Tag: kekeringan

  • Musim Kemarau, Wilayah Banyumas Mulai Kekeringan

    Musim Kemarau, Wilayah Banyumas Mulai Kekeringan

    7cloud.asia – Musim kemarau tengah melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Beberapa wilayah mengalami kekeringan, seperti yang terjadi di Banyumas, Jawa Tengah.

    Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas, Budi Nugroho wilayah yang terdampak kekeringan di wilayah tesebut mencapai 28 desa yang tersebar di 13 kecamatan.

    “Bahkan, RSUD Banyumas juga turut terdampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini,” ungkap Budi Nugroho seperti yang dilansir Antaranews pada Rabu (28/08/2024).

    Selanjutnya Budi menjelaskan, kekeringan ini berdampak pada 7.575 keluarga yang terdiri atas 23.846 jiwa.

    Baca: Kekeringan melanda Yogyakarta

    Karena itu, lanjut Budi, pihaknya telah menyalurkan bantuan air bersih yang bersumber dari APBD Kabupaten Banyumas sebanyak 133 tangki setara dengan 665.000 liter.

    Bantuan air bersih ini akan disalurkan kepada warga di 28 desa yang terdampak kekeringan termasuk juga RSUD Banyumas.

    Selain BPBD, bantuan air bersih juga disalurkan oleh PMI Kabupaten Banyumas sebanyak 44 tangki setara dengan 220.000 liter dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy sebanyak 1 tangki atau 5.000 liter.

    Pada kesempatan itu Budi mengatakan kekeringan tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga berdampak pada hutan yang menjadi rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Banyumas.

    Baca: Sejumlah wilayah di Aceh berpotensi kekeringan hingga September

    Data yang dihimpun BPBD Banyumas selama musim kemarau tahun 2024 telah terjadi 12 kejadian karhutla di 12 desa/kelurahan dengan total luas lahan yang terbakar mencapai 30,914 hektare.

    Karena itu, BPBD mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah atau rumput di lahan maupun hutan serta tidak membuang puntung rokok sembarangan agar tidak terjadi karhutla.

    “Apalagi saat sekarang sedang puncak musim kemarau dan angin juga cukup kencang, sehingga sekecil apapun api yang dibuat akan berisiko terhadap terjadinya karhutla,” ujarnya.

  • Musim Kemarau, Bandung Siaga Darurat Bencana Kekeringan

    Musim Kemarau, Bandung Siaga Darurat Bencana Kekeringan

     

    7cloud.asia – Musim kemarau tengah melanda beberapa wilayah di Indonesia. Kekeringan pun tak terelakkan. Status siaga darurat bencana kekeringan diberlakukan. Seperti di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

    Sejak status siaga darurat bencana kekeringan ditetapkan Agustus lalu hingga Oktober 2024,  Pemerintah Kabupaten Bandung mengharuskan semua pihak termasuk masyarakat untuk waspada.

    Sebab bencana kekeringan, kebakaran hutan dan lahan berpotensi besar terjadi saat musim kemarau seperti saat ini.

    “Pemkab Bandung menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan di wilayah Kabupaten Bandung sejak 6 Agustus 2024 lalu hingga memasuki awal musim hujan mendatang,” jelas Bupati Bandung, Dadang Supriatna di Bandung seperti yang dilansir Antaranews.

    Baca: Ribuan warga di Jonggol krisis air bersih

    Dalam menghadapi potensi kekeringan, katanya, pihaknya telah memerintahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung untuk memberikan pelayanan air bersih secara optimal kepada masyarakat.

    “Hasil dari pelaksanaan rapat dengan BPBD, kami tindaklanjuti dengan pelaksanaan kaji cepat, mengingat sampai saat ini banyak surat yang masuk ke BPBD untuk permintaan air bersih,” urainya

    Untuk memenuhi permintaan masyarakat, lanjut Dadang, BPBD telah menyiagakan pasokan air serta personel yang siap untuk dikerahkan saat terjadi bencana kekeringan di Kabupaten Bandung.

    Selain itu, pihaknya juga melakukan upaya pengurangan risiko bencana kekeringan.

    Baca: Kekeringan melanda Yogyakarta, status siaga darurat

    “Dalam beberapa hari terakhir ini terjadi peningkatan permintaan pasokan air bersih dari masyarakat kepada BPBD. Sudah ada peningkatan permintaan air minum dari desa-desa di Kabupaten Bandung,” ungkapnya.

    Berdasarkan info prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), wilayah Kabupaten Bandung akan memasuki musim hujan awal Oktober 2024. Meski demikian, kata Dadang, beberapa wilayah kini sudah ada yang turun hujan.

    Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Uka Suska mengimbau masyarakat tidak membakar sampah rumah tangga saat musim kemarau agar terhindar dari kebakaran.

    Baca: Wilayah Banyumas mulai kekeringan

    “Jangan buang sampah sembarangan atau bakar sampah sembarangan. Masyarakat harus bijak mengelola sampah, secara ramah lingkungan,” ujar Uka.

    Menurutnya masyarakat dapat mengolah sampah tersebut menjadi pupuk organik.

    “Apalagi di musim kemarau ini, tumpukan sampah rawan terjadi kebakaran. Sampah rumah tangga, khususnya sampah organik bisa digunakan untuk pupuk organik tanaman,” jelasnya.

    Selain tidak membakar sampah, masyarakat juga diimbau untuk menghemat penggunaan air bersih yang biasa digunakan sehari-hari selama musim kemarau.

  • Brasil Alami Kekeringan Terburuk dalam 70 Tahun Terakhir

    Brasil Alami Kekeringan Terburuk dalam 70 Tahun Terakhir

    7cloud.asia – Brasil mengalami kekeringan terburuk sejak pengukuran nasional dimulai lebih dari 70 tahun lalu.

    Data menunjukkan bahwa hingga 59 persen wilayah Brasil merasakan dampak kekeringan kali ini. Wilayah ini setara dengan setengah dari luas Amerika Serikat,

    Kekeringan bukan satu-satunya masalah yang melanda salah satu negara terbesar di Amerika Selatan itu.

    Sejak awal tahun 2024 hingga 8 September, Brasil mencatat hampir 160.000 kebakaran, tahun terburuk sejak 2010.

    Umumnya kebakaran itu disebabkan ulah manusia sebagai bagian dari proses penggundulan hutan atau pembersihan padang rumput dan lahan pertanian.

    Baca: Brasil bagian selatan dilanda banjir, tewaskan lebih 100 orang

    Sejauh ini, area seluas Italia telah terbakar di Brasil, dan asap semakin menyulitkan perjalanan melintasi sungai-sungai di Lembah Amazone.

    “Kekeringan ini benar-benar merugikan kami,” kata petani Isabel Lima sewaktu ia hendak meninggalkan perahunya.

    Ketinggian air sungai mencatat titik terendah dalam sejarah dan hujan lebat diperkirakan baru akan turun Oktober mendatang.

    Sungai-sungai utama di lembah Amazon mencatat titik terendah dalam sejarah, dan telah menelantarkan puluhan komunitas, seperti Kota Coari, di negara bagian Amazonas.

    Baca: WMO sebut pemanasan global picu bencana ekologis

    Penduduk Coari kesulitan mendapatkan pangan, air, dan obat-obatan, karena akses utama ke kota itu melalui air.

    Rita Gomes, salah seorang warga, telah tinggal di sebuah rumah terapung di pinggiran Sungai Solimoes selama 24 tahun.

    Ia kini perlu berjalan di atas area sungai yang mengering untuk mengambil barang-barang yang tiba bagi para warga di Coari.

    “Sangat berbahaya jika [kita] terjatuh di lumpur, karena kadang-kadang terdapat ikan pari yang terjebak di sungai, sehingga kami berjalan perlahan melewatinya,” ujar Gomes.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Sekitar 200 Hektare Lahan Persawahan di NTB Gagal Panen Akibat Kekeringan

    Sekitar 200 Hektare Lahan Persawahan di NTB Gagal Panen Akibat Kekeringan

    7cloud.asia – Dinas Pertanian dan Perkebunan Nusa Tenggara Barat (NTB) mengungkapkan sekitar 200 hektare lahan pertanian di provinsi itu gagal panen akibat kekeringan.

    “Yang gagal panen itu kita hitung ada 1,62 persen atau sekitar 1.400 ton. Kalau dikonversi luas lahan yang terdampak itu ada 200 hektare dari total 242 ribu hektare luas area tanam di NTB,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB Taufieq Hidayat di Mataram, Jumat (18/10/2024)

    Ia mengakui meski ada sekitar 200 hektare lahan pertanian yang mengalami gagal panen akibat kekeringan, hal itu belum sampai mengganggu ketersediaan atau stok pangan di NTB.

    Sebab, di triwulan ketiga, produksi lahan pertanian yang sudah panen sebanyak 1,262 juta ton gabah kering giling (GKG) dari target produksi yang ditetapkan pemerintah sebanyak 1,4 juta ton lebih.

    “Artinya, kalau melihat jumlah panen kita sudah sangat mencukupi ketersediaan pangan. Karena, kebutuhan daerah kita sekitar 962 ribu ton gabah kering giling,” ujarnya.

