetahuan dan kesiapsiagaan PRB di tingkat sekolah.

    Baca: Literasi masyarakat soal gempa masih rendah

    Pemberdayaan guru
    Guru merupakan salah satu aktor kunci dalam penyebarluasan pengetahuan bencana. Integrasi PRB dalam kurikulum sekolah menghadapi beberapa tantangan signifikan terutama di daerah terpencil, seperti kurangnya sumber belajar dan guru yang berkualitas.

    Mengembangkan buku panduan praktis, mengadakan pelatihan bagi guru, dan mengembangkan sekolah model di tingkat provinsi dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kemampuan dan kreativitas guru dalam mengajarkan PRB.

    Guru juga perlu lebih aktif dalam mengembangkan metode pengajarannya, dari sekadar pengetahuan bencana murni menjadi lebih berorientasi pada pengetahuan praktis. Sekolah dapat mengintegrasikan pengetahuan kebencanaan dalam mata pelajaran yang relevan, selain melakukan simulasi rutin.

    Kurikulum sekolah baik di tingkat SD, SMP dan SMA saat ini pada dasarnya sudah memuat topik-topik terkait bencana.

    Pelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SD, contohnya, memuat sikap peduli, bertanggung jawab, dan patriotisme terhadap berbagai kejadian bencana sebagai kompetensi yang harus dimiliki siswa. Melalui topik ini, siswa dapat diminta mengidentifikasi jenis-jenis bencana yang ada di sekitar mereka.

    Di tingkat SMP, pelajaran IPA turut berisikan topik tentang mekanisme kejadian alam, dan gempa bumi. Di tingkat SMA, mata pelajaran Geografi dan Sains juga telah mencantumkan proses-proses alam seperti topik tentang banjir, perubahan iklim, lingkungan, dan sebagainya.

    Di tingkat ini, siswa dapat diminta menganalisis dampak sosial dan ekonomi dari bencana, sehingga mereka dapat memahami lebih lanjut bahwa bencana tidak hanya berdampak secara lokal, nasional tetapi juga global.

    Sekolah tidak boleh hanya menjadi “agen pasif” tetapi juga “agen aktif” dalam mempromosikan dan mengembangkan masyarakat yang lebih tanggap, sekaligus tangguh bencana.

    Pada akhirnya, penekanan dan optimalisasi peran sekolah diharapkan dapat meningkatkan kapasitas masyarakat. Ini termasuk memberdayakan generasi muda agar bertanggung jawab dan mampu berperan dalam mengatasi dan mengurangi risiko bencana di masa depan.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Nurmalahayati (Dosen UIN Ar-Raniry) dengan mendapatkan saran dan masukan dari Najwa Shafiya, mahasiswi Universitas Islam Antar Bangsa Malaysia (IIUM), salah satu peserta kegiatan kolaborasi proyek Aceh-Kamaishi. Penulis mengucapkan terimakasih atas kontribusi pemikiran yang diberikan.

  • Gempa Magnitudo 7.7 Guncang Thailand dan Myanmar, Puluhan Orang Dilaporkan Meninggal

    Gempa Magnitudo 7.7 Guncang Thailand dan Myanmar, Puluhan Orang Dilaporkan Meninggal

    7cloud.asia – Setidaknya 25 orang tewas di Myanmar dan satu orang di Thailand, sementara 43 lainnya masih hilang setelah sebuah bangunan berlantai di anyak Bangkok runtuh akibat gempa berkekuatan 7,7 magnitudo yang berpusat di wilayah Sagaing, Myanmar, pada Jumat (28/3/2025).

    Guncangan pertama disusul oleh gempa susulan berkekuatan 6,4 magnitudo 12 menit kemudian, menurut laporan US Geological Survey.

    Di Bangkok, satu orang tewas dan 43 lainnya terjebak di dalam gedung bertingkat yang masih dalam tahap konstruksi di distrik Chatuchak, seperti dilaporkan Thai PBS.

