Tag: kota

  • Jakarta Masuk 50 Besar Kota Terbaik Dunia Versi Time Out, Posisi Teratas Ditempati Cape Town

    Jakarta Masuk 50 Besar Kota Terbaik Dunia Versi Time Out, Posisi Teratas Ditempati Cape Town

    7cloud.asia – Time Out baru-baru ini merilis peringkat tahunan untuk 50 kota terbaik di dunia tahun 2025, dan kota Cape Town (Afrika Selatan) berada di peringkat teratas. Dari Indonesia, ada Jakarta yang masuk dalam daftar kota terbaik ini.

    Dikutip dari laman resmi TimeOut.com, untuk menyusun daftar ini tim Time Out melakukan survey terhadap lebih dari 18.500 penduduk sejumlah kota di dunia tentang kota mereka

    Wawasan warga kota ini kemudian digabungkan dengan wawasan dari jaringan editor kota global Time Out, dan setelah semua data diolah kemudian tim menyusun peringkat 50 kota terbaik di dunia saat ini.

    Layak huni menjadi faktor kunci dalam pemeringkatan kami tahun ini. Namun, kota yang nyaman untuk ditinggali, tentu saja, juga nyaman untuk dikunjungi.

    Jadi, bersama ribuan tanggapan dari penduduk lokal di seluruh dunia, dewan juri meminta jaringan pakar kota global Time Out untuk memilih tempat-tempat yang menurut mereka paling menarik saat ini.

    “Warga memberi tahu kami pendapat mereka tentang kota mereka, mulai dari kuliner dan kehidupan malamnya hingga keamanan dan kelayakan huninya,” ujar Grace Beard yang menyusun laporan tersebut.

    Baca: Mengapa Kopenhagen Selalu Jadi Kota Paling Ramah Lingkungan

    Cape Town, pusat kota Afrika Selatan mendapatkan skor tinggi secara keseluruhan dalam survei, dengan 97 persen penduduk setempat mengatakan kota mereka membuat mereka bahagia, 95 persen memberikan peringkat tinggi untuk dunia kulinernya, dan 82 persen menggambarkannya sebagai indah.

    Kota ini juga memiliki segalanya, mulai dari alam yang fantastis (koloni penguin Afrika, pantai-pantai berbendera biru, Table Mountain) hingga tempat-tempat wajib kota kelas atas (bar, restoran yang brilian, dan Time Out Market, tentu saja).

    Berkaitan dengan sejarah dan makna budayanya, Cape Town menawarkan beragam pilihan bagi pengunjung untuk belajar, menjelajah, dan bersenang-senang, semuanya tanpa menguras kantong.

    “Warga dapat menikmati budaya memancing di Kalk Bay yang trendi, kunjungi East City untuk menikmati kuliner dan desain khas Cape Town, atau menyatu dengan alam di Cagar Alam Cape Point yang megah,” tulis Andrew Hallett, direktur konten Time Out Afrika Selatan.

    Sementara Jakarta menempati posisi ke-29 dari 50 kota terbaik di dunia. Dalam survei yang dilakukan Time Out ini, warga Jakarta menggambarkan kota mereka sebagai “bersejarah”.

    Sedangkan kelompok kedua yang paling mungkin menggambarkannya sebagai “modern” – sungguh perpaduan yang luar biasa. Jakarta juga merupakan kota terbaik ketiga di dunia untuk menemukan cinta dan tempat terbaik keempat untuk menjalin pertemanan baru.

    Baca: 8 Elemen Kota Hijau yang Lebih Ramah Lingkungan

    Berikut 10 kota terbaik di dunia 2025 versi Time Out
    1. Cape Town (Afrika Selatan)

    2. Bangkok (Thailand)

    3. New York (Amerika Serikat)

    4. Melbourne (Australia)

    5. London (Inggris)

    6. New Orleans (Amerika Serikat)

    7. Mexico City (Meksiko)

    8. Porto (Portugal)

    9. Shanghai (China)

    10. Copenhagen (Denmark)

    Baca: Lima Kota Besar dengan Kualitas Udara Terbaik pada 2022

  • Berkat TransJakarta, Jakarta Masuk Peringkat 17 Kota dengan Layanan Transportasi Terbaik di Dunia

    Berkat TransJakarta, Jakarta Masuk Peringkat 17 Kota dengan Layanan Transportasi Terbaik di Dunia

    7cloud.asia – Penataan transportasi publik yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jakarta sejak awal 2000an mulai membuahkan hasil dan diakui dunia.