    Baca: Brasil alami kekeringan terburuk dalam 70 tahun terakhir

    Taufieq menambahkan walaupun ada gagal panen, hal itu bisa ditutupi dengan tambahan areal tanam seluas 54 ribu hektare dan yang dimanfaatkan ada sekitar 36 ribu hektare.

    “Meski gagal panen, kita terbantu dengan adanya program pompanisasi 4.100 unit dari Kementerian Pertanian yang dikirim ke NTB, sehingga kekeringan yang meluas tidak berpengaruh terhadap target produksi padi kita. Karena, dengan adanya pompanisasi, yang tadinya menanam satu kali bisa menjadi dua kali, dari yang dua kali bisa menanam tiga kali,” kata Taufieq Hidayat.

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan sebanyak empat daerah di NTB berada para level awas kekeringan meteorologi dampak musim kemarau 2024.

    Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi NTB Suci Agustiani mengatakan berdasarkan monitoring, analisis dan prediksi curah hujan dasarian, terdapat indikasi kekeringan meteorologi (iklim) sebagai dampak dari kejadian hari kering berturut-turut dengan potensi waspada, siaga dan awas.

    “Level awas ada empat daerah, yakni di Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima, Sumbawa, dan Kabupaten Lombok Timur,” katanya

    Baca: WMO ingatkan perubahan iklim memicu bencana ekologis

    Sementara untuk wilayah level waspada di Kota Bima dan level siaga kekeringan berpotensi di sebagian wilayah Kabupaten Bima.

    “Memasuki periode peralihan musim ini, waspada bencana hidrometeorologis,” katanya.

    Hasil monitoring indeks IOD dan ENSO pada akhir September 2024, Indeks Dipole Mode menunjukkan angka -0.10 (Netral), dan indeks ENSO bernilai -0.48 (Netral). IOD Netral diprediksi berlangsung hingga awal tahun 2025.

    Sementara itu, ENSO diprediksi berpotensi menuju La Nina mulai Oktober 2024. Aliran massa udara pada pertengahan September 2024 masih didominasi oleh angin timuran.

    “Saat ini Madden Julian Oscillation (MJO) terpantau tidak aktif di phase 4 dan 5. MJO diprediksi tetap tidak aktif setidaknya awal Oktober 2024,” katanya.

    Saat ini seluruh wilayah NTB masih dalam periode musim kemarau, masyarakat NTB diimbau agar dapat menggunakan air secara bijak, efektif dan efisien.

    Sumber:Antaranews.com

  • Kekeringan dan Krisis Air Global Sudah di Depan Mata

    Kekeringan dan Krisis Air Global Sudah di Depan Mata

    7cloud.asia – Semakin jelas bahwa kekeringan di seluruh dunia semakin sering terjadi dan intens, serta terjadi dalam jangka waktu yang semakin lama.

    Hal ini paling jelas terlihat dari kekeringan serius yang sedang berlangsung di wilayah barat AS, yang selama ini dikenal sebagai wilayah dengan kondisi terkering dalam sejarah.

    Tidak ada benua di dunia yang tidak mengalami kelangkaan air, dan semakin banyak wilayah yang mencapai batas kemampuan menyediakan layanan air secara berkelanjutan, terutama di wilayah kering.

    Hampir dua pertiga penduduk dunia diperkirakan akan menghadapi kelangkaan air pada tahun 2025. Tren yang mengkhawatirkan ini menyebabkan banyak orang bertanya-tanya: “apakah dunia akan kehabisan air”?

    Jawaban singkatnya adalah ya, terutama didorong oleh perubahan iklim dan pertumbuhan populasi global. Kami menelusuri penyebab lain yang ada dan dampak besarnya di seluruh dunia.

    Baca: Banyak negara miskin tak punya pemantauan dan data kualitas air tawar

    Kekeringan dan Perubahan Iklim
    Kekurangan air terjadi karena beberapa faktor; salah satu penyebab terbesar kelangkaan air adalah kekeringan.

    Kekeringan merupakan fenomena alam dimana kondisi kering dan kurangnya curah hujan –baik hujan, salju, atau hujan es– terjadi di wilayah tertentu dalam jangka waktu tertentu.

    Meskipun jumlah curah hujan secara alami dapat bervariasi antar wilayah dan waktu dalam setahun, perubahan iklim dan peningkatan suhu global mengubah pola curah hujan, yang pada gilirannya berdampak pada kualitas dan distribusi spasial sumber daya air global.

    Temperatur yang lebih hangat berarti kelembapan di dalam tanah menguap lebih cepat, dan gelombang panas yang lebih sering dan parah memperburuk kondisi kekeringan dan berkontribusi terhadap kekurangan air.

    Kondisi ini juga menjadi tempat berkembang biaknya kebakaran hutan, yang selanjutnya memicu musim kemarau dan kekurangan air.