    Di Myanmar, sebuah biara di kota Taungoo juga runtuh, menewaskan lima anak pengungsi, menurut laporan Eleven Media Group.

    Setidaknya 20 orang meninggal saat gempa mengguncang Masjid Shwe Pho Shing di wilayah Mandalay saat ibadah salat Jumat berlangsung, sebagaimana dilaporkan Khit Thit Media.

    “(Masjid) itu runtuh saat kami sedang beribadah. Sekitar tiga masjid ambruk. Ada orang yang terjebak. Saat ini, setidaknya 20 orang telah meninggal, dan jumlah korban bisa bertambah. Masjid Shwe Pho Shing juga runtuh,” ujar seorang petugas penyelamat.

    Upaya evakuasi terhadap para korban yang masih terperangkap terus dilakukan.

    Selain itu, Jembatan Ava yang bersejarah di Mandalay dilaporkan runtuh akibat gempa, sementara Istana Mandalay juga mengalami kerusakan.

    Saluran televisi pemerintah MRTV, melalui kanal Telegramnya, mengutip pernyataan dari Dewan Administrasi Negara bahwa Komite Nasional Penanggulangan Bencana telah menetapkan status darurat di wilayah yang terdampak gempa.

    Status ini antaralain diberlakukan di Sagaing, Mandalay, Magway, Negara Bagian Shan bagian timur laut, Naypyidaw, dan Bago.

    Di Thailand, otoritas setempat juga menetapkan Bangkok sebagai “zona darurat” akibat gempa, menurut laporan Thai PBS News.

    Bursa Efek Thailand menghentikan aktivitas perdagangan akibat gempa tersebut, seperti dilaporkan Thai Enquirer.

    Sementara itu, sebuah rumah sakit utama di ibu kota Myanmar, Naypyidaw, dilaporkan menerima banyak korban luka.

    Gempa yang terjadi pada kedalaman 10 kilometer ini juga mengganggu komunikasi seluler di wilayah terdampak.

    Foto-foto yang dibagikan media lokal menunjukkan bangunan dan jalan mengalami kerusakan akibat guncangan dahsyat tersebut. Getaran gempa juga terasa hingga ke negara-negara tetangga.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Jumlah Korban Tewas Akibat Gempa Myanmar Capai Ratusan Orang

    Jumlah Korban Tewas Akibat Gempa Myanmar Capai Ratusan Orang

    7cloud.asia – Pemimpin militer Myanmar, Min Aung Hlaing menyebut sebanyak 144 orang meninggal dunia dan 732 orang terluka akibat gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah itu pada Jumat (28/3/2025). Diperkirakan angka tersebut masih akan meningkat.

    Pemimpin militer Myanmar tersebut mengatakan 96 orang meninggal di Naypyidaw, 18 orang meninggal di Saigaing, dan 30 orang meninggal di Mandalay.

    Mengenai korban luka, 132 orang mengalami cedera di Naypyidaw dan 300 orang di Sagaing. Adapun korban lainnya berada di daerah berbeda, menurut militer Myanmar.

    Dilansir BBC Indonesia, seorang anggota tim penyelamat di Mandalay, Myanmar, bahwa jumlah korban tewas akibat gempa di Myanmar belum diketahui, namun mengatakan “kerusakannya sangat hebat”.

    “Jumlah korban tewas juga cukup tinggi. Itu saja yang bisa kami sampaikan saat ini karena upaya penyelamatan masih berlangsung,” kata tim penyelamat.

    “Jumlah korban tewas belum diketahui secara pasti, tetapi setidaknya mencapai ratusan.”

    Baca: Gempa magnitudo 7.7 guncang Thailand dan Myanmar

    ‘Korban berlimpah’ di rumah sakit 
    Seorang pejabat Myanmar mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa sebuah rumah sakit besar di ibu kota Naypyidaw telah menjadi “daerah dengan korban berlimpah” setelah gempa.

    Jalan-jalan di sekitarnya rusak akibat gempa dan rute menuju Rumah Sakit itu macet total.