    Jakarta menempati peringkat ke-17 dari 50 kota terbaik di dunia dalam hal transportasi publik versi survei Time Out 2025 yang dirilis pada Maret 2025.

    Dikutip dari laman resmi Time Out, TimeOut.com, kondisi transportasi publik di Jakarta dinilai sedikit berbeda dengan banyak kota lain yang disurvei.

    Moda transportasi umum tersibuk di Jakarta (dengan tingkat persetujuan 79 persen) adalah bus atau TransJakarta, bukan kereta ataupun kereta bawah tanah.

    Time Out menulis, bus beroperasi di jalurnya sendiri di jalan-jalan kota untuk memastikan layanan tidak terhambat oleh lalu lintas dan menawarkan pilihan paling terjangkau bagi warga setempat untuk berkeliling kota.

    Baca: Metamorfosa Jakarta lewat Penataan Transportasi Publik

    Ada juga sistem Mikrotrans, bus berukuran sedang yang melayani antar halte busway, dan beberapa pilihan kereta api, yakni MRT dan LRT (light rapid transit) yang telah membantu mengurangi kemacetan kota, serta jalur komuter, yang juga melayani Jabodetabek.

    Menurut anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Ismail mengatakan bahwa capaian ini merupakan buah dari peta jalan (roadmap) pembangunan transportasi yang konsisten dijalankan Pemprov DKI.

    “Kita patut berbangga meski ini belum penghujungnya, karena masih banyak target yang harus terus kita kejar,” ujar Ismail di Gedung DPRD DKI Jakarta, Senin (8/9/2025).

    Ia menambahkan, terkait transportasi publik ini, Pemprov DKI masih perlu meningkatkan sejumlah aspek, mulai dari perluasan akses, penambahan moda, hingga kualitas layanan.

    “Yang lebih penting adalah seberapa banyak masyarakat secara sadar beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik yang kini sudah dibuat lebih lengkap, nyaman, dan aman,” imbuhnya.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta Targetkan 55 Persen Warga Gunakan Transportasi Publik

    Ismail menilai, komitmen Pemprov DKI dalam meningkatkan keamanan, keterjangkauan, dan pelayanan transportasi publik sudah membuahkan hasil yang nyata.

    “Ketika itu terwujud, dan ranking Jakarta naik, ya kita patut apresiasi,” tandasnya.

    Sebelumnya, Jakarta menempati peringkat ke-17 dunia dan peringkat kedua di Asia Tenggara, hanya kalah dari Singapura. Jakarta berhasil melampaui kota besar lainnya seperti Kuala Lumpur, Manila, dan Bangkok.

    Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyebut pencapaian ini sebagai pengakuan global atas kemajuan transportasi ibu kota. Ia berharap, posisi Jakarta dapat terus meningkat di tahun-tahun mendatang.

    Baca: Penataan Transportasi Publik Berperan Penting dalam Dekarbonisasi Sektor Transportasi

  • Cuaca Hari Ini: Waspada! Hujan Sangat Lebat Berpotensi Mengguyur Yogyakarta dan Sejumlah Wilayah

    Cuaca Hari Ini: Waspada! Hujan Sangat Lebat Berpotensi Mengguyur Yogyakarta dan Sejumlah Wilayah

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat mewaspadai potensi hujan lebat hingga sangat lebat di Yogyakarta dan sejumlah wilayah pada Rabu (10/09/2025).

    Melalui laman resmi BMKG, selain wilayah Yogyakarta, hujan berintensitas lebat hingga sangat lebat juga berpotensi mengguyur wilayah Kepulauan Riau, Sumatra Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan.

    Sementara sebagian besar wilayah di Indonesia masih berpotensi hujan berintensitas sedang hingga lebat. Seperti wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Bali.

