Tag: lingkungan

  • Gugatan Iklim Efektif Mendorong Kebijakan Meredam Perubahan Iklim di Indonesia

    Gugatan Iklim Efektif Mendorong Kebijakan Meredam Perubahan Iklim di Indonesia

    Foto: LBH Jakarta

    7cloud.asia – Sejak tujuh tahun silam, dunia seolah mengalami “musim semi” terkait gugatan iklim. Gugatan iklim adalah upaya suatu pihak dalam mengajukan gugatan terkait persoalan perubahan iklim dan lingkungan di pengadilan.

    Sejak 2015, angka gugatan iklim yang menyoal isu lingkungan pemicu perubahan iklim ini tercatat naik dua kali lipat dibanding beberapa dekade sebelumnya.

    Angkanya mencapai lebih dari 2 ribu gugatan iklim yang diajukan di seluruh dunia – seperempat dari gugatan terkait isu lingkungan pemicu perubahan iklim ini didaftarkan sejak 2 tahun silam.

    Namun, sebagian besar perkara terkait isu lingkungan pemicu perubahan iklim ini tersebut berlokasi di negara-negara maju. Hanya sedikit gugatan iklim yang diajukan di negara-negara berkembang.

    Seperti apa kondisi gugatan iklim yang meyorot isu lingkungan pemicu perubahan iklim ini di Indonesia, berikut tulisan dari  Environment Editor The Conversation

    Di Indonesia, lembaga penelitian dan advokasi hukum lingkungan, Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) mencatat ada sekitar 16 perkara gugatan iklim untuk menuntut keadilan iklim.

    Mayoritas di antaranya diajukan oleh pemerintah untuk menuntut ganti rugi atas ke perusahaan yang diduga merusak lingkungan. Hanya terdapat lima gugatan yang didaftarkan oleh warga maupun organisasi lingkungan hidup.

    Baca: Tujuh komoditas Indonesia akan terdampak kebijakan Antideforestasi Uni Eropa

     
    Gugatan iklim di Indonesia. (ICEL)

    Direktur Eksekutif ICEL, Raynaldo Sembiring, mengemukakan bahwa warga Indonesia memiliki kesempatan besar untuk mendaftarkan gugatan iklim di lembaga peradilan.

    Harapannya, gugatan ini dapat menjadi pertimbangan pengadilan agar mendorong target pemerintah supaya kebijakan untuk meredam perubahan iklim bisa lebih ambisius.

    “Ini peluang yang cerah untuk gugatan iklim di indonesia,” ujar Raynaldo dalam diskusi Peran Pengadilan untuk Mengatasi Perubahan Iklim: Update Kasus Lingkungan antara Indonesia dan Belanda, di Jakarta beberapa waktu lalu.

    Baca: Gelombang panas mengganas, dampak dari perubahan iklim?

    Peluang besar gugatan warga 

    Raynaldo menuturkan, besarnya peluang gugatan iklim oleh warga dipicu oleh dua kebijakan: Undang Undang (UU) 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan dan Peraturan Mahkamah Agung (Perma) Nomor 2 Tahun 2019.

    UU Administrasi Pemerintahan mengatur perlindungan hak asasi manusia (HAM) sebagai salah satu asas penyelenggaraan pemerintahan.

    Sedangkan Perma 2/2019 memuat kewenangan pengadilan tata usaha negara mengadili gugatan atas tindakan pemerintahan – sebelumnya merupakan kewenangan pengadilan umum.

    Gugatan iklim, kata Raynaldo, dapat diajukan terhadap tindakan pemerintah yang dianggap tidak cukup mengatasi persoalan perubahan iklim. Gugatan dapat menyasar dokumen tertentu, seperti komitmen iklim Indonesia yang tertuang dalam Nationally Determined Contribution (NDC).

    Dokumen ini merupakan janji tertulis negara peserta Perjanjian Paris untuk berkontribusi dalam menahan pemanasan suhu bumi ke angka maksimum 1,5C pada 2030 mendatang.

    “UU 30/2014 dan Perma 2/2019 memberikan peluang bagi warga negara untuk meminta pemerintah melakukan tindakan pemerintahan. Salah satunya untuk mengetatkan NDC kita,” ujar Raynaldo dalam keterangan lanjutannya kepada The Conversation.

    Baca: Negara miskin paling merasakan dampak perubahan iklim

    Di Indonesia, sejumlah pihak mengkritik NDC pemerintah yang belum ambisius. Ini tercermin dalam analisis Climate Action Tracker (CAT), organisasi tingkat global yang memeriksa komitmen iklim setiap negara berdasarkan analisis ilmiah.

    Indonesia, menurut analisis CAT per November 2021, memiliki komitmen dan kebijakan iklim yang “highly insufficient” atau jauh dari memadai untuk meredam laju perubahan iklim.

    Artinya, jika NDC seluruh negara memiliki peringkat ini, maka pemanasan suhu global pada 2030 bisa mencapai 3-4C.

    Menurut Raynaldo, seluruh warga negara berhak mengajukan gugatan terhadap NDC. Warga dapat menggunakan ketentuan kewajiban negara untuk melindungi hak asasi manusia yang diatur di tingkat UUD 1945 hingga UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM.

    Namun, jangan buru-buru mendaftarkan gugatan ke pengadilan. Warga atau pihak tertentu semestinya mengajukan proses keberatan dan banding administratif kepada pejabat pembuat NDC: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

    Baca: 21 Film lingkungan yang bakal membuka kesadaran kita

    Jika dalam tahap banding sang pejabat sudah setuju, maka warga bisa menghemat tenaga dan waktu untuk mengurus gugatan di meja hijau.

    “Kalau pejabat enggak setuju, maka lanjut ke PTUN,” tutur Raynaldo.

    Hal lainnya yang perlu disiapkan dalam gugatan iklim adalah bukti-bukti ilmiah yang kuat. Warga dapat menggunakan dokumen seperti laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC).

    Laporan ini merupakan rangkuman dari puluhan ribu karya ilmiah tentang perubahan iklim di seluruh dunia yang disusun oleh para ilmuwan. Dokumen ini juga memiliki legitimasi politik lantaran publikasinya harus disetujui oleh negara-negara anggota UNFCCC.

    Meski demikian, pemakaian alat bukti saintifik masih menjadi tantangan tersendiri di tanah air. Sebab, tak semua hakim memiliki kompetensi yang sama untuk menelaah dokumen-dokumen tersebut.

    Hal ini disadari oleh Doktor bidang Hukum sekaligus Anggota Kelompok Kerja Lingkungan Hidup Nasional Mahkamah Agung, Bambang Heriyanto.

    Para hakim, kata dia, mesti mendapatkan pendidikan dan pelatihan untuk memperoleh sertifikasi khusus untuk menangani kasus-kasus lingkungan hidup.

    Baca: Ancaman soal perubahan iklim sudah muncul sejak 70 tahun silam

    Tantangan lainnya adalah terkait keterangan ahli di persidangan yang bisa jadi saling bertentangan. Menurut Bambang, sudah menjadi rahasia umum bahwa pendapat ahli yang dihadirkan di persidangan akan seirama dengan pihak yang menghadirkannya.

    “Jalan keluarnya adalah menghadirkan ahli independen untuk acuan untuk hakim. Tapi masalahnya bagaimana pembiayaannya,” kata dia.

    Sasaran gugatan yang luas

    Gugatan iklim sebenarnya bukan hanya bisa menyasar dokumen NDC Indonesia. Menurut Guru Besar Ilmu lingkungan Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Andri Gunawan Wibisana, gugatan iklim memiliki empat kategori:

    1) Gugatan dengan persoalan iklim sebagai argumentasi utama; misalnya gugatan dari organisasi lingkungan Urgenda Foundation yang menyasar target iklim pemerintah Belanda

    2) Gugatan dengan persoalan iklim sebagai argumentasi sampingan: misalnya gugatan yang diajukan organisasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia melawan Pemerintah Jawa Barat terkait izin Pembangkit Listrik Tenaga Uap Tanjung Jati A Cirebon. Persidangan kasus ini masih berlangsung.

    3) Gugatan dengan motivasi isu perubahan iklim, tapi tak menjadi isu utama: misalnya gugatan kepada perusahaan tambang batu bara yang merusak lingkungan

    4) Gugatan tanpa motivasi perubahan iklim, tapi berdampak pada upaya pencegahan dan penanganannya: misalnya gugatan seputar aktivitas pertambangan minyak dan gas bumi

    Baca: Pertemuan G20 gagal capai kesepakatan pangkas bahan bakar fosil

    Andri mengatakan, sejauh ini gugatan iklim di Indonesia belum menyentuh kategori 1. Namun, berkaca dari kasus yang ada di tanah air, gugatan iklim di Indonesia tergolong unik dibandingkan perkara di negara lain.

    Andi mencontohkan dalam kasus kebakaran lahan, gugatan iklim di Indonesia yang berfokus pada tuntutan untuk pembayaran biaya pengurangan emisi (yang timbul karena perbuatan tergugat).

    Tuntutan ini membebaskan penggugat, dalam perkara ini adalah pemerintah, untuk membuktikan sebab-akibat dari tindakan tergugat dengan dampak lingkungan yang ditimbulkan.

    “Meski ada juga sisi negatifnya yang menjadi tantangan tersendiri untuk ke depannya,” kata dia.

    Sumber: The Conversation

  • Lima Prinsip Utama Jalani Frugal Living yang Bagus Untuk Lingkungan

    Lima Prinsip Utama Jalani Frugal Living yang Bagus Untuk Lingkungan

    7cloud.asia – Hidup hemat atau yang dikenal dengan frugal living disebut sebagai gaya hidup yang ramah lingkungan.

    Bahkan banyak orang menyebut frugal living juga tentang keberlangsungan lingkungan dan kehidupan seluruh manusia di masa yang akan datang.

    Tak heran, jika frugal living sangat dianjurkan saat jumlah penduduk dunia yang terus meningkat, sumber daya semakin terbatas, lingkungan sudah semakin rusak dan ancaman perubahan iklim semakin terasa. 

    Sudah saatnya kebiasaan buruk yang tak ramah lingkungan dan merusak bumi ditinggalkan. 

    Baca: Ketidakpastian membuat orang melirik frugal living

    Bukan jamannya lagi bangga dengan kemewahan, memamerkan gaya hidup boros, buang-buang sumber daya, mengonsumsi berlebihan, menghasilkan dan mengelola sampah secara serampangan.

    Semakin banyak orang tergerak untuk menjalani gaya hidup frugal living. 

    Konsep hidup frugal living secara langsung dapat berhubungan dengan upaya-upaya menyelamatkan bumi dari pencemaran lingkungan.

    Frugal Living diartikan sebagai konsep dimana seseorang mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya dengan pertimbangan masak-masak.

    Baca: Meski kaya raya, aktor ini lebih memilih frugal living

    Penganut frugal living tidak akan tergila-gila pada merek tertentu, tidak akan pusing mengikuti perkembangan mode selama apa yang dimilikinya masih bisa digunakan.

    Jadi, para penganut frugal living tidak akan goyah dengan perkembangan mode ataupun pendapat orang dan etap bisa menikmati hidup berkualitas dengan standar mereka sendiri.

    Para frugalis akan tenang menjalani hidupnya untuk mencapai tujuan jangka panjang yang telah ditetapkan.

    Jika kamu tertarik untuk menjalankan konsep frugal living, berikut beberapa langkah praktis yang dapat kamu lakukan: 

    Baca: Gaya hidup minimalis bikin hidup lebih tenang

    1. Tetapkan tujuan finansial jangka panjang 

    Tujuan keuangan tentunya sesuatu yang dibutuhkan, yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan kamu

    Merumuskan financial goals yang jelas dan masuk akal akan membantu kita untuk dapat mencapainya, agar semua upaya yang dilakukan tidak sia-sia.

    Tujuan keuangan bisa saja mengumpulkan dana pernikahan, membeli rumah, tabungan pendidikan anak, merencanakan pensiun dini.

    Tujuan keuangan seorang penganut frugal living juba bisa berupa mengamankan dana darurat yang cukup, atau memiliki dana pensiun yang cukup. Semakin dini membuat tujuan finansial akan semakin baik kamu mengelola keuangan.

    Baca: Cara sederhana membuat hidupmu lebih tenang

    2. Selalu analisis kebutuhan vs keinginan sebelum belanja

    Memenuhi kebutuhan ketimbang keinginan adalah prinsip utama frugal living.

    Analisis terhadap perilaku konsumen menunjukkan bahwa pengeluaran untuk memenuhi gaya hidup jauh lebih besar daripada pengeluaran membeli barang-barang yang dibutuhkan.

    Artinya, banyak uang yang dikeluarkan untuk membeli barang yang tidak memberikan manfaat yang sesungguhnya diperlukan.

    3. Hindari utang konsumtif

    Bisa dibayangkan betapa kacaunya kondisi keuangan jika harus membeli barang konsumtif, yang mungkin saja tidak dibutuhkan, namun harus dibeli dengan kredit. 

    Baca: Kurangi beban hidupmu dengan jalani slow living

    4. Tidak terpengaruh tren

    Konsep frugal living menghindari tren, baik itu fesyen, gadget, mobil, atau benda-benda konsumtif lainnya.  

    Tidak memikirkan ekspektasi dan pendapat orang lain atas diri kita juga menjadi prinsip frugal living. Menghindari siklus konsumerisme dan tidak melakukan impulsif buying adalah perilaku yang harus dijaga dalam frugal living

    5. Hidup bukan untuk saat ini saja

    Menerapkan konsep frugal living tidak hanya untuk kebaikan diri sendiri, tapi untuk juga untuk lingkungan dan keberlangsungan bumi.

    Masih ada hari esok, masih ada anak-anak yang perlu diperjuangkan, masih ada generasi penerus yang akan menggantungkan hidupnya di bumi ini. 

    Referensi :

    White Jhon. 2021. The Frugal Life and Why We Should Educate for It. London Review of Education 19 (1).

  • Mitos Efisiensi Perkebunan Sawit yang Merugikan Petani Kecil dan Lingkungan

    Mitos Efisiensi Perkebunan Sawit yang Merugikan Petani Kecil dan Lingkungan

    7cloud.asia – Separuh produk yang dijual di supermarket dan bahan bakar nabati mengandung minyak sawit.

    Sekitar 50 persen pasokan minyak sawit dunia berasal dari Indonesia, dan kebanyakan minyak sawit itu dihasilkan oleh perusahaan perkebunan.

    Dewasa ini, hampir sepertiga dari lahan pertanian di Indonesia, dikonsesikan pemerintah kepada perusahaan sawit. Kebijakan ini merampas akses sejumlah besar penduduk desa sumber daya yang menopang kehidupan mereka.

    Secara konsisten pemerintah Indonesia mendukung perusahaan perkebunan, termasuk perkebunan sawit, dengan mengorbankan kepentingan petani kecil (usaha budi daya dengan lahan kurang dari 25 hektar).

    Seperti apa industri sawit di Indonesia meminggirkan petani kecil, berikut tinjauannya seperti diterbitkan di The Conversation.

    Seperti yang disampaikan Menteri Pertanahan pada 2019, “kalau (tanah) tidak produktif di tangan rakyat, maka kami akan mengambil tanah… Adalah fakta bahwa perusahaan perkebunan adalah mesin tercepat untuk menciptakan kemakmuran.”

    Baca: Minyak sawit, antara alternatif ketahanan pangan dan ancaman lingkungan

    Sekarang perkebunan menguasai lebih dari sepertiga lahan pertanian Indonesia, terutama untuk budidaya sawit. (Chain Reaction Research)

    Para pejabat berasumsi bahwa perkebunan “mesin” yang efisien, tetapi penelitian kami menunjukkan bahwa efisiensi perkebunan sawit adalah mitos yang berbahaya.

    Perkebunan besar kalah bersaing
    Secara global, tanaman pasar seperti kakao, kopi, teh dan karet yang semula dibudidayakan oleh perkebunan sekarang kebanyakan digarap petani kecil yang menghasilkan panen yang sama dengan biaya lebih rendah.

    Beberapa pengamat berpendapat bahwa sawit berbeda. Mereka mencatat bahwa panen rata-rata perkebunan sawit lebih tinggi daripada panen petani kecil, tetapi angka rata-rata menutupi variasi yang signifikan.

    Analis industri yang melacak 18 perusahaan perkebunan sawit menemukan panen mereka berkisar antara 14 hingga 26 ton buah segar per hektar; kisaran di kalangan ratusan petani kecil di lokasi penelitian kami juga serupa.

    Alasan utama rendahnya panen sawit di kalangan petani kecil adalah kurangnya akses mereka ke benih unggul yang dipakai oleh perkebunan–benih yang mampu menghasilkan panen buah hingga 66 persen lebih tinggi.

    Namun, program pemerintah untuk memasok benih unggul kepada petani kecil berhenti. Setelah lima tahun berjalan, program hanya mencapai sekitar 10 persen dari target.

    Jika sawit tumbuh baik di lahan kecil maupun di lahan besar (dengan bibit yang sama), bagaimana perbandingan dimensi efisiensi lainnya?

    Baca: Plus minus biodiesel berbahan sawit

    Efisiensi penggunaan lahan
    Dari 22 juta hektare yang dikonsesikan pemerintah kepada perkebunan sawit, baru 10 juta hektare yang ditanami.

    Sebagian lahan konsesi adalah wilayah curam, gambut, dan rapuh secara ekologis. Sawit dapat ditanam di sana tetapi biayanya tinggi dan panennya rendah. Namun, sering kali para manajer yang dikejar target perusahaan menanam sawit di lahan tidak bagus tadi.

    Petani kecil dan masyarakat adat di Indonesia menggarap lahan dengan sangat hemat.

    Mereka memanfaatkan sumber daya hutan secara berkelanjutan dan memilih tanaman yang cocok untuk setiap bidang lahan, sambil memanfaatkan uang dan tenaga kerja dengan bijaksana.

    Hasilnya, mereka mampu memberi respon yang lebih fleksibel terhadap perubahan iklim.

    Hanya saja, mereka dilarang memanfaatkan lahan konsesi perkebunan, karenanya banyak hamparan lahan perkebunan tidak ditanami dan banyak petani mengalami kurang pangan.

    Baca: Cegah kelaparan kembali terulang, Pemerintah bangun lumbung sosial di Papua Tengah

    Menghemat biaya tenaga kerja
    Budi daya sawit bukan usaha berteknologi tinggi. Pemanen mengunduh tandan buah secara manual dengan sabit tajam yang diikatkan pada tongkat panjang.

    Para pekerja perempuan menebar pupuk dan menyemprot herbisida dari wadah dan tangki yang digendong di punggung mereka.

    Kerja kebun di lahan perkebunan maupun lahan petani dilakukan dengan cara yang sama. Bedanya, perkebunan memerlukan manajer, akuntan, mandor dan satpam, dengan biaya yang tinggi.

    Untuk mengurangi biaya tenaga kerja, perkebunan semakin mengurangi karyawan penuh waktu dan menggantinya dengan pekerja lepas dan kontrak luar.

    Para pekerja lepas ini tidak perlu diberi pensiun, premi perawatan kesehatan, perumahan keluarga atau tunjangan lainnya.

    Namun “efisiensi” tenaga kerja perkebunan ada harganya: di perkebunan yang kami teliti, inkonsistensi pasokan tenaga kerja mengakibatkan pemeliharaan kebun dan panen yang buruk.

    Baca: El Nino ancam ketahanan pangan, ini yang dilakukan Kementan

    Persoalan angkutan dan pengolahan
    Pengangkutan buah dan pengolahan minyak mentah adalah bagian besar dalam narasi industri tentang keunggulan efisiensi perkebunan.

    Hal ini karena tandan buah segar sawit harus sampai di pabrik dalam waktu 48 jam setelah panen di kebun. Namun ukuran perkebunan yang besar menimbulkan tantangan tersendiri.

    Perkebunan swasta yang kami teliti membangun jalan kebun sepanjang 258 kilometer untuk mengangkut buah sawit.

    Tetapi selama musim hujan banyak jalan yang tidak dapat dilalui; selama berbulan-bulan, berton-ton sawit menumpuk busuk sia-sia.

    Ada juga masalah kemacetan bongkar muat buah di pabrik. Puluhan truk harus antre menunggu, terkadang semalaman.

    Pabrik hanya beroperasi kurang dari setengah kapasitasnya–masalah umum di Indonesia saat perusahaan membangun pabrik yang jauh lebih besar dari yang dibutuhkan.

    Di Thailand, negara di mana petani kecil menanam 80% sawit, dan di beberapa wilayah Sumatera tempat para petani swadaya mapan, warga desa menggunakan jalan lokal dan truk kecil untuk mengangkut panen ke pabrik kecil terdekat.

    Namun, di Kalimantan tempat 86% sawit ditanam oleh perkebunan raksasa, pabrik besar yang tidak efisien umum ada di mana-mana.

    Baca: Pemerintah siapkan Rp 8 T untuk antisipasi El Nino

    Pemilik dan agen
    Perkebunan juga mengidap persoalan yang diidentifikasi para ekonom sebagai “masalah prinsipal-agen”.

    Prinsipal atau pemilik (perusahaan dan pemegang saham) harus bergantung pada agen (manajer dan pekerja) untuk menjalankan rodaproduksi, akan tetapi sering kali kepentingan mereka berbeda.

    Korporasi mengejar laba, ditunjukkan pada neraca perusahaan. Sementara manajer dan pekerja berusaha untuk ‘menyakap’ sebagian dari kemakmuran yang beredar di dalam dan di sekitar perkebunan sebelum ia mengalir pergi entah ke mana.

    Kami melihat masalah ini berlangsung dalam berbagai bentuk pencurian yang meluas.

    Para “agen” ini, dari direktur dan manajer hingga pekerja lapangan, menemukan cara untuk menambah penghasilan pribadi. Manajer menggelembungkan harga kontrak, mandor memotong upah pekerjanya.

    Buah, bahan bakar, serta peralatan pada menghilang di malam hari. Warga desa juga mencuri dari perkebunan dan terkadang memblokade jalan atau pabrik untuk memprotes ketidakadilan dan pengabaian oleh perusahaan.

    Konflik dan pencurian menciptakan inefisiensi. Petani kecil yang menggarap lahan mereka sendiri, dalam penelitian kami, tidak mengidap masalah ini.

    Baca: Mengapa pupuk kandang lebih baik ketimbang pupuk kimia

    Meskipun tidak sempurna, tata moral menjadi kontrol kontrol sosial di kalangan petani, dan hal ini tidak hadir dalam hubungan antara perusahaan dan pelaksana kerja di perkebunan.

    Jika tidak efisien, mengapa perkebunan bisa bertahan di Indonesia?
    Pada dekade 1930-an, pemerintah kolonial melindungi perkebunan karet yang kembang-kempis bersaing dengan petani kecil.

    Petani sawit saat ini secara tidak langsung tertindas juga oleh kebijakan pemerintah yang berpihak pada perusahaan.

    Di wilayah penelitian kami, lima perusahaan menduduki sebagian besar lahan pertanian, dan hanya menyisakan sedikit lahan bagi petani yang ingin menanam sawit yang menguntungkan ini secara mandiri.

    Dalam perhitungan mereka, tambahan enam hektar kebun sawit ke kebun campuran mereka akan memungkinkan para petani menghidupi keluarga, memelihara kebun dan berinvestasi dalam pendidikan anak.

    Membuat perkebunan perusahaan lebih efisien tidak akan mengatasi ketidakadilan mendasar ini.

    Kami berharap dengan membongkar mitos efisiensi perkebunan, kami dapat menawarkan peluang yang lebih baik, dan masa depan yang lebih sejahtera bagi para petani Indonesia.

    Penulis:

    1. , Professor, Department of Anthropology, University of Toronto
    2. , Professor, Department of Anthropology, Universitas Gadjah Mada

     

  • Pegiat Lingkungan Asal Prancis Bangun Rumah dari Sampah Plastik di Bali

    Pegiat Lingkungan Asal Prancis Bangun Rumah dari Sampah Plastik di Bali

    7cloud.asia – Sejumlah pegiat lingkungan di Bali yang peduli pada sampah plastik menggelar berbagai cara untuk mengatasi limbah yang sulit terdekomposisi itu.

    Para pegiat lingkungan di Bali mendaur ulang sampah plastik menjadi berbagai benda yang bermanfaat dan bahkan sama sekali berbeda dengan bentuk asalnya.

    Untuk tahu rasanya tinggal dalam rumah yang hampir semuanya terbuat dari sampah plastik, kita bisa berkunjung ke rumah aktivis lingkungan asal Prancis yang kini tinggal di Bali, Gary Bencheghib.

    Baca: Sumber terbesar sampah plastik yang cemari lingkungan

    Rumah seluas 12 meter persegi yang dinamai “Pondok Alit” itu sepenuhnya terbuat dari sampah plastik. Tempat tidur, kamar mandi dan dapur dibuat dari sampah plastik yang dikumpulkan dari sungai dan kemudian diproses

    “Kita menggunakan 35.000 kantong keresek plastik yang kita olah menjadi papan yang dibutuhkan untuk membuat dinding, lantai, dan atap (rumah ini),” jelasnya.

    Telah lebih dari setengah tahun, Bencheghib, mengaku tidur di rumah bergaya minimalis itu. Jadi jangan harap pengunjung menemukan benda mewah atau moderen di sana.

    Baca: Guna ulang lebih efektif kurangi sampah plastik, tapi diabaikan

    Untuk mengatasi udara Bali yang panas, rumah dari sampah plastik ini mengandalkan sistem ventilasi udara alami.

    “The inspiration behind this is really to show that apapun dari sampah palstik yang paling kotor bisa menjadi karya kreatif bila kita giving them the second life,” komentarnya.

    Penerima penghargaan bergengsi Ramon Magsaysay Award tahun 2022 ini adalah pendiri organisi nirlaba “Sungai Watch”.

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan sistem isi ulang dari Siklus

    Sungai Watch didirikan pada tahun 2020 ini memiliki tujuan utama membersihkan sungai-sungai yang tersumbat, pantai-pantai yang kotor, dan tempat-tempat pembuangan sampah ilegal di sekitar Bali dan Jawa.

    Target utama organisasi itu adalah menghentikan sampah, khususnya sampah plastik, dibuang masuk ke laut.

    Sampah plastik memang menjadi masalah serius bagi lingkungan di Indonesia, termasuk di Bali. 

    Baca: Robries memberi nilai lebih pada sampah plastik

    Kementerian Kehutanan dan Lingkungan mencatat, sepanjang tahun 2021 saja Bali memproduksi 915.500 ton sampah yang sebagian besar berupa sampah plastik.

    Kondisi ini membuat Bali provinsi penghasil sampah terbesar ke-8 di Indonesia. Namun kini berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi sampah plastik ini.

    Setelah menyelesaikan rumah pertamanya yang terbuat dari sampah plastik yang didaur ulang, Bencheghib ingin mengembangkan lebih lanjut model rumah itu dan memproduksinya secara massal untuk korban bencana alam.

    Baca: Baru dua produsen yang serius garap sampah plastiknya

    Namun, ia mengaku, usahanya itu masih berliku mengingat tidak murahnya upaya mendaur ulang sampah plastik menjadi bahan baku rumah.

    Ia hanya berharap, jika teknologi memungkinkan, rumah plastik kelak dibuat secara massal di pabrik.

    “Apakah bisa jadi seperti prefab, artinya dibuat di pabrik sehingga di lapangan kita hanya tinggal merakitnya,” jelasnya.

    Baca: Dunia targetkan turunkan sampah plastik hingga 80 persen pada 2040

    Tidak hanya Gary dan Sungai Watch yang berusaha mendaur uang sampah plastik untuk menyelamatkan lingkungan di Bali.

    Salah satu klub pantai kelas atas di Bali juga mendorong upaya nol sampah dengan membuat furnitur dan ornamen dekorasi sendiri dari sampah plastik.

    Kursi, kalung, kotak tisu, dan tatakan gelas di klub pantai Potato Head dibuat di fasilitas mereka sendiri dengan menggunakan berkilo-kilo sampah plastik.

    Namun detail seperti apa yang dilakukan Potato Head dalam mengolah sampah plastik, ikuti di tulisan selanjutnya. 

    Sumber: VOA Indonesia

     

  • Pengganti Lilin Beraroma sebagai Pengharum Ruangan yang Ramah Lingkungan

    Foto: priceza

    7cloud.asia – Menyalakan lilin beraroma mungkin tampak seperti cara santai untuk menikmati waktu jeda di rumah.

    Tetapi membakar lilin beraroma melepaskan polutan VOC dan memperburuk kualitas udara dalam ruangan rumah kita.

    Penggunaan lilin beraroma ternyata menyimpan bahaya untuk kesehatan. Hal ini karena, sebagian besar lilin beraroma dapat melepaskan bahan kimia berbahaya ke udara — bahkan saat tidak dinyalakan.

    Baca: Ancaman di balik lilin beraroma

    Jadi, saat kita menikmati lilin beraroma pada saat bersamaan bahaya muncul bagi kesehatan kita. 

    Tak hanya itu, pembakaran lilin termasuk lilin beraroma juga melepas jelaga di rumah kita. 

    Untuk membatasi noda jelaga dan kualitas udara yang buruk di rumah, kita disarankan untuk menghindari atau membatasi penggunaan lilin beraroma.

    Baca: Yuk bikin lilin sendiri, dijamin lebih ramah lingkungan

    Namun, jika memang kamu sangat menginginkan suasana yang menyenangkan dan aroma lilin beraroma, berikut beberapa cara yang lebih aman untuk mengharumkan udara sebagaimana dikutip IQAir

    1. Gunakan minyak esensial 

    Minyak atsiri dapat ditempatkan di diffuser atau di air mandi untuk menciptakan aroma yang diinginkan.

    Minyak atsiri ini bisa digunakan sebagai alternatif pengganti lilin beraroma untuk mengharumkan ruangan. 

    Baca: Beragam produk ramah lingkungan dari DemiBumi

    2. Rebus rempah

    Masukkan bumbu-bumbu seperti kayu manis, cengkeh, dan pala ke dalam panci berisi air dan biarkan mendidih di atas kompor.

    3. Buat bunga rampai/potpuri

    Barang-barang kering seperti bunga, buah beri, kulit buah, serpihan kayu, dan rempah-rempah juga bisa dimanfaatkan sebagai pewangi udara.

    Tempatkan barang-barang kering tersebut dalam mangkuk atau tas kain dan diletakkan di beberapa sudut di rumah kamu. Dan rasakan kesegarannya sepanjang hari, tanpa khawatir adanya polusi udara.

    Baca: Daftar produk ramah lingkungan, dari sedotan guna ulang hingga produk isi ulang

    Namun ada satu hal yang kita ingat. Meskipun ada wewangian alternatif yang lebih aman seperti minyak esensial bisa, udara yang benar-benar bersih dan tidak berbau sama sekali jauh lebih aman untuk kesehatan kita.

     

  • Food Estate Sudah Ada Sejak Era Soeharto, Mengapa Gagal dan Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?

    Food Estate Sudah Ada Sejak Era Soeharto, Mengapa Gagal dan Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?

    7cloud.asia – Proyek lumbung pangan atau food estate kini menjadi sorotan, menyusul pernyataan Sekjen PDIP yang menyebut ada kejahatan lingkungan dalam program ini.

    Namun, sebenarnya proyek food estate tak hanya dilakukan di era Jokowi. Food estate juga pernah diupayakan di era Presiden Soeharto 25 tahun silam, lewat pembuatan sawah sejuta hektar di Kalimantan.

    Namun demikian, hampir semua program food estate bisa dikatakan gagal. Kegagalan juga dialami proyek food estate di era Jokowi yang mulai diterapkan di awal periode keduanya. 

    Baca: Meski disoal dan dinilai gagal, food estate tetap dilanjutkan

    Dilansir kbr.id, engamat pertanian sekaligus Guru Besar dan Kepala Pusat Bioteknologi IPB Dwi Andreas Santosa mengatakan kegagalan food estate itu terjadi karena pemerintah melanggar 4 pilar pengembangan lahan pertanian skala besar,.

    “Yakni ketidaksesuaian tanah yang dijadikan tempat food estate, persoalan infrastruktur, budidaya dan teknologi, serta sosial-ekonomi,” ujarnya sebagaimana dikutip kbr.id November tahun lalu.

    Ia mencontohkan salah satu kendala adalah soal kesiapan sumber daya manusia (SDM) di dalam pengembangan food estate. Hal ini bersama dengan sejumlah masalah lain harus diselesaikan bersamaan demi keberhasilan program food estate.

    Baca: Food estate disebut sebagai kejahatan lingkungan, ini tanggapan Prabowo

    Kalau lahan dibuka tapi tak ada petani yang mau menggarap, maka lahan akan terbengkalai dan menjadi semak belukar lagi. Dana yang sudah dimasukkan ke sana mungkin ratusan miliar hilang, lenyap karena lahan kembali seperti semula enggak bisa lagi dibiarkan enggak bermanfaat kan.

    Hal inilahh yang terjadi pada program daerah lahan gambut 1 juta hektare yang dikembangkan dengan mendatangkan petani dari Jawa, tetapi akhirnya tak bertahan lama.

    Karena itu, Andreas mengusulkan agar food estate yang sebenarnya penting ini dituangkan dalam semacam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).

    Dengan demikian, dapat dipastikan siapapun presidennya maka komitmen untuk menyelesaikan proyek food estate tetap berlangsung.

    Baca: Panen jagung di food estate Keerom

    Tidak seperti saat ini yang dinilai tidak konsisten. Yakni, ketika terjadi perubahan kepemimpinan, berganti juga kebijakan proyek food estate, sehingga tak kunjung selesai dan mangkrak.

    Ia menyarankan pemerintah fokus kepada satu lokasi saja, yaitu memperbaiki lahan gambut 1 juta hektare yang sekarang sudah rusak berat.

    Dengan begitu, pemerintah diharapkan juga bisa fokus dan menargetkan produktivitas pertanian sesuai target.

     

    Di era Presiden Jokowi, food estate mulai diwacanakan pada Agustus 2020. Lantas pada September 2022, Jokowi kembali memerintahkan program pengintensifan lahan menjadi food estate. 

    Baca: Kisah sukses petani pisang di Kalimantan Timur

    “Cadangan-cadangan lahan kita di Kalimantan, di Sumatra Utara, di Papua, di Maluku, harus menjadi bagian-bagian dari strategi kita. Dan di sana Presiden mengarahkan food estate agar bisa dilakukan lebih maksimal,” ujar Mentan usai mengikuti rapat di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, September 2022.

    Saat itu Mentan mengakui ada sejumlah lahan pertanian yang belum mampu memberikan hasil maksimal. Hal ini disebabkan karakteristik lahan yang digunakan.

    Pengembangan food estate ini dilakukan di berbagai daerah, seperti Sumatra Utara, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, dan Papua.

    Syahrul mengklaim, pengembangan food estate di sejumlah daerah berjalan dengan cukup baik. Salah satunya adalah di Kalimantan Tengah yang mampu meningkatkan produktivitas dari 3 ton menjadi di atas 4-5 ton.

    Baca: Dilema sawit, antara ketahanan pangan dan ancamannya pada lingkungan

    Terpisah, Manajer Advokasi & Kampanye Pantau Gambut Wahyu A Perdana juga menyebut kegagalan food estate di era Jokowi.

    Menurutnya telah banyak ahli, baik itu ahli yang terkait kehutanan [maupun] pertanian, yang mengingatkan kemungkinan kegagalan food estate ini.

    “Karena banyak pada wilayah food estate, khususnya Kalimantan Tengah dan sebagian Papua, berada di ekosistem gambut yang tidak selalu cocok dengan jenis pertanian tertentu,“ jelas Wahyu kepada BBC News Indonesia.

    Berdasarkan temuan studi lapangan, ekosistem di wilayah food estate memiliki tingkat keasaman yang tinggi, sehingga benih-benih yang ditanam pun akhirnya gagal panen.

    Baca: Motif efisiensi yang rugikan petani sawit dan lingkungan

    Lebih dari itu food estate ini juga telah mengakibatkan dampak lingkungan yang tak kecil. 

    “Praktik dan kearifan lokal yang berubah padahal jenis dan benih yang dibawa itu belum tentu cocok dengan ekosistem gambut,“ katanya.

    Lebih lanjut, ia menyebut Kajian Pantau Gambut Maret 2023 menemukan indikasi deforestasi meluas.

    Pada Rencana pelaksanaan Food Estate tahap I tahun 2020-2021 di Kalimantan Tengah seluas 31.000 hektare dibagi masing-masing seluas 10.000 hektare di tiga Kabupaten yaitu Pulang Pisau, Kapuas, dan Gunung Mas.

    Baca: Petani kopi terdampak perubahan iklim

    Hasil pemantauan melalui citra satelit menunjukan adanya deforestasi di mana area seluas 700 hektare di Desa Tewai Baru menjadi area ekstensifikasi terluas.

    Wahyu menekankan pentingnya para pembuat kebijakan untuk mengedepankan faktor lingkungan secara strategis dalam menyusun program.

    Sebab, kerusakan lingkungan memiliki dampak yang berkelanjutan.

    “Tidak hanya sebagai komoditas jangka pendek, dianggap sebagai sumber daya alam yang bisa dieksploitasi, tapi dia harus dijaga karena faktor antargenerasinya cukup panjang,“ ungkapnya seperti dikutip BBC News Indonesia. 

    Esti Utami, dari berbagai sumber

     

  • Ratusan Pelajar Ramaikan Pawai untuk Iklim di Medan

    Ratusan Pelajar Ramaikan Pawai untuk Iklim di Medan

    7cloud.asia – Ratusan pelajar di Medan, Sumatera Utara melakukan long march dalam rangka pawai budaya pelajar untuk lingkungan atau pawai untuk iklim pada Jumat (18/8/2023).

    Pawai untuk iklim yang diinisiasi oleh Ikatan Pelajar Muhammadiyah dan My Green Leaders ini dimulai dari lapangan Asrama Haji Medan dan melewati jalan Trans-Sumatera.

    Selain untuk melestarikan kebudayaan lokal, pawai untuk iklim tersebut bertujuan untuk mengedukasi seluruh pengguna jalan tentang keadaan lingkungan Bumi yang terancam krisis iklim.

    Baca: Tiga tuntutan Pawai Bebas Plastik 2023

    Dalam pawai untuk iklim tersebut, para pelajar menyerukan aksi perubahan untuk iklim secepatnya, dengan mengsung poster dan slogan, seperti:

    “Pelajar Indonesia menjaga Bumi, dan menyelamatkan lingkungan”

    “Dorong Pemimpin Pro-Iklim”

    “Bumi adalah rumah ibadah kita”

    “Melindungi bumi adalah sebagian dari iman” dan lain sebagainya.

    Baca: Perjalanan lima tahun Pawai Bebas Plastik

    Lewat aksi pawai untuk iklim ini, para pelajar mendorong pemerintah untuk memperhatikan masalah lingkungan yang menjadi tanggung jawab bersama.

    “Kami sekaligus mengajak semua pelajar lainnya untuk turut aktif dalam merawat lingkungan,” ungkap Ketua Bidang Lingkungan Hidup PP IPM, Kholida Annis.  

    IPM melalui My Green Leader turut mendukung aksi Faiths for Climate Change, kampanye tahunan dari Greenfaith seluruh dunia.

    Baca: Greta Thunberg berjuang untuk lingkungan sejak umur 8 tahun

    National Coordinator Greenfaith Indonesia Hening Parlan menegaskan bahwa pelajar perlu peduli terhadap krisis iklim karena para pelajar adalah pemilik bangsa di masa depan.

    “Mereka yang saat ini ada di Sekolah Menengah Atas (SMA), atau di Universitas, mereka adalah generasi yang nantinya akan menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan,” katanya.

    Hening berharap, para pelajar tahu apa yang terjadi saat ini tentang lingkungan, tentang governance, tentang situasi Indonesia yang sesungguhnya, termasuk juga dengan sejarah sejak Indonesia Merdeka pada 78 tahun lalu.

    Baca: Aksi keren lima anak muda asal Bandung bernama Pandawara

    “Kita mendorong mereka bukan hanya mereka bertindak untuk kritis terhadap apa yang terjadi, tapi mereka juga aware dan kemudian mereka paham, kemudian mereka tahu apa yang harus mereka lakukan,” ujarnya.

    Hening meyakini, di masa depan para pelajar yang telah paham dan peduli terhadap krisis iklim, akan terus peduli pada tempat-tempat di mana mereka berkontribusi.

    Jika mereka ingin jadi pengusaha, ujarnya maka mereka akan jadi pengusaha yang peduli lingkungan.

    Baca: Thrifting, cara anak muda sekarang merawat lingkungan

    “Kalau mereka paham bahwa sumberdaya alam harus dijaga, maka dalam investasi mereka tidak akan merusak lingkungan dan sumberdaya alam,” ungkapnya.  

    Hening juga mendorong para pelajar mengampanyekan kepedulian lingkungan di sosial media agar suara mereka lebih didengar secara luas.

    “Dan, tentunya bisa bersungguh-sungguh untuk belajar lebih banyak tentang lingkungan dan perubahan iklim,” pungkasnya.