    Di rumah sakit dengan 1.000 tempat tidur itu, korban luka dirawat di jalanan di luar, infus tergantung di brankar mereka.

    Beberapa orang tampak menggeliat kesakitan, sementara yang lain terbaring diam sementara kerabat berusaha menghibur mereka.

    Dewan militer Myanmar juga menyatakan RS yang dikelola pemerintah di Mandalay, Sagaing, dan Naypyidaw penuh dengan pasien yang terluka akibat gempa bumi dan pemerintah meminta masyarakat untuk menyumbangkan darah bagi para pasien.

    Baca: Refleksi 20 tahun gempa dan tsunami Aceh

    Seorang pengembang properti terkenal mengatakan bahwa banyak propertinya yang retak, sangat banyak bangunan runtuh, dan situasinya benar-benar buruk di Mandalay.

    Dewan militer Myanmar menyatakan bahwa Sagaing, Mandalay, Magway, Bago, Negara Bagian Shan Timur, dan Naypyidaw berada dalam situasi darurat.

    Mereka kini memprioritaskan penyelidikan kerusakan dan upaya penyelamatan di area-area tersebut.

    Episentrum gempa
    Di ibu kota Thailand, Bangkok, 70 pekerja konstruksi dilaporkan hilang di lokasi bangunan yang roboh, menurut Institut Nasional untuk Pengobatan Darurat di Thailand

    Dalam sebuah unggahan di Facebook, disebutkan bahwa ada sekitar 320 pekerja di lokasi tersebut pada saat insiden terjadi, dan 20 orang terjebak di terowongan lift.

    Jumlah korban tewas hingga kini belum diketahui, sementara sebuah rumah sakit lapangan telah didirikan di lokasi kejadian sementara tim penyelamat terus mencari korban selamat.

  • Korban Meninggal Akibat Gempa Myanmar Tembus 1000 Orang

    Korban Meninggal Akibat Gempa Myanmar Tembus 1000 Orang

    7cloud.asia – Lebih dari 1.000 orang telah dinyatakan meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang melanda Myanmar dan negara di sekitarnya, termasuk Thailand, Jumat (28/03/2025).

    Merujuk data terbaru yang disampaikan otoritas Myanmar, per Sabtu (29/3/2025) siang waktu setempat, jumlah penduduk yang tewas di negara itu telah mencapai 1.002 orang.

    Mayoritas korban tewas, yakni 694 orang, berada di Kota Mandalay. Kota terbesar kedua di Myanmar itu berjarak 60 kilometer dari pusat gempa yakni di barat laut Kota Sagaing.

    Kemudian 96 korban tewas berada di ibu kota Myanmar, Naypyidaw, 18 orang di Saggaing, dan 30 orang di Kyauk Se.

    Dilansir BBC Indonesia, jumlah korban luka di seluruh Myanmar dilaporkan mencapai 1.670 orang.

    Baca: Gempa magnitudo 7.7 guncang Thailand dan Myanmar

    Seorang anggota tim penyelamat di Mandalay, Myanmar, sebelumnya mengatakan kepada BBC bahwa jumlah korban tewas akibat gempa di Myanmar belum diketahui, namun mengatakan “kerusakannya sangat hebat”.

    “Jumlah korban tewas juga cukup tinggi. Itu saja yang bisa kami sampaikan saat ini karena upaya penyelamatan masih berlangsung,” kata tim penyelamat.

    Sementara di ibu kota Thailand, Bangkok, korban meninggal dunia mencapai enam orang. Terdapat pula 26 yang terluka dan 47 orang yang hilang di kota itu, menurut Wali Kota Bangkok, Chadchart Sittipunt.

    Di ibu kota Thailand, Bangkok, setidaknya 100 pekerja konstruksi dilaporkan hilang di lokasi bangunan yang roboh di dekat pasar Chatuchak, menurut Institut Nasional untuk Pengobatan Darurat di Thailand.

