7cloud.asia – Pengelolaan sampah menjadi isu bagi sejumlah kota di Indonesia. Keterbatasan lahan serta masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah menjadi penyebab utama.
Masih banyak pemerintah kota yang taak serius menangani sampah yang terus bertambah, sehingga menimbulkan berbagai masalah lingkungan seperti pencemaran air, udara, penyebaran penyakit, bahkan longsor.
Karena itu pengelolaan sampah yang efektif dan cara modern sudah menjadi sebuah kebutuhan mendesak.
Belakangan muncul inovasi mengolah sampah menjadi energi yang bermanfaat guna mengurangi berbagai masalah lingkungan yang ditimbulkan sampah.
Kabupaten Cilacap misalnya membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Refuse Derived Fuel (RDF) yang berlokasi di Desa Tritih Lor, Kecamatan Jeruk Legi.
Kota Tangerang juga sudah menjalin kerja sama menyediakan bahan bakar cofiring untuk PT. Indonesia Power.
Ada juga masyarakat Pulau Pramuka menggunakan metode pirolisis untuk kemandirian penyediaan bahan bakar solar.
Sementara pemerintah kota Surabaya mengembangkan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) menggunakan metode gasification power plant.
Baca: RDF juga telah diterapkan di Jakarta
Tapi kali ini kita hanya akan mengulas TPST RDF Cilacap yang dibangun tahun 2017. TPST RDF Cilacap dibangun di atas lahan seluas 3 Ha dengan menggunakan mekanisme cost sharing.
Pembiayaan ditangguang bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kerajaan Denmark melalui Kementerian ingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemprov Jawa Tengah serta Pemkab Cilacap sendiri.
Saat diresmikan dan mulai beroperasi tahun 2020, fasilitas pengolahan sampah ini menginisiasi penggunaan teknologi RDF di Indonesia dan disebut sebagai tonggak baru pengelolaan sampah di tanah air.
Refuse Derived Fuel sering disingkat dengan RDF merupakan hasil pengolahan sampah yang dikeringkan untuk menurunkan kadar air hingga kurang dari 25% .
RDF juga menaikkan nilai kalornya setelah sebelumnya dicacah terlebih dahulu untuk menyeragamkan ukurannya menjadi 2-10 cm.
Baca: Cara Cilacap mengubah sampah menjadi bahan bakar
Karenanya RDF ini sering disebut sebagai keripik sampah. Dengan kapasitas pengolahan 140 ton sampah/hari, RDF yang dihasilkan sebanyak 48,40 ton/hari (34,58%) dengan nilai kalor 3.217 kcal/kg, sehingga memiliki potensi energi sebesar 155.702.800 kcal/hari.
Potensi ini membuat RDF digunakan sebagai alternatif sumber energi oleh industri yang dalam prosesnya terdapat pembakaran menggunakan bahan bakar fosil batubara seperti pabrik semen dan PLTU.
RDF di Cilacap ini dimanfaatkan oleh pabrik semen PT. Solusi Bangun Indonesia (PT. SBI) yang dihargai sebesar Rp.300.000,-/ton menjadi masukan bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Bahan pembuatan RDF berasal dari sampah segar yang datang ke TPST dengan diangkut oleh dump truck.
Setelah diketahui beratnya dari catatan di jembatan timbang, kemudian sampah dibongkar dan dituang pada area picking bay untuk dilakukan pemilahan oleh mitra pekerja lingkungan atau yang biasa kita kenal sebagai pemulung.
Di area ini pemulung bebas memilah sampah serta mengambil barang-barang yang dapat mereka manfaatkan kembali dan diperkirakan masih bernilai ekonomis.
Baca: Pengelolaan sampah dengan ditimbun sudah ketinggalan zaman
Setelah beberapa saat berada pada tahapan pemilahan, sampah diangkut menggunakan wheel loader menuju shredder untuk dicacah menjadi berukuran standar 2-10 cm.
Lantas, dengan menggunakan hopper conveyor, hasil cacahan sampah dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam reaktor biodrying untuk dikeringkan hingga kadar airnya di bawah 25% serta menaikkan nilai kalor yang semula di bawah 700 kcal/kg menjadi 3.200 kcal/kg.
Pemrosesan dalam reaktor biodrying yaitu pengeringan biologis dengan memanfaatkan pelepasan panas dari aktivitas mikroorganisme dalam sampah mengurai materi organik secara aerobik.
Unit ini dilengkapi dengan penutup membran khusus untuk menjaga kondisi suhu sekaligus mengeluarkan uap air. Terdapat sistem perpipaan dibagian bawah unit untuk menghembuskan udara aerasi dari blower dan mengalirkan leachate ke kolam lindi.
Setelah 21 hari berada dalam biodrying, sampah dipindahkan kedalam screener menghasilkan 3 produk yang kemudian ditempatkan dalam bak berbeda yaitu inert berupa sampah ukuran di bawah standar 2 cm disertai dengan kerikil dan pasir, RDF yang merupakan produk utama, serta oversize yang berukuran lebih dari 10 cm.
Oversize dapat dikembalikan pada mesin pencacah untuk dijadikan produk berukuran standar tanpa dimasukkan kedalam unit biodrying kembali karena dianggap telah memiliki kadar air kurang dari 25%.
Baca: Teknologi Masaro membuat sampah jadi emas
Inert awal mulanya merupakan produk samping yang dimanfaatkan untuk cover soil penutup sampah pada TPA jenis controlled landfill.
Namun ternyata produk yang bernilai kalor 1.500 kcal/kg ini dapat dimanfaatkan sebagai pemberat pada RDF pada saat pengangkutan dan proses pada kiln PT. SBI serta dihargai sejumlah Rp.53.000,-/ton.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cilacap, Sri Murniyati mengatakan, keberadaan TPST RDF ini permasalahan sampah di Kabupaten Cilacap sebagian teratasi dan hasil jualnya dapat menambah PAD.
TPST RDF ini juga memberi efek domino naiknya tingkat hunian hotel oleh banyaknya kunjungan dari daerah lain di Indonesia ke Kabupaten Cilacap yang ingin mempelajari teknologi RDF.
Selain dengan PT. SBI sebagai off-taker, TPST RDF juga memperoleh dukungan dari PT. Unilever Indonesia (PT. UI) sebagai bentuk Extended Producer Responsibility berupa bantuan biaya listrik per bulan.
PT. UI juga bersama Pemkab Cilacap membuat MoU dalam upaya peningkatan kapasitas TPST RDF menjadi 200 ton sampah/hari melalui Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.