Tag: gaza

  • Layanan Kesehatan Minim, Ribuan Pasien di Gaza Harus Segera Dievakuasi ke Luar Negeri

    Layanan Kesehatan Minim, Ribuan Pasien di Gaza Harus Segera Dievakuasi ke Luar Negeri

    7cloud.asia – Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada Sabtu mengatakan bahwa ribuan pasien di Gaza masih belum mendapat layanan kesehatan sehingga harus segera dievakuasi ke luar negeri.

    Hal itu karena  hanya 10 rumah sakit di Gaza yang beroperasi dan itupun dengan kapasitas minimal.

    “Sekitar 9.000 pasien harus segera dievakuasi ke luar negeri untuk mendapatkan layanan kesehatan yang menyelamatkan nyawa merka,” kata Tedros dalam unggahan di media sosial.

    Baca: Israel kuasai RS Indonesia dan dijadikan markas

    Layanan kesehatan yang harus dilakukan di luar Gaza seperti pengobatan kanker, cedera akibat pemboman, dialisis ginjal dan kondisi kronis lainnya

    Sejauh ini terdapat lebih dari 3.400 pasien yang sudah dirujuk ke luar negeri melalui Rafah, termasuk 2.198 korban luka dan 1.215 pasien.

    Namun demikian, kata Tedros, masih banyak pasien yang harus dievakuasi agar mendapat layanan kesehatan.

    “Kami mendesak Israel agar mempercepat persetujuan evakuasi, sehingga pasien kritis dapat dirawat. Setiap momen berarti (bagi keselamatan pasien),” ujarnya.

    Baca: Lebih 1,1 juta warga Gaza alami kelaparan ekstrem 

    Seperti diketahui kondisi Gaza makin memprihatinkan sejak pecah perang Israel-Hamas pada Oktober 2023 lalu.

    Lebih 80 persen bangunan di Gaza rusak akibat serangan Israel ke Gaza, dan meninggalkan ribuan warga tinggal di pengungsian.

    Jutaan warga Gaza kini dalam ancaman kelaparan kronis karena sikap Israel yang menghalangi bantuan kemanusiaan ke Gaza.

    Sumber: WAFA

  • Pasca Serangan yang Menewaskan 7 Stafnya, World Central Kitchen Tangguhkan Pengiriman Bantuan ke Gaza

    Pasca Serangan yang Menewaskan 7 Stafnya, World Central Kitchen Tangguhkan Pengiriman Bantuan ke Gaza

    7cloud.asia – Warga Gaza mengungkapkan keputusasaan mereka setelah serangan udara Israel terhadap konvoi bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza menewaskan tujuh pekerja badan amal World Central Kitchen.

    Akibat serangan ini World Central Kitchen menangguhkan pengiriman bantuan ke Gaza melalui laut. 

    Israel mengatakan bahwa mereka tanpa sengaja membunuh staf badan amal World Central Kitchen (WCK). Korban tewas adalah warga negara Australia, Inggris, Polandia, Palestina dan satu orang berkewarganegaraan ganda Amerika Serikat dan Kanada.

    Israel berjanji akan melakukan investigasi menyeluruh. Kepala angkatan bersenjata Israel Herzi Halevi menyebut serangan itu sebagai “kesalahan fatal”, akibat adanya “kesalahan identifikasi” pada malam hari.

    Baca: Indonesia dukung pengiriman bantuan ke Gaza dengan metode airdrop

    Dalam sebuah pesan video, ia menyampaikan permintaan maaf dari pihaknya atas kerugian yang tidak disengaja terhadap anggota World Central Kitchen  setelah tewasnya ketujuh staf itu memicu kemarahan internasional.

    Alaa Kassab, seorang warga Palestina di Rafah, Gaza selatan, mengungkapkan bahwa ia sedang menunggu kiriman bantuan dari World Central Kitchen  namun ia diberitahu bahwa operasi badan amal itu dan bantuan yang mereka distribusikan dihentikan pascaserangan hari Senin (1/4/2024).

     

    Menurut PBB, sedikitnya 196 staf kemanusiaan tewas di Gaza sejak Oktober tahun lalu. Hamas sebelumnya menuding Israel menarget lokasi-lokasi distribusi bantuan kemanusiaan.

    World Central Kitchen aktif beroperasi di Gaza sejak Oktober tahun lalu. Mereka mengirimkan bantuan makanan melalui jalur darat dan juga berpartisipasi dalam pengiriman lewat udara.

    Baca: Jutaan warga Palestina terancam kemiskinan ekstrem

    Pada Maret lalu, mereka membuka koridor bantuan laut pertama untuk mengangkut bantuan kemanusiaan dari Siprus ke Gaza.

    Israel menyerang konvoi kendaraan staf WCK ketika mereka baru saja menurunkan 100 ton bantuan makanan dari kapal tongkang yang berlayar dari Siprus.

    Para pejabat Siprus menyampaikan bahwa bantuan yang belum sempat terkirim, yang dikelola oleh World Central Kitchen dan badan amal Open Arms dari Spanyol, kembali ke Siprus setelah lembaga itu menyatakan menghentikan sementara operasinya di Gaza.