    Baca: Megathrust bukan mitos, rakyat Indonesia harus sadar bencana

    Dalam sebuah unggahan di Facebook, disebutkan bahwa ada sekitar 320 pekerja di lokasi tersebut pada saat insiden terjadi, dan 20 orang terjebak di terowongan lift.

    Otoritas SAR Thailand telah menemukan tanda-tanda kehidupan 15 orang yang terjebak di bawah reruntuhan.

    Tim penyelamat tengah berupaya memindahkan bagian yang runtuh dengan alat berat. Mereka menyatakan akan terus berusaha “untuk menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa”.

    Pemerintah Myanmar dan Thailand masih terus memperbarui data terkait korban. Artinya, jumlah korban masih dapat bertambah.

  • Gempa Myanmar Termasuk Gempa Dangkal Sehingga Guncangan Terasa Sangat Kuat

    Gempa Myanmar Termasuk Gempa Dangkal Sehingga Guncangan Terasa Sangat Kuat

    7cloud.asia – Hingga Minggu (30/3/2025) junta Myanmar menyebut 1.644 orang terkonfirmasi tewas akibat gempa magnitudo 7,7 pada 28 Maret 2025 itu. Jumlah korban gempa bumi Myanmar ini diperkirakan masih akan terus bertambah.

    Gempa magnitudo 7,7 ini juga melumpuhkan sejumlah kota di Myanmar, sehingga pemerintah bayangan bentukan oposisi Myanmar, Pemerintah Persatuan Nasional (NUG), menyatakan gencatan senjata sepihak demi memfasilitasi upaya pencarian korban.

    Gencatan senjata ini juga untuk memulihan sejumlah wilayah akibat gempa yang berpusat di Mandalay itu.

    Jika melihat rekaman video yang banyak beredar di media sosial, guncangan gempa Myanmar ini terlihat begitu kuat. Mengapa hal ini bisa terjadi? Berikut ulasannya yang kami rangkum dari berbagai sumber.

    Gempa magnitudo 7,7 yang guncangannya dirasakan hingga Thailand dan Vietnam itu dipicu oleh pergerakan Lempeng India yang bertumbukan dengan Lempeng Eurasia, yang melintasi wilayah negara Myanmar.

    Baca: Korban meninggal akibat gempa Myanmar capai ribuan

    Sama halnya dengan Indonesia, wilayah Myanmar juga termasuk wilayah aktif secara geologis. Selain berada di atas dua lempeng benua, Myamnar juga berada di atas lempeng lebih kecil, yakni Lempeng Sunda dan Lempeng Mikro Burma.

    Tumbukan antara Lempeng India dan Lempeng Eurasia pula yang membentuk Pegunungan Himalaya di masa purba, jauh di sebelah barat laut Myanmar.

    Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mengungkapkan gempa bumi Myanmar terjadi karena sesar geser antara lempeng India dan Eurasia, yakni Patahan Sagaing, yang membelah Myanmar dari utara sampai selatan sampai sepanjang 1.200 kilometer.

    Guncangan yang diakibatkan gempa Myanmar terasa demikian dahsyat karena termasuk gempa dangkal dengan kedalaman hanya 10 kilometer.

    Artinya sumber gempa Myanmar ini 2,5 km lebih dangkal dari Gempa Yogyakarta pada 2006 yang merenggut 6.000-an jiwa manusia.

    Baca: Megathrust bukan mitos sehingga Indonesia harus sadar bencana

     

    Dengan kedalaman gempa sedangkal itu dan berkekuatan lebih besar ketimbang Gempa Yogya, maka guncangan gempa Myanmar terasa lebih kuat.

    Menurut USGS, energi gempa berkekuatan 7,7 Magnitudo lebih besar dari bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima pada 1945, yang meratakan 70 persen bangunan dan menewaskan 140 ribu manusia.

    Kondisi ini diperparah oleh jenis tanah di Myanmar dan Thailand adalah tanah lunak, khususnya Bangkok di Thailand. Ketika terjadi di tanah lunak, gelombang seismik menjadi melambat dan bertambah besar, sehingga guncangan gempa terasa semakin kuat.