    Kondisi cuaca serupa berpotensi pula terjadi di wilayah Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo.

    Selain itu wilayah Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat dan Papua Pegunungan juga berpeluang terjadi hujan sedang hingga lebat.

    Untuk wilayah Jakarta, BMKG memprediksi cuaca berawan tebal hingga hujan ringan terjadi pada pagi hari. Kemudian siang hingga sore hujan berintensitas ringan hingga sedang berpotensi mengguyur seluruh wilayah Jakarta.

    Malam harinya cuaca di Jakarta diprediksi berawan tebal dan hujan berintensitas ringan hingga sedang.

    BMKG juga mengajak masyarakat untuk mewaspadai potensi angin kencang di wilayah Banten, Jawa Barat dan Maluku.

     

  • Jaringan Rakyat Miskin Kota Tolak Privatisasi PAM Jaya

    Jaringan Rakyat Miskin Kota Tolak Privatisasi PAM Jaya

    7cloud.asia – “Air adalah hak rakyat, bukan komoditas!” “Air adalah hak asasi”

    Itulah poster-poster yang diusung massa yang tergabung dalam Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) dalam aksi unjuk rasa menolak rencana perubahan badan hukum PAM Jaya menjadi perseroan terbatas (PT) di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Rabu (10/9/2025).

    Seperti diketahui, Pemprov DKI Jakarta berencana mengubah badan hukum PAM Jaya menjadi perseroan terbatas. Perubahan ini akan dituangkan dalam Perda yang kini tengah digodok

    Dalam aksi ini ratusan warga kampung yang tergabung dalam JRMK bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC) mendatangi Gedung DPRD DKI Jakarta.

    Lewat keterangan resminya, massa mengingatkan bahwa privatisasi air di Jakarta pernah meninggalkan jejak kelam. Mulai dari tarif melambung, pelayanan buruk, dan rakyat miskin makin tersisih dari hak dasar atas air bersih. 

    JRMK menyampaikan tiga tuntutan yaitu menolak Raperda perubahan badan hukum PAM Jaya, memastikan status PAM Jaya tetap sebagai Perumda, dan menjamin subsidi APBD untuk tarif Rp0 bagi pemakaian 0–20 m3 per keluarga.

    Perwakilan massa diterima langsung oleh sejumlah anggota DPRD DKI, dipimpin Wakil Ketua DPRD Basri Baco. Ia menegaskan perubahan badan hukum bukan berarti privatisasi.

    “PAM itu adalah badan usaha milik daerah. Namanya badan usaha adalah mencari profit, dengan mencari profit itu ada perencanaan. Di dalam proposal itu tidak ada privatisasi, sama dengan Bank DKI dan Pertamina. Mayoritas saham yang mengelola itu adalah pemda,” jelas Basri.

    Politikus Partai Golkar itu juga berjanji DPRD akan mengawal pembahasan dengan memastikan rakyat kecil tetap mendapat akses air bersih.

    “Kita pastikan akan inspeksi di kota-kota yang belum mendapatkan air. Kita harus membikin tarif proporsional dengan harga lebih murah. Tarif di Penjaringan tidak boleh sama dengan tarif di Menteng,” tegasnya.

    Meski begitu, JRMK menegaskan akan terus mengawal agar layanan air bersih Jakarta tidak jatuh ke tangan cukong dan mafia.

    Mereka menyerukan seluruh masyarakat ikut menolak privatisasi air Jakarta dan memperjuangkan pengelolaan yang adil serta berpihak pada rakyat miskin

  • Banjir sebagai Cermin Politik: Beda Penanganan Banjir di Semarang dan Surabaya

    Banjir sebagai Cermin Politik: Beda Penanganan Banjir di Semarang dan Surabaya

    7cloud.asia – Demonstrasi besar dan protes masif yang terjadi di Jakarta dan berbagai kota/kabupaten di Indonesia beberapa pekan terakhir adalah buntut dari kekecewaan publik atas buruknya kinerja elite politik, baik lembaga eksekutif maupun legislatif.

    Kemarahan rakyat bukan hanya karena satu kebijakan atau tingkah konyol politikus tertentu saja. Kejengahan ini sudah menumpuk sejak lama, akumulasi dari frustasi rakyat terhadap kebijakan politik yang semakin jauh dari kepentingan publik.

    Pola ini juga bisa ditemukan dalam persoalan banjir, bencana yang paling sering terjadi di Indonesia.

    Riset penulis menunjukkan, genangan air yang merendam rumah warga setiap musim hujan bukan semata karena intensitas curah hujan ekstrem, melainkan akibat kolusi dan kebijakan politik yang lebih berpihak pada pengembang dan pengusaha. Untuk itu, rakyat pantas marah dan demo di jalan.

    Banjir sebagai cermin politik
    Banjir adalah implikasi dari tata kelola dan akuntabilitas politik yang buruk.

    Studi penulis yang diterbitkan oleh International Journal of Disaster Risk Reduction (IJDRR) membandingkan dua kota besar di pesisir utara Jawa, yaitu Surabaya di Jawa Timur dan Semarang di Jawa Tengah.

    Kedua kota ini memiliki kondisi geografis dan curah hujan rata-rata yang hampir sama yaitu 181 mm per bulan. Meski demikian, ternyata mitigasi kedua kota ini berbeda jauh.

    Sejak 2010, Surabaya berhasil menekan jumlah kasus banjir tak lebih dari lima kali per tahun. Sementara Semarang banjir terus, hingga tercatat 16 kasus banjir pada 2020 dengan lebih dari 16 ribu warga terdampak.

    Baca: Banjir Besar di musim kemarau jadi bukti krisis iklim sudah di depan mata

    Padahal, antara tahun 2010 sampai 2020, Semarang menggelontorkan lebih dari 100 juta dolar (sekitar Rp1,6 triliun) untuk proyek pengendalian banjir. Sementara Surabaya, hanya menganggarkan 12 juta dolar (sekitar Rp180 miliar) untuk pengendalian banjir dalam periode yang sama.

    Daerah rawan banjir di Surabaya juga lebih banyak ketimbang Semarang. Namun Surabaya bisa melakukan mitigasi lebih baik.

    Pembeda langkah penanganan banjir antara Surabaya dan Semarang ternyata bukan jumlah anggaran, teknologi, atau infrastruktur, atau jumlah anggaran, melainkan tata kelola politik dan kebijakan.

    Surabaya: Demokrasi bekerja, banjir mereda
    Penulis menemukan bahwa keberhasilan Surabaya menangani banjir bersumber pada keberanian pemerintah kota menegakkan aturan.

    Pemerintah kota membentuk Satuan Tugas Penanganan Banjir yang berani menindak pengembang besar yang melanggar ketentuan drainase, termasuk anak usaha dari salah satu grup properti raksasa Indonesia.

    Bahkan, ketika sebuah kompleks mewah menolak akses pemeriksaan, komandan tim mengancam menutup saluran keluar hingga pengelola menyerah.

    Keterlibatan aktif masyarakat sipil dalam pengawasan mempersempit peluang kolusi antara elite bisnis dan politik di Surabaya.

    Kasus Waduk Sepat menjadi salah satu bukti peran keaktifan masyarakat sipil. Ketika kawasan resapan air hendak dialihkan untuk perumahan mewah, warga mengorganisasi protes, menggugat ke pengadilan, hingga menggandeng Komnas HAM.

    Baca: Bencana alam makin intens akibat perubahan iklim

    Pengadilan pun memutuskan Waduk Sepat tidak boleh dialihfungsikan menjadi perumahan atau kepentingan komersial lainnya.

    Aliansi warga dan organisasi masyarakat sipil memaksa pemerintah kota bertindak tegas. Lingkaran positif pun kemudian terbentuk. Pemerintah menjadi lebih transparan, warga percaya diri mengawasi, dan media kritis memperkuat tekanan dan kontrol publik.

    Semua faktor ini membuat Surabaya mampu mengendalikan banjir lebih efektif dibanding kota lain. Demokrasi lokal terbukti bekerja.

    Semarang: Demokrasi rapuh, banjir tak terbendung
    Kondisi berbeda terjadi di Semarang. Pemerintah kota terlihat enggan menegakkan aturan terhadap pengembang besar dan industri.

    Perumahan-perumahan dibangun tanpa kolam retensi yang layak, bahkan aliran airnya langsung dialirkan ke sungai hingga meluap ke kampung-kampung.

    Hutan karet seluas seribu hektare yang penting sebagai kawasan resapan dikonversi menjadi perumahan elite. Meskipun ada warga yang protes, pembangunan tetap berjalan.

    Dugaan kolusi menguat ketika muncul rumor adanya sokongan dana kampanye dari pengembang untuk politisi yang berkompetisi meraih jabatan publik.

    Media lokal di Semarang juga jarang bersuara kritis karena mereka bergantung pada iklan pemerintah. Sementara organisasi warga lemah.

    Kondisi ini kemudian menghasilkan banjir yang makin parah, meskipun dana yang digelontorkan untuk penanganan banjir sangat besar.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta anggarkan Rp4 triliun untuk penanganan banjir

    Antara banjir dan demonstrasi
    Warga yang sengsara karena rumahnya kebanjiran dan warga yang marah turun ke jalan menghadapi musuh yang sama, yaitu elite politik yang mengabaikan kepentingan rakyat.

    Rakyat pantas mengawasi perilaku elite yang digaji dari pajak rakyat. Demokrasi tidak berhenti saat pemilihan umum usai. Dia adalah proses berkelanjutan.

    Kasus di Surabaya memperlihatkan kepada kita bahwa masyarakat sipil, media independen, dan solidnya pengorganisasian warga adalah “infrastruktur” yang sama pentingnya dengan pompa, kanal, atau tanggul.

    Antropolog dari Universitas Sheffield, AbdouMaliq Simone menyebutnya dengan konsep “People as Infrastructure”.

    Sebaliknya kita melihat di Semarang, tanpa pengawasan publik, keputusan politik akan semakin jauh dari kepentingan rakyat. Rakyat pula yang kembali menanggung akibatnya, termasuk berupa banjir dan lingkungan yang makin rusak.

    Sudah saatnya rakyat mengambil alih peran ketika lembaga legislatif yang semestinya bertugas menjalankan fungsi pengawasan, tidak melakukan tugasnya dengan baik.

    Rakyat pantas marah dan turun ke jalan. Demo harus dilihat sebagai partisipasi rakyat yang tidak boleh dibalas dengan represi.

    Pemerintah harus melindungi independensi media, membuka ruang kebebasan sipil, dan memastikan masyarakat bisa mengawasi jalannya pemerintahan tanpa rasa takut akan kriminalisasi.

    Hanya dengan cara itu, demokrasi dapat kembali berfungsi sebagai benteng pertama menghadapi krisis iklim dan bencana

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Yogi Setya Permana (Peneliti, Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN)

  • Cuaca Hari Ini: Hati-hati, Hujan Disertai Petir Berpotensi Landa Sejumlah Kota

    Cuaca Hari Ini: Hati-hati, Hujan Disertai Petir Berpotensi Landa Sejumlah Kota

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan disertai petir berpotensi melanda sejumlah kota di Indonesia pada Senin (15/09/2025).

    Melalui kanal youtube resminya, BMKG menyebut, hujan disertai petir berpeluang terjadi di Kota Pekanbaru, Pangkal Pinang, Tanjung Selor, Palangkaraya, Banjarmasin, Manado dan Ternate.

    Sementara hujan dengan intensitas sedang berpeluang mengguyur Kota Mamuju, Nabire dan Sorong,

    Sedangkan hujan berintensitas ringan berpotensi terjadi di Kota Medan, Padang, Tanjung Pinang, Jambi, Bengkulu, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Mataram, Denpasar, Pontianak, Samarinda, Palu, Gorontalo, Ambon, Manokwari, Jayawijaya dan Merauke.

    Untuk seluruh wilayah Jakarta, BMKG memprediksi cuaca di pagi hari cerah dan berawan tebal. Demikian juga cuaca pada malam hari.

    Potensi hujan dengan intensitas ringan terjadi pada siang dan sore hari di wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Wilayah lainnya diprediksi cerah dan berawan.