    Baca: Separuh ekosistem air tawar dunia mengalami degradasi

    Dalam laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) tahun 2018, para ilmuwan iklim mengatakan bahwa air tanah yang disimpan di akuifer, yang menyediakan 36persen pasokan air domestik dunia untuk lebih dari 2 miliar orang, sangat sensitif terhadap perubahan iklim di masa depan.

    Mereka juga menyimpulkan bahwa wilayah basah diperkirakan akan menjadi lebih basah, sedangkan wilayah kering akan menjadi lebih kering.

    Di China misalnya, Sungai Yangtze dan Sungai Kuning merupakan dua sumber air utama yang menyokong negara tersebut. Mereka mengandalkan air lelehan glasial dari Dataran Tinggi Qinghai-Tibet.

    Pemanasan global, dimana suhu di wilayah glasial meningkat sebesar 3-3,5C selama setengah abad terakhir, telah menghasilkan lebih sedikit salju dan massa es, menyebabkan limpasan glasial ke Sungai Yangtze berkurang sebesar 13,9 persen sejak tahun 1990an. (Sumber: earth.org)

  • UNCDD: Lebih Separuh Permukaan Bumi Terancam Kekeringan Permanen dalam Beberapa Dekade Mendatang

    UNCDD: Lebih Separuh Permukaan Bumi Terancam Kekeringan Permanen dalam Beberapa Dekade Mendatang

    7cloud.asia – Menurut laporan terbaru Organisasi Pencegahan Penggurunan PBB (UN Convention to Combat Desertification/UNCCD), tiga perempat tanah di muka Bumi ini akan mengalami pengeringan secara permanen dalam beberapa puluh tahun mendatang.

    UNCCD mengungkapkan temuan tersebut dalam laporan berjudul The Global Threat of Drying Lands: Regional and global aridity trends and future projections yang dirilis dalam Konferensi Para Pihak ke-16 (COP16) di Riyadh, Arab Saudi, Senin (9/12/2024).

    Dalam beberapa puluh tahun terakhir, 77,6 persen daratan Bumi melewati ambang batas kekeringan yaitu dari lahan tidak kering menjadi lahan kering, atau dari kelas lahan kering yang kurang kering ke kelas yang lebih kering.

    Lahan kering yang meluas membuat ekosistem dan penduduk yang tinggal di sana menderita akibat dampak kekeringan yang mengancam jiwa.

    Diperkirakan 25 persen populasi dunia atau sekitar 2,3 miliar orang akan tinggal di wilayah yang akan mengalami kekeringan permanen.

    Ilmuwan dari UNCCD Barron Orr menyampaikan, tanpa adanya upaya bersama-sama, miliaran orang akan terdampak kekeringan seperti kelaparan, kemiskinan, hingga pengungsian paksa.

    “Namun, dengan merangkul solusi inovatif dan membina solidaritas global, umat manusia dapat bangkit untuk menghadapi tantangan ini,” ujar Orr dikutip dari siaran pers, Senin (9/12/2024).

    “Pertanyaannya bukanlah apakah kita memiliki alat untuk merespons, melainkan apakah kita memiliki kemauan untuk bertindak,” sambungnya.

    Menurut laporan tersebut, dampak dari meningkatnya kekeringan menyentuh hampir setiap aspek kehidupan dan masyarakat. Diingatkan, seperlima dari seluruh daratan dapat mengalami perubahan ekosistem yang mendadak akibat meningkatnya kekeringan pada akhir abad ini.

    Di sisi lain, lebih dari dua pertiga dari seluruh lahan di planet Bumi diproyeksikan akan menyimpan lebih sedikit air pada akhir abad ini, jika emisi gas rumah kaca terus meningkat.

    Contoh perubahan tersebut seperti terdegradasinya hutan menjadi padang rumput. Kondisi ini bisa menyebabkan banyak kepunahan, baik pada tumbuhan maupun hewan.

    Kekeringan dianggap sebagai penyebab terbesar dari degradasi sistem pertanian. Di mana 40 persen lahan subuh di Bumi saat ini mengalami degradasi.

    Selain itu, kekeringan dianggap sebagai salah satu dari lima penyebab degradasi lahan terpenting di dunia. Meningkatnya kekeringan di Timur Tengah berkaitan dengan lebih seringnya badai pasir dan debu yang lebih besar di wilayah tersebut.

    Peningkatan kekeringan diperkirakan juga akan meningkatkan kebakaran hutan yang lebih besar dan lebih intens di masa depan.

    Di samping itu, kekeringan juga berdampak pada kemiskinan, kelangkaan air, degradasi lahan, dan tentu saja produksi pangan.