    Hal inilah yang mengakibatkan kerusakan yang diakibatkan lebih fatal dan mampu meruntuhkan sejumlah bangunan, termasuk gedung kantor auditor jenderal yang tengah dibangun di Distrik Chatuhak di Bangkok.

    Myanmar sebenarnya lebih sering diguncang gempa bumi ketimbang Thailand, tetapi di sini banyak gedung yang dibangun dengan mengindahkan ketentuan tahan gempa.

  • Myanmar Nyatakan Masa Berkabung Nasional Selama Tujuh Hari

    Myanmar Nyatakan Masa Berkabung Nasional Selama Tujuh Hari

    7cloud.asia – Junta militer Myanmar, Senin (31/3/2025) mengumumkan masa berkabung nasional selama tujuh hari usai gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang negara tersebut.

    Bendera nasional Myanmar akan dikibarkan setengah tiang sebagai bagian dari masa berkabung akibat gempa, sebut laporan media negara, MRTV.

    Sebelumnya oposisi Myanmar Pemerintah Persatuan Nasional (NUG), menyatakan gencatan senjata sepihak demi memfasilitasi upaya pencarian korban gempa yang berpusat di Mandalay ini.

    Baca: Penjelasan mengapa guncangan gempa Myanmar terasa sangat hebat

    Gencatan senjata dimulai pada 30 Maret itu akan berlangsung selama dua pekan untuk mengizinkan operasi penyelamatan korban gempa.

    Menurut laporan media Myanmar Now pada Minggu (30/3/2025), NUG, yang dibentuk oleh anggota legislatif yang tersingkir akibat kudeta militer pada Februari 2021 tersebut, akan mengirimkan personel Gerakan Pembangkangan Sipil untuk membantu operasi penyelamatan di daerah-daerah di bawah kendali junta.

    Namun, NUG memberi syarat supaya pihak militer memastikan keselamatan personel tersebut dan tidak melakukan penahanan.

    Baca: Megathrust bukan mitos, warga Indonesia kudu sadar bencana

    Sementara jumlah korban tewas akibat gempa bumi yang terjadi pada Jumat (28/3/2025) itu telah melampaui 1.700 jiwa. Sementara lebih dari 3.400 orang terluka dan 300 orang lainnya masih belum ditemukan.

    Pemimpin junta Myanmar, Min Aung Hlaing, telah melakukan pembicaraan telepon dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim guna membahas dampak bencana dan upaya penyelamatan serta bantuan.

    Rusia, India, China, Thailand, UAE, PBB, dan banyak negara lain juga telah mengirim tim khusus pencarian dan penyelamatan selain bantuan kemanusiaan.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

     

  • Sebanyak 73 Personel INASAR Bertolak ke Lokasi Gempa Myanmar

    Sebanyak 73 Personel INASAR Bertolak ke Lokasi Gempa Myanmar

    7cloud.asia – Kepala Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto melepas 73 personel Indonesia Search and Rescue (INASAR) menuju lokasi terdampak gempa di Myanmar, Selasa (1/4/2025).

    Dalam kesempatan ini Suharyanto didampingi Deputi Bidang Operasi Pencarian dan Pertolongan, dan Kesiapsiagaan Laksda TNI R. Eko Suyatno.

    Kepala BNPB dalam sambutan pelepasan tim INASAR menyampaikan bahwa gempa yang terjadi di Myanmar 28 Maret 2025 lalu memakan banyak korban jiwa.

    Baca: Myanmar umumkan masa berkabung nasional selama tujuh hari

    Perhari ini, Selasa (1/4/2025) sudah lebih dari 2600 korban yang meninggal dunia namun yang perlu diselamatkan juga masih banyak.

    Gempa magnitudo 7,7 ini juga melumpuhkan sejumlah kota di Myanmar, sehingga pemerintah bayangan bentukan oposisi Myanmar, Pemerintah Persatuan Nasional (NUG), menyatakan gencatan senjata sepihak demi memfasilitasi upaya pencarian korban.