    Baca: Dari tragedi Minamata, lahirlah Hari Lingkungan Hidup Sedunia

     

  • Greenpeace: Presiden Jokowi Tak Singgung Isu Lingkungan dan Polusi Udara di Pidato Kenegaraan

    Greenpeace: Presiden Jokowi Tak Singgung Isu Lingkungan dan Polusi Udara di Pidato Kenegaraan

    7cloud.asia – Organisasi lingkungan Greenpeace menyayangkan, Presiden Joko Widodo tidak menyinggung isu lingkungan dan polusi udara dalan Pidato Kenegaraan yang disampaikan pada 16 Agustus 2023 lalu.

    Padahal menurut Greenpeace melihat Indonesia menghadapi masalah lingkungan yang serius. Polusi udara di Jakarta dan sekitarnya yang menjadi sorotan dunia adalah contoh nyata.

    Kepala Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak mengatakan, berbagai kebijakan yang diambil pemerintah masih belum selaras dengan ekonomi hijau atau ramah lingkungan yang selama ini didengungkan.

    Baca: Indonesia bisa wujudkan Indonesia Emas 2045

    Berikut isi lengkap pernyataan sikap Greenpeace terkait pidato kenegaraan Presiden Jokowi, sebagaimana dilansir di laman resmi mereka, greenpeace.org:

    “Di awal pidato, Presiden Joko Widodo menyinggung soal polusi budaya di tengah masyarakat Indonesia yang telah jauh dari budi pekerti dan keluhuran bangsa.

    Namun, Presiden luput menyebutkan polusi udara dan kebakaran hutan lahan yang saat ini mengancam kehidupan rakyat Indonesia.

    Pada beberapa minggu terakhir, Jakarta selalu menduduki peringkat atas kota paling berpolusi di dunia menurut data IQAir.

    Baca: Ketua MPR bilang presiden terpilih harus lanjutkan tongkat estafet dari Jokowi

    Bahkan menurut Menparekraf Sandiaga Uno, Presiden menderita batuk-batuk belakangan ini yang diduga juga karena polusi udara.

    Bukan cuma warga Jakarta dan sekitarnya, warga di Kalimantan dan Sumatera di saat yang bersamaan juga terancam kesehatannya akibat udara kotor dari asap karhutla.

    Padahal Presiden sudah dua kali digugat soal polusi udara dan dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Satu karena asap karhutla di Kalimantan, dua karena udara Jakarta.

    Tapi polanya sama, Presiden dan para menterinya tidak menaati putusan pengadilan dan justru banding. Selalu lepas tanggung jawab soal polusi udara dan asap.

    Baca: Perlu langkah ekstrem untuk atasi polusi udara di Jakarta

    Kabut asap dari polusi udara muncul di langit di atas kawasan bisnis di Jakarta. Kualitas udara semakin buruk akhir-akhir ini akibat tingginya polusi lalu lintas dan pembangkit listrik tenaga batu bara yang mengelilingi Jakarta.

    Presiden juga tidak menyinggung krisis yang mengancam peradaban manusia saat ini, yaitu krisis iklim. Padahal Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi karbon sebesar 31,89% tahun 2030 dengan kemampuan sendiri.

    Namun, kebijakan politik yang dihasilkan bertentangan dengan komitmen tersebut.

    “Disahkannya revisi UU Minerba, UU Ciptaker, dominasi penggunaan batubara pada rencana kelistrikan nasional, pembukaan lahan untuk tambang nikel (hilirisasi industri), target peningkatan produksi minyak bumi 1 juta barel/hari pada 2030, justru menciptakan kebijakan yang semakin membawa negara ini rentan terhadap dampak krisis iklim,” papar Leonard Simanjuntak

    Baca: Polusi udara di Jakarta sangat parah, ini tuntutan Koalisi IBUKOTA

    Pada September 2022, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan Indonesia berpotensi mengalami kerugian Rp 112,2 triliun akibat krisis iklim pada 2023.

    Bank Indonesia juga memprediksi ekonomi dunia bisa susut 11-14 persen dalam 5 dekade jika negara-negara abai pada krisis iklim.

    Pada pidatonya, Presiden mengatakan bahwa ekonomi hijau dan hilirisasi sebagai window of opportunity bagi Indonesia untuk sebaik-baiknya memanfaatkan sumber daya alam, energi baru dan terbarukan.

    Padahal Indonesia masih terseok-seok dalam pengembangan energi terbarukan. Mengacu pada data pemerintah, porsi energi terbarukan baru mencapai 11.5% pada 2021, sementara targetnya 23% pada 2025.

    Baca: Perdagangan karbon ditataulang demi maksimalkan pendapatan Negara

    Selain itu, payung hukum utama transisi energi yaitu RUU EBT masih hilang arah karena memasukkan turunan batu bara sebagai jenis energi baru dan terbarukan.

    Kemudian Presiden juga menggadang-gadang bahwa investasi hilirisasi nikel 43 pabrik pengolahan nikel mampu membuka luas lapangan pekerjaan, dan menjadi komoditas baru yang bisa menggerakkan perekonomian tanah air.

    Nyatanya, kualitas nikel yang dihasilkan oleh Indonesia tidak bisa langsung diolah menjadi baterai.

    Menurut ekonom Faisal Basri, sebesar 90% hasil hilirisasi nikel dalam negeri justru lari ke Cina, sedangkan Indonesia hanya mendapatkan 10%.

    Baca: Terdampak perubahan iklim, Indonesia bisa dapatkan dana loss and damage

    Hilirisasi nikel juga mendorong deforestasi masif di Indonesia timur, hal ini membuktikan bahwa model pembangunan ekonomi Indonesia masih akan mengandalkan industri ekstraktif.

    Ini tidak selaras dengan cita-cita pembangunan berbasis ekonomi hijau yang juga disinggung Presiden dalam pidato kenegaraannya.

  • Ilmuwan AS Kembangkan Bioplastik Berbahan Bangkai Lalat Hitam

    Ilmuwan AS Kembangkan Bioplastik Berbahan Bangkai Lalat Hitam

    7cloud.asia – Sebuah kabar baik bagi lingkungan datang dari Amerika Serikat. Dilansir The Guardian, peneliti dari Universitas A&M Texas berhasil mengubah bangkai lalat menjadi bioplastik yang bisa terurai. 

    Temuan bioplastik dari bangkai lalat ini dipresentasikan pada pertemuan musim gugur American Chemical Society (ACS).

    Teknologi yang mampu mengubah bangkai lalat menjadi bioplastik ini diprediksi akan sangat bermanfaat, karena sulit untuk menemukan sumber polimer yang bisa terurai dengan kegunaan yang bersaing.

    “Selama 20 tahun, kelompok kami telah mengembangkan metode untuk mengubah produk alami – seperti glukosa yang diperoleh dari tebu atau pohon – menjadi polimer yang dapat terurai di lingkungan,” kata peneliti utama, Karen Wooley.

    Baca: Mengenal bioplastik, apakah benar-benar aman untuk lingkungan

    “Tetapi produk alami tersebut dipanen dari sumber daya yang juga digunakan untuk makanan, bahan bakar, konstruksi, dan transportasi.”

    Woley menambahkan, temuan ini berawal saat seorang koleganya menyarankan untuk menggunakan produk limbah yang tersisa dari pertanian, yakni lalat hitam menjadi bahan bioplastik.

    Selama ini, larva lalat yang kaya protein dan nutrisi dibudidayakan untuk pakan ternak. Larva lalat ini juga dibudidayakan untuk memecah limbah makanan. 

    Namun, lalat dewasa kurang bermanfaat dan dibuang setelah masa hidupnya yang singkat.

    Baca: Lakukan ini saat menggunakan bioplastik biar nggak nyampah

    Tim Wooley telah mencoba menggunakan bangkai lalat hitam ini untuk membuat bahan yang berguna seperti bioplastik ini.

    Para peneliti menemukan bahwa kitin, polimer berbasis gula, adalah komponen utama lalat dan memperkuat cangkang, atau kerangka luar, serangga dan krustasea.

    Cangkang udang dan kepiting sudah digunakan untuk ekstraksi kitin. Para peneliti mengatakan bubuk kitin yang bersumber dari lalat tampak lebih murni daripada dari krustasea.

    Lebih dari itu, memproses kitin dari lalat dapat menghindari kekhawatiran soal beberapa alergi akibat makanan laut.

    Baca: Lima produsen sampah plastik terbesar di dunia

    Dari produk tersebut, tim menciptakan hidrogel yang mampu menyerap air 47 kali lipat beratnya hanya dalam waktu satu menit.

    Produk ini dapat digunakan di lahan pertanian untuk menangkap air banjir dan kemudian melepaskan kelembapan secara perlahan selama musim kemarau.

    “Di sini di Texas, kami terus-menerus berada dalam situasi banjir atau kekeringan, jadi saya telah mencoba memikirkan bagaimana kami dapat membuat hidrogel penyerap super yang dapat mengatasi hal ini.” imbuh Woley,

    Para ilmuwan berharap mereka dapat segera membuat bioplastik seperti polikarbonat atau poliuretan yang secara tradisional terbuat dari petrokimia, namun kali ini berbahan bangkai lalat hitam.

    Baca: 5 jenis plastik sekali pakai yang wajib dihindari

    Bioplastik ini disebut akan menjadi solusi bagi sampah plastik karena tidak menambah sampah plastik.

    Wooley berkata: “Pada akhirnya, kami ingin serangga (lalat, red) memakan sampah plastik sebagai sumber makanan mereka, lalu kami akan memanennya lagi dan mengumpulkan komponennya untuk membuat plastik baru.”

    “Jadi serangga tidak hanya menjadi sumbernya, tetapi mereka juga akan mengkonsumsi plastik yang dibuang.”

    Sumber: The Guardian, baca artikel asli di sini

  • 7 Tanaman Dalam Ruangan yang Bagus untuk Lingkungan

    7 Tanaman Dalam Ruangan yang Bagus untuk Lingkungan

    7cloud.asia – Fakta ilmiah menunjukkan tanaman tiak hanya membuat lingkungan lebih nyaman dan terlihat indah, tapi juga berdampak besar pada suasana hati dan kesehatan kita.

    Sejumlah ariset mengungkap keberadaan tanaman di lingkungan sekitar dapat meningkatkan kreativitas, produktivitas, dan konsentrasi kita. Tanaman juga bisa mengurangi stres, kecemasan, dan kelelahan.

    Tanaman juga membersihkan udara dan menyerap racun di lingkungan kita. Singkat kata, keberadaan tanaman bisa membuat lingkungan jadi luar biasa meski itu ruang paling gelap sekalipun.

    Baca: 8 Tanaman ini efektif serap polusi udara

    Nah, buat kamu yang banyak bekerja dari kamu bisa meningkatkan mood dengan memilih sejumlah tanaman di rumah kamu.

    Berikut sejumlah tanaman dalam ruangan yang mudah dirawat yang bisa mendongkrak mood kerja kamu, sebagaimana kami kutip dari prettyslow.life: 

    1. Sansevieria trifasciata.
    Bahkan NASA menyarankan sanseviera sebagai tanaman pilihan untuk pembersih udara alami yang hebat.

    Lebih dari itu Sanseviera juga sangat mudah dirawat dan sangat indah untuk dilihat saat bekerja. Letakkan satu dua pot sanseviera untuk menjadi booster di hari kerjamu yang sibuk. 

    Baca: Tanaman yang dipercaya bisa membawa keberuntungan

    2. Lidah buaya (Aloevera)
    Semua orang tahu lidah buaya adalah tanaman ajaib, namun tidak banyak orang yang tahu bahwa lidah buaya juga cocok sebagai tanaman dalam ruangan.

    Lidah buaya membutuhkan sinar matahari jadi pastikan meletakannya di dekat jendela. Pemeliharaannya juga sangat mudah dan hampir tidak membutuhkan airsehingga cocok untuk mereka yang super sibuk dan pelupa menyirami bayi tanaman mereka.

    3. Lili Paris (Chlorophytum comosum) 

     

    Lili paris adalah tanaman indoor selanjutnya. Jika kamu memperlakukannya dengan baik, maka lili paris akan menghadiahi kamu anak-anaknya yang menjuntai indah.

    Lily paris juga akan terlihat anggun di atas meja kerja ataupun jendela ruang kerja kamu. 

    Baca: Mengenal mitos pohon hayat

    4. Kimunding (Ficus lyrata).

    Kimunding juga tergolong tanaman dalam ruang yang mudah dipelihara. Bahkan jika kamu tergolong pencinta tanaman yang buruk, kimunding akan tetap bertahan hidup. 

    Daunnya yang hijau dan sangat cantik dan akan meningkatkan ruangan kamu. Jadi jika kamu hanya punya tempat untuk satu tanaman saja, maka kimunding layak menjadi pilihan.

    5. Sirih gading (Epipremnum aureum)
    Sirih gading cantik ditempatkan di mana saja, rak buku, rak, meja kerja atau dinding ruang kerja kamu.

    Daunnya hijau berbentuk hati yang menjuntai dari langit-langit akan membuat ruangan terlihat lebih apik. Plus kamu akan mendapat bonus tambahakn karena tanaman ini membantu membersihkan udara.

    Baca: Tak hanya suka tanaman, ini gaya hidup ramah lingkungan yang bisa kita lakukan

    6. Peace lily (Spathiphyllum)
    Jika kamu menginginkan bunga yang tak cepat layu, pece llily layak jadi pilihan. Tanaman ini menghasilkan bunga berwarna putih yang indah yang bisa bertahan sepanjang tahun meski kamu tidak merawatnya dengan baik.

    Peace lily cocok untuk mereka yang menyukai bunga tetapi tidak ingin terus membelinya.

    7. Palem kentia (Howea forsteriana) 
    Jika kamu menginginkan tanaman yang lebih besar dan kokoh, maka palem kentia bisa jaid pilihan.

    Tanaman tropis ini tidak butuh banyak perawatan dan hidup baik di tempat teduh. Daunnya yang panjang, indah, dan hijau menjuntai dari pangkalnya yang tinggi dan tipis, menimbulkan efek yang luar biasa tanpa memerlukan ruang yang besar.

    Baca: Ilmuwan AS gunakan jamur dan tanaman untuk bersihkan polusi tanah