    Berbagai sebab tersebut memiliki kaitan dengan meningkatnya angka penyakit dan kematian secara global, terutama di kalangan anak-anak dan perempuan

    COP16 Riyadh yang berlangsung pekan lalu menghasilkan komitmen Rp 191 triliun untuk atasi kekeringan dan degradasi lahan akibat kekeringan.

  • Perubahan Iklim Memicu Kekeringan dan Krisis Air Global

    Perubahan Iklim Memicu Kekeringan dan Krisis Air Global

    7cloud.asia – Kekeringan di seluruh dunia menjadi lebih sering terjadi dan intens, serta terjadi dalam periode waktu yang semakin lama dalam beberapa dekade terakhir.

    Hal ini paling nyata terlihat pada kekeringan hebat yang sedang terjadi di wilayah barat Amerika Serikat, yang mengalami kondisi terkering sepanjang sejarah. Hal inilah yang memicu kebakaran hebat di Los Angeles beberapa waktu lalu.

    Tidak ada benua di Bumi yang tidak tersentuh oleh kelangkaan atau krisis air beberapa tahun ini. Dan, semakin banyak wilayah yang mencapai batas di mana mereka dapat menyediakan layanan air secara berkelanjutan, terutama di wilayah kering.

    Hampir dua pertiga populasi dunia diperkirakan akan menghadapi krisis air pada tahun 2025. Tren yang mengkhawatirkan ini menyebabkan banyak orang bertanya: “apakah kita kehabisan air”?

    Jawaban singkatnya adalah ya, terutama didorong oleh perubahan iklim dan pertumbuhan populasi global. Earth.org menelusuri penyebab-penyebab lain dan dampak-dampak utamanya di seluruh dunia.

    Baca: Separuh populasi dunia terancam krisis air

    Kekeringan dan Perubahan Iklim
    Krisis air terjadi karena sejumlah faktor; Salah satu penyebab terbesar krisis air adalah kekeringan.

    Kekeringan merupakan fenomena alam ketika kondisi kering dan kurangnya presipitasi –baik berupa hujan, salju, atau hujan es– terjadi di wilayah tertentu selama kurun waktu tertentu.

    Meskipun jumlah curah hujan secara alami dapat bervariasi antara berbagai daerah dan waktu dalam setahun, perubahan iklim dan meningkatnya suhu global mengubah pola curah hujan, yang pada gilirannya berdampak pada kualitas dan distribusi spasial sumber daya air global.

    Suhu yang lebih hangat berarti kelembaban di tanah menguap lebih cepat, dan gelombang panas yang lebih sering dan parah memperburuk kondisi kekeringan dan berkontribusi terhadap kekurangan air.

    Baca: Langkah global untuk mengatasi krisis air

    Kondisi yang sangat kering ini juga menciptakan kondisi sempurna terjadinya kebakaran hutan, yang selanjutnya memperparah musim kemarau dan tekanan air.

    Dalam laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) tahun 2018, ilmuwan iklim mengatakan bahwa air tanah yang tersimpan dalam akuifer, sangat sensitif terhadap perubahan iklim di masa mendatang.

    Peringatan ini berdampak serius, pasalnya akuifer ini menyediakan 36 persen pasokan air domestik dunia untuk lebih dari 2 miliar penduduk dunia.

    Para ahli juga menyimpulkan bahwa wilayah basah diperkirakan akan menjadi lebih basah sementara wilayah kering akan menjadi lebih kering akibat perubahan iklim.

    Baca: Cinta Laura kampanyekan upaya konservasi air bersih

    Di China, misalnya, Sungai Yangtze dan Sungai Kuning merupakan dua sumber air utama yang menghidupi negara tersebut. Mereka mengandalkan air lelehan gletser dari Dataran Tinggi Qinghai-Tibet.

    Pemanasan global, di mana suhu di wilayah gletser telah meningkat sebesar 3 hingga 3.5°C selama setengah abad terakhir, telah menghasilkan lebih sedikit salju dan massa es.

    Kondisi ini menyebabkan limpasan gletser ke Sungai Yangtze berkurang sebesar 13,9 persen sejak tahun 1990-an.

    Kekeringan dan krisis air juga disebabkan oleh pengelolaan air yang buruk, meningkatnya permintaan dan polusi air yang terus meningkat. Ulasannya akan kami sajikan dalam tulisan selanjutnya.

  • Perubahan Iklim Memaksa Tumbuhan Lebih Sering “Berpuasa”

    Perubahan Iklim Memaksa Tumbuhan Lebih Sering “Berpuasa”

    7cloud.asia – Tahukah kamu jika puasa bukan cuma dilakukan manusia, tapi juga terjadi di dunia tumbuhan?