    Suharyanto menambahkan, untuk kondisi tempat penugasan kali ini tidak seperti di dalam negeri atau tidak seperti penugasan Basarnas 2023 lalu ketika gempa Turkiye dan Suriah.

    “Mungkin situasi disana lebih sulit karena diinformasikan komunikasi belum berjalan bagus, beberapa daerah listrik masih padam. Tentunya yang mendukung tim INASAR disana sangat terbatas,” ujarnya.

    Baca: Mengapa guncangan gempa Myanmar terasa begitu dahsyat

    Kepala BNPB juga yakin personel Indonesia dapat melaksanakan tugas dengan optimal, berbekal dari pengalaman di Turkiye meskipun sudah lewat dari golden time, tim INASAR masih bisa mengevakuasi kurang lebih 15 jenazah dan itu bisa menjadi modal untuk bertugas di Myanmar.

    “Saat ini sudah banyak negara yang mengirimkan bantuan personel diantaranya Singapura, Malaysia, Philipina, Korea Selatan, dan China. Semua kekuatan negara hampir sama dan mereka bekerja bersama-sama tidak menonjolkan batas-batas negara,” sambungnya.

    Bantuan yang dikirimkan Indonesia mencakup tim penyelamatan, tenaga medis, serta logistik yang dikirimkan menggunakan dua pesawat Hercules dan satu pesawat Boeing 747 dari Lapangan Udara Halim Perdanakusumah.

  • Setidaknya 35 Rumah Rusak Akibat Gempa Magnitudo 4,1 yang Mengguncang Bogor

    Setidaknya 35 Rumah Rusak Akibat Gempa Magnitudo 4,1 yang Mengguncang Bogor

    7cloud.asia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat setidaknya 35 unit rumah rusak akibat gempa bumi dangkal berkekuatan 4,1 magnitudo yang mengguncang Bogor Kamis, (10/4/2025) malam

    “Dari situ di Kota Bogor ada 25 keluarga penghuni rumah yang terdampak dan 10 keluarga di Kabupaten Bogor. Lalu ada satu warga Kota Bogor mengalami luka-luka yang ringan,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangan di Jakarta, Jumat (11/4/2025) malam.

    Dia menyebutkan bahwa hasil pendataan jumlah kerusakan terkini dari tim reaksi cepat badan penanggulangan bencana daerah itu masuk dan diterima tim pusdalops BNPB, pada sore pukul 15.00 WIB tadi.

    BNPB mengklasifikasikan untuk dampak kerusakan di Kota Bogor meliputi 24 unit rumah rusak ringan dan satu unit rumah rusak sedang.

    Sementara di Kabupaten Bogor, tercatat sembilan rumah rusak ringan dan satu rumah rusak sedang. Selain itu, satu fasilitas pendidikan di Kota Bogor juga dilaporkan mengalami kerusakan ringan. “Kerusakan rata-rata di dinding bangunan, ornamen bagian atap bangunan, ” ujarnya.

    Gempa bumi yang berpusat di darat itu terjadi pada Kamis (10/4) pukul 22.16 WIB dengan kedalaman 5 kilometer dan koordinat episenter di 6,62 Lintang Selatan dan 106,80 Bujur Timur.

    Menurutnya, guncangan gempa dangkal ini dirasakan warga selama dua hingga tiga detik dengan intensitas sedang.

    Adapun wilayah terdampak guncangan gempa di Kota Bogor meliputi Kelurahan Kedunghalang (Kecamatan Bogor Utara); Kelurahan Cilendek Timur, Cilendek Barat, Menteng, dan Pasir Jaya (Kecamatan Bogor Barat);

    Juga Kelurahan Panaragan, Curugmekar, dan Gudang (Kecamatan Bogor Tengah); serta Kelurahan Rancamaya, Muarasari, dan Bondongan (Kecamatan Bogor Selatan). Sementara di Kabupaten Bogor, kerusakan terjadi di Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang.