    Hanya satu tongkang yang isinya sempat diturunkan, sedangkan dua pertiga sisanya kembali ke Siprus.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Pasca Serangan ke Konvoi World Central Kitchen, Inggris Sebut Kondisi di Gaza Sudah Tak Bisa Ditolerir

    Pasca Serangan ke Konvoi World Central Kitchen, Inggris Sebut Kondisi di Gaza Sudah Tak Bisa Ditolerir

    7cloud.asia – Inggris menyerukan penyelidikan segera terhadap Israel atas serangan udara kekonvoi kendaraan World Central Kitchen yang menewaskan tujuh pekerja bantuan di Jalur Gaza.

    Serangan terhadap konvoi bantuan World Central Kitchen untuk Gaza pada Senin (1/4/2024) ini memicu kemarahan global. Tiga di antara korban tewas adalah warga negara Inggris.

    Jenazah pekerja bantuan yang tewas akibat serangan udara Israel dibawa keluar dari Jalur Gaza pada Rabu (3/4/2024), melalui penyeberangan Rafah ke Mesir.

    Pada Senin, rudal menghantam konvoi kendaraan yang digunakan oleh badan amal World Central Kitchen dari AS.

    Tiga di antara korban tewas adalah warga negara Inggris: John Chapman, 57 tahun; James Kirby, 47 tahun; dan James Henderson, 33 tahun.

    “Situasinya semakin tidak dapat ditoleransi, dan yang perlu segera dilakukan adalah penyelidikan menyeluruh dan transparan atas apa yang terjadi, namun juga peningkatan dramatis dalam jumlah bantuan yang masuk ke Gaza,” Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak kepada para wartawan pada Rabu.

    Baca: World Central Kitchen tangguhkan bantuan ke Gaza 

    Dia menolak seruan oposisi untuk mempertimbangkan penghentian penjualan senjata ke Israel. Ketiga korban asal Inggris tersebut bertugas menjaga keamanan untuk World Central Kitchen melalui perusahaan Solace Global.

    “Kami telah mencermati segala sesuatu yang terjadi sebelum dan sesudah kejadian tersebut. Kami sepenuhnya puas bahwa semua tindakan telah diambil dan dilaksanakan dengan benar,” Matthew Harding, direktur non-eksekutif di perusahaan tersebut.

    Korban lainnya termasuk seorang pengemudi Palestina yang dipekerjakan oleh Solace Global, bersama dengan seorang warga Australia, seorang warga Polandia, dan seorang warga negara ganda AS-Kanada.

    Pemerintah negara-negara tersebut telah menyuarakan seruan untuk melakukan penyelidikan cepat. Israel mengatakan pada hari Rabu bahwa mereka tidak bermaksud untuk menarget para pekerja bantuan.

    Baca: Indonesia dukung pengiriman bantuan pangan dengan metode airdrop di Gaza

    “Serangan itu adalah kesalahan yang terjadi setelah kesalahan identifikasi pada malam hari, saat perang, dalam kondisi yang sangat kompleks. Serangan itu seharusnya tidak terjadi,” kata Kepala staf Angkatan Pertahanan Israel Herzi Halevi yang disiarkan di televisi pada Selasa.

    Organisasi Human Rights Watch menolak penjelasan tersebut pada hari Rabu, seperti disampaikan oleh Omar Shakir, direktur organisasi itu untuk Israel dan Palestina yang berbicara dengan VOA melalui tautan Zoom.

    “Serangan mematikan Israel terhadap pekerja bantuan World Central Kitchen di Gaza ini menunjukkan karakteristik serangan udara presisi, yang menunjukkan bahwa militer Israel bermaksud untuk menyerang kendaraan tersebut.

    World Central Kitchen melaporkan posisi dan pergerakannya kepada pemerintah Israel. Kendaraan mereka ditandai dengan jelas. Bagi pemerintah Israel, ini bukanlah insiden yang terjadi hanya satu kali,” katanya.

    Baca: Jutaan warga Gaza terancam kelaparan ekstrem

    World Central Kitchen telah menghentikan operasinya di Gaza. Pendirinya mengatakan serangan itu adalah “akibat langsung dari kebijakan yang menekan bantuan kemanusiaan ke tingkat yang sangat menyedihkan.”

    Meskipun ada tuduhan luas dari lembaga-lembaga bantuan bahwa Israel menghalangi pasokan bantuan ke Gaza, Israel membantah pihaknya memblokir bantuan.

    Sebaliknya, aliran bantuan yang tidak lancar tersebut dipersalahkan pada Hamas – yang dituduh menggunakan rumah sakit dan fasilitas bantuan sebagai pangkalan militer.

    Hamas membantah klaim tersebut dan mengatakan Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata perang.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Dewan HAM PBB Sebut Israel Lakukan Kejahatan Perang terhadap Palestina

    Dewan HAM PBB Sebut Israel Lakukan Kejahatan Perang terhadap Palestina

    7cloud.asia – Dewan Hak Asasi Manusia atau dewan HAM PBB, Jumat (5/4/2024), mengadopsi sebuah resolusi yang menyerukan agar Israel bertanggung jawab atas kemungkinan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza, Palestina.