    BMKG mengimbau masyarakat mewaspadai potensi angin kencang di wilayah Banten, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan.

    Baca: Potensi Cuaca Ekstrem di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 15-18 September 2025

  • Darurat Sampah di Kota Yogyakarta Belum Sepenuhnya Teratasi, Apa yang Dilakukan Pemkot?

    Darurat Sampah di Kota Yogyakarta Belum Sepenuhnya Teratasi, Apa yang Dilakukan Pemkot?

    7cloud.asia – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menghadapi persoalan serius dengan menumpuknya ribuan ton sampah di sejumlah depo kota.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq menegaskan, dibutuhkan langkah darurat sekaligus strategi jangka panjang dalam menangani masalah sampah ini

    Ia menjelaskan, hampir seluruh depo penampungan sampah di Kota Yogyakarta dalam kondisi nyaris overload atau kelebihan kapasitas.

    “Kami segera koordinasi dengan DLHK Provinsi, agar penanganan sampah bisa lebih terintegrasi,” kata Rajwan, Jumat (12/9/2025) seperti dilansir rri.com

    Diungkapkan, kuota pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan juga terbatas, hingga Desember 2025, Kota Yogyakarta hanya dijatah maksimal 2.400 ton.

    Baca: Sepertiga produksi sampah di Kota Yogyakarta belum tertangani

    Artinya, setiap bulan hanya sekitar 600 ton sampah dari Kota Yogyakarta yang bisa dibuang ke TPA Piyungan.

    “Padahal sampah di depo sudah sekitar 2.000 ton, sementara produksi harian mencapai 260 ton, bahkan naik menjadi 300 ton saat libur,” jelas Rajwan.

    Kondisi ini, lanjutnya, membuat Yogyakarta harus menekan timbulan sampah dari sumbernya. Karena itu, ia menekankan, pentingnya partisipasi warga dalam mengelola sampah rumah tangga, terutama sampah organik yang mencapai 60 persen

    Jika sampah organik ini diolah masyarakat baik menjadi maggot ataupun kompos, ujarnya, maka beban depo akan berkurang signifikan.

    Baca: Pemerintah Kota Yogyakarta dorong pembuatan biopori untuk atasi masalah sampah

    Ditambahkan, strategi pengurangan sampah di Kota Yogyakarta harus berjalan paralel dengan pengelolaan jangka panjang.

    “Kolaborasi Pemkot, Pemprov, dan masyarakat menjadi kunci agar Yogyakarta tidak lagi terjebak dalam siklus krisis sampah,” ujarnya.

    Darurat sampah di Kota Yogyakarta makin terasa setelah TPA Piyungan ditutup pada 2023 lalu karena sudah melebihi kapasitas yang ditentukan.

    TPA Piyungan dirancang untuk menampung 650 ton sampah per hari, namun volume sampah dari Yogyakarta, Bantul, dan Sleman sering melebihi angka tersebut. Data tahun 2022 menunjukkan bahwa volume sampah mencapai rata-rata 747 ton per hari.

    Penutupan TPA Piyungan di Bantul Yogyakarta sejak 23 Juli 2023 mengakibatkan masalah sampah yang semakin tidak terkendali, mencerminkan ketidakmampuan dalam pengelolaan sampah meski regulasi sudah ada. 

  • Cuaca Hari Ini: Seluruh Wilayah Sumatera Berpotensi Hujan

    Cuaca Hari Ini: Seluruh Wilayah Sumatera Berpotensi Hujan

    7cloud.asia – Hujan berintensitas ringan hingga hujan disertai petir berpotensi mengguyur sejumlah wilayah di Indonesia. Bahkan seluruh wilayah Sumatera berpotensi diguyur hujan pada Selasa (16/09/2025).

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui akun youtube resminya menyebut hujan dengan intensitas ringan berpeluang terjadi di Kota Padang, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Bengkulu, Jambi, Palembang, Bandar Lampung.

    Kondisi cuaca serupa berpotensi pula terjadi di Kota Serang, Jakarta, Semarang, Denpasar, Mataram, Tanjung Selor, Palu, Gorontalo, Manado, Ambon, Sorong, Manokwari, Jayapura, Jayawijaya dan Merauke.   

    Sementara hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Yogyakarta dan Pontianak. Kemudian hujan dengan intensitas lebat berpotensi mengguyur Kota Mamuju.

    Sedangkan hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Medan, Pangkal Pinang, Bandung, Banjarmasin, Palangkaraya, Samarinda, Ternate dan Nabire.    

    BMKG juga mengajak masyarakat mewaspadai potensi banjir rob yang melanda sejumlah wilayah pesisir seperti pesisir Kepulauan Riau, pesisir Jawa Tengah dan pesisir Maluku.

     

     

     

  • Cuaca Hari Ini: Denpasar dan Sejumlah Kota Berpotensi Hujan

    Cuaca Hari Ini: Denpasar dan Sejumlah Kota Berpotensi Hujan

    7cloud.asia – Hujan dengan intensitas ringan hingga hujan disertai petir berpotensi mengguyur Kota Denpasar dan kota-kota besar lainnya di Indonesia pada Jumat (19/09/2025).

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui kanal youtube resminya menyebut selain Kota Denpasar, hujan berintensitas ringan juga berpotensi terjadi di Kota Padang, Tanjung Pinang, Palembang, Pangkal Pinang.

    Kota Bandung, Semarang, Surabaya, Mataram, Palangkaraya, Samarinda, Palu, Mamuju, Ambon, Manokwari dan Jayapura juga berpeluang terjadi hujan dengan intensitas ringan.  

    Kemudian hujan dengan intensitas sedang berpeluang mengguyur Kota Medan, Pekanbaru, Serang, Sorong dan Jayawijaya.

    Sedangkan hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Jambi, Bengkulu, Bandar Lampung, Tanjung Selor, Manado, Ternate, Nabire dan Merauke.

    Sementara itu untuk wilayah Jakarta, BMKG memprediksi hampir seluruh wilayah berawan tebal pada pagi hari. Peluang hujan disertai petir hanya terjadi di wilayah Kepulauan Seribu.

    Siang dan sore hari, hujan berintensitas ringan berpeluang terjadi di wilayah Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Utara dan Jakarta Barat.

    Malamnya, hampir seluruh wilayah diprediksi cerah berawan. Hanya wilayah Kepulauan Seribu yang kembali diguyur hujan.

    BMKG juga mengajak masyarakat mewaspadai potensi banjir rob di sejumlah wilayah pesisir seperti pesisir Dabo Singkep, Sumatera Utara, pesisir Kepulauan Riau, pesisir Sumatera Barat, pesisir Banten, pesisir Bangka Belitung, pesisir Demak.

    Selain itu pesisir Pekalongan. Pesisir Tegal, pesisir Pemalang, pesisir Surabaya Barat, pesisir Bima, pesisir Palu Donggala, pesisir Toli-Toli, pesisir Buol, pesisir Morowali, pesisir Banggai Laut dan pesisir Maluku Tengah juga berpotensi terjadi banjir rob.

     

     

  • Panas Ekstrem Makin Intens: Adakah Alat Pendinginan yang Ramah Lingkungan?

    Panas Ekstrem Makin Intens: Adakah Alat Pendinginan yang Ramah Lingkungan?

    7cloud.asia – Permintaan alat pengkondisian atau pendinginan udara (AC) terus meningkat seiring dengan panas ekstrem yang semakin sering terjadi di banyak kota di dunia.

    Meski sangat membantu melindungi warga dari panas ekstrem, penggunaan AC secara masif akan memperburuk perubahan iklim karena emisi yang dikeluarkannya.

    Kabar baiknya, alternatif pendinginan yang lebih berkelanjutan sudah tersedia, tetapi untuk mengurangi kebutuhan akan pendingin udara, diperlukan pendekatan pendinginan yang lebih holistik.

    Di kota-kota beriklim hangat seperti Dubai (Uni Emirat Arab) pendinginan kawasan merupakan alternatif berkelanjutan yang terbukti efektif untuk menjaga suhu tetap rendah, hanya membutuhkan setengah energi dibandingkan dengan pendingin udara.

    Air dingin dialirkan melalui pipa-pipa berinsulasi dari instalasi pendingin pusat ke gedung-gedung. Air tersebut kemudian didistribusikan ke unit-unit penanganan udara, yang mendinginkan gedung.

    Baca: AC dibutuhkan saat panas ekstrem, tapi keberadaannya perburuk krisis iklim

    Setelah air menyerap panas, air tersebut mengalir kembali ke instalasi pendingin pusat untuk didinginkan dan digunakan kembali.

    Di Eropa, semakin banyak kota yang mempertimbangkan pendinginan kawasan untuk menjaga suhu tetap rendah sekaligus menjaga emisi tetap rendah. Paris memiliki salah satu sistem pendinginan distrik terbesar di Eropa.

    Lebih dari 800 lokasi di kota itu, termasuk Museum Louvre, tetap sejuk dengan air dingin dari Sungai Seine.

    Dilansir Earth.org, otoritas kota Paris berencana untuk memperluas sistem ini lebih lanjut, menghubungkan rumah sakit, panti jompo, dan tempat penitipan anak di seluruh kota.

    Kota Hijau sebagai solusi
    Solusi pendinginan berbasis alam seperti menciptakan ruang hijau seperti taman dan hutan kota, merestorasi lahan basah juga mulai dilakukan banyak kota.

    Baca: Bumi makin panas, kebutuhan alat pendingin udara melonjak

    Juga penerapan infrastruktur hijau seperti atap dan dinding hijau dapat membantu menurunkan suhu di area perkotaan yang terlalu panas, dan mengurangi kebutuhan pendinginan penghuninya secara keseluruhan.

    Namun, dengan penerapan teknik pendinginan pasif dan area perkotaan yang lebih hijau sekalipun, AC akan tetap menjadi solusi pendinginan yang penting di masa mendatang.

    Oleh karena itu, mengurangi jejak karbon dari peralatan pendinginan udara sangatlah penting.

    Refrigeran yang ramah lingkungan dan lebih hemat energi dapat menggantikan gas sintetis berbahaya, dan dengan berlakunya Amandemen Kigali pada tahun 2019, penggunaan HFC berbahaya dalam peralatan pendingin secara bertahap dihapuskan.

    Para penandatangan amandemen telah berkomitmen untuk mengurangi penggunaan HFC lebih dari 80 persen selama 30 tahun. Diperkirakan hal ini dapat mencegah peningkatan suhu global sebesar 0,5°C selama abad ini.

    Baca: Dunia makin serius kurangi emisi dari sektor pendinginan

    Apa yang dapat dilakukan konsumen?
    Kebiasaan konsumen yang sadar juga dapat membuat perbedaan dalam mengendalikan konsumsi energi saat suhu meningkat. Misalnya, menyetel AC ke 26°C, alih-alih 24°C, mengonsumsi energi sekitar 30 persen lebih sedikit.

    Termostat pintar juga dapat digunakan untuk menyesuaikan suhu secara otomatis saat Anda tidak di rumah, sehingga mencegah pemborosan pendinginan.
    Membersihkan atau mengganti filter udara secara teratur untuk memastikan unit beroperasi secara efisien dan tidak perlu bekerja lebih keras dari yang seharusnya.

    Selain itu konsumen dapat memilih model dengan peringkat Rasio Efisiensi Energi Musiman (SEER) yang tinggi – yang dirancang untuk menggunakan lebih sedikit energi – merupakan cara lain untuk mengurangi jejak karbon kita.

    Dalam hal ini, pemerintah harus berbuat lebih banyak untuk membantu konsumen membeli peralatan pendingin yang paling hemat energi.

    Menurut IEA, konsumen di seluruh dunia cenderung membeli AC dengan efisiensi hanya setengahnya dibandingkan dengan unit berkinerja terbaik yang tersedia di toko.

    Di Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS), penerapan standar kinerja energi dan label efisiensi energi telah membantu mengurangi konsumsi energi AC hingga 50 persen.

    Artikel ini diterjemahkan dari Earth.org, baca artikel aslinya di sini