    “Warga sudah kembali ke rumah mereka masing-masing dan kondisi di lokasi terdampak pada malam ini sudah kembali kondusif,” ungkapnya.

    Meski demikian, Abdul memastikan bahwa BNPB bersama dengan dinas teknis pemerintah Kota Bogor – Kabupaten Bogor siap mendampingi penanganan dampak gempa yang dilakukan secara bertahap, termasuk melakukan pemetaan kebutuhan darurat apabila memang diperlukan.

  • Mengenal Patahan Citarik yang Memicu Gempa Bogor

    Mengenal Patahan Citarik yang Memicu Gempa Bogor

    7cloud.asia – Pada Kamis (10/4/2025) Bogor dilanda gempa magnitudo 4.1 yang berpusat sekitar 2 kilometer dari Kota Bogor dimana bisa dikatakan titiknya berada di Kota Bogor.

    Warga Bogor dan sekitarnya merasakan guncangan gempa yang relatif kuat dan terdengar suara gemuruh/dentuman. Kejadian suara gemuruh ini menurut Daryono, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, muncul karena getaran frekuensi tinggi dekat permukaan.

    Suara ini sekaligus sebagai bukti bahwa gempa yang terjadi memiliki kedalaman hiposenter sangat dangkal. Semua gempa sangat dangkal disertai dengan suara ledakan, dentuman dan gemuruh dan ini adalah kejadian normal

    Fenomena gempa Bogor ini adalah fenomena gempa tektonik dan tidak berhubungan dengan aktifitas Gunung Salak, pengeboran, pengalihan isu atau apapun itu.

    “Jika ada yang mengaitkan gempa ini dengan hal-hal lain di luar penyebab tektonik maka itu semua adalah hoax,” ujar Daryono sebagaimana dikutip dari pesan yang diterima 7cloud.asia

    Untuk pertanyaan apakah patahan ini berpotensi menyebabkan gempa besar, maka jawabannya adalah iya. Hanya saja perlu diingat bahwa gempa tidak bisa diprediksi sama sekali kapan tepatnya akan terjadi.

     

    Baca: Megathrust yang bisa picu gempa dan tsunami di Indonesia

    Dijelaskan oleh Daryono, gempa Bogor dipicu patahan Citarik merupakan patahan aktif yang memulai aktifitasnya sejak 15.000.000 tahun lalu pada masa Miosen.

    Patahan Citarik ini memiliki panjang sekitar 250 kilometer yang membentang dari Pelabuhanratu di Sukabumi hingga ke Ujung Pantai Utara Bekasi. Adapun sesar ini terbagi ke dalam tiga segmen patahan yaitu Segmen Selatan, Segmen Tengah dan Segmen Utara

    Patahan Citarik ini memiliki mekanisme pergerakan Sinistral Strike Slip (Bergerak mendatar ke kiri) dengan laju pergerakan yang belum diketahui

    Keberadaan Patahan Citarik ini dibuktikan dari beberapa morfologi yang terjadi di sepanjang patahan ini yaitu terjadinya kelurusan perbukitan diwilayah Gunung Salak di mana terlihat rekahan di Gunung Salak.

    Patahan Citarik ini juga mempengaruhi pembentukan Gunung Salak lalu terlihat juga kelurusan perbukitan diwilayah Citeureup Bogor.

    Patahan ini melewati beberapa wilayah padat pemukiman yaitu Kota Bogor, Cileungsi, Gunung Putri dan Bekasi.

    Jika dilihat dari aktifitas kegempaannya Patahan Citarik ini terbilang minim menghasilkan gempa bumi dan bagian paling aktif kegempaan dari patahan ini adalah berada di Segmen Selatan yaitu antara Pelabuhanratu hingga Kota Bogor.

    “Di bagian ini sering terjadi gempa kecil dan swarm,” imbuh Daryono.

    Baca: BRIN petakan sesar di Pulau Jawa

    Sejarah gempa
    Meski relatif minim, kegempaan dari Patahan Citarik bukan berarti tak ada. Gempa-gempa di sekitar patahan ini didominasi oleh gempa swarm (gempa bergerumbul dalam kejadian relatif berdekatan).