    Tentu saja, jangan membayangkan tumbuhan “berpuasa” dalam arti tradisional seperti cara puasa yang dilakukan manusia. Tumbuhan punya cara sendiri dalam berpuasa.

    Jika manusia biasanya berpuasa pada waktu tertentu seperti saat bulan Ramadan, tumbuhan berpuasa saat kondisi tertentu. Misalnya, saat tidak ada asupan air di masa kekeringan atau saat cuaca panas ekstrem.

    Selama “berpuasa”, tumbuhan memperlambat aktivitas metabolisme tubuhnya demi bertahan hidup dalam kondisi yang kurang mendukung.

    “Puasa” tumbuhan biasa dilakukan dalam beberapa bentuk, seperti:

    1. Dormansi biji
    Dormansi berarti tidur, mengurangi aktivitas pertumbuhan, atau bisa disebut juga “berpuasa tumbuh”. Biji akan dorman saat berada dalam kondisi lingkungan sekitar yang tidak cocok untuk perkecambahan.

    Misalnya, biji jatuh di bebatuan atau tanah yang kering akan menyebabkan biji “berpuasa” atau tidak banyak melakukan aktivitas pertumbuhan.

    Ada dua hormon penentu kapan biji harus “berpuasa” atau berkecambah, yakni asam absisat (ABA) dan giberelin. Kadar ABA tinggi menyebabkan biji tetap “berpuasa”, dan sebaliknya, giberelin yang tinggi akan membuat biji berkecambah.

    Baca: BRIN dorong pemuliaan tanaman pisang liar 

    2. Dormansi tunas
    Tunas adalah bagian ujung dari tumbuhan, yang biasanya ada di batang, daun, atau akar. Tunas disebut dorman saat meristem atau jaringan tumbuhan yang aktif membelah, tidak bekerja.

    Dormansi tunas umum terjadi pada pohon yang hidup di negeri empat musim, seperti pohon poplar (Populus tremula) atau sakura (Prunus serrulata), saat mereka memasuki musim dingin.

    3. Absisi atau menggugurkan daun
    Jika kamu pernah melihat pohon-pohon menggugurkan daun, itu juga adalah salah satu bentuk “puasa” tumbuhan.

    Daun adalah “dapur” tumbuhan tempat mereka memasak bahan-bahan “makanan” yang diperoleh dari tanah (air) dan udara (karbon dioksida) dengan bantuan cahaya matahari.

    Proses memasak ini disebut sebagai fotosintesis. Jika tumbuhan tidak punya bahan-bahan makanan, maka “dapur” mereka akan “ditutup” sementara dengan cara menggugurkan daun.

    Strategi ini membantu tumbuhan menghemat air dan energi agar mereka bisa bertahan hidup lebih lama.

    Lantas, kapan tumbuhan “berpuasa”? Tumbuhan biasanya “berpuasa” pada kondisi tertentu, seperti berikut ini:

    1. Peralihan musim gugur-dingin-semi
    Suhu yang turun drastis di musim dingin bisa mengakibatkan pembekuan seluler dan mengganggu suplai air dari perakaran di tanah. Pembekuan seluler ini seperti balon kecil dengan air membeku di dalamnya.

    Air beku ini dapat dengan mudah merusak kulit sel tumbuhan. Angin musim dingin yang kering juga mengganggu kelembapan daun dan berpotensi merusak fungsi daun.

    Dengan “berpuasa”, tumbuhan bisa mengurangi risiko kerusakan dan bertahan hingga musim semi.

    Baca: Indonesia miliki lebih dari 300 jenis tanaman pisang lokal

    2. Kekeringan
    Dalam kondisi kekeringan, tumbuhan umumnya “berpuasa” dengan menghemat penggunaan air hanya untuk fungsi vital, salah satunya adalah fotosintesis.

    Bahkan di daerah yang sering kering, beberapa tumbuhan tetap “berpuasa” meski sudah memasuki musim hujan, karena mereka terbiasa mengandalkan cadangan air daripada menyerap langsung dari tanah.

    Contohnya adalah Pohon Baobab yang menyimpan air di dalam batangnya yang besar untuk bekal menghadapi kemarau panjang. Pohon ini disebut juga semi-sukulen atau tanaman yang mampu menyimpan air.

    Kerabatnya dari jenis sukulen sejati, seperti kaktus, melakukan hal serupa untuk bertahan di lingkungan yang gersang.

    Saat kondisi benar-benar kering, beberapa jenis tumbuhan bahkan bisa “berpuasa ekstrem”. Tumbuhan akan tampak seperti mati karena kehilangan sebagian besar kandungan airnya.

    Laju metabolisme tumbuhan akan pulih saat kondisi air lingkungan mencukupi. Itulah mengapa mereka dikenal sebagai ressurection plant atau tanaman kebangkitan, salah satu contohnya adalah Craterostigma plantagineum atau blue carpet yang banyak tumbuh di Afrika.

    3. Perubahan iklim dan polusi
    Polusi dan cuaca yang tidak menentu akibat perubahan iklim juga bisa membuat tumbuhan stres. Ketika tumbuhan mengalami stres, mereka harus mengalihkan energi dari pertumbuhan dan reproduksi ke mekanisme pertahanan.

    Proses-proses ini membutuhkan energi, sehingga tumbuhan harus mengurangi atau menghentikan sementara pertumbuhan dan reproduksi, seperti “berpuasa”.

    Baca: Beragam jenis pohon Ficus yang menjaga ekosistem Hutan Sanggabuana

    Selain perubahan iklim, polusi juga membuat tumbuhan harus lebih sering “berpuasa”. Polusi ozon (O3) di udara bisa merusak daun. Sementara polusi logam berat di tanah secara umum bisa mengganggu pertumbuhan tumbuhan dan perkecambahan biji.

    Masih banyak informasi yang harus digali lewat penelitian lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana perubahan iklim dan polusi membuat tumbuhan harus “berpuasa”.

    Intinya, “berpuasa” bagi tumbuhan bukan sekadar fenomena alam, melainkan bagian dari survival mode atau strategi bertahan hidup saat kondisi lingkungan tidak mendukung.

    Masalahnya, jika sebelumnya mayoritas tumbuhan hanya “berpuasa” di musim dingin atau kemarau, kini cuaca yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim dan pencemaran yang disebabkan oleh manusia memaksa mereka “berpuasa” lebih keras, sekaligus lebih lama.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Mafrikhul Muttaqin (Lecturer, Department of Biology, IPB University)

  • BMKG: Musim Kemarau 2025 Mulai Mei, Masyarakat Diimbau Antispasi Dampaknya

    BMKG: Musim Kemarau 2025 Mulai Mei, Masyarakat Diimbau Antispasi Dampaknya

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di sejumlah wilayah di Indonesia mulai berlangsung pada Mei 2025. Masyarakat diimbau mengantisipasi dampaknya.

    Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menjelaskan pihaknya memberikan peringatan dini untuk mengantisipasi dampak musim kemarau. Diperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada bulan Juni, Juli dan Agustus.

    “Mulai Mei sudah harus diwaspadai, sehingga sejak Maret ini diharapkan berbagai sektor menyesuaikan, seperti pertanian yang dapat mengatur jadwal tanam agar produktivitas tidak terganggu. Selain itu, sektor kebencanaan bisa mempersiapkan langkah mitigasi untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan, terutama saat puncak kemarau pada Juni hingga Agustus,” jelas Dwikorita seperti yang dilansir Antaranews.

    Baca: Hujan masih berlangsung, kapan musim kemarau?

    Antisipasi lainnya adalah menjaga sumber daya air di kala hujan turun, agar tidak terjadi kekeringan saat musim kemarau tiba.

    “Mumpung masih ada hujan, perlu dilakukan langkah-langkah persiapan menuju musim kemarau untuk mencegah dampak yang lebih besar,” katanya.

    Selanjutnya Dwikorita menjelaskan pada April curah hujan umumnya berada pada kategori menengah hingga tinggi. Bahkan sejumlah wilayah diprediksi mengalami curah hujan sangat tinggi (>500 mm/bulan).

    Misalnya sebagian wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Papua Tengah, dan Papua Selatan.

    Saat musim kemarau tiba, masih ada beberapa wilayah yang berpotensi hujan dengan kategori curah hujan rendah hingga menengah.

    Baca: Perubahan iklim memicu kekeringan dan krisis global

    Bahkan beberapa wilayah lainnya masih berpotensi mengalami curah hujan tinggi yaitu sebagian kecil Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara.

    Selain itu wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Selatan juga berpotensi mengalami curah hujan yang tinggi.

    Selanjutnya di bulan Juni hingga Juli, curah hujan diprediksi berada pada kategori rendah hingga menengah untuk sebagian besar zona musim di Indonesia.

    Namun masih ada wilayah yang berpotensi mengalami curah hujan tinggi, yaitu Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah bagian timur, Maluku, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Selatan.

    Baca: Masuk musim pancaroba, waspada potensi angin kencang

    Pada bulan Juli BMKG memprediksi terjadi musim kemarau monsunal di beberapa wilayah dengan peningkatan intensitas serta perluasan wilayah terdampak dibanding bulan sebelumnya.

    Seperti wilayah Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Timur yang diperkirakan memiliki potensi kemunculan hotspot yang cukup tinggi.

    Dari akhir Juli ke Agustus terdapat kecenderungan peningkatan potensi karhutla di wilayah Sumatera bagian selatan serta perluasan area terdampak di Kalimantan bagian selatan.

    Baca: Bumi semakin panas, permintaan alat pendingin ruangan meningkat

    Sumatera Selatan diprediksi memiliki wilayah dengan kelas risiko paling luas, sementara kategori risiko tinggi masih akan bertahan di Riau.

    Selain itu, wilayah Nusa Tenggara, sebagian kecil Jawa, serta Papua bagian selatan juga diproyeksikan rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Agustus 2025.

    Karena itu, Dwikorita berharap masyarakat dan pemerintah daerah dalam mengambil langkah-langkah antisipatif guna mengurangi dampak musim kemarau terhadap lingkungan, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.

     

  • Wilayah Riau Paling Sering Dilanda Kebakaran, BMKG Ungkap Penyebabnya

    Wilayah Riau Paling Sering Dilanda Kebakaran, BMKG Ungkap Penyebabnya

    7cloud.asia – Titik api atau hotspot mulai ditemukan di beberapa wilayah. Salah satunya Riau yang tercatat ada 144 titik hotspot dan 81 hektar lahan terbakar hingga akhir April 2025. Riau memang wilayah yang sering dilanda kebakaran, karena berbagai faktor.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menjelaskan wilayah Riau berpotensi terjadi kebakaran lahan meski tanpa ada pembakaran karena faktor angin dan gesekan ranting.

    Dalam rilis BMKG, Dwikorita menerangkan adanya musim kemarau yang terjadi dua kali di Riau menyebabkan wilayah ini menjadi sering terjadi hotspot.

    Baca: BRIN sebut pengolahan lahan gambut pemicu kebakaran lahan

    Khusus Wilayah Riau, secara alamiah berpotensi mengalami dua kali musim kemarau, yakni pada Februari–Maret dan kembali pada Mei hingga Agustus, yang diprediksi menjadi puncak kemarau. Kondisi ini menyebabkan provinsi ini lebih sering mengalami hotspot dibanding wilayah lain.

    “Bahkan meski tanpa pembakaran, potensi kebakaran tetap ada karena faktor angin dan gesekan ranting. Maka prediksi berbasis data sangat penting untuk mitigasi,” jelas mantan rektor UGM ini.

    BMKG memperkirakan periode April-Mei 2025, risiko karhutla umumnya rendah. Namun beberapa area di Riau, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Timur mulai menunjukkan risiko menengah hingga tinggi.

    Bulan Juni 2025, peningkatan signifikan risiko karhutla terjadi di wilayah Riau (41,5% wilayah berisiko tinggi), Sumatera Utara, Jambi, dan sekitarnya.

    Baca: Curah hujan berkurang, titik panas mulai muncul di Riau

    Sifat kemarau diprediksi didominasi kondisi normal (sekitar 60%), namun 26% wilayah berpotensi mengalami kemarau atas normal (lebih basah) dan 14% bawah normal (lebih kering).

    Lebih jauh Dwikorita memaparkan, periode April-Mei 2025 risiko karhutla umumnya rendah. Sedangkan, Bulan Juli-September 2025, risiko karhutla meluas ke Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Papua.

    Wilayah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua Selatan, Kalimantan Selatan, serta Bangka Belitung menjadi wilayah dengan potensi risiko karhutla tertinggi.

    Baca: Musim Kemarau 2025 lebih singkat, ini penyebabnya

    Kemudian pada Oktober 2025, risiko karhutla diprediksi tetap tinggi di wilayah Nusa Tenggara Timur, Papua Selatan, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.

    Karena itu, BMKG bersama BNPB dan pemerintah daerah melakukan berbagai langkah antisipasi. Diantaranya mendorong upaya pembasahan lahan, upaya mempertahankan tinggi muka air di lahan.

    Selain itu, upaya lainnya adalah pengisian embung-embung serta kanal dengan memanfaatkan hujan yang masih ada saat periode transisi menjelang musim kemarau.

    Baca: Musim kemarau 2025 diperkirakan bulan Mei, waspada dampaknya

    Upaya penguatan lainnya juga dilakukan dalam bentuk penyiagaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), patroli udara, serta pengawasan lapangan secara berkala, khususnya di wilayah Riau yang saat ini telah berstatus siaga darurat karhutla.

    “BMKG berkomitmen untuk terus memantau perkembangan iklim dan potensi karhutla serta menyampaikan informasi terkini kepada masyarakat dan pihak terkait demi mencegah dampak buruk yang mungkin terjadi. Dengan data yang akurat dan tindakan yang cepat, kita bisa mencegah bencana besar,” urainya.