    Hanya enam negara yang memberikan suara menentang resolusi Dewan HAM PBB tersebut, yang disahkan dengan 28 suara mendukung dan 13 abstain.

    Tepuk tangan meriah di ruang dewan ketika hasil pemungutan suara itu diumumkan. Banyak negara menyambut gembira resolusi Dewan HAM tersebut dan membuat kecewa banyak negara yang tidak mendukungnya.

    Belasan negara memberikan dukungan vokal terhadap resolusi Dewan HAM PBB tersebut. Sementara selain AS, Argentina, Bulgaria, Jerman, Malawi, dan Paraguay memberikan suara menentang tindakan tersebut. Prancis abstain.

    “Dewan HAM PBB baru saja mengadopsi sebuah resolusi yang seharusnya menangani akuntabilitas dan keadilan,” Meirav Eilon Shahar, duta besar Israel untuk PBB, mengatakan kepada wartawan setelah pemungutan suara.

    Baca: Lebih dari 1juta warga Gaza terancam kelaparan ekstrem

    Shahar mengatakan kepada wartawan bahwa adopsi resolusi oleh dewan tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa “(nyawa) orang Israel tidak penting.

    ”Pembunuhan terhadap orang-orang Yahudi tidak penting, sandera tidak penting, pemerkosaan terhadap wanita Israel tidak penting. Di manakah pertanggungjawaban atas korban terorisme Palestina di Israel?” tanya Shahar.

    Ia mengungkapkan kekecewaannya atas kurangnya dukungan dari negara-negara Eropa, dan menyebut Belgia, Luksemburg, dan Finlandia sebagai negara yang mendukung “resolusi yang tidak mengutuk Hamas” tersebut.

    “Dewan ini telah lama meninggalkan rakyat Israel dan lama membela Hamas,” katanya.

    “Ini telah menjadi tameng bagi teroris. Mereka menutup mata terhadap segala tindakan kekerasan terhadap Israel dan Yahudi. Resolusi ini merupakan noda bagi Dewan Hak Asasi Manusia dan PBB secara keseluruhan,” katanya.

    Baca: PBB tuding Israel jadikan kelaparan jadi senjata barunya di Gaza

    Resolusi tersebut menyerukan kepada semua negara “untuk menghentikan penjualan, transfer dan pengalihan senjata, amunisi dan peralatan militer lainnya ke Israel.”

    Mereka menuntut agar Israel segera mencabut blokade terhadap Jalur Gaza dan segala bentuk hukuman kolektif lainnya, dan “menyerukan gencatan senjata segera di Gaza.”

    Duta Besar Pakistan untuk PBB di Jenewa, Bilal Ahmad, atas nama OKI, Organisasi Kerjasama Islam, memperkenalkan rancangan resolusi Dewan HAM PBB tersebut 

    Dia mengatakan resolusi tersebut merupakan respons terhadap “pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan” di wilayah pendudukan Palestina, khususnya di Jalur Gaza, serta “pengabaian Israel terhadap hukum internasional.”

    “Resolusi tersebut mencerminkan keprihatinan besar dewan ini terhadap kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di [wilayah Palestina yang diduduki Israel] dan tekad [Mahkamah Internasional] bahwa rakyat Palestina di bawah pendudukan Israel menghadapi risiko genosida yang masuk akal,” katanya.

    Baca: PBB diminta desak Israel wujudkan gencatan senjata

    Dalam pidato emosional di depan dewan sebelum pemungutan suara, Ibrahim Khraish, duta besar Palestina untuk PBB di Jenewa, mengecam “bencana kemanusiaan” di Gaza.

    “Kami membutuhkan Anda semua untuk sadar dan menghentikan genosida ini… yang disiarkan langsung di televisi di seluruh dunia, yang menewaskan ribuan orang tak bersalah. Ini harus dihentikan,” katanya.

    Sementara, Duta Besar AS untuk PBB di Jenewa, Michele Taylor, sepakat bahwa “terlalu banyak warga sipil yang terbunuh” dalam konflik Gaza.

    Ia menegaskan, perlindungan terhadap seluruh kehidupan warga sipil merupakan keharusan moral dan strategis dan Israel belum melakukan upaya yang cukup untuk mengurangi dampak buruk terhadap warga sipil.

    “Kami terus menyampaikan keprihatinan besar atas hilangnya nyawa yang belum pernah terjadi sebelumnya dan kurangnya bantuan kemanusiaan yang memadai yang telah menempatkan laki-laki, perempuan, dan anak-anak di Gaza di ambang kelaparan yang meluas,” imbuhnya.

    Baca: Sekjen PBB akui pihaknya tak punya kekuatan memaksa Israel

    Meskipun memberikan tinjauan kritis terhadap perilaku perang Israel (di Gaza), Taylor mengatakan AS tidak dapat mendukung resolusi tersebut karena mengandung terlalu banyak “elemen bermasalah.”

    “Misalnya, tidak ada kecaman khusus terhadap Hamas karena melakukan serangan mengerikan pada 7 Oktober, juga tidak ada referensi mengenai sifat teroris dari tindakan tersebut.“  katanya.

    Ia melanjutkan, “Teks (resolusi) tersebut tidak membedakan antara sandera yang diculik secara brutal oleh organisasi teroris yang tidak mengindahkan hukum internasional …”

    ”Dan kemungkinan besar mengalami kekerasan seksual berulang kali, dan tahanan yang nasibnya diatur dan diatur oleh proses hukum. Biar saya perjelas: kelompok-kelompok ini tidak setara.”

    Sumber: VOA Indonesia

     

  • PBB: Gaza Butuh Bantuan Besar-besaran Agar Terhindar dari Krisis yang Lebih Besar

    PBB: Gaza Butuh Bantuan Besar-besaran Agar Terhindar dari Krisis yang Lebih Besar

    7cloud.asia – Koordinator kemanusiaan PBB untuk wilayah pendudukan Palestina, Jamie McGoldrick mengatakan behwa Gaza membutuhkan bantuan besar-besaran.

    Berbicara pada Jumat (12/4/2024) dari Yerusalem, McGoldrick mengatakan kepada wartawan di Jenewa bahwa sulit dan berbahaya bagi pekerja bantuan untuk bergerak dan mengirimkan bantuan di Gaza,

    Ia menambahkan bahwa sebuah kendaraan Dana Anak-anak PBB atau UNICEF (United Nations Children’s Fund) pada Selasa (9/4/2024) terkena peluru tajam ketika menunggu untuk memasuki Gaza utara.

    Insiden tersebut menyusul serangan yang menewaskan tujuh pekerja World Central Kitchen yang sedang mengantarkan bantuan ke Gaza pada tanggal 1 April oleh Israel, dan penyerangan serta penjarahan konvoi 14 truk Program Pangan Dunia (WFP) yang bertujuan ke Gaza utara bulan lalu.

    Perkembangan seperti ini menggambarkan bahwa “sistem yang kita gunakan bagi perlindungan dan keselamatan para pekerja bantuan tidak berfungsi,” katanya.

    Merujuk pada konvoi yang diserang, McGoldrick mengatakan, “Saya pikir para pekerja kemanusiaan di sana kemudian mengkhawatirkan keselamatan mereka sendiri. Dan sejauh yang kami tahu, sistem dekonflik dan notifikasi memiliki kelemahan.”

    “Kami tidak memiliki peralatan komunikasi di Gaza untuk beroperasi dengan baik seperti yang Anda miliki dalam situasi lain, dan kedua, kami tidak memiliki hotline atau nomor darurat untuk dihubungi jika terjadi insiden darurat, dan oleh karena itu penting bahwa kita mencari solusinya.”

    McGoldrick mengatakan dia bertemu dengan Mayor Jenderal Yaron Finkelman, kepala Komando Selatan Pasukan Pertahanan Israel (IDF), minggu ini dan memberinya daftar permintaan yang memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan “dengan aman, efektif dan sesuai kebutuhan berskala besar di seluruh Gaza.”

    Dia juga mengatakan kepada Mayor Jenderal Israel itu bahwa “kami bekerja di daerah yang sangat bermusuhan, tanpa kemungkinan untuk menghubungi satu sama lain. Kami tidak memiliki radio. Kami tidak memiliki jaringan seluler.”

    “Jika kami mengalami insiden keamanan yang serius, kami tidak memiliki hotline. Kami tidak memiliki cara untuk berkomunikasi dengan IDF bahwa kami menghadapi masalah di pos pemeriksaan atau menghadapi masalah dalam perjalanan.”

    McGoldrick mengatakan Mayor Jenderal Finkelman menjanjikan kepadanya bahwa dia akan bergerak maju dan bahwa anggota IDF akan menjadi bagian dari sel koordinasi dan dekonflik kemanusiaan baru untuk memperbaiki situasi (penyaluran bantuan) bagi warga Palestina di Gaza.

    “Kami mendapat komitmen dari Mayor Jenderal, dan kami akan menuntut komitmen mereka, dan memastikan bahwa kita bisa menyiapkan dan menjalankan (komitmen itu) sesegera mungkin,” katanya.

    McGoldrick mencatat bahwa tidak cukup bantuan yang masuk ke Gaza utara untuk memenuhi kebutuhan besar puluhan ribu orang yang kekurangan makanan, perawatan medis, dan kebutuhan penting lainnya untuk menyelamatkan nyawa.

    “Kami lihat dari situasi kesehatannya. Kami lihat dari situasi gizinya,” ujarnya.

    “Anak-anak menunjukkan tanda-tanda kekurangan gizi yang serius, dan fakta bahwa IPC [Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu] menyoroti bahwa 70% populasi berada dalam bahaya kelaparan. Kami perlu melihat perubahan dalam hal tersebut, namun (sayangnya) hal tersebut tidak terjadi.”

    Kemungkinan serangan Israel ke Rafah

    Hal lain yang menjadi perhatian besar, yang paling penting dalam pikiran para aktivis kemanusiaan, adalah potensi serangan Israel ke Rafah.

    McGoldrick mengatakan orang-orang yang dia temui dalam kunjungannya ke Gaza beberapa hari lalu sangat khawatir tentang kemungkinan serangan tersebut, kekhawatiran yang juga dia sampaikan kepada Mayjen Finkelman.

    “Kami telah menegaskan sejak hari pertama bahwa kami memerlukan waktu untuk mempersiapkan dan menempatkan pasokan ke tempat-tempat di mana orang mungkin bermigrasi,” katanya. “Kami tidak dapat melakukan itu sekarang karena kami tidak memiliki cukup pasokan yang datang secara rutin.”

    “Saat ini kami hampir tidak mampu memberi makan dan mendukung warga (Palestina di Gaza). Dan jika kami menambahkan dimensi lain dari proses perencanaan darurat untuk (kemungkinan terjadinya) serangan di Rafah, kami belum siap untuk itu,” katanya.

    Sumber:VOA Indonesia

  • Komisi HAM PBB: Israel Berlakukan Pembatasan Tidak Sah di Gaza

    Komisi HAM PBB: Israel Berlakukan Pembatasan Tidak Sah di Gaza

    7cloud.asia – Komisi Tinggi HAM PBB menyebut Israel memberlakukan “pembatasan tidak sah” terhadap bantuan kemanusiaan yang masuk dan didistribusikan di Jalur Gaza.

    Ravina Shamdasani, juru bicara untuk Utusan Komisi Tinggi HAM PBB Volker Türk, pada Selasa (16/4/2024) mengatakan di Jenewa bahwa pasukan Israel terus “melakukan penghancuran secara luas terhadap infrastruktur di Gaza.”

    “Komisioner Tinggi mengulangi bahwa harus ada gencatan senjata segera, pembebasan sandera dan bantuan kemanusiaan yang tidak dikekang harus segera diizinkan mengalir kembali,” kata Shamdasani.

    Israel telah membela kampanye militernya di Gaza dan menyebutnya sebagai operasi yang menargetkan kelompok militan Hamas.

    Dilansir VOA Indoneia, Israel menuduh Hamas beroperasi di tempat di mana warga sipil berada.

    Pertempuran selama enam bulan telah menyebabkan kehancuran yang luas dan memaksa sebagian besar penduduk Gaza mencari perlindungan di Rafah, dekat perbatasan dengan Mesir.

    “Tidak ada daerah di Jalur Gaza yang lolos dari pemboman Israel. Hampir 1,7 juta orang terpaksa mengungsi, tinggal dalam kondisi memilukan dan terus menerus hidup di bawah ancaman,” kata Shamdasani.

    Juru bicara keamanan nasional Gedung Putih, John Kirby, pada Senin (15/4), mengatakan jumlah bantuan kemanusiaan yang mencapai Gaza telah bertambah dalam beberapa hari terakhir dan AS menginginkan tingkat bantuan itu dipertahankan.

    Sekitar 100 truk telah memasuki daerah kantong itu dalam 24 jam terakhir, kata Kirby kepada stasiun televisi MSNBC. Dengan demikian, sudah 2.000 truk bantuan tiba di Gaza sejak konflik dimulai.

    Untuk pertama kalinya dalam enam bulan, sebuah toko roti di Kota Gaza kembali beroperasi dengan bantuan dari Program Pangan Dunia (WFP), yang menyediakan paket makanan dan tepung terigu yang sangat dibutuhkan ke wilayah kantong tersebut.

    PBB sebelumnya telah memperingatkan akan ancaman nyata kelaparan yang sangat mungkin dapat terjadi di Gaza.

    Sejumlah lembaga bantuan telah menyampaikan keluhan bahwa Israel tidak memastikan akses yang memadai untuk masuknya makanan, obat-obatan dan pasokan bantuan kemanusiaan lainnya ke dalam Gaza.

    Seperti, diberitakan sebelumnya ratusan ribu warga Gaza menghadapi ancaman kelaparan dan penyakit yang luas serta hampir semuanya telah kehilangan tempat tinggal.

  • Kurang dari 24 Jam, Israel Bunuh 37 Warga Palestina

    Kurang dari 24 Jam, Israel Bunuh 37 Warga Palestina

    7cloud.asia – Sedikitnya 37 warga Palestina lainnya tewas dan 68 lainnya luka-luka dalam 23 jam terakhir, ketika Israel terus menyerang Jalur Gaza yang terkepung, kata Kementerian Kesehatan Palestina di wilayah itu pada Sabtu.

    “(Pasukan) pendudukan Israel melakukan empat pembantaian terhadap beberapa keluarga di Jalur Gaza, menyebabkan 37 orang tewas dan 68 luka-luka selama 24 jam terakhir,” menurut pernyataan kementerian.

    “Banyak orang masih terjebak di bawah reruntuhan dan di jalan karena tim penyelamat tidak dapat menjangkau mereka,” tambah pernyataan itu.

    Baca: PBB sebut Gaza butuh bantuan besar-besaran

    Israel telah mengabaikan putusan sementara Mahkamah Internasional dan melanjutkan serangannya di Jalur Gaza, di mana sedikitnya 34.049 warga Palestina telah tewas.

    Sebagian besar perempuan dan anak-anak, sementara 76.901 lainnya juga luka-luka sejak 7 Oktober, menurut otoritas kesehatan Palestina.

    Israel membombardir Jalur Gaza sejak serangan lintas batas yang dilakukan Hamas, yang Tel Aviv sebut telah menewaskan hampir 1.200 orang.

    Perang Israel di Gaza telah memaksa 85 persen penduduk wilayah itu menjadi pengungsi di tengah kelangkaan akut bahan makanan, air bersih dan obat-obatan, sementara 60 persen infrastruktur daerah kantong itu telah rusak atau hancur, menurut PBB.

    Baca: Sebanyak 33 ribu warga Palestina meninggal akibat serangan Israel selama 6 bulan

    Israel dituding melakukan genosida di Mahkamah Internasional. Putusan sementara pada Januari memerintahkan Tel Aviv untuk menghentikan aksi genosida dan mengambil langkah guna menjamin penyaluran bantuan kemanusiaan kepada warga sipil di Gaza.

    Namun, permusuhan terus berlanjut, dan pengiriman bantuan masih belum cukup untuk mengatasi bencana kemanusiaan tersebut.

    Sumber: Anadolu

  • Memasuki Hari ke 200, Serangan Israel Tewaskan Lebih dari 34 Ribu Warga Palestina di Jalur Gaza

    Memasuki Hari ke 200, Serangan Israel Tewaskan Lebih dari 34 Ribu Warga Palestina di Jalur Gaza

    7cloud.asia – Kementerian Kesehatan di wilayah kantong Palestina menyatakan sebanyak 34.183 warga Palestina yang tewas dalam serangan Israel di Jalur Gaza pada hari ke-200 serangan mematikan Israel.

    “Serangan yang sedang berlangsung sejak Oktober lalu juga telah melukai 77.143 warga Gaza Palestina,” demikian bunyi keterangan resmi Kementerian Kesehatan Palestina, Selasa (23/4/2024).

    Kementerian mencatat bahwa dalam 24 jam terakhir Israel melakukan tiga pembantaian terhadap keluarga di seluruh Jalur Gaza hingga menyebabkan 32 orang tewas dan 59 lainnya luka-luka saat tiba di rumah sakit.

    Baca: Israel bunuh lebih dari 34 warga Palestina

    “Banyak orang masih terjebak di bawah reruntuhan dan di jalan dan tim penyelamat tidak dapat menjangkau mereka,” kata kemenkes.

    Israel telah menggempur Jalur Gaza sejak serangan lintas batas oleh Hamas pada 7 Oktober tahun lalu, yang menurut Tel Aviv menewaskan hampir 1.200 orang.

    Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan perang Israel di Gaza telah menyebabkan 85 persen penduduk wilayah tersebut mengungsi di tengah kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan.

    Baca: Gaza butuh bantuan besar-besaran

    Selain itu, menurut PBB, lebih dari 60 persen infrastruktur di wilayah tersebut rusak atau hancur.

    Israel dituduh melakukan genosida di Mahkamah Internasional. Keputusan sementara pada bulan Januari memerintahkan Tel Aviv untuk menghentikan tindakan genosida.

    Selain itu, Tel Aviv mengambil tindakan untuk menjamin bahwa bantuan kemanusiaan diberikan kepada warga sipil di Gaza.

    Baca: Pengakuan kemerdekaan Palestina akan mengoreksi ketidakadilan sejarah

    Sedikitnya 350 tenaga kesehatan juga terbunuh dan 520 lainnya terluka di Jalur Gaza sejak Israel mulai melancarkan agresi ke daerah tersebut pada 7 Oktober 2023, menurut pelapor khusus PBB.

    “Kami mengetahui bahwa sekitar 520 tenaga medis terluka, serta 350 pekerja medis termasuk tenaga kesehatan lainnya, telah tewas,” ucap pelapor khusus PBB untuk hak kesehatan Tlaleng Mofokeng dalam konferensi pers pada Senin (22/4/2024).

    Ia menyatakan, jumlah korban jiwa tersebut tidak termasuk sejumlah remaja Gaza yang berinisiatif membantu tenaga kesehatan di berbagai rumah sakit.

    Para remaja tersebut tidak terdaftar secara resmi sebagai tenaga kesehatan.

    Sumber: Anadolu

  • Enam WNI Ikut Misi Freedom Flotilla Kirim Bantuan ke Gaza, Palestina

    Enam WNI Ikut Misi Freedom Flotilla Kirim Bantuan ke Gaza, Palestina

    7cloud.asia – Sekelompok aktivis yang tergabung dalam Koalisi “Freedom Flotilla” tengah bersiap berlayar untuk membawa bantuan kemanusiaan dari Istanbul, Turki ke Gaza Palestina.

    Enam warga negara Indonesia atau WNI, termasuk perwakilan LSM Indonesia, kini telah berada di Turki, di mana armada kapal akan berlabuh, meski misi Freedom Flotilla tersebut tertunda karena sejumlah alasan.

    Armada Freedom Flotilla yang membawa bantuan kemanusiaan dan ratusan aktivis hak asasi manusia internasional, dari sedikitnya 30 negara, akan berlayar dari kota Istanbul ke Gaza, demi membantu korban perang di wilayah konflik itu.

    Rencana itu diinisiasi oleh kelompok aktivis Freedom Flotilla Coalition (FFC). Harapannya, mereka dapat menembus blokade Israel.

    Ghani Ramdhan adalah perwakilan lembaga swadaya masyarakat Golden Future Indonesia dan Taqwa Squad Indonesia, yang terlibat dalam misi tersebut.

    “Dari pihak (Freedom) Flotilla sendiri sudah menyiapkan sekitar 5.500 ton bantuan dan (perwakilan) beberapa NGO. Kita di sini diperbantukan tenaganya untuk menyalurkan bantuan ke Gaza,” kata dia.

    Baca Juga: Komisi HAM PBB: Israel Berlakukan Pembatasan Tidak Sah di Gaza

    Enam warga Indonesia, yang ikut berpartisipasi telah berada di Turki, termasuk tiga orang perwakilan lembaga swadaya masyarakat dan tiga jurnalis.

    Nur Ikhwan Abadi adalah Ketua Presidium Aqsa Working Group (AWG). Sayap perempuan lembaga swadaya masyarakat ini, Maemuna Center, memiliki misi membangun Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Indonesia di Gaza.

    Ikhwan pernah menjalankan misi serupa pada 2010 dengan menumpangi kapal Mavi Marmara. Kala itu, pihaknya bekerja sama dengan tim relawan MER-C yang membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza utara. Namun, misinya terhambat razia oleh militer Israel.

    Peristiwa tersebut menewaskan 10 orang.

    Sebelum berlayar, Ikhwan mengatakan, para peserta telah diberikan pelatihan non-kekerasan, untuk mengantisipasi risiko infiltrasi dari pihak lain ke dalam kapal yang mereka tumpangi.

    Lembaganya pun telah mengirimkan surat pemberitahuan kepada Kementerian Luar Negeri RI. tentang keikutsertaan mereka dalam misi ini. Meski demikian, ia paham risiko yang dihadapinya.

    “Misi kita (ini) misi damai, ya, dan tujuan kita bukan lain-lain, hanya ingin menyampaikan bantuan saja. Jadi, saya pikir, ya harus tetap tenang,” ujarnya.

    Baca Juga: PBB: Gaza Butuh Bantuan Besar-besaran Agar Terhindar dari Krisis yang Lebih Besar

    Meski awalnya telah dijadwalkan untuk berlayar pada Jumat (26/4/2024) waktu setempat, Ghani menyampaikan rencana keberangkatan Freedom Flotilla tertunda hingga 27 April.

    “Untuk alasan hambatan itu sendiri, dari pihak Flotilla menerangkan, ada beberapa izin yang belum keluar dari pihak Turki, dan juga ada beberapa pengecekan barang bantuan yang akan dikirim ke Gaza itu sendiri, dan itu membutuhkan satu atau dua hari dari sekarang,” jelas Ghani.

    Gambar selebaran yang dirilis oleh IDF pada 15 November 2023, menunjukkan tentara Israel saat melakukan operasi di dalam rumah sakit Al-Shifa di Kota Gaza.

    Menanggapi rencana keberangkatan armada tersebut, Vedant Patel, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, sekutu dekat Israel, pada Kamis (25/4/2024) mendorong agar pengiriman bantuan dilakukan melalui jalur penyeberangan resmi.

    Kami, ujarnya, menyambut baik setiap negara atau entitas mana pun yang ingin berbuat lebih banyak untuk membantu meringankan penderitaan di Gaza.

    “Hanya saja, kami meyakini bahwa bantuan semacam ini, yang pada akhirnya diperuntukkan bagi Gaza, harus disalurkan melalui penyeberangan yang resmi dan jalur yang telah ditetapkan,” kata Patel.

    Patel menambahkan penyebrangan resmi merupakan cara terbaik untuk memastikan tidak hanya kelancaran pengiriman paket bantuan, tetapi juga menjamin keselamatan dan keamanan para pekerja yang terlibat dalam pelayaran, dan memastikan bahwa bantuan tersebut sampai ke lokasi yang seharusnya.

    Pihak Israel sendiri belum memberikan tanggapan atas rencana pelayaran Freedom Flotilla.

    Sumber: VOAIndonesia

  • Demonstrasi Besar-besaran Tuntut Diakhirinya Perang Israel-Hamas Berlangsung di Banyak Kampus di AS

    Demonstrasi Besar-besaran Tuntut Diakhirinya Perang Israel-Hamas Berlangsung di Banyak Kampus di AS

    7cloud.asia – Demonstrasi dalam skala besar memprotes sikap Israel di Palestina kembali digelar mahasiswa di sejumlah kampus di Amerika Serikat (AS)

    Demonstrasi besar-besaran antaralain digelar mahasiswa University of Texas di kota Austin, University of Minnesota, University of Columbia, University of Southern California, Harvard University, Emmerson College, University of Michigan, New York University, Northwestern University, George Washington University, Yale dan banyak lainnya.

    Demonstrasi mahasiswa di sedikitnya 15 kampus terkemuka di Amerika itu menuntut diakhirinya perang Israel-Hamas di Gaza dan pemisahan kampus dengan perusahaan apapun yang terkait dengan upaya militer Israel di Gaza.

    Namun demonstrasi ini mendapat tentangan dari DPR AS, termasuk Ketua DPR Mike Johnson.

    Baca:Menlu-AS-tegaskan-Washington-tidak-terlibat-serangan-Israel-ke-Iran

    Berbicara pada wartawan seusai melangsungkan pertemuan dengan Presiden Universitas Columbia Minouche Shafik hari Rabu (24/4/2024), Mike Johnson justru menyerukan pengunduran diri Shafik sebagai presiden “salah satu institusi akademi terkemuka di AS.”

    Dia mengatakan, “Saya berada di sini hari ini bersama mitra-mitra saya, dan menyerukan pengundurkan diri Shafik jika ia tidak dapat segera menertibkan kekacauan di kampus ini.“

    “Sebagai Ketua DPR, saya bertekad bahwa Kongres tidak akan berdiam diri ketika mahasiswa-mahasiswa Yahudi terpaksa hidup dan tinggal di rumah, bukan di kelas, dan bersembunyi karena takut.”

    Enam belas senator Partai Republik di New York telah menulis surat kepada Gubernur Kathy Hochul, meminta pemimpin yang berasal dari Partai Demokrat itu untuk mengirim Garda Nasional ke Universitas Columbia guna melindungi mahasiswa dan staf Yahudi.

    “Situasinya sangat mengerikan, saya tidak dapat berkonsentrasi di dalam kelas. Mereka berteriak-teriak sepanjang hari. Saya takut untuk mengatakan bahwa saya orang Yahudi karena mereka semua membawa foto-foto yang mendukung Hamas,” ujar seorang mahasiswa Yahudi di Universitas Columbia yang enggan menyebutkan namanya.

    Baca:Rusia-sebut-veto-AS-tunjukkan-sikap-Washington-terhadap-Palestina

    Aksi demonstrasi menuntut diakhirinya perang Israel-Hamas muncul di sejumlah besar kampus pasca penangkapan massal seratusan mahasiswa di Universitas Columbia.

    “Saya berada di sini untuk menuntut diberlakukannya segera gencatan senjata dan diizinkan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza,” ujar seorang mahasiswa lain yang juga tidak ingin menyebut namanya.

    Demonstrasi di Kampus AS Meluas, Ketua DPR Minta Rektor Mundur, Netanyahu Minta Aparat Bertindak

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam sebuah pernyataan video yang dirilis hari Rabu (24/4/2024), mengecam demonstrasi pro-Palestina di kampus-kampus Amerika, dengan menyebutnya sebagai aksi anti-Yahudi dan membandingkannya dengan peristiwa Holocaust.

    Ia mengatakan “massa anti-Yahudi telah mengambil alih universitas-universitas terkemuka” di mana “mereka menyerukan pemusnahan Israel.”

    “Ini mengingatkan kita pada apa yang terjadi di universitas-universitas Jerman pada tahun 1930-an,” ujarnya seraya menambahkan “Ini tidak masuk akal.”

    Baca:AS-veto-seruan-sekjen-PBB-terkait-gencatan-senjata-antara-Israel-dan-Hamas

    Netanyahu meminta pejabat negara bagian, lokal dan federal untuk turun tangan. “Tanggapan dari beberapa presiden universitas sangat memalukan. Untungnya, pejabat negara bagian, lokal, federal, banyak yang memberikan tanggapan berbeda. Tetapi harus ada lebih banyak lagi yang dilakukan.”

    Polisi New York menghadapi pengunjuk rasa yang marah setelah menahan beberapa demonstran dan membersihkan perkemahan mahasiswa dan pengunjuk rasa pro-Palestina di kampus Universitas New York (NYU) untuk memrotes perang Israel-Hamas, di New York Senin, 22 April 2024.

    Kelompok-kelompok yang mengorganisir protes tersebut menyangkal tuduhan antisemitisme, dan mengatakan demonstrasi itu ditujukan terhadap Israel dan tindakannya di Gaza.

    Ribuan mahasiswa menuntut pihak kampus untuk memutuskan hubungan keuangan dengan Israel dan melepaskan diri dari perusahaan-perusahaan yang mendukung konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan, yang dipicu oleh serangan Hamas pada tanggal 7 Oktober di Israel selatan.

    Ratusan orang telah ditangkap dengan tuduhan masuk tanpa izin atau melakukan tindakan tidak tertib.

    Sumber:VOAIndonesia