    Berikut beberapa sejarah gempa yang kemungkinan besar dari aktifitas patahan Citarik ini:
    1. Tahun 1833 di Jakarta dan 1852 di Bogor namun gempa ini tidak diketahui kekuatannya (Irsyam et al 2010)

    2. M5.6 pada 9 Februari 1975 gempa ini terjadi pada kedalaman 27 kilometer dan berpusat di wilayah Gunung Salak serta dirasakan MMI VI Pamijahan. V Kabandungan, Ciampea, Bogor, Ciawi, Leuwiliang (USGS)

    3. M5.4 pada 12 Juli 2000 gempa berada dikedalaman 33 kilometer dan berpusat diwilayah Ciawi dan Caringin serta dirasakan MMI V di Bogor dan Ciawi (USGS)

    4. M4.3 pada 20 Desember 2000 gempa berpusat di wilayah Taman Sari dan dirasakan dalam intensitas MMI III-IV di Taman Sari dan Bogor (USGS)

    5. M4.4 pada 3 November 2003 pusat gempa sekitar 8 kilometer Timur Kota Bogor pada kedalaman 33 kilometer yang berada dekat di jalur Patahan Citarik (USGS)

    6. M4.1 pada 11 Oktober 2008 di wilayah Kabandungan pada kedalaman 10 kilometer (USGS)

    7. M5.0 pada 10 Maret 2020 di wilayah Kabandungan pada kedalaman 10 kilometer dan gempa ini dirasakan MMI V. Gempa ini menyebabkan banyak kerusakan di wilayah Kabandungan

    8. Beberapa gempa swarm terjadi di sekitar patahan ini tahun 2019 dan 2020 di wilayah Kabandungan dan Desa Malasari

  • Gencatan Senjata di Myanmar Diperpanjang Hingga Akhir Juni Demi Pemulihan Pasca Gempa

    Gencatan Senjata di Myanmar Diperpanjang Hingga Akhir Juni Demi Pemulihan Pasca Gempa

    7cloud.asia – Militer Myanmar mengumumkan perpanjangan gencatan senjata hingga 30 Juni, menurut laporan TV Internasional Myanmar yang dikelola pemerintah pada Minggu (1/6/2025)

    Gencatan senjata yang berlaku mulai 1 Juni itu bertujuan untuk memfasilitasi upaya pemulihan dan pemukiman kembali warga setelah gempa bumi dahsyat baru-baru ini.

    Gencatan senjata tersebut juga sekaligus untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas nasional pasca gempa di Myanmar

    Baca: Sekjen PBB serukan mobilisasi bantuan untuk korban gempa Myanmar

    Gencatan senjata sebelumnya, yang berlaku dari 6-31 Mei, awalnya dideklarasikan untuk mendukung operasi penyelamatan dan bantuan setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 pada 28 Maret lalu.

    Gempa Myanmar ini menewaskan sekitar 3.800 orang dan menyebabkan puluhan ribu orang mengungsi.

    Saat menyampaikan pengumuman pada Sabtu (31/5/2025) militer Myanmar meminta organisasi etnis bersenjata dan kelompok militan lainnya untuk menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang dapat mengancam keselamatan publik atau stabilitas nasional.

    Baca: Masa berkabung nasional selama 7 hari untuk korban gempa Myanmar

    Militer juga mendesak mereka untuk tidak melakukan serangan terhadap rute transportasi, warga sipil, pasukan keamanan, dan pos militer, serta menahan diri untuk tidak melakukan perekrutan atau perluasan wilayah.

    Militer memperingatkan bahwa mereka akan melakukan aksi tanggap jika aktivitas semacam itu terjadi demi melindungi warga sipil.

    Myanmar masih didera oleh konflik yang sedang berlangsung, terutama di wilayah utara, di mana kelompok etnis bersenjata terus bentrok dengan rezim militer yang berkuasa melalui kudeta pada 2021.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu